SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
Note :
- Rating M (mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar) :D
- Genre : Adventure / Mystery / Romance
- AU : Alternate Universe, OOC, typo, death chara.
- Ini fanfic pertama saya di thread Naruto. Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie. Tolong reviewnya yaa semua (syukur kalo di-fave dan follow), makasih :)
Rangkuman Cerita :
Sakura Haruno; seorang agen baru dari divisi keamanan Negara Konoha ditugaskan Kakashi Hatake menyelidiki aktivitas organisasi bernama Akatsuki di Suna bersama sebuah tim beranggotakan Sai, Yuki, dan Jiraiya. Mereka harus menyelamatkan seorang bocah bernama SORA yang merupakan top secret Negara Konoha dari tangan Akatsuki. Namun tak disangka-sangka, Yuki dan Jiraiya gugur dalam misi hingga akhirnya digantikan oleh Hinata dan Naruto. Sasuke Uchiha yang dinyatakan gugur sejak tiga tahun yang lalu ternyata masih hidup bahkan bergabung dengan Akatsuki, ia menyandera Sakura setelah mengadakan 'reuni' dengan Naruto Uzumaki. Berbagai rahasia tentang insiden pemurnian Uchiha dan kemampuan Sora yang tidak bisa menua mulai terungkap, dan kini mereka sedang melacak keberadaan anggota Akatsuki bernama Kabuto.
.
.
When it gets cold and it feels like the end,
You're not alone.
I'll be by your side, you know I will always take your hand…
.
.
.
Konoha – 15 tahun lalu
Fugaku Uchiha mengendarai kendaraan roda empat di jalan bebas hambatan dengan kecepatan penuh, di sebelah kursi pengemudi tampak Mikoto Uchiha masih berusaha terjaga dari rasa kantuk. Tampak bayangan hitam di bawah kelopak mata keduanya, mereka kelelahan setelah beberapa hari berada dalam pelarian karena secara resmi telah dianggap sebagai buronan Negara Konoha. Di jok penumpang terbaring sosok Sasuke Uchiha tengah tertidur dengan lelap, bocah ini tidak mengerti apapun. Ia menganggap kedua orangtuanya akan membawanya berlibur, sebuah kesempatan yang jarang ia dapatkan akibat profesi ayahnya sebagai seorang peneliti. Sasuke sama sekali tidak mengetahui kenyataan bahwa nyawa keluarganya tengah berada di ujung tanduk.
Dari cerita yang didapat dari beberapa sumber yang masih mau bekerjasama, Fugaku mendapat kabar bahwa Konoha telah melenyapkan sebagian besar keluarga besar Uchiha. Tidak ada pembelaan yang dapat mereka lakukan sementara para algojo-algojo dari keamanan negara menghabisi nyawa mereka satu per satu. Seluruh Uchiha telah dianggap sebagai kawanan berbahaya, layaknya teroris yang terkena doktrinasi dari seorang Fugaku Uchiha untuk mengkhianati negaranya sendiri. Saat ini satu-satunya jalan keluar adalah melarikan diri dari Konoha, Fugaku nekad membawa anggota keluarganya menuju Suna. Mereka berharap berhasil menembus perbatasan tanpa diketahui siapa pun.
Pria paruh baya ini telah meminta bantuan seorang Uchiha yang ia percaya untuk membawa Sora kabur dari laboratorium penelitian. Apabila pelarian mereka berjalan dengan mulus, satu jam lagi ia akan bertemu dan bersama-sama akan melarikan diri dari Konoha bersama Sora. Fugaku tidak ingin Konoha menyabotase Sora sebagai objek penelitian karena seluruh data penelitian telah ia lenyapkan dari server, dia hanya bisa berharap semuanya berjalan lancar. Tiba-tiba keheningan terpecah, ponsel Mikoto berdering. Fugaku telah menghancurkan ponselnya sendiri di kediaman Uchiha agar tidak terlacak.
"Halo?" suara lembut wanita itu menyambut panggilan masuk. Ia diam beberapa saat sebelum raut wajahnya berkerut dan menegang. Mikoto melirik ke arah suaminya yang terfokus pada kemudi, ia berusaha setenang mungkin menyembunyikan rasa terkejut, "Ya… Ya, akan kusampaikan. Terimakasih."
.
"Ada apa?" tanya Fugaku tepat setelah komunikasi terputus. Ia menangkap raut cemas istrinya merupakan pertanda buruk, pria ini berharap tidak ada sanak saudaranya lagi yang menjadi korban.
"I… Itu-" ucapan Mikoto terputus, ia berusaha menahan airmatanya jatuh. Kedua matanya merah dan berkaca-kaca, "Mereka menemukan Minato dan Kushina Uzumaki tewas di rumahnya."
"APA?!" Fugaku sontak berteriak, "Minato dan Kushina tewas? Ba-bagaimana mungkin?! Mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan Uchiha!"
Mikoto terisak pelan, menahan diri agar Sasuke tidak terbangun dari tidur. Fugaku pun langsung menghentikan omelannya, menyadari emosi tidak akan membawa pemecahan terbaik. Mereka kembali diam, sementara dalam hati ia mengherankan berita yang baru saja didengarnya. Memang Minato dan Kushina merupakan salah satu kenalannya, mereka berhubungan baik dan pasangan itu juga telah dikarunai seorang anak seusia Sasuke; dia bernama Naruto Uzumaki. Dengan demikian, ini berarti Naruto telah menjadi yatim piatu akibat tragedi Sora. TAPI… KENAPA?!
Mereka sama sekali tidak berkaitan dengan penelitian, bahkan keduanya tidak berprofesi sebagai peneliti! Minato dengan jiwa keadilannya yang tinggi berprofesi sebagai seorang pengacara handal, mereka berkenalan ketika rumah sakit tempat Fugaku berpraktek terlilit kasus dan mereka memilih Minato sebagai pelindung hukumnya. Karena memiliki anak yang berusia sepantar, keduanya menjalin komunikasi yang baik. Tidak jarang Minato menanyakan masalah kesehatan atau pengobatan pada Fugaku, yang merupakan ahli dalam bidangnya. Ia tidak mengerti sama sekali, apa korelasi antara Uzumaki dengan klan Uchiha?! Fugaku mengepalkan tangannya, menyadari sesuatu.
"Danzo…" gumamnya sambil terbelalak. Ia tiba-tiba teringat, "Pasti, pasti dia. Cuma Danzo yang tahu kalau aku berhubungan baik dengan Minato! Mungkin Konoha berpikir mereka tahu letak keberadaan kita tapi enggan bekerjasama, atau mereka mengira Minato menyembunyikan tempat persembunyian kita?! Konoha terlalu mempercayai si iblis Danzo itu, sial. SIAL! Ini benar-benar gawat… Kita harus cepat-cepat meninggalkan Konoha-"
Ucapannya terhenti.
.
Tepat beberapa meter di belakang mereka tampak beberapa mobil berkecepatan penuh, mengejar mereka. Dari kemahiran mereka dalam mengemudi di tengah lalu lintas padat, Fugaku tahu mereka adalah para agen terlatih. Mobil berisi keluarga inti Uchiha ini sedang dikejar, tampaknya lokasi mereka berhasil terlacak. Fugaku menginjak penuh pedal gasnya untuk menaikkan kecepatan, ia tidak ingin menyerah. Dia tidak ingin secepat ini meninggalkan dunia menyusul Minato dan Kushina Uzumaki. Fugaku melirik ke arah istrinya, lalu dari spion tengah sekilas melihat sosok Sasuke yang masih terlelap. Ada rasa bersalah yang begitu besar membebani hati kepala keluarga Uchiha ini, menyesali orang-orang yang ia cintai harus ikut terlibat.
"Mikoto… Maaf. Kau harus menikah dengan seorang buronan sepertiku," ia berusaha menyunggingkan senyum tipis sementara buku-buku jarinya terasa dingin di atas kemudi, "Padahal aku bercita-cita melihat Sasuke tumbuh dewasa, berprestasi, melihatnya menjadi seorang pria. Tapi selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, dunia yang membuat kita menjadi seperti saat ini. Dan sebenarnya… Aku ingin membawa Sasuke menemui kakaknya, menceritakan keberadaannya dan menemani Itachi menjalani proses pemulihan. Aku tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi, istriku…"
"Jangan pernah menyesali itu," jemari wanita itu mengelus pundak Fugaku, menenangkannya dari rasa bersalah. Sebagai seorang pendamping hidup, ia tahu keberadaan mereka berada di ujung tanduk. Namun sesuai janji mereka untuk sehidup semati... Ia harus bertahan. Mendukung usaha terakhir suaminya melepaskan diri dari kejaran para agen Konoha, ia melanjutkan perkataannya yang sempat terputus, "Aku tidak pernah menyesal telah memilihmu, Fugaku. Sasuke dan Itachi lahir dari figur ayah terbaik yang bisa mereka dapatkan dari seorang Uchiha…"
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 13 : REWIND
.
.
Suna's Bay – Gudang Kontainer, 09.35 AM
Teori dan perhitungan yang diakumulasikan di dunia nyata... Adalah pola pikir dari sang ketua tim lapangan Proyek Suna; Sai. Pria ini berlari melewati kerumunan orang, menuju sebuah tempat yang menurut perhitungannya diyakini sebagai lokasi terakhir Kabuto. Dari hasil pembicaraannya melalui telepon, Kabuto mencium gerak-gerik bahaya dan menutup komunikasi sebelum sempat menembus angka satu menit. Akan tetapi, tepat sebelum jaringan terputus, Sai mendengar suara klakson kendaraan- yang juga didengarnya saat itu. Jarak mereka berdekatan, dan ia yakin Kabuto belum pergi terlalu jauh. Melalui earpick ia telah menginstruksikan Naruto dan Hinata agar berpencar mencari satu sosok asing yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Shikamaru, coba lacak nomor itu sekali lagi, dimana posisinya?! Cepatlah, target sulit ditemukan," ia berbicara dengan terengah-engah melalui jaringan komunikasi yang belum terputus dengan Konoha, lalu sambil menekan earpick pada telinga kiri ia berlari mencari petunjuk, "Hinata, Naruto, dimana posisi kalian? Apa kalian menemukan sesuatu? Over…"
"Dekat tempat loading barang, Pak Bos!" jawab Naruto, "Disini ramai sekali, dan semua tampak tergesa-gesa. Sulit membedakan yang mana target kita! Over."
Tepat dua puluh meter di depannya, Sai melihat pria berambut putih dengan jubah hitam panjang yang baru saja keluar dari sebuah tikungan tiba-tiba berbalik dan menaikkan kecepatan langkahnya, seolah-olah menghindar. Melihat ada gerak-gerik mencurigakan, Sai segera berlari mengejar pria asing tersebut, "Aku melihat ada gerak-gerik mencurigakan. Pria, rambutnya putih dan berjubah hitam panjang. Lokasinya tepat di belakang sektor registrasi, tampaknya menuju pintu keluar. Over."
.
"Pria berambut pu- Ah! Aku melihatnya!" Naruto yang berada paling dekat dengan lokasi pria asing tersebut langsung merespon, tampaknya dugaan Sai benar. "Sial, dia melihat posisiku dan langsung lari! Aku sedang mengejarnya, dia mengarah ke pintu selatan! Over."
"A-Aku akan segera menuju pintu selatan!" Hinata pun ikut menjawab.
"Terus kejar! Aku ada di belakangmu, Naruto!" Sai menembus kerumunan orang banyak dengan kecepatan penuh, dari pandangannya yang dilapisi kacamata hitam, kini ia dapat melihat Naruto memilih sisi jalan untuk mengejar si pria berjubah. Jarak mereka tidak terpaut terlalu jauh, namun patut diakui pria berambut putih itu lari dengan sangat cepat. Banyaknya lalu lalang manusia yang menghalangi membuat jarak Naruto dengan sosok berjubah hitam itu semakin menjauh.
"JANGAN SAMPAI LOLOS!" Sai sedikit berteriak meskipun mereka berkomunikasi lewat earpick.
Ia melihat Naruto berusaha mengejar, namun tiba-tiba tubuh anak buahnya ditabrak dengan keras oleh seorang pria bertubuh kekar seperti seorang bodyguard. Tubuh pria itu terpaksa mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan. Naruto kehilangan kesempatan untuk mengejar sosok itu karena harus berhadapan dengan tamu tak diundang, membuat Sai berdecak kesal. Tidak mengenal lelah ia berlari lewat sisi berlawanan, melewati Naruto yang sedang berjibaku dengan tubuh pria kekar yang menabraknya tadi. Meski menghadapi seorang bodyguard terlatih sekalipun, Sai yakin kemampuan Naruto dalam pertarungan jarak dekat jauh di atas pria itu, dia tidak akan kesulitan menjatuhkan lawan. Saat ini pandangannya hanya tertuju pada satu sosok; si pria berambut putih yang semakin menjauh.
Ketua tim lapangan Suna ini melihat sosok Hinata juga tengah berlari dari arah berlawanan menuju pintu keluar selatan, jarak keduanya dengan si jubah hitam kini menjadi dekat. Sai terus berlari meski telah mencapai batas maksimal, dan usahanya membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit jarak antar mereka semakin menipis, ia hampir menyamakan jarak dengan Hinata Hyuga. Sekonyong-konyong dari lapangan parkir muncul sebuah mobil hitam yang melaju kencang, seperti hendak menabrak siapa saja yang menghalangi. Termasuk Hinata; yang berada tepat di belakang sang mobil dan tidak menyadari ada bahaya yang mengancam nyawanya.
.
Melepaskan pandangan dari target, Sai merentangkan tangannya dan melompat, "HINATA, AWAS!"
Secara refleks, ia menarik tubuh wanita bermata lavender itu dengan sekuat tenaga menuju tikungan di sampingnya. Mengorbankan tubuhnya sendiri hingga membentur dinding, Sai menyelamatkan Hinata dari hantaman mobil. Benturan punggung dan kepalanya cukup keras, Sai mengerang kesakitan. Pandangannya terasa berputar. Antara kehabisan napas atau merasa sakit dia tidak dapat membedakan keduanya, seluruh tubuhnya terasa kram akibat benturan tiba-tiba. Dari sudut pandangannya yang tidak lagi fokus, ia hanya melihat siluet mobil itu terbuka dan seseorang masuk tanpa bisa dikejar. Hinata… Sepertinya dia berusaha mengejar namun sia-sia, lalu kembali ke hadapan Sai yang masih terkapar. Mengguncang tubuhnya berkali-kali sambil berteriak, tapi pria ini tidak merasakan apa-apa.
Semuanya menjadi kabur…
Lalu gelap.
.
.
Ia melewati lorong gelap dan sepatunya menapaki jalan-jalan dengan genangan air, semuanya sunyi. Menaiki tangga satu per satu dalam kegelapan dan keheningan yang mencekam. Berada di lantai teratas tanpa satupun makhluk hidup yang mengikuti, ia mengambil tempat di satu sisi atap dan mengarahkan senjata laras panjang di antara dinding. Memasang selongsong peredam, mengatur jarak bidikan, ia melihat pergerakan dari sisi bawah gedung. Sebuah senyum tipis tergambar di sudut bibir sang sniper andalan tim, ia menemukan targetnya.
"Target sudah terkunci." katanya dengan bangga.
"Rekanmu belum sampai di lokasi. Tunggu aba-aba dariku, Sai…" sahut seseorang dari alat transmisi yang merupakan komandan tim.
Sai berdecak, selama ini kinerja timnya memang sedikit lambat. Sebagai anak bawang yang ahli menembak ia selalu diserahi tugas sebagai penembak jitu. Karena tembakannya tidak pernah meleset dalam eksekusi, namanya sudah disegani beberapa sniper senior. Akan tetapi kinerja total dengan timnya tidak pernah tergaung dalam rapat evaluasi, karena kinerja sisa anggota mereka tergolong biasa-biasa saja. Hanya komandannya; Asuma, yang namanya cukup berpengaruh sebagai salah satu ketua tim yang handal dalam strategi. Sai mengakui hal tersebut, satu-satunya hal yang membuatnya bertahan berada dalam kesatuan tim adalah figur sang komandan yang ia jadikan panutan.
.
"Lapor! Alpha disini, Alpha disini! Kami tertinggal saat mengejar target... Need backup plan!"
"Copy, ini Asuma. Tahan dulu semuanya, Plan A gagal. Kuulangi; Plan A gagal. Segera laksanakan Plan B!" Asuma memberi komando dengan tenang, "Sai kau tetap pada posisimu, dan tunggu aba-aba dariku."
"Ck… Sial," Sai mencengkeram senjatanya sendiri, ini tidak baik. Tugas mereka kali ini adalah menghabisi seorang tokoh yang diduga menjadi dalang teroris, karena rencana A gagal maka kemungkinan keberhasilan mereka dari 75% turun menjadi Plan B yang bernilai hanya 50%. Dia mengumpat pada kegagalan rekannya, apa yang ia lakukan sampai bisa gagal sih?! Plan B akan lebih beresiko gagal, dia mencoba beragumen dengan komandannya.
"Asuma, aku bisa menghabisinya saat ini juga." Sai bersikeras, dia tidak ingin Plan A dikorbankan begitu saja, "Dia sendirian dan posisinya terbuka! Aku meminta tanda untuk menembak."
"Tidak, tunggu perintahku." Asuma menjawab singkat.
.
"Alpha disini! Kami diserang, tolong ka- AAAKKHH!"
Dan terdengar suara tembakan dari bawah sana, Sai hanya dapat menduga-duga apa yang sedang terjadi. Semuanya menjadi gawat karena satu kesalahan. Ini fatal, mereka bisa mati!
"Tahan tembakan! Siapa itu tadi?!" Asuma sepertinya mulai bergerak dari posisi semula, ia mengintai keadaan, "Lapor keadaan kalian!"
"Charlie disini." Secara bergantian mereka melapor status masing-masing.
"Sai disini."
"Bravo disini, kami melihat seseorang menembak Alpha dan kami bergerak kesana."
"Tidak, jangan bergerak dari posisimu!" Asuma memotong, "Tetap jalankan rencana kita seper-"
Lagi-lagi suara baku tembak terdengar dan keadaan bertambah kacau.
"BRAVO?!" Asuma berkali-kali memanggil namun tidak ada respon dari kedua anak buahnya. Sai memprediksikan sudah dua anggotanya yang diserang, mengapa mereka bergerak tanpa perintah Asuma?! Dia mengumpat kesal.
.
"Charlie, jangan khawatirkan mereka! Tugas kita sudah jelas di depan mata, MISI ADALAH MISI!" suara Asuma lagi-lagi terdengar lewat transmisi, "Maju mendekati target, Sai sudah siaga pada posisinya!"
Dari belakang dan mengendap-endap Sai bisa melihat Charlie menyusuri lorong untuk mendekati target. Jemarinya serasa membeku, ia bersiap-siap menekan pelatuk dan menunggu aba-aba. Seharusnya ia berperan untuk membantu seluruh anggota tim dalam penyergapan kali ini. Namun semua keadaan menjadi tidak terkontrol, Charlie harus menghadapi mereka seorang diri. Dan lebih parahnya, ia melihat sesosok pengkhianat. Seorang pengecut yang ketakutan dan mundur dari posisinya.
"CHARLIE! DIA ADA DI DEPANMU, TOLOL!" Sai naik pitam dan mencoba memanggil rekannya yang mengambil langkah seribu, "KENAPA KAU LARI?!"
Tiba-tiba Charlie berhenti…
Bukan karena ucapan Sai, tapi karena sebuah peluru yang bersarang di punggungnya, ia tergeletak tak berdaya di atas jalanan. Target yang diincar Sai tampaknya menjebak mereka sejak awal, dan kalau saja Charlie tidak menjalankan isi pikirannya sendiri… Pasti ia masih selamat. Kini giliran Asuma yang harus melanjutkan misi mereka, ia keluar dari posisi untuk menggantikan peran sebagai regu penyerbu. Terdengar adegan baku tembak dari arah bawah, sementara Sai belum juga mendapat konfirmasi kapan harus menembak.
"Sialan… Semua kacau karena tindakan individual mereka!" Sai mengumpat.
Tanpa peduli hal lain, Sai menembakkan selongsong peluru menembus kepala sang target yang langsung jatuh terkapar. Muncul beberapa orang dari tempat persembunyian mereka, dari jarak pandangnya Sai juga menembak mereka tanpa belas kasihan untuk menolong Asuma yang berada di garis depan menggantikan seluruh anggota tim. Tembakan dari laras panjangnya berakhir mulus tanpa ada satu pun yang meleset. Selesai menghabisi mereka semua, Sai meninggalkan senjatanya dan berlari menuju sang komandan yang tidak merespon. Berbekal sebuah handgun standar, ia nekad menghampiri tim penyerbu. Menuju tempat Asuma.
"ASUMA!? Kau mendengarku?" Sai memanggil, "KOMANDAN?!"
.
"A-ASUMA?!" Langkahnya melambat ketika melihat sesosok yang ia kenal, Sai memincingkan mata untuk memastikan. Ia melihat Asuma duduk bersandar di dinding dekat jasad Charlie berada, "Komandan, bertahanlah! Kita akan segera keluar dari sini."
Komandan yang dikaguminya selama ini hanya tersenyum lemah, seluruh tubuhnya dipenuhi peluh dan darah segar telah merembes di sekitar leher; daerah yang tidak dilindungi rompi anti peluru. Sebelah tangan pria itu berusaha menekan luka namun tampak tidak berguna, lukanya terlalu dalam. Sai berlutut ketika menghampiri Asuma, mencoba memapah tubuh pria itu namun tangan sang komandan mendorongnya menjauh.
"Tidak." Ia menggeleng, "Ter-lambat, Sai…"
"JANGAN BANYAK BICARA!" Sai merasa ketakutan. Ia membantu menekan luka Asuma namun pendarahannya tidak berhenti sedikit pun, "Bertahanlah! KAU HARUS SELAMAT, ASUMA…"
"La-laksanakan… Plan C." menggenggam jemari Sai, Asuma berusaha mengatur napasnya yang terasa berat dan melemah, "Pergi-lah… Aku, sudah- ukh… Selesai."
Bersamaan dengan itu Asuma menghembuskan napas, lengannya terkulai dari genggaman Sai. Berkali-kali ia mencoba menekan dada komandannya untuk mengejutkan jantung yang telah berhenti, memeriksa denyut nadi namun tidak terasa apapun. Asuma mati, dia gugur. Pria ini hanya terpaku, menyadari sosok komandannya menjadi salah satu korban dalam misi. Ia merasa hancur tanpa bisa melakukan apa-apa selain menggenggam erat jasad komandannya untuk terakhir kali. Hatinya kosong.
Hanya ada penyesalan.
.
Seandainya…
Seandainya semua berjalan sesuai rencana, andai semua mengikuti perintah komandannya… Andai mereka bergerak lebih gesit dan cekatan, dan seandainya saja… Semua mengikuti misi tanpa melibatkan emosi pribadi, ini mungkin tidak akan terjadi.
Berbekal pesan terakhir dari Asuma untuk melaksanakan Plan C; pria ini mengambil detonator dari genggaman Asuma. Ia menekan tombol picu sesaat setelah berhasil mencapai pintu keluar. Dari seluruh peledak yang dipasang kini bunyi dentuman itu terdengar sangat keras. Api menjalar dan melahap seluruh bukti-bukti yang ada termasuk membakar habis jasad anggota timnya.
Misi berhasil, sebagai satu-satunya personil yang selamat Sai dideportasi dan bergabung dengan tim lain. Mulai saat itu pula ia mundur dari posisi sniper, ia memilih bergerak sebagai tim serbu di tiap tugas agar tidak sekedar menunggu perintah menembak. Dia tidak pernah menetap lama di sebuah tim, namanya semakin diperhitungkan sebagai agen handal namun berhati dingin.
Karena dia tidak lagi mempercayai siapapun selain dirinya sendiri.
Ia bersikap statis dan patuh pada satu-satunya pedoman yang diambil dari figur Asuma;
MISI ADALAH MISI.
.
.
.
Gambaran Asuma yang meregang nyawa sambil menyuruhnya pergi terlihat begitu nyata, rasa takut dan sesal itu menghantuinya lagi. Sai mengerjap dan membuka mata, ia merasa jantungnya memompa dengan cepat. Sangat cepat hingga membuatnya sesak. Terlebih lagi ketika menyadari tidak ada oksigen yang berhasil dihirup. Dia sulit bernapas, paru-parunya seakan tidak dapat menarik udara masuk memenuhi rongga. Apa-apaan ini?! Kenapa aku tidak bisa bernapas?! Sebuah tangan menahan dadanya, pandangannya teralih. Kabur dan berbayang, wanita itu menahan tubuhnya agar kembali berbaring. Sai berontak dan mengibaskan tangannya ke segala arah, mulutnya terbuka namun tidak ada satupun kata yang bisa terucap. Aku tidak mau mati secepat ini!
Pikirannya kosong dan dia takut akan mati.
Rasanya sesak, dia butuh udara.
Bernapas… Dia butuh oksigen!
"Tenang! Tenanglah! Tarik napas perlahan, Sai…" ia membaca gerak bibir pria di hadapannya, entah mengapa suaranya tidak terdengar. "Setiap hitungan ketiga berusalah bernapas, satu dua… Tiga."
Dia mengikuti pola itu perlahan-lahan, "Satu dua… Bernapaslah!"
Sai berusaha menarik napasnya sedikit demi sedikit, mengikuti aba-aba per tiga hitungan. Sedikit demi sedikit rongga paru-parunya bisa merasakan asupan udara, sesak yang ia rasakan perlahan menghilang. Pandangan kabur yang semula menguasainya sirna, ia melihat tatapan mata lavender dan biru jernih itu memandangnya dengan cemas. Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuga ada di sampingnya, sementara mata pria ini hanya melihat langit-langit berwarna putih dengan sebuah kipas angin tergantung di atasnya. Kaus putih yang ia kenakan kini basah kuyup oleh keringat, Hinata menyodorkan segelas air dan segera disambut oleh tangan Sai yang masih gemetaran. Ia kehausan.
.
"Mi-minumlah dengan pe-perlahan, Sai!" wanita itu mewanti-wanti namun ia tidak menggubrisnya.
"Dimana aku?" ucapnya sesaat setelah selesai menenggak habis minuman, "Apa yang terjadi?"
Naruto dan Hinata berpandangan sejenak sebelum akhirnya Naruto mengangguk setuju.
"Hinata bilang; kau tadi menolongnya dari laju mobil pria asing itu. Tubuhmu menabrak dinding dengan kecepatan keras dan sepertinya kepalamu juga terantuk. Tidak lama setelah itu kau jatuh pingsan, Pak Bos Sai…" Naruto melipat kedua tangannya di hadapan Sai, "Jadi kau dibawa di klinik dermaga, karena tidak mungkin membawamu ke rumah sakit kan? Kabar lainnya… Kita tidak bisa mengejar pria berambut putih, dia terlalu cepat kabur dengan mobil hitam itu."
Sai mendengus dan menutup kedua mata, kabar yang baru didengarnya terasa begitu hampa.
"Te-te-terimakasih, Anda su-sudah menyelamatkan aku." Hinata mengucap pelan.
Sai tidak bergeming menanggapi ucapan itu, dia merasa semua usaha menjadi sia-sia. Kemana lagi ia harus mengejar Akatsuki?! Dia melewatkan kesempatan emas, ketua tim ini hanya diam sementara Naruto merasa kelakuan dingin atasannya sedikit mengganggu. "Hei Pak Bos, Hinata-chan merasa bersalah dan ia berterimakasih padamu, tahu! Apa mulutmu tidak bisa mengatakan sepatah kata pun?!"
Berdecak kesal, pria berambut hitam ini enggan menanggapi ucapan keduanya.
.
"A-Anda tadi sepertinya mim-mimpi buruk," Hinata menyela pembelaan Naruto agar suasana tim tidak semakin memanas, "A-apa baik-baik saja?"
"Huh, yeah… Memang." Sai berusaha terduduk dengan lemas, "Itu alasan kenapa aku menghindari tidur saat berada dalam misi, mimpi buruk yang selalu sama. Tapi jangan pikirkan soal itu, sekarang kita harus mencari cara lain untuk melacak keberadaan Akatsuki…"
Naruto dan Hinata berpandangan satu sama lain, pria berambut jagung itu tersenyum lebar dan mengedipkan satu mata pada wanita di hadapannya. Membuat Sai semakin tidak mengerti.
"Ada apa?"
"Hei Pak Bos… Jangan kira hanya kau yang bisa memikirkan strategi," Naruto menyeringai, "Kau lupa? Hinata-chan memiliki ingatan yang sangat bagus! Dia menghafal persis nomor kendaraan itu dan Shikamaru sudah melacak keberadaannya. Berita bagus, he?"
Sai menoleh dan mendapati Hinata Hyuga mengangguk, diam-diam ia menghela napas dan merasa lega. Tampaknya kali ini anggota timnya cukup bisa diandalkan, meski dia tidak akan melonggarkan satu pun pedomannya. Berada dalam misi utama menyelamatkan Sora dan melenyapkan Akatsuki, itu adalah prioritas utama baginya. Tugas berikutnya adalah mencari keberadaan Sakura Haruno, dan tentu dia belum melupakan misi terakhir yang diucapkan Kakashi Hatake untuk membunuh Sasuke Uchiha. Satu per satu harus ia selesaikan tanpa melihat empati pribadi, karena hanya akan mengganggu stabilitas dan kinerja misi. Dia tidak akan membiarkan situasi masa lalunya terulang kembali.
Tidak akan pernah…
"Ternyata kalian tidak sebodoh yang kukira," Sai tersenyum sinis menanggapi seringai kedua anak buahnya, ia beranjak dari tempat tidur untuk bersiap-siap pergi. "Naruto! Segera hubungi Shikamaru untuk menentukan posisi berikutnya, dan kali ini mereka tidak boleh lolos!"
.
.
.
Konoha's Central Office – Meeting Room A1, Konoha
Berpakaian resmi warna hijau, wanita ini dengan langkah-langkah tegas memasuki ruang rapat dari gedung pusat Konoha's Security Division. Rambutnya yang panjang berwarna pirang dibiarkan tergerai, bibirnya dipoles dengan warna menyala. Tidak terpengaruh dengan tatapan hormat seluruh manusia yang ada di gedung luas itu, ia mendorong pintu ruangan dan mendapati Kakashi Hatake telah duduk manis di hadapannya. Kakashi sedikit terkejut pada kehadiran wanita ini, namun tanpa pikir panjang ia segera berdiri dan membungkuk hormat.
"Tsunade-Taichou," sapanya setelah membungkuk lalu mempersilakan tamu hormat itu duduk dengan nyaman, "suatu kehormatan bertemu dengan petinggi Konoha seperti Anda."
"Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi, kita langsung saja pada pokok permasalahannya." Dengan tegas Tsunade duduk dan melipat kedua tangannya, ia menatap Kakashi, "Maksudku membuat jadwal rapat mendadak denganmu adalah… Ini mengenai anakku, Naruto."
"Ya, saya mendengarkan." Kakashi telah kembali duduk di kursinya.
"Apa yang Anda pikirkan, Kakashi Hatake?" wanita ini seakan mencemooh, "Kau membiarkan Naruto pergi mengejar Akatsuki; sementara Sasuke Uchiha masih hidup berkeliaran disana?! Apa kau tahu betapa sulitnya anak itu untuk melupakan peristiwa tiga tahun yang lalu? Meskipun dia bukan anak kandungku, tapi aku peduli padanya. Sangat peduli, dan ini bukan sekedar tugas."
.
Pria berambut rancung dan bermata sayu itu hanya diam mendengarkan, tidak berkomentar apapun. Tsunade adalah seorang petinggi Konoha dan namanya berpengaruh besar pada negara. Tentu saja dia juga merupakan salah satu dari segelintir orang yang mengetahui keberadaan Sora, dan berbagai top secret Konoha lainnya. Bertemu dengan petinggi Konoha dapat dikatakan sebagai sebuah kehormatan; karena mereka sulit ditemui selain dalam rapat besar. Namun kalimat terakhir wanita itu menggelitik bibirnya agar terbuka dan bertanya.
"Tugas?" tanyanya singkat.
Wanita itu terkesiap, sepertinya tanpa sadar ia membuka sebuah rahasia dan tidak punya pilihan lain selain membeberkannya pada sang supervisor keamanan Konoha.
"Huh, ya… Kau mungkin tidak tahu, tapi pemerintah telah mengambil langkah defensif atas tindakan Fugaku Uchiha lima belas tahun yang lalu. Ada alasan mengapa Sasuke tidak diperbolehkan untuk diadopsi orangtua manapun; pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik Sasuke dan semua kerabat yang dekat dengannya." Tsunade menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Termasuk Naruto Uzumaki, ia menjadi yatim piatu karena orangtuanya diduga dekat dengan Uchiha. Sebagai salah satu orang yang dekat dengan Sasuke, pemerintah menunjukku sebagai wali Naruto. Dia resmi menjadi anak angkatku dan aku bertugas untuk mengawasinya. Tentu saja, Naruto tidak pernah tahu kenyataan ini…"
Kedua alis Kakashi berkerut, ia tidak menyangka pemerintah sampai menggunakan cara ini untuk membatasi ruang gerak satu-satunya keturunan Uchiha yang selamat, "Aku tidak tahu soal ini, Nyonya. Naruto kupilih semata-mata karena ia dekat dengan Sakura maupun pernah mengenal Sasuke. Selain itu, kemampuan yang dimiliki anak itu memenuhi ekspektasiku untuk bergabung bersama tim… Ini profesionalitas kerja, aku tidak bisa menarik Naruto kembali ke Konoha sebelum tugasnya selesai."
.
"Kau gila! Bahkan Naruto tidak tahu orangtuanya merupakan korban dari insiden pemurnian Uchiha, baik Sasuke maupun Naruto mendapat keterangan bahwa orangtuanya adalah korban kecelakaan lalu lintas! Keduanya tidak pernah tahu orangtua mereka saling mengenal," Wanita berdada besar dan masih tampak belia ini seketika berdiri, kesepuluh jemarinya menggebrak meja. Dari pandangan yang lebih tinggi ia menatap tajam ke arah Kakashi, "Kau melakukan kesalahan besar karena mempertemukan tiga orang sahabat itu di Suna! Dimana pola pikir dan otakmu yang katanya cerdas itu, Kakashi?!"
"Sekali lagi maafkan aku…" Kakashi berdiri dan membungkukkan badannya, "Tapi Naruto Uzumaki tetap bergabung dengan Proyek Suna untuk menyelamatkan Sora. Dia sangat dibutuhkan, aku tidak mungkin menariknya dari sana sebelum misi selesai."
Menghela napas, tubuh wanita ini berbalik menuju pintu keluar karena tidak ada gunanya berdebat dengan supervisor Naruto yang tampak keras kepala, "Sudah kuputuskan. Jika dalam tiga hari tidak ada perkembangan berarti tentang misi Suna… Aku akan meminta pengajuan pada direksi mengenai penarikan Naruto Uzumaki, Kakashi Hatake. Kau mengerti artinya kan? Bersiaplah mencari kandidat baru selain anakku… Dan kali ini pergunakan otakmu dengan baik."
Wanita itu langsung meninggalkan ruang rapat tanpa basa-basi, menyisakan sosok Kakashi yang masih berdiri menatap sebuah pintu tertutup. Dengan pikiran yang berkecamuk, ia harus mendapatkan sesuatu sebelum pemerintah mencampuri strateginya dalam misi Proyek Suna. Tidak membuang banyak waktu, Kakashi juga meninggalkan ruangan dan pergi menuju ruang kerjanya untuk menemui Shikamaru. Untuk sementara waktu ia akan terfokus pada misi ini; memantau perkembangan misi anak buahnya. Kakashi dan Shikamaru akan menyusun strategi untuk membantu tim lapangan menghancurkan Akatsuki, dia tidak berniat mengganti posisi Naruto dalam tim.
"Sebelum tiga hari akan kupastikan semua selesai." gumam Kakashi sambil berlalu.
.
.
.
22 November, Unknown Motel
Pandangannya terasa berputar akibat aspirin yang ditenggaknya pagi tadi, Sasuke mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur, seluruh tubuhnya masih terasa lelah. Setelah menunggu beberapa saat sampai rasa pusing dan pandangannya yang kabur kini berangsur-angsur normal, Sasuke menyipitkan pandangan. Di samping tempat tidurnya tampak seorang wanita berambut soft pink, duduk di sebuah kursi dengan kepala terkulai ke samping. Sakura yang setia menjaga dan mengecek demam pada tubuh Sasuke tampaknya sama-sama lelah, tanpa sadar ia tertidur dalam posisi duduk. Ia juga melihat sebuah handuk yang digunakan Sakura untuk mengompres keningnya tergeletak di atas meja, mungkin dengan pertimbangan demam pria Uchiha ini telah menurun. Dalam diam pria ini mengambil posisi duduk, tidak tahu harus berbuat apa.
"Saku-ra?" panggilnya dengan suara pelan seolah berbisik, memastikan wanita itu benar-benar tidur sekaligus enggan membangunkannya. Tidak ada respon apapun, ia kembali menghela napas.
Dalam tidurnya ia memimpikan banyak hal, bermimpi tentang masa kecil sebelum kedua orangtuanya wafat, masa sekolahnya di Akademi Konoha, hingga memimpikan wanita ini. Selama tiga tahun ia mengubur semuanya sebagai masa lalu, dan kini seakan-akan takdir juga yang mempertemukan mereka di Suna. Apa ini pertanda untuk menyelesaikan permasalahan yang belum tuntas saat itu? Dia pun tidak tahu, bahkan Sasuke merasa semuanya kembali ke titik awal. Dia bukan bagian dari Konoha, bukan juga tergabung bersama Akatsuki yang telah menaunginya selama tiga tahun. Perlahan ia mengatur posisi tubuhnya sendiri menuju pinggiran ranjang, kedua kakinya berhasil menyentuh lantai, mengapit kursi tempat Sakura bertumpu.
Mereka berhadap-hadapan, selama beberapa detik sang Uchiha hanya terpaku menatap sosok wanita yang tertidur begitu damai tanpa pertahanan berarti. Memperhatikan deru napasnya yang beraturan, melihat wajahnya yang tampak kelelahan membuat jemari pria ini secara spontan terangkat. Enggan membuat Sakura terbangun namun tubuhnya berkata lain, ia membiarkan jemari tangannya terarah dan membelai rambut soft pink itu ke arah samping. Rambutnya yang tersibak membuat wajah tidur Sakura Haruno lebih jelas terlihat, dan pria ini seakan-akan mematung di tempatnya.
.
Hanya dia yang bisa kupercaya saat ini, Sakura Haruno…
.
"Maaf, membuatmu terseret dalam bahaya." adalah perkataan yang ia ucapkan dalam hati sambil terus menatap wajah sang agen Konoha di hadapannya. Terdiam seakan terhipnotis, Sasuke Uchiha heran pada dirinya sendiri. Entah perasaan apa yang terasa menggebu di dalam hati, terasa begitu asing. Dia menatap wanita itu dengan pikiran berkecamuk, detail wajah damai Sakura Haruno ketika tertidur begitu melekat dan membuat pikirannya seketika kosong.
Sasuke Uchiha bergerak dalam keheningan, ia mencondongkan tubuhnya ke depan sementara tangan kanannya masih berada pada helai-helai rambut Sakura.
Memiringkan lehernya sedikit ke samping, kini bibirnya bertemu dengan wanita itu.
Satu kecupan kilat berhasil ia curi dari Sakura Haruno, sebuah gestur yang berlangsung secara spontan. Tanpa logika dan tidak ada penyesalan. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tertegun pada aksinya sendiri, Sasuke Uchiha tersenyum simpul. Terlebih ketika Sakura tetap diam tidak bergerak, tidak menyadari bahwa baru saja ia mendapatkan sebuah ciuman dari pria ini. Sasuke merasa seperti orang bodoh, jantungnya berdegup kencang, hatinya meluap-luap dan terasa begitu hangat. Sementara otaknya terus berteriak agar ia jangan pernah melibatkan perasaan, hati dan pikirannya tidak berjalan selaras.
"Anggap itu bentuk ucapan terimakasihku, Sakura." gumamnya dengan seringai sambil menyelimuti tubuh wanita itu dengan selimut yang tadi melekat pada tubuhnya.
Sasuke perlahan-lahan turun dari ranjang dan dengan langkah gontai mengenakan jaketnya, kakinya mengendap-endap menuju pintu keluar kamar. Berusaha tidak mengeluarkan satu suara pun, ia memutar kenop pintu sambil melirik ke arah Sakura yang masih tidur terduduk sambil memunggunginya. Sasuke Uchiha akhirnya menyelinap keluar kamar dan pergi.
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter tiga belas selesai juga... Saya update lebih cepat satu hari dari tanggal 7 karena besok saya nggak bisa menyentuh internet. Dari voting sepertinya muncul dua nama yang sering disebut yaitu Itachi sama Gaara, jadi di cerita ini saya berniat masukin Itachi ke dalam cerita. ^^
Sebagai permohonan maaf, sekali lagi saya mohon maaf atas kesalahan penulisan iris mata Sakura yang ditulis lavender… Saya nggak ngecek sama sekali jadi kejadiannya berulang, untuk chapter ini semoga nggak salah. Terimakasih udah di mention juga. :D
Di chapter ini ada banyak rahasia yang diungkap, mulai dari keberadaan Itachi yang disebut Fugaku, kematian ortu Naruto, sampai ke peran Tsunade yang jadi orang tua asuh Naruto Uzumaki, hohoho. Oh dan nggak lupa, yang nanyain masa lalunya Sai, saya coba bahas tuh. Itu alasan kenapa dia selalu berpedoman 'misi adalah misi'. Dan nggak lupa sama request Sakusasu moment… Udah saya sisipkan di bagian akhir. Gimana dengan kesan-kesan untuk chapter ini? Semoga ceritanya tambah menarik ya, karena memang sudah mendekati klimaks.
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya terus dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho) :D
Dan ini balasan review chapter dua belas :
Guest : Maaf sekali lagi, sudah saya perbaiki kok lavender jadi emerald.
Madge Undersee : Salam kenal :D Terimakasih banyak buat koreksi dan tambahan informasinya soal penulisan, saya coba perbaiki. Mampir RnR lagi yaa…
Hanazonorin444 : salam kenal :D Thanks buat reviewnya, iya karena pair utama Sasusaku jadi Naruhina belum terlalu banyak, ada Sai di tengah-tengahnya juga. Saya usahakan tambahin di chapter depan ya…
Yoo-chan : Terima kasih buat reviewnya Yoo-chan, syukurlah kalau adegan fightnya cukup oke! Warna mata juga udah diperbaiki, itu semata-mata author lagi error hehe. Gimana dengan chapter kali ini? Mampir RnR lagi yaa…
Sasusaku uciha : Saya update lagi! Kali ini satu hari lebih cepat dari tanggal 7 hehe, yup saya juga berpikiran Kisame dan Hidan itu mengerikan di Akatsuki, warna mata sudah diperbaiki… Itu murni kesalahan author. Naah mampir lagi buat RnR ya untuk chapter ini!
dinosaurus : gremeng gremeng? *ngakak*, nah kalau di chapter ini gremeng-gremeng bukan? :D
Ocha chan : Sebenernya saya nggak pernah punya plot cerita per chapter, bahkan ide ceritanya juga mengalir tiap chapter *sejujurnya*. Jadi sulit diprediksi juga selesai chapter berapa, saya sekedar kasih gambaran aja. Dan boleh banget kasih koreksi, udah saya perbaiki. Itu memang salah saya, makasih udah jeli. Mampir RnR lagi ya?
Bad luck raihan : saya newbie bukan senpai hahaha, thanks a lot! RnR lagi yaa…
Mizuira Kumiko : Yup Sai itu dulunya sniper handal, makanya waktu chapter awal dia bilang ke Yuki kalau dia bisa perkirain rencana si penembak karena dulunya dia sniper (waktu Jiraiya ketembak). Soal penembak akan saya bahas nanti sepertinya, karena sesuai voting banyak yang minta Itachi jadi dia akan ikut masuk ke cerita tapi belum saya putuskan jadi apa. Gimana dengan Sasusaku kali ini? Mampir RnR lagi sist :D
BLUPI : saya update, hahaha nanggung ya bersambungnya? Sudah saya selipin sasusaku disini :)
Sherlock Holmes : Siap, saya update satu hari lebih cepat lho Mr. Holmes! Sudah saya sisipin juga sasusakunya, Sasuke steal a kiss from Sakura. Nah, mampir lagi di chapter ini lho Pak Detektif…
Akasuna no ei-chan : Yup Bang Itachi saya masukin ke cerita nih sepertinya, asalnya mau mengekspos adegan bertarungnya lebih detail lagi tapi nanti jadi sadis haha. Gimana buat chapter yang ini? :D
Afisa UchirunoSS : Iya awalnya banyak kesalahan warna mata, maklum author ngetiknya lagi ngantuk ^^. Vote-nya diterima, Itachi saya ikut sertakan nanti tapi belum pasti jadi apa. Wah jangankan Afisa, saya juga bingung Sasusakunya nanti gimana… *nyengir*. RnR lagi ya, sasusaku udah diselipin tuh.
AcaAzuka Yuri chan : Haloo iya kemarin sempet nggak keliatan nih Yuri-chan, hmm idenya oke juga saya tamping yaa…. Iya ini fic pertama saya di thread Naruto, sebelumnya saya buat di thread Resident Evil (yang suka game RE mampir yaa). Oh ternyata sibuk kuliah ya, semoga masih sempet mampir disini ya?
Alisha Blooms : Halo halo Alisha-chan, terimakasih sudah RnR kemarin, telat satu hari nggak apa dong. Wah saya nggak minat jadi cameo disini, takut mati ketembak XD. Itachi bakal dimunculin nanti! Soal snipernya nanti akan ada penjelasan di chapter berikutnya (author juga belum kepikiran soalnya). Nah sekarang secuil fluffnya juga ada lho, jadi ditunggu reviewnya buat yang chapter ini ya ^^
Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini… gimana UN-nya sukses nggak? Gaara saya masih bingung masukin dia ke cerita atau nggak, hmm sasusaku momentnya sekarang ditambahin deh! Semoga lala-chan bisa mampir RnR lagi ya?
Dian-chan : Tenang Sasu menang lawan Kisame, yah kena luka dikit tapi berhasil selamat. Sakura jadi bisa bantu mengobati luka sayatan dari pedang Kisame, hohoho.
Roquezen : Sai pakai baju gitu ganteng ceritanya? Hahaha, iya dia jadi dipanggil Pak Bos sama Naruto… karena sikapnya dia emang bossy banget kan XD. RnR lagi sist, thanks!
Summer : Halo, salam kenal ya… Snipernya belum terungkap siapa di chapter ini, kalau punya tebakan boleh tuh siapa tau jadi ide *ketauan buntu ide*. Yang bikin Sai ga bisa tidur adalah trauma misi; udah diceritain di chapter ini ya? Sasuke bakal ke Konoha atau Sakura yang bakal berkhianat juga masih abu-abu, jangan di spoiler sepertinya… Review lagi untuk chapter ini ya :D
Gita Zahra : halo Gita, thank you reviewnya dan nggak bosen kok… Dan saya nggak akan discontinue sebelum selesai. Seandainya mau hiatus pun nanti ada pemberitahuannya, hehehe. Bingung sama ceritanya? Maklum banyak konflik… Jadi inti beberapa chapter kemarin adalah; Fugaku (papanya Sasuke) bawa kabur data penelitian karena dia anggap pemerintah itu menyabotase Sora demi kepentingan Negara tanpa memikirkan sisi "kemanusiaan" Sora. Sedangkan di pihak Konoha, mereka menganggap Fugaku semacam pengkhianat yang berbahaya (seluruh klan Uchiha dianggap kumpulan penjahat juga) dan akhirnya mereka dibantai satu-satu. Seluruh kejadian 15 tahun yang lalu itu dirahasiakan, dan akhirnya ketahuan sama Shikamaru karena dia berhasil meng-'hack' server.
.
Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 20 Mei)!
-jitan-
