Warning: typos, OOC mungkin, terlalu pendek, AU, gombal dan lain-lain.
Disclaimer: Semua character yang ada di manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.
Ket: "blablabla" ngomong biasa
'blablabla' dalam hati
A/N: Maaf super duper telat, mau nulis banyak halangan. Dari males nulis, ide buntu dan lain-lain. Dan saya juga nggak tau kapan bisa melanjutkan fic ini, karena saya sedang banyak kegiatan.
enjoy this fic (^_^)
Naruto tidak sabar ingin segera pulang ke rumah dan bertemu dengan istrinya, sekarang ia merasakan bagaimana memiliki seseorang yang begitu dekat dengannya. Ia pun mematikan mesin mobil dan segera keluar dari mobil porsche silvernya, dan berjalan penuh semangat menuju rumahnya. Naruto berjalan dengan senyuman lebar menuju dapur tempat dimana istrinya berkutat dengan masakan kemudian memeluknya dari belakang, Hinata tersentak merasakan seseorang memeluknya, walau ia tahu siapa dia.
"Uzumaki-san, berhentilah." Hinata mencoba melepaskan pelukan Naruto dari tubuhnya.
'Uzumaki-san?panggilan macam apa itu?' batinnya tersentak dan senyum menghilang dari bibirnya digantikan dengan wajah kaget dan penuh pertanyaan.
"Kau kenapa Hinata?Ada sesuatu yang mengganggumu?" Naruto membalikkan tubuh Hinata sehingga menghadap kepadanya, tapi Hinata mengalihkan pandangannya agar tak berpandangan dengan Naruto.
'Ya ada'
"kau baik-baik saja?" Hinata mengangguk masih tak memandang Naruto.
'Tidak, aku tidak baik.'
"Katakan padaku ada bila ada yang mengganggumu, oke?" Naruto kemudian memeluknya untuk membuatnya lebih baik
'Tidak akan mungkin bila yang menggangguku adalah kau.' Hinata terdiam terpaku dalam pelukan Naruto, merasakan pelukannya yang hangat dan merasakan ironi dalam dirinya, ia begitu tenang dalam pelukan Naruto yang notabene sudah bertunangan dengan gadis lain sebelumnya. Perlahan ia membalas pelukan Naruto.
*anzukaanzukaanzuka*
Naruto terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik dari dapur, dengan tersenyum ia mengenakan jubah tidurnya dan melangkah ke dapur. Hinata telah menyiapkan sarapan lengkap untuknya. Terlihat nasi putih mengepul dan tersaji begitu banyak sayur dan lauk-pauk di meja makan. Hinata berbalik menyadari seseorang berdiri di belakangnya dan tersenyum menyadari bahwa orang itu adalah Naruto. Naruto merasakan kembali kehangatan di dalam dadanya, ia pun tanpa sadar ikut tersenyum dan berjalan mendekati Hinata. Naruto kemudian memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Hinata dengan sayang. Hinata hanya memejamkan matanya dan membalas pelukan Naruto.
'Biar sebentar saja aku merasakan kasih sayangnya, setelah ini semua akan kembali seperti semula.'
Hinata semakin mengeratkan pelukannya pada Naruto, membuat Naruto seketika terlupa tentang keganjilan Hinata tadi malam. Setelah sekian menit mereka berpelukan, Hinata melepaskan pelukannya dan mengajak Naruto untuk sarapan. Naruto duduk di sebelah Hinata, memakan makanan yang telah disiapkan Hinata dengan khidmat, meski bukan ramen kesukaannya ia tetap menyantapnya dengan lahap.
"Bagaimana keadaanmu Hinata?"
"Aku baik-baik saja." Jawab Hinata sambil tersenyum, Naruto tiba-tiba meletakkan sendoknya dan meletakkan tangannya ke perut Hinata, sebentar kemudian ia tersenyum bahagia merasakan tendangan anaknya.
"Dia tadi menendangku lho Hinata." Kata Naruto sambil terkekeh pelan.
"Ya, aku merasakannya juga."
*anzukaanzukaanzuka*
Hinata memakaikan jas kerja Naruto kemudian mengambil bekal untuk Naruto dan membawakannya ke mobil. Naruto berjalan pelan sedikit cemberut tidak rela meninggalkan istrinya untuk bekerja. Naruto merasa aneh dengan keadaan istrinya, namun ia tak tahu apa itu. Sebelum masuk ke mobil, Naruto menghampiri Hinata dan tiba-tiba menciumnya lembut, Hinata hanya berdiam diri tanpa melawannya mencoba mengartikan apa arti ciuman itu. Setelah beberapa menit Naruto melepaskan ciumannya,
"Kau akan berada di sini saat aku pulang kan? Aku pasti merindukanmu sepanjang waktu di kantor nanti."
Hinata hanya tersenyum menenangkan walau hatinya gundah takut Naruto mengetahui rencananya. Naruto memeluk Hinata sekali lagi sebelum memasuki mobilnya. Setelah menjalankan mobilnya Naruto tetap memandang istrinya dari kaca spion mobil. Perasaan tak enak itu terus merayap dalam dadanya. Namun, ia menenangkan dirinya dan mencoba berpikir hal lain.
*anzukaanzukaanzuka*
Hinata membereskan barang-barangnya sambil menangis, ia tahu ini yang terbaik bagi dirinya, anak mereka dan Naruto. Ia meletakkan semua barang pemberian Naruto di tempatnya. Ia tahu bila ia memiliki barang-barang itu ia akan teringat oleh Naruto, anak dalam rahimnya adalah pengingat terbaik baginya tentang Naruto, ia tidak butuh barang pengingat lain untuk mengingat laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil memasuki hatinya, laki-laki pertama yang menjadikannya wanita, laki-laki yang akan selalu ada dalam hatinya dan anaknya. Entah apa yang akan Hinata katakan pada anaknya kelak bila ia bertanya tentang ayahnya. Air mata terus merembes keluar dari mata Hinata, pandangannya mengabur. Ia kemudian mengambil kertas dari laci lemari kamarnya dan menulis di sana, menjaga agar air matanya tidak menetes di atas kertas itu. Ia kemudian berjalan ke arah kamar tidur Naruto dan mletakkan kertas itu di atas meja kerja Naruto. Hinata segera keluar dari kamar itu sebelum pikirannya berubah.
*anzukaanzukaanzuka*
Naruto membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Namun, tak terlihat tanda-tanda kehidupan disana. Wajahnya mengernyit, bingung dengan keadaan sekarang. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah tangga sambil menghidupkan lampu satu persatu.
"Hinata?"
"Hinata? Kau dimana?"
'Dia kemana ya?'
Naruto kemudian menghambur ke kamar Hinata, mulai membuka-buka lemari bajunya yang ternyata sudah tak berisi. Ia kemudian mengusap kepalanya, bingung. Semuanya masih baik-baik saja tadi pagi, Hinata juga tak menampakkan suatu keanehan yang mengindikasikan adanya masalah diantara mereka. Naruto pun menghubungi Hinata dengan panik, berharap usahanya membuahkan hasil, Ia masih berpikir apa yang membuat Hinata meninggalkannya. Setelah Naruto menekan kontak Hinata, yang terdengar dari ponselnya hanya bunyi "tut tut tut" yang menandakan bahawa ponsel yang dihubunginya tidak tersambung. Naruto kemudian membanting ponselnya dan mengacak-acak rambutnya. Ia pun langsung melesat menuju kamarnya dan menemukan sepucuk surat.
"Uzumaki Naruto-san, terimakasih atas kebaikanmu selama ini
kumohon ceraikan aku secepatnya
aku tahu tunanganmu tak suka dengan semua pernikahan bohongan ini
arigatou gozaimashita"
Hinata Hyuuga
"arrrggghhhhhhh!" Naruto langsung menuju mobilnya dan mengendarainya cepat sambil melihat ke trotoar, berharap menemukan istrinya secepatnya.
TBC...
fiuuuhhhhh
sumpah, nulis ini fic menguras tenaga
tapi makasi ya buat yang uda review
itu berharga bgt
sesuatu bgt
arigatou gozaimashita
m(-_-)m
balesan review
yang lewat PM silakan dibuka PMnya
suka snsd
makasih ya saran dan pujiannya
berharga bgt lho, udah tak benerin itu percakapannya
kehadiranmu selalu ditunggu
salam kenal juga
:D
sasuhina-caem
makasih udah suka fic ini
maaf kalo Hina agak OOC
buat menyesuaikan karakter eg
:P
saya juga suka sama karya Galerians
:D
pengen sebagus dia kalo nulis
:)
Tantand
iyah ada lanjutannya
:D
ditunggu lagi lho reviewnya
via-sasunaru
wah makasih ya udah suka fic ini
ini udah dibenerin moga suka juga
:D
ifta
iya, salam kenal juga
:D
maaf ya udah updatenya lama, pendek pula
makasih ya
Nara
hehe, iyap
ayo kanjutkan!
:D
makasi yak
Emma
dia datang untuk memperpanas suasana
hehe
:P
jangan dikutuk, ntar ceritanya ga asik ga da sia
makasi yak
:D
Hyuuna-toki
makasih
ini lanjutannya
ga nelantarin kok
agak macet aja ni otak buat nerusin fic
makasih yak
A. 'zid
ini
makasi yak
sinuza
ini
makasi ya
Keyrin
ini udah lanjut
saya juga penasaran sama review kamu
:D
makasi yak
buat semuanya,,,,
makasih reviewnya dan maaf telat updatenya
hehe
:D
