Mereka bilang rasa cinta bisa berubah
Luka hati akan hilang seiring berjalannya waktu
.
Tapi aku mengenal diriku lebih dari siapa pun
.
Aku yakin hatiku tidak akan berubah.
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 2 : A MISSION
.
.
Bocah laki-laki berambut hitam itu mengatupkan kedua tangannya di depan sebuah kuil kemudian memejamkan mata. Anak perempuan di sebelahnya melakukan hal yang sama, mengikuti setiap gerak gerik si bocah sambil sesekali mengintip ke arahnya. Ia juga ikut memohon pada dewa, permohonan yang selalu sama sampai ia berpikir mungkin dewa pun sudah bosan mendengarnya. Ketika bocah laki-laki itu menyadari kehadiran seseorang lalu menoleh, gadis cilik itu sudah mempersiapkan sebuah senyuman paling manis yang bisa ia lakukan.
"Kenapa selalu mengikuti aku, Sakura? Apa kau akan tumbuh jadi ekorku, hah?!" tanyanya sinis.
Sakura Haruno malah tersipu dengan pertanyaan itu, membuat si bocah bergidik.
"Sasuke, apa doamu?" tanyanya.
"Aku ingin jadi kuat dan hebat. Soalnya kalau sudah besar aku ingin jadi agen keamanan Konoha supaya bisa menyelamatkan Negara ini. Itu cita-citaku!" ucap bocah itu dengan lugu dan berapi-api, "Supaya nanti tidak akan ada lagi orang-orang jahat seperti pembunuh ayah dan ibu…"
Sakura hanya diam ketika mendengarkan ucapan Sasuke, karena dua bulan yang lalu orang tua Sasuke meninggal oleh orang jahat. Sasuke menjadi yatim piatu, dia sebatang kara dan hidup di sebuah panti asuhan pemerintah Konoha. Dia kesepian dan butuh teman yang setia mendukungnya. Lalu gadis berambut kemerahan itu menggenggam jemari Sasuke sambil tersenyum manis.
"Katanya doa orang lain lebih ampuh lho, jadi aku juga akan berdoa untukmu! Kita akan sama-sama melindungi Konoha. Janji ya?" katanya.
Sasuke Uchiha menatapnya heran, "Memangnya tadi kau memohon apa?"
"Kalau aku mengatakannya, nanti doanya jadi tidak terkabul!" Sakura mencoba mengelak, "Tapi janji ya, Konoha ini akan kita lindungi dari orang-orang jahat, Sasuke! Kita berdua, bersama-sama!"
Jemari kecil keduanya bertautan, diiringi senyuman dan keyakinan yang menghiasi wajah mereka.
"Ya. Aku janji…"
.
.
Sakura diam di tempat duduknya, tak bergerak sedikit pun. Beberapa menit setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, ia mulai mengambil foto-foto yang disodorkan padanya. Satu per satu dilihatnya, foto itu menunjukkan ada beberapa orang yang mengawal anak kecil sambil membawa sebuah tas. Jubah panjang bermotif awan yang mereka kenakan memang familiar dengan pakaian pria asing yang dibunuh di lereng tebing perbatasan Negara Konoha tiga tahun lalu. Mungkin karena jubah itulah Kakashi mengaitkannya dengan kasus kematian Sasuke.
Tidak ada satu wajah pun yang tertangkap kamera, satu-satunya petunjuk orang berjubah itu adalah seseorang yang menggunakan topeng dengan tekstur melingkar. Entah apa yang ada di baliknya, namun topeng itu merupakan salah satu petunjuk penting. Pandangannya beralih ke foto yang lain, anak kecil itu berusia sekitar sepuluh tahun, postur tubuhnya kurus dan memiliki kulit putih pucat. Potongan rambutnya lurus sebahu berwarna abu dengan mata berwarna coklat sehingga terlihat kontras dengan pakaiannya yang berwarna putih. Sementara untuk tas yang selalu dibawa orang-orang itu, tidak ada petunjuk apapun.
"Pak Kakashi, aku harus memulai darimana? Aku baru bergabung dua bulan di divisi ini…" akhirnya ia membuka mulutnya setelah sekian lama membisu, "Amatiran sepertiku, apa tidak terlalu beresiko?"
Kakashi Hatake mengangguk, mengiyakan semua kata-kata bawahannya.
"Memang beresiko, aku sudah bilang padamu kalau ini berbahaya. Tapi ini adalah pilihan, kau mau melakukannya demi Sasuke… Atau melepas kesempatan ini?" sekarang atasannya ini malah membalikkan pertanyaan, membuat Sakura kembali diam.
.
"Aku supervisor-mu, Sakura Haruno. Aku bertanggung jawab penuh atas keselamatan tiap anak buahku, dan tentunya kau kupilih bukan karena rasa simpati semata tanpa pertimbangan matang. Kalau kau bersedia, akan segera kusiapkan sebuah tim khusus untuk menjalankan misi ini," jelas Kakashi, "Tapi seandainya kau menolak…"
Dia terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang ucapannya sendiri.
"Seandainya kau menolak, misi ini akan kuserahkan pada Naruto."
Sakura terkejut hingga sedikit menggebrak meja dan tidak sadar telah berdiri dari tempat duduknya, ia menatap tajam ke arah atasannya. Tidak bisa. Dia keberatan akan keputusan Kakashi untuk membawa Naruto masuk dalam misi ini. Kakashi Hatake balas menatap Sakura dengan pandangan tenang, seakan dia telah memperkirakan perubahan sikap wanita ini. Dengan sebuah gestur tangan dia mempersilakan Sakura kembali duduk di kursinya. Sakura pun menurut.
"Tidak bisa, Pak Kakashi. Anda tahu pasti Naruto tidak akan sanggup menanggung beban ini, dia yang paling merasa bersalah pada kematian Sasuke! Karena saat itu ia yang paling tidak berdaya karena jatuh pingsan… Anda ingat bagaimana Naruto terpuruk tiga tahun yang lalu?" Sakura mengutarakan isi hatinya dengan suara bergetar karena menahan emosi. Dia tetap menjaga sikap hormat di depan atasannya.
Lagi-lagi Kakashi hanya mengangguk dan mengangkat kedua bahunya.
"Tentu, Sakura. Aku SANGAT mengerti kondisimu maupun Naruto. Tapi lagi-lagi kutekankan, ini adalah sebuah misi. Aku sudah menawarkan pilihan untukmu, dan kalau kau menolak… Kau sudah tahu orang berikutnya yang akan kutunjuk. Kuberikan kau waktu untuk berpikir sampai siang, apakah cukup?"
Sakura menggeleng, "Tidak perlu, Pak. Aku sudah memutuskannya…"
Dia mengambil foto-foto itu dari atas meja lalu mengembalikannya ke amplop coklat.
"Aku, Sakura Haruno… Menerima misi ini."
.
.
Langkah selanjutnya adalah menunggu Kakashi Hatake mengatur proses keberangkatan dan pembentukan tim kecil untuk misi. Karena misi ini tercatat sebagai misi rahasia dengan tingkat kesulitan tinggi, maka seluruh informasi tidak diperbolehkan bocor sekali pun kepada sesama agen. Artinya kini Sakura mengangkat beban misi seorang diri, termasuk merahasiakannya dari Ino maupun Naruto. Dia hanya diperbolehkan membahas misi bersama tim-nya nanti, juga Kakashi.
Waktu makan siang ia habiskan di ruang arsip untuk mencari semua informasi yang mungkin dibutuhkannya. Menurut informan organisasi, foto tersebut diambil di Negara Suna. Sakura membuka dokumen-dokumen mengenai Suna, dimulai dari kultur budaya, bahasa, cuaca, hingga sistem politik. Semua hal yang sebaiknya ia ketahui diserapnya, termasuk beberapa dokumen umum yang bisa dipinjam untuk dipelajari. Hingga dua hari berikutnya, Kakashi belum juga menetapkan anggota tim. Beruntung dengan keadaan itu, Sakura menggunakan waktu ini untuk mempelajari berbagai informasi tentang Suna.
Dari informasi yang didapatkannya, ternyata Negara Suna ini tidak memiliki perbedaan bahasa dengan Konoha, hanya saja mereka memiliki temperatur suhu yang lebih panas dengan curah hujan kecil. Akibatnya para penduduk sering mengenakan jubah-jubah panjang untuk menghindari sengatan matahari langsung. Negara Suna mengutamakan laju perekonomian dari perdagangan, namun muncul berbagai permasalahan besar dari perdagangan ini. Adanya perbudakan dan perdagangan gelap merupakan isu utama yang harus diatasi oleh pemerintah.
Bertemu Naruto merupakan hal paling menyiksa bagi Sakura dalam hari-hari terakhir ini, karena dia mulai curiga dan bertanya tentang misi rahasianya. Sakura akhirnya mulai menghindari pria berambut kuning itu dengan mengelak ketika diajak makan siang bersama. Atau jika berpapasan di kantor dia akan bersikap seolah-olah sibuk dan menghindari sapaannya. Sungguh melelahkan. Salah satu obat penyejuk hati dan pikirannya adalah sudut ruangan kerja Ino yang tertutup tembok dan selalu berhasil menyembunyikan Sakura dari pria itu. Namun cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu juga.
.
"Sakura, kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku sih?!" tanya Naruto yang berhasil mengejarnya di koridor, dia mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.
"Lepaskan tanganmu…" Sakura menatapnya geram, "Ini tempat umum, sebaiknya kendalikan sikapmu."
Sakura dengan paksa melepaskan tangannya dari genggaman Naruto.
"Apa aku salah? Apa aku sudah membuatmu marah?" tanya Naruto keheranan, "Kau dapat misi apa dari Kakashi sampai jadi aneh begini sih? Sikapmu ini membuatku pusing, Sakura!"
"Kalau kau pusing seharusnya minum obat, bukan mencariku…" Sakura hanya menjawab dengan sinis, "Misi ini tidak ada hubungannya denganmu jadi tidak perlu repot-repot ingin tahu, Naruto. Aku lelah bekerja beberapa hari ini bukannya mau menghindarimu. Sudah ya, aku harus kembali bekerja…"
"Lihat kau menghindar lagi… H… Hei! Tunggu, Sakura! Sakura!"
Dia sudah menghilang di sebuah tikungan koridor, Naruto hanya menatap hampa tanpa mendapatkan jawaban berarti dari wanita itu.
.
.
.
18 November
Hari ketiga sejak Sakura Haruno menerima misi dari Kakashi Hatake, pagi itu dia menyempatkan diri membaca koran ditemani secangkir kopi panas dan roti isi. Dari tempat tinggalnya sekarang Sakura hanya perlu menempuh beberapa menit berjalan kaki untuk sampai ke kantor, jadi waktu senggang di pagi hari dapat ia gunakan untuk sarapan. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Sakura melipat dan meletakkan surat kabar di sisi meja lalu melihat sebuah pesan. Ternyata ada sebuah email masuk dari organisasi, biasanya berupa jadwal rapat divisi atau semacamnya. Namun tebakannya kali ini salah, itu adalah email pribadi dari Kakashi Hatake.
.
To : Sakura Haruno – Security Agent of Konoha
Bersama ini aku mengumumkan pembentukan tim untuk Suna Project.
Para agen yang menerima email ini diminta hadir tepat waktu di Central Office, ruangan rapat A1 pukul 9.00 AM untuk membahas rencana kerja dan proses keberangkatan. Semua hal yang berkaitan dengan proyek ini bersifat rahasia dan dilindungi penuh oleh pemerintah Konoha.
Atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih dan selamat bekerja.
Kakashi Hatake - Head of Konoha's Security Division
.
.
Hari ini datang juga, pikir Sakura. Entah dia harus senang atau khawatir pada email yang baru saja ia terima, yang pasti dia akan segera diberangkatkan ke Negara Suna. Pukul sembilan kurang dia sudah siap di depan ruang rapat, sementara Kakashi datang lima menit sebelum waktu yang ditentukan. Dia melihat anggota pilihannya sudah berkumpul. Dari kiri ke kanan, dia melihat wajah Sakura Haruno yang menerima misi itu pertama kali, di sebelah Sakura ada Shikamaru kekasih Ino, lalu pria berambut hitam pendek bernama Sai, dan yang terakhir seorang wanita berkacamata yang merupakan agen senior. Diantara mereka semua, Sakura hanya mengenal Shikamaru. Dia pernah mendengar mengenai Sai yang mendapat promosi dalam waktu singkat karena keterampilannya menyelesaikan misi-misi sulit, tapi baru kali ini mereka bertemu. Dan tentang seorang wanita yang merupakan agen senior, jangankan mengenalnya… Mengetahui namanya saja tidak.
.
Mereka semua duduk berhadapan di kursi rapat yang dibatasi oleh sebuah meja panjang, Sakura duduk di sebelah Shikamaru sementara Kakashi berada di depan sambil menyalakan layar proyektor yang menampilkan foto-foto para pria berjubah. Kakashi Hatake memperhatikan anak buahnya satu per satu dalam keheningan sebelum memulai rapat. Ketika mata seluruh agennya tengah menatap layar barulah ia mulai bicara.
"Selamat pagi para agen, tanpa basa-basi aku akan langsung menjelaskan tentang misi kalian," Kakashi memulai penjelasannya, "Misi ini dinamakan Proyek Suna, sebuah misi dengan tingkat cukup berbahaya dan bersifat rahasia karena menyangkut nama dua negara, yaitu Suna dan Konoha. Kalian termasuk aku… Kita berlima adalah sebuah tim yang dibentuk untuk misi kali ini."
Dia memberikan jeda beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Foto ini adalah hasil yang diambil dari informan, mereka dicurigai sebagai anggota dari sebuah organisasi bernama Akatsuki. Akatsuki adalah sebuah organisasi yang… Sampai saat ini masih terbilang misterius namun berbahaya, yang dicurigai telah membantu proyek perdagangan gelap di Suna, juga tercatat terlibat dalam tindak kriminalitas lain. Sayangnya informan kita belum mendapatkan bukti apa-apa tentang Akatsuki," Kakashi kemudian menekan sebuah tombol dari alat yang ia pegang dan memunculkan gambar lainnya di layar, "Jubah bermotif awan yang mereka pakai sama seperti salah satu korban yang meninggal di lereng tebing Konoha tiga tahun yang lalu. Kalian masih ingat? Tragedi hilangnya salah satu calon agen kita, Sasuke Uchiha."
Mereka yang ada di ruangan itu seketika mengangguk, terkecuali Sakura. Mendengar nama itu disebut, entah mengapa membuatnya merinding dan hatinya terasa tertusuk. Dia masih berusaha bersikap tenang dan mengendalikan pikirannya agar tetap terfokus pada penjelasan Kakashi Hatake. Shikamaru yang duduk di sebelah Sakura melirik ke arah wanita itu, memastikan agar rekannya tetap tenang.
.
"Yang menjadi misi kalian kali ini adalah menyelamatkan anak yang ada di foto."
Ternyata mereka harus menyelamatkan si anak kecil berambut sebahu berwarna abu dengan mata berwarna coklat. Ya, anak kecil yang dilihat Sakura sebelumnya di foto.
"Maaf Pak, tapi apakah kasus tiga tahun yang lalu ada hubungannya dengan anak ini?" potong Sai yang akhirnya bertanya setelah sebelumnya hanya diam memperhatikan foto.
Kakashi menganggukkan kepalanya.
"Ya, sepertinya kedatangan mereka tiga tahun yang lalu sudah direncanakan. Mereka sudah mengincar anak ini, namun gagal mendapatkannya. Sasuke Uchiha yang gugur itulah yang menyelamatkan anak ini. Informasi yang kukatakan ini adalah top secret jadi aku yakin kalian baru mendengarnya hari ini, dari mulutku."
Sakura tidak mempercayai apa yang ia dengar, "Maksud Bapak… Sa… Sasuke menyelamatkan anak itu?!"
"Anak ini dilindungi oleh Negara Konoha. Dia disembunyikan pemerintah di sebuah pondok terpencil di lereng tebing, dan kemungkinan saat itu informasi keberadaannya tercium oleh Akatsuki. Ketika mereka datang, sayangnya dihambat oleh kehadiran kalian yang secara tidak disengaja ada di tempat yang salah. Sasuke Uchiha yang bertahan disana seorang diri, bukan hanya menyelamatkan kau dan Naruto, tapi juga nyawa anak tersebut… Meskipun pada kenyataannya Sasuke tidak pernah tahu hal itu, Sakura."
.
.
Kakashi dengan nada tenang menceritakan salah satu rahasia Negara Konoha kepada mereka berempat, kini semuanya mengerti mengapa misi ini terbilang top secret. Bahkan pemerintah sudah merahasiakannya sejak tiga tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Jantung Sakura berdegup kencang mendengar rahasia itu, kedua tangannya yang berada di bawah meja mengepal hingga terasa dingin. Ternyata 'berada di tempat yang salah' adalah kemungkinan yang paling tepat untuk mengungkapkan penyebab terbunuhnya Sasuke, betapa ironis. Dia mencoba sekuat tenaga untuk tetap fokus pada rapat, bukan pada pikirannya yang berkecamuk tak karuan. Layar proyektor itu memunculkan lagi foto si anak kecil dan sebuah peta di sebelah kanannya.
Pertama-tama Kakashi Hatake menggerakkan jari tangannya, menunjuk ke arah foto si anak kecil.
"Anak kecil bermata coklat yang menjadi target Proyek Suna ini bernama Sora. Dia adalah salah satu aset terpenting yang dimiliki Konoha, keberadaannya juga top secret. Akatsuki berhasil menculiknya awal bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat terencana. Mereka juga membunuh semua agen yang kita kerahkan untuk menjaga Sora," kini tangan Kakashi bergeser dan menunjuk peta, "Ini adalah titik lokasi yang dicurigai sering dilalui beberapa anggota Akatsuki. Kalian akan menyusup ke Negara Suna sebagai turis melalui penerbangan biasa, lusa. Karena itu kalian harus bertingkah laku layaknya turis dan jangan sampai pemerintah Suna curiga pada keberadaan kalian. Langkah pertama para agen lapangan adalah menemui intelejen Konoha disana untuk mendapatkan informasi juga senjata. Sekarang aku akan membagikan pembagian tugas. Apa kalian paham?"
Shikamaru mengangkat tangannya, "Pak Kakashi, siapa sebenarnya Sora?"
Kakashi menghela napas dan selama beberapa hitungan terdiam setelah mendengar pertanyaan itu.
"Sora, semua informasi tentang dia adalah rahasia... Aset terpenting Konoha, hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Misi kita adalah menyelamatkan dia jadi tetaplah fokus pada misi ini. Ada pertanyaan lain?"
.
Semuanya diam, lalu Kakashi membagikan sebuah map pada masing-masing anggota tim.
"Kita masuk pada bagian selanjutnya yaitu pembagian kerja. Aku, Kakashi Hatake dalam misi ini memegang peranan sebagai ketua tim dan mempertanggung jawabkan semua informasi dari misi pada petinggi Konoha. Semua laporan harus sampai kepadaku dan semua langkah kritis yang diambil juga berdasarkan keputusanku. Shikamaru akan tetap berada disini sebagai asistenku khusus untuk proyek ini, dia tidak berangkat bersama kalian ke Negara Suna. Kalian hanya akan berhubungan dengan Konoha lewat aku atau Shikamaru, kami akan mempersiapkan jalur aman untuk berkomunikasi. Jelas?"
Semuanya mengangguk lalu Kakashi menjelaskan bagian lain, "Sakura dan Sai, kalian akan berangkat ke Suna bersama Yuki. Yuki adalah agen senior yang sudah berpengalaman dalam menjalankan beberapa misi sulit, dia menjadi ketua tim kalian selama berada di lapangan. Kami mengandalkan kerjasama kalian bertiga dalam misi ini, usahakan semua terkoordinir dengan baik. Tiket pesawat akan kalian terima nanti siang dan informasi tambahan lain sudah tertera di map yang kalian pegang masing-masing. Karena kalian akan segera berangkat, setelah menerima tiket dan menyelesaikan administrasi kalian diperbolehkan pulang untuk mengemasi barang. Apakah semuanya jelas?"
"YA, PAK!"
"Aku berharap pada kalian semua, dan dengar! Kalian adalah agen terpilih untuk Konoha, jadilah yang terbaik dan selesaikan misi dengan gemilang!"
"SIAP, PAK!" sahut semua yang ada di ruangan sambil berdiri memberi hormat.
Kakashi meninggalkan ruangan rapat lebih dulu, sementara keempat anggota lainnya berkenalan secara formal. Sakura mengira Shikamaru akan ikut berangkat ke Suna, nyatanya tidak. Dia harus bekerjasama dengan seniornya dan salah satu rekan yang sama sekali tidak ia kenal. Yuki-lah yang terlebih dulu menyalami Sakura, kesan pertama darinya adalah tegas dan bisa diandalkan. Berbeda dengan kesan si senior berkacamata, Sai lebih terlihat kaku dan nampaknya tidak terbiasa bekerja dalam tim. Tatapan matanya dingin seakan menganggap perkenalan hanyalah basa basi, dia menyalami yang lain tanpa obrolan berarti… Sekedar formalitas antar anggota tim. Namun Sakura tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena pikirannya sejak tadi sudah meracau memikirkan hal lain. Apapun yang terjadi nanti, Sakura Haruno telah membulatkan tekadnya untuk menyelidiki misteri ini.
.
.
Perlahan namun pasti, misteri kematian Uchiha Sasuke akan terungkap…
.
.
.
Bersambung.
.
.
Author's Note :
Chapter kedua selesai… Terima kasih untuk komentarnya di chapter 1 kemarin, dan salam kenal semuanya! Chapter kali ini masih menceritakan tentang misi, dan satu flashback masa kecil Sasusaku. Oh ya karakter Yuki disini adalah original character yaa, sebenarnya ide awal misi Proyek Suna ini misi tunggal untuk Sakura. Tapi berubah gara-gara pas ngetik tiba-tiba ngelantur bikin tim ya jadi gini deh. Siapa tahu pembaca punya ide untuk mengembangkan cerita ini? Saya sangat menanti via PM (kalau di review nanti ga seru dong hehehe, kecuali yang ga login di fanfiction). Dan untuk kali ini juga…
Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, kritik, etc. Dan terima kasih kepada tiap pembaca yang mau meluangkan waktu untuk baca dan me-review cerita ini, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
