SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
Note :
- Rating M (mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar) :D
- Genre : Adventure / Mystery / Romance
- WARNING : AU Alternate Universe, OOC, typo, death chara.
- Ini fanfic pertama saya di thread Naruto. Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie. Tolong reviewnya yaa semua (syukur kalo di-fave dan follow), makasih :)
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 12 : PRESSURE
.
.
Udara malam yang terasa dingin tidak berlaku di dalam ruangan gelap itu, tubuh mereka diliputi panas yang menyebabkan permukaan kulit mudah mengeluarkan titik-titik keringat. Seluruh otot-otot tubuhnya terasa terbakar adrenalin, rasa tegang dan was-was bercampur menghasilkan sikap siaga penuh. Jantung Sasuke Uchiha berdegup kencang seiring dengan langkahnya mengintip dari sela-sela dinding kamar, ia mencari letak dua penyusup lain. Mencari keberadaan Kisame Hoshigaki. Dari sudut pandangnya ia melihat sekelebat bayangan yang lewat di bagian seberang, tampaknya memeriksa satu per satu kamar dan semakin mendekati arah tangga. Telapak tangannya berkeringat, ia berharap sang penyusup tidak menaiki tangga itu. Dia tidak boleh menemukan lokasi Sakura bersembunyi!
Tapi harapannya seketika itu pupus, sosok itu akhirnya menaiki satu per satu anak tangga. Sasuke segera menyelinap keluar dari ruangan tempat ia bersembunyi, berniat membuntuti pria itu dari belakang dan menghentikannya sebelum sampai ke lantai dua. Ia melirik ke kiri dan kanan di tengah-tengah ruangan yang gelap gulita, tubuhnya merapat pada sisi tembok. Kosong. Dia tidak melihat ada seorang pun disana, aman. Tubuh yang awalnya merapat pada dinding kini berjalan menyusuri ruangan dengan sedikit berjingkat, langkah-langkah kaki membawanya mendekati arah tangga. Dia harus menghentikan langkah pria itu menuju lokasi Sakura, apalagi jika sosok yang berada di lantai dua itu adalah Kisame…
Ini gawat.
Sebelum sampai pada lokasi tujuannya, pria berdarah Uchiha ini mendadak terdiam. Menahan napas sementara jantungnya memompa lebih cepat. Postur tubuh yang sedikit bungkuk untuk berjingkat kini kembali tegak, Sasuke berdiri kaku sementara matanya hanya melirik sejauh yang dapat ia lakukan... Namun kepalanya tidak sekali pun menoleh, dia enggan. Karena tanpa harus melihat pun, dia tahu. Dia tidak sendirian disana… Ada seseorang yang mengawasinya, dari belakang.
.
Sedetik kemudian yang terjadi adalah interaksi antara gerakan refleks dengan insting. Sasuke Uchiha dengan sigap bergerak ke samping kiri ketika sebuah serangan tertuju pada punggung. Dari gerakannya yang gesit, pria itu terlatih menggunakan sebilah pedang yang nyaris mengenai punggungnya. Belum sempat membalas, lagi-lagi Sasuke harus mengelak dari serangan hunusan pedang. Ia berbalik badan dan melancarkan tendangan ketika tubuhnya bungkuk untuk menghindar dari tebasan. Serangannya berhasil, tubuh lawannya mundur beberapa langkah ke belakang. Memberi satu jeda untuk saling menatap satu sama lain, Sasuke bergidik ketika menatapnya.
"Sasuke Uchiha…" ujarnya dengan perlahan namun terdengar menusuk, "Caramu mengendap-ngendap benar-benar menggelikan. Seperti tikus kecil yang ketakutan…"
Tidak salah lagi, dia berhadapan Kisame Hoshigaki.
"Hn, dan untungnya disini gelap." balas Sasuke, "Aku tidak perlu melihat wajah hiu-mu yang jelek."
Pria Uchiha ini mengeluarkan pisaunya dari holster, karena dia tahu tipe petarung seperti Kisame akan mudah melucuti pistolnya… Kisame sudah terbiasa menghadapi serangan dari senjata api yang membutuhkan ketepatan dalam membidik. Karena tidak ingin mengambil resiko, maka Sasuke berpikir pertarungan jarak dekat akan lebih menguntungkan. Kisame terkekeh melihat sikap siaga Sasuke Uchiha di hadapannya, dia akan menikmati sayat demi sayat tubuh itu sesaat lagi. Sambil membiarkan Sasuke mengeluarkan pisau, ia pun menghunuskan pedang dan memasang kuda-kuda. Tanpa pikir panjang Sasuke maju dan menerjang tubuh besar Kisame, menyerang lebih dulu.
Dentingan antara mata pisau dengan sebilah pedang tak terelakkan lagi, Sasuke memiliki keunggulan dalam kecepatan. Sementara kemampuan Kisame dalam pertarungan menggunakan melee jauh di atas siapa pun yang ada di Akatsuki, termasuk Sasuke Uchiha. Senyum pria berwajah hiu itu melebar ketika ia berhasil menyayat permukaan kulit pada lengan kiri Sasuke, membuatnya mengerang terasa begitu menyenangkan! Serangan bertubi-tubi ia lancarkan demi menikam tubuh di hadapannya, ia begitu bernafsu untuk menghancurkan Sasuke Uchiha… Dia ingin anak ini mati di tangannya, dengan luka-luka tusuk yang berasal dari pedang Kisame Hoshigaki.
.
.
Sementara pertarungan antara Kisame dan Sasuke sedang berlangsung di lantai pertama, tubuh Sakura Haruno terasa membeku ketika bersembunyi di balik lemari berbau lembab. Tubuhnya ditutupi beberapa potong pakaian tidak layak pakai yang masih tergantung tanpa diambil oleh sang pemilik gedung, sementara matanya dapat melihat situasi di luar dari celah-celah pintu lemari. Dari pandangan wanita bermata emerald ini, Sakura dapat melihat sebuah jendela besar tanpa teralis di seberang letak ia bersembunyi. Satu-satunya jendela yang tadi dikatakan oleh Sasuke; yaitu jalan keluar alternatif apabila terjadi sesuatu yang kurang baik. Meski Sakura tidak ingin membayangkan hal itu akan terjadi.
Tiba-tiba ia mengeratkan pegangan pada handgun di tangan, satu-satunya senjata api yang diberikan oleh Sasuke untuk melindungi diri. Dia melihat sekelebat bayangan dan langkah-langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke arah ruangan tempat ia berada. Di dalam tempat persembunyiannya, Sakura dapat merasakan detak jantungnya sendiri. Berdetak dengan cepat, terpompa disertai rasa gusar yang membuatnya mengeluarkan keringat dingin. Muncullah sesosok tubuh tinggi besar yang berjalan perlahan seraya menodongkan senjata. Melewati sisi lemari tempat Sakura bersembunyi, ia membuka jendela di seberang lemari dan memeriksa keadaan sekitar.
'Haruskah aku membuka lemari dan menembaknya sekarang?!' Sakura membatin.
Belum sempat mendorong daun pintu lemari agar terbuka, sosok pria itu berbalik dan mengarahkan senjatanya tepat ke arah lemari. Dia mendengar suara dentingan benda tajam yang pasti berasal dari pertarungan di lantai pertama, namun bidikannya tidak juga turun. Sakura hanya berharap dia tidak menimbulkan satu pun bunyi, bahkan tanpa disadari ia berusaha menahan hembusan napasnya sendiri. Alih-alih pergi menyusul sumber bunyi dentingan, pria ini justru berjalan selangkah demi selangkah mendekati lemari. Mungkin ia menyadari keberadaan Sakura hanya berdasarkan insting belaka? Entahlah, namun kini jarak antar mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter. Tangannya terulur membuka pintu lemari, sementara tangan kanannya tetap siaga dengan pistol yang terkokang.
.
.
Berada dalam keadaan yang kurang seimbang, Sasuke berkelit dan mendorong tumpukan-tumpukan dus yang berada di sekitar ruangan. Jatuh dan tepat menimpa tubuh Kisame. Terganggu dengan benda-benda asing yang menabrak tubuhnya membuat serangan Kisame terhenti, Sasuke segera melompat dan berhasil mendaratkan satu pukulan keras pada tubuh lawannya. Kisame terhuyung, dan lagi-lagi menerima serangan pukulan dari pria Uchiha tersebut. Ia goyah dan pasrah menerima sebuah tusukan pada paha kanannya, pisau Sasuke menancap dan membuatnya meringis. Namun tepat sebelum Sasuke mencabut pistol keluar dari holster, Kisame melayangkan satu tendangan keras ke dadanya. Sasuke jatuh terjerembab, disertai pistolnya yang juga terjatuh.
"Pengalihan dengan mendorong barang-barang," desis Kisame sambil mencabut pisau yang tertanam pada paha kirinya, "che, dasar pecundang."
Sasuke menahan sakit dan berusaha berdiri sebelum matanya melihat mata pedang Kisame Hoshigaki tengah terarah padanya. Kisame menghunuskan pedang pada tubuh yang masih tergeletak di atas lantai, menyadari kemenangannya sudah hampir tiba. Dia dapat merasakan desir angin dari ayunan pedang saat senjata tajam itu hanya berdenting di atas lantai, Sasuke berhasil menghindari serangan dengan berputar ke samping dan mengambil posisi berlutut. Tubuhnya menyergap sang monster dan membuat keduanya terjatuh di atas lantai. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sasuke berada di atas tubuh Kisame dan melayangkan kombo serangan ke atas wajahnya.
Lengan kanan Kisame dengan pedangnya terayun menuju tubuh Sasuke, membuat sang Uchiha harus berguling ke samping untuk menghindar. Matanya mengerjap, menemukan jalan keluar dari pertarungan melelahkan ini. Saat Kisame masih berusaha terduduk membuat kewaspadaannya sedikit lengah, saat itulah Sasuke menggapai benda kehitaman yang tergeletak tepat di sebelahnya. Handgun yang terjatuh! Sasuke menarik pelatuk, dan laras dari senjata api itu pun meletuskan satu amunisi 9mm tepat mengenai dada kiri Kisame. Tubuh pria itu goyah seakan tidak percaya, pedangnya terjatuh hingga berbenturan dengan lantai.
Dari bayangannya Sasuke dapat melihat Kisame menekan lubang pada bagian dadanya yang mengeluarkan darah segar, merasakan rembesan darah yang memenuhi pakaian dan kini mengotori telapak tangannya. Ia menatap Sasuke yang masih berlutut sambil mengarahkan pistol, bersiap-siap untuk tembakan kedua. Tubuhnya tidak lagi sanggup berdiri, ia jatuh berlutut dan akhirnya ambruk di atas lantai penuh debu. Darah menggenangi posisi kematiannya, sekaligus menandakan nasib Kisame Hoshigaki telah tamat di tangan Sasuke Uchiha. Masih mengarahkan senjata, Sasuke berdiri dan sekali lagi menembakkan senjatanya menembus tubuh Kisame. Memastikan kematian sang monster hiu.
"Hn. Siapa yang jadi pecundang sekarang?" gumamnya dengan nada sinis.
.
DORR!
.
Hati Sasuke terasa gamang ketika suara itu berasal dari lantai dua, dia cemas. Apa Sakura tertembak?! Meninggalkan jasad Kisame tergeletak di tengah-tengah ruangan, tanpa pikir panjang ia berlari ke arah tangga sambil menyiagakan senjata. Namun langkahnya terhenti ketika dari anak tangga terakhir ia melihat genangan darah dan seonggok tubuh yang terkapar. Perutnya serasa bergejolak, sambil melangkahkan kaki ia menuju ruangan tempat Sakura Haruno berada. Dilihatnya sosok yang jatuh telungkup dengan senjata Springfield, sama dengan yang diberikan Sasuke pada Sakura. Ia membidikkan senjata, menemukan mayat yang tergeletak adalah pria kawanan Hoshigaki. Sedikit bernapas lega, pikirannya kembali berkecamuk mencari keberadaan wanita berambut soft pink itu.
Dimana Sakura?!
"Sakura?" panggilnya perlahan, Sasuke mengintip dari jendela yang terbuka lebar namun wanita itu tidak ditemukan dimana pun, "Sakura, keluarlah. Mereka sudah mati, semuanya aman."
Tiba-tiba dari dalam lemari Sakura menghambur keluar menuju Sasuke, beruntung ia tidak menembak sosok yang mengagetkannya. Sakura menyergap tubuh pria itu, memeluknya dengan erat. Tubuh Sakura terasa dingin dan bergetar ketakutan, namun cengkeramannya yang erat entah mengapa membuat hati Sasuke tenang. Jantungnya berdegup kencang, namun kali ini bukan berasal dari rasa tegang saat menghadapi Kisame. Hatinya terasa hangat dan… Bahagia. Sebelah tangan Sasuke Uchiha terangkat untuk balas memeluk namun tertahan di udara, ia ragu. Apa perasaan yang dirasakannya ini hanya empati? Atau jangan-jangan perasaan yang telah dibuangnya bersama ingatan Konoha, termasuk kenangannya bersama Sakura Haruno… Kini perlahan-lahan kembali?
.
Akhirnya Sasuke meletakkan tangannya di punggung wanita itu, membiarkan tubuh Sakura mendekap pada pelukannya selama beberapa saat. Tanpa bicara, tanpa protes. Merasakan kehadiran masing-masing tanpa sepatah kata yang memang tidak diperlukan. Beberapa saat kemudian Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke, melihat raut wajah pria tampan itu melalui bias cahaya yang masuk dari arah jendela. Pria itu hanya diam ketika wanita itu menoleh dan menatap jasad pria yang berada tepat di depan lemari tempat Sakura bersembunyi, tampak raut kebingungan dari paras wanita ini.
"Mereka sudah mati," Sasuke mencoba menenangkan, "Kau berhasil membunuhnya, kerja bagus. Nah sekarang kita harus melenyapkan bukti dan melarikan diri dari si-"
"Bukan aku yang membunuhnya." ucapan Sasuke dipotong begitu saja.
"Hn?" Kedua alis Sasuke terangkat, "Apa maksudmu?"
"Bukan aku yang membunuh pria ini," jelas Sakura sekali lagi, "Dia tiba-tiba tertembak dan jatuh sesaat sebelum membuka lemari tempat aku bersembunyi, Sasuke! Se-sepertinya dari arah jendela ada seseorang yang menembaknya, aku tidak tahu pasti karena tidak terlihat jelas dari dalam lemari…"
Kalau bukan Sakura yang membunuhnya, lalu siapa?! Dia ingat, Springfield yang ia berikan untuk Sakura memiliki peredam, tidak mungkin terdengar suara tembakan seperti tadi. Sasuke segera mengintai keadaan, menatap jalanan kosong dan jendela di seberang ruangannya masih dalam keadaan tertutup. Tidak ada siapa pun, atau apa pun yang terlihat mencurigakan. Meninggalkan tubuh Sakura di sudut, tubuhnya sedikit jongkok memeriksa kondisi mayat yang mengalami kematian langsung akibat tembakan headshot di kepala. Dilihat dari lubang tembakannya ia tahu sang penembak menggunakan senjata kaliber besar. Ia telah mengincar sudut vital lawan dan pasti memiliki kemampuan juga persenjataan yang baik. Singkat kata, dia profesional.
"Sniper," gumamnya sambil menatap Sakura yang berdiri tanpa bisa berkata-kata, Dan Sasuke pun kehabisan ide siapa tuan penolong yang menyelamatkan nyawa Sakura malam ini, "Siapa pun dia, yang jelas ini menguntungkan. Sekarang sebaiknya kita segera pergi dari sini, Sakura."
.
Menggenggam detonator peledak, Sasuke menuntun wanita bermata emerald itu menuju lantai bawah. Mengitari ruangan agar wanita itu tidak bersinggungan dengan jasad Kisame, tanpa berkomentar satu patah kata pun jemarinya terus menggenggam pergelangan tangan Sakura dan menuntunnya hingga berada di garasi. Sasuke mengambil sebuah tas yang telah dipersiapkan sebelumnya kemudian mengeluarkan kendaraan roda dua itu keluar dari garasi tanpa menutupnya terlebih dahulu. Setelah keduanya berada dalam jarak aman, ia memerintahkan Sakura untuk menekan tombol picu pada detonator. Sasuke meyakinkan bahwa daerah itu sepi dari pemukiman, tidak akan ada yang penduduk yang akan menjadi korban. Suara dentuman cukup keras disertai ledakan dari lidah-lidah api mewarnai suasana lingkungan sekitar yang sunyi sepi.
Keduanya tengah berada di jalanan, memacu motor dengan kecepatan tinggi. Dengan kedua lengan yang mendekap erat tubuh sang pria, mereka terhanyut dalam keheningan. Sakura tidak tahu apa yang harus mereka lakukan berikutnya, tapi ia telah memutuskan untuk mengikuti Sasuke Uchiha… Berjuang bersama. Seperti apa yang dikatakan pria itu untuk mempercayai Sakura sekali lagi, wanita ini pun masih memperjuangkan janji kecil mereka. Janji untuk saling menjaga, meskipun bukan menjadi pelindung Konoha… Terdengar naif, tapi harapannya tidak akan pernah putus. Mengingat hal itu, diam-diam ia menyunggingkan sebuah senyum yang tidak terlihat dari jarak pandang Sasuke Uchiha. Dia tahu, ia melakukan hal yang benar.
Sakura Haruno merasa aman.
.
.
.
8th Floor – Apartment, Suna – 7.15 AM
Langkahnya kisruh dan hampir tersandung ketika hendak membuka pintu kamar, ia mengomel seorang diri seraya menggaruk rambutnya yang tampak berantakan. Selesai menguap lebar-lebar di depan pintu, ia memutuskan keluar kamar dengan langkah gontai. Dilihatnya sosok wanita berambut dark navy tengah duduk manis di ruang makan, menyeduh secangkir kopi yang beraroma harum. Di sampingnya tampak juga seorang pria berambut hitam pendek yang duduk tanpa ekspresi sambil mengunyah sepotong roti bakar, pria berambut kuning ini menggerutu. Dia personil yang bangun terakhir dari teman-teman satu timnya, dan masih merasa kekurangan tidur. Hinata tersenyum lembut menyambut kedatangan Naruto dan menawarkan sarapan pagi.
"Ka-kau sudah bangun?" tanyanya sambil tersipu, "Mari sa-sarapan bersama. Kau mau minum a-apa, Naruto? Kopi atau t-teh?"
"Yup… Pagi, Hinata-chan! Pagi juga Pak Bos Sai!" jawab Naruto riang tanpa memedulikan pandangan menusuk dari Sai atas nama panggilan barunya. Naruto memutuskan ikut duduk bersama keduanya, "Eng… Tapi aku tidak suka kopi atau teh! Apa ada orange juice?"
"Ah-eh? Ra-rasanya ada… A-akan ku-kuambil," Hinata kikuk dan segera berdiri dari tempat duduknya untuk mencari pesanan Naruto di dalam lemari pendingin.
.
"Jangan manja," Sai tiba-tiba membuka mulut dan menatap Naruto, "Ambil sendiri."
Hinata terkejut, ia hanya berdiri mematung sementara pria berambut jagung itu mencibir.
"Iyaa iya… Huh, dasar Pak Bos galak!" Naruto menggerutu, "Hinata-chan jangan repot-repot ya, biar aku saja yang mengambil! Duduk dan lanjutkan saja sarapanmu..."
Akhirnya ia bangkit berdiri lalu mengeluarkan orange juice dalam kemasan yang tersedia di dalam lemari pendingin. Beberapa perlengkapan dapur tersebut telah disediakan sang marketing atas permintaan Sakura Haruno sesaat sebelum Sai menandatangani penyewaan kamar apartemen. Berbeda dengan Sai maupun Hinata yang perlahan-lahan meneguk secangkir kopi panas, Naruto menuangkan segelas penuh jus jeruk ke sebuah gelas dan mengambil beberapa tangkup roti tawar. Ia mengoleskan permukaan roti-roti tersebut dengan berbagai selai, dan tanpa membakarnya terlebih dulu Naruto menyantapnya dengan lahap. Takjub sekaligus geli pada kelakuan pria yang dikaguminya selama ini, Hinata selalu berusaha mencuri pandangan untuk menatap Naruto Uzumaki.
"Hwez paa boz…" Naruto sibuk mengunyah makanannya saat berbicara, bicaranya tidak jelas karena mulutnya penuh dengan roti. Namun akhirnya ia mengulangi perkataan tersebut setelah selesai menenggak minuman, "Hei Pak Bos, apa rencana kita hari ini? Apa kita akan mencari Sakura?"
Suasana berubah menjadi diam.
"Agen Hinata…" Sai tidak menggubris pria di sebelahnya, ia hanya menatap lurus ke arah Hinata, "Apa semalam Shikamaru menghubungimu?"
Hinata Hyuga mendadak kikuk dan sedikit tersentak, tidak dapat dipungkiri ia masih teringat percakapannya dengan Shikamaru beberapa jam yang lalu. Sebuah rahasia yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata apalagi terlelap, ia ketakutan. Apakah ia harus memberitahu Sai juga Naruto?! Tapi dia meragukan keselamatan Shikamaru, terlebih jika mengingat sifat atasannya yaitu Sai yang memegang teguh pada ketentuan juga jalannya misi… Memori otaknya secara otomatis memutar ulang hasil percakapannya dengan Shikamaru…
.
.
"Aku berhasil meretas database pusat Pemerintah Konoha, Hinata…" ujar Shikamaru perlahan sambil menghela napas dalam-dalam, "Dan aku menemukan beberapa data tentang Sora."
Hinata hanya diam ketika pemuda itu kembali melanjutkan, "Hhh jadi… Sekitar tujuh belas tahun yang lalu pemerintah Konoha menemukan seorang anak kecil yang pada usia sepuluh tahun telah sanggup memprediksi pergerakan ekonomi menyaingi seorang pakar. Dia Sora. Singkat kata, selama dua tahun ia diperdebatkan dan akhirnya dianggap sebagai aset penting Konoha. Pemerintah menyembunyikan keberadaannya dari mata publik, sekaligus menggunakannya sebagai subjek penelitian untuk menelaah asal-usul kejeniusan anak itu… Mereka menemukan kenyataan mengejutkan lain; Sora berhenti menua di usia sepuluh tahun tanpa diketahui penyebabnya.
Saat itu pemerintah mengembangkan penelitian tentang Sora dengan bantuan para peneliti yang dikumpulkan dari berbagai ahli se-Konoha. Beberapa bulan penelitian berjalan mulus sebelum ada seorang peneliti senior yang berkhianat dan menghapus seluruh data server. Ia melarikan diri dan mencuri data penelitian, bahkan bekerjasama dengan beberapa anggota klan keluarganya untuk membawa kabur Sora. Kejadian ini berubah menjadi sebuah insiden besar, akhirnya sang peneliti dinyatakan sebagai seorang buronan. Bukan hanya dirinya, tapi seluruh keluarganya dianggap sebagai pemberontak Negara Konoha. Mereka diburu untuk dihabisi sampai tidak tersisa."
Hinata bergidik ketika Shikamaru menceritakan hasil pencariannya dengan menggebu-gebu.
"Dan yang lebih mengejutkan adalah nama si peneliti yang membawa kabur data itu, Hinata…" Shikamaru menghela napas, "Dia Fugaku Uchiha, ayah kandung Sasuke. Ia disebut-sebut sebagai dalang dari insiden lima belas tahun yang lalu. Mereka menyebutnya dengan nama –insiden pemurnian Uchiha-, dimana seluruh keluarga Uchiha ditakutkan telah mendapat indoktrinasi dari Fugaku untuk menjadi pemberontak Konoha… Jadi mereka dilenyapkan dan seluruh kasus insiden Sora disembunyikan dalam bentuk top secret. Itulah sebabnya kita tidak pernah mendengar apapun tentang kasus ini, bahkan data-data dalam ruang arsip pun dibatasi.
Intinya, kita berurusan dengan sebuah rahasia besar dalam Negara Konoha, Hinata. Apabila kita melakukan satu saja kesalahan, mungkin saja... Itu adalah saat terakhir kita melihat langit biru."
.
.
"-ata-chan?" suara itu sayup-sayup memanggilnya, "HINATA-CHAN?!"
Hinata tersadar dari lamunannya, kedua pria di hadapannya hanya memandang dengan heran. Hinata tidak dapat menutupi kekalutannya, buku-buku jarinya terasa dingin dan gemetar, "I-iya… Ma-maaf."
"Kau tidak apa-apa, Hinata-chan? Apa kau merasa kurang sehat?" Naruto melebarkan bola mata yang berwarna biru jernih ketika menatap gadis pemalu itu, bahkan meletakkan punggung tangannya di kening Hinata. Memeriksa suhu tubuh wanita itu, "Hmm, tapi tubuhmu tidak panas kok…"
Secara refleks Hinata mundur dari sentuhan pria itu, wajahnya merona merah seperti seekor kepiting rebus dan tidak sanggup berkata-kata, "A-a-Ah ya! Ti-tidak apa, aku cu-cuma melamun. Maaf, maaf."
"Sudah kubilang tidak perlu meminta maaf untuk hal sepele," Sai tiba-tiba berkomentar, "Aku tadi tanya padamu… Apa Shikamaru menghubungimu semalam, ketika aku pergi keluar?"
"HAH? Pak Bos keluyuran kemana kemarin malam?!" Naruto menyela, dan langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya hal lain setelah mata Sai menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Y-ya," Hinata ragu, "Ta-tapi dia bilang a-akan menghubungi ki-kita lagi pagi ini."
Sai diam menanggapi ucapan Hinata, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi sang Agen Konoha. Sementara mata Naruto masih menatap wajah kemerahan Hinata Hyuga, seakan-akan meneliti wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hinata memberanikan diri menoleh dan menatap gerak mulut Naruto yang membentuk pertanyaan tanpa suara, berbunyi 'Kau yakin baik-baik saja?'. Hinata mengangguk perlahan, mencoba menurunkan debaran jantung dan rona merah pada wajahnya dengan mengalihkan pandangan dari Naruto. Ia meneguk sisa kopi dalam cangkir ketika Sai menghubungi Shikamaru, pria dingin itu bercakap-cakap sesaat sebelum jemarinya mencatat sebuah alamat lalu memutuskan komunikasi setelah selesai mendapat informasi.
"Kita mendapatkan lokasi terakhir yang bisa dilacak dari ponsel orang yang bernama Kabuto. Naruto, bawa persenjataanmu termasuk milik Sakura. Jangan tinggalkan senjata di apartemen. Dan Hinata, aku minta kau meneliti alamat yang ada di kertas ini," Sai memberikan secarik kertas pada Hinata lalu berdiri dari tempat ia duduk, membereskan cangkir dan alat-alat makannya. "Kita akan berangkat dalam waktu satu jam terhitung dari sekarang. Persiapkan semuanya dengan baik."
"Roger that, Sir!" jawab keduanya dengan tegas.
.
.
.
Suna's Bay – Gudang Kontainer, 08.00 AM
"Yo! Ini semua yang bisa kudapatkan, Kabuto." Pria berkulit cokelat dan berotot yang ditemuinya di Central Market menyerahkan beberapa dokumen, "Semuanya sudah diatur dan ini dokumen yang harus kau pegang. Barangnya bisa dikirim sesuai perencanaan awal. Jadi aku minta bagianku sekarang, lalu tidak akan mengganggumu lagi. Oke?"
"Che…" Kabuto membalikkan beberapa lembar dokumen yang diambilnya dari tangan si pria berotot, "Tidak kusangka kau bisa menepatinya. Apa kau yakin semuanya aman, Bee?"
Mengenakan kacamata hitamnya, pria itu justru tertawa. "Ahahaha, kau tidak percaya padaku? Yo-yo, aku sudah membungkam mulut semuanya dengan gumpalan uang. Semuanya pasti aman di tangan Bee yang hebat ini, percayalah. Jadi jangan menunda lagi… Berikan bagianku sekarang!"
"Dasar tidak sabaran..." Kabuto mengangkat sebuah koper logam dan membukanya di hadapan Bee, tampak beberapa tumpuk uang yang disusun rapi dan memenuhi volume tas. Jumlahnya sangat banyak, "Bagianmu. Boleh kau hitung satu per satu tapi aku yakin sampai sore kau masih ada disini untuk menghitung per lembarnya."
"Mamma-mia…" Pria bernama Bee ini bersiul riang, ia menutup isi koper dalam genggaman Kabuto lalu benda tersebut akhirnya berpindah tangan. Setelah menyerahkan seluruh dokumen, ia berjabat tangan dengan Kabuto kemudian meninggalkan lokasi gudang. Pria berkacamata bulat ini melihat langkah-langkah partner kerjanya menjauh dan ketika berada dalam jarak aman, ia segera menekan beberapa digit nomor pada ponselnya. Kabuto menghubungi seseorang sambil menyembunyikan posisi tubuhnya di antara kontainer-kontainer besar yang tersebar di seluruh gudang muatan milik dermaga Suna.
"Sir, ini Kabuto." sapanya ketika panggilannya terjawab, "Sudah selesai, barang-barang itu bisa segera dikirim menuju Konoha. Ya, aku sudah memastikannya lewat Bee… Semua aman."
.
.
.
Unknown Motel, Red District – 05.10 AM (dua jam sebelum scene Naruto bangun)
Jemarinya dengan tegas menepuk-nepuk gumpalan kapas dengan obat antiseptik pada lengan kiri pria itu, luka sayatan yang dideritanya cukup lebar dan harus segera dibersihkan. Berbekal pengetahuan dasar yang dipelajarinya sebelum menjadi agen dan berkat obat-obatan yang dibawa Sasuke, Sakura Haruno mencoba mengobati luka sayatan tersebut. Butiran peluh jatuh dari kening Sasuke, efek nyeri dari sayatan pedang Kisame Hoshigaki mulai terasa dan membuat panas tubuhnya sedikit naik. Menelan beberapa pil penahan sakit tidak mengurangi rasa nyeri, pandangannya mulai berkunang-kunang.
Melapisi jarum dengan alkohol lalu membakar ujungnya untuk mensterilkan benda kecil tersebut, wanita itu mulai menjahit luka sayatan Sasuke Uchiha. Sayangnya mereka kehabisan obat suntik untuk membuat daerah sekitar luka menjadi kebal sesaat. Peralatan medis yang dibawa Sasuke telah menjadi perlengkapan dasar Sasuke ketika mulai bergabung dengan Akatsuki, luka-luka sebisa mungkin harus ditangani secara manual tanpa bantuan rumah sakit untuk mengurangi kecurigaan polisi. Terkadang mereka pergi ke klinik-klinik kecil, juga bekerjasama dengan beberapa tenaga medis yang tidak terhubung dengan pemerintah atau rumah sakit yang tercatat di Suna. Ketika jahitan demi jahitan menembus permukaan kulitnya, Sasuke hanya mampu menggigit handuk. Menahan teriakan dan sakit meski telah menenggak obat penahan sakit.
"Sedikit lagi, Sasuke…" bisik Sakura yang masih berkonsentrasi penuh, "Sebentar lagi selesai."
Sasuke tidak menjawab, pria Uchiha ini sibuk mengatur laju napasnya yang memburu karena rasa sakit yang tak tertahankan. Tapi dia memang harus bertahan, matanya terpejam dan mencoba bersabar. Untunglah beberapa saat kemudian ia merasakan jahitan pada lengannya terhenti dan wanita berambut soft pink ini mulai mengobati dan membalut lukanya, berhati-hati melilitkan lembar demi lembar perban. Tanpa berkata apapun, setelah selesai merawat luka sayatan pada lengan Sasuke, Sakura Haruno mengambil handuk lalu membantu pria itu menghapus keringat yang bercucuran dari sekujur tubuh. Menghapus peluh pada kening juga lehernya, sementara Sasuke hanya menatap iris emerald wanita itu dalam diam.
.
"Selesai," kata Sakura dengan lembut, "Akan kuambilkan air dan obat agar demammu turun, Sasuke."
"Hn." ia mengangguk kecil.
Wanita itu beranjak berdiri dan hendak berbalik badan ketika tiba-tiba tangan Sasuke mencengkeram pergelangan tangannya. Sakura terkejut, dan menemukan onyx pria itu tengah menatapnya dengan pandangan lain. Bukan tatapan kosong dan dingin seperti yang biasa dilihatnya, mau tidak mau pandangan dan sentuhan Sasuke Uchiha membuat hatinya kembali berdegup kencang.
"Sakura…"
Sakura Haruno menaikkan kedua alis, menunggu Sasuke melanjutkan sisa kalimatnya.
"Arigatou," Sasuke mencoba tersenyum kecil. Senyuman langka yang tidak pernah dilakukannya selama tiga tahun terakhir, dan hanya wanita ini yang dapat mengubahnya, "Terima kasih…"
"Sama-sama, Sasuke…" dan wanita Konoha tersebut membalasnya dengan senyuman indah yang membuat hati Sasuke entah mengapa… Kembali terasa hangat. Sakura menggenggam tangan Sasuke selama beberapa detik sebelum akhirnya dilepaskan karena ia berniat mengambilkan air untuk pria itu.
Setelah meninggalkan gudang tua yang menjadi kuburan Kisame, Sakura menyadari luka sayatan pada lengan kiri Sasuke. Sakura bersikeras untuk merawat dan mencegah infeksi pada luka, akhirnya mereka memutuskan beristirahat di sebuah motel murah di kawasan pinggiran red district. Letaknya tidak terlalu jauh dari Central Market, dan dengan persediaan uang Sasuke akhirnya mereka mendatangi tempat sederhana ini. Setidaknya mereka bisa mengistirahatkan tubuh dari pelarian terhadap Akatsuki. Sakura kembali menuju pinggiran ranjang sambil membawa segelas air dan sebutir obat pada tangannya, melihat keturunan Uchiha menenggak obat dengan air pemberian Sakura. Wanita itu meletakkan punggung tangannya pada kening Sasuke, mengukur panas tubuh pria itu akibat demam. Wajah tampannya terlihat lemah dan kelelahan.
.
"Kau harus beristirahat agar panas tubuhmu turun," ujar Sakura sambil membantu pria itu bergeser ke tengah tempat tidur hingga kepalanya bertemu dengan bantal, "Lukamu cukup dalam tapi untungnya sudah kita bersihkan sebelum menjadi infeksi parah. Nah, tidurlah."
"Hn, aku tahu." Sasuke menuruti perkataan wanita itu, ia berbaring sementara Sakura menaikkan selimut hingga ke batas dada, "Tapi kita tidak boleh bersantai, Sakura. Akatsuki pasti-"
"Tidak perlu memikirkan Konoha, Akatsuki, atau Sora. Kita akan memikirkan mereka setelah demammu turun." Sakura berkata tegas, ia menarik kursi dan memutuskan duduk di samping tempat tidur Sasuke, "Tidurlah, aku akan berjaga disini."
Sasuke Uchiha menyerah dan memilih mengikuti saran Sakura, ia memejamkan mata. Mencoba tertidur dan membiarkan mata sang agen Konoha itu mengawasinya. Membiarkan Sakura Haruno menatap wajah tidurnya, sesekali mengecek suhu tubuhnya, bahkan terkadang tersenyum simpul tanpa sebab. Dalam keadaan bahaya tanpa ada satu pun orang yang dapat dipercaya, Sasuke merasa dirinya berada di tempat yang aman. Merasa ia harus mempercayai dan melindungi Sakura, menjauhkan tangan-tangan kotor Akatsuki dari tubuh teman masa kecilnya itu. Mungkin, ini bukan sekedar persahabatan seperti ketika ia berada di Konoha. Perasaan dan debaran aneh itu datang lagi. Tidak dapat dimengerti, dan ia sendiri tidak tahu bagaimana menghentikannya. Kenangannya bersama wanita ini terlintas ketika memejamkan mata, satu per satu kembali.
Pengaruh obat yang ditenggaknya mulai bereaksi, perlahan Sasuke tertidur.
.
.
"Sakura…" langkahnya melambat. Ia menatap petal bunga sakura berjatuhan dari dahan-dahan yang disibakkan oleh angin. Pria ini mendengus pelan, menyadari musim semi telah tiba.
"Kau memanggil namaku atau menyebut bunga-bunga sakura itu sih?"
Sasuke mengalihkan pandangan. Wanita yang memiliki warna rambut sama dengan bunga sakura itu tengah menoleh dan menatapnya dengan heran. Tangannya menjinjing sebuah tas sekolah, mereka baru saja menyelesaikan mata pelajaran di akademi. Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno berada dalam perjalanan menuju rumahnya, seperti biasa pria itu selalu menemaninya pulang ketika jadwalnya tidak berbenturan dengan pekerjaan paruh waktu. Bukannya menjawab, pria Uchiha ini malah terdiam, entah mengapa sosok di hadapannya terlihat sangat cocok berada di antara petal yang berjatuhan.
Dia terlihat... Cantik.
'Che. Aku sudah gila,' gumamnya dalam hati. Bagaimana mungkin ia mengagumi Sakura Haruno; satu-satunya orang yang akrab dengannya sejak kecil, sahabat terbaiknya bersama Naruto Uzumaki? Seiring dengan lamunan, langkah pria ini berhenti. Sakura yang keheranan akhirnya menghampiri tubuh dengan pandangan kosong itu, mencoba menyadarkannya.
"Hei, jangan melamun!" Sakura menepuk pundak pria Uchiha di hadapannya.
"Hn? O-oh, aku tidak melamun." Sasuke berbohong dan terkesiap ketika kesadarannya tiba-tiba kembali, "Lagipula tadi aku bukan memanggilmu, tapi menyebut nama pohon."
Ia menahan tawa ketika Sakura menggembungkan pipi, kesal pada jawabannya yang sarkastik.
"Ya yaa… Pandangi saja bunga-bunga itu semaumu, Sasuke! Kalau mengingat musim semi sudah tiba, pasti akan berlalu tanpa terasa. Sakura-sakura yang sekarang bermekaran nanti akan berguguran dan hilang sama sekali ketika berganti musim," wanita itu mulai melanjutkan perjalanan sambil ikut memandangi rentetan pohon sakura dengan bunganya yang indah, lalu seketika itu juga berbalik dan menjulurkan lidahnya, "Dan ketika musim berganti, kau akan tahu. Cuma SA-KU-RA yang ada di depan matamu inilah yang tetap eksis menemani seorang Sasuke Uchiha yang dingin dan menyebalkan!"
.
Gadis Haruno itu kembali memutar badan dan berjalan ke arah pulang, meninggalkan Sasuke yang terdiam untuk menelaah kata-kata barusan. Cuma ada satu Sakura yang tetap mekar dalam musim apapun, Sakura yang akan menemani dirinya kapan pun, dimana pun tanpa terikat waktu. Apa itu maksudnya? Che, dasar wanita aneh. Ia tersenyum simpul, berpikir sampai kapan keadaan damai seperti ini bisa ia rasakan? Bagaimana kalau seandainya mereka terpisah dan Sakura tidak akan menjadi sahabat terdekatnya lagi, atau bagaimana kalau ia harus meninggalkan Konoha suatu saat nanti? Onyx-nya hanya menatap kosong sosok soft pink yang berjalan menjauh. Apa mereka akan tetap berjuang bersama, saling melindungi satu sama lain?
"Bagaimana kalau suatu saat aku pergi?" tiba-tiba pria itu bersuara.
Sakura terdiam, menoleh.
Pandangannya tidak lagi ceria seperti sebelumnya.
"Kau… Serius?" emerald wanita itu seakan menembusnya, "Kau mau kemana?"
Sasuke Uchiha cepat-cepat menggeleng, "Hn, tidak. Lupakan…"
"Sa-su-ke, jawab pertanyaanku…" ia menghalangi langkah Sasuke untuk berjalan, "Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu, kau mau kemana? Apa kau punya rencana pergi atau mungkin-"
"Jangan cerewet, Sakura." Sasuke menghela napas, "Aku tidak berniat pergi kemana pun. Hanya terpikir bagaimana jika suatu saat keadaan berubah atau aku tidak lagi berada di Konoha. Yaa... Hal-Hal semacam itu. Sudahlah."
"Ya ampuun..." Wanita itu menghela napas dalam-dalam dan wajahnya kembali ceria, "Huh, kau membuatku takut! Jangan katakan hal-hal yang mengkhawatirkan seperti itu dong, Sasuke!"
"Hn."
"Lagipula... Kalau seandainya keadaan berubah sekali pun," Sakura kini kembali berjalan beriringan dengan pria Uchiha itu. Sesekali ia mencuri kesempatan untuk menatap wajah tampan Sasuke dari arah samping, "Kita harus tetap saling percaya dan saling melindungi, tidak akan ada yang berubah, Sasuke. Sesuai janji dan cita-cita kita untuk menjadi pelindung Konoha bersama-sama, sudah seharusnya kita pun berjuang bersama. Jangan khawatir, Sasuke.
Tidak akan ada yang berubah…"
.
.
.
Suna's Bay – Gudang Kontainer, 09.22 AM
Dermaga Suna yang masih berada pada jalur Central Market di Red District adalah pelabuhan utama bagi perdagangan via air di Suna. Aktivitas di pelabuhan itu seakan-akan hidup dalam kurun waktu 24 jam tanpa sekali pun beristirahat. Pagi itu udara cukup menyengat, para pekerja di dermaga tengah hilir mudik mengatur barang muatan dalam kontainer-kontainer berukuran jumbo, membereskan packing, juga mencatat perizinan transaksi keluar masuk barang. Ketiga agen Konoha kini telah berada di kawasan dermaga. Menurut informasi yang diberikan Shikamaru pagi tadi, komunikasi dari ponsel orang yang bernama Kabuto tertangkap terakhir kali di lokasi ini.
Mengenakan kaus berwarna putih dilapis jaket kulit dengan celana jeans biru, Sai dengan kacamata hitamnya berjalan menyusuri sisi-sisi gudang. Langkahnya perlahan namun penuh waspada, ia tidak tahu bagaimana menemukan orang yang bernama Kabuto di ruangan sebesar ini. Bahkan dia tidak tahu apa orang itu masih berada disini atau tidak. Kedua anggota timnya berpencar di beberapa sektor seperti yang telah diteliti oleh Hinata sebelumnya, mereka saling terhubung oleh jalur komunikasi dari earpick.
'Bagaimana caranya menemukan keberadaan orang itu?!' Sai berpikir sambil melihat antrian panjang orang-orang dengan memegang berkas-berkas, 'Seperti apa tampang Kabuto?'
.
"Hei, kau!" sebuah suara memanggilnya dari belakang.
Sai menoleh. Seorang pria tinggi dan kekar bertelanjang dada menepuk pundaknya dan menghardik dengan suara lantang, "Hei bung, kau mau mengurus pengiriman barang muatan juga? Ambil antrian dan lakukan registrasi disana, jangan mondar-mandir disini! Kau menghalangi lalu lalang para pekerja!"
Diusir oleh salah satu penjaga disana, Sai menyingkir dan berjalan mengikuti alur antrian panjang dimana setiap orang membawa berkas dalam map kuning. Tidak mendapat petunjuk apapun mengenai Kabuto, namun dari otak pria ini terpikir sebuah ide. Ia segera menghubungi Shikamaru untuk siaga di depan monitor dan mengecek GPS ponsel Kabuto, Sai berlari mencari telepon umum tapi tidak menemukannya dimana pun. Kehabisan kesabaran, pemimpin tim Konoha ini mengambil cara lain. Ia menuju kerumunan orang, ikut berdesak-desakan lalu pura-pura menabrak salah satu pengunjung pria di tengah kerumunan lalu lintas dermaga.
"Oh, maaf!" katanya ketika bertabrakan dengan pria asing itu, ia sedikit membungkuk meminta maaf lalu segera pergi mengikuti arus ke arah yang berlawanan. Di tangannya kini terdapat sebuah ponsel milik pria asing yang berhasil Sai curi dari sakunya, ia tersenyum geli. Jarinya menekan digit demi digit nomor ponsel pria bernama Kabuto, nekad menghubunginya sementara Shikamaru tengah siaga melacak letak keberadaan ponsel dari sinyal komunikasi mereka. Rupanya Kabuto tidak mengangkat telepon tersebut, tapi Sai tidak menyerah.
Pada usahanya yang kedua, ia berhasil.
.
"Ya. Halo?"
"Eehh… Tuan Kabuto?!" sahut Sai sedikit keras agar suaranya tidak kalah oleh kebisingan dermaga, "Anda dimana? Kau tidak lupa kita ada janji bertemu kan?!"
"Siapa ini?"
"Tuan Kabuto, saya sudah menunggu di dermaga!" jawab Sai asal, sekedar menunggu konfirmasi dari Shikamaru ia pun mengulur waktu, "Saya ditugaskan untuk memastikan dokumen-dokumen itu aman! Sekarang saya berada di tempat registrasi, jangan-jangan Anda lupa kita ada janji bertemu?!"
Kabuto terdiam, tidak menjawab apapun. Sai melirik jamnya, belum berlangsung satu menit dan mungkin Kabuto ini cukup cerdas. Mungkin dia mencurigai telepon asing, mereka berdua terdiam. Sepertinya Kabuto tidak mudah termakan jebakan, meski sebenarnya perkataan Sai semata-mata berasal dari instingnya. Dari arah belakang Sai ia mendengar suara klakson kendaraan yang mencoba melaju di tengah kerumunan orang, membuat percakapannya tidak terdengar jelas. Namun sepersekian detik kemudian, ia mendengar suara yang sama menggema lewat jalur komunikasinya.
"Tuan Kabu-PIIP-" Kabuto memutuskan komunikasi sebelum menembus waktu semenit.
Shikamaru gagal melacak keberadaannya.
.
Tapi dari suara tadi Sai dapat mengambil sebuah kesimpulan.
"Naruto, Hinata! Segera menyebar dan temukan jika ada pria dengan gerak-gerik mencurigakan di tempat parkir dan daerah gudang kontainer!" sambil memberi komando via earpick, Sai mempercepat langkahnya. Ia mengira-ngira letak lokasi Kabuto dari hasil pendengarannya pada jarak suara klakson antara yang ia dengar dengan yang terdengar pada telepon. Dia tahu buruannya masih ada di sekitarnya, dan dia tidak akan melepaskannya.
"Target dipastikan masih berada di sektor gudang. Temukan Kabuto dengan segala cara!"
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter dua belas selesai tepat pada tanggal 20! Kisame VS Sasuke udah selesai yaa, semoga actionnya cukup mudah dibayangkan. Siapa kira-kira sniper yang nembak salah satu kawanan Hoshigaki dan selamatin Sakura? Kalau bisa vote satu nama, siapa kira-kira yang bakal dicalonkan? :D
Sai-Naruto-Hinata akhirnya muncul lagi disini, lengkap dengan cerita Shikamaru tentang Sora dan Kabuto yang selesai bekerjasama dengan Bee buat satu rencana untuk Konoha. Sasuke dan Sakura akhirnya melarikan diri di salah satu motel sederhana di kawasan red district (karena pemikiran Sasuke di daerah sana murah dan jarang dilacak polisi), luka sayatan Sasuke perlu dijahit. Dan karena authornya buta soal medis, mohon maaf kalau tata-cara jahitnya salah. Intinya itu luka dijahit Sakura dan Sasuke harus tahan sakit, LOL. Sasuke perlahan tapi pasti kembali percaya sama Sakura, jadi scene Sasusaku di chapter ini agak banyak termasuk flashback dari pikiran Sasuke.
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya terus dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho) :D
Dan ini balasan review chapter sebelas :
Mizu : Salam kenal :D Yup sekarang posisi Sasuke udah pasti dianggap pengkhianat apalagi dia butuh Kisame. Seperti yang sist bilang, Sasusaku sekarang harus berjuang bersama. Pasti bakalan ada reuni antara Sasusaku dan Konoha Team dan Sasuke-Akatsuki, mampir RnR lagi yaa…
Dian-chan : Tenang Sasu menang lawan Kisame, yah kena luka dikit tapi berhasil selamat. Sakura jadi bisa bantu mengobati luka sayatan dari pedang Kisame, hohoho.
Alisha Blooms : Halo halo Alisha-chan, thank you buat reviewnya kemarin! *kasih tissue*. Waah terimakasih kalau adegan pertarungannya kebayang, tenang Sasuke pasti menang lawan Kisame, kalau nggak kasihan Sakura. Kalau ada paragraph yang di-italic / miring bisa berarti 'pemikiran batin' atau 'mimpi dan flashback'. Yang Sora kemarin masuknya ke flashback tapi dalam mimpi, huahaha. Nah ditunggu reviewnya buat yang chapter ini ya ^^
Sherlock Holmes : Siap, Mr. Holmes! Sekarang udah dilanjutin nih, Sasusakunya ada tuh disisipin sedikit-sedikit, mampir lagi di chapter ini lho Pak Detektif…
Yoo-chan : Terima kasih buat reviewnya dan fave-nya Yoo-chan, plus salam kenal juga. Thank you, dan saya senang kalau ceritanya bisa dimengerti. Dan saya update! Mampir RnR lagi yaa…
Roquezen : jangan jerit-jerit disini sist, hahaha. Aah memang fangirlingan nggak bisa kok, ini juga masih susah bikinnya. Semoga jiwa fanboying saya bisa ditransfer buat bikin adegan fangirling, LOL. Husshh kalau nggak update tanggal 20 saya yang susah kejar ceritanya XD
Sansami no Yue : Yue-chan thank you udah review kemarin, dan sekarang (akhirnya) saya update. RnR lagi yaa Yue-chan ^^
Guest : Kisame udah mati nih sekarang! :D
Akasuna no ei-chan : tenang, akhirnya si Kisame udah kena tembakan Sasuke… Udah di bom juga, sebenernya pengen eksplor karakter sadis dia lebih jauh tapi karena nanti jadi mengerikan, yaa saya bunuh saja cepat-cepat *ngakak*. Gimana buat chapter yang ini? :D
Hanazono yuri : semoga nggak mengecewakan ya buat chapter kali ini. ditunggu RnRnya lagi yuri-chan~
Alluca : *nyengir* Thank you, dan pasti saya lanjutkan. :D
Kumiko yui : Hallo dan salam kenal, terima kasih sudah mau mampir! Saya update nih, RnR lagi ya?
Guest 2 : iya, saya sudah update lho!
Ocha chan : Halo sist salam kenal :D Rencananya cerita ini finish…hmm (perhatian : saya author yang nggak bikin plot cerita, jadi alur mengikuti ide saat ngetik). Tapi kalau perkiraan, mungkin nggak akan lebih dari 20 chapter ^^ Mampir RnR lagi ya?
Sasusaku uciha : salam kenal juga, wah terima kasih buat pujiannya *terharu*. Sasusaku momentsnya sedikit demi sedikit saya tambah sambil belajar bikin fluff, endingnya hmm… Let's see, hohoho. Oke mampir lagi buat RnR ya untuk chapter ini!
Afisa UchirunoSS : Dan mereka selamat dari marabahaya! Yaa Sasuke sedikit cedera sih tapi untung nggak mati kena tusuk, actionnya udah ada dan romancenya juga saya usahain tambahin. Thank you buat supportnya, saya update lagi ^^
Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini. Nggak apa telat yang penting mampir, iya Karin mati karena keputusan author, LOL. Kasihan sih sebenarnya, tapi Kisame nggak punya cara lain (dan nggak mungkin juga biarin Karin hidup secara dia psikopat). Naah chapter ini semoga lala-chan bisa mampir lagi ya?
Mizuira Kumiko : hahaha nggak apa sist yang penting masih menyempatkan review dan thank you banget! Ada yang nanyain Sai ternyata, sudah saya bawa masuk lagi ke cerita bareng Naruto. Doi ceritanya nggak tidur jadi keliaran di luar, hahaha. Saya update nih :D
.
Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 7 Mei)!
-jitan-
