"Apapun alasanmu bergabung dengan Akatsuki dan meninggalkan Konoha, aku tahu kau tidak berubah. Aku mempercayaimu sepenuhnya, Sasuke."
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 9 : TRUST YOU
.
.
8th Floor – Apartment
Sai melipat kedua tangan ketika kedua anak buahnya duduk di sofa tengah, Hinata memapah tubuh Naruto agar duduk perlahan. Pria berambut kuning ini meringis, menahan nyeri akibat pukulan Sasuke Uchiha yang kini terasa panas juga ngilu. Wajah dan beberapa bagian tubuhnya lebam akibat memar. Mata birunya menangkap gerak-gerik atasannya yang hanya diam membisu berdiri seperti patung, sementara Hinata sibuk mengeluarkan perlengkapan P3K. Ketika luka-luka mulai dibersihkan untuk diobati, Naruto mengerang kesakitan. Berkali-kali juga Hinata berhenti sejenak agar pria di sampingnya itu menyesuaikan diri dengan rasa sakit, sesekali lavendernya menengok ke arah Sai yang tetap tidak bergeming. Terukir sebuah senyuman penuh arti dari sudut bibir pemimpin tim Proyek Suna ini.
"Ini benar-benar konyol," ujar Sai tiba-tiba, "Apa kalian tidak bisa berpikir jauh? Hinata Hyuuga dan kau… Naruto Uzumaki? Menelantarkan misi tim demi maksud pribadi hanya akan membawa kalian mendekati pintu kematian."
Naruto berdecih kesal mendengar ocehan atasannya itu, "Hei, Sir? Kami tidak punya pilihan lain selain mengejar Sasuke! Aku yang melihatnya pertama kali dari lokasi persembunyian, dia sedang menuju ke arah kalian lalu melihatku, dan lari."
"Ko-mu-ni-ka-si. Itulah guna dari earpick yang kau kenakan di telinga, Agen Naruto. Kau harus melaporkan setiap perkembangan yang terjadi di luar karena itu tugas yang kuberikan padamu, bukan mengejarnya seperti kucing berburu tikus. Atau kau mungkin lupa keberadaanmu disini atas nama tim bukan pribadi?"
Naruto menghela napas dalam-dalam, "Aku punya alasan khusus kenapa harus mengejarnya."
.
"Oh ya?" jawab Sai sambil mengangkat kedua alisnya, "Katakan padaku."
Wajah Naruto terangkat ke atas, menatap paras Sai dengan raut wajah penuh emosi. Naruto menahan amarahnya mati-matian sambil mengepalkan tinju, "Karena dia Sasuke Uchiha... Dan karena aku punya misi khusus dari Kakashi Hatake. Aku tidak bisa membeberkannya, padamu sekalipun."
Jemari Hinata terhenti di bagian pipi kanan Naruto ketika mendengar kata 'misi khusus', namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Gadis ini harus menyembunyikan rasa keterkejutannya dari Naruto Uzumaki sementara kedua pria di ruangan itu masih bertatap mata dalam keheningan.
"Misi khusus?" Sai menegaskan namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari lawannya.
Sai tidak mengambil waktu hening terlalu lama, ia memilih untuk duduk di sofa seberang Naruto sambil menarik ponsel. Dengan tenang ia menekan tombol panggil, menatap kedua anak buahnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Membiarkan pria berambut jagung itu mendinginkan emosinya, mengabaikan Hinata yang masih sibuk berkutat dengan memar dan lebam pada wajah Naruto Uzumaki. Beberapa detik waktu seakan-akan berhenti di sekitar mereka, ketiganya hanya terdiam dan menunggu.
.
.
"Shikamaru, ini Sai. Sambungkan aku dengan Pak Kakashi sekarang juga," ucapnya begitu komunikasi tersambung dengan Konoha, "Ya. Aku butuh konfirmasi dari beliau."
Pandangan sepasang manusia yang berada di seberangnya teralih, terpaku memandang ketua timnya. Sai langsung menanyakan misi khusus Naruto pada Kakashi?! Perlu beberapa jeda sebelum Kakashi Hatake tersambung dengan jaringan komunikasi, Sai menggunakan waktu jeda untuk membalas tatapan kedua anggotanya dengan pandangan datar.
"Halo, Pak Kakashi? Saya ingin konfirmasi Anda terhadap laporan yang diberikan Naruto Uzumaki," dia mulai berbicara setelah berhasil menghubungi atasannya, "Beberapa saat yang lalu kami berhasil menemukan beberapa petunjuk mengenai tempat Sora disekap, namun terjadi beberapa kekacauan yang kusebut dengan… Miss-communication. Ya? Seharusnya Naruto bertugas melaporkan perkembangan misi dari luar sementara kami bertiga menyusup ke dalam ruangan Akatsuki. Namun mantan Konoha bernama Sasuke itu lagi-lagi muncul, Naruto berlari mengejarnya. Meninggalkan tugas yang kuberikan atas alasan 'misi khusus' dari Anda."
Tampak pancaran berapi-api dari kedua mata Naruto.
"Saya menghargai setiap tugas khusus yang diberikan untuk Agen Naruto termasuk posisi Anda sebagai pemimpin misi, Pak. Hanya saja… Karena kelalaiannya, Sakura Haruno kini ditangkap Sasuke sebagai sandera. Dan bukan bermaksud lancang... Tapi sebagai ketua tim lapangan yang ikut bertanggung jawab, saya butuh sebuah konfirmasi dari Anda untuk menghindari miskomunikasi akibat adanya dualisme kepemimpinan."
Dan tidak membutuhkan waktu lebih lama bagi Sai untuk menekan tombol lain pada ponselnya, dia mengaktifkan loudspeaker agar ketiganya dapat mendengar satu penjelasan yang sama dari Kakashi Hatake sebagai pemimpin misi Proyek Suna.
"Loudspeaker sudah aktif, Pak Kakashi." Sai memberi petunjuk.
.
"Halo? Sai, Naruto, dan Hinata…" suara Kakashi menggema lewat speaker ponsel, "Ada informasi terbaru untuk kalian ; saat ini pihak Konoha telah mengambil keputusan tentang keberadaan Sasuke Uchiha yang masih hidup, termasuk keterlibatannya dengan Akatsuki. Pemerintah Konoha menganggap Sasuke sebagai salah satu ancaman atas keselamatan Sora dan keberhasilan Proyek Suna. Untuk itu, misi khusus yang kuberikan pada Naruto akan kuserahkan untuk kalian bertiga. Ini perintah."
Sai dan Hinata bergantian menatap wajah Naruto yang kini rautnya berubah dari penuh emosi menjadi cemas. Dia menghindari kontak mata, kepalanya tertunduk. Kakashi Hatake masih diam menunggu respon jawaban dari ketiga agen lapangan yang berada di Suna, termasuk menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan langsung tentang isi 'misi khusus' yang diemban Naruto? Keheningan yang tercipta tidak juga pecah oleh salah satu perkataan Hinata apalagi Naruto, dan hal itu membuat Sai berdecak.
"Apa isi misi khusus yang diberikan untuk Agen Naruto?" tanyanya tegas.
"Membunuh Sasuke Uchiha," tiba-tiba Naruto membuka mulut sebelum Kakashi menjawab, "Jika terbukti Sasuke terlibat dengan Akatsuki, maka dia adalah ancaman bagi Konoha… Itulah misi khusus yang diberikan Kakashi padaku, Sai."
Hinata Hyuuga memandangnya dengan tatapan tak percaya, membunuh? Uzumaki Naruto diharuskan melenyapkan sahabatnya sendiri?! Dia tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan agen bermata biru ini, apalagi membayangkan ia menerima misi tersebut. Namun berlainan dengan ekspresi Hinata yang tercengang, Sai malah menyunggingkan senyum sinis ke arah Naruto.
"Tepat seperti apa yang kau katakan, Naruto…" Kakashi berdeham sebelum melanjutkan perkataannya, "Dan mengenai Sakura Haruno yang dijadikan sandera, apa kalian bisa melacak jejaknya?"
"Tidak sampai saat ini, tapi kami akan mencari cara lain." Sai menjawab dengan nada datar.
"Baiklah, aku menunggu laporan kalian. Sai, Naruto, dan Hinata… Aku berharap kalian akan pulang dengan keadaan utuh ke Konoha setelah menyelesaikan Proyek Suna ini, bekerjasamalah dengan baik sebagai tim. Misi kalian tetap sama, yaitu menyelamatkan Sora dan membawanya pulang dengan selamat, lalu menghancurkan Akatsuki." Kakashi sekali lagi memberikan instruksi, "Dan ingat! Semua hal yang dapat membahayakan misi maupun keselamatan Sora adalah ancaman bagi Konoha. Ingat perkataanku… Semuanya... Camkan hal itu baik-baik!"
Komunikasi mereka pun berakhir setelah mendengar instruksi dari Kakashi Hatake.
.
.
.
Unknown Place - Suna
Keduanya berjalan menyusuri sebuah lorong dari bangunan besar dan megah yang interiornya di desain menyerupai kastil kuno, dengan dinding batu yang memantulkan bunyi langkah kaki. Lorong batu buatan yang diterangi penerangan remang-remang itu berakhir dengan sebuah pintu kayu yang menyambung dengan ruangan lain. Wanita itu mendorong pintunya tanpa ragu, memasuki sebuah ruangan besar layaknya ruang tamu dengan susunan meja juga kursi kayu yang tertata rapi. Satu set perabotan antik dan benda-benda koleksi pada lemari pajangan juga keseluruhan furniture dari kayu pilihan menyambut kehadiran mereka. Di salah satu kursi juga telah duduk satu sosok misterius mengenakan jubah hitam panjang, kedua lengannya bertumpu pada tangan kursi.
Wajahnya tertutup oleh sebuah topeng khusus berwarna oranye dengan alur melingkar yang berpusat pada daerah mata kanan yang terbuka. Sosok berambut rancung berwarna hitam melihat kehadiran dua tamunya, dengan satu gestur kecil dari tangan ia mempersilakan keduanya duduk. Berlainan dengan perintah yang diinstruksikan, wanita ini justru memilih untuk menghampiri dan melingkarkan kedua tangannya pada leher si pria bertopeng. Rambut raven kebiruannya terlihat berkilauan disinari cahaya lampu, wanita ini tanpa ragu membungkuk lalu melayangkan satu kecupan di bagian pipi kiri pria itu. Meninggalkan tapak bibir pada sang topeng. Tidak keberatan dengan aksinya, lengan si pria bertopeng telah merengkuh pinggang sang wanita dan menariknya agar duduk di pangkuannya.
Sebagai balasan, wanita itu tersenyum simpul.
"Senyumanmu tetap menawan," ujar si pria bertopeng, mengabaikan satu lagi tamunya. Ia mengelus pipi wanita yang berada di pangkuan dengan jemarinya, "Dan kau melakukan tugasmu dengan baik. Kau berhasil membawa anak itu kesini… Konan."
"Hmm… Aku tidak pernah mengecewakanmu, kan?"
"Pekerjaanmu selalu sempurna, sayang. Aku tidak pernah ragu padamu."
Mengangguk, perlahan Konan berdiri dan melepaskan tubuhnya dari dekapan pria itu, menatap bocah berusia sepuluh tahun yang tampak jijik dengan pemandangan yang dilihatnya beberapa saat lalu. Ia mengacuhkan anak itu, memilih duduk di seberang sang pria bertopeng untuk memperhatikan keduanya yang kini bertatapan tanpa suara. Pria itu menatap si bocah berambut sebahu yang dengan tenang melipat kedua tangannya.
.
"Halo, ini dia tamu kehormatanku! Lama tidak melihatmu, Sora-sama?" sapa si pria bertopeng pada satu tamu yang tersisa, "Aku tidak tahu apa ingatanmu masih sebagus usiamu, tapi… Penampilanmu memang tidak berubah ya?"
Bocah berusia sepuluh tahun itu malah berdecih, "Che… Ternyata kau dalangnya? Aku tidak tahu siapa kau, yang jelas kau dan wanita ular itu adalah pasangan menjijikkan."
"Ups? Kapan terakhir kali kau bersikap sopan pada wanita, Sora?" suaranya tampak merendahkan, "Apa mungkin… Kau tidak mengenaliku?"
Sora memalingkan wajahnya, merasa tidak perlu menjawab.
"Wah wah wah, bocah ini sombong sekali rupanya?" pria bertopeng tertawa geli, mencoba memprovokasinya dengan ejekan, "Kalau kukatakan aku juga salah satu keturunan Uchiha, apa kau akan mengurangi sifat sok-aroganmu itu?"
Berhasil.
Sora seketika menatap si pria bertopeng dengan pandangan terkejut, kedua alisnya berkerut heran. Konan hanya menikmati percakapan kedua lelaki itu dengan tenang seperti tontonan menarik. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang nyaman, melipat kedua tangan dan sebelah kakinya melipat lalu bertumpu pada kaki lainnya. Privilege. Hanya dirinya yang diperbolehkan menemui pemimpin Akatsuki secara langsung di kediamannya, sebuah perlakuan istimewa untuk wanita kesayangannya. Kabuto yang menjadi tangan kanannya sekalipun hanya dapat menemui beliau di ruang pertemuan yang terdapat di sisi lain dari kediaman menyerupai kastil ini.
.
"Sebagai salah satu aset terpenting Konoha, kau akan dipertahankan mati-matian. Tapi setelah sekian lama, itu tidak akan menarik lagi… Sora-sama. Mereka hanya memanfaatkanmu." Ujar pria bertopeng oranye itu dengan tenang, "Konan, bisa bantu aku?"
Saat-saat santainya terganggu, si pria bertopeng mengangguk kecil ke arah Konan. Menyuruhnya melakukan sesuatu seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Tubuh ramping Konan bangkit dari posisi nyamannya, ia menuju sebuah lemari dan dengan sigap mengeluarkan map hitam lalu menaruhnya di atas meja yang menghadap ke sisi Sora. Bocah itu mengacuhkan sang wanita, namun memutuskan melirik isi map yang disodorkan padanya. Data-data berupa kurva dan statistik terpapar lembar demi lembar, kadang diselingi oleh sebuah paragraf. Meneliti beberapa halaman dengan penuh rasa heran juga tanda tanya, ia menahan egonya untuk sementara.
"Apa artinya ini?" Sora berusaha bertanya dengan nada setenang mungkin.
"Jangan berlagak bodoh karena aku tahu otakmu terlalu brilian untuk mengerti dalam sepersekian detik…" balas sang pemimpin Akatsuki, "Aku mengumpulkan bukti perkembangan ekonomi untuk membuatmu terbangun dari rasa nyaman yang diberikan Konoha. Mereka memanfaatkanmu dan berniat membuangmu, begitulah kasarannya. Sudah kukatakan tadi, semuanya jadi tidak menarik kan?"
Pria bertopeng ini mencondongkan tubuh ke depan, sedikit merentangkan tangannya seperti menyambut sesuatu, "Jadi aku tidak akan basa-basi lagi. Aku menawarkan agar kau bergabung dengan Akatsuki, Sora-sama…"
.
.
.
Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti di sebuah halaman kosong berpasir yang telah berubah fungsi dari lapangan olahraga umum menjadi pelataran parkir, di kanan-kirinya juga telah berjejer mobil-mobil lain. Pria berambut raven kehitaman itu membuka pintu kemudinya lalu menoleh pada penumpang di sebelahnya. Wanita dengan iris emerald bertatapan dengan onyx-nya, kebingungan.
"Tunggu disini," perintahnya singkat.
Sasuke menutup pintu mobil dan berlari meninggalkan Sakura di dalam. Dari apa yang dilihat oleh Sakura dari balik jendela mobil, Sasuke berlari menuju ujung lapangan. Terdapat sebuah kayu pembatas dengan gembok berantai yang menyekat lapangan terbuka dengan ruangan yang biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan kebersihan, Sasuke merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kunci. Tanpa memperhatikan keberadaan Sakura, ia masuk ke dalam. Sesaat kemudian ia keluar sambil mendorong sebuah motor sport dari dalam ruangan kecil tersebut, Sakura bertambah heran.
Keturunan Uchiha itu menyalakan motor berjenis Honda CBR500RR berwarna putih dan mengenakan pelindung kepala yang berwarna senada. Sakura Haruno nyaris menampar dirinya sendiri ketika terpesona melihat penampilan sang anggota Akatsuki yang saat ini berstatus sebagai musuh. Saat ini kau adalah sandera dari Sasuke! Jeritnya berkali-kali dalam hati, namun pemikirannya lagi-lagi lenyap dengan sisi lain yang mengagumi sosok pria itu. Bagaimana pun, Sasuke tetap terlihat mengagumkan bagi agen Konoha ini. Lamunannya buyar oleh suara pintu penumpang yang terbuka, gadis itu terkejut. Sasuke telah berada di samping pintunya, membukakan pintu.
"Turun."
.
Lapangan berpasir yang bersentuhan dengan permukaan kulit Sakura Haruno terasa panas menggigit, apalagi ditambah luka-luka yang dideritanya ketika harus berlarian di jalan tadi. Sakura meringis kesakitan, berjalan tanpa alas kaki rasanya sangat menyiksa. Sasuke berjalan lebih dulu ke arah motor dan menunggu wanita itu mendekat, ia menyuruhnya naik ke boncengan. Dengan langkah tertatih-tatih Sakura mengikuti perintah pria itu, memijak penyangga kaki lalu naik ke boncengan motor. Gerak-geriknya sedikit sulit mengingat bodi motor yang cukup besar. Sasuke yang berada di bangku kemudi mulai menggerungkan mesinnya, bersiap-siap. Sakura kebingungan, ia mencari sebuah pegangan di belakang jok tempat ia duduk. Menggenggamnya dengan erat.
"Kau akan jatuh, Sakura." gumam pria itu.
Sakura tidak mengerti maksud perkataannya, "Hah? A-apa katamu?!"
Sasuke terpaksa menoleh meski tidak dapat memandang wajah wanita berambut soft pink itu, ia membuka visor pada helm untuk memperjelas suara, "Kalau kau tidak ingin jatuh di perjalanan, berpeganganlah padaku."
"Ah… EH?!" Sakura malah balik bertanya, "Bo-bolehkah?"
"Hn."
Antara ragu dan berdebar-debar, Sakura pun melepaskan pegangan tangannya. Detak jantung wanita ini bertambah kencang seiring dengan jemarinya yang bergerak secara refleks memilih untuk melingkari tubuh Sasuke Uchiha, mencari sebuah pegangan. Meskipun terkesan kaku dan begitu asing, wanita ini mencoba mengendalikan pikiran dari luapan perasaan yang dirasakannya saat ini. Memeluk tubuh Sasuke yang ia cintai, dan ini nyata. Bukan mimpi semata. Meski saat ini dia dan keturunan Uchiha adalah lawan. Bagaimana pun ia memang memendam perasaan terhadap pria yang berada dalam dekapannya. Sakura hanya menghela napas panjang, mencoba menetralisir detak jantung yang terlalu cepat. Sasuke kini telah kembali menatap jalanan setelah agen Konoha tersebut menuruti perkataannya.
"Jangan sampai jatuh."
Sakura Haruno tersenyum simpul, tanpa diperintah ia mengeratkan pegangannya pada tubuh Sasuke. Motor itu melaju dengan kecepatan penuh di jalan raya, dalam sekejap telah meninggalkan mobil hitam yang terparkir di halaman. Motor berwarna putih itu meliuk dan melewati lalu lintas padat, perkataan Sasuke ada benarnya. Dengan kecepatan yang dipacunya saat ini, Sakura akan terjatuh apabila tidak berpegangan padanya. Agen Konoha ini tidak tahu menahu kemana motor ini melaju, atau kemana Sasuke Uchiha akan membawanya. Jemarinya mendekap erat tubuh pria di hadapannya, dan meski hanya sesaat… Wanita ini berhenti mengkhawatirkan nyawanya.
Dia merasa aman.
.
.
.
Vega Sun Motel
Pria berkacamata bulat ini melempar gelas berisi scotch ke atas lantai, benda tersebut pecah berhamburan di atas lantai kamarnya. Napasnya naik turun, ia menggenggam ponsel dengan sebelah tangan sementara jemari kirinya memijit bagian tengkuk. Frustasi. Tepat di atas tempat tidurnya yang berangkat, tampak sesosok gadis berambut kecoklatan meringkuk ketakutan. Tubuh tanpa busananya hanya diselimuti sepotong selimut berwarna putih, ia berada di sudut ranjang sambil diam membisu. Tidak menduga pria di hadapannya langsung emosi setelah menerima satu panggilan telepon, sekaligus ketakutan. Ia tidak berani beranjak dari tempat tidur untuk berkemas-kemas. Kabuto menghela napas, ia mengambil satu amplop coklat berisi sejumlah uang, lalu melemparnya ke arah si wanita.
"Pergi dari sini," ujarnya malas.
Secepat kilat wanita itu menggapai amplop coklat yang tergeletak di ujung kakinya. Pria ini sibuk mengenakan celananya sendiri dan sama sekali tidak tertarik mengamati tingkah kikuk sang wanita yang terburu-buru mengambil sepotong demi sepotong pakaian yang berceceran di lantai kamar. Bertelanjang kaki, wanita itu menghindari serpihan dari gelas yang berhamburan menuju kamar mandi. Belum sempat berpakaian utuh, telepon genggamnya kembali berdering. Ia duduk di sebuah kursi untuk menenangkan pikiran saat menerima telepon.
.
"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan di gedung 589?" tanyanya begitu mengangkat panggilan.
"Seluruh CCTV dirusak, tapi sepertinya tidak ada data yang diambil…" jawab suara pria yang menjadi lawan bicaranya, "Oh, aku menemukan Deidara sudah mati di kamar. Ia ditembak di kepala dan posisi kematiannya sangat jelek, mau kufoto untuk bukti?"
"Ada tanda-tanda mengenai Sasuke?"
"Eehhmm… Nope! Aku sendirian disini ditemani mayat Deidara. Mana anak kesayanganmu itu hah?" perkataannya semakin membuat pria berkacamata bulat ini kesal, "Bukankah seharusnya dia sudah sampai beberapa jam yang lalu?"
"Ya, ini aneh. Mungkin terjadi sesuatu?" Kabuto mengerutkan alis.
"Ya-ya! Mungkin dia kabur dan mengkhianati Akatsuki, Kabuto? Waah ini pasti seru!" ia bersiul ceria, "Sejak dulu aku tidak suka melihat wajahnya yang terlalu tampan, pasti akan menarik ya kalau aku yang mencabik-cabik wajahnya?"
"Hentikan ocehanmu. Bawa data yang penting dan jangan tinggalkan jejak."
"Che… Iya, iyaa Kabuto, kau ini cerewet seperti nenek tua!" pria itu langsung memutus jaringan telepon sebelum Kabuto kembali mengoceh.
.
.
"Brengsek, kemana perginya si Uchiha sialan itu?!" ia memaki sambil menutup telepon.
Kabuto memejamkan mata, dia tidak suka pada keadaan yang menghimpitnya saat ini. Apa yang harus ia laporkan pada sang pemimpin Akatsuki tentang keberadaan Sasuke Uchiha? Bahwa ia melalaikan tanggung jawabnya untuk membereskan barang bukti di gedung 589, apalagi para penyusup itu berhasil membunuh Deidara. Ini pertanda buruk! Meskipun demikian, ia tidak punya pilihan lain kan? Sial. Lamunannya terpecah ketika si wanita berambut cokelat telah selesai berkemas dan keluar dari kamar mandi untuk pamit. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi, pria berkacamata ini bangkit dari tempat duduk dan meraih baju kemeja yang tergeletak di salah satu sudut kamar. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia menekan beberapa digit pada ponselnya. Pintu kamar telah terkunci ketika seseorang menjawab panggilannya.
"Halo?"
"Sir, ini Kabuto…" pria ini menghela napas, "Deidara ditemukan tewas di gedung 589. Sedangkan Sasuke… Ia tidak ditemukan."
Suasana berubah menjadi hening tanpa jawaban dari sang pemimpin Akatsuki, kontan membuat Kabuto menelan ludahnya sendiri. Ini gawat…
"Sasuke Uchiha tidak melaksanakan tugasnya?" akhirnya terdengar sebuah suara dari lawan bicaranya.
"Y-ya. Tampaknya begitu," Kabuto mencoba menjelaskan dengan terbata-bata, "Kisame melapor bahwa hanya mayat Deidara disana, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Sasuke. Aku menunggu instruksi dari Anda untuk langkah selanjutnya."
"Aku akan mengurus anak itu," jawabnya sambil terkekeh, "Sepertinya ini akan jadi menarik. Kau lanjutkan saja tugasmu, rencana kita harus tetap berjalan."
.
.
.
Kendaraan beroda dua yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata akhirnya berhenti di sebuah bangunan kumuh yang tampak seperti sebuah gudang tidak terpakai. Berada di sebuah gang kecil dari pinggir jalan raya, Sakura mengamati keadaan bangunan yang sepertinya lama tidak dihuni. Kumuh, lusuh, dan tidak menarik. Teralis besi yang menyerupai ruangan untuk garasi kendaraan tertutup rapat dengan rantai besar dan gembok yang telah berkarat, sementara di sampingnya terdapat sebuah pintu kayu yang dikunci rapat. Jemari-jemari yang mendekap tubuhnya terlepas begitu mesin motor di nonaktifkan. Sasuke Uchiha berjalan menuju pintu setelah meminta Sakura turun dari boncengannya.
Tangan kanannya memutar anak kunci pada sebuah gembok yang dilapisi rantai, setelah terbuka pria berambut raven ini mengerahkan segenap kekuatan untuk mengangkat teralis yang berkarat. Besi-besi yang berdecit dari engsel memekakkan telinga, namun garasi usang tersebut berhasil terbuka. Sasuke menepuk-nepuk kedua tangannya, membersihkan telapak tangan dari debu dan karat yang menempel dari teralis sambil berjalan ke arah motor. Enggan bertatapan mata dengan emerald wanita itu, ia sedikit menunduk ketika menggiring motornya masuk ke dalam ruang garasi yang gelap. Sakura berada di belakangnya, hanya terpaku melihat teman masa kecilnya mendorong kendaraan masuk ke dalam tempat yang menurutnya sedikit menakutkan.
'Tempat apa ini?! Markas Akatsuki?' batin Sakura.
.
"Masuklah."
Ucapan pria yang berdiri di depan teralis garasi mengagetkannya.
"Eeh… I-ini, tempat apa?" ia memberanikan diri bertanya, "Kau membawaku… Kemana?"
"Masuk atau kutinggal di luar," gumam Sasuke malas. Sebelah tangannya bertopang di dinding teralis, menyangga kepalanya. Kedua alisnya terangkat setelah melihat tawanannya menurut, Sakura perlahan-lahan berjalan menuju ke arahnya.
Melewati tubuh Sasuke sambil tertatih-tatih.
Ketika Sakura Haruno telah berada di dalam ruangan garasi tanpa cahaya itu, pria ini menutup pintunya rapat-rapat. Bunyi decitan teralis lagi-lagi membuat Sakura sedikit memekik, terdengar sangat bising di telinganya. Keadaan menjadi gulap gulita, Sakura tidak dapat melihat apapun di sekitarnya. Termasuk letak Sasuke Uchiha berada. Ia terpaku di tempatnya, mematung… Menunggu dan mengira-ngira apa yang akan menyambutnya. Apa yang direncanakan keturunan Uchiha ini?! Semuanya serba mencekam di sekitar ruangan yang gelap dan lembab itu, hening.
Lalu terdengar langkah-langkah yang mendekat.
Hembusan angin yang berada tepat di depan wajahnya… Sosok itu berdiam diri.
.
Jantungnya berdetak cepat tanpa terkendali, apa yang akan terjadi?!
.
.
"Gyaa- Eh?!" Sakura berhenti memekik ketika sorot lampu menyilaukan pandangannya.
Pandangannya yang semula kabur karena belum beradaptasi dengan gelap kini mulai membaik, Sakura memincingkan mata. Melihat kawanan Akatsuki yang mungkin berdiri mengepungnya dengan senjata… namun ternyata nihil. Tidak ada satu pun. Di hadapannya hanya ada Sasuke Uchiha, yang berada tepat beberapa sentimeter dari tempat ia berdiri, dan menyalakan sebuah senter. Pria bermata onyx itu menatap raut wajah ketakutan dari Sakura tanpa ekspresi, menyinari sosok wanita yang masih berusaha mengatur napasnya dari rasa takut.
"Sa-Sasuke?!" perlahan Sakura mengatur nada bicaranya.
"Hn." Gumamnya dengan dua konsonan tanpa arti, "Kau tetap penakut ya..."
Sakura mendengus kesal, "Kita dimana?"
"Disini tidak ada lampu, kau ikuti aku lewat cahaya senter ini." Ujarnya tanpa menggubris pertanyaan wanita itu, tubuhnya berbalik dan mulai berjalan.
.
Sakura berusaha mengatur langkahnya, berjingkat untuk mengurangi rasa sakit. Ia meringis kesakitan ketika beberapa kerikil terasa menusuk telapak kaki tanpa alas, namun ia menahan teriakannya agar tidak terdengar oleh anggota Akatsuki di hadapannya. Tidak terlalu lama, Sakura mendapati sumber cahaya yang lebih besar dibanding senter yang dipegang Sasuke. Sebuah ruangan dengan lampu yang menyala. Namun pemandangan yang menyambutnya lebih mengherankan lagi, bukan sebuah markas dengan para jubah Akatsuki yang menanti kedatangannya. Ia hanya menemukan sebuah ruangan kecil yang layak huni. Tampak sebuah meja kursi dengan pakaian yang sedikit menumpuk di punggung kursi, di sampingnya ada sebuah tempat tidur darurat. Di seberangnya terdapat kamar mandi dengan satu wastafel, Sakura tiba di sebuah ruangan yang begitu sederhana sebagai hunian.
"Sebenarnya… Ini dimana, Sasuke?"
Sasuke akhirnya menoleh setelah mematikan senter, "Rumahku… Untuk sementara."
Mata wanita ini terbelalak seketika.
"Setidaknya disini aman, mereka belum menemukan tempat ini." Sasuke memasukkan tangan ke dalam saku celana, mengamati wanita berambut soft pink itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, "Kau yakin bebas dari alat penyadap apapun kan?"
Sakura Haruno mengangguk yakin.
"Duduklah disana," Sasuke menunjuk satu-satunya kursi yang kosong dengan beberapa potong pakaian tergantung di punggung kursinya. Sakura lagi-lagi berjingkat, mengurangi gesekan pada luka lecet yang dideritanya cukup terasa menyulitkan. Sasuke Uchiha melihat gerakan lamban wanita yang berusaha duduk sambil tertatih, ia menghela napas lalu menuju kamar mandi. Meninggalkan Sakura seorang diri. Agen Konoha ini kebingungan, apa yang akan dilakukan Sasuke setelah ini? Apa dia akan melapor? Kenapa ia malah membawa seorang 'musuh Akatsuki' ke rumahnya sendiri… Atau bagaimana dengan kelanjutan misinya bersama Tim Suna? Keheningan di sekitarnya membuat Sakura tidak berhenti berpikir, ia mencari kemungkinan terburuk.
.
Butuh beberapa waktu sampai akhirnya terdengar suara kenop pintu yang berputar dari arah kamar mandi, Sasuke Uchiha keluar dengan pakaian santai berwarna biru navy dengan sebuah kotak kecil berwarna putih di tangan kanannya, juga sebuah nampan kecil di tangan kiri. Sakura Haruno mengerutkan alis ketika sosok itu berjalan ke arahnya, menundukkan kepala. Keturunan Uchiha yang terkenal berdarah biru ini membungkukkan badan tepat di hadapan kursi tempat Sakura duduk, lalu dengan santainya duduk di lantai. Menaruh satu per satu bawaannya di samping kiri dan kanannya, wajahnya mendongak ke atas. Wajah tampannya yang berada lebih rendah dari posisinya tampak jelas dari mata Sakura, tatapan keduanya tidak terelakkan lagi.
.
Butuh logika bagi otak Sakura untuk mencerna kejadian ini.
Tidak demikian dengan debaran jantungnya yang lebih dulu bereaksi.
.
.
Mati rasa.
Adalah deskripsi yang paling menggambarkan kondisi Sakura Haruno saat ini. Rasa gugup dan debaran jantung yang menguasai tubuhnya memaksa seluruh kinerja otot menegang, terlebih ketika pria itu tanpa disangka mengangkat sebelah kakinya yang terluka. Berpegangan pada pergelangan kaki Sakura, ia mengamati luka memar dan lecet akibat berjalan di jalan raya tanpa alas kaki. Permukaan kulit pada telapak kaki yang melepuh karena tidak terbiasa mentolerir panas, Sasuke mengerutkan kedua alisnya. Sementara itu ia tidak memperhatikan wajah agen Konoha ini telah sepenuhnya merah padam, kehabisan kata-kata. Pria itu tetap diam, menggenggam pergelangan kaki lawannya tanpa ragu. Dia sudah gila. Apa yang sedang dilakukan Sasuke?!
'Kau butuh kursus dari akademi pelatihan untuk mengendalikan detak jantung, Sakura!' wanita ini memaki dalam hati. Mengutuk debaran jantung yang memompa cepat begitu jemari Sasuke menyentuh kulitnya, perasaannya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
"Kakimu melepuh." Dia bergumam singkat tanpa sekali pun menoleh ke arah Sakura.
"I-iya tapi… Sasuke, he-hentikan! Aku bisa mengobatinya sendi-"
"Kau bilang percaya padaku?" kini wajahnya teralih dari kaki menuju emeraldnya, memotong pembicaraan Sakura yang tetap terbata-bata. Sakura terpaku ketika keturunan Uchiha mengambil nampan berisi air dan sebuah kain, perlahan membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada kakinya.
.
Sekuat tenaga ia menahan sakit, tidak ingin berteriak. Buku-buku jarinya terasa dingin ketika ia mengepalkan tangan sebagai pelampiasan rasa sakit. Wanita ini menggigit bibir bawahnya sendiri, mengendalikan agar suara rintihannya tidak keluar.
"Sakit?" Sasuke berhenti sejenak.
"Ti… Tidak…"
"Hn." Ia memulai pekerjaannya lagi dan membersihkan bagian kulit yang melepuh.
"ADUH!" tanpa sadar Sakura berteriak, membuyarkan semua usahanya untuk bertahan dari rasa sakit. Ia tidak menduga hal ini, terlebih ketika matanya melihat sebuah senyum tipis dari bibir Sasuke. Meskipun hanya sekilas, sebelum semuanya kembali datar seperti semula.
"Che. Itu artinya sakit, Sakura…" gumamnya sedikit mengolok. Membuat Sakura menggembungkan pipinya menahan kesal sekaligus menyembunyikan rona pipi yang terus memerah.
Waktu terasa berjalan lambat jika dibandingkan dengan hitungan jantung Sakura Haruno, ia tidak pernah membayangkan ini akan terjadi. Bahkan dalam mimpi pun… Ini tidak mungkin terjadi. Sasuke Uchiha berusaha mengobati lukanya?! Tidak dapat disangkal ini adalah saat-saat membahagiakan baginya, berada dekat dengan sosok yang ditunggu-tunggu selama ini. Meski kini dia adalah musuh, sifatnya jauh lebih dingin, kejam, tapi tetap saja… Ia adalah pria yang sama dengan yang dikenalnya belasan tahun yang lalu di Konoha. Yang pernah berjanji dengannya untuk menjadi pelindung Konoha. Dengan sigap Sasuke membersihkan semua kotoran yang menempel pada luka sebelum akhirnya ia membuka kotak putih P3K.
.
"Sakura Haruno…"
Jemarinya terhenti ketika ia menyebut nama itu, sesaat menghela napas untuk meyakinkan diri sendiri.
"Aku tahu ini bodoh bagi situasiku, dan bagi keselamatanmu sendiri. Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu lagi setelah peristiwa di tebing," ia mulai bercerita. Sakura menahan napasnya, berharap apa yang akan didengarnya bukan hal yang buruk, "Dan meski hal ini tidak akan merubah apapun tentang aku dan Konoha… Tapi aku akan mencoba."
Ucapannya tertahan, ia menatap Sakura yang terus menunggu.
.
"Aku akan mencoba sekali lagi untuk mempercayaimu, Sakura…"
.
Tidak ada yang dapat menahannya lagi. Pria berdarah Uchiha ini tercekat pada gerakan refleks wanita yang terduduk di hadapannya. Kedua tangan Sakura melingkari pundaknya, wanita itu setengah membungkuk lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Memeluk Sasuke Uchiha. Sosok pria ini terpaku, mendengar isak tangis tertahan dari wanita yang mendekapnya erat. Aroma shampoo yang tercampur dengan sengat matahari pada rambutnya, ia menyunggingkan sebuah senyuman tanpa terlihat oleh agen Konoha itu. Entah keputusan yang diambilnya benar atau tidak, saat ini ia merasa sedikit lega telah mengikuti kata hatinya. Jemarinya melepaskan kotak P3K pada genggaman, Sasuke meletakkan satu tangannya menyentuh punggung Sakura. Membalas pelukannya.
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter sembilan selesai dan cukup sulit buat ngejar tepat waktu berhubung minggu lalu saya terkena musibah, untunglah semuanya berjalan lancer dan chapter ini bisa dilanjutin. Chapter kali ini diketik kilat dan belum sempat cek ada typo atau tidak, jadi mohon maaf. =_=; Seharusnya saya certain lebih banyak soal Sora, tapi saya tunda dulu buat Sasusaku *nyengir*. Yang minta Sakusasu moment dibanyakin, berhubung saya nggak ahli bikin romantisme jadi minta bantuan sama orang yang justru request buat bikinin cerita ini, semoga cukup oke ya! :D
Terima kasih banyak buat yang sudah review di chapter delapan :
i-ca : Haloo saya tetep usaha update tanggal 7 nih. Semoga chapter ini juga nggak mengecewakan yaa, action bakalan banyak di chapter depan. ^^
Blue Pink Uchiha : Naah Sakuranya udah jadi sandera tapi ada untungnya juga, mungkin bener ya bisa bikin Sasu jadi normal lagi hahaha.
SAKUSASULOVELOVE : wahahaha KK SENPAI diganti JITAN aja, saya bukan senpai! Konan, berhubung dia karakter fave saya disini, nanti bakalan lebih banyak dibahas (kalau nggak lupa).
Sansami no Yue : Halo Yue-chan! Terimakasih banyak sudah menyempatkan baca, dan saya usahakan update tetep tepat waktu *meskipun pusing bikin lanjutannya*. Salam kenal juga dan semoga chapter ini ngga mengecewakan. Ditunggu lho RnRnya ^^
Akasuna no ei-chan : thank you reviewnya dan di chapter ini nggak terlalu banyak nampilin Sai, Cuma nambah Sakusasunya aja hehe semoga cukup oke berhubung bagian fluff sudah pasti minta bantuan dari temen saya :D
jokerman : thank you reviewnya dan semoga kali ini juga bisa dibilang bagus, asal jangan mengecewakan aja kekeke.
Shei : saya update kok supaya nggak penasaran, akhir Sakusasunya belum terpikir kok Shei…
Alisha Blooms : Halo halo Alisha-chan, thank you buat reviewnya kemarin! Iya reuni nggak berjalan mulus ya, tapi gantinya Sakura jadi bisa bareng Sasuke nih, hehehe. Ayoo ditunggu reviewnya lagi ^^
Alluca : Disini Sakusasunya nambah loh… *nyengir*
Guest : Siap! Saya sudah tambahin sasusakunya, RnR lagi yaa dan terima kasih buat review yang kemarin :)
Mizuira Kumiko : Aloha senpai~ Wah kali ini agak kesulitan buat lanjutin, tapi untunglah semoga Sakusasu momentnya bisa menolong saya lepas dari lemparan sandal, kalau chapter ini jelek hahahaha. Semoga tidak mengecewakan sih, saya menunggu komen dari senpai Mizu lagi ^^
AcaAzuka Yuri chan : Saya udah update nih, thank you banget udah menyempatkan review meski disini Sai nggak terlalu banyak, saya masukin Sakusasu sedikit lebih banyak dari porsi biasanya. Huahahaha kejampinterkeren, bisa juga sih mirip kayak Sasuke di aslinya ya? Kalau untuk plot karakter, sebenarnya Sai saya tekankan lebih ke agen jenius tapi pikirannya terlalu terpatok sama misi, tapi kejampinterkerennya boleh juga. xD
Roquezen : Thanks! Dan untunglah Sakusasu kali ini saya dapat suntikan bantuan dari yang demen fangirling, kalau nggak sepertinya gawat juga. Semua jadi tertarik sama karakter Sai ya _
Gohara01 : yaa saya sudah update! ^^
Sherlock Holmes : Terima kasih buat reviewnya Mr. Holmes! Salam kenal juga, saya lanjut dan untungnya sempet di update tanggal 7, sakusasu moment udah ditambahin, dan saya tunggu review berikutnya dari pak detektif :D
Hanazono yuri : thank you reviewnya dan saya berusaha nambahin Sakusasu-nya seperti yang sudah direquest, update dan saya tunggu RnRnya lagi yuri-chan~
Afisa UchirunoSS : *ngakak* sengaja ngasih cliff di chapter kemaren karena saya pusing lanjutinnya, tapi sekarang sudah update dan sasusakunya udah dibanyakin kok. Hohoho, RnR lagi yap!
Selaladrews : saya update, dan sudah dibanyakin porsi sakusasunya. Cukup nggak? Kekeke, iya saya terimakasih lala-chan masih menyempatkan RnR di cerita ini lhoo. Saya tunggu komen untuk chapter kali ini juga. :D
Saika Tsuruhime : Saya udah update nih Tsuru-chan, kekekeke :D Hebat juga meski di skip masih bisa ngerti ceritanya, Akatsuki belom saya jelasin. Pemimpin Akatsuki dari yang udah saya deskripsiin di atas, jelas sepertinya ya itu siapa. Nah makanya kerjain PR jangan sambil baca fanfic supaya nggak pusing hahaha…
.
Dan untuk chapter ini juga…
Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!
Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 20 - 22 Maret)!
-jitan-
