SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

Note :

- Rating M (mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar) :D

- Genre : Adventure / Mystery / Romance

- AU : Alternate Universe, OOC, typo, death chara.

- Ini fanfic pertama saya di thread Naruto. Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie. Tolong reviewnya yaa semua (syukur kalo di-fave dan follow), makasih :)

.

.

.


Gudang Tua – Suna

"Sakura," ia mengguncang tubuh wanita yang masih terlelap di atas tempat tidur, "Hei bangunlah."

"Ck, Sakura Haruno… Bangun!"

Wanita itu mengerjap seraya menggeliat ke samping, Sakura menyipitkan matanya, cahaya lampu terlihat sangat menyilaukan bagi mata yang masih lelah. Dia menyadari Sasuke tengah berusaha membangunkannya dari tidur, Sakura juga merasa ia belum tertidur terlalu lama. Ada apa ia membangunkannya tengah malam? Sakura Haruno berusaha bangun dan duduk sambil menggosok matanya yang masih terasa perih akibat kantuk. Mungkin ini pengaruh obat penahan sakit yang ditenggaknya beberapa jam yang lalu, kandungan obat yang ia konsumsi berhasil menenangkan syaraf-syaraf dan membuatnya tertidur nyenyak. Tangan Sasuke berada pada pundak wanita itu dan masih berusaha mengguncangnya agar tersadar.

"Cepat bangun, kita harus pergi."

Ia menoleh ke arah Sasuke yang menatapnya dengan raut sedikit cemas, "Sasuke? A-Ada apa?"

"Kita ketahuan oleh Akatsuki, sekarang kau harus bersiap-siap untuk kabur."

"HAH?! A-APA Maksud…" rasa kantuk Sakura mendadak hilang, berganti dengan kedua bola mata yang melebar ketika mendengar perkataan sang Uchiha.

Ketahuan?! Bagaimana bisa?

"Hn," Sasuke berdiri dan mulai membereskan beberapa barang dari lemari kecil di sebelahnya, diam sejenak seperti menimang-nimang keputusan untuk memberi tahu cerita yang sesungguhnya pada pihak Konoha, "Mereka berhasil melacak nomorku. Dan saat ini Akatsuki… Ah maksudku seorang anggota dari Akatsuki bernama Kisame, dia sedang menuju tempat ini."

.

"Kau... Mengenalnya?" Sakura menatap Sasuke yang sempat mencuri pandang sebelum akhirnya memalingkan muka.

"Tidak bisa disebut kenal, dan sama sekali tidak bisa dibilang akur." Sasuke berdeham sejenak, "Kisame Hoshigaki adalah anggota Akatsuki yang terbilang 'gila', psikopat dan bertindak seorang diri tanpa perintah. Aku berani bertaruh ; dia dan kelompoknya sedang menuju kemari dengan kecepatan penuh tanpa melapor dulu pada anggota lainnya. Hal itu bagus, sebuah kesempatan emas untuk menghadapinya. Jadi sebaiknya kau juga cepat bangun untuk bersiap-siap."

Sakura dengan refleks bangun untuk mencari-cari barang bawaannya, tapi ia baru menyadari selain pakaian yang melekat pada tubuh ia tidak memiliki perlengkapan lain… Ah ya, dia lupa tujuan awal dirinya berada disini sebagai tawanan dan seluruh persenjataannya telah dilucuti. Sakura tidak membawa peralatan lain termasuk alas kaki, gerakannya otomatis terdiam. Dia menoleh pada Sasuke yang sedang merogoh sesuatu dari lemari kecil dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk boks.

"Pakai ini untuk sementara," Sasuke mengeluarkan sepasang sepatu sport dari sebuah kotak penyimpanan lalu menaruhnya di hadapan Sakura yang masih kebingungan, "Ukurannya mungkin tidak sesuai, tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali kan?"

Tanpa pikir panjang Sakura meraih sepatu yang diberikan Sasuke lalu mengenakannya dengan hati-hati. Telapak kakinya yang terluka masih terasa nyeri saat bersentuhan dengan alas sepatu, tapi ini memang lebih baik daripada berlarian di jalan tanpa pelindung sama sekali. Sepatu sport berwarna hitam dengan garis berwarna biru sebagai pemanis kini melekat pada kedua kaki Sakura Haruno. Sepatu yang ia kenakan ternyata lebih besar dari ukuran kakinya sendiri, ia mengakali dengan mengeratkan tali sepatu sekencang mungkin agar tidak terlepas apabila diharuskan berlari. Matanya bergerak ke arah berlawanan, melihat gerak-gerik Sasuke Uchiha yang sibuk menaruh sebilah pisau juga handgun pada holster. Pria ini juga menyelipkan beberapa clip magazine sebagai cadangan amunisi.

.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sakura.

"Kita?" pria berdarah Uchiha ini malah balik bertanya, ia mengambil senter dan menaruhnya di salah satu kantong, "Tidak ada kata kita, Sakura. Sekarang kau boleh meninggalkan tempat ini lalu menuju tempat teman-temanmu, sementara aku yang akan menghadapi si Kisame..."

"Apa? Ti-tidak!" Sakura sontak berdiri dan berjalan menuju Sasuke yang melihatnya dengan pandangan heran, "Aku tidak bisa kembali begitu saja. Aku ingin membantu-"

"Tidak, ini sama sekali bukan urusanmu."

"Bukankah kau mau mempercayai aku sekali lagi?" kedua tangannya menggenggam jemari Sasuke. Pria ini diam mematung menatapnya dengan pandangan bingung, tapi Sakura terus mencoba meyakinkannya, "Biarkan aku membantumu, Sasuke."

Onyx yang beradu dengan emerald miliknya hanya mampu mengerjap, entah mengapa ia kehilangan kata-kata. Apa mungkin dia terkena tenung atau semacam mantra yang mampu membuat mulutnya terpaku tanpa berargumen? Sigh. Sasuke mengangguk kecil, ia mengambil sebuah jaket kulit berwarna hitam kemudian membantu gadis itu mengenakannya. Warna hitam senada dengan gelapnya malam mampu menyamarkan warna baju kemeja Sakura yang berwarna putih, sementara pria ini telah mengenakan pakaian lengkap berwarna hitam. Dia mengeluarkan beberapa anak kunci dari saku dan menoleh ke arah Sakura Haruno yang berada lima langkah di belakangnya.

"Hn, baiklah. Ikuti aku," ujarnya sambil tersenyum tipis, "Aku punya rencana untuk menyambut para tamu tak diundang itu..."

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 11 : BRIGHTER

.

.

.

Tangan yang terbungkus oleh sarung tangan sintetis menuntunku dari satu ruangan ke ruangan lain, peneliti ini membiarkan tangannya tetap steril. Jubahnya yang panjang berwarna putih terayun bersama langkah kaki di sepanjang koridor ruangan. Lamunanku terhenti saat ia melepaskan tuntunan tangannya lalu meninggalkanku begitu saja. Tanpa disadari aku telah berada di depan sebuah pintu, melihat kertas-kertas berserakkan di sekeliling meja dan berhamburan di sisi-sisi lantai. Di sekitar ruangan tampak beberapa peneliti lain yang berdiri sambil mengumpat kesal, terlebih setelah menyadari sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam data-data penelitian. Sesuatu yang penting. Seorang pria menggebrak keyboard komputer di hadapannya, hal itu sontak membuat yang lain terperangah lalu menoleh.

"Dia menghapus semuanya," pria yang baru saja menggebrak keyboard kini mengepalkan tangan ketika menatap satu per satu peneliti yang tampak tidak percaya, "Uchiha menghapus semua data penelitian kita!"

Yang lain hanya mampu berpandangan satu sama lain, menggelengkan kepala.

"A-apa?! TIDAK MUNGKIN!" ekspresi mereka berubah menjadi tegang.

"Bagaimana bisa ia menghapus semua database kita?!" sahut yang lain dengan nada emosi, "Apa kita sama sekali tidak punya back-up?"

"Apa kalian lupa?! Fugaku Uchiha memiliki otoritas level 4 untuk mengakses semua data! Dia salah satu pemimpin proyek ini, kan? Dan kalian semua pasti tahu ; tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan menyimpan data penelitian selain dalam database server. Apa yang harus kita laporkan pada pusat? INI GILA!" emosi seluruh peneliti yang ada di dalam ruangan seakan-akan meluap.

Keadaan menjadi ricuh dalam sekejap, para peneliti saling adu mulut dan memberi teori masing-masing. Saat itu dari balik pintu ruangan muncul seorang pria paruh baya, keadaan yang ricuh membuat kehadirannya tidak disadari para peneliti lain. Tiba-tiba ia maju ke hadapan sebuah meja lalu menggebrak meja itu dengan kedua tangannya, gebrakannya begitu kencang hingga membuat suasana ruangan yang ramai dengan adu mulut mendadak hening. Aku mengingat wajahnya, dia salah satu peneliti senior dan memiliki reputasi cukup penting dalam laboratorium. Namanya… Danzo.

"KALIAN BERISIK!" ujarnya dengan nada tinggi, "Dimana otak peneliti yang katanya dipenuhi teori dan logika, hah?! Apa perdebatan omong-kosong ini penting?"

Semua terdiam.

.

"Periksa data yang masih tersisa dan mana yang hilang. Bekerjalah menggunakan tangan, bukan mulut. Tenangkan emosi kalian saat bekerja," Danzo melipat kedua tangannya untuk memberi komando. Namun meskipun instruksinya telah terdengar jelas, para peneliti sepertinya masih tercengang dan berdiam diri, "Nah? Kenapa kalian masih diam seperti patung? Mulailah bekerja, SEKARANG!"

Mereka bergegas memeriksa berkas-berkas yang tercecer di atas lantai, membongkar map-map berisi laporan tebal hasil penelitian mereka. Seluruh data yang berceceran akhirnya terkumpul dan disusun dengan terburu-buru, mereka semakin gusar dan tindak-tanduk mereka disertai decakan kesal. Bahkan umpatan kasar tidak dapat lagi tertahan dari mulut para peneliti. Aku hanya diam seperti sebuah patung pajangan di depan pintu, dalam hati sebenarnya aku cukup lega. Mungkin dengan begini penelitian bodoh mereka pada tubuhku akan dihentikan. Aku sudah muak menjalani tes demi tes untuk mencapai tujuan dari ego mereka masing-masing, tidak ada satu pun hasil penelitian yang tampaknya akan berguna untukku sendiri.

Sambil mengamati pola gerakan mereka yang dipenuhi kecemasan dan tampak menggelikan, aku mencoba mengingat-ingat siapa orang yang bernama Fugaku Uchiha? Apa dia salah satu pemimpin penelitian yang pernah bertemu denganku? Namun tiba-tiba si peneliti senior bernama Danzo itu menunjuk ke arahku, jarinya menuding tepat di depan kepalaku seperti menemukan sesuatu yang 'tabu' untuk berada di ruangan dalam situasi seperti ini.

"KENAPA ANAK INI BISA ADA DI DALAM RUANGAN?!" raungnya sambil menunjukku berkali-kali, "BAWA DIA KELUAR DARI SINI!"

Pria yang awalnya menuntunku tampak ketakutan apalagi setelah melihat raut kesal dari Danzo, ia berlari meninggalkan berkas-berkas yang telah dikumpulkan dari lantai dan langsung menyeretku keluar dari pintu. Langkahnya begitu kasar dan hampir membuatku jatuh beberapa kali, benar-benar menyebalkan. Tapi aku tidak punya tenaga untuk melawan orang dewasa, karena seperti yang telah mereka ketahui sebelumnya ; aku berhenti menua di usia pertumbuhan sepuluh tahun. Kekuatanku layaknya seorang bocah ingusan, tapi positifnya aku memiliki otak jenius yang jauh lebih baik daripada para tua bangka yang sering muncul di televisi dengan label pembicara atau pakar.

Che, dan mereka 'merawatku' disini layaknya sapi perah.

.

.

"Hei!? Hei bung, berhenti!"

Dari belakang tampak seorang pria berpakaian layaknya petugas keamanan dengan pelindung kepala memanggil dan menepuk pundak si peneliti. Kami telah sampai di depan ruangan yang digunakan sebagai 'tempat tinggalku' selama berada di laboratorium. Si petugas datang mendekat dan tiba-tiba mendorong kami berdua masuk ke dalam kamar. Kebingungan, kami hanya mengikuti setiap gerak geriknya. Wajahnya tertutup oleh pelindung yang menyerupai sebuah helm, peralatan standar petugas keamanan apabila terjadi kegagalan percobaan, penyebaran racun, dan sebagainya. Awalnya aku mengira sedang terjadi kebocoran dari laboratorium dan kami diperingatkan agar tidak berkeliaran. Namun ketika kami baru saja masuk, ia langsung mengokang senjata lalu menghancurkan satu-satunya CCTV yang terpasang di sudut kamar.

"KA-KAU! APA YANG-ukh!?" ucapannya terputus.

Sang peneliti jatuh terjerembab ketika kepalan tinju mengarah pada tengkuknya, ia pingsan.

"Ruanganmu kedap suara, semoga saja petugas CCTV sedang sibuk memeriksa kekacauan di ruang data…" ujar si petugas tiba-tiba. Berbicara padaku yang masih keheranan, "Kau Sora 'kan?"

Aku mengangguk singkat.

"Bagus, ini saatnya keluar dari penjara bernama laboratorium. Pakai ini," tanpa basa-basi ia melempar sebuah jaket bertudung kepala yang disimpan di dalam lemari untuk melapisi pakaian tipis yang kukenakan, "Singkat kata ; aku mendapat perintah dari seseorang untuk menyelamatkanmu. Secara teori, kau adalah satu-satunya aset yang tersisa dan akan diperebutkan oleh mereka… Karena data mereka sudah hilang. Aku tidak peduli detail masalahnya, dan aku hanya menjalankan tugas untuk mengeluarkanmu dari sini, mengerti?"

"Kau siapa?" aku bertanya tanpa ragu, "dan apa orang yang menyuruhmu adalah Fugaku Uchiha?"

.

Dia terdiam dan menatapku dari balik pelindung kepala yang ia kenakan, tidak dapat terlihat bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Tapi sedetik kemudian ia mengangguk seraya berjalan ke arah pintu keluar.

"Aku juga seorang Uchiha, bocah." dia mengokang senjata dan mengintip keadaan di luar yang masih sepi, "Simpan pertanyaanmu. Kita akan bicara di lain kesempatan, sekarang sebaiknya kita bergegas keluar. Ayo!"

.

.


Akatsuki Mansion – Sora's Room

Aku terbangun dan menyadari napasku tengah naik turun, jemariku meraih sebuah gelas berisi air di samping tempat tidur. Menenggaknya hingga tersisa setengah, lalu memandang ke sekeliling kamar yang gelap dan kosong. Huh, ternyata mimpi. Salah satu kenangan yang tidak akan kulupakan, insiden yang berlangsung penuh kontroversi. Saat-saat dimana pemerintah memperlakukan seorang Sora dengan semena-mena, mereka meneliti semua hal pada sel-sel tubuhku. Tanpa kecuali. Demi pecahan rumus tentang kejeniusan juga kemampuan langka yang kumiliki ; berhenti menua. Aku masih ingat, selama berada di laboratorium aku mendekam di sebuah kamar yang terbilang seperti sebuah sel.

Seluruh dindingnya berwarna putih tanpa satu pun jendela atau lukisan sebagai pemanis ruangan, sepi. Di dalamnya hanya terdapat sebuah tempat tidur sederhana yang dibersihkan setiap hari oleh petugas, mirip ranjang yang sering kutemui di rumah sakit. Di dinding seberangnya terdapat sebuah televisi ; satu-satunya hiburan dalam ruangan itu. Sisanya? Hanya terdapat sebuah kamar mandi, sebuah lemari kecil yang menyimpan beberapa potong baju, dan sepasang meja-kursi untuk menaruh makanan yang ditaruh pada nampan dan diantar tiga kali sehari pada jam yang sama. Dan juga CCTV yang memonitor semuanya dalam 24 jam non stop. Layaknya binatang peliharaan, aku dirawat sebagai aset penelitian di dalam ruang karantina.

Aku menghapus bulir-bulir keringat yang menetes dari kening, sepertinya mimpi tadi merupakan efek dari pertemuan dengan dua orang Uchiha di hari yang sama. Sasuke Uchiha. Yang kutahu dia merupakan anak kandung Fugaku Uchiha yang selamat dari insiden. Lalu siapa pria bertopeng bermarga Uchiha yang sekarang mendirikan organisasi Akatsuki? Apa aku mengenalnya? Ini cukup mengejutkan, kukira seluruh Uchiha telah dilenyapkan tanpa terkecuali. Napasku yang memburu kini berangsur normal, aku mencoba mendengar pergerakan di luar kamar. Suasana di luar pun hening, entah para penjaga masih memantau ruanganku atau tidak… Aku tidak peduli. Setelah jantungku kembali berdetak dalam hitungan normal, aku menyandarkan punggung pada pinggiran ranjang. Terduduk dalam diam, aku memejamkan mata.

.

"Aku menawarkan agar kau bergabung dengan Akatsuki, Sora-sama…"

.

Tawaran yang belum kujawab dari salah satu Uchiha yang tersisa. Che, dunia memang dipenuhi kejutan! Aku meringis seorang diri, mengingat kembali data-data yang tadi kulihat dalam sepersekian detik… tentang Perekonomian Negara Konoha. Yeah… Perekonomian negara seperti sebuah permainan monopoli bagiku. Akulah yang mengatur dan menggerakkan laju pertumbuhan ekonomi Konoha selama ini, para pakar dan perusahaan bergerak layaknya pion. Dan aku ; SORA, adalah pemain utamanya. Hanya saja aku tidak dapat bergerak dan memindahkan sang pion secara langsung sesuai kehendak, semua harus bergerak melalui jalur birokrasi agar terlihat normal. Ini dikarenakan keberadaanku yang diklasifikasikan sebagai top secret, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui AKU HIDUP.

Otakku tidak bodoh untuk menerjemahkan seluruh kurva dan grafik yang tertera dalam data, mengubahnya menjadi sebuah kesimpulan. Dikhianati. Apa yang kuberikan pada Konoha, bagaimana aku memainkan pion demi pion dalam papan catur agar tampak cantik demi kemajuan negara… Ternyata mereka menyia-nyiakan kepercayaanku. Aku tahu. AKU TELAH DIBODOHI. Mereka ingin mengambil satu per satu pion yang telah kususun dengan rapi dan penuh pertimbangan. Setelah semua rencanaku berjalan lancar dan pertumbuhan menembus sebuah dekade, kini mereka berniat merebutnya dariku? Menggelikan. Jawaban yang akan kuberikan pada Akatsuki adalah satu-satunya kesempatan yang kumiliki untuk membuka mata mereka. Namun tetap saja aku masih ragu pada setiap konsekuensinya.

.

Bekerjasama dengan Akatsuki berarti MENGHANCURKAN KONOHA termasuk seluruh susunan pion yang telah kuatur selama ini. Hancur. Aku harus memulainya dengan pion-pion baru, semua dari awal.

Menolak Akatsuki berarti MENGHANTARKAN NYAWA lebih cepat dari garis nasib tanganku. Tidak juga menjamin keadaan Konoha tetap aman setelah kematianku, karena organisasi Akatsuki pasti memiliki sejumlah rencana cadangan apabila aku enggan bekerjasama. Dan patut dicatat, aku bukan tipe warga negara dengan jiwa patriotisme tinggi layaknya para pahlawan bertopeng.

Satu hal yang pasti kuperjuangkan dalam setiap keputusan adalah ; aku harus mendapatkan otoritas sebagai pemain catur, bukan menjadi salah satu bidaknya. Mempertimbangkan hal sepenting hidup-mati memang butuh waktu, dan kuharap si Uchiha yang menjadi pemimpin Akatsuki itu bisa menahan kesabarannya untuk sementara waktu? Huh, ini akan semakin menarik. Sayangnya di balik semua ini aku juga mencium firasat buruk, sepertinya insiden beberapa tahun yang lalu akan terulang… Bahkan mungkin, lebih buruk dari sebelumnya.

.

.

.


Gudang Tua – Suna

Sakura tidak tahu menahu darimana Sasuke mendapatkan kunci. Dari garasi tempat Sasuke menaruh motornya, ternyata tempat itu tersambung oleh sebuah pintu lain ke gedung sebelah yang diyakini tidak lagi dihuni. Sasuke sebelumnya pernah membuka ruangan itu, ia mengaku tidak perlu menggunakan ruangan itu untuk hidup sehari-hari. Dalam hitungan semenit, pintu terbuka. Udara lembab seketika menyembur keluar ditambah dengan debu-debu yang beterbangan begitu pintu digeser ke dalam. Keadaan gelap gulita membuat pria ini merogoh sesuatu dari sakunya, mencari alat penerangan.

Sasuke menyalakan senter untuk mencari tombol saklar, namun ternyata aliran listrik telah sepenuhnya dipadamkan. Ia harus mempersiapkan semuanya secepat kilat menggunakan senter, Sasuke menyinari beberapa bagian ruangan yang pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu. Ketika menyadari sendirian berada dalam ruangan, ia mencari letak sosok Sakura Haruno. Dan ia mendapati Sakura masih berdiri di depan pintu, menatap kegelapan total dengan pandangan bergidik ngeri. Ah, dia ingat. Wanita ini masih takut pada kegelapan karena trauma masa kecilnya. Sasuke berbalik arah dan menaikkan cahaya senter hingga ke atas kepala. Menyinari Sakura Haruno yang sekarang memincingkan mata akibat sorotan cahaya.

"Ayo masuk," ia berkata singkat. Tanpa ragu diraihnya pergelangan tangan Sakura yang terasa dingin dan berkeringat, Sasuke mencoba menuntunnya memasuki kegelapan, "Jangan takut, Sakura."

.

Sakura Haruno mengangguk, meski dalam hati ia masih merasa enggan. Kapan kegelapan menjadi salah satu trauma masa kecilnya? Gelap membuatnya seperti melihat siluet-siluet yang selalu membuatnya meringkuk ketakutan. Anehnya dia tidak tahu darimana asal-usul traumanya, atau peristiwa apa yang telah terjadi saat masih kanak-kanak. Dia melangkah, memberanikan diri untuk masuk. Genggaman tangan Sasuke adalah satu-satunya penghubung dirinya dengan rasa aman di antara kegelapan, Sakura menunggu beberapa saat sampai matanya mulai terbiasa dan beradaptasi dengan gelap.

Ia dapat melihat ruangan yang penuh debu dan lembab itu cukup berantakan, beberapa furniture yang terbengkalai dan tumpukan dus-dus membuat mereka harus berhati-hati. Sepertinya ruangan ini memiliki dua lantai, tapi Sakura tidak berani memeriksanya tanpa kehadiran Sasuke. Dia membenci sekaligus khawatir titik lemahnya ini hanya akan memperlambat pergerakan pria itu, tapi di sisi lain dia tidak punya keberanian yang cukup untuk melawan ketakutannya sendiri. Meskipun samar, Sakura melihat ruangan lembab ini memiliki dua pintu lain yang sama-sama tertutup.

"Kisame akan menyukai tempat ini," tiba-tiba keheningan di antara mereka terpecah oleh suara Sasuke, "Sebagai informasi untukmu Sakura… Dia tidak bergerak sendirian, ia pasti datang bersama beberapa pembunuh lain yang sejalan dengan, um… Pola pikir dan kebengisan Kisame. Kelompok Hoshigaki—itu sebutan kami untuk mereka. Mereka cukup dipandang di Akatsuki sebagai pembunuh psikopat yang menyukai permainan sebelum menghabisi korbannya, dan kali ini aku yang akan bermain-main dengan mereka."

.

Sasuke menuntun tangan Sakura menuju pintu pertama, membuka pintu dan di dalamnya tampak sebuah lemari kayu besar dengan jam tua di sampingnya. Sasuke mengambil sesuatu dari kantong peralatan yang telah dipersiapkan, lalu mulai melekatkan benda itu di belakang jam tua. Dia juga melakukan hal yang sama pada pintu lain dan ruangan utama. Yang tersisa hanyalah lantai dua. Sakura yang mengikutinya hanya melihat sebuah titik merah yang berkedip-kedip sebelum akhirnya ditutup dan titik merah pun menghilang. Alis Sakura berkerut keheranan.

Jangan-jangan Sasuke Uchiha berniat… Meledakkan tempat ini?!

"Sasuke?! Ka-Kau ingin-" ucapannya terpotong.

"Sebaiknya kau bersembunyi di lantai dua, Sakura. Bawa senjata ini bersamamu," Sasuke tidak menggubris pertanyaan wanita itu, ia memberikan sebuah pistol jenis Springfield dengan peredam suara. Sementara ia hanya bersenjatakan sebilah pisau, dengan yakin Sasuke menatap emerald Sakura dalam kegelapan, "Bersembunyilah di balik lemari. Di lantai dua terdapat sebuah jendela besar tanpa teralis, apabila terjadi sesuatu… Atau aku tidak menyusulmu, kau harus lari dari sana. Aku memasang detonator bom yang akan aktif jika tombolnya ditekan. Tapi ini terlalu berbahaya jika aku yang memegangnya, jadi aku butuh bantuanmu. Kau harus menjaga remote ini, mengerti?"

"Hah, a-apa? Kau ingin aku yang menjaga remote pemicu ini?!" Sakura terkesiap ketika sebuah benda kecil dengan tombol merah di tengah-tengahnya kini berpindah tangan, "Apa aku tidak ikut membantumu membunuh kelompok pembunuh itu, Sasuke?"

.

"Aku bisa mengatasi mereka seorang diri," Sasuke menepuk pundak wanita itu dan menyuruhnya naik sambil membawa senter, "Semua akan baik-baik saja. Tenanglah…"

Sakura masih ragu tapi ia mulai menjejakkan sebelah kaki pada anak tangga pertama. Sasuke menatapnya dari tengah-tengah ruangan, kedua alisnya terangkat ketika Sakura Haruno menoleh ke arahnya. Diam sesaat seperti mengumpulkan keberanian. Meskipun dalam gelap, ia menyadari wanita itu menatapnya dengan tatapan cemas.

"Sasuke…" ia bergumam kecil.

"Hn?"

"Hajar mereka semua," Sakura mencoba tersenyum ketika memberi semangat, "Dan kau juga harus selamat. Berjanjilah padaku."

Sasuke Uchiha hanya balas menatap, membalasnya dengan senyum tipis yang mungkin tidak terlihat dari jarak pandang Sakura, "Naik dan cepatlah bersembunyi, Sakura Haruno."

Setelah berkata demikian, ia melihat wanita itu menuju ke lantai dua. Sasuke segera berlari ke arah garasi dan mematikan semua lampu, ia juga menempelkan kunci motor pada kontaknya sebagai langkah antisipasi. Mungkin saja kendaraan itu akan diperlukan untuk melarikan diri dari ledakan? Entahlah, tapi dia harus memperhitungkan semuanya. Ia mengaktifkan kedua ponsel, membiarkannya tergeletak di atas meja sementara pria ini bergegas menuju ruangan sebelah dan membuka salah satu pintu untuk bersembunyi. Menunggu kedatangan mereka dalam hening, ia memfokuskan semua indera pada pendengaran. Kira-kira beberapa menit setelah tubuhnya berhasil bersembunyi dalam kamar pertama, ia mendengar suara derit jeruji besi yang terangkat.

.

Mereka datang…

.

.


Kisame Hoshigaki berada di deretan terdepan, menghunuskan pedang yang dipakainya untuk membunuh Karin. Di tangan kirinya terdapat ponsel yang menandakan lokasi sinyal pada ponsel Sasuke Uchiha. Titik merah yang menandakan lokasi berkedip-kedip, pencariannya telah sampai pada titik lokasi. Di belakang Kisame tampak dua pria yang berperawakan tinggi besar dan cukup mengerikan seperti wajah hiunya. Berbeda dengan Kisame, kedua rekannya menggenggam sebuah pistol berkaliber 9mm dengan peredam pada laras. Mereka menembak gembok garasi dan berhasil membuka teralisnya dengan tembakan.

Siaga penuh ketika mereka berhasil membuka garasi dan menemukan sebuah motor di dalamnya, Kisame tersenyum puas. Sepertinya buruannya tidak berniat kabur. Keinginannya akan terkabul malam ini, membunuh Sasuke Uchiha. Dia membenci bocah itu sejak pertama kali melihatnya bergabung bersama Akatsuki, namun dengan adanya Kabuto sebagai mentor yang mengawasi tiap gerak-gerik Sasuke… Dia tidak dapat melakukan hal tersebut. Kini kesempatan itu datang juga, dia tidak akan melaporkan aksinya pada Akatsuki. Perintah beliau adalah mencari keberadaan Sasuke Uchiha, dan dia tidak diinstruksikan untuk membawa bocah ini dalam keadaan hidup. Jadi, sah-sah saja bukan kalau hanya membawa potongan kepalanya?

"Kalian masih berniat menggunakan senjata konyol itu?" ia melirik ke arah dua rekannya yang masih memegang pistol, "Tidak menarik, kinerja peluru itu selalu sama. Bidik, DOR-DOR, selesai… Che! Tidak ada seni yang dapat kunikmati dari benda itu!"

Kedua rekannya hanya mengangkat bahu. Sementara pintu garasi telah terbuka lebar, kegelapan tanpa satu pun sumber cahaya menghadang mereka. Kisame tersenyum lebar, mungkin bocah Uchiha itu telah menyiapkan satu lagi permainan yang akan ia nikmati. Setelah beberapa menit yang lalu membungkam wanita yang telah menjembatani pencariannya mencari Sasuke, ia memasuki permainan utama. Ia membayangkan bagaimana ekspresi ketakutan akan mengisi wajah tampan Sasuke ketika ia dan kelompoknya masuk untuk mengobrak-abrik tempat persembunyiannya. Menyenangkan. Membayangkan bagaimana tubuh itu akan bergetar menahan sakit? Obsesi gilanya tidak tertahankan. Tidak, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

"Saatnya berpesta," ia menghunuskan pedangnya, lalu menjilati sisi pinggir pedang yang berkilat ketika terpantul cahaya dari lampu jalan. Kisame Hoshigaki terkekeh mengerikan di depan sebuah gudang yang diyakini menjadi tempat persembunyian incarannya, "SA-SU-KE, aku akan mencabik-cabik dirimu tanpa ampun. Khukhukhu…"

.

.


Tiap langkah yang terdengar kini meningkatkan adrenalin dari tubuh Sasuke Uchiha. Dari beberapa suara atau percakapan kecil antar Kelompok Hoshigaki, tampaknya si psikopat Kisame ditemani dua orang lain. Dia juga mendengar perintah Kisame yang menyuruh kedua rekannya berpencar, mewanti-wanti untuk menyisakan pertarungan untuknya. Menegaskan bahwa Sasuke adalah buruan yang akan ia bunuh dengan tangannya sendiri. Sasuke mendengus, si monster hiu ini menganggap remeh dirinya?

Belum lama berselang, terdengar sebuah suara kenop pintu tempat Sasuke bersembunyi dibuka dengan hati-hati. Sasuke bersembunyi tepat di sisi samping sebuah lemari pakaian berpintu tiga. Ukuran lemari itu cukup besar bahkan memungkinkan untuk menjadi tempat bersembunyi manusia dewasa. Dari sudut penglihatannya, ia melihat sesosok pria bertubuh besar yang tidak ia kenal. Pria ini berjalan selangkah demi selangkah sambil menodongkan handgun, mendekati tempat Sasuke.

Sedetik kemudian ia membuka pintu lemari pertama dengan kasar… Kosong. Ia bergerak ke sisi berikutnya, membuka pintu kedua yang ternyata kosong seperti pintu pertama. Pria itu mengumpat kecil, sepertinya dia merasakan ketegangan yang sama besar dengan yang dirasakan Sasuke Uchiha saat ini. Sang keturunan Uchiha kini mulai mengepalkan tinju dan merapat pada sisi lemari, ia berada tepat di sebelah pintu ketiga dan jaraknya dengan lawan sudah sangat dekat.

.

Sasuke dapat merasakan hembusan angin dari daun pintu lemari yang dibuka…

Ia tepat berada di sebelah pintu.

.

Tanpa aba-aba tubuh Sasuke bergerak untuk menyergap lebih dulu. Secepat kilat ia berputar ke belakang, menggenggam pergelangan kanan pria itu sementara tangan kirinya berada pada mulut lawan. Sasuke bermaksud melucuti senjata api terlebih dulu. Gerakan memiting yang ia lakukan ternyata berhasil, senjata api terlepas dari genggaman musuh. Erangan pria itu tertahan oleh tangan yang menutup mulutnya. Tanpa ampun Sasuke menarik paksa rambut pria itu, membuat kepalanya mendongak. Sasuke mencabut pisau dari holster lalu menghujamkannya tepat pada leher pria dalam cengkeramannya… Menghabisi nyawa lawannya dalam sekejap tanpa satu pun perlawanan.

Sasuke menghapus butir keringat yang mengalir dari kening, ia menarik kembali pisau yang tertancap pada leher mayat sebelum tubuhnya disembunyikan ke dalam lemari. Darah yang berceceran melalui pisau ia kibaskan, tetes demi tetes menodai lantai ruangan. Selesai menaruh pisau dan menyembunyikan jasad pria bertubuh besar tadi, ia mengambil handgun yang terjatuh. Sasuke melihat amunisinya yang terisi penuh masih lengkap dengan peredam suara. Tersenyum simpul, tanpa ragu ia menyimpan senjata barunya masuk ke dalam holster berdampingan dengan pisau.

Dari tiga kini hanya tersisa dua orang, pikirnya.

"Kisame Hoshigaki, akan kuikuti 'permainan' yang kau sukai…" dengus Sasuke di sela-sela keheningan, "Tapi dengan dirimu sebagai korbannya."

.

.

.


8th Floor – Apartment, Suna

Ia merasakan suara benda bergetar dari barang-barang yang disimpan di atas meja, Hinata yang belum juga tertidur mengambil ponsel yang diaktifkan dalam mode getar tersebut. Sambil duduk bersila di atas tempat tidurnya, ia melihat sebuah panggilan masuk dari unknown number, nomor tidak dikenal. Sepertinya dari jalur komunikasi Konoha? Hinata menekan tombol terima lalu mendengar respon si penelepon, yang ternyata memang berasal dari rekan yang ia kenal.

"Halo Hinata? Ini aku, Shikamaru." sapa si penelepon, "Aku menelepon lewat secure line."

"Eh? A-Ah, iya Shikamaru-san. Ada a-apa menelepon la-larut begini?"

"Apa Sai ada di sekitarmu? Atau Naruto?"

"Ti-ti-tidak!" Hinata kebingungan, "Ada apa?"

"Hmm... Ini soal laporan Sai tentang informasi yang kau dapatkan mengenai Kyuubi Project yang dilakukan terhadap Sora, untung aku berhasil menghubungimu. Ah itu… Begini, sebenarnya aku berniat melaporkan ini pada Pak Kakashi, tapi beliau tidak ada di tempat. Aku sempat mencari beberapa dokumen pendukung pada gudang arsip dan…" ucapannya terhenti sesaat, "Aku mendapatkan beberapa kejanggalan disana, Hinata."

.

DEG… Hatinya mencelos, firasat buruk.

"A-apa?" Hinata memiliki firasat buruk pada arah pembicaraan Shikamaru, namun ia bertahan demi mendapatkan informasi tambahan, "Shi-Shikamaru-san? Ada apa se-sebenarnya?!"

"Sebenarnya ini merepotkan, aku sendiri tidak yakin harus memberitahumu atau tidak. Yah... Setelah kukoreksi beberapa laporan, aku menemukan data-data yang ganjil dan tidak lengkap dari gudang arsip. Aku rasa ini aneh, seperti sebuah hal yang ingin ditutupi dan mengakibatkan pencarian data yang kulakukan terhenti di tengah-tengah," setelah beberapa jeda Shikamaru menambahkan, "Ah, kuharap untuk yang ini kau tidak membocorkannya pada siapa pun, Hinata! Karena ini menyangkut nyawaku. Berjanjilah."

Alis Hinata berkerut, tidak biasanya Shikamaru mengatakan hal-hal seperti ini. Dia tahu pria itu tidak menyukai hal-hal yang merepotkan. Apabila berhadapan dengan keadaan kritis pun, dia mampu berpikir dengan tenang untuk mencari jalan keluar, tidak pernah sekali pun ia enggan membocorkan sesuatu apalagi sampai harus berjanji menyimpan rahasia rapat-rapat karena menyangkut nyawanya. Jadi, Hinata yakin... Shikamaru sedang membicarakan satu hal yang sangat penting.

"Y-ya. Tentu," Hinata menjawab seketika, "A-aku janji."

Jantung Hinata berdetak tak karuan. Ia merasa sedang memasuki bahaya lain yang menyangkut hidupnya, ketakutannya pada firasat buruk tampaknya akan segera terwujud. Shikamaru berdeham sebelum melanjutkan perkataannya.

"Aku berhasil meretas database pusat Pemerintah Konoha, Hinata…" ujarnya perlahan sambil menghela napas dalam-dalam, "Dan aku menemukan beberapa data tentang Sora."

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Halo! Ini chapter pertama Shattered Memories di rating M ya? Chapter sebelas selesai tepat waktu dan inti dari chapter ini adalah Sasuke-Sakura VS Kisame dan kelompoknya, satu potongan cerita dari masa lalu Sora termasuk pola pikir Sora tentang ajakan Akatsuki, juga keberhasilan Shikamaru meng-hack database Konoha! Saya tegaskan sekali lagi perubahan rating bukan dikarenakan lemon (meski tidak menutup kemungkinan di depannya bakalan ada semacam adegan buah-buahan), tapi pertimbangan dari segi bahasa dan plot kekerasan yang mulai naik. Contohnya seperti pertarungan Sasuke tadi, memang nggak eksplisit tapi setidaknya cukup 'keras' kalau untuk Rating T. Daann karena saya sudah bilang kalau cerita ini nggak akan berlangsung terlalu panjang, bisa dibilang setiap chapter semakin memasuki klimaks cerita.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya terus dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho). Kalau ada yang punya tebakan / ide cerita, boleh di-share via PM ya (ketauan kan authornya emang lagi buntu) :D

Dan ini balasan review chapter sepuluh :

Gita Zahra : yup sist, seperti yang udah dijelasin di chapter ini kalau ada insiden beberapa tahun yang lalu yang berhubungan dengan Uchiha ; karena Fugaku ambil data penelitian. Tapi karena akan cukup panjang buat dibuka semua di satu chapter, akan saya pecah flashbacknya :D. Sasuke saat ini dikategorikan ada di ujung tanduk, dia lebih ke individual bahkan jadi buronan kedua pihak.

Hanazono yuri : semoga chapter ini cukup oke? thank you dan ditunggu RnRnya lagi yuri-chan~

Dian-chan : Karin akhirnya mati mengenaskan sist, hahaha Sasuke sepertinya bingung karena dia sendiri ada di ujung tanduk Akatsuki. Apalagi sekarang ada Sakura yang dari status tawanan Akatsuki berubah jadi orang yang harus dilindungi?

Guest : ketauan supaya seru, nasibnya tunggu di chapter depan ya! :D

Alluca : *nyengir* dan yang kali ini juga tepat waktu kok. Kisame memang jenis orang psikopat.

dinosaurus : Hallo dan salam kenal, terima kasih sudah mau mampir! Saya update nih, RnR lagi ya?

Afisa UchirunoSS : Wah iya sist Karin bisa dibilang mati sia-sia, tapi sepenuhnya memang karena dia nggak tau asal-usul atau pekerjaan Sasuke. Padahal tempat tinggalnya pasti diketahui sama Akatsuki. Thank you buat supportnya, saya update lagi ^^

Guest 2 : iya, soalnya memang lebih menekankan ke action dan adventurenya sih :D

Lilith : Haloo sist Lilith! terima kasih sudah mampir dan memberi review ya, salam kenal juga. Hmm sebenarnya Sasuke setelah diambil Akatsuki, dia belom pernah jadi mata-mata Konoha (statusnya masih pelajar waktu itu). Hehehe maaf kalau mengecewakan dan Sasuke terkesan kurang expert, saya memang membuat karakter utama yang umurnya masih sekitar 23 tahun (bisa dibilang baru mulai kerja) pasti punya saat-saat lengah. Tapi saya coba bikin Sasuke pinter lagi di chapter ini, LOL. RnR lagi yaa ^^

Gohara01 : yaa thank you! Saya lanjutkan.

Roquezen : Thanks! Sepandai-pandainya otak suatu saat sial juga hahahaha boleh juga teorinya sist, saya juga sedikit menyesali kematian Karin sih (padahal saya juga yang bikin dia mati ya), yaa semoga chapter ini oke buat tetep ikutin lanjutannya.

Alisha Blooms : Halo halo Alisha-chan, thank you buat reviewnya kemarin! Yup saya akan menyisipkan insiden Uchiha di tiap chapter (semoga). Naah sekarang gimana sama chapter ini, apa adegan pertarungannya bisa dibayangin? Rate M kalau bukan soal kekerasan nanti Alisha skip aja ya (kalo ngga yaa gapapa sih, tanggung dosa sendiri LOL).

Akasuna no ei-chan : thank you reviewnya dan Sasuke galau oh galau, LOL. Naah sesuai pertanyaan ei-chan kemarin saya sekarang coba bahas soal ikatan Sora sama yang namanya Uchiha. Dan makasih banyak buat reviewnya, ei-chan. :D

Sherlock Holmes : Terima kasih buat reviewnya Mr. Holmes! Sekarang udah dilanjutin nih, beneran ketauan persembunyian Sasuke lho. Pertarungannya semoga cukup oke? hohoho.

Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini. Iya saya coba masuk ke inti cerita dan chapter ini focus ke Sasusaku dan Sora. Saya tunggu komen untuk chapter kali ini juga. :D

Mizuira Kumiko : Untuk Sai saya akan bahas juga sekilas tapi bukan di chapter ini, iya status Sasuke lagi ngga aman sih… dia dianggap lalai dari tugas dan berkhianat dari Akatsuki, sementara pihak Konoha sudah memberi perintah kalau Sasuke harus dibunuh. Semoga pertarungannya kali ini cukup bisa dimengerti ya, Sasuke vs Kisame dipastikan muncul chapter depan. Dan saya tunggu RnR dari senpai Mizu lagi, thank you~ ^^

.

Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 20 April)!

-jitan-