SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

.

.


Suna – 15 tahun yang lalu

"Hari ini cerah, langitnya terlihat sangat biru dan sedikit berawan. Ada empat ekor burung yang baru saja terbang melintas," ujarnya ketika kami berjalan berdampingan.

Katanya, musim ini adalah musim semi yang sangat indah. Bunga-bunga bermekaran dan tidak ada satu pun tanaman yang masih berupa kuncup, sepanjang jalan aku bisa mencium aroma bunga dan udara yang menyegarkan. Dia yang selalu membuka jendela kamarku setiap pagi dan mengajakku jalan-jalan di taman. Sepertinya itu sekitar pukul sembilan pagi, karena panas matahari belum terlalu menyengat kulit dan kami akan kembali menjelang makan siang. Setiap hari aku menanti kedatangannya untuk menghibur aktivitas kehidupanku yang terasa kosong.

Hanya dia satu-satunya anak yang kukenal dari sekian banyaknya orang dewasa di tempat ini. Orang dewasa itu sebagian mengaku sebagai dokter atau perawat, mereka silih berganti menjadi pendampingku disana. Setiap hari, setidaknya aku menghitung waktu yang kuhabiskan dalam gelap. Sudah sekitar 78 hari sejak pertama kali ia datang mengetuk pintu kamar dan mengajakku bicara, menyebut nama yang 'katanya' merupakan namaku. Namaku Itachi, entah benar atau tidak karena aku sendiri tidak tahu. Sudah 92 hari aku berada disini dan tidak ada satu pun yang mengunjungiku. Mungkin benar, aku ini anak yatim piatu seperti gadis itu. Kebodohan lainnya adalah; aku tidak tahu apa-apa, tidak ingat apa pun. Tapi selama 78 hari terakhir aku tidak pernah memikirkannya lagi.

Gadis itu mengaku bernama Konan, satu-satunya anak yang menjadi sahabatku dan rekan bicaraku. Menurutnya kami berusia sepantar, Konan adalah yatim piatu sejak lahir. Dia tidak tahu seperti apa wajah orang tuanya, dan menurutnya itu tidak terlalu penting. Kami cepat akrab, ia lembut meski kadang terkesan dingin. Katanya, ia memiliki rambut berwarna keunguan dan iris mata senada. Dia sendiri yang mendeskripsikan seperti apa wajahnya, termasuk mendeskripsikan rupa dari fisikku. Aku hanya bisa percaya padanya, karena aku ini buta. Dia akan menjawab setiap pertanyaan yang kuajukan tentang apa yang berhasil ia lihat, lalu aku akan membayangkannya. Anehnya, aku bisa membayangkannya. Mungkin karena dulu aku memang bisa melihat?

.

Hari itu, seperti biasa ia datang sekitar pukul setengah sembilan pagi dan membuka jendela kamar. Membiarkan cahaya matahari menyeruak masuk seperti apa yang ia gambarkan. Lalu biasanya ia akan menyeret kursi tamu dan duduk di sampingku untuk berbincang sebelum mengajakku berkeliling di taman. Tapi hari ini ia berbeda, sepertinya Konan hanya terpaku menatap sesuatu dari jendela. Aku tidak bisa melihat, hanya bisa merasakan dan membayangkan ia berpaling padaku dalam diam.

"Apa yang kau lihat, Konan?"

Tidak seperti biasanya, ia terdiam beberapa saat. Hening.

"Itachi," suaranya bergumam lembut dan kali ini aku merasa ia sudah berada di sampingku, "Sebentar lagi kau bisa melihat."

Aku tertegun, "Apa?!"

"Tadi di lorong aku mendengar salah satu dokter itu bilang, mereka akan melakukan operasi cangkok mata untukmu lusa. Sebentar lagi kau akan bisa melihat apa yang aku lihat, Itachi." katanya pelan, "dan kau tidak akan membutuhkan lagi mataku untuk membantumu melihat semuanya."

"Benarkah? Kalau begitu kau tidak perlu lagi repot-repot memapahku ke taman, Konan!" aku berseri-seri sekaligus merasa bersemangat karena aku bosan berada di kegelapan total seperti ini, "Bagus sekali, ini hebat! Kalau aku benar-benar bisa melihat, kita bisa berjalan bersama-sama. Aku juga bisa memperingatimu kalau jalannya tidak rata; seperti yang selama ini kau lakukan padaku. Aku tidak sabar menunggu lusa tiba, dan saat aku bisa melihat… Itu adalah keajaiban dari Tuhan!"

.

Hari penantian panjangku tiba, setelah menjalani proses operasi dan mataku ditutup selama beberapa hari… Hari ini mereka akan membukanya. Sebentar lagi aku bisa melihat! Rasanya bercampur aduk, antara penasaran, senang, sekaligus khawatir. Aku takut jika ini hanya harapan palsu, aku tidak ingin terus berada dalam kebutaan. Lembar demi lembar perban penutup diturunkan, seiring dengan detak jantungku yang berdetak sangat kencang.

Aku ingin melihat semuanya, melihat lingkungan yang selama ini kubayangkan. Termasuk melihat wajah Konan, bukan sekedar membayangkannya. Perawat itu telah menyelesaikan tugas membuka perban, dan dokter akhirnya mempersilakan aku membuka mata. Rasa perih dan rabun sesaat membayangi penglihatan sebelum pupilku menjadi fokus… Lalu aku bisa melihat, memandang sekeliling ruangan berwarna putih. Ada dokter dan perawat di sampingku, juga beberapa orang dewasa. Aku ingat jelas, seperti apa wajah orang-orang sekitar ketika aku memandang mereka, respon mereka terasa asing.

Ternyata… Dunia dalam bayanganku sebagian terlihat lebih indah, sebagian lagi tidak. Itu tidak penting lagi, karena mulai dari sekarang aku bisa melihat semua, secara nyata.

Kecuali Konan.

Aku tidak bisa melihatnya, dia tidak pernah lagi datang membukakan jendela setiap pukul setengah sembilan pagi. Hanya dari sebuah foto yang disimpan oleh bibi pengantar makan siang, aku bisa melihat seperti apa rupa wajahnya. Konan… Dia lebih cantik dari yang aku bayangkan selama ini, meskipun sama-sama bermata dan berambut ungu seperti yang ia deskripsikan. Dia tidak ada, dia pergi. Sehari setelah aku dioperasi dan tidak diperbolehkan untuk dikunjungi, ia diadopsi. Kudengar, orang tua angkatnya membawa Konan menuju Konoha karena pekerjaan dinas ayah barunya. Kami tidak sempat berpamitan, aku bahkan tidak pernah melihatnya secara langsung. Ada penyesalan… Kenapa aku tidak bisa bertemu lagi dengannya meski sekarang tidak lagi membutuhkan matanya untuk melihat?

"Apa ini bayaran dari keajaiban setelah aku bisa melihat?" tanyaku ketika melihat taman yang biasa diceritakan Konan setiap hari. Langitnya tidak secerah yang aku bayangkan, rumputnya tidak hijau seperti yang selama ini aku pikirkan, "Tidak sama. Meski sekarang kita sama-sama bisa melihat… Apa yang kau lihat berbeda dengan apa yang sedang kulihat saat ini, Konan."


.

.

.

SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 17 : RAISING HELL

.

.

Konoha - 20.05 PM

'Pemirsa, berikut adalah Headline News; baru saja terjadi ledakan hebat di gedung parlemen Konoha! Ledakan yang terjadi tepat pukul delapan tadi menghancurkan seperempat gedung pemerintahan yang terletak di pusat kota. Saat ini petugas keamanan sedang menetralisir lokasi, juga beberapa unit mobil pemadam kebakaran telah dikerahkan untuk memadamkan api. Belum diketahui secara pasti berapa korban yang jatuh dalam insiden ini, dan untuk sementara kami belum mendapat kepastian resmi tentang pelaku juga motifnya. Sekian berita dari kami, nantikan Headline News berikutnya."

Ia mengganti saluran televisi ke channel lain.

'Menurut salah satu anggota parlemen yang berhasil kami wawancarai via telepon, lokasi yang diledakkan adalah ruangan kerja juga ruang rapat untuk para petinggi Konoha. Diduga ini adalah tindakan radikal dari teroris-"

Pria ini menon-aktifkan televisi ukuran jumbo yang terpasang di dinding ruangannya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk berulang kali. Berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang kerja, pria paruh baya ini mengambil beberapa map berisi dokumen penting juga mantel hangat yang diletakkan di punggung kursi. Sementara ia mendengar dari arah pintu depan, beberapa orang telah menerobos masuk kediamannya dengan cara mendobrak paksa. Dalam waktu singkat beberapa petugas keamanan menemukannya seorang diri di ruang kerja itu, mereka menurunkan senjata lalu memberi hormat.

"Maaf mengganggu ketenangan dan masuk kemari dengan paksa." dari balik pasukan berseragam keamanan, muncul seorang pria berjas hitam dengan plakat lambang Konoha. Ia memberi hormat singkat sebelum melanjutkan, "Lapor! Saat ini gedung parlemen diserang oleh teroris, kami ditugaskan untuk menyelamatkan seluruh petinggi Konoha yang bisa dihubungi. Sebaiknya Anda juga ikut dengan kami menuju safe house, Tuan Danzo."

Pria ini hanya mendengus dan memegang dagu, seperti berpikir. "Dimana Hokage berada?"

"Beliau juga sudah diamankan sesuai prosedur keamanan negara," ujar pria itu lagi, "Tempat ini tidak aman, Tuan. Sebisa mungkin saya akan menjelaskan di perjalanan, jadi mari ikut saya sekarang."

Danzo hanya mengangguk.

.

.

'BERSORAKLAH KARENA INI HARI PENGHAKIMAN BAGI KONOHA!

INI AWAL MULA TERBONGKARNYA KONSPIRASI.

SAATNYA MENUAI APA YANG KAU TANAM; KEBUSUKAN, KEBENCIAN, DAN KEBOHONGAN.

RAISING HELL… KALIAN MENCIPTAKAN NERAKA DI NEGARA SENDIRI.'

.

Pria paruh baya yang berhubungan dekat dengan Hokage ini masih terpaku membaca kalimat tersebut. Danzo sedang berada dalam perjalanan menuju tempat aman yang telah disiapkan pemerintah Konoha akibat peristiwa ledakan beberapa saat yang lalu. Ia tidak dapat menutupi ketakutan, jemarinya bergetar saat membaca kata demi kata dari surat misterius yang diterima oleh setiap petinggi Konoha. Danzo memejamkan mata dan larut dalam pikirannya sendiri, tanpa sadar ia terkekeh kecil. Para petugas keamanan yang mendampinginya melirik, namun tidak ada satu pun yang berani bertanya. Kecuali sang pemimpin yang berada di samping kemudi.

"Tuan Danzo, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya.

"Raising hell," Danzo bergumam, berhenti terkekeh.

"Anda jangan khawatir, Tuan. Pihak intelejen dan keamanan telah memulai investigasi tentang-"

"Aku jadi penasaran…" potong Danzo seraya mengalihkan pandangan dan menatap jendela, "Kira-kira siapa malaikat pencabut nyawa yang akan datang untuk menghakimiku di hari penghakiman, ya?"

.

.


Konoha's Central Office - Security Division, 20.10 PM

Kantor divisi keamanan Konoha terletak di sebelah barat gedung parlemen, ledakan yang terjadi sekitar sepuluh menit lalu itu membuat tanah juga kaca-kaca di sekitar terasa bergetar. Keadaan berubah menjadi ricuh, terutama karena divisi keamanan menjadi salah satu divisi yang karyawannya terkenal 'tidak pernah tidur' dan terbiasa bekerja lembur demi membantu para agen lapangan yang bertugas. Para pekerja di dalam ruangan berteriak dan kepanikan terjadi beberapa detik setelah terdengar bunyi dentuman cukup keras dari arah gedung parlemen. Mereka berlomba-lomba menyelamatkan diri, berlarian di koridor yang kini berubah menjadi lautan manusia.

Namun, sebesar apapun ketakutan yang mereka rasakan, semuanya berjalan sesuai dengan simulasi bencana yang sudah sering mereka lakukan. Kepanikan dan bertindak gegabah hanya akan membawa mereka satu langkah mendekati bahaya, jadi sebisa mungkin mereka tetap tenang dan secara bergiliran keluar dari gedung sesuai prosedur keamanan yang telah disimulasi beberapa kali. Berbeda dengan yang lain, Shikamaru tidak beranjak dari kursinya. Dia justru melacak semua rekaman CCTV yang masih berfungsi di lokasi dekat gedung parlemen yang sebagian luluh lantak. Gedung dengan pengamanan ketat juga CCTV bertebaran seperti ini tidak semudah itu diledakkan, ia merasakan adanya kejanggalan.

Mungkin semuanya sudah diatur? Bukan tindakan teroris atau orang luar?

.

"Shikamaru! Semua personil diharapkan keluar dari ruangan, mungkin masih ada beberapa peledak yang dipasang di beberapa titik," sahut seorang pekerja gemuk yang masih membereskan berkas-berkas sebelum keluar dari ruangan, "Kau juga! Cepat bereskan semua data penting lalu keluar sampai petugas selesai memeriksa tiap ruangan!"

"Pergi saja duluan, aku masih bertugas disini." Shikamaru menanggapi dengan santai, "Terlalu merepotkan harus antri di koridor sesak itu."

Rekan kerjanya mendengus dan bergegas keluar ruangan sebelum Shikamaru memanggilnya, "Hei, Choji! Tangkap ini!" Pria gemuk itu menoleh, dan secara refleks menangkap sebuah tas selempang kecil yang biasa digunakan oleh Shikamaru untuk bekerja.

"Bawa tas itu, Choji. Di bawah kau akan bertemu tunanganku; Ino Yamanaka dari divisi legal. Berikan tasku, lalu bilang padanya agar ia segera pulang. Aku masih harus bekerja disini," Shikamaru berdiri seraya menunjuk-nunjuk tas yang telah berpindah tangan. Choji mengangguk singkat, tanda setuju. "Terima kasih! Aku akan mentraktirmu roti isi, Choji!"

"Deal." Choji mengacungkan jempolnya, "Kau berhutang roti isi padaku, Shikamaru. Dua porsi."

Shikamaru hanya mampu menggelengkan kepala ketika Choji tergopoh-gopoh keluar dari ruangan dengan tangan penuh berkas sambil mengalungi tas miliknya. Perhatiannya teralih, ia kembali meneliti rekaman CCTV sebelum mendapat panggilan masuk dari line Suna.

.

"Shikamaru, ini Naruto! Aku dan Hinata berada di laut lepas dekat pelabuhan Suna, saat ini kami terjebak di kapal muatan dan sepertinya Akatsuki menyelundupkan senjata dalam jumlah besar. Sekarang kami berpencar untuk mencari daftar muatan dan memastikan isinya," suara Naruto terdengar sedikit kecil karena deru angin di sekitarnya, "Kami tidak sendirian, ada beberapa mata-mata yang menyusup dan berpakaian sebagai petugas. Aku butuh bantuanmu."

"Tunggu sebentar," Shikamaru segera mengetikkan sesuatu pada keyboardnya dengan kecepatan luar biasa, "Ketemu! Aku sudah menemukan posisi kalian berdua dari satelit, Naruto. Waktumu sekitar satu setengah jam untuk menemukan barang bukti, itu waktu yang kubutuhkan untuk mengirimkan bantuan satu unit helikopter dengan beberapa pasukan. Saat ini beberapa unit dikerahkan untuk mengamankan beberapa delegasi penting Konoha."

"Baiklah... Eh?! Tunggu." Naruto tampak ragu, "Apa yang sedang terjadi disana?!"

Shikamaru diam sesaat, dia tidak ingin agen lapangan tersebut khawatir tentang serangan teror yang baru saja terjadi. Tapi menurut instingnya, peristiwa ini berkaitan satu sama lain. "Konoha diserang, mereka meledakkan Sektor A gedung parlemen dan mengenai ruang kerja para petinggi. Sepertinya… Ini ada kaitannya dengan Akatsuki, meski aku belum mendapat bukti apa-apa."

"A-APA?!"

"Tenanglah Naruto, saat ini semua aman terkendali." Shikamaru menenangkan.

"Ah-ya, semoga semuanya baik-baik saja. Satu lagi; Sakura-chan selamat, ia yang mengabari aku soal muatan Akatsuki... Dan ada kemungkinan ia memiliki informasi lain. Sai masih ada di pelabuhan Suna, kau bisa mengontaknya. Kabari aku jika terjadi perkembangan di Konoha, berita baik maupun buruk."

"Copy that. Waktumu satu setengah jam, hubungi aku kalau kau sudah menemukan sesuatu. Aku akan segera menghubungi Pak Kakashi, beliau masih mengurus tugas darurat untuk mengamankan para petinggi negara. Berhati-hatilah, Naruto… Hinata."

.

.


Suna - Akatsuki Mansion, 20.17 PM

'Pukul 20.00 telah terjadi ledakan hebat di gedung parlemen Konoha, serangan tersebut menghancurkan seperempat gedung pemerintahan. Hingga saat ini belum diketahui berapa korban jiwa maupun penyebab ledakan, juga belum ada keputusan resmi dari pemerintah tentang hasil tim investigasi setempat. Namun diduga ini berasal dari teroris radikal yang menuntut revolusi kepemerintahan.'

"Teroris…" gumam pria berambut hitam itu seraya terkekeh, sambil mendengarkan berita dari layar monitor ia meletakkan topengnya di pangkuan. Di tangannya ia memegang sebuah gelas wine yang dikecapnya perlahan, "Bahkan mereka memiliki teroris di dalam hierarki kepemerintahan mereka sendiri. Kau lihat? Dengan mudahnya beberapa petinggi itu mengkhianati Konoha, demi kekuasaan dan uang berlimpah. Para budak uang seperti mereka tidak sentimentil atau berjiwa kepahlawanan layaknya dirimu, Sora. Pilihanmu untuk mati adalah sia-sia."

Bocah berusia sepuluh tahun itu berdecih, ia merasa jijik. Dirinya masih bebas duduk dan kedua tangannya tidak diikat. Bagi Akatsuki tubuh kecilnya tidak memiliki kekuatan apapun, kecuali otak jenius dan umur yang abadi. Obito Uchiha belum berniat mengeksekusi mati Sora, karena ia harus menyaksikan sendiri dampak dari keputusannya menolak ajakan Akatsuki. Dan bagi Sora yang memiliki harga diri tinggi, ini juga berarti penghinaan. Bersama Sora di pihaknya atau tidak, Tobi ingin membuktikan bahwa rencana Project Kyuubi terus berjalan menuju kemenangan. Akatsuki akan mengambil alih komando kepemerintahan Konoha dari balik layar, mengubah negara berdaulat itu menjadi penuh ancaman dan teror.

"Pertama-tama, kami meledakkan gedung parlemen Konoha. Dalam keadaan genting mereka akan mengamankan para delegasi juga sang Hokage di safe house, dan saat semuanya masih berlanjut sesuai prosedur… BOOM! Ledakan akan terjadi lagi. Perhatian masyarakat semakin terpecah dan perlahan kepercayaan mereka luntur." Tobi lagi-lagi terkekeh, "Lalu… Selanjutnya akan bagaimana, Sora? Otak jeniusmu itu mengatakan, apa rencanaku selanjutnya?"

Sora balas menatapnya, geram. "Menciptakan ketakutan masyarakat… Kau, akan menyebarkan teror dan secara tidak langsung membuat rakyat tidak percaya pada pemerintah. Singkatnya, kau gila!"

"Tepat!" Tobi menyahut dengan nada sarkastik lalu bertepuk tangan, "Satu per satu peristiwa lima belas tahun akan terungkap, termasuk tentang dirimu yang terikat dalam siklus kebohongan mereka selama ini. Lalu masyarakat akan menuntut keadilan juga kebenaran sebenar-benarnya… Mereka mungkin akan menaruh simpati padamu, si makhluk abadi yang dimanfaatkan selama tujuh belas tahun…" kemudian Tobi mencondongkan tubuhnya ke depan sambil berbisik, "dan saat itu terjadi… Seluruh penduduk Konoha akan menyaksikan secara langsung saat-saat kau dieksekusi. Detik-detik dimana wajah aroganmu ditutupi oleh kain, laras pistol itu menempel pada pelipismu… Lalu saat pelatuk ditarik, kau mati. Tertembus peluru."

.

.


Konoha's Central Office – Sector A, 20.30 PM

Tiga puluh menit setelah ledakan terjadi, beberapa unit pemadam kebakaran masih memadamkan sisa-sisa nyala api yang menguasai sisa-sisa gedung parlemen. Mereka dibantu oleh beberapa unit helikopter yang menembakkan air dari udara, sementara beberapa regu elit juga penjinak bom dikerahkan untuk menyisir lokasi kejadian. Menurut informasi, ada beberapa petinggi Negara Konoha yang dikabarkan tengah mengadakan rapat saat insiden berlangsung ,dan hingga kini tidak diketahui nasib mereka. Sang komandan regu berjalan beriringan menyusuri kepulan asap di dalam gedung, mengenakan seragam keamanan dan pelindung kepala lengkap dengan visor, satu per satu menginjak gedung parlemen yang kini telah berubah menjadi reruntuhan.

"Disini HQ, lapor posisi kalian masing-masing." Dari alat transmisi yang tersambung pada tiap anggota regu, Kakashi Hatake sebagai pemimpin langsung operasi memandu anak buahnya di lapangan.

"Alpha kepada HQ; kami telah memasuki Sektor A." ujar sang komandan regu yang masih menyinari tiap sudut ruangan dengan senter pada helmetnya, disana gelap dan hening. Keadaan berasap membuat penyisiran lebih sulit dilakukan, perlahan tapi pasti mereka mengelilingi tiap sudut ruangan sebelum memasuki ruang berikutnya. "Negative. Disini tidak ada tanda-tanda kehidupan, kami meminta izin untuk melanjutkan pencarian ke titik berikutnya, over."

"Copy that. Lanjutkan pencarian, Alpha."

.

.

Dari balik meja kerja yang ditumpuki berkas-berkas, Kakashi duduk dan membenamkan wajahnya dengan kedua tangan. Satu per satu beban bertambah di pundaknya, pekerjaannya sebagai kepala divisi keamanan negara terasa sangat berat. Insiden peledakan gedung parlemen membuat warga cukup cemas, sedangkan pemerintah cukup kerepotan menjawab hantaman pertanyaan dari media massa yang sejak tiga puluh menit lalu terus menanyakan kabar terkini. Belum lagi gempuran para reporter dan wartawan yang telah memadati gedung depan parlemen, meskipun telah diantisipasi dengan barisan blokade oleh sejumlah petugas. Nyawa Hokage yang menjadi prioritas telah diamankan, kini giliran para petinggi Konoha, lalu mencari penyebab teror yang meresahkan rakyat.

Sepersekian detik kemudian ia melihat ada sesosok pria yang berdiri di depan pintu dan tampak enggan mengetuk; Shikamaru. Kakashi mengangguk dan mempersilakan tangan kanannya dalam misi Project Suna itu masuk untuk melapor, sementara matanya melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dengan wajah sedikit lelah ia mulai bertanya, "Bagaimana, Shikamaru? Ada perkembangan dari Suna?"

"Lapor, Pak Kakashi! Saat ini Naruto dan Hinata berada dalam sebuah kapal kargo yang menyelidiki muatan Akatsuki menuju Konoha, mereka meminta bantuan pasukan apabila menemukan barang bukti. Pihak Akatsuki sepertinya menyuap beberapa awak kapal sebagai kaki tangan mereka, dan mereka bersenjata." Shikamaru melapor setelah memberi hormat, "Sakura Haruno selamat dan ia yang memberi informasi mengenai muatan selundupan Akatsuki. Saya sudah mengontak Sai dan ia dalam perjalanan menuju Vega Sun motel, sesuai koordinat dimana mobil Kabuto ditemukan."

"Hmm… Sakura Haruno selamat?" Kakashi mengangguk-angguk, pandangannya sekilas menerawang seperti memikirkan sesuatu, "Dia dijadikan tawanan oleh Sasuke dan bisa selamat? Shikamaru, coba kau lacak keberadaan Sakura! Cari posisinya dan kabari Sai, aku merasa ia memiliki informasi penting tentang Akatsuki. Segera kabari aku jika terjadi kontak antara Sai dan Sakura, sekarang kau boleh pergi."

.

Shikamaru mengangguk, namun tidak beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Sikapnya yang sedikit ragu itu tertangkap oleh mata Kakashi, pria dengan penutup wajah ini menanggapi dengan bersandar pada kursi kerjanya, "Ada hal lain yang mau kau sampaikan?"

"Ini mengenai... Ledakan di sektor A, Sir. Apa ini ada hubungannya dengan kasus Sora?" Shikamaru enggan, namun akhirnya pria ini duduk berhadapan dengan supervisor-nya, "Dan saya merasakan ada kejanggalan, karena sektor A memiliki perlengkapan keamanan yang cukup canggih. Rasanya... Tidak mungkin semudah itu sebuah peledak diletakkan oleh orang asing."

"Aku juga berpikir demikian, tapi kita belum punya cukup bukti untuk menuduh orang dalam sebagai pelakunya. Tentang kasus Sora... Aku akan menceritakannya padamu, tapi ini sebuah rahasia, Shikamaru... Sora memiliki keistimewaan yang bisa dimanfaatkan Akatsuki. Jika ia berpihak pada Akatsuki, maka meruntuhkan perekonomian Konoha dapat diibaratkan seperti membalikkan telapak tangan; sangat mudah." Kakashi berdeham lalu menunjukkan secarik kertas pada bawahannya itu, "Ini adalah surat misterius yang beredar di kalangan para petinggi Konoha, sumbernya tidak terlacak. Mereka berniat menghancurkan Konoha dengan ancaman membongkar konspirasi, dan sepertinya... Ini ulah Akatsuki. Aku berpikir surat ini mengarah pada satu kasus besar yang berusaha ditutupi Konoha selama lima belas tahun, kasus yang juga menyeret nama Sora."

Jantung Shikamaru berdegup kencang, sepertinya ini memang berhubungan. Terlebih lagi, ia mengingat data-data yang ditemukannya setelah menjebol data arsip pemerintah. Dia tidak ingin mengatakannya, tapi hanya ini satu-satunya cara memancing atasannya memberikan informasi lebih, "Eh... Mungkinkah itu... Insiden Pemurnian Uchiha?"

Ekspresi Kakashi Hatake menegang, sepertinya Shikamaru berhasil memancing respon atasannya.

"Ba-Bagaimana kau bisa tahu?" Kakashi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, "Dengarkan aku, Shikamaru! Aku tidak tahu kau mendapatkan informasi ini darimana atau bagaimana caranya, tapi jangan kau katakan pada siapa pun. Peristiwa itu adalah konspirasi yang berkaitan dengan... Mimpi buruk. Hampir seluruh petinggi Konoha yang memiliki pengaruh dengan Hokage berkaitan dengan kasus itu, termasuk Sora, dan Sasuke Uchiha. Para petinggi yang menerima surat ini sedang gusar karena nyawa mereka diincar. Jangan pernah mengatakannya lagi pada siapa pun, bias-bisa kau ikut terseret. Pastikan aku orang terakhir yang mendengarnya, mengerti?"

"Yes, Sir!" sahut Shikamaru seraya menghormat, lalu kembali ke ruang kerjanya. Dugaannya benar, kasus ini berkaitan dengan top secret Konoha lima belas tahun yang lalu. Peringatan Kakashi membuat rasa penasarannya lebih besar, apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu? Dan apa kaitannya dengan Akatsuki?! Shikamaru sadar data yang ia peroleh sebelumnya terlalu minim, namun ia menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati, sambil bersumpah ia akan mencari tahu tentang faktanya.

.

.

.


Suna, Vega Sun Motel – 20.40 PM

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dari pelabuhan menuju lokasi dimana mobil Kabuto berada, Sai sampai di depan pintu masuk Vega Sun Motel menggunakan taksi. Karena Hinata dan Naruto tengah berada di kapal kargo untuk menyelidiki muatan, sang pemimpin tim berinisiatif untuk mendatangi koordinat mobil Akatsuki. Berjalan dengan hati-hati di sepanjang pelataran parkir sambil mengecek satu per satu kendaraan dengan plat nomor yang diingat oleh Hinata Hyuga, tiba-tiba Sai menunduk dan menyembunyikan diri di balik jejeran mobil.

Dari arah pintu samping motel tampak siluet dua orang tengah berlari mendekati lokasi parkir, dan yang membuatnya terkejut… Sai menangkap siluet Sakura Haruno bersama seorang pria. Dari data yang ia dapatkan melalui Shikamaru... Wajah pria itu tak lain adalah anggota Akatsuki yang menyandera anak buahnya; Sasuke Uchiha. Sakura bersama Sasuke Uchiha?! Sebisa mungkin Sai tetap tenang, bersembunyi sambil terus mengamati anak buahnya bersama musuh. Beruntung tempat persembunyiannya ini cukup gelap dan tubuhnya yang berada di balik pintu mobil juga tertutup oleh bayangan pohon. Keduanya tanpa curiga berjalan melewati lokasi persembunyian agen Konoha ini, dan setelah menghitung beberapa hitungan, tanpa pikir panjang Sai segera mengikuti jejak mereka.

Menyiapkan sepucuk senjata dari holsternya, Sai melihat dua orang itu menyeberangi jalanan dan berlari-lari kecil menuju blok seberang. Ia mengambil jarak aman dan membuntuti Sakura. Setelah sukses membuntuti hingga melewati dua blok jalan, dari kejauhan Sai melihat ada sebuah motor berwarna putih yang terparkir. Merasa Sakura dan Sasuke berjalan menuju kendaraan tersebut, terlambat sedikit saja maka keduanya akan menghilang. Karena Sai tidak memiliki kendaraan untuk mengejar mereka, dengan terpaksa ia harus mengambil langkah berani.

"BERHENTI!" sahutnya dengan lantang. Keduanya mendadak terpaku dan tidak sempat membalikkan tubuh, "ANGKAT TANGAN KALIAN, LALU BERBALIK PERLAHAN! SEKARANG!"

Keduanya melakukan hal yang diinstruksikan Sai, lalu perlahan-lahan memutar arah tubuh mereka. Pupil Sakura membesar setelah melihat Sai ada di hadapannya, ternyata ia dipergoki oleh anggota timnya sendiri. Tanpa sadar kewaspadaannya melonggar dan Sakura sedikit menurunkan tangan.

.

"Angkat tanganmu, Sakura Haruno!" hardik Sai sekali lagi, lalu perhatiannya teralih pada Sasuke, "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa bersama anggota Akatsuki?!"

"Te-tenanglah… Ceritanya panjang, Sai!" Sakura berusaha menjelaskan tapi bingung harus memulai darimana, "Sasuke- Sebelumnya dia memang menjadikan aku tawanan, tapi ternyata Akatsuki juga mengincar nyawanya. Dia sekarang menjadi buronan Akatsuki, dan kami berdua bermaksud menghentikan rencana Akatsuki untuk Konoha. Sasuke Uchiha bukan ancaman bagi kita, percayalah padaku! Aku akan menjelaskan semuanya, jadi… Sai, kumohon turunkan pistolmu."

Sai tersenyum sinis dan sama sekali tidak melonggarkan kesiagaannya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi bagi Konoha... Semua yang berkaitan dengan Akatsuki harus dilenyapkan. Ini perintah."

Sakura Haruno merasa perlu mencairkan suasana, ia maju selangkah dan hal itu membuat Sai secara otomatis mengarahkan senjata padanya. Saat itu terjadi, kesiagaan pada Sasuke Uchiha berkurang. Sasuke mengambil kesempatan untuk menarik senjatanya keluar dari jaket. Ia balas membidik Sai, sama-sama membidik membuat keadaan ketiganya menjadi semakin tegang.

"Turunkan senjatamu!" Sai menatap pria Uchiha itu, keduanya mengarahkan senjata masing-masing pada lawan. Bukannya gentar, Sasuke sepertinya terbiasa dengan situasi semacam ini.

"Hn?" Sasuke Uchiha tidak bergeming dengan perintah sang agen Konoha, "Aku bisa mengatakan hal yang sama untukmu, bodoh. Turunkan senjatamu atau kau akan mati tertembak. Begitu, kan?"

Keduanya tetap mengacungkan senjata, tidak ada yang berniat mengalah.

.

"Sasuke, Sai! Hentikan!" Sakura masih berusaha melerai dua pria yang sedang membidik kepala lawannya dengan senjata api, "Kubilang hentikan! Sementara kita berdebat disini, rencana Akatsuki terus berlangsung dan itu berarti Konoha selangkah menuju kehancuran. Jangan konyol, turunkan senjata kalian berdua! Sasuke, dia pemimpin regu tim Proyek Suna, Sai bukan musuh. Dan kau… Sai, kalau kau membunuh Sasuke sesuai dengan misi Konoha... Itu adalah kesalahan besar. Diantara kita hanya dia yang tahu markas Akatsuki berada!"

Sai terdiam beberapa saat sambil menelaah perkataan Sakura dan menimbang nilai misinya. Misi adalah misi, dia tidak ingin kejadian Asuma terulang... Tapi harus diakui, Sasuke Uchiha adalah satu-satunya kesempatan tim Suna menemukan markas Akatsuki dan menyelamatkan Sora. Benci mengatakannya, tapi keberadaan Sasuke Uchiha berguna bagi kelancaran misi Proyek Suna. Perlahan, ia melonggarkan bidikan lalu menurunkan senjata. Melihat lawannya mengendur, akhirnya Sasuke melakukan hal yang sama sementara Sakura Haruno menghela napas.

Ketiganya terdiam.

"Untuk sementara aku tidak akan membunuhmu," kata Sai sambil menatap Sasuke yang hanya menyeringai sinis, lalu ia berpaling pada Sakura "dan kau, Sakura. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Akatsuki dan pria ini, semuanya."

.

.


Di tengah jalan raya yang gelap dan sepi itu Sakura menceritakan kronologis cerita ketika ia menyerahkan diri sebagai tawanan Sasuke, dan pria ini tidak membawanya ke markas Akatsuki melainkan ke tempat persembunyiannya. Organisasi gelap itu mengambil kesimpulan bahwa Sasuke berkhianat dan mereka mengirim Kisame Hoshigaki untuk membunuh Sasuke. Setelah berhasil mengalahkan kelompok Hoshigaki dan melarikan diri, Sakura menjelaskan bahwa Sasuke kini berada di pihak netral. Ia tidak membela Konoha maupun Akatsuki, akan tetapi tidak setuju dengan rencana mantan organisasinya; Project Kyuubi.

Dari data-data yang didapatkan di Vega Sun motel, Akatsuki berencana menyelundupkan senjata api dan peledak dalam jumlah besar menuju Konoha. Dan setelah melihat tayangan televisi tentang peristiwa peledakan gedung parlemen , Sasuke yakin ini adalah awal permulaan rencana mereka. Pria Uchiha ini sempat mencuri dengar pembicaraan sang pemimpin Akatsuki dengan Kabuto tentang rencana 'kembang api' di malam Konoha; sebuah konotasi yang merujuk pada peristiwa saat ini. Sai mendengarkan penjelasan Sakura dengan seksama, sementara Sasuke menjauh dari kedua agen Konoha itu menuju tempat ia memarkir kendaraannya.

"Kau yakin dia bisa dipercaya?" tanya Sai sambil melirik ke arah Sasuke, ia masih menyangsikan kenyataan bahwa mantan anggota Akatsuki tersebut berniat untuk menunjukkan jalan menuju markas Tobi, "Dia seorang Akatsuki, dan nyatanya membenci Konoha."

Sakura tanpa ragu menganggukkan kepala, "Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Sai."

"Huh. Tidak ada kesempatan kedua jika kau salah menilai dan itu yang menyebabkanmu mati sia-sia." balas Sai dengan nada seperti mencemooh, "Tapi untuk sementara, pria itu berguna untuk misi kita."

Ucapan keduanya terhenti oleh deru mesin dari motor yang dikendarai Sasuke kini mendekat dan berada di belakang Sakura Haruno.

.

"Sudah selesai?" tanyanya dari balik kemudi sambil menyiapkan helm untuk Sakura, "Kita tidak punya banyak waktu untuk bercerita ini-itu, besar kemungkinannya Tobi juga akan membunuh Sora. Naiklah, kita berangkat sekarang."

Sakura menerima helm dari pria Uchiha itu sementara Sai tampak tidak setuju anak buahnya bersama Sasuke, setidaknya ia berpikir sebaiknya mencari kendaraan lain dan mereka berangkat bersama. Akan lebih aman jika mereka datang bertiga dibandingkan terpisah, itu menurut pemikiran Sai. Namun belum sempat ia mencegah Sakura naik ke boncengan, satu tangan kanan Sasuke terulur ke depan seperti menahan Sai mengatakan sesuatu, "Hei, bung. Cari kendaraan lain, Sakura bersamaku."

"Ya, tapi bukankah lebih mudah kalau kita berangkat bersama-sama?" Sai beragumen.

"Naik mobil menuju Akatsuki Mansion? Terlalu beresiko, lagipula kita bukan sedang piknik." perkataan sarkastik terus menerus dilontarkan pria berdarah Uchiha ini. Beberapa saat kemudian Sasuke menunjuk sebuah garasi di dekat tempat ia menaruh motor, "Disana gudang penyimpanan motor dirt bike, gemboknya sederhana. Mencuri sebuah motor tidak akan terlalu sulit untukmu kan, Agen Konoha?"

Sai hanya tersenyum sinis tanpa menggubris perkataan Sasuke, ia berjalan menuju gudang untuk 'memilih' kendaraannya sendiri. Sambil menunggu atasannya mengambil motor, Sakura naik ke bangku penumpang lalu melingkarkan kedua tangannya pada tubuh pria beriris onyx tersebut. Dia merasa bimbang, ada ketakutan tersendiri di benak Sakura Haruno mengingat sebentar lagi ia akan menuju markas Akatsuki. Bukan rasa takut bagaimana seandainya ia mati tertembak, Sakura lebih mengkhawatirkan keselamatan Sasuke. Rencananya serupa dengan menyerahkan diri dengan cuma-cuma terhadap kelompok yang mengincar nyawanya.

Sepertinya pria ini menyadari Sakura tengah mematung dan tidak fokus, ia balas mendekap punggung tangan Sakura yang melingkari tubuhnya. Sentuhan sederhana itu membuat Sakura terhenyak, ia tersadar dari lamunan. Mata emerald itu menatap Sasuke yang memunggunginya.

"Takut?" ujar pria itu tiba-tiba.

"A-eh? Ti-tidak kok," Sakura menghela napas dan berusaha memerangi ketakutan tak berdasar itu dengan rasa yakin, "Aku baik-baik saja, hanya memikirkan sesuatu."

"Sepertinya kau khawatir karena kita akan menyerbu markas Akatsuki."

Ucapan terang-terangan dari Sasuke membuat Sakura Haruno terdiam. Sementara Sasuke merasa tebakannya tepat, tanpa melepaskan dekapannya pada punggung tangan Sakura, ia masih berusaha menenangkan wanita itu. "Hn... Jangan khawatir," Sasuke melirik, dia bisa merasakan Sakura tengah memandangnya lalu sekilas mengangguk.

"Aku pasti akan melindungimu, Sakura."

.

.

.


Konoha – Safe House, 21.00 PM

Gedung dengan luas bangunan sekitar 15.000 meter persegi yang disebut-sebut sebagai Safe House Konoha ini mendadak menjadi riuh oleh kedatangan beberapa orang penting dengan sejumlah petugas keamanan elit bersetelan hitam. Para petinggi negara yang berhasil dihubungi kini diamankan, mereka turun dari mobil dengan pengamanan ekstra. Tentara Konoha terlihat dimana-mana, mereka berjejer dengan senjata lengkap menjaga pintu gerbang karena prioritas keamanan sebagian tercurah di tempat ini. Danzo baru saja sampai di lokasi setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit dari kediamannya, turun dari mobil membawa berkas-berkas penting diapit oleh dua agen keamanan, akhirnya pria paruh baya ini memasuki ruangan.

"Selamat datang, Tuan Danzo." tampak seorang agen wanita berada di ambang pintu dan menyambutnya, "Para petinggi lainnya sudah berada di ruang rapat, mereka menunggu Anda."

Danzo mengangguk dan membiarkan wanita itu berada di depan untuk menunjukkan arah. Sementara mereka berjalan menuju ruang rapat, wanita itu menjelaskan beberapa informasi yang ia dapatkan dari pusat. Ada beberapa petinggi Konoha yang dinyatakan menghilang dan belum diketahui keadaannya karena pukul delapan malam mereka masih mengadakan rapat di gedung parlemen, sementara Menteri Perhubungan Konoha masih berada dalam perjalanan pulang dari Suna bersama delegasi penting. Mereka tiba di depan sebuah pintu kayu yang terkunci dengan sistem khusus. Sang agen wanita itu menekan nomor kombinasi pada pintu lalu mendorong double door di hadapannya, memperlihatkan deretan kursi yang mengelilingi sebuah meja besar dan para petinggi Konoha tengah duduk disana.

.

"Tuan Danzo!" beberapa petinggi yang melihat batang hidung Danzo mendadak berdiri, "Kau juga dapat surat misterius itu? Siapa pelakunya?!"

Sahutan-sahutan lain menanyakan hal serupa terdengar.

"De-dengar, aku tidak pernah berniat terlibat dengan kasus itu. Sungguh!" seorang wanita di sisi lain tampak kalut sambil menggenggam erat surat ancaman itu pada tangannya, "Kita harus cepat mencari pelakunya! Aku tidak mau mati, a-aku punya keluarga yang kucintai… Anakku menangis ketika aku dibawa kesini, dan-"

Ucapannya terhenti oleh isak tangis yang tak terbendung, keadaan di dalam ruang rapat terlihat ridak kondusif. Danzo duduk di tempat yang telah disediakan, ia mengeluarkan secarik kertas yang tak lain berupa surat misterius tentang ancaman membeberkan konspirasi dari kubu Konoha. Pria ini menunjukkan kertas itu kepada rekan-rekan lain dan seluruh pandangan beralih padanya. Danzo berdeham, "Kita semua mungkin mendapatkan surat ancaman seperti yang kupegang, tapi kuperingatkan; jangan takut apalagi bertindak bodoh. Ruang rapat ini akan kita gunakan untuk memerangi tindakan teroris, atau siapa pun yang telah melakukan ini. Apa kalian sepaham denganku?"

Hampir seluruh petinggi Konoha yang hadir menganggukkan kepala saat Danzo beranjak bicara. Pria yang memiliki kedekatan dengan Hokage ini lantas berdiri sambil merobek-robek surat ancaman itu, lalu melemparnya setelah menjadi serpihan kecil. Robekan kertas itu beterbangan di udara sebelum akhirnya jatuh tergeletak di atas lantai. Danzo tahu bagaimana cara menumbuhkan semangat berapi-api di kubu Konoha. Dia berdiri dengan yakin sementara seluruh mata tertuju padanya, "Jika Konoha bisa menghentikan kejadian lima belas tahun silam, kali ini kita juga pasti bisa melewatinya. Buang isak tangis kalian karena semua itu tidak ada gunanya. Raising hell? Che, sebelum mereka menciptakan neraka di negara ini, kita yang akan mengirim mereka lebih dulu ke neraka!"

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter tujuh belas selesai! Yaah sebelumnya saya ucapkan selamat berpuasa buat yang menjalankan, maaf telat ngucapin (nggak sempat bilang di chapter kemarin nih). Seperti yang sudah kalian baca, chapter ini dibuka dengan masa lalu Itachi dan bagaimana caranya dia kenal Konan. Sebenarnya kalau mau dijelaskan lebih detil, masa lalu Itachi cukup panjang, untuk chapter depan saya sedang berpikir untuk membuat satu chapter bonus tentang Itachi dan masa lalunya. (tapi tergantung readers, kalau menurut kalian kurang menarik ya saya nggak akan buat. Oh, ngomong-ngomong ada yang pernah request lemon Itachi jugaAda yang mau? *senyum iblis XD)

Selanjutnya, rencana Akatsuki menghancurkan Konoha itu bukan hanya menyelundupkan senjata, mereka sudah merencanakan ini-itu. Danzo disini mulai saya munculkan, dan yang cukup penting adalah bergabungnya Sai bersama Sakusasu. Mereka akan pergi ke markas Akatsuki dan menyelamatkan Sora. Chapter depan akan dititik beratkan pada kelanjutan Project Kyuubi, Naruhina, dan pastinya ada Sakusasu juga. Apa chapter ini cukup menarik? Karena di Chapter 16 responnya lebih sedikit dibanding sebelumnya, saya khawatir apa ceritanya jadi membosankan.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya (asal bukan sekedar flame lho).

Dan ini balasan review chapter enam belas (chapter sebelumnya saya balas via PM ya) :

Cherryemo : Nantikan chapter berikutnya juga ya, jangan lupa mampir review disini hehehe.

NE : Sama, saya juga kelabakan waktu liat tanggal 7 (hiatus satu kali doang padahal) Sebutan dobe-teme saya terbalik tapi sudah diperbaiki, makasih banyak koreksinya. Sekarang Sai udah ketemu Sakusasu dan nggak nembak Sasuke kan (belum, maksudnya). Hehehe RnR lagi ya…

Alifa Cherry Blossom : halooo, wah beneran nungguin cerita ini update? *Terharu*. iya itu dobe-teme tertukar sebutan tapi sudah direvisi kok, Itachi mulai saya bahas tapi kalau dipikir sepertinya cukup panjang yang harus dijelasin, apa harus dibuat chapter bonus ya? Yup saya selesai hiatus jadi mulai tanggal 7 dan 20 update lagi seperti biasa kok. Mampir RnR lagi ya!

Hanazono yuri : Thank you reviewnya, saya update lagi tanggal 20 seperti biasa~ ^^

Gohara01 : Saya update niih!

Alluca : thank you! Rencana Akatsuki pada intinya ya hancurin Konoha dan bikin Negara itu bisa diatur sama Akatsuki, sebenarnya kalau Sora bergabung kemungkinan keberhasilan Project Kyuubi itu sangat besar. Tapi bukan berarti Tobi nggak punya rencana cadangan, hehehe.

Ridafi chan: Thank you reviewnya, semoga di antara 5 orang Konoha itu bisa selamat semua deh ya? Sora disini belum mati kok, doi harus lihat dulu kehancuran Konoha dan Tobi mau nunjukkin kalau menolak Akatsuki itu suatu kebodohan. Update seperti biasa lagi, tanggal 7 dan 20. Mampir RnR lagi ya?

Nitya-chan : halo, salam kenal. Saya update nih, ditunggu juga reviewnya yaa…

Saso-kun : thank you buat reviewnya! Mampir lagi ya di chapter ini buat RnR?

Guest : WOW thank you banget buat reviewnya, saya masih harus banyak belajar kok *btw, saya penggemar action juga *. Ide dan inspirasi sebenarnya bingung juga pertama kali kepikirannya gimana, soalnya saya update cerita per mood bukan berdasarkan story line yang udah ditulis / direncanain sebelumnya LOL. Kalau tempat dan actionnya suka terinspirasi dari game / film. Sip, doakan saya tulis sampai selesai dan nggak hiatus selamanya. Thank you buat semangatnya, RnR lagi ya :D

Mizuira Kumiko : Hello sist, ah bisa aja nih mujinya *malu*. Terima kasih banyak sudah menyempatkan baca sampai sekarang (bungkuk hormat). Syukur juga kalau ringkasan ceritanya nggak bikin bingung, saya juga terpaksa harus baca ulang soalnya ada beberapa hal yang saya sendiri lupa hahahaha. Mampir RnR lagi sist :D

Guest 2 : Yup saya sendiri juga terbantu dengan ringkasan ceritanya (ketauan nggak pernah bikin story line). Chapter tentang Itachi lebih banyaaak bakal muncul di chapter depan / chapter bonusnya tentang Itachi, karena sebenarnya Itachi pegang peran penting juga.

roquezen : Nah nah jadi ini pilih Sai atau Itachi, sist? Tungguin chapter depan, bakalan lebih banyak Itachi. Mampir lagi buat RnR yaa…

kawaii : Hahaha makasih, thank you masih ikutin cerita ini :D. Sora disini belum mati kok, doi harus lihat dulu kehancuran Konoha dan Tobi mau nunjukkin kalau menolak Akatsuki itu suatu kebodohan. Gaara dan Sasori ya, belum tau ada kemungkinan mereka muncul atau nggak. Soalnya cukup banyak tokoh yang harus dibahas nih, takutnya kalau sepotong-sepotong percuma.

Akasuna no ei-chan : ei-chan, gemes sama Itachi? Chapter bonus tentang Itachi gimana tuh kira-kira, atau lemonnya? Sora menunggu nasib. Hahahaha review lagi ya :D

Alisha Blooms : Halo Alisha-chan, saya kembali :D. Terima kasih sudah menyempatkan review, banyak juga yang nanyain Itachi ya… Kalau ada chapter bonus tentang Itachi gimana pendapatnya nih? Haah untung kalau menurut Alisha chapter kemarin keren, ditunggu juga buat komentar di chapter ini ya!

Guest 3 : Banyakin Itachi? Kalau gitu tungguin chapter bonusnya dong ya?

Afisa UchirunoSS : Terima kasih masih sempet mampir! :D Saya sekarang baru mempertemukan Sakusasu dan Sai, gimana pendapatnya nih? Masa lalu Itachi sedang saya buka sedikit-sedikit tapi masih ada kemungkinan kalau dibuat chapter khusus tentang Itachi. Mampir lagi yaa!

Sampai jumpa di chapter depan (7 Agustus)! :D

-jitan-