Tampak darah berlumuran di sekitar dada Jiraiya, membasahi pakaiannya dengan warna merah sementara keringat mengucur deras dengan napas terengah-engah. Dia masih berusaha memacu mobilnya menjauhi lokasi penembakan, dimana beberapa detik yang lalu terdengar sebuah tembakan yang ternyata langsung melesat memecahkan kaca lalu bersarang di dadanya.

Ada yang mengincar nyawa mereka…

.

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 4 : SORRY

.

.

"Gawat… Kita diserang…" kata Jiraiya lemas.

Sakura merasakan tubuhnya dingin dan kaku, jantungnya memompa lebih cepat akibat ketegangan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Agen rahasia Konoha yang masih hijau ini shock. Yuki masih sibuk menekan luka tembakan pada dada Jiraiya sementara Sai yang siaga kini mencoba menghubungi seseorang. Dengan senjata yang berada di tangan kanannya, dia menempelkan ponsel pada telinga kiri dan telah tersambung dengan seseorang.

"Halo? Shikamaru ini Sai, aku minta tolong kau melacak lokasi kami dari satelit," dia berbicara lantang, "Kami diserang ketika dalam perjalanan pulang. Agen Jiraiya tertembak."

Shikamaru terkejut dan untungnya malam itu dia masih berada di depan komputernya karena pekerjaan yang mengharuskan lembur. Dia langsung mengecek komputernya lalu mendapatkan sebuah titik di peta mengenai posisi agen Konoha di Suna.

"Dapat. Aku menemukan pemancarmu, lalu apa yang harus kulakukan?" tanyanya.

"Kami ditembak oleh penembak jitu kira-kira 500 meter dari posisi kami sekarang, tolong lacak tempat itu. Tapi ada yang lebih penting, aku ingin kau mencari jalur alternatif menuju hotel dan sambungkan dengan jaringan ponselku. Sekarang juga," nadanya seperti memberikan perintah.

Sakura dan seniornya menoleh karena terkejut pada sikap Sai yang baru saja diperlihatkannya. Sudah jelas Kakashi memilihnya masuk ke dalam tim karena suatu kelebihan, dan mungkin mereka sedang melihat salah satunya sekarang. Sakura berpikir ia harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan dan tidak boleh terus larut dalam rasa tegang. Shikamaru sudah mengirimkan jalan alternatif dan data tersebut tersambung dengan ponsel Sai yang belum menutup jalur komunikasi.

"Mengenai tempat penembakan, aku tidak tahu pasti letaknya tapi sepertinya dia berada di jarak yang tepat untuk menembak supir. Tolong kabari aku jika kau berhasil menemukan sesuatu, aku akan menghubungimu lagi." lalu dia menutup pembicaraannya dan baru menyadari ada empat mata yang memandangnya dengan heran.

.

"Apa yang kau lakukan, Sai?" Yuki keheranan karena anak buahnya bergerak tanpa perintahnya.

"Senior Yuki, maaf aku bertindak tanpa persetujuanmu… Tapi kurasa kita harus menempuh jalur alternatif, ada kemungkinan penembak tadi bekerjasama dan rekannya sudah menunggu di depan. Kita akan mati sia-sia," terangnya, "Kita harus berpencar."

Alis senior ini berkerut tidak mengerti, "Berpencar katamu?! Kau tidak lihat keadaan Jiraiya sekarang?"

"Membawanya ke rumah sakit akan menyulitkan karena kita terdaftar sebagai turis biasa, sementara sesuai dengan misi… Kita tidak boleh dicurigai, Senior Yuki. Menurut pendapatku kita harus berpencar dan menempuh jalur alternatif lalu-"

"LALU MEMBIARKAN JIRAIYA MATI?!" Yuki geram.

Suasana sedikit memanas.

"Dia… Benar, Yuki…" Jiraiya berusaha melerai dengan napas tak beraturan, "Aku akan pergi ke Rumah Sakit Suna… Mereka tahu pekerjaanku jadi luka ini akan ditangani secara tertutup, ugh. Sementara kalian… Keluarlah dari mobil ini."

Sakura mengintip luka Jiraiya dimana kain yang dipakai untuk menekan lukanya telah penuh dengan noda merah dan tampaknya Jiraiya sudah kehilangan banyak darah. Keributan hanya akan membawa mereka selangkah mendekati kematian. Sakura mengambil senjata juga koper perak yang didapatnya dari Konan lalu memandang Yuki, dia memberanikan diri untuk mengambil keputusan.

"Senior Yuki… Jika Anda khawatir pada Jiraiya, sebaiknya Anda temani dia. Kami akan mencoba saran Sai-"

"Sebaiknya Anda juga ikut, Senior Yuki." Sai memotongnya dengan nada dingin.

"Kenapa kau begitu yakin pada teorimu?!" Yuki lagi-lagi bertanya.

Mata hitam Sai menatap seniornya dalam-dalam, "Karena aku tahu… Aku tahu jalan pikiran seorang penembak jitu dan saat ini pasti gerombolan mereka sudah menunggu di suatu tempat. Lancang memang, tapi aku tidak sudi mati sia-sia di tempat ini…"

Jiraiya mengerem dan mobil biru tua itu berhenti di sebuah persimpangan jalan sepi tanpa satu pun kendaraan yang lewat. Dia memberi isyarat agar semuanya turun, Sakura dan Sai sudah menginjakkan kakinya di atas aspal sementara Yuki masih bersikeras tinggal. Dia tidak sanggup kehilangan partner lamanya mati begitu saja dengan luka tembakan. Jiraiya memaksanya untuk segera pergi.

"Pergi… Yuki," rintihnya, "Jangan buang-buang waktu."

Yuki akhirnya mengangguk, "Kau harus hidup, Jiraiya. Berjanjilah… Kau harus hidup."

"Ya, aku janji."

Jiraiya meringis sementara Yuki turun dan menutup pintu samping sambil membawa senjatanya. Mereka melihat mobil Jiraiya langsung pergi ke arah Rumah Sakit Suna dengan kecepatan mengerikan, Sai menatap ponselnya dan mulai berjalan sesuai arah peta yang diberikan Shikamaru. Ternyata Jiraiya menurunkan mereka tidak terlalu jauh dari hotel meski tentunya terasa jauh karena harus berjalan kaki. Ketika menyusuri jalan besar dengan pertigaan Yuki menepuk pundak pria itu dan mereka bertatapan satu sama lain dalam keheningan. Sakura mengira seniornya akan memulai keributan setelah turun dari mobil.

"Bukan hanya kau yang tidak sudi mati sia-sia disini, Sai…" Yuki bergumam di hadapan bawahannya itu, "Ikuti aku."

Dia bergerak sendiri dan memasuki sebuah gang kecil, Sai berhenti karena menurut peta di ponselnya itu bukan rute alternatif. Peta tersebut menunjukkan bahwa mereka harus melewati jalan besar, mengapa seniornya itu berjalan melawan arah? Bagaimana pun ia buta arah dan hanya berpegangan pada peta satelit, sedangkan Sakura memilih mengikuti seniornya. Mereka berjalan beberapa langkah ke depan dan mendapati Sai masih tidak bergerak. Yuki menoleh ketika mengetahui pria ini kebingungan dan tidak yakin pada pilihan seniornya.

"Sai, mungkin kau tidak yakin padaku… Tapi percayalah, ingatanku tentang Suna lebih bagus dari semua peta itu. Aku akan menunjukkan jalan alternatif yang paling cepat untuk pejalan kaki menuju hotel." wanita itu berkata yakin sambil menekan bingkai tengah kacamatanya dengan jari.

.

.


Jiraiya mengemudikan mobil layaknya berada di sirkuit, tidak ada satu pun rambu lalu lintas yang menghentikannya. Pandangannya perlahan-lahan terlihat berbayang sementara napasnya melemah. Tangan kirinya terlanjur kebas akibat menekan luka di dada, keringat mengucur deras dari sekujur tubuh. Dia berharap masih bisa bertahan sampai rumah sakit, tepatnya dia harus bertahan demi janjinya pada Yuki. Kira-kira 1 km jarak mobil biru tua itu menuju Rumah Sakit Suna, Jiraiya memasuki tikungan ke kiri dan ketika sampai di persimpangan dia menyadari ada dua buah mobil yang mengapitnya. Jiraiya menekan pedal gasnya dalam-dalam dan membiarkan mesin mobil tersebut menggerung keras untuk menaikkan kecepatan, ternyata dua buah mobil itu masih mengikutinya dari belakang.

Pertanda buruk, Jiraiya terus memacu mobilnya di jalanan sambil memperhatikan mereka dari spion tengah. Apa yang ia takutkan terjadi, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhasil mencuri kecepatan dan kini berada sejajar dengan mobil Jiraiya. Dengan sebuah gerakan ke kiri, mobil mereka bertabrakan satu sama lain. Jiraiya berusaha sekuat tenaga mengendalikan setirnya agar lepas dari himpitan mobil hitam yang masih menempel dan mendorongnya ke arah kiri jalan. Tiba-tiba dia merasakan sebuah hantaman keras dari belakang, kini kedua mobil asing tengah mengincar Jiraiya dan mobil birunya. Jiraiya menginjak rem keras-keras yang mengakibatkan mobilnya melancarkan hantaman balasan ke belakang, kemudian kakinya langsung berpindah pada pedal gas sambil memutar kemudinya ke arah kanan. Ia berhasil lepas dari himpitan keduanya.

Namun seketika itu juga pria berambut putih ini berteriak keras.

Jiraiya baru menyadari langkahnya salah, dia terlambat memutar setir dan mobil biru tua ini langsung menghantam pembatas jalan. Akibat kecepatan yang tinggi, hantaman itu membuat mobil itu kehilangan keseimbangan dan terjungkal. Dia merasakan benda-benda di sekitarnya berterbangan ke segala arah, dunianya berputar seiring mobil yang dikemudikannya terbalik. Kendaraan berwarna biru tua itu melayang di udara dan berakhir dengan atap mobil berada di bawah. Jiraiya mengerang karena merasakan tekanan yang luar biasa keras dari atap mobil yang kini bergesekkan dengan jalinan aspal, dia terkunci dalam keadaan tidak menguntungkan. Habis sudah perlawanannya.

Dia tidak dapat bergerak sedikit pun selain menggunakan matanya. Ia merasakan ada cairan yang mengalir di wajah, sudah tidak dapat dibedakan lagi yang mana keringat atau darah. Jiraiya mengerjapkan mata, dalam sepersekian detik dalam pikirannya terlintas bayangan Yuki juga masa-masa dimana mereka bekerja sebagai partner. Ingatan ketika dia berada di samping wanita itu, mulutnya yang dipenuhi darah kini mengenang kecapan arak favoritnya. Dalam detik-detik yang terasa lambat itulah Jiraiya sadar pada posisinya. Aku akan segera mati, pria ini menjerit dalam hati. Dia menunggu langkah berikut dari si penyerang dan masih bisa melihat sepasang kaki yang turun dari mobil hitam berjalan ke arahnya, dilihat dari sepatunya maka dia adalah seorang pria.

Pria asing ini dengan tenang mengitari sisi mobil dan berhenti tepat di pintu kemudi, dia membungkukkan badan agar pandangannya sejajar dengan Jiraiya. Rambut hitam panjang di sisi depan dan memendek di bagian belakang, mata hitam kelam menghiasi parasnya yang tampan. Pria ini tersenyum penuh kemenangan, senyuman yang membuat hati Jiraiya terasa dingin dan merasa ajalnya telah dekat. Sebuah pistol jenis Springfield dilengkapi silencer (berperedam suara) pada tangan kanan pria itu kini diarahkan melalui jendela pinggir yang pecah, siap menembus kepala Jiraiya. Pria malang yang sudah kehilangan banyak darah ini berdoa untuk napas terakhirnya. Kegelapan meliputi seisi matanya, dia hanya merasakan dingin.

Selesai sudah…

"Pak Tua, sampai disini peranmu di dunia ini…" pria itu menarik pelatuknya, "Kau harus mati."

.

Yuki…

Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu.

.

Selongsong peluru yang ditembakkan tanpa suara berhasil bersarang di kepala dan membungkam hidup Jiraiya untuk selamanya. Pria asing ini tersenyum mendapati targetnya kini berhenti bernapas, kemudian dia melemparkan sebuah benda kecil berwarna hitam dengan satu titik berwarna merah ke dalam mobil. Lalu dengan santai ia berdiri dan berjalan kembali ke arah mobil. Sebelum membuka pintu ia melirik ke arah mobil rekannya yang berada di belakang dan tidak ikut turun. Pria ini memberi tanda isyarat lalu mobil itu melaju lebih dulu meninggalkannya.

Dia hanya menatap kosong ketika mobil itu mendahuluinya, lalu sekali lagi pandangannya beralih ke mobil biru tua dengan satu jasad di dalamnya. Setelah puas tanpa berkata apa-apa ia masuk ke dalam mobil lalu melesat menuju arah berlawanan, meninggalkan lokasi kejadian penembakan tanpa saksi mata. Pria ini mengambil sebuah benda menyerupai remote alarm dan menekan tombolnya dengan berhiaskan seringai, dalam sepersekian detik terdengar suara ledakan yang sangat keras dari lokasi terakhir pemberhentiannya. Dia memacu mobilnya lebih cepat setelah mendengar suara tersebut.

"Pembersihan selesai…" gumamnya.

.

.


Yuki tersandung ketika kakinya melangkah menyusuri trotoar gang kecil beberapa ratus meter mendekati hotel, napasnya yang terengah-engah tidak membuat perasaannya tenang. Berjalan jauh membuat kakinya tegang dan panas seakan melepuh. Dia masih terdiam beberapa saat sampai Sakura menyadarkannya dari lamunan. Sepertinya ada sesuatu yang buruk, firasatnya berkata demikian. Sai masih berjalan di belakang kedua wanita itu dalam diam seakan tidak peduli melihat atasannya tengah mematung. Wanita itu terkejut saat bawahannya menepuk pundak dan menanyakan keadaannya.

"Senior Yuki, Anda baik-baik saja?" tanya Sakura.

"Barusan… Sepertinya ada yang memanggil namaku," Yuki berkata pelan, "Seperti suara Jiraiya."

Sakura tercekat, mau tidak mau pikirannya membayangkan sesuatu yang buruk.

"Anda jangan berpikiran jauh, Senior… Kurasa dia akan selamat." Sakura berusaha menyemangati ketuanya ini meski dirinya tidak yakin, "Dia sudah janji padamu, kan?"

Yuki mengangguk lalu menghela napasnya, dia tersenyum pada Sakura yang berusaha menenangkannya dari kepanikan. Sai berjalan melewati mereka berdua dan tampak sedang berbicara dengan seseorang. Ternyata Shikamaru menghubunginya kembali, pria itu menjelaskan mengapa mereka menempuh rute berbeda dari rute GPS yang ditunjukkan Shikamaru dari satelit. Karena keadaan di sekitar sangat sunyi, suara Shikamaru samar-samar dapat ditangkap oleh telinga Sakura.

"Aku melacak lokasi yang kau minta, sepertinya tempat yang paling cocok bagi si sniper untuk menembak adalah sebuah perkantoran agen nomor 589, atau… Motel bertingkat di dekat persimpangan bernama 'Vega Sun Motel'. Ya, kedua lokasi itu berdekatan." Shikamaru mengambil jeda sebelum mengatakan lanjutannya, "Ehm, ini soal keberadaan mobil biru kalian, aku juga mengeceknya lewat pemancar radio pada mobil. Tapi… Anehnya aku tidak berhasil menemukannya, sepertinya pilihanmu mengambil rute lain tepat."

Sai sedikit melirik ke arah seniornya ketika Shikamaru menyampaikan kabar buruk tersebut.

"Kau yakin itu negatif?" tanya pria itu merujuk pada keberadaan mobil.

"Aku berkali-kali melacaknya, Sai… Ini aneh." Shikamaru meyakinkannya sekali lagi, "Negatif."

Sai spontan mengangguk mendengar jawaban itu, "Roger that… Jika ada perubahan langsung hubungi aku, Shikamaru."

.

Dia tidak menyadari Sakura mendengar pembicaraannya bersama Shikamaru, wanita berambut pink ini diam-diam menoleh pada atasannya yang masih termenung dan tampaknya tidak menyadari isi pembicaraan Sai. Mereka bertiga terus berjalan kaki melewati jalan-jalan kecil yang ditunjukkan Yuki, setelah lelah berjalan kaki hampir selama satu setengah jam tanpa istirahat akhirnya mereka sampai di lobi hotel dengan pakaian yang basah kuyup oleh keringat. Dengan napas naik turun dan keringat yang membanjiri tubuh, mereka naik ke kamar hotel untuk mengadakan rapat darurat. Sai menghabiskan satu botol penuh air mineral dari lemari pendingin begitu sampai di kamar seniornya, mereka bertiga kehabisan tenaga namun sadar tidak punya cukup waktu untuk beristirahat.

.

.


Yuki membuka koper perak tersebut lalu menjajarkan kertas-kertas di atas meja kecil yang ada di kamarnya, sementara Sai juga Sakura berada di sisi kiri dan kanan Yuki. Wanita berkacamata ini juga membuka sebuah buku kecil dari tasnya dan mengeluarkan selembar kertas menyerupai peta. Sakura dan Sai hanya memperhatikan tanpa bertanya. Satu per satu foto yang didapatnya dari Konan dijajarkan di sebelah kiri, sementara peta berada tepat di tengah-tengah, dan dokumen lain disimpan pada sisi kanannya. Dia berdeham dan menarik napas dalam-dalam sebelum memulai.

"Baiklah, akan kuceritakan… Semua yang kuketahui," Yuki menutup kedua mata seakan meyakinkan diri sendiri, "Aku ingin kalian tahu semua medan yang akan ditempuh di Negara Suna ini. Semua foto yang diambil oleh informan berasal dari daerah red district seperti yang sudah kujelaskan. Tapi…"

"Tapi berasal dari lokasi yang berbeda-beda," Sai menyela.

Mata Yuki bertatapan dengan pria itu sebelum akhirnya mengangguk, "Benar. Kau menyadarinya?"

Sai hanya mengangkat kedua bahunya, "Anggap saja begitu."

.

"Foto para pria berjubah dan anak yang kita cari itu diambil di daerah sini," Yuki melingkari sebuah tempat di peta yang dibawanya dari tas, "Pasar. Barang-barang gelap, agen non-legal, muatan kargo selundupan, semuanya mayoritas berada disini. Lalu kalian lihat ini, foto terbaru dari yang kita dapatkan tadi."

Dia menunjuk sebuah foto dimana ada seorang pria berjubah hitam yang sempat tertangkap kamera di sebuah jendela gedung kumuh, foto tersebut sedikit kabur karena objeknya bergerak. Satu lagi foto tambahan adalah gambar yang diambil dari ketinggian gedung tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan anggota Akatsuki. Lebih tepatnya terlihat seperti foto gagal tanpa informasi apapun. Sakura memperhatikan dengan seksama foto tersebut tanpa memahami artinya.

"Foto pria di jendela ini diambil di tempat berbeda. Samar-samar namun sepertinya ini sebuah penginapan, yah kurasa begitu. Letaknya cukup jauh dari pasar tapi masih dalam kawasan yang sama, disini…" Yuki melingkari tempat kedua pada peta, dari pasar kawasan tersebut berada di arah timur.

"Foto ketiga?" Sakura bertanya.

Yuki menggeleng, "Aku tidak mengerti apa maksud Konan mengambil gambar ini, tapi sepertinya tempat ini dekat dengan penginapan tadi. Kau lihat tembok berwarna kekuningan yang ada di seberang kiri dan hampir tidak tertangkap kamera? Sepertinya itu penginapan dimana si jubah hitam terlihat."

Sai memperhatikan foto yang diambil dari atap bangunan berwarna merah bata tersebut, memang benar di seberangnya terdapat bangunan bercat kuning yang mirip dengan lokasi pada foto sebelumnya. Namun lebih jelas lagi, ia menangkap sebuah pantulan yang ditangkap oleh salah satu kaca berwarna hitam yang terdapat di seberang atap bangunan ini. Sebuah papan nama terpantul dan membuat matanya terbelalak.

"Aku tahu lokasi ini," gumamnya.

"Apa?!" Yuki tercengang mendengar perkataan Sai.

"Aku tahu lokasi di foto atap bangunan ini," Sai mengulangnya, "Sepertinya ini lokasi dimana mobil kita ditembak. Lihat pantulan papan nama kecil dari kaca bangunan seberangnya, nomor terbalik karena efek cermin ini nomor 589 kan? Agen Shikamaru telah melacak lokasi dan menemukan gedung ini adalah salah satu tempat yang cocok untuk menembak."

Yuki memperhatikan foto yang ditunjuk Sai lebih mendetail hingga akhirnya mengangguk, dia sendiri masih heran pada kemampuan Sai yang menyadari petunjuk tersebut dalam waktu singkat. Petunjuk kecil dari pantulan itu luput dari matanya.

"Aku rasa informan mengambil foto lokasi yang pernah didatangi Akatsuki, dan jika melihat detail yang wanita itu berikan pada kita… Jelas sekali kalau dia ikut campur tangan dengan organisasi itu. Hanya saja soal penembak jitu, kita belum menemukan petunjuk apapun." Sai melanjutkan teorinya.

"Kemampuanmu hebat," puji Yuki, "Tak heran agen muda sepertimu sudah mendapat promosi… Aku berharap banyak padamu, Sai."

Sai tersenyum simpul menanggapi seniornya, sepertinya dia bukan tipe orang yang senang berbasa-basi, atau mungkin pujian seperti tadi sudah ratusan kali didengarnya hingga terasa bosan. Sakura yang berada di sisi kanan Yuki memandang pria itu dari atas kepala hingga ujung kaki, dia bertanya-tanya misi seperti apa yang pernah diembannya selama ini? Umur mereka yang sepantar namun tingkah laku Sai berkali-kali membuatnya terkejut dan menganggap kemampuan dirinya berada jauh di bawah pria ini.

"Senior Yuki, tentang informan bernama Konan itu…" Sakura membuka mulutnya setelah lama terdiam, "Apa dia bisa dipercaya? Dan untuk apa dia memberikan foto ketiga ini?"

"Aku sendiri tidak percaya padanya, tapi Konoha terlalu bergantung pada wanita dingin itu." jawab Yuki, "Baiklah! Kita harus membahas langkah kita besok pagi untuk menyelidiki daerah red district!"

.

.


Suna – Vega Sun Motel

Suara desahan juga erangan di salah satu ruangan motel terdengar berkali-kali, tubuh pria itu mendekap erat pada sesosok wanita yang berada di bawahnya. Peluh membasahi tubuh keduanya, setiap hentakan yang dihujamkan miliknya di dalam wanita itu menghasilkan suara desahan baru dari bibir wanita berambut coklat yang tidak berdaya selain menikmatinya. Mendadak pintu kamar mereka diketuk berkali-kali, pria ini berdecak kesal karena ada seseorang yang berniat mengganggu acara keintiman mereka. Alih-alih berhenti, dia hanya mengabaikannya.

Selang beberapa detik lagi-lagi pintu diketuk.

"K-kau…. Nggh… Tidak membuka…nya? Akhh…." wanita itu berusaha berbicara saat frekuensi gerakan mereka bertambah cepat.

Belum sempat menjawab, tiba-tiba pintu tersebut dibuka secara paksa dan seorang pria masuk dengan lancang. Pandangannya dingin ketika melihat kedua sosok yang berada di atas tempat tidur tanpa busana menatapnya dengan wajah heran. Berakhir sudah, wanita berambut coklat itu dengan gugup melepaskan diri dari tubuh pria yang sedang menidurinya, menggapai pakaiannya secepat mungkin lalu berjalan ke kamar mandi. Sedangkan pria ini dengan malas bersandar pada tempat tidur lalu menutupi separuh tubuhnya dengan selimut, dia sedikit geram. Lelaki berambut hitam dan bermata kelam itu hanya menatap kosong tanpa perasaan bersalah.

"Dasar tidak sabaran dan tidak peka pada situasi. Setidaknya kau bisa menunggu sampai aku selesai dengan wanita tadi?" pria berambut putih ini mengambil kacamata bulat yang terletak di meja sisi ranjang, "Yah biarlah, aku bisa menikmati wanita-wanita lain."

"Aku sudah melakukan tugasku, Kabuto." Pria ini menyilangkan kedua tangannya, "Mobil van biru tua itu sudah kubersihkan."

"Berapa yang kau bunuh?" Kabuto bertanya.

"Hanya ada satu orang."

"Oh ya? Menurut pihak sniper total ada empat orang," Kabuto mengenakan kacamatanya dan melihat ke arah pria di hadapannya, "Kurasa ada tiga tikus yang berhasil melarikan diri, wah wah ini menarik. Sudah kuduga orang-orang yang mengincar anak itu dari tangan kita bukan orang sembarangan."

"Mereka tidak akan lolos terlalu lama, tapi urusanku malam ini sudah selesai." Pria ini berjalan mendekati tempat tidur dan menyodorkan tangan kanannya, "Aku minta bayaranku untuk pembersihan kali ini."

Sebuah seringai mewarnai wajah Kabuto, dia mengeluarkan sebuah amplop berisi tumpukan uang dari saku celana yang tergeletak di lantai kamar lalu menyerahkannya sambil tersenyum, "Tentu aku… Ah maksudku Akatsuki, organisasi tidak akan ingkar janji soal bayaranmu. Jumlah uang di amplop ini sesuai perjanjian kita… Sasuke."

.

.

.


Author's Note :

SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA!

Chapter keempat selesai… Chapter kali ini akhirnya membahas keberadaan SASUKE yang pastinya masih hidup, plus cerita ketiga agen yang berhasil lolos setelah pisah dari mobil Jiraiya. Dan Jiraiya yang sudah mati di Naruto, lagi-lagi harus mati di fic ini… Apa boleh buat :D

Bikin chapter ini tidak selancar tiga chapter pertama, beneran kerasa buntu dan chapter ini paling sering saya ganti ulang. Gimana pendapat kalian? Saya senang sekali pada semua pembaca yang sudah mengikuti cerita ini, review dan PM juga saya baca satu per satu lho, terima kasih banyak sekali lagi!

Maya Kimnana : thanks reviewnya, saya update ni.. mampir RnR lagi ya :)

akasuna no ei-chan : Konan masih misterius, statusnya double agent sekehendak hati sampai saat ini xD

Mizuira Kumiko : iya namanya agen baru jadi Sakura shock, Sasuke akhirnya diceritain masih hidup disini hehehe.

Saika Tsuruhime : iya SASUKE MASIH HIDUP! thank you reviewnya, mampir lagi yaa~

Sakusasu : saya update nggak pasti tiap 2 minggu sekali, seselesainya cerita aja jadi doakan nggak terlalu lama. Semangat waktu baca review kalian :)

Roquezen : iya bangun tidur tau-tau udah ada yang ketembak xD

Sunaokamei & Hito : halo juga trims buat reviewnya dan SAYA UPDATE nih!

Dan untuk chapter ini juga…

Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

-jitan88-