(Note : *berhubung author hiatus* semoga rangkuman cerita ini bisa me-'refresh' ingatan readers pada jalan cerita dan rahasia yang sudah terungkap dari awal sampai chapter 15. Peringatan : ini semuanya berisi SPOILER untuk yang belum baca chapter sebelumnya! YANG MERASA TIDAK PERLU BACA INI SILAKAN SCROLL SAMPAI CHAPTER TERBARU YA…)
.
SHATTERED MEMORIES
RINGKASAN CERITA
.
.
Sekitar tujuh belas tahun yang lalu pemerintah Konoha menemukan seorang anak kecil yang pada usia sepuluh tahun telah sanggup memprediksi pergerakan ekonomi menyaingi seorang pakar. Namanya Sora. Singkat kata, selama dua tahun ia diperdebatkan dan akhirnya dianggap sebagai aset penting Konoha. Pemerintah menyembunyikan keberadaannya dari mata publik, sekaligus menggunakannya sebagai subjek penelitian untuk menelaah asal-usul kejeniusan anak itu. Mereka menemukan kenyataan mengejutkan lain; Sora berhenti menua di usia sepuluh tahun tanpa diketahui penyebabnya. Saat itu pemerintah mengembangkan penelitian tentang Sora dengan bantuan para peneliti yang dikumpulkan dari berbagai ahli se-Konoha termasuk Danzo dan Fugaku Uchiha.
Beberapa bulan penelitian berjalan mulus sebelum Fugaku menghapus seluruh data server karena menganggap pemerintah Konoha melampaui batas. Sora dieksploitasi atas kejeniusan dan kemampuannya yang 'berhenti menua'. SeteIah menghapus data penelitian (mengambil beberapa diantaranya) lalu kabur, ia bekerjasama dengan anggota klan keluarganya yaitu Obito untuk membawa kabur Sora. Kejadian ini berubah menjadi sebuah insiden besar, akhirnya Fugaku dinyatakan sebagai seorang buronan. Bukan hanya dirinya, tapi seluruh keluarganya dianggap sebagai pemberontak Negara Konoha. Selain Uchiha, mereka membunuh Minato dan Kushina Uzumaki yang dianggap bersahabat dengan Fugaku, dengan dugaan mereka merahasiakan keberadaan buronan negara.
Obito yang membawa Sora ternyata gagal membawa bocah itu menuju perbatasan Suna, ia ditembak dan Sora melihat mayatnya jatuh ke sungai setelah motornya lebih dulu meledak. Pemerintah yang termakan omongan Danzo akhirnya memburu seluruh klan Uchiha untuk dihabisi sampai tidak tersisa, peristiwa ini kemudian disebut Insiden Pemurnian Uchiha. Kejadian tersebut dirahasiakan sebagai salah satu top secret, Sora kembali menjalani tes sebagai subjek penelitian selama setahun hingga akhirnya dibebaskan dan diberi otoritas untuk membantu mengatur perekonomian Konoha dari balik layar.
.
Sasuke Uchiha adalah satu-satunya klan Uchiha yang tersisa, dibentuk dalam pengawasan penuh pemerintah. Sasuke sama sekali tidak tahu ayah-ibunya dibunuh, pada saat kejadian ia dibius dan bangun di rumah sakit dengan kabar bahwa mobil mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Akhirnya ia tinggal di sebuah panti milik negara dan tidak diperbolehkan diadopsi, sejak menjadi anak yatim piatu Sasuke bersahabat dengan Sakura Haruno. Mereka bercita-cita saling melindungi dan menjadi pelindung Konoha. Keduanya tidak tahu bahwa orangtua Sakura yaitu Kizashi dan Mebuki Haruno merupakan warga sipil yang mengemban tugas untuk mengamati gerak-gerik Sasuke. Keadaan ini berlangsung selama dua belas tahun, sebelum Sasuke dinyatakan meninggal.
Di Akademi Konoha mereka berkenalan dengan Naruto Uzumaki yang merupakan yatim piatu setelah ayah-ibunya dibunuh dalam insiden pemurnian Uchiha (Naruto tidak tahu mengenai ini). Sama dengan orangtua Sakura, Nyonya Tsunade yang merupakan wali Naruto merupakan petinggi Konoha yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Sasuke juga anak asuhnya. Dua belas tahun setelah insiden pemurnian Uchiha terjadi, muncul sebuah kelompok bernama Akatsuki dengan pemimpinnya; Tobi. Sasuke yang tanpa sengaja berhadapan dengan mereka, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Naruto dan Sakura. Ia dinyatakan meninggal di tebing perbatasan meski jasadnya tidak pernah ditemukan, gugur sebagai pahlawan.
.
.
Tiga tahun berselang, Sakura Haruno telah menjadi agen keamanan Konoha dan menerima misi khusus untuk menyelidiki Akatsuki dari Kakashi Hatake. Akatsuki berhasil menculik Sora dan mereka menemukan jejaknya di Suna. Mengemban tugas top priority untuk menyelamatkan Sora, Kakashi membentuk sebuah tim bernama Project Suna beranggotakan dirinya, Shikamaru, Sakura Haruno, Sai, Yuki, dan Jiraiya. Sesampainya di Suna, Jiraiya membawa mereka menemui informan kepercayaan Konoha yang bernama Konan. Wanita itu memberikan beberapa informasi dan senjata api untuk mereka. Namun dalam perjalanan pulang, mobil mereka diserang dan Jiraiya terluka parah akibat serangan sniper. Ketiganya melarikan diri, terkecuali Jiraiya yang akhirnya tewas dalam mobil yang terbakar. Sasuke adalah anggota Akatsuki yang menghabisi nyawa Jiraiya.
Keesokan harinya Sakura, Sai, dan Yuki mencari petunjuk keberadaan Akatsuki di daerah red district yaitu Suna Market. Ketika Sakura membuntuti seorang anggota Akatsuki yang bercakap-cakap dengan Bee tentang rencana mereka, terjadi penyergapan polisi. Keadaan menjadi ricuh dan tanpa disangka Sakura bertemu lagi dengan Sasuke Uchiha yang merupakan salah satu anggota Akatsuki! Kericuhan tersebut membuat Yuki sang pemimpin tim harus tewas di tangan Deidara yang mengaitkan peledak pada pergelangan tangannya. Sai dipilih menjadi ketua selanjutnya, dan Kakashi akhirnya memberangkatkan Naruto dan Hinata Hyuuga sebagai pengganti anggota tim. Mereka memiliki keahlian masing-masing dan dianggap cukup tangguh untuk bertahan dan menyelesaikan misi.
.
Lokasi persembunyian Sora diketahui tim Konoha, namun sayangnya ia telah dipindahkan oleh Konan yang ternyata merupakan anggota Akatsuki juga. Sebagai gantinya, Sai berhasil membunuh Deidara di sebuah gedung perkantoran dan mendapat nomor kontak bernama Kabuto. Reuni ketiga sahabat terjadi, Sasuke terpaksa menyandera Sakura untuk kabur dari kejaran tim Konoha. Berada bersama Sakura membuat perasaan Sasuke perlahan-lahan kembali, keadaan berbalik karena Sasuke dianggap berkhianat. Kini nyawanya diincar oleh Akatsuki, mereka memerintahkan Kisame Hoshigaki dan kelompoknya untuk mencari keberadaan Sasuke lalu membunuhnya. Teman tinggal Sasuke yang dahulu yaitu Karin menjadi korban kekejaman Kisame, berkat wanita itu juga kelompok Hoshigaki berhasil melacak lokasi persembunyian Sasuke.
Melewati pertarungan yang cukup sengit antara Sasuke dengan Kisame, kelompok Hoshigaki berhasil ia kalahkan. Sebagai gantinya Sasuke mendapatkan beberapa luka termasuk sebuah tebasan di lengan kirinya, selain itu muncul sebuah pertanyaan dimana salah satu kelompok Hoshigaki dibunuh oleh sniper asing ketika hendak menangkap Sakura. Sakura dan Sasuke berhasil melarikan diri ke motel pinggiran dan mereka mengakui perasaan masing-masing. Keduanya akan berjuang mengentikan rencana besar Akatsuki, mereka berinisiatif mengejar Kabuto. Tim Sai setelah gagal menangkap Kabuto juga telah menetapkan langkah yang dipandu langsung oleh Kakashi untuk mencari jejak Akatsuki.
Sora akhirnya mengetahui dirinya ditipu oleh pemerintah Konoha, mereka mengambil sedikit demi sedikit 'jatah' yang seharusnya merupakan miliknya dari pembagian pajak muatan pelabuhan. Tanpa ragu Tobi mengajak Sora bekerjasama untuk membuat tim terkuat antara Sora dan Akatsuki. Identitas Tobi ternyata adalah Obito Uchiha (pria yang diperintahkan Fugaku untuk menyelamatkan Sora lima belas tahun yang lalu), dia masih hidup.
Tobi menjelaskan tentang Project Kyuubi; rencana menyelundupkan senjata dalam jumlah besar ke Konoha. Akatsuki akan membuat konspirasi pemerintah Konoha terbongkar dan membuat rakyat bangkit melawan doktrinasi pemerintah. Dengan chaos yang ditimbulkan, Akatsuki akan mendapat keuntungan dari penjualan senjata api dan beberapa rencana lain. Permasalahan semakin meruncing antara Konoha dan Akatsuki, pihak yang benar dan salah menjadi abu-abu. Muncul juga sosok misterius yaitu Itachi yang ternyata mengenal Konan, ia berkata 'waktunya sudah dekat'.
.
.
SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
.
.
"Apa yang kau lihat?" tanyaku sambil mengulurkan tangan dan berusaha menggapai sosok wanita di depanku, "Katakan, apa yang kau lihat disana?!"
Tapi dia terlalu jauh untuk dijangkau. Aku hanya bisa melihatnya mematung membelakangiku, lalu sekilas menoleh sambil tersenyum manis. Aku diam, langkahku tiba-tiba terhenti karena senyum itu terlihat begitu... Rapuh? Entahlah, tapi rasanya itu bukan senyum bahagia. Tiba-tiba di hadapannya muncul cahaya yang sangat terang… Garis senyumnya perlahan menghilang ditelan bias cahaya, aku menutup kedua mataku dengan sebelah tangan sementara cahaya terang meliputi tubuhnya. Rasanya begitu terik dan cahayanya menusuk penglihatanku, membuatku nyaris buta. Aku masuk ke dalam pancaran cahaya itu, dan sedetik kemudian yang kulihat hanyalah hitam pekat, kegelapan.
Gelap…
Aku tidak bisa melihat apapun, di sekelilingku semua terlihat hitam dan kosong.
Dingin…
Dari ujung kaki tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menggelitik terasa menjalar naik ke atas, pertama-tama menyelimuti kaki… Naik perlahan ke lutut, sebatas pinggang, hingga akhirnya menuju tangan dan merambati satu per satu jemariku. Ketika perasaan itu semakin merambat naik menuju daerah leher, aku hanya merasakan dingin dan seluruh tubuhku kaku. Menggigil… Tidak dapat bergerak.
Aku berusaha meronta tapi sia-sia, seluruh tubuhku seperti menjadi seonggok patung.
Dengan pandangan yang masih gelap tanpa adanya satu pun sumber cahaya, aku bisa mendengar detak jantungku yang terpompa bersama dengan tiap deru napas yang kuhembuskan. Dalam kedinginan dan kegelapan, aku merasa kosong. Takut tanpa sebab, sampai akhirnya aku merasa ada sebuah pandangan yang ditujukan padaku. Meski aku tidak bisa melihatnya, aku tahu seseorang sedang mendekat dan mengawasi tubuhku. Aura keberadaannya terasa dekat namun asing, rasanya ia berdiri di sebelah kiri dan menatapku dengan pandangan iba. Mengasihani aku dalam kebutaan total dan tubuh mematung, ia terkekeh. Gelak tawanya membuat bulu kudukku merinding, dan dari samping daun telinga sayup-sayup aku mendengar ia berbisik dengan suara tegas juga menusuk.
"Sekarang… Apa kau masih bisa melihat apa yang kulihat?"
.
.
Ia membuka kedua mata yang kini berwarna kemerahan, kedua tangannya berada tegap di sisi untuk menopang bobot tubuh. Dadanya yang busung naik turun sesuai dengan napas yang memburu, rambut kehitaman dengan model belah tengah itu juga basah oleh peluh. Pendingin ruangan belum cukup mengeringkan keringat yang bercucuran dari kulitnya. Bola matanya berputar mencari letak posisinya saat ini… Dia masih berada di kediamannya yang mewah, terbangun di sebuah sofa nyaman dengan penerangan lampu meja berbias kekuningan. Di hadapan sofa itu juga terdapat sebuah televisi berukuran jumbo yang menempel di dinding, menayangkan sebuah acara berita dengan volume kecil.
Tanpa sadar ia menatap telapak tangan dan menggerakkan satu per satu jemari yang tadi terasa dingin membatu layaknya patung. Sepersekian detik setelah mendapat kesadarannya kembali, ia memejamkan mata lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. 'Brengsek! Mimpi sialan…' pikirnya, namun setengah bersyukur karena kegelapan tadi itu hanyalah mimpi. Diam beberapa saat, ia menghela napas dan iris hitamnya menatap keadaan sekeliling. Setelah pulang dari rutinitas sore itu, ia bermaksud merebahkan diri sejenak untuk beristirahat. Siapa sangka ia tertidur lalu mengalami mimpi buruk?! Tepat di hadapan sofa terdapat meja pendek berwarna kayu. Pria ini mengambil secarik kertas yang terlipat di samping struk tagihan dari Raikiri Café, surat dari wanita itu.
'20.00 PM – permulaan sebuah rencana besar. I'll see you soon…'
.
Ia menggelengkan kepala ketika membaca kalimat dari surat itu. Dari wanita cantik berambut keunguan yang ditemuinya tadi sore… Konan. Pria dengan wajah tampan ini bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju arah jendela besar yang menjadi daya tarik utama apartemen mewahnya. Ia menyibakkan tirai penutup dan cahaya matahari sore kemerahan masuk melalui kaca. Dari ketinggiannya saat ini, ia menatap pemandangan sore perkotaan Suna dengan matahari yang hampir terbenam. Melihat deretan lampu kendaraan dalam lalu lintas padat di bawah, benda-benda itu terlihat mungil dan tidak berarti dari jarak pandangnya. Pandangannya menerawang, namun sekali lagi ia menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis.
"Konan… Apa permainan ini terlihat begitu menarik bagimu?" gumamnya.
Dia terdiam sebelum akhirnya menghela napas, "Che, ternyata sudah waktunya menyulut api di Konoha?" Itachi Uchiha kembali menutup tirai dan merobek-robek kertas di tangannya menjadi potongan kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul enam sore, saatnya bersiap-siap. Pandangannya tertuju pada arah meja di samping jendela, disana terdapat sebuah frame foto. Tampak seorang bocah kecil berambut raven hitam dan berpakaian biru yang sedang tersenyum sambil menggandeng kedua tangan orangtuanya, pria ini melihatnya sekilas sebelum akhirnya berjalan menjauhi jendela.
"Waktunya sudah dekat untuk reuni keluarga, Sasuke…"
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 16 : THE PLAN
.
.
Suna - Akatsuki Mansion, 18.25 PM
"Semuanya sudah siap, Tuan…" ujar seorang bawahan Akatsuki pada pimpinannya, sesaat setelah ia memasuki ruang tamu dan mendapati Tobi masih bercakap-cakap dengan Sora sore itu. Ia memberi hormat dengan sikap sempurna, "Kami semua menunggu perintah Anda."
"Perintahkan semuanya untuk menunggu konfirmasi dari Kabuto. Mereka akan memberangkatkan kapal pukul delapan malam," Tobi menjawab dengan tenang, "Oh ya, satu lagi… Tolong siapkan pakaian bersih dan makanan kelas satu untuk tamuku. Perkenalkan, dia calon anggota baru Akatsuki… Benar begitu, Sora-sama?"
Sang bawahan Akatsuki menoleh lalu memberi hormat pada bocah kecil di sampingnya, sementara Sora hanya duduk dengan tangan terlipat dan tanpa ekspresi. Setelah berkata demikian, Tobi mempersilakan bawahannya meninggalkan ruangan. Dia telah mengenakan kembali topeng uniknya lalu duduk berhadapan dengan Sora. Beberapa saat yang lalu, Sora mengetahui kenyataan mengejutkan; Tobi sang pemimpin Akatsuki tak lain merupakan Obito Uchiha, penyelamatnya sekaligus kerabat Fugaku. Bagaimana pria ini bisa hidup adalah sebuah misteri yang belum terjawab, Sora melihat dengan pasti tubuhnya jatuh ke sungai setelah tertembak dan motornya dihancurkan berkeping-keping.
Dan yang lebih penting lagi, mau tidak mau pilihannya jatuh berpihak pada Akatsuki. Sebelum Sora menjatuhkan diri ke sungai, ia sendiri pernah berpesan akan melakukan apa saja seandainya Obito berhasil selamat hingga perbatasan Suna. Semata-mata untuk membayar jerih payah dan hutang budinya pada keluarga Uchiha, Sora mengamini hal tersebut. Sayangnya, baik Fugaku maupun Obito… Tiga belas tahun yang lalu dinyatakan sebagai korban Insiden Pemurnian Uchiha. Awalnya Sora berpikir sumpahnya sudah tidak berlaku karena keduanya telah mati, tapi ternyata… Dia masih hidup.
.
"Aku memang pernah berjanji akan melakukan apa saja seandainya kau hidup," Sora masih melipat kedua tangannya, "Tapi aku tidak pernah menyangka kau memang masih hidup… Bersembunyi di balik topeng konyol seperti itu, che… Menggelikan."
"Obito Uchiha memang sudah kuanggap mati di sungai Konoha," jawab Tobi, "Dia mati bersama klan Uchiha lainnya atas ulah Danzo. Yang ada di hadapanmu adalah Obito yang terlahir kembali dalam rupa Tobi, sang pemimpin Akatsuki. Seorang pelopor terjadinya reformasi atas pemerintahan busuk Konoha— Yang sesaat lagi akan terbongkar."
Sora memandang lurus ke arah lawan bicaranya, seperti melihat sesosok hantu. Dia hening sejenak sebelum melanjutkan, "Bagaimana kau bisa… Hidup?"
Obito terkekeh, ia mengangkat kedua bahunya lalu mulai bercerita. "Kau melihatku jatuh di sungai itu kan? Aku juga mengira akan mati, dan memang benar. Aku hampir mati."
.
.
Sesaat setelah Sora melompat, motor yang dikendarai Obito Uchiha berhasil ditembaki oleh pasukan keamanan Konoha. Kemudinya tidak lagi bisa dikendalikan dan Obito merasakan bahu kirinya juga tertembak. Ia merapatkan diri ke jembatan untuk pelompatan darurat, beberapa detik sebelum motor tanpa pengemudi itu oleng lalu jatuh menyeret aspal dan menabrak pembatas jalan. Puing-puing kendaraan roda dua itu beterbangan bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh ke permukaan air. Obito tahu dia akan mati disana, sebelum menyadari pakaian yang ia kenakan adalah outfit khusus petugas laboratorium Konoha. Helm yang dikenakannya dibuat khusus untuk keadaan darurat seperti kebakaran, penyebaran gas beracun, atau kecelakaan penelitian lainnya.
Selama beberapa menit helm itu kedap air, Obito mampu bertahan dengan sisa oksigen yang ia miliki. Sementara tubuhnya juga dilapisi pakaian pengaman yang tahan terhadap api, tembakan pada bahunya tidak fatal. Ia menyelam dengan sisa-sisa tenaga, bersembunyi di tepian sambil melepaskan pakaian itu. Obito berhasil membunuh salah satu petugas yang bertugas untuk mencari jasadnya di sungai, lalu menukar identitas kematiannya. Dan ketika ia bergegas menuju perbatasan Suna, orang sekitar berkata bahwa seorang anak kecil telah dibawa pergi oleh mobil pemerintah.
Obito sadar misi untuk menyelamatkan Sora telah gagal, semuanya jadi sia-sia. Tinggal di Konoha adalah kuburan bagi klan Uchiha yang masih hidup. Sebagai satu-satunya Uchiha yang tersisa, ia melarikan diri ke Suna sebagai imigran gelap. Obito menyesali dirinya telah lari meski tidak punya pilihan lain, selama beberapa bulan setelah peristiwa itu ia dihantui oleh rasa takut. Takut pemerintah Konoha menemukan kejanggalan pada jasad palsunya, ia mendengar desas desus tentang kediaman klan Uchiha yang diruntuhkan atau dibakar.
Kalah oleh ketakutan alam bawah sadarnya, Obito nyaris membakar dirinya sendiri akibat frustasi. Hal inilah yang menyebabkan wajah kanannya rusak, sebelum ia diselamatkan oleh seorang dokter bernama Orochimaru. Obito yang hidup tanpa arah di Suna akhirnya mengikuti pria ini, menjadi asisten dadakan sekaligus pengasuh seorang anak berkacamata bernama Kabuto… Anak yang menjadi yatim piatu setelah nyawa orangtuanya gagal diselamatkan oleh Orochi.
.
Perkenalannya dengan Orochimaru adalah awal mula pikirannya untuk membalas dendam atas kematian klan Uchiha. Orochi merupakan seorang dokter handal yang terkenal di daerah Red District Suna, prakteknya tentu saja illegal. Ia menangani pasien yang tidak mungkin dibawa ke rumah sakit. Mulai dari para buronan polisi, mafia, bandar senjata hingga pemasok narkotika. Dari beberapa pasien yang sempat berurusan dengan Konoha, ia mengetahui kabar bahwa pihak Konoha menyisakan satu-satunya keturunan Uchiha. Anak itu 'dikarantina' di sebuah panti asuhan milik negara; yang tak lain adalah Sasuke. Anak kerabatnya sendiri… Fugaku Uchiha.
Beberapa tahun sudah cukup membuatnya mapan dan menguasai bisnis gelap, sementara nasib Orochimaru berakhir naas. Ia ditembak di tempat ketika sedang mengobati seorang buronan, namun Obito dan Kabuto berhasil menyelamatkan diri. Sejak terlepas dari figur sang dokter, Obito Uchiha bangkit dengan sejumlah rencana. Ia membentuk sebuah organisasi bernama Akatsuki dan menyusun sebuah proyek besar bernama Project Kyuubi. Dengan Kabuto sebagai tangan kanannya, ia mengumpulkan anggota handal yang dikenalnya dari beberapa mantan pasien Orochi. Perlahan tapi pasti, rencananya mengalami kemajuan. Hingga peristiwa tiga tahun lalu, ia gagal menculik Sora… Namun sebagai gantinya, tanpa diduga ia berhasil mendapatkan Sasuke Uchiha.
.
"Dan hasilnya seperti yang kau lihat sekarang… Rencanaku satu per satu berjalan dengan lancar dan kemenangan ada di hadapanku." sambung Tobi setelah panjang lebar bercerita, "Aku masih mengingat perkataanmu waktu itu, bocah. Kau akan mengabulkan apapun jika aku selamat, bukankah ini saat yang tepat untuk memenuhi janjimu? Bergabunglah bersama Akatsuki."
Anak berusia sepuluh tahun ini justru membuang muka.
"Heh… Janji adalah janji, Obito." Sora berdecih, "Aku mengakui janji itu, tapi bukan berarti aku setuju menghancurkan Konoha dengan rencanamu. Resikonya terlalu besar… Aku rasa ambisi dan dendam pribadimu itu seharusnya dilampiaskan untuk Danzo dan para kroninya, bukan pada seluruh Konoha! Seharusnya warga sipil tidak kau libatkan dengan permainanmu ini."
"Aku hanya memberikan masyarakat kebenaran dan kesempatan untuk merubah kepemimpinan busuk Konoha, Sora. Tapi tentunya… Dengan cara yang akan menguntungkan Akatsuki. Nah, pukul delapan nanti kita akan melihat awal dari kehancuran mereka. Neraka yang akan kuciptakan di atas perbuatan mereka sendiri…" Tobi tertawa kecil lalu berdiri tegap, memandang bocah itu dari atas dan terkesan angkuh. "Kucukupkan saja bincang-bincang kita sore ini, saatnya untuk mengambil keputusan. Pilihannya mudah. Apakah kau akan berjalan bersama Akatsuki, punya kesempatan untuk mengatur ulang pion catur yang telah dirusak Konoha? Atau…"
Sora diam tak bergerak, ia memandang lawan bicaranya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Atau cerita tadi adalah dongeng terakhir sebelum kepalamu ditembus peluru." sambung Tobi dengan nada datar, "Ah… Aku tidak akan menembakmu disini, tentu saja. Terlalu sayang mengotori perabotan rumahku dengan noda darah."
Bocah sepuluh tahun itu tertegun, mengepalkan tangan.
.
Dia adalah Obito Uchiha, orang yang menyelamatkanku dari laboratorium Konoha… Meskipun gagal. Aku telah berjanji padanya akan melakukan apa saja seandainya ia selamat. Janji adalah janji, hutang budi selamanya tetap bernilai hutang. Konoha telah menipu kerjasama pembagian hasil denganku, itu benar. Tapi… Sejujurnya, ini tidak adil.
Rencana Akatsuki adalah neraka bagi laju kehidupan di Konoha selanjutnya, tidak akan ada lagi rasa percaya dan rasa aman yang tertanam di benak mereka. Masyarakat akan hidup dalam ketakutan, bahkan mungkin tidur sambil menyembunyikan senjata di balik bantal masing-masing. Perang saudara antara kaum pro dan kontra akan marak terjadi, sesuai yang diharapkan Akatsuki. Kuakui Danzo bersalah atas sebagian besar terciptanya insiden pemurnian Uchiha lima belas tahun yang lalu, tapi rakyat Konoha tidak harus memikul tanggung jawab ini.
Bukan berarti aku tidak sayang nyawa.
Aku sendiri tidak sudi mengorbankan diriku sendiri untuk nasib mereka.
Aku bukan pahlawan untuk negara… Sialan!
.
"Jadi… Apa jawabanmu?"
Kata-kata Tobi sekali lagi membangunkan Sora dari lamunannya, ia masih enggan mengambil keputusan. Dia benci mengiyakan sekaligus tidak sanggup menolak. 'Satu yang pasti; Fugaku Uchiha sekali pun, dia tidak akan setuju pada rencana Obito.' Kalimat itu tiba-tiba terlintas di otaknya.
"Mati sekarang atau bertahun-tahun kemudian, sama saja." Sora tersenyum sinis menjawab pertanyaan Tobi. Dia sudah memikirkannya bulat-bulat, "Aku menolak bergabung dengan Akatsuki."
Sang pemimpin Akatsuki memiringkan kepalanya ke samping, seakan tidak percaya pada jawaban final dari bocah ini.
"Bunuh saja aku, tembak tepat di kepala." ujar Sora tanpa ragu.
.
.
.
Vega Sun Motel – 19.20 PM
Honda CBR 500RR berwarna putih milik Sasuke Uchiha terparkir di sebuah lorong berjarak dua blok dari Vega Sun Motel. Letaknya dekat dengan gedung perkantoran 589; tempat dimana Sakura meninggalkan timnya dan menjadi tawanan pria ini. Berbusana warna hitam dari atas hingga ke bawah, keduanya berjalan dengan hati-hati menuju hotel. Vega Sun Motel adalah penginapan milik Tobi yang dibangun khusus untuk mengelabui pemerintah tentang usaha sebenarnya dari Akatsuki. Bangunan itu tampak sepi dan pada tempat parkir VIP Sasuke melihat sebuah mobil hitam yang biasa digunakan Kabuto.
"Mobil yang biasa dipakai Kabuto ada disana," kata Sasuke pelan, "Arah jam satu dari posisimu."
Sakura melirik, "Ja-jadi, dia ada disini?"
"Entahlah." Pria itu hanya menanggapi singkat, ia menarik pergelangan tangan Sakura menuju arah samping, "Lewat sini, Sakura. Kau tidak ingin langsung tertangkap CCTV dari front office, kan?"
Sasuke menuntun wanita itu berjalan menuju pintu darurat karena disana tidak ada satu pun kamera yang dipasang. Pria ini sudah mengetahui secara pasti dimana saja letak kamera CCTV dipasang, ia juga menjelaskan bahwa di dalam penginapan ini tidak semua karyawan terlibat dengan Akatsuki. Bahkan sebenarnya mereka tidak tahu menahu tentang keberadaan Akatsuki. Sebagian besar karyawannya justru dipekerjakan dari warga sipil untuk meminimalisir kecurigaan, dan seluruh operasional diatur oleh Kabuto yang merupakan pemimpin bayangan menggantikan Tobi. Setelah keduanya menaiki tangga darurat hingga mencapai lantai tiga, Sasuke Uchiha berhenti lalu menoleh.
.
"Apa kau pandai menembak?" tanyanya tiba-tiba.
"E-eh?" Alis wanita itu terangkat, "Tidak, ketepatanku biasa-biasa saja. Spesialisasiku dalam lockpick, tapi semua peralatannya tertinggal ketika aku menjadi tawananmu."
"Hn, benarkah? Kalau begitu ini kesempatanmu untuk mahir. Kau harus membantuku menembak kamera CCTV, Sakura… Dalam hitungan ketiga, aku akan membuka pintu lalu menembak satu di arah jam sembilan. Dan tugasmu adalah menembak kamera yang berada di arah jam tiga, alias berlawanan denganku. Jaraknya bisa dijangkau dengan handgun."
Sakura melongo.
"Tenang, pasti berhasil." Sasuke meyakinkan.
Sakura mengangguk, ia memang tidak punya pilihan. Dia sudah memutuskan untuk berjuang bersama Sasuke, lagipula kemampuannya sebagai agen keamanan juga tidak diraih dengan sembarangan. Ia meyakinkan dirinya sendiri, pasti bisa. Harus berhasil. Mereka berdua mengeluarkan senjata api dari holster, memasang peredam, dan mengokangnya hampir secara bersamaan. Tangan kiri Sasuke telah menggenggam erat gagang pintu yang akan menyambungkan mereka ke lorong hotel, ia menoleh ke arah partnernya. Onyx itu beradu dengan emerald kehijauan milik Sakura, lalu mengangguk. "Ikuti aba-aba dariku. Dalam hitungan ketiga; Satu. Dua…"
Sakura mengeratkan pegangannya pada pistol, siaga.
"TIGA!"
Dalam gerakan kilat, Sasuke membuka pintu lebar-lebar dan ia bergerak ke arah kiri sementara Sakura memunggunginya menuju arah kanan. Tembakan telak diarahkan Sasuke tepat ke lokasi kamera CCTV terpasang, sementara Sakura butuh dua kali untuk membidik arah sudut lalu menembak. Namun keduanya berhasil, dan itu cukup membuat Sakura Haruno bernapas lega. Senyum tipis tergambar dari bibir pria Uchiha itu ketika melihat Sakura berhasil.
Berikutnya Sasuke berjalan mendahului Sakura menuju sebuah kamar dengan sistem kunci swipe card, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu pipih untuk membuka pintu. Kartu cadangan yang ia simpan untuk saat-saat seperti ini. Tanpa kesulitan, pintu itu terbuka. Sasuke dengan sigap mengacungkan senjatanya dan membidik setiap sudut, sebelum yakin ruangan itu memang kosong. Kabuto tidak ada disana, ia memberikan satu gestur agar Sakura bisa masuk lalu menutup pintu.
.
"Sial, dia tidak ada disini." umpat Sasuke kesal sambil berjalan menuju meja kerja Kabuto, "Kita harus geledah ruangan ini untuk mencari informasi. Berharap saja ada petunjuk tentang rencana Akatsuki dari berkas-berkas disini."
Keduanya lalu sibuk mengobrak-abrik tempat tinggal Kabuto, mencari di tiap laci meja juga lemari. Dari balik deretan buku, Sasuke menemukan sebuah peta beserta koordinat dan beberapa bagiannya diberi bulatan berwarna merah. Ia membentangkan peta itu di atas meja, mencoba menganalisa. Tidak ada keterangan apapun mengenai letak lokasi dalam peta. Sementara Sakura yang sejak tadi menyalakan laptop milik sang anggota Akatsuki, kini menemukan sebuah buku usang yang terselip di tumpukan berkas pada lemari Kabuto. Sasuke akhirnya mengambil alih laptop ketika Sakura membuka buku usang tersebut.
"Seluruh datanya diproteksi password," Sasuke berdecak, ia mencoba beberapa nama namun semuanya gagal, "Akatsuki, Kabuto juga ditolak, eh mungkinkah… Tobi?"
ACCESS DENIED.
"Aah, sial!" Kombinasi password yang belum juga terbuka membuatnya frustasi. Sasuke menoleh ke arah Sakura yang sejak tadi hanya diam mematung, "Sakura? Apa yang kau temukan?"
Wanita itu membaca secepat kilat halaman demi halaman buku usang tersebut, sedikit menyayangkan bahwa dirinya bukan ahli analisa seperti Hinata. "Ini… Buku harian dari orang yang bernama Kabuto. Aku mencari beberapa petunjuk tentang rencana Akatsuki, tapi belum- AH! Ini dia! Halaman terakhirnya tertulis kalau orang yang paling dekatnya lagi-lagi terbunuh, ia hidup bersama Tobi untuk membangun Akatsuki. Menyukseskan rencana… eh, Project Kyuubi."
'Project Kyuubi', Sasuke mengetikkan nama itu sebagai kombinasi namun tetap ditolak.
'Kyuubi.' ACCESS DENIED.
"Nama itu juga gagal…" ia memejamkan mata, kehabisan akal.
"Coba ketikkan OROCHIMARU." Sakura memecah keheningan, lalu menyambungnya dengan ejaan, "Ejaannya O-R-O-C-H-I-M-A-R-U."
Tanpa pikir panjang Sasuke mengikuti saran wanita itu.
.
APPROVED.
.
"Berhasil!" sahut keduanya dengan seringai lebar. Sasuke menoleh dan mendapati senyum ceria dari wanita berambut soft pink di sampingnya, "Siapa itu Orochimaru?"
"Nama dokter yang merawatnya bersama Tobi, dia mati tertembak. Dan peristiwa itu membuat Kabuto kehilangan satu lagi orang yang berarti baginya…" jelas Sakura sambil menutup buku harian itu, "Tak disangka ia menjadikan nama orang itu sebagai kata sandi, masa lalu pria Akatsuki ini juga cukup memprihatinkan. Ternyata Kabuto mengenal Tobi sebelum Akatsuki terbentuk…"
"Ya, sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk jadi melankolis." jawabannya bernada sarkastik. Pikiran Sasuke hanya terfokus mengecek dokumen dan email yang tersimpan di dalam laptop tersebut. Ia menemukan beberapa data penting, juga sebuah denah yang mirip dengan hasil print yang ditemukannya barusan. Dia mencocokkannya dan terbelalak, "Gawat… Ini peta denah pelabuhan Suna! Rencana yang dinamakan Project Kyuubi itu akan dilaksanakan malam ini, jam delapan. Dan sekarang-"
Onyx-nya menatap penunjuk waktu yang menunjukkan pukul 19.30, tiga puluh menit sebelum rencana mereka dimulai, "Waktunya terlalu sempit untuk mengejar mereka."
"La-Lalu…" Sakura bertambah bingung.
"Tidak ada pilihan lain." Sasuke menatap agen Konoha di hadapannya itu dengan tatapan ragu, "Hubungi Naruto dan ceritakan semuanya, Sakura."
.
.
Suna's Bay – Lodging Dock, 19.20 PM
Angin bertiup kencang, malam itu cukup berangin namun cuacanya cerah. Mengenakan topi dan seragam petugas yang diambil secara diam-diam di loker karyawan, Naruto Uzumaki berjalan dengan tenang menyusuri pinggiran dermaga. Tampak kapal-kapal besar memenuhi pandangannya, termasuk alat angkutan yang digunakan untuk memindahkan kontainer ke dalam kapal. Para petugas sibuk bekerja, mendata ulang data bongkar muat, mengecek isinya, lalu memindahkan kontainer ukuran jumbo itu ke lahan yang sudah tersedia. Hinata berada di sebelahnya, sama-sama mengenakan pakaian dinas. Mereka mencari seseorang dengan postur tubuh seperti Kabuto; pria berambut abu, berkacamata bulat, dan menurut pria berambut jagung ini… Wajah mirip ular.
"Sector clear." dari earpick pada telinga kirinya, ia mendengar suara Sai. Pria itu berada di lokasi lain, mereka memecah tim menjadi dua; Sai seorang diri sedangkan Naruto berpasangan dengan Hinata. Ketua timnya sudah berada di dock seberang, karena pada dasarnya mereka hanya bertaruh. Kakashi Hatake memberi perintah untuk berjaga-jaga di Pelabuhan Suna karena keberadaan Akatsuki siang tadi, ada kemungkinan mereka akan kembali untuk mengatur keberangkatan muatan. Sayangnya, mereka sama sekali tidak tahu lokasinya. Di lahan seluas ini, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Kami juga belum menemukan sosok mencurigakan." balas Naruto dengan hati-hati, memperkecil volume suaranya agar tidak terdengar oleh petugas lain, "yang pasti… Disini dingin."
"Berhenti mengeluh dan teruskan pencarian, Naruto. Kita mempertaruhkan waktu untuk mencari keberadaan target, kabari aku jika mendapatkan sesuatu. Sai's out."
.
Keduanya berpatroli dengan tenang dan mengamati keadaan sekitar. Kira-kira setelah sepuluh menit mengelilingi lokasi tanpa menemukan bukti atau petunjuk, mereka berhenti sejenak untuk menganalisa denah. Ketika Hinata baru saja membuka salinan denah, ponsel Naruto bergetar. Datangnya dari nomor tidak dikenal, telepon lokal. Pria itu sejenak ragu bagaimana nomornya diketahui pihak lokal, sebelum menyadari kemungkinan penelepon itu pasti menghafal tiap digit nomornya; Sakura Haruno.
"Ya, halo?" jawab Naruto. Tidak menyadari mata Hinata sekilas melirik ke arah Naruto ketika pria itu mengangkat telepon, mengamati ekspresinya yang tiba-tiba berubah, "Sa-Sakura? SAKURA-CHAN?! Kau ada dimana sekarang?"
"Ya, ini aku… Tenanglah Naruto, aku baik-baik saja bersama Sasuke. Ceritanya panjang… Sekarang kau ada dimana? Aku punya informasi yang sangat penting, tolong dengarkan baik-baik."
"Aku… Aku ada di pelabuhan Suna bersama yang lain," Naruto mengangguk ketika Hinata ingin memastikan apakah Sakura selamat, "Ta-tapi, ada apa ini sebenarnya? Apa Sasuke menyakitimu?!"
"Dobe, jangan berisik." Dari sisi penelepon tiba-tiba suara husky itu berbicara, bukan lagi suara Sakura Haruno karena Sasuke telah mengambil alih komunikasi, "Aku punya informasi tentang rencana Akatsuki. Dengar; jam delapan malam ini kapal yang mengangkut muatan barang ke Konoha akan berangkat. Letaknya di sektor B-2, sepertinya mereka menyelundupkan senjata api dalam jumlah besar. Aku tidak tahu rencana mereka yang sebenarnya, tapi sebaiknya kau hentikan sebelum terlambat."
.
"Sektor B-2 jam delapan? Oh God, waktunya tinggal lima belas menit lagi!? Hi-Hinata, tolong cek dimana lokasi sektor B-2?" Naruto terperangah mendengar sahabatnya kini berbicara bahkan membocorkan rahasia kelompoknya sendiri, namun dengan sigap ia menyimpan informasi itu. "Kalian ada dimana? Teme, apapun yang kau lakukan saat ini, aku mohon kau jaga-"
"Cepat cari lokasinya, Sakura aman bersamaku," potong Sasuke dengan tegas. Ia bermaksud menutup pembicaraan sebelum Naruto Uzumaki sekali lagi memanggil namanya.
"TUNGGU! Sa-Sasuke? Kau masih disana?!"
"Hn."
"Konoha memberi perintah untuk menyelamatkan Sora, sekaligus melenyapkan semua orang yang terlibat dengan Akatsuki, termasuk dirimu. Berhati-hatilah, Teme… Dan tolong jaga Sakura." Akhirnya Naruto membocorkan misi Konoha pada Sasuke Uchiha. Meskipun ia tidak yakin Sasuke berada di pihak mana, ia yakin sahabatnya itu berhak tahu. Sekaligus agar ia berhati-hati, karena keselamatannya juga menyangkut nyawa Sakura.
"Waktumu tidak banyak, lakukan saja tugasmu." Pria Uchiha itu terkesan cuek, ia memutuskan komunikasi sambil menyeringai sinis. Setelah bergabung bersama Akatsuki, bukan sekali atau dua kali ia diincar dan diperingati untuk dibunuh… Kalimat Naruto justru terdengar biasa saja di telinganya, dan sikap itu kontan membuat Sakura kebingungan.
"Kenapa kau tersenyum, Sasuke?" tanyanya polos.
"Naruto bilang kalau para agen Konoha itu ditugaskan untuk membunuhku," ia menoleh dan wajah tampannya menatap mata Sakura yang tampak terkejut, "Che. Tidak cuma sekali atau dua kali aku mendengar kalimat semacam itu, tapi semua berakhir sama… Mereka mati lebih dulu dari aku."
Sakura Haruno membisu, tentu ia tidak ingin melihat Sasuke terluka apalagi mati. Tapi ia sendiri juga tidak ingin kehilangan teman-teman timnya, tidak bisa memilih salah satunya untuk menjadi korban. Mereka semua harus selamat! Onyx yang menatap wanita itu segera berpaling dan kembali memandang layar laptop untuk mencari informasi lain. Beberapa saat terdiam, Sasuke bergumam, "Kita lihat saja, apa anggota tim Konoha bisa menghentikan Kabuto atau tidak… Kita akan segera menyusul, setelah aku selesai mengambil data-data ini sebagai bukti."
.
.
Suna's Bay – Lodging Dock, 19.47 PM
Menurut analisa Hinata pada denah pelabuhan, dari posisi mereka saat ini sektor B-2 dapat ditempuh dengan jalan darat sekitar tujuh menit berlari santai. Sai yang berada di bagian berlawanan dengan kedua agen Konoha membutuhkan waktu yang lebih panjang karena ia harus mengambil jalan memutar via darat. Naruto melaporkan hasil informasi yang ia dapatkan dari Sakura pada sang atasan, tanpa menyebut Sasuke masih bersama wanita itu. Sai tanpa ragu menginstruksikan keduanya untuk segera bergegas menuju sektor B-2, karena ia tidak mungkin mencapai lokasi lebih dulu. Sesuai misi yang diberikan Konoha; Sai mengingatkan untuk melenyapkan semua yang berpotensi menjadi musuh Konoha. Tembak dulu sebelum dia yang menembakmu, ujarnya.
Menyusuri pinggiran dermaga yang diterangi lampu-lampu jalan, Naruto memimpin di depan sedangkan Hinata berada sekitar satu meter di belakangnya. Keduanya berlari kecil untuk menghindari tatapan curiga para staf yang bertugas mengatur pemindahan barang, atau yang sekedar lalu-lalang di sekitar mereka. Sekilas melihat papan nama B-1, mereka mempercepat langkah untuk mencapai sektor B-2 yang terpaut hanya satu pintu di depan. Naruto segera merapat pada dinding ketika tubuhnya mencapai sudut ruangan dengan papan bertuliskan B-2, sepersekian detik setelahnya Hinata menyusul. Sebelah tangan pria ini terangkat,menginstruksikan agar mereka berhenti. Ia melirik dan mengamati keadaan di balik tembok, tampak beberapa kontainer jumbo yang sedang diangkut dan dengan peralatan berat menuju kapal. Beberapa orang membelakangi mereka, namun disana tidak terlihat si pria berwajah ular.
"Aku tidak melihat ada Kabuto disana," Naruto setengah berbisik lalu mengecek waktu, "Sial. Tinggal enam menit lagi dari waktu keberangkatan kapal!"
.
Seluruh lampu tiba-tiba padam.
.
Keduanya bertatapan satu sama lain, kebingungan. Kegelapan itu membuat petugas bongkar muat kesulitan dan terpaksa menghentikan pekerjaan untuk sementara sebelum generator menyala. Dalam kegelapan Hinata masih bisa melihat pancaran biru cerah dari iris mata Naruto, serta senyum pria yang kini tergaris lebar. Sepertinya mereka diuntungkan dalam keadaan gelap, Naruto mengangguk yakin. Memberi aba-aba untuk mendekat, ia memimpin di depan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini menguntungkan kita. Ayo," ujarnya singkat. Ia mulai melangkah, mengendap-endap menuju kumpulan pria yang membelakangi mereka, "Saatnya beraksi!"
.
.
"Pak Bos, aku mendapat informasi dari Sakura. Mereka akan mengirim barang dari pelabuhan Suna tepat pukul delapan malam ini, letaknya di sektor B-2! Kami sedang menuju lokasi, over."
Perkataan Naruto Uzumaki terngiang di telinganya, Sai yang berada di lokasi berlawanan kini kembali menyusuri jalan untuk menghentikan langkah Akatsuki. Tidak lagi dipedulikannya pandangan heran beberapa petugas yang melihatnya berlari terengah-engah seperti kesetanan, ia tidak akan sampai tepat waktu jika tidak bergegas. Setelah memberikan instruksi pada Naruto, Sai berniat menyusul kedua bawahannya. Sakura Haruno… Entah bagaimana caranya agen Konoha itu selamat setelah menjadi tawanan Akatsuki, yang pasti Sai telah membulatkan tekad untuk menembak mati Sasuke Uchiha sesuai dengan perintah misi. Dia akan melenyapkan semua yang bertentangan dengan misi Konoha. Ia tidak tahu apa yang dilakukan wanita itu di luar pengawasannya atau darimana ia bisa mendapatkan informasi tentang rencana Akatsuki, namun saat ini semua itu tidak penting.
'Aku harus menghambat keberangkatan untuk sementara.' pikirnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti setelah melihat sebuah ruangan tertutup bertuliskan 'Control Room'. Sai mendekat dan melihat dari celah kaca pada pintu bahwa ruangan itu kosong, ia segera memutar kenop pintu. Terkunci, tapi tidak membuatnya menyerah. Sai mengarahkan laras pistol yang dilengkapi peredam ke arah kenop, lalu menembaknya hingga terbuka. Di dalam ruangan kosong itu terdapat beberapa layar monitor yang tersambung dengan kamera CCTV, beberapa peralatan yang mengatur pencahayaan gedung, sebuah microphone yang tersambung dengan speaker, dan secangkir kopi yang masih hangat. Jelas ruangan kosong ini hanya ditinggalkan untuk sementara, dan dipastikan sebentar lagi petugas akan kembali. Dia tidak punya waktu untuk menghapus rekaman CCTV atau menon-aktifkan semuanya.
Nyaris dengan wajah tanpa ekspresi, Sai menon-aktifkan tombol generator otomatis lalu menarik sebuah tuas untuk membuat seluruh ruangan gelap gulita. Dari kegaduhan yang terdengar, dia bisa memastikan idenya cukup berhasil dan keadaan ini akan memberikan mereka waktu ekstra untuk bertindak. Terlebih karena generator cadangan tidak kunjung menyala, sekarang petugas akan berbondong-bondong menuju ruangan ini untuk memeriksa keadaan.
Dia harus segera pergi sebelum tertangkap.
"Kau bisa berterima kasih padaku nanti, Naruto…" gumamnya sambil berlalu dan meninggalkan ruangan itu tanpa bekas. Dalam kegelapan total ia berjalan dengan bantuan emergency line yang tersedia dan menuju sektor B-2.
.
.
"Apa yang terjadi?! Kenapa semua lampu mati?" teriak salah satu petugas yang berada di geladak kapal.
"HUBUNGI CONTROL ROOM!" ujar pria lain sambil menunjuk anak buahnya dalam kegelapan, "Loading barang sudah selesai… Sebentar lagi waktu keberangkatan!"
"Jangan bergerak, dan dengarkan perintahku." Tiba-tiba punggungnya menyentuh sebuah benda dingin dan seseorang mendekapnya dari belakang, ia terkesiap. Jantungnya terasa berhenti ketika mulutnya ditutup dan orang asing itu membisikkan jika ia tetap tenang, maka semuanya akan baik-baik saja. Pria itu mengangguk singkat, memperlihatkan tanda ia tak berdaya. Pembajakan muatan, teroris, pencuri?! Pikiran pria ini berkecamuk ketika mengikuti seseorang yang menodongnya dengan senjata, sementara agen Konoha itu berhasil memanfaatkan kegelapan untuk masuk ke dalam kapal menyeret tawanannya ke tempat yang lebih sepi. Beberapa saat yang lalu ia dan Hinata Hyuga berhasil menyelinap masuk ke sebuah kapal muatan yang siap berangkat dari pelabuhan menuju Konoha.
"Aku mau kau hentikan keberangkatan kapal ini," ujar pria dengan rambut berwarna kuning itu, "Hentikan Vessel (kapal) yang akan diberangkatkan ke Konoha. Cepat!"
Pria berambut hitam itu diam tak bergerak, entah tidak mengerti atau kebingungan. Untuk apa menghentikan kapal jika mereka adalah teroris atau pembajak kapal?! Naruto merasa jengah dengan respon pria itu sementara waktu yang ia miliki semakin sempit, ia menggenggam erat kerah sang petugas sementara matanya kini berhadap-hadapannya dengannya, "DENGAR! Aku mendapat informasi penting tentang adanya barang selundupan dalam muatan kargo kapal ini. Bagaimana caranya menghentikan jadwal keberangkatan? CEPAT! Waktunya tinggal sedikit lagi!"
Ia terkejut setelah disentak, "Te-temui Kapten! Dia ada di-"
.
DOORR!
Dari sudut berlawanan Naruto mendengar sebuah letusan senjata, disusul suara berdebam seperti benda yang jatuh terjerembab. Ia langsung menutup mulut petugas di hadapannya agar tidak berteriak ketakutan, memberi aba-aba agar ia diam. Apa Akatsuki juga membajak kapal lalu membunuh para petugas? Pria dengan rambut berwarna kuning cerah ini meninggalkan salah satu awak kapal yang tadi bersamanya di tempat aman, sementara ia merangkak mendekati arah sumber suara. Dari balik dinding geladak kapal, Naruto melihat ada dua orang berseragam sedang menyeret seorang pria yang telah tergeletak di lantai dengan darah pada dada kirinya. Salah satu dari petugas itu bersenjata api.
"Cepat singkirkan orang ini, dia tahu kalau kita mendapat bagian dari muatan itu." Kata seorang petugas yang memegang senjata, menyuruh rekannya menyeret korban untuk disembunyikan, "Kita akan buang mayatnya di laut lepas. Sekarang minta kapten untuk mendapatkan izin lalu berangkat!"
Naruto tertegun setelah mencuri dengar pembicaraan kedua pria itu. Ternyata mereka disuap untuk meloloskan muatan-muatan Akatsuki, sial! Naruto Uzumaki mengerutkan keningnya, mencari akal. Ia menekan earpick lalu memanggil kedua rekannya, "Ini Naruto, aku berada di geladak kapal. Hinata, kau ada dimana? Berhati-hatilah, ada beberapa orang yang menjadi mata-mata Akatsuki, mereka berseragam seperti petugas awam."
"Disini Hinata… A-aku sedang me-mencari ruangan Kapten, over."
"Pak Bos Sai, kau dimana?!"
"Ini Sai. Sebentar lagi lampu akan kembali menyala, dan sepertinya aku tidak akan cukup waktu kesana." Sai menjawab sambil terengah-engah karena terus berlari, "Kalian berdua, berhati-hatilah! Aku akan berusaha mencari jalan lain untuk menghentikan Akatsuki. Over."
.
Dari sekeliling pelabuhan terdengar sebuah bunyi nyaring dan sepertinya itu adalah pertanda kapal akan segera diberangkatkan. Naruto dan Hinata terjebak dalam kapal bersama para mata-mata Akatsuki yang sama-sama mengenakan pakaian petugas, dan ia tidak tahu siapa saja yang ikut terlibat. Ia segera kembali tempat pria yang tadi bersembunyi, melihat pria berambut batok hitam dan mata bulat itu masih diam meringkuk di tempat yang sama. Sepertinya ia kebingungan sekaligus takut, dan gesturnya tidak terlihat seperti seseorang yang mengetahui rencana busuk Akatsuki. Dia harus segera mencari cara menghentikan kapal ini! Namun sebelum rencananya menghentikan Akatsuki berhasil, pertama-tama Naruto harus membuat pria di hadapannya tidak panik lalu bertingkah mencurigakan.
"Maaf tadi mengagetkanmu." Sang Agen Konoha ini menghampiri pria itu lalu berlutut, menepuk pundak si petugas sambil tersenyum. "Siapa namamu?"
"A-Aku…" Sedikit terkejut, namun mata hitam legam itu balas menatapnya, "Lee."
"Baiklah, Lee. Kau suka menonton film action?" Naruto menyeringai lebar, tidak tahan melihat wajah lugu pria yang masih terbengong-bengong di hadapannya. Ia mengeluarkan lencananya sebagai seorang agen, lalu menepuk pundak pria itu sekali lagi, "Anggaplah ini sebuah lokasi syuting, Lee. Begini skenarionya, kau sedang berada di sebuah kapal besar yang dibajak oleh sekelompok orang jahat! Karena kau tidak tahu teman-temanmu itu adalah mata-mata musuh atau bukan, kau harus bersikap normal dan hanya percaya padaku. Aku adalah agen rahasia pemerintah yang ditugaskan untuk menghentikan organisasi jahat itu, juga menyelamatkanmu. Lee… Kau akan membantuku menghentikan pembajakan kapal ini, oke?"
Lee masih terdiam, shock.
"Lee, apa kau mengerti?" tanya Naruto sekali lagi.
Akhirnya ia mengangguk kecil, membuat Naruto Uzumaki bernapas lega. Naruto berdiri lalu mengulurkan tangan pada Lee, membantunya berdiri dan memastikan ketakutan juga kepanikan pria ini telah memudar. Sepertinya caranya tadi cukup berhasil, Naruto merapikan pakaiannya sebagai awak kapal dan mengenakan topi untuk menyamarkan wajahnya. Berjalan dengan hati-hati, Naruto menoleh. "Pertama-tama, kita harus mencari daftar muatan kargo di kapal ini. Aku harus memastikan apa isinya."
Awak kapal yang bernama Lee ini mengangguk, "Ikut aku."
.
.
.
Private Jet, 20.15 PM
"Bersulang!" sahut beberapa penumpang sambil mengangkat gelas-gelas mereka, pria-pria berjas yang berada dalam jarak dekat saling mendentingkan ujung gelas masing-masing, lalu meneguk cairan itu hampir secara bersamaan.
Sebagian tenggelam dalam sofa empuk mereka, mendapat pelayanan kelas satu dari pesawat pribadi yang interiornya lebih mirip jika diibaratkan dengan hotel papan atas. Para pramugari cantik hilir mudik menuang minuman pada gelas-gelas mereka, lalu menyajikan menu pembuka bagi perut-perut yang lapar. Pria berambut abu ini memperbaiki letak kacamata bulatnya menggunakan jari tengah sambil menatap seorang tokoh penting yang duduk di hadapannya. Berada di ketinggian beberapa puluh ribu kaki dari daratan, ia berada sebagai salah satu tamu penting sang pemilik pesawat.
"Senang kembali ke Konoha, Tuan?" tanyanya pada pria itu.
"Aku lebih bersemangat ketika melihat pukul delapan pada jam tangan ini, karena saat yang kutunggu-tunggu tiba." ujarnya sambil meneguk cairan beralkohol dari gelas, "Titipkan pesan pada pemimpinmu, aku merasa tersanjung ketika ia setuju melibatkanku dalam proyek besar Akatsuki."
"Itu sudah sepantasnya, kami memang membutuhkan orang sehebat Anda untuk mendirikan Konoha yang baru," Kabuto menambahkan, "Senang bekerjasama denganmu, Pak Menteri."
Tentunya sebelum menculik Sora, Akatsuki telah mempersiapkan segala kemungkinan. Termasuk kemungkinan bahwa Sora akan menolak bekerjasama dengan mereka, sebagai gantinya Tobi memilih salah satu menteri Konoha untuk dijadikan partner. Menteri Perhubungan tentunya, yang akan berurusan dengan para delegasi dan berpengaruh setelah Sora ditembak mati. Agar rencananya mulus, sang menteri pasti telah berhubungan dengan sejumlah orang dalam untuk menyukseskan rencana Akatsuki. Saat ini, ia berada dalam sebuah perjalanan menuju Konoha, dan akan tiba beberapa saat lagi. Kabuto menyeringai, mengingat laporan anak buahnya sesaat sebelum pesawat berangkat.
"Kapal muatan telah berangkat tepat pukul delapan." Ia menyambung perkataannya pada sang menteri, "Sesaat lagi, kita akan melihat sebuah revolusi dengan mata kepala sendiri. Kejatuhan kepemerintahan busuk, dan Anda sebagai orang terpilih; akan berada di atasnya. Anda bersama Akatsuki, bersama-sama kita akan menyukseskan Project Kyuubi."
"Ya. Aku sudah tidak sabar menyaksikan semua itu terjadi, menggenggam Konoha dalam tanganku." Pria itu mengatupkan telapak tangannya sambil menyeringai licik, lalu mengangkat lagi gelasnya di udara. Membuat Kabuto melakukan hal yang sama, "Mari bersulang untuk masa depan kita!"
.
.
Bersambung
.
.
.
Author's Note :
Chapter enam belas selesai dan akhirnya saya kembali dari hiatus! *untung masih sempat publish tepat waktu*. Sebagai pembuka saya kasih rangkuman cerita untuk me'refresh' ingatan kalian tentang cerita ini, lalu dilanjutkan tentang Itachi yang mulai beraksi (meski belum tahu peran dan identitasnya, yang pasti dia tahu Sasuke). Sasuke akhirnya berhubungan lagi dengan Naruto melalui Sakura, dan Naruto-Hinata terjebak di kapal muatan yang membawa senjata dalam jumlah besar. Naruto dibantu oleh Lee, disini saya masukin dia sebagai awak kapal. Terakhir ada Kabuto yang pergi ke Konoha bersama salah satu menteri pilihan Akatsuki (makanya dia nggak ada di hotel atau di pelabuhan). Tentang perkembangan Project Kyuubi, masa lalu Itachi dan nasib Sasusaku plus Naruhina akan saya bahas di chapter depan, jadi ikutin terus ya!
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho). Mohon maaf juga untuk chapter ini saya nggak bisa membalas satu per satu review seperti biasa, soalnya ini juga ngetik dikejar waktu, LOL.
Sampai jumpa di chapter depan! :D
-jitan-
