Jangan pernah bertemu lagi atau mencariku.

Enyahlah kau, Sakura Haruno…

-oOo-

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 6 : POWER & CONTROL

.

.

Enyahlah kau…

Hanya kalimat itu yang terus terngiang di telinga Sakura dalam ruangan gelap dan kotor, dimana sekitar beberapa menit yang lalu pria itu masih ada bersamanya, masih mengenali dan menyebut namanya meski dengan sebuah kenyataan pahit yang terbentang di depan mata. Berhadapan bukan sebagai teman, pria itu mengarahkan laras pistolnya pada Sakura. Haruskah ia bersyukur pada takdir? Apa yang ia tunggu-tunggu selama tiga tahun, doanya setiap malam untuk keselamatan pria berdarah Uchiha itu memang terkabul. Dia mendapati Sasuke Uchiha hidup.

Hanya saja tidak berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.

.

Suara tembakan dari dalam pasar mengejutkan Sakura Haruno yang masih termenung di ruangan tempat ia bereuni dengan Sasuke Uchiha. Lamunannya buyar, Sakura segera menuju pintu dan keluar mencari anggota timnya yang lain. Dalam komunikasi antar transmisi, ternyata Sai dan Yuki berada di tempat yang berbeda, Sai kebingungan mencari lokasi pertemuan di tengah kerumunan. Yuki menginstruksikan Sakura untuk keluar dari pintu terdekat sebelum ia diseret paksa oleh anggota Akatsuki tadi. Lalu lalang pengunjung membuat Sakura sulit melihat jalan keluar sementara Yuki masih sibuk memberikan petunjuk arah pada Sai. Wanita berambut soft pink itu dengan susah payah berjalan menembus kerumunan manusia yang padat, berdesakkan satu sama lain.

Muncul sebuah pekikan ngeri dari seorang wanita setelah salah satu pria terjungkal dari lantai dua akibat perlawanan dengan polisi. Entah apa yang terjadi dan apa hubungannya dengan para polisi itu, kerumunan bertambah padat akibat rasa penasaran dan kini orang-orang telah mengerumuni lokasi tempat pria asing itu terjatuh. Merasa keadaan bertambah runyam, Sakura menundukkan badannya serendah mungkin untuk menyusup keluar dari lautan orang. Dengan peluh membasahi kulit dari suasana pengap di sekitarnya, tubuh wanita ini sebentar lagi berhasil mencapai pintu keluar sebelum instruksi lain yang mengejutkannya.

"Sakura, Sai… Lari, jangan kesini!" Yuki berteriak.

Suara erangan seniornya itu membuat bulu kuduk Sakura berdiri.

Apa yang terjadi di luar?

"Se-senior Yuki! Ada apa, apa yang terjadi?!" Sakura balas memekik.

Tidak ada jawaban.

.

Jemari Sakura Haruno berhasil menyentuh daun pintu dari pintu darurat tempat ia sebelumnya turun, dimana jalan keluar pasar tidak jauh dari sana. Dia berlari ke arah pintu keluar yang berjarak beberapa meter di depan untuk mencari tahu keadaan seniornya itu, tidak menghiraukan instruksi untuk menghindar. Langkah-langkahnya terhenti oleh suara lain yang datang dari transmisi, kali ini bukan suara seniornya maupun Sai. Sakura yang telah sampai di pintu keluar terpaksa berlindung dan menyembunyikan tubuhnya di balik dinding.

"Aku lihat kalian bermain-main dengan kami, wahai tikus pengganggu…" gumamnya dengan suara sinis yang membuat Sakura merinding, siapa ini?

Ada apa dengan Yuki?

"Kalian akan kubunuh, camkan itu." katanya lagi, "Satu per satu… MATI."

Lalu terdengar suara menyerupai benda yang terinjak, tidak terdengar apa-apa lagi dari transmisi agen senior Konoha itu. Sepertinya orang tadi menginjak alat transmisi sampai rusak, Sakura yang berada tepat di depan pintu keluar segera berlari dengan senjata siaga di balik jaketnya. Dari kejauhan ia mendengar pekikan masyarakat awam yang berkerumun di satu sisi sementara tampak beberapa baris di belakangnya satu sosok berpakaian hitam yang memunggungi kerumunan dan berusaha menjauh dari lokasi. Sakura Haruno berlari sekuat tenaga, dia mengesampingkan niat untuk mengejar sosok asing itu, saat ini kondisi seniornya lebih penting. Wanita ini mendorong semua orang yang menghalangi langkahnya, dalam sekejap ia berhasil masuk ke deretan terdepan kerumunan.

Di hadapannya Yuki terkapar dengan genangan darah membasahi tanah sekelilingnya, Sakura memekik dan bersimpuh di sebelah tubuh seniornya itu. Keadaan Yuki bisa dikatakan sekarat, dia harus bersusah payah mengambil napas agar oksigen masuk ke dalam paru-parunya. Di bagian dada kirinya keluar darah segar yang tidak berhenti mengalir, matanya hanya menatap kosong tak berdaya. Tanpa disadari air mata Sakura mengalir ketika menekan luka tembakan itu tidak membuat perubahan apa-apa pada kondisi rekan timnya, pipinya basah oleh tangisan. Wanita itu memandang orang-orang sekitar yang menonton tanpa melakukan apa-apa, ia muak dengan keadaan itu.

"PANGGIL BANTUAN, KENAPA KALIAN HANYA DIAM?!" amarahnya memuncak, ia berteriak pada penduduk Suna yang hanya asyik menonton.

Sebenarnya Sakura tahu bantuan apa pun hanya akan berakhir sia-sia jika melihat kondisi Yuki.

Bukannya memanggil bantuan, kerumunan orang itu berangsur-angsur pergi dengan gumaman kecil tanpa terlihat satu pun yang tertarik untuk menolong. Keadaan menjadi sepi dalam sekejap, para masyarakat kembali lalu lalang tanpa menganggap ada dua orang turis disana. Sakura putus asa melihat seniornya meregang nyawa, kulitnya merasakan sebuah sentuhan lemah. Dengan tenaga terakhir, Yuki memegang pergelangan tangan Sakura Haruno. Mengeluarkan segenap tenaga untuk bicara.

.

"La…ri," rintihnya.

Yuki seolah-olah ingin memperlihatkan lengan kanannya. Isak tangis Sakura berhenti setelah ia melihat benda asing yang dikenakan seniornya, di tangan kanan Yuki terpasang sebuah benda aneh menyerupai arloji berwarna hitam yang sepertinya dipasang secara paksa dan tidak bisa dilepas. Sakura melihatnya dengan seksama, sebuah benda seperti jam tangan digital dengan empat digit angka, bukan sebagai penunjuk waktu. Waktu yang tertera berjalan mundur per detik.

Sakura terkesiap, tak salah lagi… Itu sebuah bom?! Waktunya hanya tersisa kira-kira satu menit. Dia harus segera pergi meninggalkan pemimpinnya, Sakura menatap wajah seniornya dengan pilu dan melihat anggukan kecil dari kepala Yuki. Dia ingin Sakura menyelamatkan diri, membiarkan dirinya musnah diledakkan benda itu. Tangan Yuki telah terkulai di lantai, wanita berkacamata itu tersenyum kecil untuk menyemangati rekannya. Senyuman terakhir kali dalam hidupnya.

Menyambut kematian dengan senyuman.

.

"Maaf, maaf…" hanya kata itu yang bisa diucapkan Sakura ketika mencoba berdiri.

Tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, tubuh Sakura diseret dan diharuskan berlari menjauhi Yuki. Pergelangan tangannya terasa sakit ketika wanita itu mengenali orang yang menariknya dengan paksa, dia Sai. Pria berambut hitam itu terus mengajaknya berlari menjauhi lokasi bom waktu dan menghindari tempat-tempat yang mudah terbakar seperti lokasi parkir. Air mata Sakura Haruno terus mengalir sementara kakinya terus berlari mengikuti kemana pun Sai menariknya, menjauhi lokasi pasar. Tepat satu menit setelah mereka menjauh, terdengar sebuah dentuman kecil dari arah belakang. Keadaan kembali menjadi kacau meski bom tersebut berskala kecil dan tidak menimbulkan banyak korban, kecuali tubuh si korban yang habis tak tersisa atau kerusakan kecil di sekitarnya.

Langkah mereka menyelidiki Akatsuki telah diketahui, semuanya sekarang menjadi berbahaya. Dia memikirkan nasib Jiraiya dan Yuki yang harus gugur dalam misi, sesuai dengan perkataan pembunuh seniornya… Mereka akan diburu satu per satu sampai semuanya mati. Sakura mengibaskan tangannya dari cengkeraman Sai, dia tidak yakin harus bagaimana… Atau setidaknya harus berlari kemana. Dengan napas yang sama-sama memburu, keduanya bertatapan satu sama lain. Sai sedikit kebingungan pada sifat satu-satunya anggota tim yang tersisa ini, di tengah situasi genting... Seharusnya mereka lari, bukan berdiam diri. Apa yang wanita ini pikirkan?

"Senior Yuki… Dibunuh, dia dibunuh Sai. Aku… Aku melihatnya," Sakura berusaha berbicara sambil mengatur napas yang terengah-engah juga setengah terisak.

"Aku tahu." Sai hanya mengangguk, "Siapa yang tadi menangkapmu di pasar, Sakura?"

"Sa-sasuke…" dia terbata-bata ketika menyebut nama itu.

.

"Kita bicarakan nanti, kita harus pergi." Sai tidak bertanya lebih jauh pada rekannya yang masih terlihat terpukul. Tangan Sai berusaha meraih pergelangan tangan gadis itu lagi, namun Sakura tetap menolak.

"Bagaimana dengan jasad senior?" isaknya.

"Dia sudah mati," kedua tangan Sai berada di pundak Sakura, mengguncangnya agar sadar, "Kau tahu dia sudah menjadi abu, tidak ada yang bisa kita lakukan. Dengarkan aku Sakura, kita harus segera pergi sebelum keberadaan kita diketahu Akatsuki atau polisi. Kita harus pergi SEKARANG JUGA."

Sakura yang terguncang tidak menjawab apa pun, pria di hadapannya berdecak kesal.

"Che. Kau memaksaku untuk berbuat sedikit kasar, Sakura…"

Dan beberapa saat kemudian Sakura kehilangan kesadarannya.

.

.


20 November – Konoha

Kakashi Hatake mengepalkan tangan, dengan tinjunya ia menghantam meja kerja di ruangan pribadinya. Laporan dari lapangan mengenai perkembangan misi Suna benar-benar membuat rencananya hancur berantakan, di hadapannya Shikamaru hanya berdiri dengan kikuk. Beberapa menit yang lalu Sai menghubungi atasannya, ia memberi kabar bahwa satu-satunya orang yang mengenal medan Suna terbunuh mengenaskan dengan bom waktu yang menghancurkan jasad agen senior Konoha itu tanpa sisa. Hal ini juga berarti kelompok itu telah kehilangan pemimpinnya. Kini Sai masih berada di hotel bersama Sakura Haruno yang belum sadarkan diri, Sai juga meminta persetujuan untuk segera check out dari hotel karena ditakutkan kawanan Akatsuki berhasil menemukan tempat mereka bersembunyi.

Sebelumnya Kakashi juga mendapatkan kabar dari Shikamaru tentang penembakan di mobil yang menyerang Jiraiya. Terlebih setelah mobilnya dinyatakan mengalami kecelakaan dan meledak dengan satu korban di dalam, yang tak lain adalah Agen Jiraiya. Satu per satu anggota timnya di Suna dibunuh secara mengenaskan oleh kelompok Akatsuki tak pelak membuat supervisor Konoha ini muak. Sakura masih hijau di lapangan sedangkan sehebat apapun Sai dengan prestasinya selama ini, dia tidak mungkin bisa menyelesaikan semuanya sendirian.

"Aku butuh pendapatmu tentang misi Suna, Shikamaru…" akhirnya Kakashi berbicara sambil mempersilakan agen itu duduk.

"Menurut saya keadaan mereka berdua tidak aman, sebaiknya Anda mengabulkan permintaan Sai untuk check out dari hotel besok pagi. Tinggal di tempat yang sama dalam beberapa hari akan membuat mereka mudah dilacak. Selain itu Akatsuki memiliki peralatan peledak yang cukup canggih, dilihat dari cara mereka melenyapkan jejak agen Jiraiya dan Yuki di lokasi kejadian. Maaf kalau ide saya ini sedikit melenceng dari tim kita…" Shikamaru menghela napas, "Sepertinya kita harus mengirimkan bantuan untuk menyelesaikan misi Suna. Jika Anda tidak keberatan, saya bisa pergi untuk menolong mereka."

Kakashi langsung menggeleng, "Tidak, aku sudah menunjukmu sebagai asisten selama aku tidak ada di tempat. Kau memiliki keahlian informasi dan pengambilan keputusan lebih dari kandidat lain yang bisa kupilih, Shikamaru. Keberadaanmu di Konoha dalam misi ini sudah mutlak."

Shikamaru mengangguk, ia menunduk hormat sebagai rasa terima kasih atas kepercayaan Kakashi memilihnya. Tapi meskipun demikian, dia tidak tega melihat Sakura dalam keadaan genting seperti saat ini. Sakura Haruno adalah sahabat terbaik yang dimiliki Yamanaka Ino, calon istrinya. Dia tidak ingin persiapan pernikahan mereka diwarnai duka akibat sahabatnya itu menjadi salah satu korban dalam misi di Suna. Shikamaru berdiri dari tempat ia duduk dan bersiap-siap kembali ke meja kerja sebelum Kakashi memanggilnya lagi.

"Aku akan mengadakan rapat darurat dengan petinggi Konoha. Tolong kau cari semua agen yang pernah menjalankan misi di Suna, kirimkan datanya padaku untuk diseleksi. Juga tangani semua urusan mengenai jasad Yuki apabila masih ada yang… Tersisa." Kakashi Hatake masih menatap pria yang sedang berdiri itu.

"Baik, Pak." Shikamaru menghomat dan pamit.

"Oh ya…"

Perkataan atasannya yang terpotong itu membuat Shikamaru menoleh, ia mengurungkan niatnya untuk pergi. Shikamaru menunggu Kakashi melanjutkan kalimatnya.

"Ada satu informasi lagi mengenai perkembangan misi di Suna… Sasuke Uchiha masih hidup, Sai telah mengkonfirmasi hal itu dari Sakura." sambung Kakashi.

Shikamaru tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, dia melongo. Pria itu tidak gugur di Konoha tiga tahun yang lalu?! Dia merupakan salah satu penduduk yang percaya bahwa Sasuke gugur ketika melawan komplotan penjahat di tebing Konoha. Lalu pikirannya langsung tertuju pada Sakura, gadis yang masih mencintai Sasuke dan saat ini harus berhadapan dengannya sebagai lawan. Ini mimpi buruk.

"Satu lagi tugas untukmu, Shikamaru…" Kakashi melipat kedua tangannya, "Panggil Naruto ke ruanganku sekarang juga."

.

.

.


"Sasukeee!"

Sakura berlari di pelataran akademi Konoha ketika jam pelajaran telah berakhir. Di depannya pria bermata onyx itu menoleh, rambut raven-nya tertiup angin sepoi-sepoi. Hari itu cerah, matahari tidak terlalu terik dan cuaca sedikit berangin. Berada dalam jarak sekitar enam langkah, gadis berambut soft pink itu masih berusaha mengatur napasnya akibat berlari mengejar Sasuke, sedangkan pria ini hanya diam tanpa mengatakan apa pun.

"Kau… Belum pulang?" Sakura bertanya dengan napas memburu.

"Hn." Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan kembali diam.

Dua konsonan yang merupakan jawaban khasnya.

"Oh begitu… Baiklah, kupikir aku akan pulang duluan. Aku pamit-"

"Sakura…" ucapannya memotong perkataan gadis itu, "Tunggu sebentar."

Sakura terdiam sementara Sasuke berlari ke arah bangku di sebelah pelataran untuk mengambil tasnya lalu kembali secepat kilat, dalam beberapa hitungan dia sudah berada di samping Sakura. Gadis ini memandang dengan heran pada tingkah pemuda berbaju biru itu. Sasuke hanya membalas tatapannya sekilas, dia tampak kehabisan kata-kata.

"Aku akan menemanimu pulang," katanya singkat sambil berjalan ke arah pintu keluar.

.

Tanggal 28 Maret merupakan hari yang serba aneh bagi Sakura tentang pria yang berjalan di sebelahnya itu. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam, kenapa tiba-tiba Sasuke mau menemaninya pulang? Memang arah rumah Sakura dan panti tempat Sasuke tinggal searah, tapi biasanya Sasuke pulang larut untuk pergi bekerja paruh waktu. Kondisi yatim piatu membuat Sasuke Uchiha bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, ia tidak ingin terlalu bergantung pada fasilitas yang diberikan pemerintah Konoha pada anak-anak seperti Sasuke.

"Kau tidak kerja seperti biasanya, Sasuke?" Sakura akhirnya memecah keheningan.

"Hn… Tidak, aku libur hari ini."

"Kenapa?"

Sasuke tidak menjawab pertanyaannya, "Apa kau mau makan sesuatu, Sakura?"

Giliran Sakura Haruno yang melongo, sikap pria ini jelas-jelas aneh.

"Kutraktir…" Sasuke menambahkan ketika respon wanita itu hanya diam keheranan.

.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang karena Sakura tidak merasa lapar, sebaliknya tangan mereka masing-masing memegang sebuah gelas minuman dari plastik. Keduanya memutuskan untuk membeli minuman dingin, Sakura mencoba bertanya ada apa dengan Sasuke hari itu. Pria ini hanya menjawab sekenanya, dengan alasan dia baru menerima gaji dari kerja paruh waktu dan ingin merayakannya. Sakura yang sibuk berpikir pada kelakuan temannya yang sedikit aneh tanpa sadar menggigit-gigit ujung sedotan minumannya sendiri, dia terkejut ketika pria itu lebih dulu memulai pertanyaan.

"Apa Om Kizashi dan Tante Mebuki sehat?" Sasuke bertanya tentang orang tua Sakura.

"Ya, mereka sehat... Sangat sehat lebih tepatnya. Mereka sering bertanya tentang keadaanmu di sekolah lho, Sasuke. Huh, sepertinya mereka lebih peduli padamu daripada keadaan anaknya sendiri!" jawab Sakura dengan menggerutu.

Dia senang ketika melihat sebuah senyum simpul di wajah Sasuke.

"Mereka banyak membantuku, aku harus lebih sering mengunjungi mereka." kata Sasuke.

Bersamaan dengan itu keduanya telah berada di depan rumah Sakura, sementara Sasuke masih harus berjalan kira-kira sepuluh menit untuk sampai pada tempat tinggalnya. Sakura menghela napas, setiap kali bersama dengan pria itu waktu selalu terasa singkat. Dan seharusnya ia menyiapkan banyak pertanyaan agar selama diperjalanan tidak terlalu diisi oleh diam. Gadis bermata emerald ini pun pamit pada Sasuke sambil mendorong pagar rumahnya yang tidak dikunci. Pria itu hanya menatap punggung Sakura dalam diam, sedikit ragu.

"Selamat ulang tahun, Sakura…"

Sakura Haruno menoleh, memandang Sasuke Uchiha yang tampak kikuk. Memang hari ini adalah hari spesial baginya, Naruto bahkan memberikan kue ulang tahun ukuran jumbo untuk merayakan ulang tahun Sakura dan mereka membagikan cake itu pada teman-teman sekelas. Sasuke tidak ikut merayakan, saat itu ia harus absen selama beberapa jam untuk mengikuti pelatihan khusus dari Kakashi Hatake. Sasuke terpilih sebagai salah satu wakil Konoha yang akan tampil di pertandingan persahabatan beberapa negara, waktu sekolahnya banyak tersita untuk acara besar itu. Ketika Sasuke kembali, dia hanya sempat mengikuti pelajaran terakhir.

Wanita itu berpikir Sasuke lupa hari ulang tahunnya.

.

Karena Sakura tetap diam, Sasuke bertambah bingung. Tahun lalu ia tidak sengaja melupakan hari lahir Sakura dan gadis itu tampak sangat sedih. Dia mengingat-ingat lagi tanggal hari itu, bahkan sempat mengeceknya sebelum pulang sekolah. Dan memang dia tidak salah... Tanggal dua puluh delapan bulan Maret, tidak mungkin salah tanggal, pikir Sasuke.

"Hari ini ulang tahunmu kan?" dia sedikit memalingkan muka, "Aku baru sempat memberimu selamat, maaf aku tidak bawa hadiah. Kupikir tadinya aku mau mentraktirmu-"

Ocehan Sasuke berhenti ketika melihat Sakura Haruno tertawa geli, ia memincingkan mata. Apa ada sesuatu yang aneh dari perkataan atau tingkahnya sejak tadi?

"Ah, aku senang kau ingat! Makanya kau seharian ini aneh dan mentraktirku, Sasuke?" Sakura berusaha menahan tawanya. Bukan menertawakan pria itu, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Sakura tidak perlu hadiah dari Sasuke, ucapan selamat saja sudah membuat hatinya serasa melambung.

"Hn. Aneh?"

"Tidak, kok. Terima kasih ya…"

"Aku tidak tahu harus memberimu hadiah apa." Sasuke menatapnya.

Sakura membalas tatapan Sasuke, ia memberikan senyuman manis pada pria berambut hitam itu, "Ucapan selamat darimu adalah hadiah terbaik yang kuterima hari ini, Sasuke."

.

.


Suna – Hebi Inn

Duduk di satu sisi jendela yang terbuka, dia hanya menatap langit malam meski hanya ada kegelapan tanpa satu pun bintang. Angin malam yang berdesir membuat sebagian tirai jendela bergerak melambai, dia juga membiarkan rambut ravennya digerakkan oleh angin. Sebenarnya bukan menikmati pemandangan, pikirannya tidak pernah tertuju pada langit. Kabuto sempat mencurigai dirinya mengenal salah satu agen Konoha, Sasuke mampu berdalih. Kini yang tersisa hanya penyesalan. Seharusnya dia tidak pernah melihat wanita itu di pasar, dan memang seharusnya teman masa kecilnya itu tidak boleh berada di Suna. Dia sudah berupaya memutus kontak dengan negara yang dulu menaunginya, membuang semua kenangan tentang Konoha.

Kenapa dari sekian banyaknya agen pemerintah, dia harus berhadapan dengan Sakura Haruno?! Bagaimana pun eratnya hubungan mereka di masa lalu, sekarang sudah berubah. Sasuke telah memutuskan menjadi anggota Akatsuki, hal itu mengukuhkan hubungannya dengan agen Konoha sebagai lawan. Akatsuki adalah organisasi terselubung yang melakukan perdagangan gelap, bagi mereka negara mana pun adalah musuh. Pria ini terlalu sibuk berpikir sampai tidak menyadari seseorang masuk ke kamarnya, mendekapnya dengan mesra dari belakang. Dia bahkan tidak terkejut dan tidak bereaksi.

"Sasuke-kun, sejak pulang tadi sore kau jadi aneh." wanita berambut merah ini menempelkan tubuhnya di punggung Sasuke, "Apa kau baik-baik saja?"

"Hn."

"Makan malam sudah kusiapkan, lalu apa kau sudah dapat uang dari pekerjaanmu hari ini?" wanita ini berjalan ke samping meja dan mengenakan kacamatanya, "Uang persediaan bulanan kita sudah semakin menipis..."

.

Berkhianat dari Akatsuki berarti mempersiapkan dirimu dan semua orang yang terlibat denganmu berakhir di akhirat, itu konsekuensi ketika kau memutuskan menjadi salah satu bagian dari kami…

.

Sasuke berhenti memandangi langit, tiba-tiba ia teringat pada perjanjian yang dibuatnya sebelum bergabung dengan Akatsuki. Ia berdiri dan mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya. Sepertinya semua ketenangan harus segera berakhir, pikirnya. Sambil menyerahkan uang itu dia mengambil keputusan bulat, "Karin, kurasa aku tidak bisa lebih lama tinggal disini."

Karin terbelalak, dia menepis amplop yang disodorkan padanya. Kini kedua tangannya berada di kerah baju Sasuke dan menariknya, "Apa yang terjadi?! Kau kenapa Sasuke? Tidak, tidak… Jangan pergi! Kita pasti bisa melakukannya bersama-sama, aku tidak punya orang lain selain dirimu…"

Wanita berambut merah ini tidak tahu pekerjaan yang dilakoni Sasuke Uchiha, bagaimana selama ini ia mendapatkan uang. Karin tidak pernah bertanya, bagi Sasuke wanita ini tidak lebih dari sekedar teman tinggal satu atap, tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka. Sasuke awalnya datang untuk mencari tempat tinggal di daerah itu, dan dia bertemu Karin yang hidup sebatang kara setelah orang tuanya meninggal. Sasuke melihat wanita itu bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri. Timbul keinginan untuk ikut saling membantu, Sasuke berhasil mendapatkan tempat tinggal dan Karin mendapatkan pertolongan materil untuk membayar sewa.

Tangan pria itu mencoba menyingkirkan cengkeraman Karin dari pakaiannya, "Aku tinggal disini hanya untuk sementara, kau sudah tahu dari awal. Karin, pekerjaanku berbahaya."

"Kau bohong!"

Karin menarik kerah baju Sasuke dengan kekuatannya, meraih bibir pria itu dan mengklaimnya dengan bibir miliknya. Dia tidak ingin kehilangan Sasuke Uchiha. Wanita berambut merah ini tidak sanggup menahan keinginannya meski tahu Sasuke tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Pada awalnya Sasuke datang semata-mata sebagai orang asing lalu berubah menjadi teman tinggal yang meringankan tanggungannya membayar sewa. Sikap dingin pria itu tidak pernah membuatnya jengah. Lambat laun Karin menganggapnya bukan sekedar partner tinggal, perasaannya lebih dari itu dan dia tidak ingin Sasuke pergi meninggalkannya.

Sasuke melepaskan diri dari ciuman wanita itu, "Hentikan."

Wanita di hadapannya putus asa, "Tidak. Jangan pergi Sasuke… Kau penting bagiku."

Dia hanya menghela napas.

"Kau tahu hubungan kita tidak akan bisa lebih dari teman tinggal."

Sasuke dengan cepat mengeluarkan tas dan mulai memasukkan barang-barangnya, uang yang ada di amplop itu ditaruh di meja. Karin mengembalikannya, dia tidak peduli pada uang itu lagi. Sasuke sama sekali tidak menggubrisnya, amplop itu tergeletak begitu saja di atas meja. Dalam beberapa menit tas itu telah penuh terisi, Karin berkaca-kaca pada keadaan yang serba mendadak ini. Apa yang terjadi pada pria itu? Sebenarnya pekerjaan apa yang dijalani Sasuke?

Terakhir kalinya Sasuke menoleh pada wajah gadis berkacamata yang telah menolongnya selama ini, memberinya tempat tinggal dan setia membuatkannya makan malam. Sasuke memeluk tubuh itu sejenak, sekedar untuk mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih untuk semuanya, Karin. Selamat tinggal…" kemudian dia melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju pintu tanpa sekali pun menoleh.

Dia tidak menyadari wanita itu jatuh berlutut setelah pintu tertutup, menangisi kepergian partner tinggalnya. Apa yang membuat sikap Sasuke Uchiha berubah secepat kilat, Karin tidak tahu betapa besar bahaya dari pekerjaan yang ditanggung pria itu… Dia tidak pernah mengira pria itu akan meninggalkannya seorang diri seperti sekarang. Seperti awal-awal sebelum ia bertemu dengan Sasuke dan kamar kecil itu hanya ditinggali seorang diri. Dia bahagia ketika Sasuke hadir dalam hidupnya, tapi hal itu hanya berlangsung sekejap. Semua seperti mimpi dan dia harus sendiri lagi.

.

.

.


"Baik. Saya mengerti, Pak. Sampai jumpa."

Sakura Haruno merasakan kesadarannya kembali, kepalanya masih terasa berdenyut dan pusing. Sayup-sayup ia mendengar seorang pria sedang bercakap-cakap entah dengan siapa. Dia menoleh dan menyipitkan matanya, terlihat seorang pria mengenakan kaos hitam sedang duduk di meja pojok kamar hotel dengan ponsel pada telinga kanannya. Sai menutup telepon dan langsung beranjak dari tempat ia duduk menuju ranjang, tempat Sakura berbaring. Dia melihat wanita berambut pink itu sudah siuman.

"Kau sudah sadar?" dia membantu Sakura duduk lalu memberikan segelas air mineral, "Kau pingsan cukup lama. Minumlah..."

Sakura teringat terakhir kali ia melihat wajah Sai di pasar, sebelum semua menjadi gelap.

"A-apa yang terjadi?"

"Aku terpaksa membuatmu tak sadar lalu menggendongmu sampai mendapat taksi," pria ini mengaku, "Saat ini kita berada di kamarku, aku sudah melapor pada Pak Kakashi tentang semua yang terjadi."

Saat itu Sakura ingin mencekiknya karena dengan sembarangan pria itu memukul tengkuknya hingga kehilangan kesadaran, tapi dia terlalu lelah untuk melakukan hal itu. Dia hanya menghela napas, kesal. Hari ini memang hari sial sedunia, pikir wanita bermata emerald itu. Bertemu Sasuke Uchiha yang sekarang jadi musuh, kehilangan seniornya, diburu Akatsuki, dipukul rekannya sampai pingsan, dan saat ini masih harus bersama-sama dengan pria menyebalkan itu… Di kamarnya. Sakura sampai ingin berteriak 'bravo' pada tali nasibnya saat ini. Dia selesai minum dan meletakkan gelasnya di meja samping tempat tidur. Berusaha menenangkan diri.

"Bereskan barang-barangmu, Sakura. Besok pagi kita berdua akan check out dari hotel dan mencari tempat persembunyian baru," Sai berkata sambil membereskan barang-barangnya, "Kakashi bilang dia telah melakukan rapat darurat dan mereka sepakat mengirimkan bantuan untuk kita… Aku ditunjuk sebagai pemimpin lapangan menggantikan senior Yuki yang telah tiada."

Wanita itu tidak sanggup menahan tawanya yang terkesan datar.

"Wow, itu bagus! Dengan begitu pemimpin sepertimu bisa memukulku kapan saja kalau kau ingin aku ikut kabur tanpa banyak protes." Sakura menanggapi dengan sinis.

Sai hanya mendengus kesal, "Jangan bodoh. Aku tidak punya pilihan selain membuatmu tidak sadar lalu membawamu yang masih terguncang, bagaimana pun kau anggota timku. Dan kau tahu jelas, aku tidak sudi mati di tempat ini, Sakura."

"Lalu siapa yang akan membantu kita?" Sakura mengalihkan pembicaraan yang mulai memanas.

"Ada dua orang yang akan membantu kita menggantikan peran Jiraiya dan Yuki, mereka telah menerima tugas dan diberangkatkan segera. Shikamaru tetap berada di Konoha untuk memantau kita."

Sakura Haruno berpikir ada agen senior lain yang akan ditunjuk, tapi tebakannya keliru.

"Kalau tidak salah satu dari anggota baru untuk misi ini bernama Hinata Hyuuga… Dia dipilih karena sebelumnya pernah menerima misi di Suna, dan sepertinya cukup mengenal medan." Sai mengingat-ingat perkataan atasannya di telepon, "Lalu satu lagi aku tidak tahu alasan Kakashi memilihnya. Hmm… Namanya Aru… Uruto… Eh, bukan."

Hanya Sakura yang langsung tahu nama itu.

"Oh! Namanya Naruto…" Sai mengkoreksi perkataannya.

Jantung Sakura serasa berhenti berdetak, dan kalau bisa ia juga berharap demikian. Nama yang paling tidak ingin didengarnya ada di Suna, kandidat yang sejak awal ditunjuk Kakashi Hatake jika Sakura menolak mengemban tugas itu. Naruto Uzumaki?!

.

Benar-benar hari sial sedunia…

.

.

.

Bersambung

.

.


SPOILER Chapter 7 :

Sakura-chan aku senang kau selamat! / Che, tak kusangka. Ternyata tidak sia-sia Kakashi memilihmu jadi anggota tim ini… / "Naruto, tolong katakan yang sebenarnya padaku. YANG SEBENARNYA." Sakura menatap tajam pada pria berambut kuning di hadapannya. /

.


Author's Note :

Chapter keenam selesai… Chapter kali ini sedikit melompat-lompat antara Sakura – Sasuke – Kakashi, ditambah flashback. Agen Yuki dibunuh oleh salah satu Akatsuki yang belum diketahui siapa *kasihan juga sama karakter OC ini, tapi apa boleh buat*, dan semoga cerita kali ini nggak kerasa melompat-lompat ya. Kakashi memutuskan kirim Hinata dan Naruto! Pairingnya bisa dikatakan bakalan antara Sakusasu – Sakunaru – Naruhina. Mohon maaf kalau fic ini masih banyak kekurangan *garuk-garuk kepala*.

Sebagai info tambahan, sepertinya untuk rating T udah agak-agak mepet… Jadi kalau chapter depan nggak nemu di rating T, berarti di M yah... (supaya lebih aman aja) :D

Saya usahakan update cerita ini sebulan 2x (sekitar tanggal 7, dan 20an hehe… Bisa selisih lebih cepat / lambat 1-2 hari. Doakan untuk selalu update tepat waktu)

.

Terima kasih banyak buat yang review di chapter enam :

Guest (Maideleine) : Hmm sebenarnya karena kondisi saya yang tidak memungkinkan update tepat waktu ala schedule, mungkin jangka waktu keluarnya nggak selalu tepat. Tapi saya usahakan update cerita ini sebulan 2x (karena kemarin saya update tanggal 7, jadi sekarang tanggal 20an hehe… Doakan untuk selalu update tepat waktu *pray*)

Alluca : Terima kasih buat reviewnya dan syukurlah kalau suka sama ceritanya… Memang nggak melulu romance (ya romance terus bisa-bisa itu pindah genre ke drama). Authornya cowok ya? Hohoho Iya begitulah, Springfield XD itu memang jenis senjata real.

Akasuna no ei-chan : Arigatou! saya update nih, mampir lagi ya ^^

Guest : Rating pasti menyesuaikan, sepertinya memang sebentar lagi harus diubah ke M kalau ikut rating fanfiction.

Roquezen : Yup akhirnya saya memutuskan update dua minggu sekali tapi nggak bener-bener pas 14 hari, bisa sebelum atau sesudahnya jadi doakan ide terus jalan yaa. Thanks!

Ichisaint : terima kasih udah menyempatkan baca cerita saya *nangis terharu* Sasuke jahat ada maksudnya kok :D

Gohara01 : thank you reviewnya dan saya update lagi sekarang.

Saika Tsuruhime : Sebenernya jubah Akatsuki sama aja ada awan-nya, tapi lebih mudah ditulis 'jubah hitam'. Kalau bayangan saya, awannya nggak sebesar manga asli, karena ceritanya ini dunia modern. Awannya Akatsuki hanya seperti plakat / logo di jubah. Sakura dan Sai udah tau Jiraiya mati dari telepon Shikamaru, Yuki udah keburu nyusul Jiraiya di chapter ini, hahaha.

Mizuira Kumiko : halo, terima kasih buat reviewnya. Hehehe ketinggalan review nggak apa yang penting menyempatkan diri tulis RnR di cerita ini, thank you! :D Tentang Sasuke yang sifatnya berubah memang nanti bakalan diceritakan, termasuk penyebabnya. Ditunggu saja yaaa hehehe.

Alisha Blooms : halo, Alisha-chan! terima kasih buat reviewnya. Hehehe ketinggalan review nggak apa yang penting menyempatkan diri tulis RnR. Gimana cara dia gabung di Akatsuki dan kenapa, dibahas pelan-pelan di chapter ke depannya kok. Saya usahakan alurnya nggak terlalu lambat karena sekarang ada NaruHina juga.

Wakiyu : halo, terima kasih buat reviewnya. Saya update nih sist, mampir lagi yaa. Semoga masih suka ikutin cerita ini :)

.

Dan untuk chapter ini juga…

Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

.

-jitan-