SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

Note :

- Rating M (mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar) :D

- Genre : Adventure / Mystery / Romance

- AU : Alternate Universe, OOC, typo, death chara.

- Ini fanfic pertama saya di thread Naruto. Semoga ceritanya berkenan, dan maafkanlah segala bentuk kesalahan penulis newbie. Tolong reviewnya yaa semua (syukur kalo di-fave dan follow), makasih :)

.

.


Dengan terengah-engah, bocah sepuluh tahun ini lari menyusuri lorong berwarna putih dengan sorotan lampu yang menempel di tiap langit-langit ruangan. Ia hanya mengikuti langkah-langkah pria berseragam keamanan yang ada di depannya; mengenakan helm pelindung sambil membawa sebuah senjata api. Tikungan pertama dan kedua ia lewati tanpa satu pun penghalang, pria bermarga Uchiha itu membuka pintu darurat di sudut gedung. Entah berapa anak tangga yang mereka turuni dalam diam, deru napas semakin tidak beraturan ketika mereka hampir mencapai lantai dasar laboratorium Konoha.

"Kita- hh, mau kemana?" Sora bertanya dengan terengah-engah sambil terus menuruni tangga. Sementara pria itu masih terus memimpin dengan kecepatan tinggi, dari postur tubuh tampaknya ia sama sekali tidak kelelahan. Sang Uchiha tidak menggubrisnya, ia hanya mengecek setiap sudut sebelum akhirnya menunjuk sebuah pintu yang mengarah pada basement. Anak itu harus mengulang pertanyaannya sekali lagi untuk mendapatkan satu jawaban.

"Mengambil kendaraan untuk kabur." katanya singkat.

Dengan kasar dibukanya pintu darurat dan disana terbentang ruangan basement yang gelap, hanya ada beberapa lampu kecil yang menerangi lapangan parkir gedung tersebut. Pria ini mengambil sebuah kunci dari saku dan dengan terburu-buru mengambil sebuah motor yang terletak paling dekat dengan pintu darurat. Helm pengemudi yang terletak pada motor segera ia berikan pada bocah itu, dalam sekejap mesin kendaraan akhirnya menyala dan Sora telah berada di bangku penumpang.

Kendaraan roda dua itu melesat dari basement menuju lantai dasar lalu akhirnya keluar dari lingkungan laboratorium. Sangat disayangkan, kamera CCTV yang terpasang di pintu keluar sepertinya menangkap gerakan mereka dan rombongan penjaga pun berbondong-bondong keluar dari kantor divisinya untuk menghentikan si penculik yang membawa objek penelitian Negara Konoha. Berpegangan erat pada tubuh pria Uchiha, Sora masih bisa mendengar sayup-sayup suara sirine yang bersahut-sahutan dari arah belakang. Sang Uchiha tidak gentar dan justru menaikkan kecepatan di tengah lalu lintas padat. Dia takut, bagaimana jika terkejar… Atau mati. Ah tidak, sebenarnya dia takut berada di pihak yang salah.

.

"Mereka mengejar kita!" Sora sedikit berteriak agar suaranya bisa terdengar. Deru mesin dan hentakan angin dari kecepatan motor mungkin meluputkan suaranya, karena pria itu tidak bergeming. Sora setengah frustasi harus mengulang lagi peringatannya dengan suara lebih keras, "MEREKA MENGEJAR-"

"Aku tidak tuli, bocah." potongnya.

Ia meliuk melewati satu per satu kendaraan roda empat melalui sisi jalan lalu tiba-tiba membanting setir motornya, menuju sebuah jalan kecil di sebelah kiri. Kendaraan roda dua ini dengan terburu-buru melewati jalan sempit di pinggir pasar buah, arus padat yang dipenuhi manusia menghalangi gerakan mereka. Lorong jalan yang sempit itu tidak memungkinkan mobil untuk ikut masuk, sebagai gantinya yang mengejar mereka sekarang adalah beberapa petugas yang sama-sama menggunakan motor. Teriakan masyarakat awam memecah suasana sekitar, Sora bersama si pria Uchiha sama sekali tidak berniat menurunkan kecepatan.

"Aku harus membawamu ke perbatasan Suna untuk bertemu Fugaku!" ujarnya pada Sora. Tangan kirinya teracung ke belakang, sambil menatap spion motornya ia mengira-ngira jarak dengan pengejar terdekat. Pelatuk pun ditarik dan sebuah peluru melesat menembus roda depan salah satu pengejar mereka. Orang itu terjungkal ke belakang, motornya menimpa sebuah stand penjual buah. Bermacam-macam buah berhamburan dan hancur, motor itu melayang beberapa detik di udara sementara sang pengemudi akhirnya harus pasrah menerima nasib tubuhnya tertimpa bobot motor.

Setidaknya langkah itu menghentikan beberapa pengejar, jalanan sempit itu berakhir dan kembali membawa mereka menemui jalan besar. Jalan pintas yang ia pilih barusan setidaknya memotong dua atau tiga pemberhentian, sementara waktu yang tersisa juga tidak banyak. Di kursi penumpang, Sora mencengkeram seragam keamanan pria itu dengan erat, kejar-kejaran itu hampir mambuatnya terjatuh. Namun pikirannya terarah pada hal lain, sepertinya Sora mengingat sosok Fugaku Uchiha; dia salah satu pemimpin proyek yang direncanakan langsung oleh pemerintah. Dia rekan sekaligus rival dari Danzo yang berkedudukan sama, sebagai peneliti senior dia memiliki otoritas level 4 untuk menghapus data. Perlahan-lahan Sora menyadari posisi dan keadaan mereka saat ini.

.

"Siapa namamu?" Sora menyerbu si pria bermarga Uchiha dengan banyak pertanyaan, "Apa hubunganmu dengan Fugaku? Dan apa kau juga mengenal Danzo?!"

"Che… Danzo. Siapa yang tidak mengenal pria tamak itu, bocah?" jawabnya sambil tetap memperhatikan jalan juga kecepatannya menuju perbatasan Suna, "Aku tahu sebenarnya dia iri pada klan kami, dia selalu ingin menghancurkan karir Fugaku tapi sayangnya tidak pernah berhasil. Dan ini adalah satu-satunya jalan untuk melenyapkan Uchiha, Danzo memanfaatkan pasukan Konoha untuk kepentingannya sendiri. Kalau sekarang aku gagal membawamu menuju tempat aman, Fugaku menitipkan sebuah pesan!"

Sora tidak mengerti, "Pesan?"

"Aku ingin kau yang mengatur Konoha, dengan otak jeniusmu semuanya menjadi mungkin. Aturlah mereka layaknya pion catur, bukan mereka yang mengaturmu." katanya lagi, "Itu yang dikatakan Fugaku untukmu, bocah. Berjanjilah kau akan melakukannya, ini demi kebaikanmu sendiri."

Sora mencoba mencerna perkataan itu, dia sendiri tidak keberatan untuk menjalankannya. Karena dia tidak sudi orang-orang bodoh itu yang terus meneliti semua senti tubuhnya, saatnya ia yang mengatur dan mengendalikan mereka. Ya tentu saja, ini akan terjadi jika dia tertangkap.

"Kau belum menyebutkan namamu, Uchiha…"

Pria itu tertawa kecil dan melihat dari spion; barisan pengejar telah kembali. Perjalanannya tidak akan menjadi mudah, sedangkan bocah sepuluh tahun ini terus merajuk menanyakan namanya?

"Simpan di otakmu baik-baik namaku, bocah!" dia menaikkan lagi kecepatannya untuk menghindar dari kejaran, "Namaku-"

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 14 : WHITE CANVAS

.

.

22 November, Akatsuki Mansion

"Kisame dan kelompoknya menghilang sejak semalam, sepertinya dia tidak berhasil menghabisi Sasuke Uchiha. Atau mungkin juga… Dia sudah mati," ujarnya. Sang pimpinan Akatsuki bergumam kecil ketika wanita yang berada di pangkuannya perlahan-lahan membuka topeng dengan motif spiral itu, tanpa sedikit pun protes. Kedua matanya kini dapat dengan jelas memandang wanita cantik di hadapannya, "Sepertinya kita harus mencari orang pengganti untuk-"

Ucapannya terhenti ketika wanita itu melumat bibirnya, sang pimpinan Akatsuki terkejut namun tentu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Sementara mulutnya beradu, kedua tangannya terarah dan menjelajahi setiap lekuk tubuh sang wanita berambut kebiruan itu. Dia merapatkan tubuhnya seraya mendominasi tiap kecupan, sebelah tangan terletak di belakang punggung si wanita sedangkan sebelah lagi berada pada tengkuknya. Seluruh aktivitasnya tiba-tiba terhenti begitu saja ketika Konan menarik diri. Melepaskan diri dari pagutan dan membuat sang pimpinan Akatsuki terperangah, wanita bermata abu-abu itu tersenyum penuh arti.

"Kau yang memulai dan tiba-tiba berhenti," pria itu tersenyum sinis dan membiarkan Konan memainkan rambutnya tanpa berkata apapun, "Wanita sepertimu terlalu… Misterius."

Ia membiarkan wajah tanpa topengnya ditatap oleh wanita ini.

"Semua yang misterius di matamu selalu terlihat menarik, kan? Kau tahu alasanku melakukannya barusan?" Sebuah senyum manis tergaris dari bibir Konan ketika ia perlahan-lahan berdiri dari pangkuan pria itu. Dengan lembut diambilnya topeng oranye milik sang keturunan Uchiha, lalu sambil membungkuk ia membantu pimpinan Akatsuki mengenakan lagi penutup wajahnya, "Obito… Pemimpin Akatsuki sepertimu tidak perlu membicarakan hal-hal sepele tentang penggantian posisi Kisame Hoshigaki atau mencemaskan Sasuke Uchiha, selama rencanamu tetap berjalan dengan baik. Layaknya sebuah kanvas putih; saat ini seluruh sketsanya sudah selesai. Kau hanya perlu menyempurnakannya dengan pulasan warna, lalu menikmati hasil karyanya."

Dia menyeringai lebar saat mendengar namanya dipanggil.

"Che, jangan panggil aku dengan nama itu… Obito Uchiha sudah mati. Dia mati dalam insiden pemurnian Uchiha lima belas tahun yang lalu, dan sekarang aku adalah pemimpin Akatsuki yang bernama... Tobi." Ia berdiri dan menatap Konan yang masih berjalan memunggunginya menuju arah pintu, "Bawa bocah itu masuk. Aku sudah memberikan penawaran dan batas waktu yang cukup untuk berpikir, ini waktu yang tepat untuk mendapatkan jawabannya."

.

Konan membuka pintu kayu dan di hadapannya tampak Sora tengah berjalan di lorong, tubuh mungilnya berada di tengah-tengah; dihimpit dua anggota Akatsuki yang berjubah hitam dengan motif awan merah pada sisi kanan dan kirinya. Dengan ekspresi datar bocah yang terlihat berusia sepuluh tahun ini masuk ke dalam ruangan dan melewati tubuh Konan seperti tidak pernah menganggapnya ada. Dua orang Akatsuki yang tadi mendampinginya berhenti dan mempersilakan bocah itu masuk sementara wanita berwarna kebiruan ini kembali menutup pintu. Suasana kembali berubah menjadi sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju tengah-tengah ruangan. Bertatap muka dengan sang pimpinan Akatsuki, ia melipat kedua tangannya.

"Kuharap tidurmu nyenyak, Sora-sama?" ujar sang pemimpin Akatsuki dengan nada sedikit riang, "Kau pasti sudah bisa menduganya, ini tentang tawaran yang pernah kuajukan padamu."

Dia tidak akan memberikan banyak waktu untuk berpikir, batin Sora.

"Kujelaskan satu hal; aku tidak pernah bekerjasama dengan orang yang sama sekali tidak kukenal." Sora meringis tanpa terlihat takut sedikit pun, "Sebelum aku mengatakan jawabannya, kau harus menjelaskan padaku tentang semua rencanamu. Dan tentang siapa dirimu sebenarnya, Uchiha."

"Tentu saja! Pertama-tama perkenalkan. Aku; Tobi, dengan senang hati akan menceritakan semuanya… Duduklah." Dari balik topeng spiralnya ia terkekeh dan suara tawanya menggema di seisi ruangan yang terasa dingin, ia mempersilakan Sora duduk di sebuah kursi kayu. Sementara tanpa diberi aba-aba, Konan telah duduk di kursi lain di seberang Tobi, "Sebagai calon partner, kau akan kuceritakan tentang rencana brilianku ini, termasuk tentang kenyataan yang harus kau telan bulat-bulat; bahwa Konoha yang kau bangun selama ini tengah berkhianat dan menusukmu dari belakang."

.

.


Mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan panjang dan serius, di satu sisi sang pemimpin Akatsuki mulai bercerita sementara di sisi lain Sora mencocokkan cerita tersebut dengan fakta yang ia ketahui. Setelah insiden pemurnian Uchiha yang terjadi lima belas tahun yang lalu, seluruh jasad klan Uchiha segera dilenyapkan oleh pihak Konoha. Bukan hanya jasadnya, mereka membakar seluruh rumah dan barang-barang yang mereka miliki. Tanpa bekas. Nama 'Uchiha' dikategorikan sebagai sebuah kelompok yang terkena doktrinasi dari Fugaku; sang pembelot negara. Keadaan berangsur normal dalam kurun waktu beberapa bulan, dan seperti yang diyakini Sora… Selama satu tahun berikutnya ia tetap menjadi kelinci percobaan tentang rahasia 'berhenti menua' termasuk otak jeniusnya.

Patut diakui, penelitian itu tidak berhasil. Data-data yang tersisa tidak memadai dan otak mereka pada akhirnya harus mengakui satu hal; tidak semua rahasia Ilahi dapat dibeberkan melalui jalur ilmiah. Penelitian terhadap Sora dihentikan, sementara bocah itu mulai diberikan kepercayaan untuk membantu langkah perekonomian. Keberadaan Sora tetap dirahasiakan oleh pemerintah, selama beberapa tahun ia dianggap mampu memberikan kontribusi yang baik hingga akhirnya perlahan tapi pasti... Dia menjadi seorang pemain catur dari perekonomian Negara Konoha. Danzo dari peneliti senior akhirnya diangkat bersama beberapa orang lain menjadi petinggi Negara Konoha.

Empat tahun berikutnya ia ditunjuk menjadi penasihat Hokage; nama pemimpin Negara Konoha. Keberadaan dirinya sebagai tangan kanan Hokage memberikan ia akses lebih untuk mengatur, setidaknya itu yang dikatakan Tobi. Lima tahun belakangan saat Konoha telah menjadi satu sosok negara maju dengan komoditi perekonomian yang baik, peran Sora sedikit demi sedikit tergerus oleh sistem yang telah berjalan. Terlebih karena keberadaan Sora semata-mata berada di belakang layar, pion caturnya-lah yang mendapat nama juga pengakuan. Tapi, rencana Danzo tidak berhenti meski ia telah menikmati masa-masa kejayaannya selama beberapa tahun.

"Satu-satunya keturunan Uchiha yang tidak dilenyapkan hanya Sasuke…" suara Tobi terdengar dingin dan menusuk, "Menurut kabar yang kudapatkan, saat kedua orangtuanya dibunuh oleh petugas keamanan Konoha… Sasuke diselamatkan. Dia dibius ketika tidur dan bangun di rumah sakit, sebagai yatim piatu. Dia mendapat kabar orangtuanya tewas menjadi korban kecelakaan lalu lintas."

.

"Aku tidak mengerti kaitan semua ini dengan Sasuke…" Sora mengambil secangkir teh yang disajikan di atas meja, meneguknya perlahan ketika dua pasang mata itu terus memperhatikan gerak-geriknya. Apa yang diceritakan pria bertopeng ini hampir seluruhnya benar, kecuali tentang Sasuke. Karena Konoha tidak pernah menceritakan tentang keberadaan sang Uchiha, ia berpikir seluruh klan itu telah lenyap.

"Bisa dikatakan, Sasuke Uchiha adalah pelampiasan terbesar Danzo pada obsesinya mengalahkan Uchiha. Dia anak kandung Fugaku; rival sejati Danzo… Setelah menjadi yatim piatu, ia diproteksi agar berada dalam yayasan pemerintah dan tidak diperbolehkan diadopsi. Itu semua jalan agar Danzo bisa terus memantau keadaannya, Sasuke dibentuk dan dikendalikan untuk Konoha. Membuat Uchiha bertekuk lutut adalah obsesi Danzo meski Fugaku telah tewas." pemimpin Akatsuki ini menoleh pada Konan lalu mengangguk. Dengan gestur minim seperti itu, Konan tampaknya mengerti lalu berjalan menuju meja kerja untuk mengambil sesuatu, "Tapi yang akan kita bahas bukan soal Sasuke, bocah. Ini soal dirimu dan kerjasama kita."

.

Konan membawa sebuah map besar dan meletakkannya di atas meja setelah menyingkirkan gelas-gelas teh. Permukaan map yang mengkilap segera dibalik dan tampak sebuah peta besar yang membuat alis Sora berkerut keheranan. Dari gambar tersebut ia dapat melihat jalur transportasi dan arus perdagangan, beberapa pusat distribusi dan agen-agen penyalur. Pandangannya kembali pada Tobi yang masih tidak bergeming di tempat, sementara tangan si wanita ular telah berada di leher pria itu.

"Selesaikan urusan bisnismu dengan Sora-sama," ujarnya sambil memeluk Tobi, "Sayang sekali aku harus pergi meninggalkan pembicaraan menarik ini."

"Hmmph…" Tobi mendongakkan kepalanya dan dengan sebelah mata yang terbuka dari sisi kanan topeng ia menatap Konan, "Kau ada urusan, Konan sayang?"

Wanita itu mengecup singkat pipi kanan Tobi dan ciumannya berakhir pada sisi topeng, "Mengurus yang seharusnya kuurus, Tobi. Jangan khawatir…"

Dengan langkah anggun ia meninggalkan kedua pria yang masih duduk nyaman, menutup pintu itu dengan tegas. Tobi menangkap senyum sinis dari Sora tentang tingkah laku wanita ular yang menjadi mata-mata sekaligus pengkhianat Konoha. Meski dia tidak terkejut ketika tahu wanita ini mengkhianati negaranya sendiri untuk bergabung bersama Akatsuki, namun tetap saja sosok pengkhianat tampak begitu kotor di matanya. Meski sekarang semuanya menjadi abu-abu; apa yang menurutnya bertindak benar adalah Akatsuki atau Konoha.

"Rupanya kau bertekuk lutut pada wanita ular itu, eh?" sindir Sora ketika melihat sang pemimpin Akatsuki menatap arah pintu tempat Konan keluar, meski hanya sekilas.

"Konoha tidak bisa memperlakukan aset emasnya dengan baik, Sora-sama… Itu berlaku diantaranya untukmu, dan juga untuk wanita itu." Tobi berdeham kecil, "Tapi bagaimana jika sebaiknya kita kembali pada pembicaraan bisnis kita? Karena ini terlalu menarik jika dilewatkan…"

.

.

.


Suna's Bay – Ruang Medis, 12.15 AM

Keluar dari ruang kesehatan yang tersedia di salah satu sektor dermaga, Sai masih harus menghadapi beberapa pertanyaan dari petugas medis tentang kejadian yang menimpanya. Ia juga diperiksa ulang oleh dokter jaga, memastikan tidak ada luka parah atau pendarahan akibat benturan keras. Seorang bodyguard yang berhasil dikalahkan Naruto tidak berhasil ditangkap oleh penjaga keamanan, dia kabur saat kericuhan terjadi. Sisi positifnya; dia tidak bisa bersaksi tentang jati diri ketiga agen rahasia Konoha atau alasan mengapa mereka mengejar si pria berjubah hitam. Naruto Uzumaki yang menyamarkan identitas anggota timnya mengambil inisiatif untuk menyembunyikan senjata dan alat transmisi mereka di sebuah tempat, tepat sebelum tubuh Sai diangkat oleh masyarakat menuju klinik.

Pria berambut kuning ini duduk di sebuah bangku ruang tunggu, menatap atasannya yang masih diinterogasi. Petugas tidak mengizinkan atasannya ditemani saat membuat kesaksian, jadi setelah mereka membicarakan alasan yang tepat di dalam ruangan, akhirnya Sai maju seorang diri. Ketiganya juga belum sempat menghubungi Shikamaru karena menurut agen Konoha tersebut Kakashi Hatake datang untuk mengambil alih rencana Proyek Suna. Pandangannya tiba-tiba tertutup oleh seorang wanita yang menyodorkan sekaleng minuman, Naruto mendongakkan kepalanya. Dengan senyum lebar ia mengambil tawaran minum itu dari tangan Hinata Hyuuga yang tersipu malu.

"I-ini, minumlah Na-Naruto…" dia menawarkan minuman bersoda yang dingin untuk menyegarkan tenggorokannya, dan segera disambut oleh senyum Naruto.

"Waah terima kasih, Hinata-chan! Aku memang haus!" ia mengajak Hinata agar duduk di sampingnya lalu melirik jam tangan yang sudah menunjukkan waktu makan siang, "…dan juga lapar."

Hinata tertawa kecil menanggapi pengakuan pria itu, dan patut diakui kejar-kejaran tadi membuat tenaga mereka cukup terkuras. Wajar saja jika sekarang mereka merasakan lapar, karena itu Hinata berinisiatif membeli minuman untuk menaikkan nutrisi tubuh sebelum mendapat asupan makanan. Naruto membuka minuman kaleng pemberian Hinata dan meneguknya dengan cepat.

.

"A-Apa kau me-mencemaskan Sa-Sakura?"

Pertanyaan yang membuat Naruto menghentikan tegukannya untuk sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk, "Tentu saja, ini sudah hampir 27 jam dari terakhir kali ia disandera."

Hinata hanya menanggapi dengan anggukan kecil, tidak tahu harus menjawab apa.

"Tapi aku yakin Sasuke tidak sepenuhnya berubah." Naruto menyambung perkataannya, "Dia bisa mengkhianati Konoha lalu bergabung dengan Akatsuki. Dia juga bisa berubah menjadi dingin atau membunuh rasa kemanusiaannya. Tapi aku yakin insting untuk melindungi Sakura tidak akan hilang begitu saja, Hinata-chan. Yah… Semoga saja yang kuharap memang benar adanya."

Hinata mengangguk, mencoba mengurangi kekhawatirannya pada Sakura yang belum ditemukan. Mereka hanya bisa berharap Sakura dapat menjaga diri dengan baik, dan segera memberi kabar tentang lokasi keberadaannya. Namun dalam sekejap pandangannya kembali menerawang dan menatap Sai. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena kelengahannya di lapangan yang membuat kesempatan emas menangkap Kabuto lenyap begitu saja. Hinata menghela napas dalam-dalam, tidak menyadari ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikannya.

.

"Hinata-chan merasa bersalah pada si Pak Bos ya?"

Lamunannya terhenti, wanita ini menoleh.

"E-eh?!"

"Hinata-chan sepertinya masih sedih karena target tadi kabur," mata jernih berwarna biru itu menatap Hinata tanpa ragu dan membuat wanita ini gugup, "Jangan begitu dong! Si Pak Bos Sai menyebalkan itu melakukan hal yang benar, target kabur itu kan kecelakaan dalam misi lapangan. Hinata-chan harus tetap semangat!"

Senyum tipis membayangi sudut bibir wanita beriris lavender itu, sekilas terhibur dengan perkataan lelaki pujaannya meski dia masih ragu. Kalau saja dia menyadari ada mobil hitam dengan kecepatan tinggi di belakangnya, Sai tidak perlu mendorong tubuhnya hingga membentur tembok dan pingsan. Dia bisa menangkap Kabuto dan misi mereka selangkah lebih maju! Pikirannya kosong ketika tiba-tiba tangan Naruto Uzumaki berada di atas kepalanya, perlahan-lahan dengan lembut ia menepuk- yang lebih terasa seperti membelai rambut Hinata. Gerakan itu sukses membuat jantung wanita Konoha ini berdegup luar biasa cepat, diiringi dengan pipinya yang terasa merona dan panas. Hinata Hyuuga hanya mematung. Jangankan menoleh dan menatap Naruto, meliriknya saja ia tidak sanggup.

"Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama." Naruto masih berusaha menenangkan Hinata dari rasa bersalahnya. Dia meletakkan kedua tangannya pada pipi wanita itu dan perlahan mengarahkan pandangan Hinata agar bertatapan dengan bola mata birunya. Naruto tersenyum lebar untuk memberi semangat, "Dengar, ini sepenuhnya bukan salahmu… Jika aku ada dalam situasi yang sama seperti tadi; aku tetap akan menolongmu dan membiarkan Kabuto kabur. Kau dan keselamatanmu lebih berharga daripada target buruan manapun, Hinata-chan."

Jantung Hinata terasa berhenti- atau mungkin memang sempat berhenti? Merasakan kesepuluh jemari Naruto Uzumaki menyentuh wajahnya, ditambah dengan senyuman dan tatapan pria yang berjarak kurang dari satu meter dari matanya… Ini gila, akal sehat sang agen Konoha tersebut hilang seketika. Hinata Hyuuga hampir kehabisan napas akibat jantungnya yang berdebar tak terkendali.

.

.

.


Unknown Motel

"Ayah, kenapa kita pindah ke rumah ini?" gadis kecil berambut soft pink ini berbinar-binar ketika menatap sebuah bangunan baru nan asri yang sekarang bisa dia sebut sebagai 'rumah'.

"Karena mulai hari ini kita akan memulai hidup baru dengan mengisi hidup kita dengan kebahagiaan, Sakura… Dan ini artinya, kita sudah sampai di rumah baru!" Dari belakang sang ayah merangkul puterinya dengan lembut, lalu mengecup gemas kedua pipi anak semata wayangnya. Di sebelahnya juga tampak sosok wanita berparas cantik yang tak lain merupakan ibu si gadis kecil, ia ikut membelai rambut buah hatinya. Beberapa orang sedang hilir mudik mengangkat barang-barang yang dibawa dari kediaman yang lama menggunakan mobil angkutan. Rumah yang akan mereka tempati tampak baru, dengan kusen-kusen kayu dan taman kecil sebagai pekarangannya. Gadis manis ini tersenyum lebar, dan balas memeluk ayahnya erat-erat.

"Tuan Kizashi?"

Figur ayah dari Sakura Haruno menoleh ketika namanya dipanggil, mendapati seorang pria berstelan jas formal berwarna hitam lengkap dengan dasi. Di kerah jas bagian kirinya terdapat sebuah lambang Negara Konoha yang menyerupai stilasi bentuk api; pria ini merupakan agen pemerintah. Kizashi meminta tolong istrinya untuk menggendong Sakura dan sementara ia berhadapan dengan tamu. Kedua pria itu berjabat tangan, sebelum akhirnya agen pemerintah itu menyerahkan sebuah berkas-berkas.

"Ini surat-surat tanah dan hak kepemilikan rumah baru yang berhak Anda tempati." ujar pria berpakaian formal saat dokumen itu berpindah tangan, "Sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, Negara Konoha secara sah memberikan Tuan Kizashi Haruno sebuah tempat tinggal yang baru untuk mempermudah akses Anda dalam bertugas. Ingat, apa yang Anda emban disini adalah misi negara."

Baik Kizashi maupun Mebuki Haruno, keduanya tampak berseri-seri.

.

"Ayah! Ibu! Apa itu tugas negara?" dengan lugu Sakura bertanya.

"Itu artinya kita menjadi pelindung Negara Konoha, Sakura!" Kizashi membalas pertanyaan anaknya dengan nada riang sambil mengelus kepala gadis kecil dalam pelukan Mebuki, "Apa Sakura-chan juga mau jadi pahlawan seperti ayah dan ibu?"

Seketika itu pula ia menganggukkan kepalanya berulang-ulang, optimis.

"Ya! Ya! Sakura mau jadi pahlawan Konoha!"

Ketiga manusia dewasa di sekitar Sakura Haruno hanya tertawa geli pada tingkah laku bocah lugu yang terlihat begitu bersemangat. Tidak lama berselang, ada seorang petugas lain yang berpakaian serupa dengan agen pemerintah Konoha… Namun di sampingnya juga berjalan seorang anak kecil berusia sepantar dengan Sakura Haruno. Mengenakan pakaian berwarna biru navy dan celana pendek berwarna putih, mata onyx itu terlihat begitu kelam. Sakura meronta turun dari gendongan sang ibu, berkebalikan dengan anak lelaki itu, dia sangat senang menemui teman baru.

"Naah Sakura, kalau mau seperti ayah dan ibu… Kau punya tugas kecil!" Kizashi membungkuk dan berbisik pada anak semata wayangnya, "Tugasmu adalah melindungi anak ini dan bersahabat dengannya! Bagaimana, apa Sakura-chan siap bertugas?"

Sakura mengangguk yakin, penuh antusias.

"Ini Sasuke Uchiha." kata salah satu pria berjas hitam. Sakura menyodorkan tangannya untuk berkenalan tapi anak itu sama sekali tidak menggubrisnya, sampai pria itu lagi-lagi angkat bicara, "Sasuke, jaga sikapmu. Kau harus berkenalan dengan anak kecil ini, dia akan jadi temanmu."

"Perkenalkan! Aku Sakura Haruno!"

"Hn." Meski terpaksa, akhirnya Sasuke berjabat tangan dengan tatapan datar, "Sasuke."

"Aku senang… Kau adalah teman pertamaku disini, Sasuke!" Sakura mengacuhkan sifat dingin lawan bicaranya, dia terus berbicara dengan nada riang, "Dan yang lebih penting lagi; kita akan jadi pelindung Konoha seperti ayah-ibuku! Kita pahlawan negara lho!"

.

.

Dia tersentak ketika keseimbangan tubuhnya hampir hilang hingga nyaris terjatuh dari kursi, Sakura terbangun dari tidur. Setelah menguap lebar ia baru menyadari suasana sepi di sekitar, lalu merasakan ada benda hangat yang menyelimuti bagian depan tubuhnya. Selimut yang membungkus tubuh Sasuke Uchiha kini menempel pada tubuh Sakura, sementara tempat tidur di hadapannya kosong. Sakura menoleh dan mendapati Sasuke sudah tidak terbaring di ranjang.

Dia pergi kemana?

"Sasuke?" panggilnya pelan sambil meletakkan selimut kembali ke atas ranjang tanpa membereskannya. Sakura berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengetuknya beberapa kali. Tidak ada respon sama sekali, "Sa-Sasuke? Kau di dalam?"

Perlahan-lahan ia membuka kenop pintu kamar mandi yang ternyata kosong, Sakura berubah panik.

"Sasuke… Kau kemana?!" dia mengecek kertas memo namun pria Uchiha itu sama sekali tidak meninggalkan pesan. Tentu saja hal ini membuatnya semakin cemas. Dengan luka seperti itu, dia mau pergi kemana? Apa dia kabur dan meninggalkanku sendirian? Lalu wanita ini menyadari ada yang hilang dari barang bawaan Sasuke. Jaket, dompet, dan senjata api milik Sasuke Uchiha ikut menghilang bersama tubuh pria itu.

Tanpa berpikir lebih lama, ia mengambil kunci kamar dan bergegas mengejar Sasuke. Mungkin dia belum jauh, apa dia benar-benar meninggalkannya? Apa ini supaya sang agen Konoha dapat menghubungi Naruto dan teman satu timnya?! Bermacam-macam pikiran terlintas di otak Sakura ketika membuka pintu dan hendak berlari. Pikirannya yang bercampur aduk mengurangi refleks dan ia langsung bertabrakan dengan salah satu pengunjung.

"Ouch…" pengunjung itu meringis kesakitan karena Sakura menabraknya dengan keras.

"Maaf, maafkan aku!" Sakura menunduk berulang kali setelah menyadari kesalahannya, "Aku tidak sengaja menab-"

"Sakura?"

Sakura Haruno berhenti membungkukkan badan dan menatap si pengunjung dengan tatapan tak percaya sekaligus lega. Membawa beberapa bungkusan, mata onyx itu beradu dengan emerald-nya, "Sa-Sasuke?!"

"Hn." Sasuke menatap Sakura Haruno yang tampak kacau dan tidak focus itu dengan kedua alis terangkat, "Kau mau kemana, Sakura? Terburu-buru dan ceroboh seperti tadi hanya akan membuatmu cepat mati di tangan musuh…"

.

.


Sakura Haruno menarik pergelangan tangan pria itu dan memaksanya kembali masuk ke dalam kamar yang belum sempat ditutup. Pintu kamar akhirnya ditutup dan Sakura Haruno bersandar disana, ia melipat kedua tangan dan menggembungkan pipinya karena kesal. Sasuke dengan tenang malah menaruh beberapa bungkusan di atas meja dan membiarkan Sakura mengamati tiap gerak-geriknya, "Kenapa kau pergi tanpa memberi kabar apa-"

"Dua puluh tiga menit dan empat puluh detik… Itu waktu yang kubutuhkan sampai akhirnya kembali ke kamar ini," Sasuke memotong omelan wanita itu, "Kau berpikir aku lari dan meninggalkanmu?"

Sakura hanya mendengus kesal sementara matanya menangkap Sasuke membuka satu per satu bungkusan yang berada di atas meja.

.

"Aku pergi mencari beberapa obat untuk luka sayat." Sasuke berinisiatif menjelaskan, ia mengeluarkan beberapa botol obat-obatan dan satu kantung plastik berisi beberapa potong pakaian, "Aku tidak tahu pasti ukuranmu, tapi setidaknya pakaian-pakaian ini layak pakai dan bisa kau gunakan untuk sementara. Aku sudah memastikan pakaian ini bisa kau tukar apabila ukurannya kurang cocok, Sakura."

"Kau seharusnya memberitahu kemana pun kau akan pergi." Sakura berjalan menjauhi pintu dan duduk di pinggiran ranjang yang berada tepat di hadapan Sasuke Uchiha, "Aku pikir kau kabur…"

"Aku juga membeli makanan, sejak semalam kau tidak makan apapun kan?" Sasuke seakan-akan tidak mendengar keluh kesah Sakura, ia menyodorkan bungkus makanan pada wanita berambut soft pink di depannya, "Makanlah."

"AKU PIKIR KAU AKAN MENINGGALKANKU SENDIRIAN, SASUKE!" sahut Sakura dengan suara kencang dan sedikit bergetar. Antara marah-cemas-dan takut, ketiganya bercampur dan dia tidak dapat menahannya lagi. Wanita itu menggenggam pergelangan tangan Sasuke yang masih menyodorkan bungkus makanan, napasnya naik turun tidak beraturan akibat luapan emosi dan di sudut matanya tampak titik-titik air yang siap jatuh. Bungkus makanan yang disodorkannya pun ia kembalikan ke atas meja. Sasuke menghela napas dan mengambil posisi bungkuk agar wajahnya sejajar dengan Sakura, ia membiarkan tangan wanita itu mencengkeramnya dengan erat.

"Maaf."

Sasuke hampir tidak pernah mengatakan kata-kata itu dengan mulutnya sendiri, ia menatap iris emerald yang tampak berkaca-kaca. Pergi tanpa memberi petunjuk apapun, dia tidak tahu perbuatannya barusan sontak membuat Sakura Haruno begitu cemas. Sebelah tangannya terarah pada wajah wanita itu; mendarat pada pipi, seperti yang dilakukannya beberapa saat lalu ketika Sakura tertidur, "Aku tidak berniat pergi kemana pun, apalagi kabur meninggalkanmu sendirian. Karena saat ini yang bisa kupercayai satu-satunya… Hanya kau, Sakura."

.

Sakura mencondongkan tubuhnya ke depan dan membenamkan tubuhnya pada pelukan sang Uchiha, dia menyadari pria itu sama sekali tidak berbohong. Didekapnya tubuh itu dengan erat sementara ia sendiri merasa lebih bahagia ketika Sasuke membalas pelukannya. Saat ini mereka saling percaya, semuanya telah kembali seperti semula. Mereka bukan lagi dua manusia berlabelkan 'agen Konoha' dan 'pengkhianat Akatsuki', melainkan Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha.

Selama beberapa saat mereka terdiam dan menenangkan perasaan masing-masing, hingga akhirnya Sakura melepaskan tangannya dari tubuh Sasuke. Perlahan Sakura mendorong tubuhnya ke depan dan mendadak berhenti, keduanya terpaku ketika menyadari jarak yang hanya terpaut beberapa sentimeter. Sasuke bertatapan dengan wajah cantik wanita di hadapannya ini, setelah mengagumi mata emerald-nya ia tanpa sadar menatap bibir ranum itu. Yang tadi sempat dikecupnya meski hanya sekilas, ciuman curian yang berhasil didapatkannya saat Sakura tidak sadarkan diri.

Tapi dia tidak merasa puas hanya menikmatinya selama sepersekian detik.

"Kau-" Sasuke memotong perkataannya sendiri ketika wanita itu balas menatapnya dengan pandangan lembut yang membuatnya merasa hangat, "Kau cantik, Sakura."

.

Insting mengalahkan semua logika yang melekat pada darah Uchiha-nya, tubuh Sasuke maju untuk mendapatkan bibir itu sekali lagi. Mengklaim bibir Sakura Haruno menjadi miliknya, dia tidak lagi peduli pada seluruh jeritan batin yang menyuruhnya berhenti. Sebaliknya Sakura sendiri terlalu terkejut untuk mencerna situasi yang serba tiba-tiba, ia diam terpaku. Tapi bukan berarti ia menolak, betapa tidak… Sasuke Uchiha adalah penantiannya selama ini. Cinta yang diakuinya bertepuk sebelah tangan kini perlahan datang, saat ini pikiran keduanya kosong. Ini seperti mimpi yang berubah menjadi nyata. Seolah perasaan satu sama lain terjawab, menjelaskan semuanya tanpa perlu melalui kata-kata.

Perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.

"Sa-suke…" Sakura akhirnya membalas ciuman itu. Dengan tempo lambat Sasuke Uchiha merasakan tiap inchi bibir Sakura yang terasa begitu lembut. Wanita berambut soft pink ini mengerang pelan ketika perlahan Sasuke meminta lebih. Lidah keduanya mulai beradu dan tanpa diperintah menaikkan kecepatan ciuman untuk saling mendominasi. Kecupan demi kecupan berlangsung semakin panas hingga salah satu diantaranya kehabisan napas dan harus melepas untuk menarik oksigen. Sasuke mengambil kesempatan untuk menjelajahi leher jenjang Sakura, yang sukses membuat wanita itu mengerang. Bobot tubuh pria Uchiha ini membantu mendorong tubuh Sakura hingga akhirnya terbaring di atas tempat tidur, sementara keduanya masih terus berkutat dengan pagutan.

"Mnnhhh…" Sakura membiarkan erangannya terdengar ketika lagi-lagi pria itu menikmati tiap senti bagian lehernya, sensasi yang dirasakannya tidak dapat disampaikan dengan kata-kata saat pria Uchiha itu menjelajahi permukaan kulitnya. Menghujaninya dengan kecupan dan gigitan kecil. Kedua lengan wanita itu mengalungi leher Sasuke Uchiha dan merapatkan jarak antar mereka. Berada tepat di atas tubuh Sakura Haruno, Sasuke berhenti untuk mengagumi tubuh itu. Ia hanya menyunggingkan senyum saat menyadari keduanya terlarut, hubungan keduanya memasuki tahap lebih dalam. Yang mereka rasakan bukan lagi sebatas sahabat masa kecil untuk saling melindungi.

Jauh… Melebihi itu.

Mereka membutuhkan satu sama lain…

"Hn… Sepertinya makanan yang kubeli sudah jadi dingin saat kita punya waktu untuk menyantapnya?" dia mendekatkan wajahnya pada Sakura hingga mampu merasakan hembusan napas wanita itu, Sasuke tersenyum simpul, "Tapi aku tidak berniat berhenti, Sakura."

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter empat belas selesai meski sempat meleset dari tanggal 20! (nggak apa ya selisih satu hari, hehehe.) Di chapter ini hampir seluruhnya berisi potongan-potongan rahasia, hmm ini chapter yang cukup penting jadi semoga isinya bisa dimengerti. Pembicaraan Tobi – Sora termasuk salah satu yang paling diekspos penting (disini Konan juga lumayan banyak muncul). Ada juga flashback 15 tahun yang lalu dari Sora dan mimpi Sakura. Buat yang minta romance-nya Naruhina dan Sasusaku ditambahin, ini saya ikut sertakan. Tapi saya nggak berniat bikin lemon sih, mohon dibayangkan sendiri-sendiri aja ya *ups, saran sesat*.

Soal Itachi bakal dibahas di chapter-chapter depan bareng misteri lain yang mulai terungkap, nah sekarang kalau menurut ide para readers sekalian; kira-kira apakah Tim Konoha dan Sakusasu bakal ketemu? Kalau iya, kapan dan dimana? Hehehe ayo berikan saya ide! *mengakui otak author juga buntu*.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya terus dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho) :D

Dan ini balasan review chapter tiga belas :

Sasusaku uciha : Saya update lagi! Karena sistem birokrasi Negara, susah dibilang siapa yang benar dan salah sih, toh nggak semua yang terlibat itu tau kebenarannya. Naah mampir lagi buat RnR ya untuk chapter ini, telat sehari nggak apa kan!

Guest keren : Tebakannya bener tuh, Sasu beli makanan! Hehehe RnR lagi ya…

dinosaurus : *ngakak*, nah kalau di chapter ini cukup oke nggak romance-nya? Maklum saya nggak spesialis bikin fluffs. :D

Ocha chan : Iya dan Naruto-nya juga nggak tahu kenyataan soal ortunya, Sasuke juga sama. Mampir RnR lagi ya?

bluepinkgirl : Sasusakunya sekarang lumayan banyak yaa, hehehe thanks buat favenya loh. Mampir lagi buat review yaa… ^^

Akasuna no ei-chan : Waah ternyata pengennya ei-chan yang sadis-sadis. *smirks*. Gimana buat chapter yang ini? :D

Alisha Blooms : Halo Alisha-chan, terimakasih sudah RnR kemarin, saya telat update satu hari nih. Danzo itu temen sekerja sekaligus rival Fugaku Uchiha. Satu profesi jadi dia juga tahu keluarga Uzumaki bersahabat sama Uchiha (karena ketemu pas Minato jadi pengacara buat rumah sakit tempat Danzo-Fugaku kerja), jadi ditunggu reviewnya buat yang chapter ini ya. Nggak apa bawel juga, justru bagus. ^^

Madge Undersee : Terima kasih banyak buat koreksi dan tambahan informasinya soal penulisan, saya coba perbaiki. Scene Sasuke diselamatkan nanti dibahas di chapter depan, disini udah kebanyakan flashback soalnya kekeke. Mampir RnR lagi yaa…

Yamaneko achil : Siap! Saya tambahin disini~

Sakura Zouldyeck : Penggemar HxH nih namanya? Saya sudah update dan nambahin sakusasunya, mampir lagi buat review lho ya…

Uchiha Dian-chan : Tenang Sakusasunya disini lebih banyak lagi kok Dian-chan, hohoho. Bukan cuma pencuri doang sekarang...

AcaAzuka Yuri chan : Haloo ha abaca reviewnya apa nggak berlebihan itu buat saya? Terima kasih banyak lho! Saya nggak jago, yang master tentu para sesepuh di thread Naruto ini, jumlahnya banyak banget. Saya sendiri masih banyak ngaco, bagi ilmunya apa ya? Sering-sering berkhayal? hahaha. Oh iya saya sendiri merasa Sai itu tokoh yang bisa dieksplor, meski sifat OOC karakter yang saya suka tetep Konan. Semoga masih sempet mampir disini ya, dan nggak apa mau panjang juga, bagus malah?

Sherlock Holmes : Maaf telat update, Mr. Holmes! Terjawab kan Sasuke pergi kemana, kekeke… Nah, mampir lagi di chapter ini lho Pak Detektif…

Alluca : thank you! *malu*, mampir lagi lho ya hehe.

Gita Zahra : halo Gita, nggak kok Sasuke tetep bareng Sakura *nyengir*. Ada sisipan lagi tentang orang yang berjuang nyelametin Sora, ada adegan actionnya dikit tapi nanti bakalan dipotong buat chapter depan karena porsinya nggak cukup disini. Bosnya Akatsuki itu Tobi, bukan Itachi. Topeng oranye motif spiralnya itu sama kayak topeng Tobi di manga / anime ^^. Sosok sniper ya… sepertinya masih butuh waktu buat dibahas (feeling lebih dari 20 chapter nih). Mampir RnR lagi ya!

Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini… Saya update tepat waktu yaa caranya sebelum hari H harus ngebut bikin cerita, hahaha. Sekarang juga telat sehari (waktu Indonesia) karena terjebak tugas yang harus diberesin T_T. Itachi belum saya bahas ya (banyak hutang penjelasan nih), semoga bisa saya ceritain di chapter depan ^^

Roquezen : jangan teriak-teriak depan laptop, hahaha. Danzo itu rekan kerja sekaligus rival Fugaku, ada di cerita ini juga (di penjelasan Tobi). Sisanya saya bahas di chapter berikutnya. RnR lagi sist, thanks!

Hanazonorin444 : Thanks buat reviewnya, iya Naruhina tetep Naruhina dong, nggak ada Saihina apalagi Narusai, LOL. Saya usahakan tambahin di chapter ini soal Naruhina atau Sakusasunya… gimana untuk chapter ini? Lebih banyak rahasia lagi yang terungkap… kalau kurang jelas bisa Tanya. Soalnya chapter ini termasuk salah satu yang paling banyak beberin rahasia.

Summer : Halo, waah jangan pusing! Hehehe nanti kalau pusing siapa yang review disini? *authornya sih udah pusing mikir lanjutan ceritanya.* Tenang, satu per satu bakalan terjawab (kalau nggak ada yang lupa, LOL). Review lagi untuk chapter ini ya :D

Guest : Hmm yang jahat keliatannya Konoha atau Akatsuki? Kekeke… Sebenernya yang bisa saya bilang; dua-duanya juga nggak sepenuhnya bener. Sekarang banyak kebusukan Konoha yang terbuka dari konspirasi 15 tahun yang lalu, tapi Akatsuki juga punya rencana yang akan dibeberin di… Chapter depan :P

Afisa UchirunoSS : Iya tenang aja Afisa, Sasusaku tetep bareng-bareng… *nyengir*. RnR lagi ya, request sasusaku udah saya kabulkan tuh!

Mizuira Kumiko : Hello sist, akhirnya mampir juga :D Sekarang udah bukan the stolen kiss lagi hahaha. Itachi belum saya munculkan soalnya (sebenarnya) saya lagi mikir dia cocoknya jadi apa hahaha. Mampir RnR lagi sist :D

Riu Makamoto : Salam kenal Riu, thank you udah sempet mampir buat RnR, dan saya update nih! ^^

.

Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 7 Juni)!

-jitan-