SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
Note :
- Genre : Adventure / Mystery / Romance
- AU : Alternate Universe, OOC, typo, Rating T
- Ditulis secara tak terduga jadi mungkin alurnya berantakan, mohon maaf~
- Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie.
- Tolong reviewnya (syukur kalo fave dan follow) yaa semua, makasih :)
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 5 : A DISASTER REUNION
.
.
Suna Market – Red District, Suna
Sakura memasuki salah satu lorong pasar yang dikenal sebagai pasar gelap di kawasan red district Suna, kedua rekannya berpencar mencari jalan lain sementara ia harus memeriksa sektor timur Suna Market. Menurut pengamatan Yuki, akan lebih aman memulai penyelidikan di pasar pada pagi hari karena kemungkinan mendapatkan informasi lebih besar dibanding berada di lokasi hotel atau perkantoran 589 yang situasinya lebih sepi. Sakura melangkahkan kakinya dengan hati-hati menyusuri jalan sempit yang membawanya pada blok-blok ruko dan persimpangan yang tak terhitung banyaknya. Tanpa diduga pasar itu telah penuh sesak oleh berbagai orang dengan bermacam-macam kebangsaan dan bahasa, mayoritas dari mereka adalah pria.
Pasar tersebut sebenarnya tersusun rapi dari hitungan blok yang teratur membentuk formasi kotak dan dipisahkan oleh akses jalan yang dibagi menjadi sebuah perempatan. Agen wanita ini mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak tersesat, matanya terus mencari pada sosok apapun yang memakai jubah hitam Akatsuki, atau setidaknya yang memiliki gerak-gerik mencurigakan. Tempat itu dipenuhi oleh asap-asap rokok dan suasana sekitarnya remang-remang, Sakura tidak dapat membedakan apakah barang yang mereka jual sepenuhnya legal atau bukan. Ketika dia sampai pada persimpangan jalan, dia menoleh ke arah kanan dan kirinya mencari petunjuk. Entah suatu keberuntungan atau bukan, ia melihat sekelebat bayangan dari arah kiri… Sesosok manusia yang berpakaian jubah serba hitam sedang berjalan cepat memunggunginya. Jantung Sakura Haruno berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, kepala orang itu tertutup oleh penutup kepala pada jubah. Membuatnya menjadi sosok mencurigakan di mata Sakura.
.
Jangan-jangan dia salah satu komplotan Akatsuki…
.
Berjalan membuntuti sosok itu dari belakang, Sakura masih mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur akibat rasa tegang. Dilihat dari tinggi badan tampak dia adalah seorang pria, dengan jubah hitamnya ia berbelok di sebuah tikungan dan menghilang dari pandangan Sakura. Pria ini kemudian menaiki satu per satu anak tangga kayu menuju lantai dua pasar, dan sepertinya belum mengetahui ada tamu tak diundang yang sedang membuntutinya. Sakura mempercepat langkahnya meski berhati-hati ketika menginjak anak tangga kayu yang mengeluarkan suara berderit. Di ujung tangga ia masih sibuk memperhatikan gerak-gerik pria berjubah yang beberapa meter berada di depannya hingga tidak menyadari ada orang lain yang berjalan dari tikungan dan menabraknya dengan keras.
"Aduh!" erang wanita ini akibat tabrakan tak terduga, selang beberapa detik kemudian sebuah tangan menutup mulutnya.
Ternyata dia Yuki.
"Pelankan suaramu," wanita ini berbisik sambil menutup bibir Sakura dengan tangan kanannya.
Sakura mendesah lega setelah merasa jantungnya hampir berhenti karena terkejut ketika seniornya ini menabraknya di tikungan. Dia melempar pandangan ke sekeliling, mendapati pria tersebut telah menghilang. Wanita berambut pink muda ini mencelos sambil bertanya-tanya ke arah mana pria tadi pergi, sekaligus berharap teriakan barusan tidak terdengar mencurigakan di pasar yang cukup bising ini. Pandangan Sakura kembali berpaling pada Yuki yang masih ada di sampingnya.
"Aku sedang membuntuti seorang pria berjubah hitam, tapi aku kehilangan jejaknya karena kita bertabrakan," gadis ini melapor, "Terakhir aku melihatnya, dia berjalan ke arah sana."
Yuki melihat jari telunjuk Sakura mengarah pada sebuah tikungan yang tidak jauh dari tangga, "Benarkah? Baik, kau terus lewati jalan ini sementara aku memutar dari blok sebelahnya. Kurasa Sai masih ada di lantai satu pasar… Apa kau masih memakai transmisi? Hubungi aku kalau kau menemukannya, Sakura."
Sakura mengangguk dan menunjukkan sebuah benda menyerupai earphone pada lubang telinga kirinya, lalu kembali menyembunyikan keberadaan benda mungil tersebut dengan gerai rambut. Mereka berpisah jalan, Sakura meneruskan langkahnya menyusuri tangga sementara Yuki berbalik ke tikungan untuk mengitari blok. Dia mengecek satu per satu kios yang dilaluinya, namun keberadaan si pria berjubah masih nihil. Beberapa meter di hadapannya tampak dua orang yang menggotong sebuah boks kayu tanpa menggunakan lori dan bermaksud memasuki sebuah kios kecil di sebelah kanan. Mereka menghalangi jalan para pengunjung lain akibat ukuran boks kayu yang besar. Lalu lintas pejalan kaki di lantai dua terganggu, akibatnya Sakura harus bersabar menunggu sampai mereka selesai membawa barang tersebut masuk ke salah satu kios.
Sakura terkesiap ketika menyadari ada sosok yang dicarinya berada di balik ruangan kios, si pria berjubah! Senyum tipis membayangi bibir agen wanita ini setelah menemukan target yang ia cari. Dia segera mengecek keadaan sekitar sebelum berhubungan dengan transmisi.
"Senior Yuki, disini Sakura. Aku menemukan target, blok F-16 sebelah timur, tiga blok dari tangga, over." Sakura melapor dari jarak aman sebelum melangkahkan kaki mendekati lokasi.
"Copy. Aku menuju kesana, over."
.
.
Pria berjubah itu membuka penutup kepalanya, memperlihatkan rambutnya yang berwarna putih dengan model rambut berantakan. Wajahnya ditutupi oleh bingkai kacamata bulat, senyumnya bagaikan ular. Dia sedang membicarakan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk boks kayu yang berada di sisi pintu, menutupi setengah pintu masuk. Ada pria lain yang membalas perkataannya, seorang pria berkulit gelap mengenakan baju tanpa lengan dan memperlihatkan otot-otot besar nan solid. Sakura mencoba berjalan selangkah lebih mendekat ke arah kios, berpura-pura mencari alamat namun pandangannya terus mengarah pada satu tempat. Boks kayu itu tertutup rapat, dan pria berjubah ini rupanya datang sendirian. Kini Sakura tinggal selangkah lagi menuju pintu masuk kios ketika ia berhasil mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Aku sudah bilang padamu hanya ini yang bisa kudapatkan!" pria berotot itu sedikit membentak.
"Kau tidak menepati janjimu sebelumnya… Aku kecewa. Kau tahu waktunya tinggal sebentar lagi dan jumlah ini jauh dari kesepakatan kita," si pria berambut putih berkata sambil memperbaiki letak kacamatanya, "Dan kau tahu KAMI tidak mentolerir kegagalan."
"Sisanya akan kuusahakan, kau tahu barang-barang ilegal sekarang sedang marak diperiksa polisi. Sudah sudah, sebaiknya cepat bawa kotak itu dari tempat ini sebelum ada petugas yang datang…" kemudian pria berotot ini mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang.
Sakura tidak dapat mendapatkan bukti-bukti lain, dia bermaksud segera menghindar dari tempat itu. Wanita ini menundukkan kepalanya dan berjalan menjauh, baru dua langkah tiba-tiba tubuhnya tertahan. Dia tidak menyadari pundaknya bersenggolan dengan seseorang dari arah sebaliknya. Sakura cepat-cepat membungkuk meminta maaf tanpa menatap orang itu, khawatir mereka adalah salah satu dari kawanan Akatsuki. Ia berbalik dan bermaksud berjalan secepat kilat.
"Sasuke! Panggil para kuli panggul itu untuk mengangkat boks ini ke mobil!"
Mendadak langkah Sakura terhenti, dia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
.
Sasuke?!
.
Ragu-ragu namun batinnya berteriak agar ia segera menoleh dan melihat pria bernama Sasuke, memastikan apakah dia Uchiha Sasuke yang hilang selama tiga tahun ini. Sakura Haruno perlahan-lahan menoleh, sampai matanya benar-benar siaga menangkap bayangan pria di belakangnya. Sosok pria yang menggunakan kemeja putih dibalut setelan jas berwarna hitam, dengan sepatu dan celana warna senada. Memiliki rambut hitam di bagian depan yang panjang dan bermodel lebih pendek dan mencuat di belakang. Kulitnya berwarna putih mewarnai parasnya yang tampan, wajah yang membuat jantung Sakura terpompa. Gurat-gurat di wajahnya belum berubah hanya tampak lebih dewasa, tubuhnya lebih tinggi dari yang terakhir diingat Sakura. Hanya saja pria ini tampak lebih… Berbahaya.
Pria yang selama ini dinyatakan gugur oleh Konoha…
Yang selama ini ia cintai.
.
Dia Uchiha Sasuke.
.
"Sa…suke…" bisiknya lirih dengan suara tercekat, dia mengepalkan tinjunya untuk menahan diri berlari ke arah Sasuke lalu memeluknya. Bertanya mengapa ia lari dari Konoha, mengapa ia tidak pernah muncul selama tiga tahun. Sasuke sama sekali tidak melihat tatapan teman masa kecilnya itu, dia masuk ke ruangan bersama beberapa pria seperti kurir angkut. Sakura membalikkan lagi badannya dan menyusuri blok seberang untuk mencapai tangga lebih dulu dari kawanan Sasuke. Belum lama ia memutar, dari ujung jalan tampak beberapa petugas berlari mengenakan seragam dan senjata api. Keadaan menjadi riuh, para pedagang dan penjual seketika itu panik.
"POLISI DATANG!" teriak salah seorang dari mereka.
Teriakan itu menimbulkan reaksi riuh seperti gempa bumi yang datang. Sakura kebingungan memilih arah, kini tangga sudah dipenuhi oleh para pengunjung yang lari terbirit-birit, wanita ini heran mengapa kedatangan polisi langsung membuat keadaan menjadi ricuh. Tubuhnya terdorong-dorong oleh desakkan pria-pria yang menuruni tangga. Sebuah pesan yang masuk dari transmisi membuatnya mengerti.
"Sakura, Sai… Ini Yuki. Polisi datang untuk melakukan penyisiran massal, selamatkan diri kalian karena biasanya terjadi baku tembak! Temui aku di gerbang utama seperti pertama kali kita tiba," suara dari transmisi itu sedikit terganggu oleh keributan di sekitar, "Sakura, jangan dekati tangga tempatmu naik. Putar arah, cari tangga darurat di belakang blok dua puluh ke arah barat. Over."
Sakura mengangguk dan mulai memperhatikan blok yang di hadapannya, "Copy. Aku segera kesana."
.
.
Sakura Haruno berlari melewati beberapa blok sampai menemukan petunjuk arah mengenai tanda darurat. Tangga tersebut juga penuh sesak oleh pedagang kios sekitar yang telah menutup paksa tokonya kemudian melarikan diri. Beberapa dari mereka juga membawa satu atau dua buah tas yang berisi penuh dengan barang, kemungkinan barang-barang berharga atau barang ilegal yang sempat mereka selamatkan untuk dibawa serta. Kira-kira 100 meter di depannya ia melihat siluet Sasuke Uchiha, ia juga memilih rute yang sama bersama dengan si pria berambut putih. Boks kontainer besar yang seharusnya mereka bawa tidak terlihat dimana pun. Jantung Sakura berdetak kencang, apa ia harus mengikuti mereka yang terlihat jelas di depan mata?
Suasana di sekitar berubah menjadi panas dan pengap, pintu darurat yang kecil menghambat arus keluar dari tangga karena keadaan di lantai dasar yang tidak kalah berdesakkan. Singkat kata, chaos. Selama lima belas menit lamanya Sakura terjebak di tangga darurat hingga akhirnya dapat bernapas lega setelah sampai di bawah, ia mulai mencari-cari letak keberadaan kawanan Sasuke. Tidak digubrisnya transmisi yang masuk dari Sai yang menanyakan keberadaan kedua anggota timnya. Dia melihat si pria berambut putih dan berkacamata berada di depan bersama salah seorang lagi jubah hitam yang tidak dilihat Sakura di lantai dua. Sakura berniat mengikuti pria itu sebelum adanya transmisi masuk.
"Sakura, ini Yuki. Aku di belakangmu, ah… Hei! Awas, ada seseorang yang mendekat ke arah-"
Belum sempat Yuki menyelesaikan ucapannya, Sakura ditarik secara paksa oleh kekuatan yang sangat kuat. Tangan orang tersebut membungkam mulutnya agar tidak berteriak, alat transmisi terjatuh dari lubang telinganya sementara tubuh gadis itu diseret menuju sebuah sudut ruangan gelap dekat pintu keluar. Sakura tidak dapat bertindak spontan, semuanya berlangsung secara tiba-tiba. Dengan sebuah hentakan keras tangannya mendorong tubuh Sakura memasuki ruangan lalu membanting pintu. Sakura kehilangan keseimbangan, ia terjatuh menimpa tumpukan dus yang berdebu. Ruangan itu begitu kotor dan lembab, debu-debu beterbangan di sekitar penglihatan Sakura.
.
.
Wanita ini meringis kesakitan tanpa melihat sosok penyerangnya yang terhalang oleh penerangan yang buruk. Butuh beberapa detik hingga matanya dengan jelas menangkap siluet pria itu, yang kali ini telah mengarahkan laras senjatanya ke depan wajah Sakura. Dingin, kasar, juga berbahaya.
Dia bukan pria yang dikenalnya tiga tahun yang lalu.
"Tindak-tandukmu membuntuti kami terlalu terlihat tolol bagiku, baka…" suaranya terdengar begitu datar, "Apa yang kau incar?"
Sasuke Uchiha berada di hadapannya secara nyata, reuni mereka setelah tiga tahun berpisah. Dia hidup. Pertemuan yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Sakura, tepatnya ini reuni yang kacau balau. Tidak ada obrolan basa-basi seperti yang umum dilakukan, mereka harus bercakap-cakap di ruangan lembab tidak layak dengan sebuah todongan senjata di satu sisi. Sebahagia apapun perasaannya saat ini ketika mendapati Sasuke hidup, hatinya terasa tertusuk. Sakura Haruno balas memandang dengan mengerahkan segenap keberaniannya.
"Sasuke… Kau HIDUP." gumamnya singkat.
Seringai dingin tergambar dari sudut bibir pria itu, "Che. Apa kau tuli? Apa yang sedang kau incar?"
"Aku mencarimu, Sasuke."
Sekilas Sakura melihat raut kaget dari Sasuke, hanya selintas sebelum akhirnya ia kembali siaga. Pistol yang sempat turun beberapa mili dari wajah gadis itu kini kembali terarah. Sakura tidak habis pikir pada ekspresi pria itu, apa yang terjadi pada Uchiha Sasuke? Apa dia hilang ingatan lalu tidak mengenalinya? Atau dia sudah benar-benar berubah menjadi sesosok yang jauh berbeda dengan yang dulu dikenalnya? Berbagai pikiran yang berteriak di kepala Sakura tidak tersampaikan lewat kata-kata, keduanya tetap berada dalam keheningan di ruangan tersebut.
"Jelas kau mengincar hal lain, kau menyelidiki kami." Sasuke memincingkan matanya, "Baiklah! Beri aku satu alasan mengapa aku tidak perlu menembak dan meninggalkanmu disini seperti sampah?"
Sakura terdiam, setiap anggota tubuhnya gemetar ketakutan. Lelaki di hadapannya meringis seakan-akan menikmati lawannya yang sedang meringkuk tak berdaya dan dikuasai rasa takut pada kematian. Dia menunggu jawaban dari gadis itu dengan tenang, menguasai gerak-gerik Sakura dengan tatapan dingin. Pistol jenis Springfieldnya tidak pernah terlepas dari bidikan.
.
Sasuke Uchiha ini bukan lagi yang dikenalnya.
Tapi Sakura masih terus berusaha mengelak dari kenyataan itu.
.
"Karena kau… Sasuke Uchiha." Sebuah jawaban terbata-bata dari Sakura, "Kalau kau memang Sasuke yang kukenal… Kau tidak akan menembakku."
Sasuke menurunkan pistolnya setelah mendengar jawaban itu, gerakannya berubah menjadi kikuk. Sakura mengambil kesempatan untuk berdiri, mensejajarkan pendangannya. Gerakan Sakura kontan membuat Sasuke kembali siaga dan mengarahkan senjata. Belum sempat membalas perkataan gadis ini, Sasuke menunjuk alat transmisi yang masih terkulai di bahu Sakura.
"Temanmu ada di depan pintu, suruh dia pergi sejauh batas jangkauan peluru dan tidak menyerangku. Atau kau yang akan kubunuh." kata Sasuke.
Sakura Haruno cepat-cepat memasang alat menyerupai earphone itu pada telinganya, "Ini Sakura. Aku aman di dalam, dia memintaku agar kalian menjauhi ruangan hingga batas tembak. Over."
"Sakura! Aku tidak bisa lakukan itu!" Yuki membalas, Sakura hanya menatap Sasuke yang masih diam.
Sasuke berdecak kesal.
"Dia menolak? Lakukan atau aku akan memanggil yang lain, kalian akan kuhabisi satu per satu disini…" dia berbicara lagi tanpa ragu, "Aku serius."
"Se… Senior Yuki, sebaiknya Anda menuruti atau kita dibunuh. Kalau kau menjauh, aku akan dilepaskan… Over." Sakura tidak yakin pada negosiasinya pada musuh namun dia tidak punya pilihan lain.
.
Butuh beberapa menit sambil menunggu respon dari Yuki, keduanya tetap dalam keadaan kaku. Sakura memperhatikan setiap detil yang dapat dilihatnya dari kegelapan mengenai sosok Sasuke Uchiha yang berubah menjadi pembunuh berdarah dingin Akatsuki. Mengapa ia mengkhianati negaranya sendiri, Konoha? Apa pria ini tidak ingat lagi pada sahabat-sahabat yang dulu dimilikinya, bahkan janji masa kecilnya untuk menjadi pelindung Konoha. Sementara Sakura memperhatikan, Sasuke mengangkat telepon dengan tangan kiri selagi tangan kanannya tetap siaga pada pelatuk. Sepertinya ia sudah ditunggu, mungkin oleh si pria berkacamata bulat yang dilihat Sakura.
"Aku sudah di luar, Sakura. Over." suara Yuki mengagetkan kesadaran wanita itu.
Sakura mengangguk, memberikan isyarat pada Sasuke bahwa rekannya sudah menjauh. Pria ini lagi-lagi meringis dan perlahan-lahan berjalan mundur mendekati pintu. Sebelum benar-benar membuka kenop pintu lalu pergi, ia menoleh pada wanita itu. Menatapnya.
"Jangan pernah bertemu lagi atau mencariku." ucapnya tanpa ragu, "Enyahlah kau, Sakura Haruno…"
Lalu Sasuke keluar dari pintu dan pergi begitu saja. Meninggalkan Sakura dalam kehampaan dan guncangan jiwa saat mendengar kalimat terakhir pria berdarah Uchiha itu. Jantungnya serasa mencelos, lututnya lemas. Kalimat terakhir yang diucapkan Sasuke terngiang-ngiang di otaknya seperti kutukan. Dia menyebut namanya, dia tidak mengalami hilang ingatan atau hal-hal medis lain yang berkaitan dengan daya ingat. Kenyataan pahit yang harus ditelannya di Negara Suna tak pelak menghasilkan genangan air mata di sudut mata wanita berambut soft pink itu. Apa kenyataan ini adil dengan penantiannya selama tiga tahun?
Sasuke Uchiha tetap mengenali Sakura Haruno dari Konoha.
Hanya saja ia… Telah berubah.
.
.
Dia bukan lagi Sasuke yang dikenalnya…
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter kelima selesai… Chapter kali ini akhirnya saya selesaikan dalam waktu yang lebih cepat dari chapter empat, mohon maaf bagi yang mengikuti cerita ini dan merasa alurnya agak lambat. Terima kasih untuk sarannya. Biar begitu saya senang sekali pada para pembaca yang sudah mengikuti cerita ini, review dan PM juga saya baca satu per satu lho, terima kasih banyak sekali lagi untuk dukungannya!
Akasuna no ei-chan : Sasuke tidak dibuat amnesia, dia tetap kenal Sakura dan tetap seorang Akatsuki.
Saika Tsuruhime : Konan… Sampai saat ini dia masih double agent, tujuannya belum diketahui sih (dan belum direncanakan juga sama authornya, hahaha).
Nii-chan : saya update nih, mampir lagi ya ^^
Pratiwirahim : terima kasih buat reviewnya lho, Sasuke sekarang gabung di Akatsuki. Alasannya masih jadi misteri, semoga tetap ikutin cerita ini yaa, saya tunggu reviewnya lagi :)
Alisha Blooms : Halo juga Alisha-chan, salam kenal dan thank you banget udah sempetin review di cerita saya. *hepi*. Komen lagi ya buat chapter ini!
Roquezen : karena itu update dua cerita jadi pusing sist, huahaha saya usahakan dua-duanya tetep jalan kok. Thanks!
Hito : thank you reviewnya dan saya update lagi sekarang.
U.C : Halo juga dan salam kenal, mengenai Sasuke dia nggak hilang ingatan / amnesia.
Selenne jean : halo, terima kasih buat sarannya. Hehehe maaf ya kalau updatenya lama dan alurnya kerasa lambat. Di chapter awal saya pikir plotnya harus seperti itu, tapi saya usahakan updatenya yang lebih cepat yaa, mohon dukungannya lagi :D
.
Dan untuk chapter ini juga…
Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
