SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

Note :

- Genre : Adventure / Mystery / Romance

- AU : Alternate Universe, OOC, Death chara, typo, Rating T

- Tolong reviewnya (syukur kalo fave dan follow) yaa semua, makasih :)

.

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 8 : CHANCE

.

.

Suna's Hidden Laboratory – Basement

Salah satu peneliti berjubah putih panjang mundur dari mejanya setelah sibuk menatap berkas-berkas, ia menoleh. Dengan kacamata yang posisinya berada di tengah batang hidung- layaknya seorang peneliti ia menatap anak itu, sedikit mendelik. Anak kecil yang ditatapnya hanya menatap kosong, tubuhnya yang bertelanjang dada dipenuhi serangkaian kabel dan alat-alat ilmiah, semuanya tersambung pada monitor. Di sebelahnya juga berdiri seorang wanita yang melipat kedua tangannya sambil bersandar pada dinding, mengamati dalam diam. Sasuke Uchiha yang mengantarkan anak itu harus pasrah menunggu di luar selama pemeriksaan berlangsung, sang pemimpin Akatsuki hanya memperbolehkan Sora ditemani seorang wanita yang merupakan orang kepercayaannya.

Terdengar sebuah dering telepon yang memecah keheningan di dalam ruangan, dengan gestur lembut wanita berambut kebiruan ini menggapai ponsel dan menekan tombol 'terima'. Tanpa berkata-kata, ia hanya mendengarkan ocehan dari sang penelepon sambil sesekali bergumam untuk memperjelas instruksi. Tidak lama setelah komunikasi terputus, ia berjalan mendekati bocah berusia sepuluh tahun yang sama sekali tidak menatapnya. Lebih tepatnya, tidak menganggapnya ada. Wanita ini sama sekali tidak peduli pada tingkah laku bocah tanggung di hadapannya. Masih dengan tangan yang terlipat, ia berada di hadapan bocah yang duduk seperti patung.

"Sora-sama, Anda harus pergi denganku sekarang…" ujarnya singkat lalu menatap sang peneliti, "Maafkan kelancanganku mengganggu pemeriksaan, dokter. Ini perintah, dari Beliau."

Bocah itu terkejut, mau tidak mau ia menatapnya dengan tatapan tajam seakan salah dengar, "Pergi? Aku tidak akan pergi bersamamu, wanita ular. Aku lebih memilih bersama si bocah Uchiha daripada wanita pengkhianat sepertimu, panggil dia kesini."

"Hmm… Wanita ular?" wanita bermata abu itu justru tertawa kecil, "Kau cukup pandai memilih sebuah julukan untukku, Sora-sama. Tapi sayangnya kau tidak punya hak untuk mengatur apapun disini. Aku yang ditugaskan Beliau untuk menemanimu, entah kau suka atau tidak…"

"Che. Hatimu ternyata tidak secantik parasmu ya," lanjut Sora dengan nada sarkastik, "Pemerintah Konoha terlalu bodoh dengan mempercayai pengkhianat sepertimu… Konan."

.

Konan memalingkan wajah dan tidak menggubris perkataan sinis dari tawanan Akatsuki itu, ia hanya menoleh pada pria dengan jubah peneliti lalu mempersilakannya untuk menghentikan penelitian. Pria yang disebut 'dokter' itu segera mengangguk, ia berdiri dari kursinya lalu melepas satu per satu alat penelitian yang masih menempel di tubuh Sora. Membantu anak itu mengenakan lagi pakaiannya, sedangkan Sora yang tampaknya telah terbiasa hanya terpaku tanpa sedikit pun memberontak layaknya anak normal berusia sepuluh tahun. Lalu tanpa sekali pun menyentuh apalagi memaksa anak itu agar mengikutinya, Konan berjalan seorang diri ke arah pintu keluar. Ia berhadapan dengan sang keturunan Uchiha yang menunggu di sebuah kursi, bola mata keduanya saling beradu saat bertatapan.

"Gedung 589 diketahui oleh Konoha," ujar Konan begitu keluar dari ruangan, "CCTV yang dipasang dirusak, dari rekaman terakhir jumlah penyusup tiga orang."

Sasuke terkejut, ia terbelalak dan seketika itu juga ia berdiri. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangan begitu mendengar kata 'Konoha'. Ia bermaksud mencari informasi, namun sebelum ia bertanya macam-macam, wanita anggun di hadapannya ini lebih dulu mengangkat satu tangan ; menyuruhnya diam. Keturunan Uchiha ini mengurungkan perkataannya, tidak mengerti.

"Saat ini mungkin Deidara sudah sampai di lokasi. Kau ditugaskan untuk membakar barang bukti, dan siapa tahu mereka masih ada disana… Lenyapkan mereka," lanjutnya dengan tenang, "Itu perintah langsung dari Beliau."

Sasuke mengerutkan alisnya, karena gedung 589 adalah tempat Sora disekap maka tidak akan aman baginya untuk kembali ke tempat yang sama. Apa pimpinan Akatsuki masih ragu akan loyalitasnya? Atau mungkin pria itu berpikir Sasuke akan berkhianat dan kembali ke Konoha? Yang lebih mengganggunya lagi adalah ; apakah sosok berambut soft pink itu juga tertangkap oleh kamera CCTV?! Ia cemas. Posisi teman masa kecilnya itu dalam bahaya, karena Akatsuki dapat dengan mudah melacak keberadaan Sakura Haruno dan teman-temannya di Suna. Termasuk mengetahui kemungkinan terkuaknya informasi bahwa Sasuke Uchiha mengenal Sakura sejak kanak-kanak, itu akan menyulitkan posisinya. Sasuke menggelengkan kepala, mencoba mengusir semua kekhawatiran yang menghantamnya saat ini.

"La-Lalu bagaimana dengan bocah itu?!" akhirnya ia memutuskan bertanya.

.

Pembicaraan mereka berdua terpotong oleh suara pintu yang berdebam, di belakang Konan kini muncul Sora yang menatap keduanya dengan pandangan kosong. Seakan-akan tidak peduli, namun di sisi lain ia menunjukkan gestur enggan pergi dengan sang 'wanita ular'. Informan kepercayaan Konoha yang ternyata mengkhianati negaranya sendiri. Bocah ini berjalan dengan kasar melewati punggung Konan tanpa sekali pun menggubris keberadaannya, sementara Konan hanya membalasnya dengan lirikan malas, bola mata abunya melihat pergerakan Sora sekilas sebelum kembali terfokus pada Sasuke. Ia tersenyum kecil menanggapi wajah tampan Sasuke Uchiha diliputi raut kebingungan.

"Jangan cemas. Sora-sama akan lebih aman bersama wanita, Sasuke..." Ia mengedipkan satu mata lalu berjalan meninggalkan Sasuke yang masih terpaku, Konan melambaikan tangannya tanpa sekali pun menoleh ke belakang, "Good luck."

.

.

.


Office Building No. 589

Baik para agen Konoha maupun pihak musuh, mereka sama-sama siaga dengan senjata di tangan. Dengan mengendap-ngendap dalam kesunyian, Sai menyadari lawannya semakin mendekat. Cengkeraman tangannya pada senjata api semakin erat, ia mengambil ancang-ancang menembak ketika kenop pintu kamar tidur mulai berputar dan terbuka. Kenop pintu itu berputar, perlahan tapi pasti pintu kamar pun terbuka. Hening. Keduanya masih berada di tempat masing-masing, mengamati keadaan. Sai yang berada di belakang pintu menahan napas dan mengeratkan genggaman pada senjata.

Gerakan tiba-tiba dari kawanan Akatsuki mengejutkannya, pria berambut kuning ini mendorong daun pintu dengan kasar dan hampir menghantam tubuh Sai. Dari tempat persembunyiannya Sai menyerbu, ia merunduk dan memotong pergerakan orang asing yang mengancam nyawanya. Suara erangan dari anggota Akatsuki mengukuhkan lawannya adalah seorang pria, Sai menepis senjata api pria itu dengan satu serangan. Rambut pirangnya yang panjang diikat ke atas sementara sebagian lainnya dibiarkan terurai di bagian kiri wajah, ia melihat lingkaran hitam di sekitar mata lawannya.

Kini giliran pria berambut pirang yang menyerang penyusup. Didorongnya tubuh Sai ke arah tembok, satu tangannya menggenggam pergelangan tangan kanan Sai. Ia tidak memberikan kesempatan agen Konoha ini untuk menembak, susah payah ia menahan tenaga pria berambut hitam yang terus berusaha melawan. Sai mengarahkan tinju kanannya pada bagian dada lawan, dengan sekuat tenaga ia menendang tubuh pria itu menjauh hingga terjerembap pada ujung ranjang. Belum sempat berdiri atau menghindar, ketua tim Konoha ini menembak kaki sang anggota Akatsuki. Pria pirang itu berteriak kesakitan ketika kaki kanannya ditembus timah panas, namun Sai tidak memberi ampun. Ia menghampiri tubuh lawannya lalu meninju wajahnya berkali-kali.

.

Dengan tangan kiri Sai menarik kerah si jubah hitam agar pria itu berada dalam posisi duduk sementara pistolnya terarah di bagian pelipis sang Akatsuki. Pria di hadapannya tampak tenang meskipun dirinya ditodong sebuah senjata. Ia juga tahu pria asing ini akan menginterogerasinya dengan macam-macam pertanyaan, memar bekas tinjuan pada wajah tidak akan membuatnya jera. Pria itu hanya meringis melihat agen Konoha tengah mengancamnya dengan senjata.

"Siapa namamu?" tanya Sai.

Ia memilih untuk bisu, membuat Sai berdecak kesal.

"Aku tanya siapa namamu?!"

"Percuma saja, bodoh. Kau tahu mulutku tertutup rapat…" jawab pria itu dengan nada arogan, "Anjing Konoha rupanya?"

Sai yang terlatih untuk hal semacam ini, memilih melakukan 'pendekatan' kedua. Senjata yang diarahkan di pelipis kini diturunkan lalu dengan ujung larasnya ia menekan luka tembakan pada kaki lawannya. Seketika itu juga pria arogan dalam cengkeramannya berteriak kesakitan, namun ia tidak dapat bergerak karena tertahan oleh bobot tubuh Sai.

"Jawab pertanyaanku," kata Sai sambil terus menekan luka itu sekuat tenaga, "NAMAMU!"

"Dei… Deidara…"

Sai mengendurkan tusukannya pada luka pria malang itu, ia menoleh karena mendengar suara lain mendekat. Dari balik pintu muncul Sakura dan Hinata yang telah keluar dari tempat persembunyian, mereka berdua masih siaga dan mengarahkan senjatanya. Keduanya bernapas lega karena mendapati ketua tim Suna ini berada di atas tubuh lawan yang terluka, sedang menginterogerasi dengan caranya sendiri. Sai memerintahkan agar kedua agen wanita itu membereskan bukti yang diperlukan lalu menemui Naruto di luar, sementara ia masih harus berurusan dengan Deidara. Setelah memberikan instruksi dan kedua anggota wanita itu keluar dari kamar, ia kembali menatap pria berambut pirang dan tersenyum dingin pada tawanannya yang sedang kesakitan.

.

"Oke, Deidara… Aku tidak akan banyak bicara lagi, cara main kita adalah aku bertanya dan kau menjawab. Mudah dan kau pasti mengerti, kan?" katanya dengan nada datar, "Dimana Sora?"

"Che, tolol. Bunuh saja aku!"

Sai hanya terkekeh melihat jawaban tawanannya, tangannya kembali menekan luka di kaki Deidara yang selalu sukses membuat pria itu berteriak, "Tentu, tentu saja kau akan mati. Tapi bukan itu jawabannya… Sekali lagi kutanya, dimana Sora?"

"AAarrrghh! Ukh, si-sialan! Percuma. Cara lama tidak akan berlaku lagi untukku, anjing Konoha!" Deidara masih menghindar meski luka yang ditempelkan laras pistol begitu menyiksanya, ia tidak punya pilihan lain. Nyawanya toh akan melayang entah dari kubu Akatsuki atau Konoha.

.

Pria berambut raven hitam ini mengangguk pelan seolah-olah mengerti. Cengkeramannya pada jubah mengendur, Sai kini menutup mulut besar pria itu. Tanpa disangka, satu lagi peluru menembus kaki kiri Deidara. Ia terbelalak dan seketika itu juga berteriak kesakitan. Agen Konoha ini langsung menekan kuat-kuat mulut Deidara agar teriakannya tidak terdengar sampai ke luar, raut wajahnya terlihat begitu tenang nyaris tanpa ekspresi. Kontras dengan tawanannya yang berkeringat dingin dan terengah-engah menahan rasa sakit atas dua tembakan dari pria yang sama. Darah yang keluar dari luka tembakan baru itu merembes dari celana dan ikut menggenangi karpet kamar. Agen Konoha itu diam sesaat, menunggu tawanannya berhenti mengerang.

"Usul yang bagus. Kalau begitu apa kita bermain dengan cara baru? Setiap kau mengelak, aku akan melubangi kakimu dengan peluru, Deidara…" wajah Sai sedikit menunduk dan ia berbisik pada lawannya yang diakui bermulut rapat itu, sebuah senyum dingin tergambar dari sudut bibirnya, "Aku mulai bosan dengan pembicaraan kita. Jadi… Untuk ketiga kalinya aku bertanya, dimana kalian menyembunyikan Sora?"

Respon diam dari lawannya yang belum jera membuat Sai lagi-lagi mengarahkan senjatanya menuju salah satu sudut kaki Deidara, tawanannya berontak. Mencoba berteriak namun mulutnya masih tertutup oleh tangan Sai. Melihat lawannya mulai menunjukkan tanda-tanda akan bekerjasama, Agen Konoha ini perlahan menurunkan tangan kirinya dari mulut Deidara. Ia masih menunggu jawaban. Deidara menahan sakit sambil memincingkan mata, tidak percaya agen Konoha mengambil langkah ini untuk membuka mulutnya.

"Ba-baik… Dia, seharusnya disini…" napas pria ini terengah-engah, "Sepertinya… Dia diambil oleh yang lain. Aku tidak tahu kemana. Su-sungguh!"

.

"Apa rencana besar Akatsuki?"

"Ti-tidak tahu. Semuanya… Rahasia," kini Deidara hanya bisa bekerjasama dengan menjawab pertanyaan sang Agen Konoha di hadapannya, "Aku tidak tahu-menahu! Percayalah!"

Sai hanya mengangguk singkat, "Lalu… Apa kau yang menembak mobil van biru?"

Deidara langsung menggeleng dan dari gerak-geriknya, Sai menangkap sepertinya ia jujur. Satu jawaban jujur tidak pernah membuatnya puas, pria berambut hitam ini menghela napas.

"Atau… Membunuh satu anggota timku di Suna Market?" pertanyaan itu kontan membuat lawannya terpaku dan Sai dengan mudah mengambil kesimpulan, "Oh, wow… Pantas, aku familiar dengan sebutan 'anjing Konoha' yang kau ucapkan melalui transmisi. Ternyata KAU orangnya?"

Perkataan itu hanya ditanggapi dengan mata terbelalak dan Deidara menahan napas, pucat.

Berbanding terbalik, Sai justru menyeringai lebar, "Kau tahu? Akan kukabulkan permintaanmu untuk mati. Berterimakasihlah, Deidara."

Dengan satu gerakan pasti ia menempelkan laras pistol di dahi Deidara dan dalam sepersekian detik menarik pelatuknya tanpa ragu. Bunyi tembakan yang terhalang oleh peredam itu menjadi saksi dari sebuah lubang yang bersarang di dahi salah satu anggota Akatsuki, pembunuh Yuki. Deidara tewas seketika, meninggalkan cipratan darah pada sprei ranjang yang berwarna putih. Tubuhnya merosot hingga tergeletak di atas karpet, tidak bernapas lagi.

"Ini balasan untuk Senior Yuki," gumam Sai di hadapan mayat Deidara.

Ia mengecek barang bawaan Deidara dan mengambil satu-satunya ponsel yang dimilikinya. Dia mengecek pesan masuk dan kontak telepon yang terdaftar, namun hanya mendapatkan satu nomor yang menghubunginya. Disana tertulis : KABUTO. Pria ini segera mencatatnya, lalu melemparkan ponsel tersebut ke pangkuan jasad Deidara. Sai bangkit dan sebelum berjalan menuju pintu keluar, sekali lagi ia menatap seisi ruangan. Selangkah demi selangkah ia berjalan meninggalkan jasad anggota Akatsuki yang telah terbujur kaku di kamar, sekaligus mengukuhkan kemenangannya.

.

.


Naruto Uzumaki mengerahkan segenap tenaganya untuk mengejar sosok pria berambut raven dengan kemeja hitam yang lari setelah melihat bayangannya di salah satu sudut gedung 589. Jantungnya yang berdegup kencang terstimulasi akibat aliran darahnya yang mengalir cepat dari kejar-kejaran sekaligus perasaan yang tidak menentu. Dia melihat sosok sahabatnya, Sasuke Uchiha. Tanpa memedulikan sisa misi dari Sai, pria ini berlari meninggalkan posisinya. Pasangan sahabat yang dijuluki dobe dan teme di akademi ini melesat menelusuri lorong di sekitar gedung perkantoran. Sasuke yang tidak mengira pria ini juga dikirim ke Suna, memilih menghindar. Ia berlari menuju mobil hitam yang terparkir di dua blok ke depan dengan alasan keamanan, mencari jalur alternatif apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Seperti halnya saat ini.

"SASUKEEE!" Naruto berteriak kencang dari belakang setelah menjauhi lokasi gedung 589, napasnya terengah-engah karena berusaha menyamai kecepatan pria di hadapannya. Stamina keduanya cukup terkuras, namun tidak ada satu pun yang berinisiatif berhenti.

Tidak sebelum Naruto berhasil berada beberapa hitungan jarak dari sang keturunan Uchiha. Ia melompat lalu menerjang tubuh itu dengan bobot tubuhnya, menabraknya serampangan. Sasuke yang lengah akhirnya terhuyung dan kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjerembab tertimpa oleh agen Konoha itu. Terhimpit. Namun dengan satu gerakan solid, pria ini menyikut wajah Naruto yang berada di belakang kepalanya, sukses membuat pria berambut kuning ini mengerang lalu berguling ke samping. Keduanya terengah-engah dan susah payah berusaha mengatur napas masing-masing, mencoba berdiri. Bermaksud kembali lari, namun ia sedikit terlambat. Sasuke kehilangan beberapa hitungan saat tubuhnya kembali didorong Naruto hingga terhempas ke atas tanah, debu-debu yang beterbangan mengotori rambut hitamnya.

Selama ini ia tahu sahabatnya adalah lawan tertangguh di akademi dalam hal pertarungan tangan kosong, nilai mereka selalu sempurna dalam pelajaran martial arts. Tapi sosok yang kini ditemuinya dalam kurun waktu tiga tahun ini telah berubah jauh lebih kuat, Sasuke cukup terkejut. Tentu saja ia tidak mengetahui perkembangan Naruto dalam tiga tahun terakhir, termasuk alasan Kakashi Hatake memilihnya masuk dalam Tim Suna. Keahlian Naruto adalah stamina dan kemampuannya dalam pertarungan jarak dekat, baik dengan senjata api, bantuan melee, maupun dengan tangan kosong. Hal ini pula yang membuat karirnya melesat naik.

.

"APA YANG MEMBUATMU JADI ANGGOTA AKATSUKI KEPARAT ITU, HAH?!"

Teriakan Naruto membuyarkan lamunannya. Pria itu menarik kerah baju Sasuke hingga kepalanya terangkat dari tanah, mengguncangnya penuh emosi. Keturunan Uchiha ini tetap tidak bergeming, mata hitamnya menangkap bola mata biru yang memandangnya dengan tatapan kecewa.

Jemari Sasuke berada di kerah belakang kemeja Naruto, menariknya sekeras mungkin. Satu tinjuan berhasil ditanamkan pada pipi pria itu, ia membalikkan keadaan dan membanting tubuh lawannya membentur tanah. Pistol milik Naruto ikut terlempar, yang tentunya segera dienyahkan Sasuke dengan cara menendangnya jauh-jauh. Naruto mencoba balas memukul, sayangnya sebelum berhasil Sasuke lebih dulu menghantamnya dengan dua-tiga serangan berturut-turut. Naruto mengerang. Bukan hanya kemampuan Naruto yang meningkat, pengalaman Sasuke di Akatsuki juga tidak dapat dianggap remeh. Sasuke yang kehilangan rasa simpati pada sahabatnya itu berniat melayangkan satu serangan lagi.

"Seharusnya aku yang mati di tebing itu!" ujar Naruto tiba-tiba. Perkataannya membuat tinju Sasuke yang tengah melayang tiba-tiba terhenti di udara, "Setiap malam aku menyesalinya, seharusnya kau yang lari bersama Sakura dan meninggalkanku terbunuh, teme! Tiga tahun, kau tahu?! Aku terpuruk ketika kau tidak ditemukan, ketika kau dinyatakan mati! Tapi ternyata… Ka-kau… SIAL!"

Dengan satu pijakan, Naruto menendang Sasuke tepat di bagian perut. Memaksa teman masa kecilnya itu menjauh, terjungkal ke belakang. Tidak dihiraukannya Sakura dan Hinata yang berulang kali memanggil namanya dari alat transmisi. Saat ini sepertinya Sakura dan Hinata baru saja keluar dari ruangan Akatsuki setelah menerima instruksi Sai, dan mereka tidak menemukan keberadaan pria berambut kuning itu di tempat yang seharusnya. Tidak mendengar panggilan mereka. Bukan. Bukannya tidak mendengar, tapi Naruto Uzumaki saat ini hanya terfokus pada sang keturunan Uchiha yang membuat masa-masa hidupnya begitu sulit. Antara bahagia menemukannya hidup, atau harus marah pada kenyataan? Napasnya masih memburu seiring dengan rasa panas dari memar di wajahnya.

.

.

"Tololnya aku," nyeri dari beberapa pukulan di wajah Naruto kini mulai terasa ngilu tapi ia tidak peduli, "Tak kusangka tiga tahun ini aku sudah berbuat bodoh… Merasa diriku tidak berguna, padahal… Padahal kau masih hidup! Bahkan bergabung dengan komplotan Akatsuki! APA KAU SUDAH GILA?!"

"Berisik," tanpa ragu Sasuke bangkit dan mencabut Springfield keluar dari holster. Ia mengarahkan laras handgun itu pada sahabat lamanya yang terbelalak dengan memar di wajah, "Aku tidak peduli pada kisah melankolismu, dobe."

Mata biru Naruto hanya menatapnya dengan kehampaan, dia tidak percaya Sasuke mampu mengangkat senjata dan membidiknya tanpa ragu. Dari sana Naruto melihat… Lebih tepatnya, menyadari. Pandangan Sasuke Uchiha berubah, tatapan itu lebih dingin dari yang dikenalnya tiga tahun lalu. Dia bukan sahabat yang melindunginya di tebing, bukan saingannya dalam semua bidang pelajaran di akademi, juga bukan si jenius yang menjadi kebanggaan Akademi Konoha. Begitu kelam, segelap warna matanya yang hitam. Apa yang terjadi padanya selama tiga tahun terakhir?

Ia berubah.

"Sasuke-teme, apa yang terjadi padamu?" Naruto hanya bergumam kecil, bibirnya kaku.

"Hn? Ini bukan waktu yang tepat untuk sesi cerita, dobe…" Senyuman kecil tampak dari sudut bibir Sasuke yang masih terus mengarahkan senjatanya, dia bersiap-siap menarik pelatuk.

.

.


.

"JATUHKAN SENJATAMU!"

Teriakan lugas itu mengagetkan sang dobe dan teme yang masih terlibat 'reuni' yang tidak diinginkan. Kedua pria itu tercengang, apalagi setelah Sasuke menyadari dari belakang Naruto yang masih tersungkur kini muncul dua wanita yang tengah berlari. Jarak mereka hanya beberapa meter dan keduanya sama-sama membidik tubuh Sasuke dengan senjata api. Di antara keduanya, hanya satu yang dikenalnya. Yang menarik perhatian Sasuke Uchiha. Rambut soft pink-nya yang sedikit berantakan karena diterpa angin saat berlari, napasnya yang masih terengah-engah dan beberapa bulir keringat yang menetes di kening wanita itu.

Dia… Sakura Haruno. Tanpa disadari alam bawah sadar Sasuke langsung menangkap setiap detil keadaan wanita itu. Inilah reuni tiga sahabat, dalam situasi dimana Sakura menodongkan senjatanya untuk Sasuke… Dan Sasuke yang juga tengah membidik Naruto Uzumaki.

Ironis.

"Sasuke, jatuhkan senjatamu!" teriak Sakura sekali lagi.

Ia mengurungkan niat untuk menghancurkan kepala Naruto dengan peluru, ditariknya kerah baju pria berambut kuning yang masih terduduk hingga berdiri. Tinggi badan keduanya cukup seimbang, Sasuke mendengus. Kini sebelah tangan kiri Sasuke merangkul leher Naruto dari belakang, dan tangan kanannya tetap siaga dengan senjata api. Diarahkannya pistol itu ke daerah wajah Naruto, membidiknya di bagian samping leher. Ia menggunakan tubuh Naruto Uzumaki sebagai tawanan menghadapi dua agen Konoha yang juga bersenjata. Cengkeramannya di leher Naruto cukup kencang, membuat pria ini sia-sia ketika berontak. Kedua tangan Naruto berada pada tangan Sasuke, mencoba mengurangi tenaga dari lengan yang mencekiknya.

Sakura dan Hinata yang masih membidik pun kebingungan. Sai? Dia masih belum selesai dengan kawanan Akatsuki di gedung 589, kedua agen hijau ini ragu. Apa yang harus mereka lakukan?!

.

"Turunkan senjata kalian atau dia kutembak," Sasuke mulai memberikan instruksi dengan tenang.

Hinata yang bingung, melirik ke arah Sakura. Mata lavendernya hanya menatap raut cemas dari rekannya itu, dia kembali terfokus pada Sasuke Uchiha. Jemarinya-lah yang pertama kali menurunkan pistol, sementara Sakura masih tetap siaga. Beberapa detik berlalu, Hinata sepenuhnya telah menurunkan senjatanya, ia tidak punya pilihan lain. Apalagi tawanan pria itu adalah Naruto Uzumaki. Sasuke masih menunggu Sakura menurunkan senjata, tapi tidak terjadi.

"Turunkan senjatamu juga, Nona." ujar Sasuke mengarah pada Sakura.

.

'Nona?'

Sakura terhenyak, hatinya terasa sakit ketika Sasuke tidak menyebut namanya.

.

.

"Kau… Tidak akan menembak Naruto," Sakura mencoba mengatasi perkataannya yang bergetar karena rasa takut, "Sasuke, kumohon jangan lakukan ini."

"Hn."

Sasuke mengarahkan pistolnya ke tanah dan dalam sekejap menembakkan satu tembakan di antara kaki Naruto. Jarak lubang dan sepatu Naruto hanya tersisa beberapa sentimeter, pria ini mencoba menggertak Sakura Haruno sebelum benar-benar harus menembak Naruto… atau keduanya. Baik Sakura dan Hinata, keduanya mengerjapkan mata karena terkejut. Akhirnya perlahan-lahan Sakura menurunkan bidikannya dari Sasuke, perlawanannya akan membawa Naruto pada celaka… Wajah Sasuke tetap terlihat datar saat kedua Agen Konoha ini menurunkan senjata.

"Letakkan senjata kalian," katanya lagi dan dalam beberapa hitungan kedua pistol telah tergeletak di atas tanah, "Tendang sejauh mungkin dari jangkauan... Lakukan!"

Begitu kedua wanita itu menjauhkan senjata api dari jangkauannya, Sasuke bersiap-siap mundur. Ketiganya kini tidak bersenjata, namun tetap memungkinkan setelah beberapa meter berlari… Agen terpilih dari Konoha ini akan mengejar bahkan menembaknya. Sasuke tidak ingin mengambil resiko, ia harus tetap menyandera satu orang. Pilihannya jatuh pada satu-satunya agen yang tidak dikenalnya, Hinata Hyuuga. Setelah berhasil melarikan diri, pria ini dapat dengan mudah meninggalkannya, atau bahkan membunuhnya seperti sampah.

"Kau, Nona berambut biru…" Sasuke mengarahkan senjatanya pada Hinata seperti menunjuk, "Maju. Kau akan menggantikan posisi dobe sebagai sandera sampai aku yakin kalian tidak mengikutiku."

Hinata Hyuuga terkejut.

"A-apa?!"

"Sasuke, hentikan." Sakura lagi-lagi memberanikan diri maju selangkah, "Kau akan melukai Hinata dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jadi… Biarkan aku yang menggantikan gadis ini menjadi sandera."

Bukan hanya pria berambut raven hitam ini yang terkejut, Naruto dan Hinata juga terpaku begitu mendengar penawaran Sakura. Wanita ini menawarkan dirinya sebagai sandera pengganti Naruto Uzumaki?! Kedua alis Sasuke terangkat, menimbang-nimbang.

.

.


Sai mendapati tempat persembunyian Naruto kosong, dan kedua agen wanita itu juga tidak ada di tempat. Dipanggil beberapa kali lewat transmisi pun tetap tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka, apa mereka bertiga tertangkap pihak Akatsuki? Terbiasa berpikir jernih di saat kritis, ia langsung menghubungi Shikamaru. Dari pelacak yang ditanamkan pada ponsel para Agen Konoha, satelit dapat mendeteksi keberadaan mereka. Hasil deteksi itu lebih membingungkan lagi bagi Sai, ternyata ketiganya berada di lokasi yang sama ; hanya terpaut beberapa meter dari gedung 589. Apa yang mereka lakukan di tempat itu?!

Sai tidak pernah mengendurkan kesiagaan, pistolnya tidak pernah diistirahatkan pada holster. Pria ini berjalan dengan hati-hati mengikuti instruksi Shikamaru dari telepon, menyusuri sebuah lorong yang dipenuhi gedung-gedung perkantoran yang tidak beroperasi. Lorong itu cukup gelap meskipun cuaca di Suna panas terik, cahaya matahari tidak berhasil memberikan pencahayaan di sekitar lorong yang berdebu dan gelap. Langkahnya berhenti untuk sesaat, Sai mendengar suara rintihan. Ia mempercepat langkahnya, dan dalam jarak sepuluh meter ia melihat seorang pria yang terduduk. Di sampingnya, seorang wanita berambut biru gelap sedang bersimpuh dan sebelah tangannya bertumpu pada pundak sang pria. Hinata Hyuuga dan Naruto Uzumaki… Sai sedikit bernapas lega menemukan kedua anggota timnya selamat. Dua dari yang seharusnya berjumlah tiga orang.

Tapi anehnya dia tidak melihat seorang lagi, Sakura si ahli lockpick.

.

"Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa tidak menjawab panggilanku?" pertanyaan Sai mengagetkan keduanya. Mereka bersama-sama menoleh dengan wajah kalut.

Sai melihat memar-memar di sekeliling wajah Naruto, pipinya lebam dan pinggiran bibirnya berdarah. Mengerutkan alis, ia memalingkan pandangannya ke Hinata yang tampak kebingungan. Di samping tubuh keduanya, tampak tiga senjata api yang tergeletak, termasuk earpick yang digunakan untuk komunikasi antar transmisi, sebuah kotak lockpick, pisau lipat, dan ponsel. Bukan hanya benda-benda itu, tidak jauh dari tempat itu juga terdapat beberapa potong pakaian wanita, ia menebak itu bukan milik Hinata. Tapi milik Sakura Haruno yang menghilang. Sai tidak ikut berlutut seperti halnya Hinata, ia tetap berdiri dan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati kedua agen Konoha yang tersisa. Menunggu penjelasan dari keheningan tak berarti saat ini.

"Mana Sakura?" akhirnya dia bertanya.

Naruto menghela napas, ia hanya menunduk lemas sambil menggelengkan kepala.

"Sa-Sakura, Di… Dia tertangkap A-Akatsuki," jawab Hinata lemah, "Dia y-yang menggantikan Naruto, uhm… Me-menjadi sandera."

"APA?!" Sai sedikit menghardik akibat pengakuan gadis di hadapannya, "Siapa pelakunya?"

.

Mata hitam Sai bertatapan dengan lavender Hinata sebelum akhirnya ia mendapatkan jawaban. Jawaban yang membuat ketua tim Suna ini mengepalkan kedua tangan, geram. Dia tidak perlu bertanya dua kali untuk meyakinkannya, ia muak. Dasar sialan. Pantas saja keduanya tidak berkutik menghadapi pria ini, mereka hanya agen hijau yang tidak sanggup membunuh rekannya semasa di Akademi Konoha. Sekalipun kenyataan telah merubah pria itu berdiri di pihak yang berlawanan, sebagai musuh. Rasa simpati dan persahabatan di atas profesionalitas kerja, agen Konoha ini mendengus kesal. Sai mengumpat dan menyebut nama si pelaku itu dalam hati.

Sasuke Uchiha

.

.

.


"Lepas semua pelacak yang ada di tubuhmu, earpick, ponsel. Segala jenis senjata," Sasuke memincingkan mata, "Jika ada yang tersisa aku tidak segan membunuhmu, Sakura Haruno."

Wanita ini melakukannya persis seperti instruksi, seluruh barang bawaannya digeletakkan di atas tanah berdebu di pinggiran lorong. Bukan hanya senjata dan alat komunikasi, ia menanggalkan jam tangan, jaket, hingga sepatunya. Sebuah kemeja berwarna putih dan celana hitam adalah satu-satunya pakaian yang tersisa. Selama Sakura melucuti pakaiannya, Sasuke juga melempar sebuah pisau lipat yang ada di saku Naruto. Ditendangnya pria itu ke arah berlawanan, mereka diperintahkan mundur dan menjauh selama Sakura Haruno menghampirinya. Sakura yang menjadi sandera pengganti, menggantikan posisi dari Naruto Uzumaki.

Sasuke mencengkeram lehernya, meletakkan pistol di antara pelipis gadis itu. Perlahan tapi pasti keduanya berjalan mundur, memastikan kedua rekan Konoha tidak memanggil bantuan apalagi mengambil senjata yang telah dibuang. Baru ketika melewati satu blok dan tubuh Sasuke tertutup oleh dinding tikungan, pria Uchiha ini melepaskan cengkeramannya dari leher Sakura. Tubuh semampai itu ditarik paksa melewati jalanan Suna yang panas akibat terik matahari, susah payah wanita itu menyamai kecepatan penyanderanya. Bertelanjang kaki di tengah panas terik dan kasarnya aspal jalanan. Sasuke membuka pintu dan memaksa Sakura masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil secepat kilat lalu menghilang dari lokasi.

Bersama Sakura Haruno.

.

.


Sakura memejamkan mata, rasa perih dari panas dan luka-luka di telapak kakinya cukup menyiksa. Ia mencoba sekeras mungkin tidak merintih, sejak tadi keduanya hanya diam. Keadaan begitu dingin, hening. Sasuke mengemudikan mobilnya dengan kecepatan mengerikan, melesat melalui jalan-jalan yang asing bagi Sakura Haruno. Agen wanita ini berusaha menguatkan perasaannya sendiri, memaksa otaknya terus berpikir jernih. Ia sedang menjadi seorang tawanan pihak Akatsuki sekalipun itu Sasuke Uchiha! Di satu sisi, ia takut… Logikanya berkata pria ini berbahaya. Ia telah sepenuhnya berubah dari yang dikenalnya tiga tahun lalu. Ia seorang Akatsuki. Salah satu kawanan yang membunuh Agen Jiraiya dan Senior Yuki. Musuh Konoha. Penculik Sora. Rasa takut membuat wanita ini harus selalu waspada.

Tapi di sisi lain, Sakura mengakui… Ia merasakan sesuatu yang aneh.

Seolah-olah perasaannya berkata jika ia akan aman ketika bersama sang keturunan Uchiha

.

Mobil itu berdecit, Sakura terperanjat dan membuka kedua matanya. Sasuke yang tengah melaju di jalan bebas hambatan tiba-tiba mengambil jalur samping dan menginjak rem kuat-kuat. Sabuk pengaman yang terpasang membantu keduanya tidak terantuk pada dashboard, dan dalam beberapa detik mobil sedan hitam itu berhenti total. Sakura memalingkan pandangannya, menatap Sasuke di sampingnya. Kedua tangannya berada di kemudi, wajahnya yang tampan tampak tegang, napasnya sedikit tidak beraturan. Pria itu menoleh dan lagi-lagi menodongkan senjata, membuat nyali gadis itu menciut. Sakura Haruno terus berusaha mengatur emosinya, menunjukkan wajah setenang mungkin.

"Turunlah."

Sakura terbelalak, "A… Apa?"

"Turun dari mobilku," Sasuke menegaskan, "Aku sudah bilang jangan pernah bertemu lagi denganku, Sakura. Berikutnya, kau pasti mati."

Sakura Haruno terus menatapnya, tidak berkedip.

"Turunlah sebelum aku berubah pikiran!" hardik Sasuke sambil mengayunkan pistolnya.

Bukannya takut, ia malah tersenyum.

"Tidak." Tawanannya ini justru menggelengkan kepala.

.

Sasuke dapat menatap bayangan dirinya dalam iris emerald Sakura, ia tidak habis pikir. Apa wanita ini sudah gila?! Akan lebih mudah jika tadi agen bermata lavender yang menjadi tawanannya, ia tidak akan susah payah mengambil keputusan bodoh seperti ini. Dia tidak perlu menurunkannya di jalan raya karena setelah selesai menjadi sandera… Maka Sasuke akan melenyapkan nyawanya. Inilah hasil yang ia peroleh dari kehidupannya bersama Akatsuki, menghilangkan jejak. Mengelabui semua orang.

Tapi apa-apaan dengan wanita ini? Untuk pertama kalinya ia melanggar aturannya sendiri, ia melepaskan seorang tawanan yang seharusnya dibunuh dengan mudah. Dia berusaha menjauhkannya dari bahaya, bahaya jika bersamanya. Karena apapun yang telah terjadi di masa lalu, Sasuke telah menjadi bagian dari Akatsuki. Konsekuensinya terlalu berat. Mengapa tawaran ini justru ditolak?!

"Aku percaya padamu, Sasuke. Kuharap kau mau menjelaskan apa yang terjadi tentang ti-"

"Tidak akan ada yang berubah dari kondisi kita sekarang, camkan itu… Sakura," Sasuke memotong perkataannya, "Turun sekarang atau aku berubah pikiran dan menembakmu disini!"

"Kau bohong…" Sakura terkekeh geli.

Alis Sasuke Uchiha terangkat, ia kehabisan kata-kata.

"Kau sudah melakukannya daritadi jika memang ingin membunuhku," Sakura Haruno melanjutkan dengan tenang, "Lagipula, kau tidak berubah. Aku tahu setiap kali kau dan Naruto berbohong, Sasuke… Kita terlalu lama mengenal satu sama lain. Dari gerak-gerikmu kau tidak pernah bersungguh-sungguh untuk membunuhku, dan saat ini kau bukannya kesal… Tapi cemas."

.

Kalimat itu membuat logika Sasuke Uchiha hancur, sepotong demi sepotong kenangannya bersama wanita ini bermunculan. Rasanya bukan membahagiakan, hatinya seperti tersayat-sayat.

Karena keberadaannya hanya akan membahayakan wanita ini, tapi…

.

"Aku bukan lagi Sasuke Uchiha dari Akademi Konoha yang kau kenal." Sasuke berusaha bertahan dan memaksa wanita ini keluar dari mobilnya, "Aku memutuskan bergabung dengan Akatsuki atas keinginanku sendiri, menjadi musuh Konoha. Jadi-"

Oh, sial…

Perkataan itu terputus begitu saja. Sasuke mengerjap, merasakan kedua tangan Sakura Haruno berada di wajahnya. Jemari lembut wanita itu tanpa ragu menyentuh permukaan kulit kedua pipinya, satu sentuhan yang sudah cukup membuat kehangatan dari pipi menjalar ke seluruh tubuh. Terasa nyaman. Bukan pikirannya, melainkan tubuhnya yang mengingat bagaimana sentuhan Sakura selalu berhasil menenangkannya dari rasa cemas dan takut. Mengendurkan syaraf-syaraf tegangnya. Tubuhnya berkata jujur, ia mengingatnya. Bagaimana gadis itu menghiburnya dalam masa-masa gelap saat orang tuanya tiada, atau saat ia terbebani dengan menanggung nama Uchiha.

.

Ya, wanita ini…

Sakura Haruno, akan selalu meletakkan kedua tangannya di antara wajahku dan berkata…

"Aku tetap percaya padamu, Sasuke…" perkataan gadis itu benar-benar nyata di hadapannya saat ini, "Apapun alasanmu bergabung dengan Akatsuki dan meninggalkan Konoha, aku tahu kau tidak berubah. Aku mempercayaimu, sepenuhnya."

.

.

.

Bersambung

.

.

.


Author's Note :

Chapter delapan selesai dan telat sehari nih dari tanggalan Indonesia… (tepat waktu kalau dari tanggalan ffi *ngeles* hahaha).

Chapter kali ini benar-benar ditulis kilat, saya belum sempat cek ada typo atau tidak, jadi mohon maaf. =_=; Deidara dibunuh Sai dan akhirnya Sora harus bersama Konan. Hohoho… Saya bawa lagi itu Konan masuk ke cerita. Jadi kemampuan Naruto adalah close combat dan ahli menggunakan berbagai macam senjata. Sai juga termasuk ahli kok, apalagi dia juga sniper. Dan selain itu alurnya saya percepat juga, bagi yang sudah nunggu-nunggu reuni Sakura-Sasuke-Naruto akhirnya kejadian juga ya. Plus tambahan Sakusasu moment, bagaimana kesannya untuk chapter ini? :D

Terima kasih banyak buat yang review di chapter tujuh :

selaladrews : saya update, telat sehari sih… nggak apa ya? :D

i-ca : Haloo terima kasih sudah menyempatkan review lho! Ditunggu ya reviewnya untuk yang kali ini, chapter depan semoga bisa lebih baik lagi ^^

Aguma : Terima kasih buat reviewnya dan saya sudah perbaiki dobe jadi teme~ Saya sudah update nih!

Guest : Ada yang suka karakter Sai nan OOC disini? Senangnya… terima kasih juga buat reviewnya lho Guest, lain kali tulis nama yaa :D

Blue Pink Uchiha : Siaap, senpai untuk para master fanfic yang lain tuh. Saya masih newbie kok, panggilnya jitan aja biar gampang. Sora baru akan diceritakan di chapter depan jadi tungguin ya!

Alisha Blooms : Halo juga Alisha-chan, senangnya hadir lagi di review kemarin. Terima kasih banyak! Karena Akatsuki sendiri main rahasia-rahasiaan sama anggota sendiri, Sasuke aja nggak tahu siapa sebenarnya Sora. Nanti ada penjelasannya di chapter depan, hehe.

Gohara01 : thank you reviewnya dan saya update lagi sekarang.

Roquezen : Thanks! Saya update kilat ini Cuma ngetik berapa jam doing, justru karena nggak tiap hari ngetik jadi keteteran sist *ups ketauan* xD

Afisa UchirunoSS : scene SasuSaku seperti apa nih yang ditunggu? Saya selipin satu Sakusasu moment di chapter ini, semoga cukup mengobati chapter-chapter kemarin kekekeke.

Alluca : Sebenarnya Jiraiya dan Yuki juga oke, tapi mereka keburu mati…

Akasuna no ei-chan : thank you reviewnya dan semoga adegan actionnya cukup mudah dibayangin ya untuk yang kali ini ei-chan. Gimana? :D

AcaAzuka Yuri chan : Saya udah update nih, thank you banget udah menyempatkan review dan berspekulasi! Bisa dibilang spekulasinya cukup mirip kok, dan ada beberapa yang bisa saya masukin jadi tambahan ide juga, hontou ni arigatou! Iya ada yang gugur lagi chapter ini tapi dari Akatsuki, suka juga sama karakter Sai disini? Syukurlah, padahal Sai OOC banget. xD

Ah Rin : jangan demo saya! *angkat tangan* Thank you reviewnya dan saya kasih sakusasunya nih ya dikit, anggaplah ini uang pelicin biar authornya nggak didemo xD

Ichisant : Porsi romance coba saya tambahin di chapter ini, actionnya juga apalagi. Tenang karakternya sampai saat ini masih belum ada yang terlupakan. Konan juga dimunculin lagi disini.

Mizuira Kumiko : Aloha senpai~ Wah terharu dibilangin alurnya rapi etc-etc. Saya coba bikin terus menarik, semoga chapter ini juga nggak terlalu mengecewakan. Saya tunggu lagi RnR dari Mizu-san di chapter 8 ^^

Guest 2 : siapa ini yang manggil saya KK SENPAI? Hahaha terima kasih lho sudah sempat baca.

Saika Tsuruhime : Saya udah update nih Tsuru-chan, kekekeke. Jangan di skip-skip nanti nggak ngerti, atau malah ketuker-tuker sama Black Invi? (lho…) Wah pasti mau diajarin lockpick biar bisa kabur dari sekolah ya? Hahahaha kemampuan Naruto adalah close combat & ahli berbagai macam senjata. Dan baca ceritanya jangan sambil kerjain PR nanti salah bikin lho! :D

.

Dan untuk chapter ini juga…

Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!

Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 7 Maret)!