Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

.


It's about faith, it's about trust. I always hope that you remember…

Nothing can pull us apart.

.

.

SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 15 : BY YOUR SIDE

.

.

Lereng Tebing Perbatasan Konoha (tiga tahun yang lalu)

"Bawa Naruto bersamamu, Sakura! Aku akan memberi mereka pelajaran…" kata Sasuke sambil memasang kuda-kuda menyerang, "Larilah ke Konoha dan cari bantuan!"

"Tapi mereka bersenjata Sasuke, terlalu bahaya!"

Sasuke menoleh ke arah gadis itu dengan geram, "CEPAT PERGI SEBELUM TEBING INI MENJADI KUBURAN KITA, BODOH! Aku akan coba menahan orang-orang ini! LARI!"

Merasa tidak punya pilihan, Sakura memapah Naruto dan dengan sisa-sisa kekuatannya, ia berlari meninggalkan Sasuke. Pria Uchiha itu kini sendirian, di hadapannya berdiri beberapa orang berjubah hitam dengan motif awan besar berwarna merah. Satu pria telah dijatuhkannya hingga babak belur, sisanya tinggal dua orang. Pria bertopeng oranye itu hanya diam dan melipat kedua tangannya, mengamati sang bocah Konoha yang tegang sambil memasang kuda-kuda menyerang. Dia terkekeh kecil, membuat Sasuke mengeratkan genggaman pada satu-satunya pisau yang menjadi senjata.

"Jadi kau Sasuke?" dia berkata dengan santai, "Kau Sasuke anak Fugaku Uchiha? Dunia memang sempit, atau mungkin Tuhan sedang memberiku kesempatan emas untuk maju menegakkan keadilan?"

.

Alis Sasuke berkerut, dia tidak mengerti. Siapa pria asing ini? Mengapa pria bertopeng aneh ini bisa tahu namanya, juga ayahnya yang telah meninggal dalam kecelakaan dua belas tahun silam?!

.

"Si-siapa kau?"

"Gerakan bertarungmu boleh juga, kau bisa mengalahkan Hidan sampai terkapar… Meski gerakanmu masih lemah dan memiliki celah di beberapa tempat, tapi kemampuanmu cukup mengejutkan. Apa ini juga hasil didikan mereka, Sasuke?" pria itu tidak menggubris, "Hasil didikan dari pemerintah atau Danzo… Pada anjing Konoha sepertimu?"

"SIAPA KAU?!" Sasuke menggeram kesal, "TAHU APA KAU SOAL DIRIKU?!"

"Che, ternyata sifat pemberanimu itu mirip Fugaku… Siapa aku? Pertama-tama perkenalkan; namaku Tobi," pria bertopeng ini maju selangkah yang kontan membuat Sasuke mundur selangkah. Dia sangat waspada terhadap gerakan tenang lawannya, Tobi hanya mengangkat bahu. "Dengarkan aku, Sasuke. Aku kenal ayahmu, termasuk ibumu… Yaa bisa dibilang, aku kenal sebagian besar klan Uchiha yang telah punah itu. Kecuali dirimu, dan aku."

"Kau bohong. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas, mereka ditabrak oleh pengemudi ugal-ugalan! Hanya aku satu-satunya yang selamat! Aku… Aku…" Sasuke mencoba beragumen dengan suara sedikit bergetar, "Aku memang tidak punya keluarga lain disini, karena semua sanak saudara yang kumiliki… Mereka tidak ada, aku tidak punya saudara... Satu pun."

"Tentu saja mereka tidak ada… karena mereka semua sudah MATI. Dibunuh oleh pemerintah Konoha." kata-kata terakhir yang diucapkan Tobi terdengar begitu menusuk, Sasuke Uchiha merasakan ada tumpukan jarum tajam yang menghujam dan mencucuki hatinya.

Apa-apaan ini?

Tipuan apa yang dibicarakan pria bertopeng ini?!

.

Tobi lagi-lagi maju selangkah, namun kali ini Sasuke tidak mundur.

"Sasuke Uchiha, selama ini seluruh hidupmu adalah kebohongan. Kau adalah satu-satunya sisa konspirasi insiden Uchiha yang dimanfaatkan oleh pemerintah layaknya robot, kau dibentuk sesuai skenario mereka untuk kepentingan para petinggi Negara Konoha. Sahabat-sahabatmu? Mereka pun tidak ada bedanya… Semua adalah kedok yang dipasang untuk memata-mataimu selama 24 jam tanpa henti, singkat kata; KONOHA MENIPUMU!" jari telunjuk Tobi terarah pada pria Uchiha di hadapannya, menuding Sasuke. "Bukalah matamu, Sasuke! Aku punya semua bukti tentang apa yang terjadi pada klan Uchiha, termasuk tentang Fugaku Uchiha."

Hidan yang terkapar di tanah tiba-tiba menggapai pergelangan kaki Sasuke dan hendak menyerangnya. Dalam sekejap jemarinya mencengkeram kaki kanan Sasuke.

"Si-sial!" Sasuke terkejut dan kehilangan kewaspadaannya.

.

DORR!

.

Dia terpaku, Sasuke mundur beberapa langkah ketika genangan darah yang mengalir dari kepala Hidan hendak mengotori sepatunya. Sedetik kemudian matanya berpaling, menatap sepucuk senjata dari tangan Tobi masih berasap dan terarah pada pria berjubah hitam itu… Pria bertopeng oranye bernama Tobi membunuh rekannya sendiri.

"Dasar tolol. Mengganggu pembicaraanku dengan tamu, benar-benar tidak tahu sopan santun." ujarnya dengan tenang sambil memasukkan lagi laras pistolnya ke dalam holster di balik jubah, "Nah Sasuke, maaf atas kebodohan anak buahku barusan. Sekarang, bagaimana kalau kita buat semuanya menjadi mudah? Aku akan menceritakan semuanya tentang masa lalu klan Uchiha juga orangtuamu, semuanya. Setelah mendengarnya, kau bebas mengambil keputusan tentang siapa yang benar dan salah. Tapi semua fakta itu akan kukatakan, dengan satu syarat."

Sasuke Uchiha tidak bergeming ketika pria itu melanjutkan penawaran.

"Kau harus ikut bersamaku meninggalkan Konoha…"

.

.

.


22 November , Suna's Bay – Food Court, 13.00 AM

"Sial, kenapa sampai sekarang Shikamaru belum menghubungi kita?" Sai berdecih sambil meletakkan peralatan makannya, mengacuhkan potongan daging steak yang mulai mendingin.

Ia berkali-kali melihat layar ponsel yang tetap gelap tanpa ada panggilan dari kantor pusat. Setelah menyelesaikan semua proses administrasi dan menjawab pertanyaan dari petugas medis akhirnya mereka berhasil keluar. Senjata yang berhasil disembunyikan Naruto juga berhasil diambil tanpa diketahui petugas. Akhirnya, karena belum mendapatkan kabar terbaru mengenai keberadaan mobil yang digunakan Kabuto, Sai terpaksa harus menuruti keinginan si pria berambut jagung untuk makan siang. Naruto mengaku semua tenaganya habis terpakai untuk berlari, bahkan menembak pun tidak akan sanggup, rengeknya pada Sai. Sementara Naruto tengah menghabiskan mangkuk ramen yang kedua dengan lahap, Sai melirik lagi ponselnya.

"Aduuh Pak Bos! Kalau tiap detik kau melirik ponsel terus, aku jadi tidak nafsu makan nih!" Naruto menyeringai sambil menumpuk mangkuk ramennya dengan mangkuk pertama yang telah kosong. Mata biru pria itu kini mengamati potongan daging tak tersentuh dengan saus black pepper di hadapannya, "Nggak suka makananmu ya? Sini, biar kuhabiskan!"

Ketika jemari Naruto terulur untuk mengambil potongan daging, dalam sekejap sebuah garpu lebih dulu menancap di punggung tangannya.

"ADUUUHH!" Naruto mengerang kesakitan, "Kau ini apa-apaan sih, Pak Bos?! Makanya sebaiknya kau makan steak itu, nanti-"

"Maaf saja, aku tidak sudi berbagi makanan dengan makhluk kelaparan sepertimu." Sai memotong ocehan anak buahnya dengan nada datar, "Kalau kau lapar, pesan. Tapi jangan sentuh makananku."

Naruto mencibir sementara Hinata yang sejak tadi duduk di samping pria itu hanya tertawa geli.

.

"Lihat, Hinata-chan sampai menertawaimu!" Naruto berusaha membela diri, "Ya 'kan? Hinata-chan?"

Sai mendengus pelan dan tiba-tiba duduk tegap ketika ponselnya bergetar, tanpa ditanya kedua anak buahnya terdiam sambil memandangi atasannya yang langsung mengangkat panggilan telepon pada dering kedua. Sang ketua tim akhirnya terhubung dengan Konoha.

"Ya, disini Sai." ujar pria berambut hitam itu.

"Sai… Akhirnya kami bisa menghubungimu," sapa Shikamaru, "Aku dan Pak Kakashi telah melacak lokasi terakhir dari plat mobil yang dilaporkan oleh Hinata, koordinatnya akan segera kukirimkan padamu. Akan tetapi kendaraan itu telah berhenti selama satu jam di tempat yang sama, menurut Pak Kakashi, ada kemungkinan mobil itu dialihkan sebagai jebakan untuk kalian."

"Memang, aku sudah berpikir kesana. Tapi kita tidak punya cara lain selain mengambil umpan yang telah mereka berikan, karena mobil itu adalah satu-satunya kesempatan kita." Sai bersandar pada punggung kursinya, "Kalian punya jalan lain?

"Sebenarnya ada… Tapi cara ini cukup beresiko, jadi dengarkan baik-baik." Sai melirik ke arah dua anak buahnya. Dia tahu, Kakashi Hatake telah merencanakan pembaharuan rencana bagi timnya. Setelah melalui beberapa jeda dan Shikamaru terdiam, pemimpin tim lapangan ini hanya berdeham.

Sai siap menerima misi, "Ya, Shikamaru… Lanjutkan, aku mendengarkan."

.

.

.


Unknown Motel

Hujan lebat turun menangisi kematian Sasuke Uchiha, Sakura dengan langkah gontai masuk ke dalam mobil yang digunakan Naruto menuju pemakaman. Meskipun basah kuyup dan menggigil kedinginan, wanita itu hanya diam ketika Naruto melapisi tubuhnya dengan selimut darurat yang tersedia dalam mobil. Emeraldnya tidak bersinar, tatapannya kosong… Bagaimana pun kerasnya Naruto Uzumaki berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya bicara, Sakura tidak pernah merespon. Bahkan dia terkejut ketika tanpa disadari, mobil itu telah berhenti di depan kediamannya. Naruto menawarkan diri untuk mengantar sahabatnya ke dalam, tapi Sakura hanya menggeleng pelan. Tubuh semampainya gontai mencapai gagang pintu, membukanya nyaris tanpa suara.

"Dengan ini tugas Anda sebagai pelindung Sasuke Uchiha dinyatakan selesai."

Bola mata Sakura melebar pada perkataan yang baru saja didengarnya tanpa disengaja. Tugas sebagai pelindung Sasuke?! Wanita berambut soft pink ini menyadari di rumahnya kedatangan seorang tamu, dan saat ini sedang bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya. Setengah berjingkat menuju sisi pintu ruang tamu yang tidak tertutup, ia menyandarkan punggungnya di dinding untuk mencuri dengar. Apa maksud perkataan sang tamu, sejak kapan orangtuanya menjadi seorang pelindung Sasuke?

"Sasuke Uchiha dinyatakan tewas di tebing perbatasan, dengan demikian kewajiban Tuan Kizashi sebagai wali sekaligus pelindung Sasuke dinyatakan telah selesai. Pemerintah Konoha menghargai jasa-jasa Anda dalam bekerjasama dengan kami selama hampir dua belas tahun, untuk itu kami memberikan Tuan dan Nyonya penghargaan. Kediaman dinas ini resmi menjadi milik Anda," sambung pria bersuara berat dan tegas, "Selain itu, Konoha menyerahkan ini untuk Anda."

.

"Ta-Tapi ini ba-banyak sekali!" Kizashi terbata-bata.

Sakura memberanikan diri melirik dari tempatnya, ia mendapat gambaran sekilas kedua orangtuanya duduk bersebelahan. Sementara sang tamu duduk di seberang mereka; membelakangi Sakura Haruno. Di atas meja tampak sebuah koper terbuka dan mudah ditebak, koper itu terisi penuh oleh uang. Lutut wanita ini seketika lemas… Selama ini orangtuanya menjaga Sasuke layaknya anak sendiri bukan karena empati, tapi karena pekerjaan. Ini tugas yang telah diemban mereka sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru milik Konoha, dan secara tidak langsung… Sakura Haruno terlibat dalam permainan ini. Bagaimana mungkin mereka menghargai nyawa sahabatnya yang telah tiada, dengan setumpuk uang dan sertifikat kepemilikan tanah beserta rumah kediamannya?!

Lututnya tidak lagi sanggup menopang bobot tubuh, seluruh tubuh Sakura merosot hingga terduduk di lantai. Air matanya lagi-lagi mengalir, namun kali ini tanpa terisak. Dia terlalu terkejut pada apa yang baru saja didengarnya, ini tidak mungkin. INI TIDAK MUNGKIN TERJADI! Jemarinya terkepal hingga terasa dingin, tanpa disadari tamu itu melewatinya dan keluar dari rumah. Baik Kizashi dan Mebuki, keduanya menyadari kehadiran Sakura dan saat ini berusaha menenangkannya dengan segala cara. Semua perkataan mereka tidak terdengar, guncangan pada tubuhnya tidak terasa. Air matanya terus mengalir, Sakura Haruno merasa benar-benar hancur.

Katakan ini bohong… Ayah? Ibu?

Selama ini kau tulus menyayangi Sasuke kan?!

Tapi semuanya hanya berakhir dalam batin, tidak ada satupun kata yang berhasil keluar dari mulutnya. Dia merasa terperangkap dalam penyesalan dan putus asa. Gelap, menyakitkan. Membuat napasnya menjadi sesak…

.

.

Sakura?

Ada yang memanggil namanya dari kejauhan.

Dalam gelap ia melihat titik terang dan suara yang berkali-kali memanggilnya. Sakura mengulurkan tangan seolah-olah ingin menggapai cahaya itu, ada seseorang disana. Memanggilnya berulang kali.

"Sakura?"

.

Perlahan-lahan ia membuka mata setelah merasakan ada kehadiran orang lain di sampingnya. Dia yang memanggil namanya berulang kali, pandangan Sakura masih kabur sehingga ia harus memincingkan mata dan mengingat-ingat apa yang terjadi. Apa itu tadi hanya mimpi? Ini bukan rumahnya, dan yang memanggil namanya berulang kali juga bukan suara orangtuanya… Pikirannya kosong dan deru napasnya naik turun dengan cepat, jemarinya masih terkepal kaku. Tubuhnya terasa letih dan dingin. Sakura merasakan ada sepasang mata yang mengawasi dengan pandangan cemas, akhirnya setelah penglihatannya fokus… Ia melihat Sasuke Uchiha tepat di hadapannya.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" onyx pria itu tampak cemas. Jemari Sasuke terarah pada wajah sang wanita di sampingnya, membantu menghapus beberapa butir keringat dingin yang mengalir dari kening Sakura Haruno. Sementara Sakura masih terdiam mengumpulkan kesadaran setelah terbangun dari mimpi, "Sepertinya kau mimpi buruk, kau sempat meracau…"

"Ah? A-Aku… Mimpi buruk." Sakura menghela napas, "Ini dimana-"

Ucapannya terputus begitu saja ketika Sakura melihat Sasuke berbaring tepat di sebelahnya, bertelanjang dada- Eh, tidakDi-dia tidak berpakaian!? Sakura menyadari keduanya sama-sama polos dan hanya ditutupi selembar selimut, seketika itu juga kesadarannya kembali. Pipinya langsung merona merah ketika teringat beberapa saat yang lalu… Keduanya menyadari perasaan masing-masing dan berakhir dengan mengklaimnya melalui sebuah keintiman. Setelah semua yang terjadi berdasarkan insting juga nafsu, kini logikanya telah kembali mengambil alih pikirannya. Dia kehilangan kata-kata. Semuanya serba tak terduga.

.

'A-Aku melakukannya… Aku telah melakukannya dengan Sasuke!' batinnya berteriak dan mengingat semua, bahkan setiap detilnya. Bagaimana ia sempat memanggil dan meneriakkan nama pria itu berulang kali seperti mantra, atau mengingat apa saja yang telah mereka lakukan bersama. Sadar wajahnya berubah merah padam akibat rasa malu, Sakura menarik selimut yang melapisi tubuh polosnya hingga sebatas leher. Dia tidak sanggup menatap mata pria itu, namun sekilas bisa melihat seringai penuh arti dari wajah tampan sang Uchiha.

Sasuke terkekeh geli.

"Ya ampun, kenapa tiba-tiba kau jadi kikuk begini?" Sasuke malah mencondongkan tubuh dan mengarahkan bibirnya sedekat mungkin dengan telinga kiri Sakura. Ia setengah berbisik. "Tidak ada lagi yang perlu ditutupi sekarang... Aku sudah melihat semuanya, 'kan?"

Dengan gerakan kilat, Sakura menimpuk wajah Sasuke Uchiha dengan sebuah bantal. Pria itu hanya pasrah menerima serangan, dia tidak bisa menahan tawa apalagi setelah melihat wajah Sakura yang merona merah seperti kepiting rebus. Sakura menggembungkan pipi lalu menatap tajam pada Sasuke yang masih menyeringai. Diam-diam dia merasa senang, sepertinya baru kali ini ia melihat Sasuke Uchiha banyak tersenyum, "Jangan menggodaku, Sasuke. Tidak lucu!"

"Hn... Aku tidak menggodamu kok?" pria Uchiha ini menaikkan kedua alisnya, "Ngomong-ngomong tadi kau mengigau, Sakura. Apa kau bermimpi buruk?"

Wanita bermata emerald di hadapannya mengangguk kecil, tanpa menjawab sepatah kata pun. 'Apa aku harus mengatakan rahasia tentang orangtuaku pada Sasuke?' pikir Sakura. Sementara keduanya terdiam, dari berbaring kini Sasuke telah mengambil posisi duduk sambil menggerakkan lengan kirinya yang dibalut perban. Ia mengerang kecil sambil melirik luka sayatan dari Kisame Hoshigake yang masih terasa nyeri. Sakura menatap punggung pria itu sambil terus berpikir, namun dia sadar… Sasuke harus tahu. Selain itu, selama ini Sakura tidak mengerti permasalahan apa yang membelit sang Uchiha hingga pemerintah menyuruh kedua orangtuanya untuk menjadi wali sekaligus pelindung bagi Sasuke.

.

"Sasuke…" ia berhenti ketika Sasuke menoleh, namun akhirnya melanjutkan. "A-Aku bermimpi tentang peristiwa tiga tahun yang lalu, saat… Kau dimakamkan. Ah, maksudku- Kau dinyatakan gugur lalu mereka membuat kuburan kosong untuk menghormati namamu sebagai salah satu pahlawan Konoha."

Emerald-nya terus memperhatikan sosok pria yang bangkit untuk meraih pakaian terdekat yang tercecer di pinggiran ranjang, "Kau harus tahu tentang ini, Sasuke… Ketika aku pulang, tanpa sengaja ada seorang agen Konoha yang datang. Ia memberi kabar tentang tugas orangtuaku sebagai wali-mu telah selesai, sebagai balas jasa negara pada mereka… Mereka memberikan-"

"Cukup, Sakura." potong Sasuke, ia telah selesai mengenakan celana dan kembali duduk berhadapan dengan wanita itu, "Aku sudah tahu itu."

Sakura Haruno tercekat, tidak percaya.

"Setelah kalian pergi dari tebing perbatasan Konoha, aku bertemu Tobi; dia pemimpin Akatsuki. Awalnya aku tidak percaya pada semua perkataan orang itu, tapi aku berniat mencari tahu kenyataan tentang klan Uchiha. Aku ingin mencari fakta tentang ayahku, sampai akhirnya menemukan bukti surat kontrak Paman Kizashi; ayahmu, bahkan Nyonya Tsunade sebagai wali Naruto untuk mengawasiku." Onyx milik Sasuke bertatapan dengan Sakura, tampak begitu kelam. "Aku membenci Konoha. Semuanya, mereka mempermainkan dan membentukku layaknya boneka. Selama berada di Konoha aku hidup dalam kebohongan. Aku tidak percaya mereka lagi, hingga akhirnya semua kenangan tentang Konoha kukubur selama tiga tahun… Termasuk tentang dirimu, Sakura Haruno."

Secara garis besar Sasuke menjelaskan tentang peristiwa tiga tahun yang lalu, bagaimana kronologis pembicaraannya dengan Tobi di perbatasan Konoha. Sang pemimpin Akatsuki membeberkan bukti-bukti kejahatan Konoha yang memutar balikkan fakta tentang klan Uchiha. Sakura akhirnya mengetahui tentang 'insiden pemurnian Uchiha' termasuk nasib orangtua Sasuke yang dibunuh. Berbeda dengan kenyataan, Sasuke mendapat kabar mobil orangtuanya mengalami kecelakaan dan dia satu-satunya korban yang selamat. Setelah mendengar semua kenyataan, Sakura tidak tahu lagi harus berpihak pada siapa. Akatsuki dan Konoha, sebenarnya siapa yang bersalah dan patut disalahkan? Apa masih memungkinkan untuk kembali ke Konoha; menemui anggota tim-nya termasuk Naruto?

"Semua yang kuketahui bisa kujelaskan satu per satu padamu, tapi itu butuh waktu." Ia menghela napas.

"Sa-Sasuke, aku tidak tahu menahu soal ini. Juga tentang tugas orangtuaku sebelum peristiwa itu, sungguh!" Sakura meyakinkan, "Selama ini hubungan persahabatan kita murni bukan berdasarkan tugas, dan aku yakin Naruto juga begitu. Dia tidak tahu menahu soal ini, percayalah!"

"Hn, aku tahu." Sasuke mengangguk, "Tapi aku belum bisa melupakan semuanya, juga belum bisa memaafkan Konoha yang telah melakukan semua ini pada keluargaku. Tidak semudah itu."

.

Jemari Sakura perlahan menyentuh tangan Sasuke yang tanpa sadar terkepal menahan kesal, ia hanya berusaha mencairkan perasaan kacau pria itu setelah menceritakan semuanya. Dia tidak bisa menyalahkan Sasuke yang masih terus membenci Konoha, sekaligus tidak bisa memberi kata-kata untuk menenangkannya. Melalui gestur kecil ketika menggenggam tangannya, ia ingin pria itu mengerti; Sasuke tidak menanggung beban itu sendirian.

"Meski membenci Konoha… Aku tetap yakin pada keputusanku untuk mempercayaimu sekali lagi. Aku tahu kau bersamaku bukan karena tugas, tapi selama ini aku menutup mata pada perasaanku sendiri." Ia tersenyum simpul sambil membalas genggaman tangan Sakura, "Aku tidak peduli lagi siapa yang jahat atau baik, Sakura. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu."

.

.


Akatsuki Mansion

Dari sebuah map besar yang dibawa oleh Konan beberapa saat yang lalu, Sora melihat berbagai jalur transportasi dan arus perdagangan Negara Konoha, beberapa pusat distribusi dan agen-agen penyalur. Pola yang telah ia atur selama ini terbaca dengan jelas, demikian juga dengan jalur importir maupun eksportir di pelabuhan. Tobi mengizinkan bocah ini meneliti isi map tersebut, ia membolak-balikkan halaman berisi beberapa data dan kurva, hitungan akumulasi pergerakan perdagangan selama beberapa waktu. Tapi dia tetap tidak mengerti, apa sebenarnya rencana Akatsuki?

"Mungkin kau belum mengerti artinya, bocah?" tanya Tobi dengan nada datar tanpa emosi, "Dari data-data ini kita bisa mengetahui dengan jelas pola pergerakan impor-ekspor dan pelabuhan mana yang dititikberatkan pada perdagangan. Karena pola ini sudah kau rencanakan dengan rapi dan berlangsung bertahun-tahun, perlahan tapi pasti… Konoha mempelajari gerakanmu dan mengambil sedikit demi sedikit 'jatah' yang seharusnya menjadi bagianmu."

Sora tidak mengatakan apapun, ia diam dan mendengarkan.

"Lihat ini." Dia menunjuk sebuah lokasi dekat pelabuhan, Sora tahu persis itu adalah tempat dimana kontainer-kontainer muatan besar disimpan. "Beberapa kurun waktu yang lalu kuantitas muatan yang datang disini jumlahnya cukup besar, namun dalam beberapa waktu yang lalu jika dibandingkan… Jumlahnya merosot drastis. Apa kau tahu soal ini?"

"Menurut laporan, mereka sedang mencari importir baru dengan harga yang lebih bersaing." kata Sora, "Biar kutebak, apa ini semacam pengalihan?"

Pria bertopeng di hadapannya tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha kau memang cerdas… Sayangnya ini telah terjadi cukup lama, singkatnya… Kau dicurangi."

Selain mengatur jalur perekonomian Konoha, tentunya seluruh jerih payah Sora tidak dibayar percuma. Salah satu keuntungan yang ia dapatkan dari Konoha adalah membagi hasil pendapatan dari beberapa pelabuhan utama yang telah disepakati. Dalam data yang diamati Sora, ia dapat melihat pergerakan turun dari tahun ke tahun. Jumlahnya tidak terlalu signifikan dan penurunannya relatif kecil hingga terkadang memasuki batas toleransi. Hal itu yang luput dalam pengamatan jeli Sora, padahal jika dibandingkan dalam grafik dan beberapa data lain, dapat dikatakan Sora mengalami kerugian yang cukup mencolok. Secara grafik pendapatannya turun dari tahun per tahun.

Setelah mendapat penjelasan lebih jauh dari informasi Tobi, Sora menyadari ia telah dicurangi. Barang-barang yang seharusnya diatur memasuki pelabuhan utama, sedikit demi sedikit dialihkan ke pelabuhan kecil yang tidak terdaftar dalam bagian milik Sora. Tidak sedikit pula kuantitas barang selundupan yang kini mulai beredar bebas akibat luput dari pengawasan dan sistem. Mungkin ini bukan kesalahan sistem yang telah ia rancang, melainkan adanya kenakalan aparat berwenang yang memiliki otoritas penuh dari negara. Bocah sepuluh tahun ini bersandar pada sofa nyaman milik Akatsuki, menunggu Tobi menjelaskan rencana besarnya.

.

"Saatnya memberi mereka pelajaran karena telah bermain curang?" Tobi menoleh lalu melambaikan tangan di udara. Tiba-tiba lemari buku di belakang meja kerjanya berputar dan di baliknya tampak sebuah layar monitor ukuran jumbo. Sora tersenyum sinis melihat perkembangan teknologi di kediaman sang pemimpin Akatsuki. Sekali lagi ia berdiri menghadap monitor, Tobi mengepalkan tangan lalu serentak melepaskan kelima jarinya di udara. Layar monitor yang merespon gerakan itu kini menyala, menampilkan peta lain dengan denah dan penunjuk waktu. "Nah, Sora… Kuperkenalkan pada rencana brilian Akatsuki; Project Kyuubi. Seperti yang kau tahu, Kyuubi adalah seekor rubah berekor sembilan yang kuat dan mematikan. Ia merupakan salah satu binatang legendaris dalam mitos, dan kurasa karakternya yang kuat cocok dengan rencanaku untuk Konoha."

Sang pemimpin Akatsuki mengarahkan telapak tangan menghadap monitor lalu seolah-olah menggesernya ke samping, tampilan monitor yang telah di slide berubah menjadi kumpulan foto-foto. Tampak nomor-nomor dokumen dan kontainer dalam ukuran besar, foto-foto muatan, termasuk sebuah lokasi. Sekilas Tobi menoleh, pria itu tahu bocah ini pasti mengerti sebagian besar rencananya. Sora menggelengkan kepala, dia memiliki perasaan buruk soal rencana Akatsuki. Ia menatap satu per satu foto yang terpampang pada layar monitor.

Senjata api.

Mereka akan menyelundupkan senjata api dalam jumlah besar, sangat besar.

.

"Sebentar lagi konspirasi Konoha akan terbongkar dan para tetua keparat itu mati. Revolusi akan terjadi dan tidak menutup kemungkinan bangkitnya pemberontakan bahkan peperangan. Rakyat Konoha akan mengetahui semua kebenaran, mereka tidak bisa lagi menerima doktrinasi dari pemerintah! Mereka bisa menilai kebusukan pemerintah dan akan bangkit melawan! Disanalah Akatsuki berperan, kami akan mendukung mereka dengan barang-barang yang mereka perlukan… Untuk melindungi diri dari serangan Konoha." Tobi terkekeh, "Jika kau ada di pihakku, Akatsuki ditambah Sora adalah perpaduan yang paling sempurna dalam Project Kyuubi. Bagaimana?"

"Kau gila." Sora berdecih, "Kau bukan mau membalas kecurangan mereka, tapi menghancurkan Konoha, termasuk ketenangan warga sipil. Setelah konspirasi terbongkar, kau akan membuat rasa aman mereka terpecah dan menciptakan kondisi untuk berperang melawan pemerintah? Dan kau memanfaatkan kekacauan itu sebagai lahan peraup uang?!"

"Che, gila? Itu hasil dari perbuatan mereka sendiri. Setiap langkah ada konsekuensinya, dan itu yang akan dihadapi Konoha atas permainan curang yang telah mereka lakukan. Ini bukan sekedar ambisi, tapi sebuah peluang bisnis." Tobi menoleh dan menatap lurus ke arah Sora yang tampak terkejut pada rencana Akatsuki, "Kau telah tahu rencanaku, sekarang giliranmu… Aku ingin kau mengatur jalur masuk melalui pelabuhan utama, dengan sistem yang kau buat kontainer-kontainer itu akan lolos tanpa dicurigai. Lalu akan didistribusikan pada tempat yang telah diatur. Setelah rencana pertama berhasil, kita akan mengendalikan perekonomian Konoha melalui tanganmu. Sekali lagi, membersihkan sampah dan mengatur pion catur sesuai keinginanmu, Sora."

"Rencanamu sama seperti mengulang insiden lima belas tahun yang lalu!" Tangan Sora terkepal, ia geram namun tidak terlihat takut sedikit pun. Mata cokelatnya balas menatap Tobi dengan pandangan menantang, "Bagaimana kalau… Aku menolak rencanamu?"

.

"Kau yakin, bocah?" Tobi memiringkan kepala seolah mencemooh, "Kau akan memikirkannya sekali lagi setelah melihat kenyataan lain…"

Tobi meraih pinggiran topeng dan menarik penutup wajahnya hingga terlepas. Memperlihatkan wajah aslinya. Sora bergidik ngeri, ia mundur beberapa langkah sambil terus menatap wajah pria di hadapannya… Wajah sang pemimpin Akatsuki yang ia ingat telah menjadi salah satu korban dalam insiden pemurnian Uchiha. Selain bertambah usia sekitar lima belas tahun, Sora mendapati bukti lain pada wajah pria itu. Tobi memiliki bekas luka bakar di sekitar wajah kanan, membentuk alur gurat-gurat dan berporos pada mata kanannya. Mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan saat membuat topeng unik berwarna oranye; di desain khusus dengan lubang penglihatan pada bagian kanan.

"Aku Obito Uchiha, kau pasti mengenalku." Dari ekspresinya, Sora tahu pria ini tidak berbohong.

"Tidak mungkin," bibirnya menggumam tidak percaya, "Ka-Kau sudah mati, aku melihatnya. Seharusnya kau sudah mati!"

.

.


"Namaku Obito, bocah!" ujar pria berseragam keamanan dengan helm pelindung. Motor yang membawa Sora menuju perbatasan Suna melaju dengan kecepatan mengerikan. Kecepatan serta ketepatannya dalam mengemudi adalah ujung tombak dari pertaruhan nyawa keduanya, kesalahan kecil akan membuat nyawa mereka melayang. Sora mencengkeram baju pelindung Obito dengan kekuatan penuh, ia tidak ingin terjatuh… Otaknya langsung mengingat nama pria yang sedang berusaha keras menyelamatkannya; Obito Uchiha.

Pihak Konoha tidak kalah mahir dalam mengejar buruannya, barisan motor mengambil jalan samping yang kosong untuk menyusul penculik Sora dan dalam beberapa menit mereka telah sejajar. Bocah berusia sepuluh tahun menoleh ke samping dan mendapati motor mereka telah diapit dari dua sisi. Ia berteriak untuk memperingati Obito, namun tanpa diberi tahu pun pria itu telah sadar pada posisinya. Sang Uchiha membelokkan kemudi ke samping kiri, mendekati salah satu pasukan Konoha yang kini hanya berjarak beberapa meter. Melepas satu pegangan pada kemudi, Obito menembaki ban motor lawan. Motor pengejar yang berada di sebelah kanan dengan sukses mengalami selip dan terjatuh, tubuh pasukan Konoha itu terjungkal dan bertubi-tubi menghantam aspal.

.

Obito menghindari serangan dari samping juga bagian belakang dengan cara memilih jalan berkelok-kelok, menyalip satu per satu kendaraan bergantian dari sisi yang berbeda. Saat ini posisi mereka berada di sebuah jembatan, beberapa meter di bawah mereka terdapat hamparan air. Jarak mereka dengan perbatasan Suna sebenarnya sudah cukup dekat. Namun ancaman yang semakin besar dan kemungkinan mereka bisa lolos dari kejaran kini semakin kecil, Obito harus memikirkan alternatif lain untuk menyelamatkan Sora. Sesuai janjinya pada Fugaku, ia harus bertahan.

"Bocah, aku akan mengalihkan perhatian sementara carilah posisi yang tepat untuk lompat, perbatasan Suna sudah dekat dan temukan Fugaku disana! Dia bersama istri dan anaknya, Sasuke Uchiha. Titipkan salamku untuk mereka," ujarnya dengan tenang, "Kau bisa berenang 'kan?"

Pertanyaan itu kontan membuat Sora terbelalak, "H-HAH?! Kau gila!?"

Motor itu menyalip sebuah mobil dan kini berjarak sangat dekat dengan batas jembatan, Sora dapat melihat pekatnya warna air dalam kedalaman yang sebentar lagi menyambutnya. Dia bergidik ngeri tapi otak jeniusnya sendiri tidak punya pilihan lain. 'Pria ini sudah gila, dia menyuruhku lompat dari ketinggian ini?! Yang benar saja!' teriak batinnya.

"Oke, dalam hitungan ketiga! Bersiaplah!" teriak Obito tanpa menggubris ucapan protes bocah pada boncengannya, "Satu… Dua… TIGA!"

.

Sora berpijak pada jok motor dan melompati batas jembatan. Tubuh kecil yang tampak seperti bocah sepuluh tahun melayang, permukaan kulitnya diterpa angin kencang dan daya gravitasi memaksanya jatuh ke bawah. Terjun menuju air. Adrenalin tubuh Sora terpacu sangat cepat, ia menarik napas dalam-dalam. Lalu memejamkan mata… Sayup-sayup suara tembakan terdengar dari belakang, sesaat sebelum seluruh tubuhnya menghantam permukaan air dan menimbulkan pendengarannya bias. Apakah Obito tertembak?!

Dingin… Air yang meliputi dirinya terasa dingin menggigit.

Dalam kedalaman air Sora membuka mata, dan selama beberapa saat tidak terlihat apapun. Dingin dan gelap… Juga kesunyian. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di dalam kedalaman air yang tenang, otaknya berpikir ia harus tetap tenang untuk menghemat persediaan oksigen yang terbatas. Buih-buih air yang keluar dari mulut seakan menjadi satu-satunya benda bergerak yang berada di dekatnya, Sora menengadah ke atas untuk mencari cahaya dan jalan keluar. Ia mengira-ngira letak tubuhnya terjatuh dan berenang menuju bagian bawah jembatan agar tubuhnya tidak terlihat dari atas.

Ia telah sampai pada permukaan air, mulutnya terbuka untuk menarik oksigen masuk memenuhi rongga paru-parunya. Dari atas jembatan ia mendengar sekali lagi suara dentuman dan pecahan-pecahan benda beterbangan di udara, jantungnya terasa berhenti. Dilihatnya di seberang posisi persembunyiannya… Sosok yang mengenakan helm pelindung dan pakaian keamanan itu jatuh menghantam air, menimbulkan riak air yang besar. Obito tertembak dan mengorbankan dirinya untuk mengalihkan perhatian ketika Sora terjun. Obito mati?!

"Obito!" Sora menjerit pelan, suaranya tercekat pada kerongkongan akibat rasa shock. Pria Uchiha itu mati di depan matanya… Sora mengenyahkan pikiran untuk berenang mencari jasad Obito, ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Perbatasan Suna ada di seberang sungai ini!

Ya, disana ia akan bertemu Fugaku, akhirnya Sora mengambil keputusan untuk berjuang pada rencana awal Obito. Susah payah ia berenang menuju tepian sungai dan mencari tempat untuk berpijak dengan tubuh basah kuyup. Angin kencang menerpa membuat dirinya benar-benar kedinginan, langkahnya terseok-seok menuju perbatasan Suna yang berada di depan mata. Menggigil, sekalipun ia mendekap kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh, semua yang dirasakannya hanya dingin dan basah. Langkahnya tiba-tiba terhenti meski seluruh tubuhnya bergetar akibat dingin, hatinya kosong.

.

Di hadapannya telah berdiri seorang pria, berdiri tegap layaknya pahlawan.

Tapi itu bukan Fugaku Uchiha yang ia cari…

Harapannya pupus, perjuangannya berbuah sia-sia.

"Sora, saatnya kembali ke laboratorium." ujarnya tanpa basa-basi, pandangannya seperti meremehkan sekaligus mengasihani kondisi bocah basah kuyup yang menggigil. Binatang percobaan ilmiah ini tampak menyedihkan di matanya, "Konoha telah menyelesaikan pemberontakan Uchiha, permainan kejar-kejaran ini juga telah berakhir. Saatnya kembali."

Dia Danzo.

.

.

.


Unknown Motel

"Si-siapa, kau bilang?" Sakura terbata-bata, "Konan adalah anggota Akatsuki?!"

Pria ini mengangguk yakin. Beberapa saat yang lalu Sasuke menceritakan darimana Tobi bisa mendapatkan data-data mengenai kematian Fugaku juga keberadaan Sora sebelum berhasil diculik oleh Akatsuki. Seorang wanita berambut raven keunguan yang menjadi mata-mata terbaik Konoha dan juga dipercaya sebagai informan bagi Project Suna ternyata salah satu anggota Akatsuki. Lebih dari itu, Sasuke mengatakan bahwa Konan adalah tangan kanan kepercayaan sang pemimpin Akatsuki… Dan hubungan mereka terkesan lebih dari partner kerja semata.

Konan-lah yang menunjukkan bukti-bukti mengenai insiden pemurnian Uchiha, ia meretas database Konoha untuk membocorkan segala data yang diperlukan bagi rencana besar Akatsuki. Sakura tertegun, berarti keberadaan Jiraiya saat itu juga telah diperhitungkan oleh Akatsuki. Sasuke mengakui dia ditugaskan menghabisi nyawa Jiraiya karena Deidara gagal membunuhnya dalam satu tembakan. Pria Uchiha ini tidak tahu secara gamblang mengenai rencana Tobi, namun ia pernah mencuri dengar Kabuto menyebut-nyebut tentang pelabuhan Suna juga kata-kata 'kontainer yang menyelundupkan senjata'. Namun informasi itu terlalu dangkal untuk dijadikan pegangan, akhirnya Sasuke berencana menyelidiki rencana Akatsuki dengan menyusup ke Vega Sun Motel; tempat persembunyian Kabuto.

.

"Kau yakin akan melawan Akatsuki dengan luka seperti itu?"

Sasuke menenggak obat generik yang dibelinya dari apotek terdekat untuk menahan sakit pada lukanya, lalu menoleh. Di hadapannya Sakura Haruno telah siap dengan pakaian baru yang disediakannya, ukurannya pas. Wanita itu tampak menawan dengan perpaduan T-shirt putih biasa dibalut dengan celana jeans hitam dan jaket berwarna senada, pakaian yang bergaya casual itu terlihat serupa dengan baju yang dikenakan Sasuke. Pria ini juga telah siap ketika mengenakan jaket kulit hitamnya, mengambil holster dan menyembunyikan senjata di balik jaket.

"Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari ini, kalau hanya luka goresan tidak akan terlalu mengganggu. Saat ini rencana Akatsuki untuk memasukkan senjata dalam jumlah besar harus kita hentikan," kata Sasuke sambil mengambil satu lagi pucuk senjata yang diambil dari mayat kelompok Hoshigaki, lalu menyerahkannya pada Sakura. "Mulai dari sini kita akan menghadapi banyak bahaya, Sakura. Jika kau ingin kembali pada teman-temanmu termasuk Naruto, inilah saatnya."

Sejenak mereka terdiam dan saling bertatapan.

.

"Tidak. Kita sudah sepakat untuk berjuang bersama, kau lupa?" Sakura tanpa ragu mengambil pistol itu dari tangan Sasuke, ia tersenyum. "Kalau aku tidak bisa jadi pahlawan Konoha… Jadi pelindung Sasuke Uchiha, sepertinya aku bisa?"

"Baka!" Sasuke mengernyitkan dahi lalu sebuah pukulan kecil mendarat pada rambut soft pink wanita itu. Sakura sedikit terkejut sementara Sasuke dengan wajah tanpa dosa hanya mengambil kunci kendaraan dan mengantonginya. Wajah tampan itu berpaling pada Sakura sekali lagi, "Kau bisa jadi pelindung dunia atau pembela kebenaran. Tapi tetap saja… Aku yang akan melindungimu."

Dia kembali! Sasuke yang diingatnya telah kembali... Sakura balas tersenyum, hatinya terasa hangat ketika menyadari sahabatnya- Ah, kini Sasuke Uchiha bukan lagi sekedar sahabat masa kecilnya. Hubungannya telah berubah menjadi 'milik' satu sama lain. Pria itu kemudian menggenggam jemari sang agen Konoha, keduanya bergandengan tangan dalam ketenangan. Ia meraih kenop pintu dan membukanya, mereka telah siap melangkah.

Melindungi satu sama lain.

"Baiklah…" gumam Sasuke, menggenggam erat jemari wanita di sampingnya, "Saatnya menjadi pembela kebenaran seperti cita-cita kita dulu, Sakura."

.

.

.


Raikiri Café – Suna

Berpakaian suite berkelas warna hitam, dia adalah salah satu pengunjung tetap kedai kopi mewah di pusat kota Suna bernama Raikiri Café. Setiap hari pukul tiga sore, ia akan datang untuk menikmati coffee break. Tanpa harus memesan semua pegawai kedai kopi itu telah menghafal menu favoritnya. Pria ini selalu duduk di tempat yang sama; sebuah sofa nyaman menghadap jendela. Penampilannya yang menarik diakui menjadi daya tarik lain bagi para pengunjung, terlebih karena ia selalu datang sendirian dan menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menikmati kopi.

Namun hari ini, hampir semua orang yang mengenalnya bertanya-tanya. Dari arah pintu masuk, muncul seorang wanita cantik bertubuh semampai yang berjalan dengan elegan ke arah sofa di dekat jendela. Berdiri di sampingnya, sementara pria misterius itu masih asyik meneguk kopi dalam cangkir. Tanpa ragu sedikit pun, wanita berambut keunguan ini duduk manis di hadapannya lalu berpangku tangan. Pria itu meletakkan cangkirnya sambil menghela napas.

"Aku tidak terima tamu saat sedang menikmati kopi," ujarnya singkat, menatap wanita cantik itu dengan ekspresi datar, "Aku butuh privasi."

"Seingatku, kehidupanmu sepenuhnya adalah privasi." balas wanita itu sambil tertawa kecil, "Jadi… Apa ini artinya kau tidak senang bertemu denganku, handsome?"

.

Dia tidak menggubris pandangan yang ditujukan pada mereka berdua, juga kasak-kusuk yang bertanya-tanya tentang sosok wanita di hadapannya. Ini adalah kali pertama adanya seseorang yang mengisi bangku kosong di hadapannya, termasuk mengajaknya bicara. Meski tidak dapat disangkal, penampilan sang wanita tak kalah menarik dari tuan misterius yang menjadi menjadi daya pikat kedai kopi ini. Dengan tenang ia menghabiskan sisa kopi dalam satu teguk, sementara wanita cantik itu menunggu sambil berpangku tangan.

"Konan…" akhirnya ia menyebut nama wanita itu, "Apa maumu?"

"Kau tahu, disini terlalu banyak pengunjung… Uhm, maksudku 'penggemarmu' yang melihat dengan tatapan benci karena kehadiranku disini." Konan berhenti berpangku tangan dan kini duduk dengan tegak, tangannya menyodorkan secarik kertas yang terlipat-lipat. Pria itu segera mengambil lalu membukanya, sekilas ia tersenyum sinis.

"Waktunya sudah dekat, huh?" gumamnya dengan nada sarkastik.

"Semua akan jadi menarik, bukankah begitu? Waktumu akan segera tiba." Konan berdiri lalu menghampiri sosok pria di hadapannya, sedikit membungkuk dan bibirnya berada tepat di sebelah telinga kiri pria tersebut. Ia menepuk pundaknya sambil berbisik, "Good luck, Itachi…"

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlalu dan meninggalkan Itachi seorang diri di kedai.

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter lima belas selesai! Yaah akhirnya, bisa selesai tepat waktu. Chapter ini lebih banyak membahas potongan rahasia yang terungkap (namanya juga Shattered Memories ya, kekeke). Tobi alias Obito Uchiha adalah orang yang diutus Fugaku untuk menyelamatkan Sora di laboratorium, dan Sora lihat Obito jatuh dari jembatan setelah tertembak oleh pasukan Konoha. Rencana Akatsuki juga sudah terbongkar, Obito ngajak Sora kerjasama itu untuk mengatur pengalihan barang illegal di pelabuhan Konoha. Sakusasu akhirnya bersatu dan berniat berjuang bersama, tim Sai juga mulai bergerak melalui perintah Kakashi. Yang terakhir… kemunculan Itachi! Ternyata Itachi dan Konan saling kenal, hohoho. Semoga nggak pusing ikutin ceritanya, hehe.

INFO TAMBAHAN :

AUTHOR HIATUS UNTUK 1 CHAPTER KE DEPAN KARENA KESIBUKAN DI DUNIA NYATA. Mohon maaf semuanya, saya akan usahakan hiatus tanggal 20 saja. Semoga tanggal 7 (paling lambat tanggal 9) saya sudah bisa update.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya terus dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho) :D

Dan ini balasan review chapter empat belas :

Sasusaku uciha : Naah akhirnya saya bahas soal Itachi! Tim Said an Sasusaku belum ketemu sejauh ini, tapi pasti akan ketemu juga sih. Nantikan chapter berikutnya sekitar sebulan lagi berarti ya, hehehe.

dinosaurus : *benjol setelah digetok dan diunyeng-unyeng*, hahahaha dipotong pun bisa leluasa membayangkan adegannya kan XD. Kasihan sama yang belum cukup umur, nanti mereka jadi sesat gara-gara saya LOL.

bluepinkgirl : Yang bonceng Sora udah terjawab disini... Dia Tobi / Obito, bosnya Akatsuki. Mampir lagi buat review yaa… ^^

Uchiha Dian-chan : Wah wah... Saya nggak nyiksa Dian-chan kok, penasaran di bagian mana? Sekarang kan udah terbongkar lagi beberapa rahasianya, termasuk kemunculan Abang Itachi ^^

NE : Tebakannya bener tuh, Obito yang nolongin Sora dan Sasusaku sudah melakukan itu! Cuma saya potong adegannya *sembunyi, takut dilempar massa*. Hehehe RnR lagi ya…

Gita Zahra : halo Gita, iya ceritanya mereka sudah melakukan tapi lemonnya nggak saya tulis. Saya nyambungin ceritanya juga pusing, soalnya nggak pakai plot (tipe author malas, update menurut mood.) di akhir chap ini saya pasang Itachi, hehehe. Mampir RnR lagi ya!

Sasuke is mine : Hahahaha bukan lemon kok, itu cuma 'pendahuluan' aja… sisanya bisa dibayangkan readers *senyum penuh arti*. Salam kenal juga, terima kasih banyak sudah review disini! Saya update niih!

Guest : Thank you reviewnya, semoga yang ini bisa dibilang seru juga… Mampir RnR lagi ya?

Himawari no AzukaYuri : Hahahaha nggak apa refreshing dulu baca fanfic baru nanti lanjut lagi bikin makalahnya. Ini Yuri-chan kan ya? *takut salah*. Konan… Dia memang misterius ya (fave saya… eh balik curcol, LOL). Dan sesuai request, ITACHI sudah muncul! Mampir lagi buat RnR yaa…

Hanazono yuri : Thank you reviewnya, kira-kira mungkin lebih dari 20 chap? Saya enggak pake plot sih, kenapa? Bosan-kah? Kekeke… Niatnya tamat 20 chapter tapi mungkin nggak keburu. Semoga jangan bosan yaa ^^

Yamaneko achil : Hahaha lemonnya di-cut yaa… Mampir lagi disini jangan lupa :D

Afisa UchirunoSS : wah menantikan Uchiha kecil ya? Yang jelas kalau tim Said an Sasusaku ketemu, misi tim Sai buat bunuh Sasuke masih berlaku. Gimana buat chapter ini, makin banyak rahasia yang terungkap termasuk soal Obito dan Itachi. Semoga tetep menarik ya :D

Red rose : Haloo… Salam kenal! Sasusaku di chapter-chapter akhir makin banyak kok, soalnya saya bukan 100% bergenre romance dan patut diakui bikin fluff itu tantangan, hahaha. Semoga di chapter ini cukup banyak Sasusakunya.

Tsurugi De Lelouch : WOW… Terima kasih sudah mampir di fanfic ini, senpai! *terharu*, saya mohon masukannya kalau ada yang kurang. Dan pastinya ditunggu buat review di chapter ini juga ^^

Chochokyulat : Salam kenal! Thanks udah sempet review disini… hahaha iya semoga adegan sakusasu minus lemonnya masih bisa dimaklumi, LOL. Mampir lagi disini jangan lupa :D

Alisha Blooms : Halo Alisha-chan, terimakasih sudah RnR kemarin, sosok Uchiha itu udah ketauan ya siapa. Sekarang banyak flashback tuh, terungkap satu satu. Dan di bagian akhir ada Bang Itachi :D

Selaladrews : saya update, terimakasih buat lala-chan yang masih menyempatkan RnR di cerita ini… Tapi saying tanggal 20 harus hiatus dulu buat ngejar tugas. ^^ 3SMP boleh baca lemon nggak ya… masalahnya saya nggak bikin lemon juga, LOL. Yang naik motor sama Sora itu Tobi / Obito, Sasusakunya juga ditambahin tuh!

Ah Rin : Endingnya nanggung? Kekeke apalagi saya nggak bikin lanjutannya *digebuk*

Arissachin : Thank you buat fave dan reviewnya, thanks juga kalau suka sama cerita ini. Mari sama-sama berdoa supaya Sasuke nggak mati ya… hehehehe. Ditunggu RnRnya buat chap ini juga.

Alluca : thank you! *malu*, sasusakunya HOT? mampir lagi lho ya hehe.

Roquezen : Lemonnya kurang asem, memang nggak bikin lemon tuh sist, hahaha maaf nggak sanggup sepertinya. Sai ada nih disini, tapi jatahnya sedikit. RnR lagi sist, thanks!

Mizuira Kumiko : Hello sist, revienya nggak kepanjangan kok… Saya enjoy bacanya :D Wah bisa nyambung ke manga aslinya waktu baca 'Tidak berniat untuk berhenti?' LOL... Orangtua Sakura juga termasuk warga sipil yang ditugasin untuk 'jaga' Sasuke tapi mereka nggak ngerti permasalahan sebenarnya gimana. Yang bawa kabur Sora itu Obito, tepat sekali! Dan Itachi akhirnya muncul, hohoho… Mampir RnR lagi sist :D

Ocha chan : Okeee… thank you, ocha-chan. Mampir lagi ya! ^^

Hanazonorin444 : Thanks buat reviewnya, naah sekarang udah jelas kan siapa Uchiha yang nolongin Sora itu Tobi. Hentai? Belum kok… Nggak bikin hentai saya kekeke XD

Akasuna no ei-chan : ei-chan, sesuai request… Bang Itachi muncul! :D

Kumiko yui : waaah akhirnya yui muncul, haloo! Yang tahu kalau Konan masuk Akatsuki baru Sakura (gara-gara dikasih tau Sasu), yang lain nggak tau… Dan Sakura kaget, berarti Jiraiya dibunuh setelah dapat info dari Konan. Ortunya Sakura masih hidup di Konoha, jadi warga sipil biasa :D Mampir RnR lagi yaa~

Summer : Halo, waah jangan makin bingung! Hehehe authornya juga udah pusing mikir lanjutan ceritanya. Sasusaku akhirnya bersatu ^^ Dan yang ditunggu-tunggu muncul juga, kakaknya Sasuke. Review lagi untuk chapter ini ya :D

.

Sampai jumpa di chapter berikutnya (tanggal 7 Juli)!

-jitan-