Mereka bertanya mengapa aku tidak mencoba?
Cinta sedalam apapun, luka hati seperih apapun
Semua akan hilang setelah berlalunya waktu
.
Tapi aku seakan terpaku padanya
.
Aku yakin hatiku tidak akan berubah.
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 3 : SUNA PROJECT
.
.
Ketika ia berjalan di lorong sekolah melewati pintu-pintu kelas, entah mengapa semua mata memandangnya seperti melihat seorang makhluk asing, tapi dia terlalu terbiasa merasakan hal itu. Rambutnya yang berwarna kekuningan memberikan kesan kontras yang menjadi salah satu ciri khasnya, dikenal sebagai pribadi ceria dan pandai bergaul selain karena popularitasnya yang baru menanjak. Dari seorang yatim piatu kini ia diangkat oleh seorang petinggi Negara Konoha yaitu Nyonya Tsunade, menjadi anak angkatnya. Nyonya Tsunade memperbolehkan Naruto tetap menyandang nama keluarga terdahulunya yaitu Uzumaki. Popularitas karena status barunya ini kadang membuatnya jengah, dia hanya benar-benar mempercayai orang-orang tertentu.
Yang akrab bukan karena popularitas, status sosial atau uang.
Langkah-langkah kaki membawanya menemui seorang gadis belia berambut merah muda dengan mata yang sangat indah, setidaknya bagi dirinya. Naruto Uzumaki berhadapan dengan Sakura, gadis yang beberapa tahun ini terus mengisi pikirannya. Tersungging sebuah senyum ceria dari bibir gadis itu, di sebelahnya nampak seorang pria berambut hitam yang hanya termangu melihat kedatangan Naruto… Ya. Dia adalah Sasuke Uchiha. Naruto – Sakura – Sasuke, tiga sahabat yang menjadi akrab di Akademi Konoha. Dua orang yang paling dekat dan dianggap paling mengerti akan keadaan dirinya tanpa memandang status sosial. Naruto menyodorkan sebuah jus kaleng dingin untuk Sakura, tipe favoritnya.
"Ini Sakura, aku salah beli. Untukmu saja…" katanya.
Pandangan Naruto bertatapan dengan mata Sasuke yang kelam, dan entah mengapa ia segera mengalihkannya ke arah lain.
"Waah! Jus favoritku, terima kasih Naruto! Kenapa kau bisa salah beli sih?" Sakura menerimanya dengan mata berbinar-binar kemudian meneguk isinya.
"Ngg… Setengah melamun tadi," jawab Naruto singkat sambil memanggil pria di sebelah Sakura, "Hei Sasuke! Jangan melamun terus, ayo kita harus segera ke ruang olahraga! Kali ini aku tidak akan kalah darimu, jangan sampai kau menyesal karena tidak satu tim denganku."
Sasuke segera bangkit berdiri dan mendekat ke arah dua orang sahabatnya yang kini berjalan berdampingan dengannya menuju ruang olahraga. Rangkulan akrab Naruto di pundaknya tidak membuatnya terganggu, dia hanya menatap pria berambut kuning yang masih saja mengoceh.
"Jangan hanya omong besar, Naruto. Akan kita buktikan di permainan nanti…" jawabnya singkat.
Kenangan indah yang kini hanya menjadi sebuah memori di benak masing-masing…
.
.
19 November – Bandara Udara Internasional Negara Suna
Wanita ini baru saja tersadar dari mimpinya ketika dibangunkan oleh salah seorang pramugari cantik maskapai, yang mengingatkan bahwa mereka akan segera mendarat di Negara Suna. Sakura Haruno melirik ke sebuah bangku di seberang, terlihat seniornya yang masih berkutat dengan sebuah bacaan kini menegakkan kursi dan berhenti membaca. Perjalanan udara dari Konoha ke Suna memakan waktu dua jam lima belas menit, dimana tidak ada perbedaan waktu di antara keduanya. Sakura mengencangkan sabuk pengamannya sambil terus memikirkan masa-masa indah di Akademi bersama Naruto dan Sasuke, seperti mimpinya tadi.
Alangkah baik apabila keadaan tidak pernah berubah…
Tidak lama setelah itu, pesawat benar-benar mendarat dan para penumpang maskapai telah diperbolehkan turun. Setelah menunggu kerumunan penumpang mengantri, Sakura yang berada di deretan penumpang paling belakang akhirnya mengambil tas miliknya lalu mempersiapkan paspor. Di belakangnya Sai mengikuti dengan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamatanya. Tidak terlalu lama menghabiskan waktu dengan proses pengesahan di imigrasi kini ketiganya telah berkumpul sambil membawa barang bawaan masing-masing. Yuki mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi seseorang sementara Sai dan Sakura dengan tenang menunggu dalam keheningan.
"Cuaca disini panas ya, Sai?" Sakura mencoba mencairkan keheningan diantara mereka.
"Selama tidak meleleh atau terbakar masih bisa diterima."
Kata-kata cuek Sai membuat hati Sakura menciut dan berpikir seharusnya dia tidak perlu memulai pembicaraan dengan pria asing itu. Beruntung Yuki tampaknya sudah selesai menelepon, dengan jari tengah ia mendorong bingkai hitam kacamatanya ke posisi nyaman.
"Oke Sakura dan Sai… Mereka sudah menjemput kita, setelah ini kita akan diantar ke penginapan dan menemui intelejen. Ingat ya kita adalah turis biasa, tolong jangan bertindak ceroboh." setelah mengatakan itu Yuki mendorong kopernya ke pintu keluar diikuti kedua agen lainnya.
.
.
Misi pertama bagi Sakura di Negara Suna tentunya menjadi sebuah hal baru baginya, tak heran dia terus mencuri-curi kesempatan untuk memandang berkeliling seakan-akan takjub pada pemandangan selain Konoha. Sebuah papan nama bertuliskan "Welcome Yuki Darling" hampir saja membuat Sakura tertawa geli jika ia tidak lebih dulu mencubit kulitnya sendiri, orang yang menjemput kami sepertinya sudah mengenal Agen Yuki dan mereka memang terlihat cukup akrab ketika berbincang.
"Yuki sayang… Apa kabarmu, honey? Ooh ini dua temanmu itu ya, Sakura dan Sai kan? Halo Sakura yang maniiss… Nah karena semua sudah lengkap, ayo kita segera berangkat ke hotel! Kau pasti capek kan, Yuki?" sapa si pria tua berambut putih nan genit itu.
"Om-om sepertimu memang tidak pernah berubah, Jiraiya…" jawab Yuki ketus sambil terus berlalu menuju mobil, "Sakura dan Sai, ini Jiraiya. Dia yang akan mengantar kita."
Mereka saling berjabat tangan dan Jiraiya duduk di balik kemudi ketika tiba di mobil minibus berwarna biru tua yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar. Setelah mengenakan sabuk pengaman mereka langsung meninggalkan bandara menuju perkotaan. Negara Suna jauh dari bayangan Sakura yang terkesan panas gersang, penuh dengan penjahat dan perdagangan gelap. Ternyata tidak jauh dengan Konoha, Suna adalah negara yang modern meskipun rasanya aneh ketika melihat beberapa orang berjalan mengenakan jubah tertutup untuk menghindari terik matahari.
Mereka bertiga dibawa menuju tengah kota dan menemui deretan nama-nama hotel. Jiraiya membelokkan setirnya memasuki sebuah pekarangan hotel yang cukup luas dengan bangunan berwarna putih dan di bagian depannya menjulang tiang-tiang ionic sebagai dekorasi. Jiraiya mempersilakan mereka turun dan membantu Yuki membawakan kopernya. Sakura menjejakkan kakinya ke dalam hotel yang sejuk dan nyaman dengan lampu-lampu berwarna kekuningan menghiasi dinding. Sai melepas kacamata hitamnya lalu maju mendekati meja resepsionis untuk mengurus administrasi sementara para wanita duduk ditemani Jiraiya.
.
"Pekerjaan kali ini berat, Honey?" tanya Jiraiya ketika duduk di samping Yuki.
"Merepotkan lebih tepatnya, aku heran mengapa Kakashi malah menunjukku."
"Karena kau menguasai Suna dibanding lainnya honey," jawab Jiraiya, "Kau tegas pada anak buahmu, dan sebagai wanita kau galak sekali padaku."
Tatapan tajam Yuki telah membuat mulut Jiraiya berhenti berkicau, "Aih tolong hentikan! Pandanganmu itu terlalu menusuk jiwaku, honey… Lihat, nanti Sakura jadi takut sekamar denganmu lho!"
Sakura hanya terkikik geli menanggapi tingkah kedua seniornya.
"Kalian sudah lama mengenal ya? Anda tampak sangat akrab dengan senior Yuki," kata Sakura.
"Hmm bagaimana ya… Kami dulu sempat menjadi partner mesra alias lovey dovey di kantor wilayah Suna sebelum akhirnya dia dipindah tugaskan ke Konoha. Aku terlalu mengenal honey dibanding si Kakashi. Gara-gara perbuatannya memindahkan Yuki sekarang aku harus mengurusi kantor wilayah sendirian bersama agen junior pria yang merepotkan, padahal Kakashi tahu aku selalu benci membuat laporan bulanan!"
"Mesra apanya?! Tentu saja kau benci karena saat aku membuat laporan kau kan hanya minum-minum sambil menggoda wanita yang lewat," Yuki menanggapi dengan ketus sehingga membuat Sakura tertawa.
Tiba-tiba obrolan kami terputus karena melihat Sai datang menghampiri mereka sambil menyerahkan sebuah kunci pada Yuki, "Senior Yuki, ini kunci kamarmu. Aku sudah memesan kamar twin untuk kalian berdua."
"Baiklah sebaiknya kalian beristirahat dulu, nanti sore kita akan menemui informan pukul enam. Aku akan menjemput tiga puluh menit sebelumnya jadi jangan sampai terlambat. Selamat istirahat, honey…" Jiraiya berdiri dan melambaikan tangannya sebelum keluar dari hotel.
.
.
Sakura Haruno berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya setelah selesai merapikan diri di kamar hotel. Dia menggantungkan handuk basah pada beranda lalu membereskan beberapa barang di tasnya. Kamar yang ia tinggali cukup nyaman sekalipun Sakura harus berdua bersama seniornya, sementara Yuki sejak tadi hanya membaca berkas-berkas misi dan hanya berhenti sejenak untuk mandi. Jam telah menunjukkan pukul 5.30 sore dan mereka harus meninggalkan kamar untuk menemui informan. Mengenakan pakaian nyaman dan sebuah jubah panjang berwarna coklat, mereka pun bersiap-siap untuk turun ke lobi. Sebelum turun Yuki mengetuk pintu kamar seberang dan dari dalam Sai muncul mengenakan pakaian serupa. Mereka bersama-sama turun dan mendapati Jiraiya sudah menunggu di lobi.
Minibus berwarna biru tua itu melaju menuju sebuah kawasan terpencil di pinggiran kota yang keadaannya sangat kontras dibandingkan apa yang Sakura lihat tadi siang. Perkotaan modern dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi kini berganti dengan bangunan sederhana yang terlihat lusuh dan tua. Di sisi kanan dan kirinya tidak dilengkapi dengan pencahayaan lampu yang baik sehingga suasana sedikit gelap, Jiraiya harus menggunakan lampu mobilnya untuk membantu melihat arah jalan. Suasana begitu sunyi sementara matahari mulai tenggelam, menjelang malam tampak beberapa bangunan mulai menyalakan lampu-lampu. Sakura mengamati semuanya sambil bertanya-tanya mengapa mereka harus bertemu informan di daerah seperti ini.
"Daerah ini adalah red district di Suna," kata Yuki yang seakan-akan tahu isi pikiran Sakura, "Lokasi yang paling sering diadakan penyisiran oleh polisi tentang penyelundupan dan perdagangan gelap. Kalian ingat foto orang-orang berjubah itu? Informan pasti mendapatkannya di daerah ini."
"Bagaimana Anda tahu?" Sai tiba-tiba bertanya.
"Melihatnya sekilas saja aku sudah tahu, Sai. Aku mengenal daerah ini lebih lama dari siapa pun yang ada di Konoha," jawab Yuki singkat.
.
Akhirnya mobil itu berhenti di sebuah lorong kecil, di depannya juga ada beberapa mobil yang diparkir memenuhi sisi kanan jalan. Ketiganya berjalan mengikuti Jiraiya melewati seberang jalan yang gelap dan harus berhati-hati karena jalanan tersebut banyak terdapat lubang dengan genangan air. Jiraiya membawa mereka menaiki sebuah tangga sempit dengan satu lampu penerangan yang sudah berkedip di langit-langitnya. Begitu sampai di lantai dua ia membuka pintu dan masuk ke sebuah ruangan kecil yang penuh dengan asap rokok juga aroma minuman keras, di dalamnya tampak dua orang pria yang asyik bermain kartu dengan rokok terselip di antara bibirnya. Mereka berdiri ketika melihat rombongan itu datang seraya membereskan tumpukan kartu, menyeretnya masuk ke dalam laci meja lalu segera meninggalkan ruangan.
.
Di pojok ruangan terdapat sebuah sofa dan disana duduk seorang wanita berambut hitam yang hanya diam sambil melipat kedua tangannya. Dia mengenakan terusan sederhana berwarna hitam dengan bagian punggung yang terbuka, menegaskan lekuk tubuh sekaligus membuat kulit indahnya terlihat kontras. Terlihat tatapan sinis ketika ia melirik gerombolan Jiraiya, sementara satu tangannya mempersilakan mereka duduk di satu-satunya sofa yang ada. Setelah Sai dan Sakura masuk, Yuki yang berada di paling belakang akhirnya melihat keberadaan wanita itu. Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan duduk di seberang wanita itu.
"Konan," gumam Yuki.
Tidak terlintas satu emosi pun dari raut wanita yang dipanggil Konan ketika melihat kehadiran Yuki maupun anggota lainnya. Dia hanya mengangkat sebuah tas koper berwarna perak dan membukanya di atas meja, juga tiga kotak kecil lain berwarna hitam yang ditaruh dalam tas terpisah. Dari kotak hitam itu mereka mendapatkan satu set pistol beserta beberapa slot peluru berukuran 9mm untuk masing-masing agen kecuali Jiraiya. Baik Sakura maupun Sai masih terpaku melihat tingkah wanita di hadapannya.
"Kau berhasil mendapatkan senjata ini, Konan…" ucap Jiraiya sambil meringis melihat isi kotak itu.
"Tentu. Dengan uang semua jadi mudah." jawab Konan dengan nada datar, suaranya benar-benar terkesan dingin dan misterius, "Sesuai yang kau minta, Jiraiya."
"Apa ini?" tanya Yuki sambil menunjuk koper perak yang pertama kali ditaruh di atas meja.
"Lihat saja dan kau akan mengerti, Yuki." lagi-lagi Konan menjawab seadanya namun dari kalimat barusan menunjukkan bahwa mereka sudah saling mengenal nama masing-masing.
.
Koper perak itu berisi data mengenai misi, lebih tepatnya mengenai Akatsuki. Lokasi-lokasi yang lebih mendetail dibanding yang mereka dapatkan di Konoha juga beberapa foto Sora. Dari beberapa data yang ada, Sora sepertinya dibawa dan disekap oleh Akatsuki di daerah ini. Yuki mengamati satu per satu foto itu dan sepertinya dari gambar saja agen senior ini bisa mengetahui letak lokasi, sedangkan Sakura lebih tertarik untuk mengamati raut wajah Konan yang tidak pernah berubah atau menunjukkan emosi. Konan tidak tertarik untuk melihat satu per satu wajah tamunya, ia memilih diam dengan pandangan kosong tak tertebak. Yuki selesai melihat foto-foto tersebut atau mungkin lebih tepatnya mendeteksi tiap lokasi yang berhasil ditangkap dari foto, dari balik lensa kacamatanya ia memandang lurus ke arah Konan.
"Kau benar-benar mengerikan. Apa mereka tidak tahu kalau kau double agent dan membocorkan rahasia mereka pada kami, Konan sang informan?" tanyanya lantang.
Selintas senyum tipis membayangi bibir wanita itu, "Kalau mereka tahu tentu aku sudah mati."
Yuki tampaknya masih belum menyerah menarik informasi, "Selain informasi ini, ada yang lain mengenai aktivitas mereka? Atau mengapa mereka mengincar Sora? Dari foto ini menunjukkan mereka sedang melakukan transaksi di daerah ini, dan tentunya pasti bukan sesuatu yang berbau legal. Ceritakan pada kami yang kau ketahui, Konan."
"Huh. Urusan kita sudah selesai… Bawa data itu dan pergi dari tempatku, Yuki. Aku sudah memberikan apa yang harusnya kuberikan, kurasa kau bukan orang bodoh yang harus mengemis informasi dariku kan?" jawabnya santai.
Yuki menjadi geram dan berdiri mengepalkan tinjunya, "Ka-Kau…"
Ekspresi Konan tetap tenang dan tidak tersulut emosi seperti lawan bicaranya, dia hanya menatap Yuki dengan pandangan dingin. Jiraiya yang lebih dulu menahan Yuki menumpahkan emosinya, dia ikut berdiri dengan satu tangan terangkat mengisyaratkan agar mereka tidak memulai keributan, "Yuki, kita pergi. Konan sudah memberikan apa yang kita minta, ayo."
Lalu dengan isyarat mata ia memerintahkan Sakura dan Sai segera membawa data juga senjatanya lalu segera pergi dari tempat mungil itu. Konan masih terpaku di tempatnya tanpa sekali pun melirik ketika rombongan itu meninggalkan ruangan dan meninggalkannya seorang diri. Sakura masih bingung dengan keadaan tersebut, karena informan yang pernah ia temui di misi-misi sebelumnya sangat kooperatif dan bertolak belakang dengan wanita misterius kali ini. Mereka pun menuruni satu per satu anak tangga dan berjalan menuju mobil yang diparkir di seberang jalan. Sai berjalan paling belakang sambil terus mengamati lokasi asing itu.
.
.
Sesampainya di mobil, Yuki membanting koper yang berisi foto-foto tambahan dari informan, tampaknya ia masih tersinggung dengan sikap sang informan yang juga tidak dimengerti oleh Sakura. Dia menghempaskan dirinya ke bangku sambil menghela napas, sementara Sakura Haruno yang duduk di sebelahnya hanya menatap dengan keheranan. Dari spion kemudi Jiraiya melihat ekspresi kekesalan Yuki sekaligus wajah Sakura yang kebingungan, membuatnya terkekeh saat menyalakan mesin mobil.
"Honey, sebaiknya kau hentikan dulu emosimu dan ceritakan semua yang kau ketahui pada anak buahmu. Kau lihat wajah Sakura yang kebingungan?" katanya.
Dari penjelasan Yuki, Sakura mendapat informasi bahwa Konan adalah seorang agen ganda yang bekerja untuk pemerintahan Konoha sekaligus Suna. Tidak diketahui apakah Negara Suna juga tengah menyelidiki keberadaan Akatsuki, karena sejak dulu Konan memang sosok yang terlalu misterius tapi sayangnya pemerintah Konoha sangat bergantung padanya. Tidak ada orang lain yang bisa mendapatkan informasi seperti apa yang Konan dapatkan, sebagai gantinya hidup Konan tidak bergantung pada Konoha saja. Dia bebas dan tidak dapat dikendalikan maupun diperintah siapa pun.
Mengenai foto-foto tambahan yang mereka dapatkan dari Konan, Yuki mencurigai bahwa Akatsuki sedang menyiapkan sebuah rencana besar-besaran atau mungkin transaksi gelap di daerah tadi. Karena tidak ada informasi apapun mengenai Sora, maka mereka bertiga hanya berharap kegiatan itu tidak membahayakan nyawa anak yang harus mereka selamatkan. Yuki juga menambahkan bahwa beberapa titik lokasi yang ada di foto sepertinya bisa dikenali sehingga memudahkan mereka untuk melanjutkan misi. Ketika sedang menjelaskan cerita tersebut, ponsel Yuki bergetar. Ia mendapatkan kontak dari Kakashi Hatake.
.
"Malam Pak, ini Yuki." ucap Yuki begitu menjawab teleponnya.
"Laporkan perkembangan Proyek Suna."
"Baik. Kami sudah menemui informan sekitar sepuluh menit yang lalu dan saat ini dalam perjalanan pulang menuju hotel. Kami juga mendapatkan informasi tambahan mengenai kegiatan Akatsuki di red district Suna namun mengenai bentuknya masih negatif. Lokasi target juga negatif, Pak." lapor Yuki dengan tenang, "Kami memohon izin untuk melakukan investigasi lanjut besok pagi ke red district."
"Hmm… Aku serahkan padamu, Yuki. Aku menunggu kabar baik darimu, selamat malam."
Kakashi lebih dulu memutuskan kontaknya, Sakura masih terkagum-kagum pada laporan seniornya yang lugas. Tidak heran ia dipercaya menjadi ketua lapangan dalam misi ini, setidaknya Sakura merasa sedikit tenang ada seorang senior yang dapat diandalkan. Sai sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan di telepon, ia sibuk memandang ke arah jalan lewat jendela di sampingnya. Perjalanan berlanjut dengan keheningan, hanya sesekali Jiraiya dan Yuki terlibat dalam percakapan kecil tanpa melibatkan dua orang lainnya. Mereka membahas hal-hal yang tidak berkaitan dengan misi. Sambil menunggu mobil itu membawanya kembali ke hotel, Sakura menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Tanpa disadari ia tertidur.
.
.
Rem mendadak mengejutkan syaraf Sakura, ia terbangun dan berusaha menahan tubuhnya dari hentakan mobil. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, semuanya serba tiba-tiba. Mobil itu melaju kencang namun tak terkendali, bergoyang ke kiri dan ke kanan tak beraturan diiringi beberapa rem mendadak. Dia berusaha melihat keadaan ke depan dengan mendongakkan kepalanya.
"Sakura, menunduk!" sahut Yuki sambil menekan kepala Sakura ke bawah jok mobil.
Ada apa ini?!
Pedal gas yang dipacu semakin kencang dengan kemudi yang masih terasa kasar, kali ini Yuki memberanikan diri mengangkat tubuhnya setelah sekian lama menunduk. Sakura mengintip dari tempatnya, tampak kaca mobil bagian samping kemudi sudah pecah dan berubah menjadi serpihan dengan beberapa retakan di sisi pinggir. Seketika itu juga ia merasakan rasa dingin menyelimuti dirinya, rasa takut pada bahaya. Sai yang duduk di bagian belakang kini telah siaga dengan senjata di tangan.
"JIRAIYA!" Yuki berteriak histeris melihat keadaan partner lamanya yang masih susah payah mengemudikan mobil biru itu.
Tampak darah berlumuran di sekitar dada Jiraiya, membasahi pakaiannya dengan warna merah sementara keringat mengucur deras dengan napas terengah-engah. Raut wajahnya menunjukkan rasa tegang dan kesakitan. Dia masih berusaha memacu mobilnya menjauhi lokasi penembakan, dimana beberapa detik yang lalu terdengar sebuah tembakan yang ternyata langsung melesat memecahkan kaca lalu bersarang di dadanya. Yuki membantu Jiraiya menekan luka yang mengeluarkan darah segar sementara pria itu masih terus terengah-engah mengatur napas. Sakura terdiam, kedua tangannya bergetar tak tertahankan.
Ada orang yang mengincar nyawa mereka…
.
"Gawat… Kita diserang…" kata Jiraiya lemas.
.
.
.
Bersambung.
.
.
Author's Note :
Chapter ketiga selesai… Chapter kali ini mulai masuk ke misi di Negara Suna! Terus berhubung saya sudah sebut AU dan OOC… Saya menghidupkan kembali Jiraiya dan Konan (huahahaha biarlah ya mereka jadi eksis lagi, tapi anehnya saya malah kesengsem sama Konan disini padahal sebelumnya tidak pernah terpikir informannya wanita O_O *gaplok pipi sendiri*). Terus untuk chapter kali ini saya sudah mengusahakan sedikit lebih panjang dari chapter-chapter berikutnya, semoga tidak membosankan ya! Gimana komentarnya tentang chapter ini?
Soal review yang nanyain sampai berapa chapter, jawabannya saya sendiri belum tahu karena ide cerita muncul tanpa direncanakan, pastinya tidak akan sepanjang sinetron. Sasuke beneran mati nggak? Hmm udah bisa ketebak kayaknya tapi masa mau saya bocorin duluan? xD *clue : liat aja pairingnya*.
Dan untuk chapter ini juga…
Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Dan TERIMA KASIH kepada tiap pembaca yang mau meluangkan waktu untuk baca dan me-review cerita ini, terharu juga waktu lihat ada yang fave dan follow cerita saya… Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
