SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
Note :
- Rating T terakhir, chapter berikutnya tolong cari di M ya :D
- Genre : Adventure / Mystery / Romance
- AU : Alternate Universe, OOC, typo, death chara.
- Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie. Tolong reviewnya yaa semua (syukur kalo di-fave dan follow), makasih :)
.
.
.
Konoha's Central Laboratory – 15 tahun lalu
Fugaku Uchiha terisolasi di ruang pribadinya, sibuk meneliti data-data yang menumpuk di atas meja meskipun hari telah larut. Laboratorium tempat ia bekerja telah sepenuhnya kosong, kegelapan menyelimuti lorong di sekeliling ruangan. Satu-satunya cahaya yang tersisa berasal dari ruangan kerja peneliti senior ini, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan meski hari telah menjelang pagi. Penelitian yang sedang ia lakukan bersama timnya adalah sebuah proyek besar pemerintah Konoha yang dilaksanakan secara rahasia. Tanggung jawab yang diembannya cukup berat karena menyangkut masa depan negara untuk beberapa dekade ke depan. Sebagai salah satu ketua proyek, ia benar-benar tertarik pada Sora- nama seorang anak asuh pemerintah berusia sepuluh tahun yang tergolong jenius.
SORA ; kehadiran tiba-tiba bocah misterius ini dapat dikatakan sebagai salah satu anugerah bagi Negara Konoha. Diperkirakan ketika berumur satu tahun ia telah menguasai empat bahasa secara otodidak, dan dua tahun kemudian ia telah menunjukkan kepiawaiannya berkomunikasi dengan 9 bahasa secara fasih. Lebih mencengangkan lagi, pada usia sepuluh tahun ia sanggup menelaah pergerakan ekonomi menyaingi seorang pakar. Namanya diperhitungkan ketika beredarnya hasil rekaman suara seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang 'meracau' tentang prediksi perkembangan ekonomi negara, dan ternyata hasilnya setara dengan pemikiran beberapa pakar ahli yang ditunjuk untuk berdiskusi dalam kurun waktu yang lebih lama.
Konoha gempar.
Mereka seakan mendapat keajaiban yang ditindaklanjuti dengan rasa gembira juga was-was tentang latar belakangnya yang misterius. Mereka takut pihak luar mencium keberadaan anak jenius ini dan ingin merebutnya. Perdebatan pro dan kontra terus berlangsung hingga beberapa tahun, namun anehnya Sora tetap menyerupai anak berusia sepuluh tahun. Beberapa wakil instansi pemerintahan akhirnya sepakat untuk 'mengamankan' aset luar biasa seperti Sora agar berada dalam perlindungan negara, keberadaan anak ini tidak pernah terekspos di media maupun secara prestasi akademik. Semuanya rahasia.
Bukan hanya mengamankan Sora, mereka ingin mengembangkan kemampuannya…
.
"Berhenti menua?" gumam Fugaku, alisnya berkerut keheranan.
Ia segera membalikkan halaman demi halaman berkas tebal yang tergeletak di atas mejanya, mencari bukti lain. Fugaku Uchiha mendatangani sebuah kontrak kerja untuk menangani sebuah proyek rahasia meneliti gen Sora, mencoba menguraikan rahasia Ilahi tentang kecerdasannya yang luar biasa lewat jalur ilmiah. Sama sekali tidak pernah terlintas mengenai tubuh sang bocah yang berhenti menua, ia kebingungan. Data-data penelitian yang dilihatnya pun mencengangkan, nampaknya ada penelitian lain yang dikembangkan oleh pihak tertentu tanpa sepengetahuannya?! Tanpa sadar ia menggebrak meja kerjanya sendiri, mengumpat dalam ruangan kosong ketika membaca salah satu perkembangan laporan yang tidak diketahuinya selama hari-hari terakhir.
.
Report : Konoha's Central Laboratory / Government Project/ No. 102-0035-54.
SUBJECT NAME : SORA.
Merujuk pada opsi gen dominan dan penelitian terkait terhadap sampel, ditemukan adanya tanda-tanda anomali pada subjek. Intelejensi otak yang terus berkembang berbanding terbalik dengan perkembangan fisik yang berada dalam posisi nol. Jasmani subjek diperkirakan tidak mengalami penuaan setelah melewati usia sepuluh tahun, belum dapat diketahui secara pasti penyebab atau efek yang akan ditimbulkan dari perkembangan tubuh yang berhenti pada usia anak-anak. Definisi kelainan subjek : berhenti menua. Subjek menolak bekerjasama melalui pendekatan verbal mengenai asal-usul juga dampak akibat pertumbuhan yang terhenti. Meski demikian hasil tekanan juga sirkulasi aliran darah, kinerja organ vital dan denyut nadi subjek berada pada batas normal. Laporan akan dilengkapi dengan analisa penelitian pihak-pihak lain untuk memperkuat data.
.
"Apa-apaan ini? Bocah ini sebenarnya siapa…" kedua matanya terpejam menahan kesal juga kehabisan akal. Data-data berikutnya semakin membuat matanya terbelalak tidak percaya, "KENAPA JADI BEGINI?!"
Dengan tergesa-gesa ia merobek beberapa halaman pada berkas, menyimpannya pada sebuah amplop cokelat. Dengan posisi jabatan yang cukup tinggi ia memiliki otoritas level 4 untuk mengakses seluruh database penelitian dari server utama, Fugaku bermaksud membersihkan data-data penelitian. Melenyapkan segala buah pemikirannya pada proyek ini, tanpa bekas. Ini bukan pekerjaan yang ia setujui, tidak pernah termasuk dalam kontrak kerja sekali pun. 'Pantas saja mereka memintaku cuti selama beberapa hari, ternyata untuk menyelidiki ini?!' batinnya berteriak. Sejenak kedua jarinya ragu saat layar monitor menampilkan kalimat "Are you sure you want to permanently delete this file?", namun keputusannya telah bulat ketika memilih opsi YES. Semua harus dilenyapkan.
"Aku tahu rencana mereka pada Sora, dan akan kuhentikan! Saatnya berhenti dari omong kosong ini… Sejak awal aku hanya boneka untuk melancarkan rencana busuk para instansi itu," ujarnya sambil berdiri dan membanting berkas tebal hingga berserakkan di lantai. Fugaku menyambar amplop cokelat yang tersisa lalu keluar dari laboratorium tanpa membereskan barang-barangnya, "Ini kesalahan… Mereka mengambil keputusan yang terlalu beresiko. Sora adalah aset yang berharga untuk Konoha, tapi bukan berarti negara berhak memperlakukannya sebagai kelinci percobaan!"
Dia pergi bersama data-data penelitian Sora setelah menghapus database pada server Konoha.
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 10 : A SECRET
.
.
Hebi Inn, Suna
Sayup-sayup terdengar suara pintu yang diketuk berulang kali, ia menggeliat dari posisi tidurnya. Wanita berambut merah ini menggapai-gapai sebuah ponsel yang terletak di samping tempat tidur, hanya untuk melihat jam yang telah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia menajamkan indera pendengarannya, dan suara ketukan pintu itu masih terdengar. Terbangun dari alam mimpi setelah mendengar bunyi ketukan. Bukan mimpi, tapi siapa yang beraninya datang di malam buta?! Terduduk sambil menguap, dengan enggan ia menyingkirkan kedua kaki dari balutan selimut. Memasang kacamata yang membantu penglihatannya terlihat jelas, ia berjalan perlahan menuju pintu.
"Siapa?" tanyanya dari balik pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia menghela napas, dari dapur ia mengambil sebilau pisau dan digenggamnya erat-erat menggunakan tangan kanan. Ia menaruh tangannya di belakang, menyembunyikan letak senjata tajam di balik punggungnya. Sedikit was-was karena ini waktu yang tidak wajar untuk bertamu namun ketukan pintu tak kunjung berhenti. Sebelum membuka pintu ia memastikan rantai pengaman pada daun pintu masih terpasang. Aman. Pintu kayu itu terbuka perlahan ketika ia akhirnya memutuskan untuk melihat siapa tamu yang mengetuknya pukul dua pagi. Tampak di hadapannya seorang pria asing.
"Haloo…" suara pria itu terdengar riang, "Maaf ya, Nona. Aku mengganggu waktu tidurmu?"
.
Ia menatap penampilan pria aneh itu dari ujung kepala hingga kaki, mencoba mengenali sosok tamunya kali ini. Tapi dia tidak pernah sekali pun mengenal, bahkan melihatnya. Tanpa sadar ia bergidik seakan-akan melihat jelmaan monster ikan. Bertubuh tinggi besar dibalut dengan jubah berwarna hitam, pria ini memamerkan deretan gigi yang tampak tajam dan tidak beraturan. Wajahnya pucat menyerupai hiu, di bawah matanya pun terdapat tiga goresan bekas luka yang terlihat seperti bentuk insang. Penampilannya lengkap dengan kulit yang kebiruan bercampur abu… Entahlah, dia tampak mengerikan layaknya monster hiu. Wanita ini masih memperhatikan sosok asing di hadapannya seperti kebingungan.
"Si-Siapa kau?"
"Perkenalkan! Aku Kisame Hoshigaki, seorang pria berhati lembut dan ceria dengan wajah 'sedikit' menakutkan… Jangan sungkan, panggil saja aku dengan sebutan Kisame! Ya?" senyum tipis membayangi bibirnya ketika pria itu melihat wanita di balik pintu masih terlihat takut, "Dan kau… Nona? Siapa namamu?"
"Kau menggedor pintu rumah tapi tidak mengenal tuan rumahnya?" Karin memincingkan mata.
Pria ikan bernama Kisame ini tertawa kecil dan sikapnya terlihat lebih menakutkan di mata Karin.
"Oh my… Aku lupa! Tentu saja kau tidak akan mengenalku, juga sebaliknya. Aku teman Sasuke Uchiha, Nona! Kami teman sekantor lho…" dia sedikit menunduk agar wanita di hadapannya tidak perlu mendongakkan kepala, "Boleh aku masuk dan bertemu dengannya?"
Karin terlihat terkejut.
.
Monster ikan hiu ini teman kantor Sasuke?!
.
"Di-Dia tidak ada disini." ia terbata-bata, membuat Kisame menggelengkan kepala.
"Haah, tidak disini bagaimana sih? Nona… AH, AKU TAHU! Kau ingin main tebak-tebakan dimana Sasuke bersembunyi?" tingkahnya seperti seorang anak kecil, ia mengatupkan kedua tangannya seolah-olah mendapat petunjuk, "Jangan bercanda dong… Sepengetahuanku, dia kan tinggal disini?"
"Sudah kubilang dia tidak ada disini!"
Karin mendengus kesal, ia tidak bisa menahan celoteh pria aneh yang menganggapnya bermain tebak-tebakan. Orang gila. Secepat mungkin jelaskan bahwa Sasuke sudah pergi, lalu kembali tidur! Ia membuka slot rantai pengaman pada pintu dan memperlihatkan seisi ruangan pada Kisame yang merupakan 'teman' Sasuke. Wanita ini membukakan pintu agar pria usil ini segera sadar Sasuke memang tidak ada di rumahnya, lagi. Pria dengan paras layaknya ikan itu perlahan-lahan menginjakkan kaki ke dalam, memperhatikan satu per satu detil ruangan kecil yang ditinggali si wanita berambut merah. Pintu kembali ditutup, Karin bersandar di daun pintunya. Pandangan Kisame berkeliling menyusuri tiap sudut namun tetap tidak menemukan sosok Sasuke Uchiha, ia tersenyum geli.
"Ja-di… Kau sembunyikan dia dimana, Nona?" tanyanya lagi.
"Sasuke pernah tinggal disini, tapi beberapa hari yang lalu dia pindah." ujar Karin yang masih bersandar pada pintu, "Dan aku tidak tahu dia dimana sekarang, Tuan Kisame. Kau sudah lihat rumahku kosong, jadi bisakah kau pulang dan membiarkan aku tidur dengan tenang?"
Kisame memalingkan wajahnya dan menatap Karin dengan pandangan yang berbeda. Raut wajahnya tidak ceria seperti sebelumnya, membuat wanita itu takut seraya menggenggam pisau yang daritadi disembunyikan di belakang punggung. Bersiap-siap melindungi diri apabila pria asing ini berbahaya dan hendak menyakitinya.
.
"Sasuke pindah? Hee~" dia tertawa, "Nona… Leluconmu tidak lucu."
"Aku tidak bercanda, kau lihat sendiri kan ruangan ini-" ucapannya terhenti tiba-tiba. Jemari pria berwajah hiu ini mencengkeram tulang pipi si wanita, memaksanya diam membisu.
"Bohong, bohong… KAU BOHONG." ia mendesis. Wajah pucat itu semakin lama mendekati batang hidung Karin, menyamakan jarak pandang mereka. Suaranya tidak lagi terdengar ceria, berganti dengan gumaman singkat yang terdengar begitu kejam dan sinis, "Jangan bohong dan membuatku kesal. Karena mobil yang ia pakai terparkir di sebuah lapangan beberapa blok dari sini, tapi ia tidak ada disana. Katakan, dimana dia?"
Karin melawan, ia mengeluarkan pisau yang disembunyikan dari balik punggung. Bermaksud menghujamkan mata pisaunya ke salah satu bagian tubuh pria mengerikan, namun langkahnya gagal total. Kisame dengan sigap menangkap pergelangan tangannya, memutar lengan mungil wanita itu ke belakang untuk mematahkan serangan. Karin mengerang kesakitan, ia tidak berdaya ketika genggamannya pada pisau terlepas. Pisau itu jatuh berdenting di atas lantai, sedangkan wajahnya masih berada dalam cengkeraman kuat Kisame Hoshigaki. Seluruh tubuh wanita ini seakan kaku, berpikir semuanya akan segera berakhir. Bernasib naas karena ternyata ini adalah hari kematiannya…
"Dimana Sasuke bersembunyi?" dia bertanya sekali lagi, "Kau sembunyikan dia dimana?!"
"NNNGGGGgghhh!" sekuat tenaga ia berusaha berteriak atau berbicara, namun usahanya tertahan oleh cengkeraman kuat Kisame. Satu-satunya gestur yang dapat Karin lakukan adalah menggeleng, berharap pria ini mengerti kalau ia tidak tahu menahu soal kepergian Sasuke Uchiha.
.
Usahanya sia-sia.
Dia terlihat seperti seorang psikopat, pancaran matanya berbinar seakan menikmati wajah ketakutan wanita di hadapannya. Setiap kali Karin mencoba menggelengkan kepala karena sejujurnya ia memang tidak tahu menahu mengenai keberadaan Sasuke Uchiha, sang pria asing ini akan menyela dengan terkikik geli. Disertai gumaman kecil yang menganggap semua usaha yang dilakukan wanita ini adalah kebohongan. Kisame larut dalam dunianya sendiri, berseri-seri menatap wajah seorang wanita yang wajahnya dipenuhi keringat dingin dan pucat pasi. KETAKUTAN.
"Khukhukhu, ini dia! Ini wajah yang kusukai dari orang-orang yang berkata BOHONG. Tidak menghargai senyum ceria yang kutawarkan, sekarang malah memperlihatkan raut wajah ketakutan… He, benar tidak? Takut?! Kau takut pada Kisame, Nona!?" wajahnya yang menyeringai tampak begitu mengintimidasi, membuat jantung wanita ini terasa dingin. Hatinya mencelos, putus asa. Tanpa disadari dari sudut mata Karin telah mengalir cairan bening, ketakutan setengah mati.
Pasrah pada nasibnya.
Dari balik jubah hitam, ia mengeluarkan sebilah pedang kecil yang tersimpan dalam sarung berwarna hitam. Karin melihat mata pedang yang terlihat berkilau terkena terpaan cahaya lampu pada langit-langit kamarnya, napasnya naik turun tidak beraturan. Tubuh wanita ini mematung dan bergetar hebat hingga kedua lututnya terasa lemas, batinnya menjerit meminta pengampunan. Dia akan mati. Baru kali ini ia menyadari bahaya yang sebenarnya apabila terlibat dengan Sasuke, mendapat sedikit gambaran tentang pekerjaan pria itu. Alasan mengapa ia meninggalkannya, semuanya demi kebaikan dan keselamatan nyawanya. Tapi lagi-lagi… Semua sudah terlambat.
Penyesalan selalu datang terlambat.
.
"Sakitnya hanya sesaat lalu tidak terasa lagi kok…" pria ini terkekeh sambil menjilat sisi pinggiran senjatanya, "Kau bisa lanjutkan lagi tidurmu, dan untuk kali ini… Tidur abadi."
.
.
.
8th Floor – Apartment, Suna
Suara dentingan sendok beradu dengan pinggiran cangkir mengisi keheningan dari ruangan apartemen yang disewa para agen Konoha. Setelah mengadakan pembicaraan mengenai data-data yang diperiksa Hyuuga Hinata di gedung perkantoran nomor 589 milik Akatsuki, mereka menemukan beberapa informasi yang mencengangkan mengenai target Proyek Suna. Meski tidak terlalu mendetail, Hinata menceritakan tentang sebuah penelitian Akatsuki bernama Kyuubi Project yang dilakukan terhadap Sora. Akatsuki mengincar sesuatu dari aset berharga bagi Konoha yang belum juga ditemukan. Informasi yang mereka dapatkan belum cukup memadai, mereka tidak mendapatkan petunjuk posisi laboratorium penelitian atau dimana letak markas Akatsuki dalam data yang tersebar di gedung 589.
Sai telah melaporkan nomor ponsel 'KABUTO' pada Shikamaru untuk dilacak, nomor itu adalah satu-satunya jalan terang yang akan membawa mereka menuju lokasi Akatsuki berikutnya. Mereka juga membicarakan kemungkinan Sakura ditangkap, juga tugas baru untuk melenyapkan Sasuke Uchiha. Hinata terhimpit di tengah-tengah perdebatan, dimana Sai bersikeras mengikuti misi sedangkan Naruto ingin meyakinkan dulu alasan utama mengapa sahabatnya bergabung dengan Akatsuki. Keadaan yang bersitegang membuat perbincangan misi berlangsung keras, mereka memilih mendinginkan kepala masing-masing sebelum mengambil langkah berikutnya.
Ia duduk di sofa sendirian, ditemani secangkir kopi hitam yang baru saja diseduh. Penerangan yang diredupkan dan diganti dengan rangkaian lampu berwarna kekuningan ini membantunya merasa tenang, kegelapan dari arah jendela yang menghadap beranda sama sekali tidak mengganggunya. Suasana sekitar hening, hanya terdengar sayup-sayup suara dengkuran dari balik kamar pria. Ia menutup kedua mata sambil menghirup aroma kopi, mencoba menikmati saat-saat tenang. Tiba-tiba terdengar suara gesekan pada alas lantai dari arah belakang. Seluruh inderanya kembali siaga ketika menyadari kehadiran pihak lain selain dirinya. Membuka kedua mata, menunggu waktu tepat untuk bereaksi.
"Tidak baik mengendap-ngendap di kediaman sendiri, Agen Hinata…" ujarnya tanpa sekali pun menoleh, "Sulit tidur di negeri asing?"
.
"Ah… Ma-maafkan aku, senior!" gadis itu bicara terbata-bata dengan suara lembutnya. Tanpa disadari ia membungkukkan badan untuk meminta maaf, meski pada kenyataannya pria itu tidak melihat, "A-aku tidak tahu A-Anda masih disini."
"Aku bukan seniormu," Sai mendengus geli ketika matanya menangkap sosok Hinata yang menghampiri sofa tempat ia duduk, "dan tidak perlu meminta maaf untuk hal sepele."
Wanita itu mengangguk dan masih terpaku di tempat, hanya menatap gerak-gerik Sai yang sedang menikmati kopi perlahan-lahan. Aktivitas yang kontan membuat Sai menoleh lagi padanya.
"Mau kopi?"
"Ti… Tidak, terima kasih." Hinata menggeleng, akhirnya ia memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan atasannya itu. Gadis bermata lavender itu menunduk. Kedua tangannya yang terkepal diletakkan di atas paha, seakan-akan ragu, "I-ini tentang mi… Misi. A-apakah senior, ah ma-maksudku… Anda a-akan membunuh Sa-Sasuke Uchiha?"
"Ya, tentu saja." tanpa keraguan sedikit pun Sai menjawab. Ia meletakkan cangkir kopi pada meja yang berada di hadapannya sambil menatap Hinata, "Sudah kukatakan sejak awal, misi adalah misi. Pada kenyataannya kau harus membedakan antara profesionalitas kerja dan ego pribadi, apa yang menjadi prioritas itulah yang harus dikejar. Sedikit saja lengah maka kita akan mati sia-sia."
Keduanya bertatapan selama sepersekian detik, wanita ini menyadari sesuatu. Bola mata hitam Sai selintas terlihat menerawang, Hinata merasa atasannya menyembunyikan sesuatu namun ia tidak berani menanyakannya langsung. Juga tidak tertarik untuk beradu argumentasi dengan pria di hadapannya ini, Sai diliputi sifat superior yang jauh melebihi dirinya atau Naruto. Beragumentasi hanya membawa kekalahan telak bagi Hinata Hyuga. Keduanya kembali terdiam, Sai melipat kedua tangan dalam keheningan.
.
"A… Anda t-tidak tidur?" Hinata tidak punya pilihan selain mencoba mencairkan suasana.
"Tidak."
"I-Insomnia?" tanyanya lagi belum menyerah, "Eng… Ma-maaf kalau a-aku banyak berta-"
"Aku tidak tidur… Tepatnya ; berusaha tidak tertidur," tanpa disangka Sai menjawab pertanyaan bawahannya dengan lugas, "Kalau kau sudah selesai, bisa segera kembali ke kamarmu?"
"A-Anda berusaha… Tidak tidur?" tanyanya lagi.
Hinata hanya mematung, tidak bergerak dari tempatnya. Dia membutuhkan sesuatu sebagai bahan pembicaraan. Wanita ini enggan beranjak karena berada sendirian di kamar hanya membuat dirinya semakin mencemaskan keadaan Sakura Haruno yang menjadi tawanan Sasuke, juga mengkhawatirkan keadaan Naruto. Hinata yang secara pribadi tidak berhubungan dekat dengan Sasuke Uchiha sebenarnya tidak merasa keberatan pada isi misi yang diberikan Konoha, namun ego pribadinya untuk melindungi Naruto turut membuat perasaannya terombang-ambing. Berseberangan dengan tempat ia duduk, kini Sai mengambil kembali cangkir kopi yang dibiarkan di atas meja. Melihat Hinata belum menyerah mengajukan pertanyaan, mengorek rahasia tentang dirinya.
"Aku berharap ini hanya insomnia, tapi sayangnya tidak seperti itu…" gumamnya perlahan sambil menghela napas dalam-dalam, "Aku memang tidak ingin tertidur, apalagi ketika berada dalam misi."
"Ke…Ke-kenapa?"
"Mimpi buruk," ujar Sai sambil meneguk cairan hitam pada cangkirnya lalu bangkit berdiri, "Mimpi yang selalu sama setiap kali kau tertidur, berkali-kali kau harus melihat peristiwa yang sama namun tidak ada jalan untuk mengubahnya. Memuakkan. Karena ini hanya akan mengganggu konsentrasi dalam misi, jadi sebisa mungkin kuhindari. Yah, kurasa pembicaraan kita cukup sampai disini? Sebaiknya kau kembali ke kamarmu untuk beristirahat, Agen Hinata..."
"Ah, se-senior… Maaf," Hinata merasa pertanyaannya tadi sedikit lancang, "Aku ti-tidak bermaksud…"
"Selamat malam." Sai membalikkan badan, ia membawa cangkir kosong menuju dapur lalu meletakkannya begitu saja. Mata lavender wanita itu terus mengikuti pergerakan Sai dari sofa menuju dapur, semakin bertanya-tanya. Pria berambut hitam ini tampaknya butuh penyegaran. Meninggalkan Hyuga Hinata duduk seorang diri di sofa, ia mengambil jaket tebalnya dan memilih menghabiskan jam malam dengan berjalan-jalan di luar. Mencari udara segar.
Seorang diri.
.
.
.
Gudang Tua - Suna
Pria berambut raven hitam ini mengerjapkan mata, tubuhnya letih bersandar pada punggung kursi selama beberapa jam. Dia tetap terjaga, penglihatannya selalu tertuju pada tempat tidur sederhana yang digunakannya selama beberapa hari terakhir. Sosok berambut soft pink yang terlelap di tempatnya tampak bergelung menyamping, kelelahan. Efek obat generik yang ia berikan 'setengah memaksa' tampaknya mulai bekerja, obat penghilang sakit yang dikonsumsi Sakura untuk mengurangi nyeri pada luka-lukanya ini juga mampu membuat tubuh lelahnya beristirahat sejenak. Ia tertidur. Sasuke Uchiha kehabisan akal bagaimana harus bersikap setelah kejadian hari ini. Menyandera teman masa kecil yang justru mengubah pendirian yang telah dikukuhkannya selama tiga tahun terakhir.
.
"Aku akan mencoba sekali lagi untuk mempercayaimu, Sakura…"
.
Baka. Kenapa tadi aku mengatakan hal itu?!
Keturunan Uchiha ini lagi-lagi menghela napas. Betapa tidak, dia sendiri tidak sadar telah mengatakannya. Meski kali ini ia bersungguh-sungguh dan jujur terhadap perasaannya. Mengkhianati Konoha. Ini adalah keputusan hidup yang dipilih Sasuke Uchiha. Selama tiga tahun, ia menganggap Konoha adalah masa lalu yang harus dikubur tanpa perlu digali lagi. Pria ini membuang rasa kebangsaan terhadap negara yang telah membesarkannya sejak bayi, menolak untuk percaya pada siapa pun yang berkaitan dengan Konoha. Termasuk dua orang sahabat yang ditolongnya terakhir kali di tebing perbatasan, baginya semua memori tersebut hanyalah omong kosong. Kenangan yang membusuk.
Menolak dan membenci negara asalnya cukup membantu langkah pengkhianatan Sasuke, terlebih ketika ia bersedia bergabung dengan kelompok Akatsuki. Dia terus menanamkan kebencian berlapis pada Konoha. Baginya Konoha adalah negara penuh konspirasi, dipenuhi kebohongan yang tersusun rapi. Dia tumbuh disana bersama sebuah pemikiran lugu sementara pada kenyataannya ; ia ditipu dan hidup diliputi kebohongan. Meski demikian pria ini juga menyadari Akatsuki tetaplah sebuah organisasi gelap yang berbahaya, kehadirannya bagaikan pedang bermata dua. Uang dan pengakuan adalah dua hal yang selama ini dikejar Sasuke bersama Akatsuki. Latar belakang sebagai 'mantan Konoha' tidak pernah lepas dari predikat nama Sasuke Uchiha, dan ia tahu itu.
.
Sasuke sadar ; mereka tidak pernah seratus persen mempercayai kehadirannya dalam organisasi. Kabuto adalah tangan kanan sang pemimpin yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-geriknya dengan kedok 'mentor' atau 'atasan'. Akatsuki juga memasang alat pelacak pada alat komunikasi dan kendaraan yang ia gunakan. Itulah alasan utama mengapa ia harus meninggalkan Karin, karena ditakutkan Akatsuki telah berhasil melacak dimana ia tinggal. Pria ini mengeluarkan dua buah ponsel dari saku, salah satu diantaranya mati sejak mereka meninggalkan lapangan parkir. Sebagai langkah preventif dia menonaktifkan ponsel yang tersambung dengan jaringan Akatsuki, keturunan Uchiha ini tidak akan membiarkan lokasinya yang baru diketahui.
Ketika masih sibuk berkutat dengan pikirannya bagaimana menjelaskan situasi karena ia melarikan diri dari tugas membereskan data di gedung perkantoran 589, ia terkejut. Suara yang dihasilkan dari mode getar pada ponsel mengejutkannya. Tanda panggilan masuk pukul setengah tiga dini hari? Sasuke hanya melihat layarnya sekilas, membaca siapa penelepon yang berani menghubunginya tengah malam seperti ini. Dia menggelengkan kepala begitu melihat nama si penelepon yang tertera pada layar.
Karin.
"Che…" ujarnya sambil memandang nama itu tanpa mengangkatnya, "Mau apa dia malam buta begini?"
Belum sempat diangkat, panggilan itu terputus.
Namun tidak lama berselang, ponselnya kembali bergetar.
.
Karin.
Sasuke tidak menggubrisnya, ia meletakkan ponsel di atas meja sampai getarannya berhenti. Dan ternyata frekuensi panggilan berikutnya lebih cepat, ponselnya lagi-lagi bergetar.
.
Karin.
Alis Sasuke terangkat ke atas, mengingat kembali sifat wanita itu… Dia tidak pernah terbangun tengah malam jika tidak mendesak. Dan selama beberapa hari ini dia sendiri tidak pernah berkomunikasi lagi dengan gadis berkacamata itu. Apa ini lelucon? Dia masih mengurungkan niatnya hingga si penelepon menutup panggilan... Meski dilanjutkan dengan panggilan berikutnya.
.
Lagi-lagi Karin.
Dan penelepon berikutnya masih berasal dari nama yang sama… Heran, apa yang dilakukan wanita berambut merah itu tengah malam begini? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu?! Karena ia tahu persis, pribadi mandiri seperti Karin tidak akan menghubungi seseorang jika tidak terjadi sesuatu yang mendesak, atau hal-hal yang tidak dapat dilakukannya seorang diri. Sasuke Uchiha berdecak dan berharap ini sesuatu yang penting. Dia memutuskan untuk menjawab panggilan ketika untuk keempat kalinya nama Karin tertera pada layar ponsel.
.
.
"Ya, Karin?"
Sunyi, dari balik pendengarannya tidak terdengar suara apapun.
Atau siapa pun.
"Hn? Halo?" ia mencoba berbicara sekali lagi namun tetap tidak ada respon. Apa wanita ini ceroboh dan tidur sambil mengaktifkan ponselnya? Menghubungi orang terakhir yang tertera pada daftar panggilan? Sasuke mencoba menunggu respon dari sang penelepon namun tetap nihil.
Huh, konyol… Pria ini mengumpat dalam hati sambil terus menunggu.
"Karin, apa kau mendengarku?" pemuda ini mendengus kesal, dia melihat percakapan tanpa adanya respon itu telah berlangsung hampir sekitar satu menit. Sudah cukup, dia akan mengakhiri omong kosong ini. Satu menit adalah waktu yang cukup sebagai batas toleransi kesabaran seorang keturunan Uchiha, "Hn? Apa semuanya baik-baik saja, tolong jangan ganggu aku la-"
"Sasuke…" suara itu memotong perkataannya.
Dia terdiam ketika mendengar respon dari si penelepon.
Dia bukan Karin…
Suara seorang pria yang terdengar terkekeh mengerikan menghiasi keheningan diantara keduanya. Dia melihat lama pembicaraan mereka telah menembus angka satu menit. Buku-buku jari Sasuke seketika itu berubah menjadi dingin dan tegang, bulu kuduknya merinding dan tanpa sadar ia mengeratkan cengkeraman pada ponsel yang menempel pada telinga kirinya. Suara ini… Dia pernah mendengarnya, dan merasakan tanda bahaya yang begitu besar. Jantungnya terasa terpompa namun bibirnya kaku. Dia melakukan kesalahan… Dia telah memberikan waktu yang cukup bagi Akatsuki untuk melacak keberadaannya. INI GAWAT... SIAL! Belum sempat menutupi rasa keterkejutannya, selang beberapa detik suara yang terkesan mengerikan itu kembali terdengar.
.
"KAU KUTEMUKAN, SASUKE…"
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Halo! Chapter sepuluh selesai dan untuk kali ini alur waktunya memang lebih lambat dibanding chapter sebelumnya. Karena beberapa fakta tentang Sora sempat pending di chapter 9, saya mulai bahas di chapter ini. Termasuk flashback Fugaku Uchiha yang muncul menjelaskan penelitian Sora 15 tahun yang lalu, mungkin ada beberapa yang mulai bisa menebak alur ceritanya seperti apa? (authornya sendiri kebingungan sebenernya buat bikin plot, hahaha). Satu lagi saya tambahkan anggota Akatsuki yaitu : Kisame Hoshigaki, sifatnya tentu saja OOC. Karin akhirnya berakhir naas di tangan Kisame =_=;
Dan… Cerita ini nggak akan sampai puluhan chapter kok, jadi mungkin sebentar lagi akan masuk klimaks cerita meski belum bisa diputuskan tamat chapter berapa. :D Semoga chapter ini bisa menghibur ya, plus sebagai info tambahan chapter 11 Shattered Memories akan NAIK JADI RATING M. Ini pertimbangan dari segi bahasa dan plot kekerasan yang mulai naik, bukan karena adegan dewasa kok. Jadi tanggal 7 bulan depan cari cerita ini di rate M. :D
Yang sudah review, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Ini balasan review chapter sembilan :
Gita Zahra : sampai chapter ini Sasuke tetap berada bersama Akatsuki dan tetap benci Konoha. Sasuke sama Sakura tampaknya masih membingungkan, haha. Oh usia Sakura-Sasu-Hinata-Naruto-dan Sai disini sekitaran umur 22 – 24 tahunan (usia awal kerja karena mereka tergolong agen baru).
Guest / NineToFive: Haloo terima kasih banyak buat review dan fave-nya! ^^ Plus chapter depan cerita ini akan naik ke rating M, kalau soal adegan dewasa Sakusasu… Saya kurang mampu bikin adegan fangirlingan / lemon. Tapi usulnya saya tampung dulu, lihat alurnya ke depan. Semoga terus ikutin ceritanya dan saya tunggu review di chapter ini :D
Roquezen : Thanks! Dan untunglah sist suka chapter ini, iya panggil summon buat bikin adegan Sakusasu *ga mampu ceritanya*.
Afisa UchirunoSS : Wah update sebulan dua kali udah cukup susah sist, sebelum tanggal 20 nanti saya kejang-kejang ngetiknya. Hohoho gimana chapter ini? RnR lagi yap!
Akasuna no ei-chan : thank you reviewnya dan Sai memang keliatan galak ya? LOL. Oh Sora bukannya percaya sama Uchiha sih, tapi karena alasan tertentu. Semoga chapter depan bisa saya bahas, makasih banyak buat reviewnya, ei-chan. :D
Hanazono yuri : thank you reviewnya dan untuk chapter ini Sakusasunya pending dulu buat bahas Sora. Tunggu chapter depan yaa dan ditunggu RnRnya lagi yuri-chan~
Dian-chan : Sempat bingung, ganti PenName ya sist? Naah sekarang saya update! Saya sudah mulai masuk ke inti cerita, semoga tetep ikutin ya :D
Cheinn PinkTom : wahahaha berhubung saya demen membunuh karakter jadi request Sasuke nggak mati ya? Saya tampung masukannya, luka-luka oke tapi mati jangan, LOL. Thanks reviewnya dan jangan lupa RnR lagi di chapter ini lho.
Sherlock Holmes : Terima kasih buat reviewnya Mr. Holmes! Sakusasu moment udah ditambahin chapter kemarin tapi sekarang harus ceritain yang lain dulu nih, tapi tetep saya tunggu review berikutnya dari pak detektif :D
Alluca : *nyengir* Sama-sama, semoga suka sama Sakusasu moment yang kemarin ya.
Guest 2 : Jangan dong, nanti saya kram otak plus kejang-kejang kalau updatenya harus cepet. LOL tapi tetep ikutin cerita ini ya, tetap tanggal 7 dan tanggal 20 kok hehe.
Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini. Dan sama-sama juga buat review, terus semangat buat kelanjutan ceritanya! Sasuke masih tetep Akatsuki tapi nggak bisa dipastikan juga ke depannya gimana. Berhubung tugas bunuh Sasu bukan Cuma Naruto aja, Hinata sama Sai juga berkesempatan buat laksanain misi itu. Saya tunggu komen untuk chapter kali ini juga. :D
Gohara01 : yaa thank you! Update kok tepat waktu. ^^
Alisha Blooms : Halo halo Alisha-chan, thank you buat reviewnya kemarin! Satu per satu rahasia seputar Sora mulai saya bahas kok tenang aja. *ngakak* seperti kebanyakan sifat villain perempuan yang lengket sama bosnya : cantik, smart, dan badass… Itu tips si Konan (termasuk faktor author yang demen sama dia juga sih), hehehe. Ayoo ditunggu reviewnya lagi ^^
Mizuira Kumiko : Wah ini dia, saya sendiri bingung Saku mau diapain LOL. Sasuke 'menanamkan' pemikiran kalau dia benci Konoha dan semua yang terkait disana… Termasuk Sakura dan Naruto. Jadi dari omongannya di chapter kemarin, dia mau mencoba lagi buat percaya sama Sakura, nggak ngeliat dari kebangsaannya yang masih 'Konoha'. Sasu ada kemungkinan bakal kabur dari Akatsuki karena mereka duluan yang ngincer nyawanya via Kisame. Semoga tidak mengecewakan sih, saya menunggu komen dari senpai Mizu lagi (atau curahan ide kalau ada, LOL) ^^
AcaAzuka Yuri chan : Saya udah update nih, thank you banget udah menyempatkan review. Belom kok tenang rate M untuk romance belum tentu saya buat. Saya juga masih dalam tahap pengembangan karakter Sai berhubung dia OOC banget (karena Hinata etc nggak terlalu saya buat jauh dari karakter aslinya, apalagi kalau dibanding sama Sai). xD Hmm nggak kok nggak bakalan sampai puluhan chapter, jadi semoga chapter ini juga cukup menarik buat lanjutin baca. Ditunggu reviewnya yaa…
.
Dan untuk chapter ini juga…
Yang baca cerita ini tolong share reviewnya ya, sesingkat apa pun saya terima kok. Saya menanti segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, atau mungkin kalau ada kritik dan saran, etc. Mohon maaf kalau cerita newbie ini masih banyak kekurangan, antusiasme review tentunya mempengaruhi semangat saya untuk update!
Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 7 April)!
-jitan-
