SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 7 : DISTURBANCE

.

.

21 November - Bandara Udara Internasional Negara Suna

Pria berambut kuning cerah itu baru saja turun dari pesawat dan melanjutkan langkahnya menuju tempat imigrasi bersama seorang wanita bermata lavender, partner baru dan rekan sesama timnya dalam Project Suna. Wanita yang tampak kikuk dan pemalu itu lebih banyak menundukkan kepala, sesekali hanya menjawab pertanyaan Naruto Uzumaki dengan gestur anggukan atau sebuah gelengan. Wanita berambut panjang dengan warna biru gelap itu bernama Hyuuga Hinata, sebelumnya mereka sudah saling mengenal di akademi Konoha. Hanya sebatas mengetahui keberadaan satu sama lain sebenarnya, Naruto tidak terlalu mengenalnya dan sekarang mereka harus bergabung dalam satu misi. Tapi perangai ceria Naruto tidak membuat hal itu menjadi sebuah halangan berarti, ia mudah mengakrabkan diri dengan siapa pun.

Mereka berada di barisan imigrasi sambil menunggu giliran, Naruto masih sibuk mengeluarkan paspor dari ranselnya. Barang-barang yang keluar bersamaan dengan buku mungil itu membuat Naruto kewalahan, dengan terpaksa ia menggigit paspor sambil memasukkan benda-benda yang tidak diperlukan masuk kembali ke dalam tas. Naruto menangkap pandangan heran dari rekannya, mereka bertatapan. Lagi-lagi Hinata menundukkan kepala ketika tanpa sadar ia bertatapan mata dengan bola mata biru milik Naruto, membuat pria ini mengernyitkan alis.

"Apa wajahku jelek?"

Hinata terkejut dan mendongakkan kepala, "E-Ah? Je-jelek… A-apa maksudmu?"

"Kau selalu menundukkan kepala waktu melihatku, apa aku begitu jelek ya?"

"HAH? Ti-tidak! Naruto, ma-maafkan… Aku ti-tidak…" Hinata membantu perkataannya yang terbata-bata dengan gestur tangan, ia ingin menyelesaikan kesalah-pahaman ini. Sejenak perkataannya terhenti oleh gerak-gerik Naruto yang menggigit bibirnya sendiri, mencoba menahan tawa sebelum akhirnya gagal. Pria itu terkekeh melihat respon Hinata yang kikuk.

"Hahahaha, hei tenanglah. Aku cuma bercanda agar kau mau bicara, Hinata…" jawab Naruto sambil tertawa lepas, "Aku tahu wajahku tidak jelek kok, aku kan cukup tampan!"

Hinata melongo mendengarnya.

"Jangan kaku begitu di depanku, Hinata-chan!" seringai Naruto membuat pandangan gadis itu lagi-lagi tertunduk dengan rona merah di sekitar pipinya, "Kita sekarang partner jadi jangan sungkan bertanya atau mengobrol denganku, oke?"

Gadis ini lagi-lagi menunduk dan menganggukkan kepala, pipinya merona merah.

.

"Na-Naruto…" tiba-tiba Hinata memanggil.

"Ya?"

"Pa-pasti berat y…ya, tentang Sa-Sasuke ma-ma-masih hidup dan jadi A… Akatsuki?" tanyanya.

Naruto tersenyum kecil sambil menggeleng, "Aku senang sahabatku masih hidup kok… Dan aku akan menyeret Sasuke-teme itu pulang ke Konoha. Tapi pertama-tama, kita harus menemui Sai dan Sakura, menyelamatkan Sora, lalu menghancurkan Akatsuki… Wah ternyata rencananya banyak juga ya, kalau begitu kita harus cepat bergerak, Hinata-chan!"

Hinata mengangguk pelan, mereka berjalan ke arah pintu keluar dipandu Hinata yang cukup menguasai daerah Suna. Gadis bermarga Hyuuga ini cukup cemas karena merasa partnernya memiliki beban berat, terlebih ketika mengetahui Sasuke Uchiha yang merupakan sahabatnya masih hidup tapi menjadi anggota Akatsuki. Kelompok yang sedang mereka selidiki dan menculik Sora. Mata lavendernya mencuri pandang pada sosok berambut kuning yang berjalan di depannya, jantungnya berdetak kencang meskipun hanya berani menatap punggungnya. Dia memang mengagumi pria berwatak ceria ini sejak lama, semenjak ia mengenal nama NARUTO di akademi. Menyukainya diam-diam.

Tapi pria ini tidak tahu, ah bukan…

Naruto Uzumaki tidak akan pernah tahu perasaannya.

.

.

.


Sakura Haruno membiarkan gerai rambutnya dibelai hembusan angin pagi di Suna, saat ini ia telah berada di luar hotel bersama atasan barunya ; Sai. Mereka baru saja check out, sambil menggiring tas koper kecilnya wanita ini berjalan mengikuti pria berpakaian slim fit shirt warna abu-abu dengan kacamata berwarna hitam yang hanya membawa ransel kecil di punggung. Langkah-langkah panjang pria dingin itu membuat jaraknya dengan Sakura semakin menjauh, berkali-kali dia harus menoleh dan menunggu Sakura untuk mengejar kecepatannya. Sakura menggerutu dalam hati mengingat pria super cuek di hadapannya sama sekali tidak berinisiatif dalam artian 'gentle', setidakny untuk menolong wanita yang tampak kesulitan berjalan cepat sambil menggotong barang bawaan.

Mereka berjalan kaki menyusuri perkotaan Suna untuk mencari tempat tinggal baru. Sai tanpa aba-aba membelokkan langkahnya menyusuri sebuah gang dan menemukan sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Ia berlari untuk menahan taksi tersebut, kemudian tidak sabaran memanggil agen wanita yang masih tergopoh-gopoh di belakang. Berdecak kesal akhirnya Sai terpaksa kembali lalu mengambil koper kecil yang dibawa Sakura, membantu wanita itu memasukkan koper dalam bagasi.

"Bergeraklah lebih cepat, Sakura. Kita tidak sedang berlibur…" bisik Sai ketika menunduk untuk mengambil tas.

Sakura dengan kesal menggembungkan pipinya, "Kita memang TURIS, jangan lupakan identitas kita disini… Bos?"

Sai tidak menanggapi, ia segera menaruh koper tersebut masuk ke dalam bagasi lalu membuka pintu belakang taksi dan duduk dengan tenang. Wanita berambut soft pink ini lagi-lagi mendengus ketika duduk di samping Sai dalam keheningan, berpikir mereka tidak akan akur. Untuk kali ini ia berharap Naruto cepat datang dan menolongnya dari situasi menyebalkan bersama Sai. Taksi itu meluncur ke kawasan pinggiran Suna bagian barat, letaknya tidak jauh dari Central Market berada. Mata keduanya hanya memandang ke luar jendela, mencari sebuah tempat tinggal baru yang cukup strategis namun tidak mencurigakan.

.

Tiba-tiba Sai menyuruh supir taksi itu berhenti di depan sebuah gedung modern bertingkat yang tampak seperti rumah susun atau apartemen, di lantai bawahnya terdapat sebuah minimarket dan tempat laundry. Sedangkan lantai sisanya bertingkat-tingkat menyerupai sebuah rumah susun, beberapa diantaranya memiliki beranda yang telah terisi oleh benda-benda seperti jemuran pakaian. Sai mengeluarkan sejumlah uang lalu turun tanpa mengatakan apa-apa pada wanita di sebelahnya, Sakura terpaksa mengikuti langkah Sai dan mengambil bawaannya dalam bagasi.

"Kita akan tinggal disini," katanya tiba-tiba tanpa kompromi, "Berharap saja ada kamar kosong untuk kita berempat."

"HAH?! Tu-tunggu, Sai!" Sakura terperanjat pada keputusan sepihak partnernya, "Kenapa kau memilih tempat ini tanpa diskusi dulu denganku atau… HEI?!"

Selanjutnya dia hanya terdiam karena Sai tidak menggubrisnya lebih jauh, pria berambut hitam itu berjalan masuk ke dalam pintu masuk rumah susun tanpa sekalipun menoleh ke arah Sakura yang masih termangu kehabisan kata-kata di trotoar.

.

Salah satu pintu kamar rumah susun di tingkat atas terbuka, seorang pria berdasi dari bagian pemasaran gedung mempersilakan Sakura dan Sai masuk untuk melihat-lihat sebuah kamar yang biasa disewakan dalam kurun waktu tertentu. Yang memilih letak kamar dan lantai tingkat delapan tentu saja Sai- tanpa kompromi pastinya, Sakura hanya bisa pasrah mengikuti rencana atasannya tanpa tahu alasannya. Ruangan ketiga dari lantai delapan ini cukup besar, dengan dua buah kamar masing-masing dengan satu ranjang yang mampu ditiduri dua orang, sebuah sofa sederhana dengan televisi di bagian tengah, satu kamar mandi yang berhadapan langsung dengan dapur mini, dan tentunya sebuah pintu kaca yang menyekat ruangan dengan beranda luar.

Ruangan ini cocok ditinggali empat orang, Sai juga tidak perlu merisaukan soal biaya karena semuanya ditanggung penuh oleh pemerintah Konoha. Sai tidak peduli pada kondisi kamar atau hal lain yang biasa ditanyakan pada pengunjung umum, ia hanya memeriksa jendela lalu berjalan ke arah pintu beranda. Pria ini mengamati pemandangan sekitar sebelum akhirnya kembali masuk dan meletakkan tasnya di sofa. Salesman yang melayani mereka berdua tampak sedikit kebingungan, pelanggannya ini sama sekali tidak bertanya masalah harga atau membandingkan ruangan satu dengan lainnya. Namun raut wajahnya seketika terlihat cerah melihat Sai yang menganggukkan kepala.

"Baiklah, kami akan menyewa ruangan ini selama seminggu… Tapi tidak menutup kemungkinan untuk diperpanjang," Sai menimbang-nimbang kembali keputusannya, "Tapi kalau liburan kami berakhir lebih cepat dari yang direncanakan, Anda tidak perlu khawatir. Aku tetap akan membayar iuran untuk seminggu. Apa aku bisa menggunakan kartu untuk membayarnya?

Sang marketing belia ini seperti melonjak kegirangan mendapatkan seorang pelanggan baru yang royal, ia segera berinisiatif mengantarkan Sai ke ruangannya untuk menyelesaikan administrasi juga pembayaran. Semangatnya berapi-api, ia juga menawarkan penawaran lain seperti sarapan atau kudapan kecil namun Sai berhasil menolaknya dengan halus. Sebelum keluar dari ruangan, Sai melemparkan kunci tempat tinggal baru mereka pada gadis bermata emerald yang tidak ikut turun. Sakura menangkapnya dengan satu tangan, namun tetap tidak mengerti rencana pria aneh ini.

.

"Sakura, di saku depan ranselku ada sebuah teropong, pergilah ke beranda untuk melihat-lihat pemandangan selama aku pergi." Sai menurunkan kacamata hitam lalu mengedipkan sebelah matanya ketika sang marketing telah berada di pintu, "Kau suka melihat-lihat pemandangan yang menarik kan?"

Sai pergi meninggalkan wanita itu sendirian di tempat persembunyiannya yang baru. Tanpa membuang banyak waktu, Sakura Haruno segera merogoh saku ransel Sai yang tergeletak di atas sofa. Dia menemukan sebuah teropong berwarna hitam yang masih terbungkus oleh pelindungnya, Sakura membuka pintu beranda dan menempelkan tubuh depannya pada tembok pembatas beranda setinggi dada. Pemilik mata emerald ini mulai mengatur jarak teropong dan mempelajari keadaan lingkungan sekitar. Dari ketinggian ruangan itu ia dapat melihat dengan jelas beberapa tempat seperti Central Market, klinik, beberapa hotel, dan tempat-tempat umum lainnya. Pandangannya beralih pada sebuah bangunan tingkat dua bercat merah bata dengan sebuah papan nama. Sakura membaca angka '589' tertera pada papannya.

Dia tercengang, bukankah itu adalah lokasi yang dicurigai oleh Sai ketika Agen Jiraiya tertembak?

.

.

.


Vega Sun Motel

Pria berkacamata bulat ini mengangguk sambil sesekali bergumam ketika mendengarkan perintah dari ponselnya. Di hadapannya sesosok pria berambut raven sedang duduk dengan tenang, tidak peduli pada isi pembicaraan Kabuto dengan atasannya. Selesai menelepon, Kabuto menyeringai mendapati pria berdarah Uchiha ini masih setia duduk di kamarnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak hitam dari lemari dan menyerahkannya beserta amplop cokelat berisi uang. Sasuke membuka kotak tersebut, menemukan sebuah pistol jenis Springfield XD(M) warna hitam dengan sebuah silencer dan magazine berisi amunisi. Senjata yang ia gunakan untuk membunuh agen Konoha di mobil biru tua, pikirnya. Kabuto tidak ikut duduk, ia berdiri di hadapan Sasuke sambil melipat kedua tangannya.

"Persiapan rencana kita sebentar lagi selesai, tapi kau tahu tikus-tikus Konoha itu masih tersisa." Dia memulai memberi pengarahan, "Salah satunya sudah dilenyapkan oleh Deidara, sisanya kuserahkan padamu… Sasuke."

"Che, jadi itu ulah Deidara…" desis Sasuke, "Tak kusangka dia begitu ceroboh, membunuh wanita itu di tempat umum? Benar-benar perbuatan bodoh."

Kabuto tersenyum dingin mendengar komentar sinis Sasuke, ia hanya mengangkat kedua bahunya seakan tidak peduli asal seluruh pengganggu dapat dimusnahkan. Dia menerima cara apapun untuk menyingkirkan para tikus-tikus Konoha, pria ini kemudian melemparkan sebuah kunci mobil pada Sasuke. Mata hitam Uchiha ini menatap Kabuto, menunggu penjelasan.

"Tugasmu hari ini adalah mengawal Sora ke laboratorium untuk pengecekan rutin pukul sebelas siang, dan amplop itu bayaranmu. Hati-hati pada pergerakan agen Konoha, bunuh apabila batang hidung mereka terlihat. Oh, kau tahu harus menjemput Sora dimana kan?" Kabuto selesai bicara.

"Hn." Sasuke hanya mengangguk lalu berdiri sambil membawa barang-barang tersebut keluar ruangan.

Dia mengantongi amplop berisi bayarannya, bersiap-siap membawa Sora yang menjadi tawanan Akatsuki – dan yang menjadi target utama dari misi Proyek Suna. Selama ini Akatsuki mengincar Sora yang menjadi aset rahasia Konoha, dalam kurun waktu tertentu tawanannya itu akan rutin menjalani berbagai penelitian di salah satu laboratorium yang mau bekerjasama dengan Akatsuki. Pria berambut raven ini masih tidak mengerti apa yang direncanakan atasannya, tepatnya orang yang membujuknya meninggalkan Konoha lalu bergabung dengan Akatsuki. Dia berharap mungkin kegiatannya hari ini dapat menambah informasi tentang tujuan penelitian Sora.

.

.

Tidak butuh waktu lama ketika mobil sedan hitam yang dikendarai Sasuke sampai di pelataran parkir sebuah gedung bercat merah bata. Pria ini turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk gedung bernomor 589 sambil terus waspada terhadap setiap gerak-gerik masyarakat umum yang melintas. Dia harus berhati-hati, sekaligus memeriksa apa langkahnya diikuti pihak luar yang tidak ia harapkan. Tidak dapat dipungkiri, alam bawah sadarnya juga ikut mencari sesosok wanita berambut soft pink… Sedikit khawatir. Sasuke Uchiha berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, dia tidak ingin berhadapan dengan wanita itu sebagai lawan.

Dan tentunya, dia tidak ingin Sakura Haruno terbunuh.

Dengan santai sambil melirik jam tangannya, pria ini sampai di depan sebuah gedung yang dulunya dipakai sebagai kantor agen perjalanan. Usaha agen itu tidak berjalan lancar dan mereka menjual properti gedungnya pada pihak Akatsuki yang menyamar sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang angkutan dan kargo. Di dalam ruangan gedung itu cukup berantakan, ini pertama kalinya ia mendapat tugas mengawal Sora. Sasuke membuka sebuah pintu kamar di belakang ruang kerja, di dalamnya duduk seorang anak laki-laki berambut abu-abu yang tidak peduli pada kedatangan Sasuke. Sambil bersandar pada tepian ranjang dilapisi bantal ia sibuk menatap televisi, berkali-kali mengganti salurannya menggunakan remote. Beberapa detik hanya diisi dengan diam.

"Kau suruhan yang datang untuk membawaku ke laboratorium itu lagi?" tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari layar televisi.

"Hn." Sasuke menutup pintu dan berjalan mendekati anak tersebut, "Kita harus berangkat sekarang."

"Siapa namamu, bocah?"

Sasuke mendengus geli mendengar anak berusia sepuluh tahun memanggilnya sembarangan. Dia berusaha menyeret tangan bocah kurang sopan santun itu dan membawanya turun, "Aku tidak punya banyak waktu dan sepertinya aku lebih tua darimu, jadi jangan banyak omong. Ayo kita segera-"

Sora langsung menepis tangan Sasuke dengan kasar.

.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, bocah." bola mata coklat Sora akhirnya menatap Sasuke dengan pandangan dingin, "Kau tidak tahu mengapa kawananmu menculikku kan? Atau siapa sebenarnya aku? Bersikaplah sopan, aku bisa jalan sendiri tanpa diseret seperti binatang."

Sasuke yang tidak habis pikir akhirnya memutuskan diam dan mengikuti bocah berambut sebahu itu menuju pintu keluar. Di satu sisi sebenarnya ia tidak peduli, namun di sisi lainnya ia cukup keheranan. Heran pada tingkah laku tawanan yang sama sekali tidak punya rasa takut atau sopan santun, terlebih karena dia hanyalah anak berusia kira-kira sepuluh tahun yang seharusnya lugu dan takut pada pihak penculiknya. Dasar bocah aneh, pikirnya. Sebelum benar-benar keluar dari gedung bernomor 589, Sora menengok ke arah Sasuke yang balas menatap kosong seperti tidak peduli.

"Tadi aku tanya siapa namamu?" Sora lagi-lagi bertanya.

"Che. Kenapa aku harus ja-"

"JAWAB SAJA PERTANYAANKU, bocah…" anak kecil itu menyela perkataan Sasuke, membuat pria ini semakin dongkol pada tindakan kurang ajar dari tawanan ciliknya itu.

"Hn, baiklah bocah aneh…" Sasuke dengan tenang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "Aku Sasuke Uchiha. Puas?"

Entah mengapa ia melihat mata Sora sedikit terbelalak dan sebuah seringai tipis terukir dari bibir bocah di hadapannya, membuat Sasuke bertanya-tanya dalam hati ; apa ada sesuatu dengan namanya? Rahasia lain yang tidak ia ketahui? Atau apa anak ini mengenalnya sebagai salah satu mantan Konoha yang dinyatakan mati tiga tahun yang lalu? Pikirannya terhenti oleh pertanyaan lain yang ditujukan Sora.

.

"Kau ini seorang Uchiha?" Sora menegaskan.

"Hn." Alis pria bermata hitam ini terangkat, "Apa tadi masih kurang jelas? Atau kau tuli?"

Sora hanya menanggapi ucapan itu dengan tersenyum sinis lalu membuka pintu gedung dan berjalan menuju pelataran parkir dimana mobil hitam Sasuke berada. Sasuke Uchiha berjalan mengikutinya dari belakang, masih berusaha menjaga jarak sambil terus memperhatikan keadaan sekitarnya. Sementara Sora dengan tenang tanpa perlawanan atau berusaha kabur masih berjalan mendekati mobil. Dia lebih dulu sampai di pintu penumpang, masuk dan duduk di bangku belakang. Sasuke menghela napas keheranan namun tidak ingin berurusan lebih dengan perilaku tawanan Akatsuki itu, ia berada di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobil. Merasa seseorang sedang menatapnya, ia melirik ke arah bangku penumpang melalui spion tengah. Bertatapan dengan iris mata coklat Sora.

Seringai lagi-lagi muncul dari raut wajah Sora, membuat Sasuke bergidik.

"Tak kusangka bisa bertemu dengan keturunan Uchiha di tempat ini," suara Sora terdengar begitu jelas di telinga pria berambut raven hitam itu, "Senang berkenalan denganmu… Sasuke."

.

.

.


8th Floor – Apartment

"Sakura-chan aku senang kau selamat!"

Lelaki itu langsung mendekap wanita berambut soft pink yang baru saja membukakan pintu. Dia tidak memedulikan ada pandangan lain yang diam-diam memperhatikan, melihat bagaimana pentingnya keberadaan Sakura Haruno bagi Naruto Uzumaki. Merasa seharusnya dia tidak perlu melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri... Yang entah mengapa membuat hatinya pilu. Sakura berusaha melepaskan diri, ia mendorong tubuh Naruto menjauh. Sekilas ia menatap seorang wanita berambut biru gelap yang berdiri di belakang lelaki berambut kuning itu, lalu mempersilakan mereka berdua masuk untuk bertemu Sai.

"Sakura-chan, kenalkan ini Hinata." Naruto menepuk punggung partner barunya agar maju dan berkenalan, "Dia punya ingatan yang luar biasa tentang Suna lho! Hinata, ini Sakura-chan."

"Sa-salam kenal, a-aku Hi-Hinata Hyuuga…" gadis pemalu ini menjulurkan tangan dan langsung disambut hangat oleh pemilik iris mata emerald di hadapannya.

"Halo, aku Sakura Haruno. Senang berkenalan denganmu, Hinata-chan. Pasti Naruto cerewet dan banyak menyulitkanmu ya?" katanya ceria, "Dia memang merepotkan kok."

"Ti-ti-tidak begitu! A-aku…" wanita ini melihat Sakura meringis ke arah Naruto yang masih pura-pura cemberut sambil menekuk wajahnya. Berada dalam posisi yang tidak ia inginkan dan tidak tahu harus menjawab apa, dia memilih untuk diam.

.

Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama berada di Suna- setidaknya sebelum memutuskan untuk pindah lagi. Sakura mengantar Hinata menuju kamar pertama yang merupakan kamar untuk para agen wanita, sedangkan kamar Naruto dan Sai terletak tepat di sebelahnya. Hanya sempat menaruh barang bawaan dalam kamar, mereka berjalan menuju sofa tengah dimana atasan baru mereka sudah menunggu. Pria berambut hitam ini tidak berinisiatif menjemput kedua bawahannya di depan pintu, ia memilih menunggu. Sambil memeriksa data-data Suna yang ditinggalkan Agen Yuki, ia melirik ke arah tiga orang yang berdiri di hadapannya. Menatap dua agen baru yang akan menjadi rekan timnya di Project Suna.

"Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuuga? Selamat datang, perkenalkan namaku Sai. Seperti yang kalian tahu dari Pak Kakashi, aku yang menggantikan Agen Yuki sebagai ketua tim selama kita menjalankan misi di Suna." dia memperkenalkan diri sambil terus duduk manis di sofa, "Tidak ada basa-basi lagi. Duduklah, kita akan segera memulai penyelidikan hari ini…"

Naruto langsung mengalihkan pandangan pada Sakura, baru kali ini ia berkenalan dengan Sai dan tampaknya pemuda ini tipikal atasan yang dingin dan terlampau cuek. Hinata sudah duduk di sofa ketika Sakura balas menatap Naruto dengan sebuah seringai, seperti ingin menyampaikan 'Ini belum apa-apa, Naruto' tanpa kata-kata. Sai menyerahkan beberapa kertas pada Hinata untuk diperiksa sementara Sakura dan Naruto akhirnya duduk berdampingan. Teropong yang berada di sebelah tempat duduk Sai kemudian diberikan pada Naruto, Sai belum mengatakan apa-apa.

"Hinata, kudengar ingatanmu bagus jadi tolong pelajari data yang ada di berkas itu. Dan untukmu, Naruto…" Sai berkata sambil menunjuk Sakura, "Temanmu akan menunjukkan sebuah pemandangan dengan teropong itu. Pergilah ke beranda dan tunjukkan, Sakura."

.

Sementara Hinata menerima data-data yang ditunjuk oleh Sai, Sakura dan Naruto bangkit berdiri dan berjalan menuju beranda. Wanita berambut soft pink itu kembali menutup pintu beranda seakan tidak ingin mendengar pembicaraan lain dari atasannya, pria di sebelahnya hanya tersenyum penuh arti. Setelah keduanya menyendiri di beranda, Sakura menunjukkan lokasi kantor nomor 589 yang dicurigai Sai sebagai tempat penembakan Agen Jiraiya. Naruto menggunakan teropong Sai untuk meneliti keadaan sekitar, dia juga mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kejadian Jiraiya dan Yuki. Sakura yang masih terpukul akan kematian rekan-rekannya, berusaha menjawab tanpa menunjukkan kekhawatiran. Tapi dari jawaban Sakura, pria berambut kuning ini tahu. Hanya saja dia tidak ingin membahasnya, apalagi membayangkan satu-satunya pria yang dicintai Sakura masih hidup.

"Atasan baru kita tampaknya sedikit dingin? Apa pendapatmu tentang dia, Sakura?" Naruto bertanya sambil menyesuaikan jarak pandang pada teropong.

"Huh, neraka..." jawab Sakura singkat.

Lalu keheningan kembali mengisi suasana di beranda, Naruto masih mencoba mengatur jarak pandang sementara Sakura memilih diam. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya, menghela napas.

.

"Kenapa kau menerima misi ini?"

Sakura tiba-tiba bertanya, membuat Naruto terhenyak dan melepaskan pandangannya dari teropong. Ia berusaha menutupi pertanyaan itu dengan mengalihkan pandangan, kembali meneliti keadaan.

"Apa maksudmu? Tentu aku akan menerimanya. Aku langsung menyetujui misi ini ketika Kakashi bilang kau butuh bantuan di Suna, aku dan Hinata merupakan orang yang tepat. Ternyata sifatmu yang aneh dan menghindariku waktu itu karena misi ini ya?" mata biru Naruto menatap kosong, "Kau tahu aku tidak akan membiarkan kau terluka apalagi mati. Aku bisa gila kalau itu terjadi, Sakura-chan."

Entah karena perasaan bertepuk sebelah tangan yang dipendamnya selama ini, atau karena Sakura merupakan salah satu sahabat terbaiknya bersama Sasuke Uchiha… Naruto tampak bersungguh-sungguh pada perkataannya, membuat Sakura hanya mampu diam membisu.

"Apa kau tahu soal Sasuke?" Sakura bertanya lagi.

Naruto hanya mengangguk kecil sambil terus memeriksa keadaan dengan teropong.

"Apa yang dikatakan Pak Kakashi?"

"…" dia berusaha menghindar dari pertanyaan, "Tidak ada, dia tidak menyinggung soal itu."

Sebelum Naruto kembali ke ruangan tempat Sai dan Hinata berada, tangan Sakura menahan tubuhnya. Ia menoleh, bertatapan dengan iris emerald yang menatapnya tajam. Wanita ini tahu, dia selalu tahu. Dari dulu Sakura Haruno selalu tahu apabila sahabatnya ini berbohong atau menutupi sesuatu, Naruto terpaku ketika kedua jemari wanita itu mencengkeram lengannya.

"Naruto, tolong katakan yang sebenarnya padaku. YANG SEBENARNYA." Sakura menatap tajam pada pria berambut kuning di hadapannya.

Mata birunya mengerjap tanpa mampu berkata, meskipun ini sebuah kebohongan… Sekalipun sahabatnya ini tahu ia berbohong. Dia tidak akan mampu berkata jujur, tidak pada Sakura Haruno. Sebelah tangan Naruto yang bebas balas menggenggam pergelangan tangan Sakura yang masih mencengkeramnya dengan erat, dia tersenyum. Berusaha mengenyahkan kekhawatiran gadis itu.

"Sakura, kau terlalu banyak berpikir. Kakashi bilang spertinya Sasuke bergabung dengan Akatsuki, dan aku harus menyelidiki kebenarannya," Naruto berusaha tertawa untuk meyakinkan gadis di hadapannya, "Aku akan berusaha menolongmu, Sakura. Kita akan bawa Sasuke pulang ke Konoha."

Kemudian pria ini melepaskan genggamannya lalu kembali ke dalam ruangan bersama Sai dan Hinata, meninggalkan Sakura Haruno yang masih mematung di beranda... Seorang diri. Pria itu memutar ingatannya pada saat ia dipanggil menghadap Kakashi.

.

.

.


20 November – Konoha (satu hari sebelum keberangkatan ke Suna)

Uzumaki Naruto menutup pintu ruangan supervisornya, Kakashi Hatake. Dia berjalan mendekati pria yang duduk bersandar di balik meja kerja sambil melipat kedua tangannya, dengan sebuah gestur atasannya itu menyuruh Naruto duduk. Lima menit yang lalu ia dipanggil oleh Shikamaru untuk menghadap Kakashi, lelaki berambut kuning ini mengira dirinya akan diberangkatkan pada sebuah misi mendadak. Perkiraannya memang benar, hanya saja ini di luar ekspektasinya. Kakashi menyodorkan sebuah map ke hadapan Naruto dan menyuruhnya membaca sekilas.

Jantungnya langsung berdegup kencang ketika membuka halaman pertama yang memuat foto agen yang bertugas- salah satunya dia menangkap wajah Sakura Haruno. Lebih mengejutkan lagi dua orang di samping foto Sakura telah memiliki cap berwarna merah dengan huruf capital 'DECEASED', dengan kata lain mereka gugur dalam bertugas?! Belum sempat membuka halaman lain, namanya dipanggil. Naruto berhenti meneliti data-data yang ada di map tersebut, ia memilih mendengarkan atasannya berbicara.

"Naruto, sebenarnya kami sedang menangani misi top priority yang berstatus rahasia… Bisa dibilang ini salah satu top secret Konoha. Sakura Haruno merupakan salah satu agen yang bertugas dalam Project Suna, yang datanya sedang kau pegang…" pria ini menegakkan tubuhnya seraya melepaskan lipatan tangan, "Tapi keadaan berjalan tidak sesuai dengan rencana, setengah dari anggota tim lapangan gugur. Terbunuh. Aku sudah melakukan rapat darurat dan memutuskan menambah personil untuk menyelesaikan misi ini. Salah satu kandidat yang kutawarkan adalah dirimu, Naruto Uzumaki."

Alis pria bermata biru ini terangkat, masih tidak mengerti pada misi yang ditawarkan padanya.

"Misinya adalah menyelamatkan aset utama Konoha, yaitu seorang anak bernama Sora. Awal bulan lalu ia ditangkap oleh kawanan Akatsuki yang sebelumnya pernah datang ke negara kita, kira-kira tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu misi mereka gagal karena kehadiran Sasuke di perbatasan bukit, sayangnya kita lengah dan Sora berhasil diculik."

"Ja-jadi Akatsuki adalah pembunuh Sasuke?!" Naruto menggeram dan mengepalkan tangannya di atas meja kerja Kakashi, "Aku terima misi ini, Pak! Bagaimana pun Sakura ada disana, selain menyelamatkan tawanan… Itu juga berarti kami harus melenyapkan Akatsuki kan?"

.

Kakashi Hatake mengangguk dan menunggu sampai semangat berapi-api Naruto sedikit turun, dia sendiri tidak yakin harus mengatakannya atau tidak. Sejenak ia menghela napas, "Tenangkan dirimu, jangan libatkan balas dendam pribadi pada misi. Orang yang terbunuh di perbatasan itu sepertinya salah satu anggota Akatsuki, dan melenyapkan Akatsuki juga termasuk dalam tugasmu. Ada sesuatu yang harus kukatakan sebelum kau resmi menerima tugas dariku… Tapi aku yakin kau tidak menyukai fakta ini, dan aku sudah memperingatkanmu lho."

Naruto mengendur, ia menganggukkan kepalanya dengan tegas, "Ada apa?"

"Sasuke masih hidup, Naruto."

Kakashi dapat melihat bola mata Naruto yang terbelalak dan raut mukanya begitu terkejut mendengar kalimat pertamanya, membuat Kakashi masih menimbang-nimbang untuk mengatakan kalimat berikutnya. Tapi toh ia juga harus tetap mengatakannya?

"Dan sepertinya Sasuke bergabung dengan Akatsuki…" sambungnya.

Setelah berkata demikian Kakashi memilih diam dan menunggu. Naruto menutup mata dan meletakkan kedua tangannya hingga menutupi wajah, ini gila! Sahabat terbaik yang pernah dikenalnya selama di akademi, yang melindunginya sampai menyerahkan nyawa, yang membuat hidupnya serasa hancur tak bernilai karena selalu berpikir ia kehilangan Sasuke akibat kesalahannya… Ketidak-mampuannya untuk melindungi diri sendiri. Dia bersumpah untuk bertambah kuat, menempa diri yang dipupuk dari rasa bersalah hingga kini ia mampu menjadi salah satu agen yang karirnya cukup melesat.

Sasuke hidup?

Betapa terkejutnya Naruto Uzumaki mendapati fakta sahabatnya masih hidup, antara senang sekaligus shock bersamaan, rasanya seperti menghapus mimpi buruk tiga tahun yang lalu. Tapi fakta lain yang didengarnya dari Kakashi Hatake telah sukses membuat pikirannya gelap, ia tidak dapat berpikir jernih. Dia meninggalkan Konoha, hidup bersama Akatsuki… Kelompok yang pernah menyerang Konoha? Dia bergabung dengan para penjahat yang sebelumnya menghajar Naruto hingga membuatnya hampir kehilangan nyawa?!

Sasuke-teme… Apa maksud semua ini?!

.

"I… Ini pasti sebuah kesalahan, Pak?" Naruto masih kalut dalam pikirannya sendiri, "Lalu Sakura harus berhadapan dengannya… Sebagai musuh?"

Kakashi hanya mengangguk singkat, "Bukan hanya Sakura tapi seluruh anggota tim, mengingat Sasuke Uchiha adalah anggota Akatsuki yang membahayakan nyawa target kita- Sora. Aku tidak dapat mengambil langkah atau instruksi bagi anggota lainnya mengenai kasus Sasuke, beban mental mereka saat ini cukup berat karena kehilangan anggota tim berturut-turut. Terutama bagi Sakura Haruno, tapi aku yakin pada kemampuanmu. Aku hanya yakin padamu."

"La-lalu?" Naruto kebingungan.

"Aku akan memberi tugas khusus padamu, Naruto." Kakashi berdiri dari kursinya lalu mencondongkan badan ke depan untuk memperkecil jaraknya dengan bawahannya itu, "Keberadaan Akatsuki membahayakan Konoha. Dan jika Sasuke memang terbukti bergabung sebagai anggota mereka… Kau-lah yang bertugas untuk membunuhnya."

.

.

.


Office Building No. 589

Sai dan tiga orang lainnya telah berada di depan gedung berwarna merah bata yang sebelumnya terlihat di teropong. Setelah melakukan pengamatan dari beranda, mereka sepakat untuk mendatangi lokasi siang itu. Membentuk sebuah formasi, keempatnya bergerak beriringan dan meneliti setiap kondisi gedung. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar dari kantor yang tampaknya sudah tidak dipakai lagi, plang yang terpampang di depan berisi nomor 589 itu tampak kusam tanpa perawatan berkala. Mereka berjalan menyusuri sebuah tempat parkir, keadaan di sekitarnya sangat sepi. Sai memerintahkan Naruto untuk menjaga pertahanan mereka dari belakang sementara ia dan Sakura menyusup ke depan.

Berhadapan dengan sebuah pintu kayu yang terkunci, ketua lapangan ini berniat mendobrak paksa setelah menduga semuanya aman. Sebelum ia mengambil ancang-ancang beberapa langkah mundur untuk menerjang, Sakura Haruno merentangkan sebelah tangannya. Ia menggelengkan kepala. Lalu dengan sigap dari balik kantongnya ia mengambil sebuah kotak kecil, Sakura berjongkok dan mulai memasukkan semacam besi pipih ke dalam lubang kunci. Sai meringis lebar ketika menyadari tingkah laku agen wanita ini, ternyata ini alasan khusus Kakashi Hatake memilih Sakura? Wanita ini memiliki keahlian membuka bermacam-macam kunci alias lockpick.

"Che, tak kusangka. Ternyata tidak sia-sia kakashi memilihmu jadi anggota tim ini…" ujarnya sinis sambil terus menatap punggung wanita berambut soft pink itu, "Aku baru tahu ternyata kemampuanmu adalah lockpick?"

"Terkejut, Sir?" balas wanita itu sambil balas tersenyum, pintu itu berhasil dibuka dalam waktu yang singkat, "Atau merasa beruntung karena aku memiliki sedikit keahlian?"

"Huh, anggap saja begitu," balasnya singkat sambil menekan salah satu lubang telinga yang memiliki earpiece, "Disini Sai, sector clear. Agen Hinata… Kau bisa masuk, over."

.

Naruto adalah personil tim yang tidak ikut masuk ke dalam ruangan kantor itu, dia diharuskan menjaga dan melaporkan setiap pergerakan di luar. Sai lebih dulu masuk lalu menembak kamera CCTV di ujung langit-langit dengan senjata berperedam. Hinata mengikuti kedua anggota tim lainnya, ia menutup dan mengunci pintu lalu berjalan ke arah sebuah meja kerja. Terdapat banyak berkas-berkas yang berserakkan tak beraturan disana, mereka mulai mencari petunjuk. Dengan sarung tangan yang menghilangkan sidik jari, mereka membuka satu per satu dokumen dan menjelajahi ruang demi ruang. Gedung yang cukup sempit itu hanya berisi sebuah kamar, ruang kerja yang menyatu dengan sofa, mini-kitchen yang dipisahkan oleh sekat di sebelah ruang kerja, juga sebuah kamar mandi.

Sakura masuk ke dalam kamar tidur, mendapati ruangan kosong dengan televisi yang masih menyala, lemari-lemarinya kosong meskipun keadaan tempat tidurnya cukup berantakan. Ia juga menembak kamera CCTV yang terpasang. Kemudian Sakura melihat sebuah baki bekas makanan di atas meja kecil dalam kamar itu, juga beberapa potong pakaian yang ditumpuk di sebuah kursi. Dilihat dari ukurannya, pakaian itu digunakan untuk anak kecil berukuran sepuluh sampai dua belas tahun.

Sai masuk ke daerah dapur yang disekat, hanya mendapatkan kantong-kantong makanan yang memenuhi tempat sampah. Beberapa tumpukan piring kosong juga tampak dibiarkan begitu saja, dia kembali ke arah meja kerja. Berada di samping Hinata Hyuuga yang masih fokus sambil memegang beberapa dokumen. Sang ketua lapangan ini hanya diam dan membiarkan agen wanitanya melanjutkan pemeriksaan, mengetahui kemampuan dan alasan mengapa Kakashi Hatake memilihnya.

"Kukira ini tempat Sora disekap," Sakura Haruno keluar dari kamar, "Di kamar terdapat baju yang pantas dipakai anak seumuran target kita. Menemukan sesuatu yang berguna di tempat lain?"

"Ruangan ini jarang dipakai, mereka hanya membeli makanan dari luar dan bekasnya dibiarkan begitu saja. Sepertinya mereka baru pergi beberapa jam yang lalu," Sai menanggapi, "Kita masih menunggu hasil dari Hinata. Sakura, tolong kau periksa keadaan Naruto… Aku akan mengecek arah jendela."

.

"Ketua Sai, aku sudah selesai." tiba-tiba Hinata menyahut.

Sakura mengangkat kedua alisnya, memeriksa dokumen-dokumen itu dalam waktu secepat kilat? Dimatanya Hinata Hyuuga tampak seperti bukan manusia, bagaimana bisa? Berlainan dengan ekspresi Sakura, Sai yang sebelumnya telah membaca berkas mengenai Hinata tampak sangat tenang. Dia hanya mengangguk dan menyuruh Hinata mengembalikan semua dokumen ke tempat semula. Sakura baru menyadari kemampuan Hinata ketika gadis itu dengan cepat dapat menyusun urutan kertas sama persis dengan keadaan sebelum mereka masuk. Pasti ini adalah alasan Kakashi memilih Hinata, sekaligus mengapa gadis bermata lavender ini memiliki kualifikasi bergabung dengan tim. Hinata memiliki keahlian photographic memory, yaitu sebuah kemampuan untuk mengingat gambar, suara, atau objek lain dengan ketepatan tinggi.

"Baiklah, setelah Hinata selesai menata dokumen itu kita akan segera-"

"Perhatian, disini Naruto. Yellow alert, ada seseorang menuju ruangan kalian. Over." suara Naruto dari alat transmisi memotong perkataan Sai.

Sai langsung menunjuk kedua agennya untuk mencari tempat bersembunyi.

"Aku tidak dapat mengambil tindakan dari sini. Red alert, dia berada di depan pintu, over." Naruto memberikan beberapa gambaran lalu kembali diam.

.

Bunyi anak kunci yang dimasukkan ke dalam lubang pintu mengukuhkan keberadaan pria asing yang dicurigai sebagai salah satu komplotan Akatsuki. Hinata dan Sakura telah bersembunyi di balik sekat dapur, sementara Sai memilih bersembunyi di balik pintu kamar tidur. Terdengar suara pintu yang terbuka lalu kembali ditutup, keadaan hening kembali. Tampaknya orang ini menyadari ada penyusup masuk dari kamera CCTV yang dirusak. Baik para agen Konoha maupun pihak musuh, mereka sama-sama siaga dengan senjata di tangan. Terdengar suara kokangan senjata dan langkah kaki yang perlahan-lahan mendekat ke arah pintu kamar. Dengan mengendap-ngendap dalam kesunyian, Sai menyadari lawannya menuju tempat ia bersembunyi. Cengkeraman tangannya pada senjata api semakin erat, ia mengambil ancang-ancang menembak ketika kenop pintu kamar tidur mulai berputar dan terbuka.

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter tujuh selesai dan publish tanggal tujuh juga…

Chapter kali ini seperti yang sudah dibaca di atas… Kepotong-potong? Hahahaha xD Mohon maaf kalau fic ini masih banyak kekurangan *garuk-garuk kepala*. Tim baru sudah berkumpul dan sedikit demi sedikit kemampuan mereka diperlihatkan, sebenarnya Kakashi memilih anggota Proyek Suna ini dengan keahlian masing-masing. Kemampuan Byakugan Hyuuga akhirnya saya kaitkan dengan photographic memory, Sakura punya kemampuan lockpick, Sai seperti yang udah dijelasin dia ahli menganalisa sekaligus menyerang makanya jadi ketua (meskipun sifatnya yang super cuek), dan Naruto juga punya keahlian tersendiri.

Terima kasih banyak buat yang review di chapter enam :

Blue Pink Uchiha : Jangan panggil saya senpai karena nggak ngerasa pantas, hahaha. Sasu x Naru, nantikan pertemuan antara dobe dan teme di chapter depan :D

Alisha Blooms : halo, Alisha-chan! terima kasih buat reviewnya. Ratingnya belum perlu naik untuk chapter ini, mampir lagi yaa…

Alluca : Terima kasih buat reviewnya dan syukurlah kalau suka sama ceritanya… Saya sudah update nih!

Afisa UchirunoSS : Arigatou! Salam kenal juga dan maaf buat kesalahannya… Sudah saya edit kok. Mampir buat RnR lagi ya di chapter ini? :D

nadialovely : Siaap, saya update tiap tanggal 7 dan 20an (bisa selisih 1-2 hari lebih lambat / cepat hehehe).

Roquezen : Thanks! Iya nih pakai jadwal sekarang, kadang buntu ide juga sih. Sist ditunggu RnRnya lagi untuk chapter kali ini…

Ichisaint : terima kasih udah menyempatkan baca cerita saya *nangis terharu* Iya saya update nih tanggal 7 ^^

Guest : Sakusasu momentnya belum ada di chapter ini huhuhu maaf…

Gohara01 : thank you reviewnya dan saya update lagi sekarang.

Saika Tsuruhime : Saya udah update nih Tsuru-chan, kekekeke. Ngga kok belum jadi rated M, tenang~

AcaAzuka Yuri chan : Saya udah update nih, thank you banget udah menyempatkan baca. Tenang rated M itu masih buat jaga-jaga, untuk sementara saya belum berniat menaikkan rating kok. Saya tunggu komennya untuk chapter ini juga lho! :)

Mizuira Kumiko : Aloha juga senpai~ Saya update nih, gimana tanggapannya buat chapter 7 ini? Membosankan-kah? Ditunggu RnRnya lho hehe.

.

Dan untuk chapter ini juga…

Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!

Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 20)!