SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 18 : RAIN OF BULLETS
.
.
Vessel (Kapal) – 20.20 PM
Naruto yang masih didampingi Lee berjalan dengan hati-hati menuju sebuah ruangan awak kapal yang bertugas menyimpan daftar muatan kargo, ia sudah menghubungi Hinata agar menempuh rute serupa. Lee membuka sebuah pintu ruangan dan menyelinap ke dalam, lalu diikuti oleh pria berambut kuning yang telah menyamarkan identitasnya dengan topi. Ruangan sempit itu hanya memiliki satu tempat tidur kecil, toilet, dan sebuah meja yang ditempel pada dinding ruangan. Lee menyalakan lampu meja kerja dan mengambil sebuah berkas yang berisi data-data, pria bermata biru ini mengambilnya dari tangan Lee lalu mencari nama 'Kabuto'.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk.
Naruto bergegas mengintip lewat lubang pintu dan segera membuka kunci ruangannya, mendapati wanita bermata lavender ini berhasil masuk tanpa diketahui awak kapal lain. Mengenakan seragam serupa, tubuh mungil Hinata menatap sesosok asing di ruangan itu, dan dengan isyarat mata ia balik menatap Naruto. "Oh! Hinata-chan, perkenalkan… Dia Lee, yang memberitahu kita letak ruangan ini." Mendengar itu Hinata segera membungkuk sebagai salam lalu mereka berjabat tangan, Naruto melanjutkan, "Syukurlah kau datang! Aku sudah terlalu pusing melihat daftar nama-nama muatan di kertas ini… Kurasa ini bagianmu, Hinata?"
"Bukankah Anda baru beberapa detik membuka daftarnya? Masa sudah pusing?" Lee menyela.
"Tch, berisik~ Mau beberapa detik atau beberapa puluh menit juga sama saja kok, aku selalu mual kalau melihat data!" Naruto menggaruk kepalanya meski tidak terasa gatal. Dalam situasi seperti ini pun ia masih terkesan tenang dan periang seperti biasa, membuat Hinata yang pada awalnya tegang menjadi tersenyum.
Hinata pun mengambil alih daftar itu dari tangan Naruto, "Y-Ya. Biar aku saja yang memeriksa."
.
Anehnya, Hinata Hyuga tidak menemukan nama yang bernama Kabuto atau yang memiliki kemiripan dengan nama itu. Pasti dia menggunakan nama dan paspor palsu, pikirnya. Buntu soal nama, ia meneliti jumlah muatan kontainer yang nantinya akan dikirim menuju pelabuhan utama. Ia mencari letak penyimpanan muatan-muatan besar yang bisa dicurigai sebagai 'barang selundupan' Akatsuki, sesuai dengan telepon Sasuke Uchiha beberapa saat yang lalu. Penglihatannya yang jeli menangkap beberapa nama, dan sedikit tertegun ketika melihat data yang ia dapatkan.
"Ada apa, Hinata-chan?" Naruto menatap raut wajah Hinata yang menegang, "Ada kejanggalan?"
"I-Ini… Ada beberapa muatan yang ku-kucurigai, Naruto." Hinata menunjukkan data agar pria berambut jagung itu melihatnya, "tapi dari pihak Konoha, jumlah mu-muatan paling be-besar ternyata… Milik Kitsuchi-san; Menteri Perhubungan Konoha, dan semuanya a-akan diangkut da-dari pelabuhan utama."
Alis Naruto mengkerut, dia semakin bingung. "Maksudnya- Salah satu menteri kita juga bekerjasama dengan Akatsuki?!"
Wanita itu menggeleng cepat. "Ti-tidak, belum pasti. Itu hanya du-dugaan semata, Naruto." Hinata menaruh data itu di atas meja sementara Lee mengembalikan keadaan ruangan seperti semula, "A-Aku harus mengeceknya agar yakin."
.
Hinata yang pernah melihat denah kapal dan langsung mengingatnya berkat kemampuan photographic memory kini menyiapkan tekad untuk mendatangi gudang muatan. Dia akan mencari tahu jenis muatan yang dikirim Kitsuchi sang Menteri Perhubungan dari Suna ke Konoha. Belum sempat membuka pintu, tiba-tiba punggung Naruto telah menutupi pandangannya, melarangnya keluar. Hinata terkejut dan mundur selangkah, jaraknya dengan pria ini hanya tinggal beberapa sentimeter.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi sendirian." Naruto menoleh lalu menunjukkan senyum khasnya, "Kita akan mengeceknya bersama-sama. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Hinata-chan."
Mendengar kalimat lantang itu membuat Hinata Hyuga tersipu, rona pipinya memerah di ruangan remang itu, perasaannya berbunga-bunga. Tapi Hinata berusaha sekuat mungkin mengendalikan perasaannya ketika berada dalam misi. Ia hanya mencoba tersenyum simpul meskipun jantungnya berdegup cukup kencang. Di belakang mereka, Lee mencibir karena menganggap dirinya sebagai 'lalat' pengganggu dari tingkah 'manis' dua agen keamanan di hadapannya.
"Ugh, melihat tingkah kalian rasanya aku jadi mabuk laut." Lee mengganggu suasana mereka dengan sindiran sementara pipi Hinata semakin merona merah akibat perkataan pria itu. Meskipun Naruto pada kenyataannya tetap acuh pada kalimat yang diucapkan Lee, mereka keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruang muatan kontainer.
.
.
Konoha's Central Office – Sector A, 21.00 PM
Sudah setengah jam lamanya penyisiran terhadap lokasi pengeboman di gedung parlemen Konoha dilakukan. Beberapa regu yang dipandu dari HQ (Headquarters) dan dikepalai langsung oleh Kakashi Hatake sedang memeriksa puing-puing bangunan. Beberapa saat yang lalu dari transmisi mereka mendapat sebuah laporan; tim Bravo yang bergerak bersama tim pelacak akhirnya menemukan satu titik terang. Mereka menemukan sumber peledak yang diletakkan di dekat ruang rapat para dewan.
Sedangkan Tim Alpha saat ini tengah memasuki ruangan rapat yang berasap dan gelap gulita. Senter yang menjadi satu-satunya sumber cahaya diarahkan ke berbagai sudut, menyinari celah-celah puing dan berharap disana setidaknya ada satu saja… Manusia yang bisa diselamatkan. Tapi sayangnya, hingga saat ini jumlahnya nihil. "Negative." Pemimpin regu untuk kesekian kalinya memberi laporan pada HQ, "Disini juga nihil."
Salah satu anggota timnya memanggil, senternya menangkap ada manusia yang terhimpit reruntuhan gedung. Mengenakan jas dan jam tangan branded pada pergelangan tangannya, tangan kiri seorang pria tak dikenal itu terlihat di salah satu celah puing. Dia mendekat dan bermaksud menarik korban yang tertimbun untuk diidentifikasi, tapi tiba-tiba ia terjatuh seraya menjauhkan badannya, sambil lagi-lagi mengumpat. "Oh, shit... I-ini ternyata hanya potongan tubuhnya saja!"
Sepotong tangan bersimbah darah itu jatuh tergeletak di tengah-tengah mereka. Lagi-lagi keadaan menjadi hening, entah lebih mencekam. Seluruh anggota timnya terdiam seperti merasa iba dengan jiwa-jiwa tak bersalah yang menjadi korban serangan kali ini.
"Stay focus, kiddo…" Suara tegas pemimpin tim Alpha terdengar jelas di telinga para anak buahnya, membantu anggota tim yang terjatuh hingga berdiri lagi, "Memang memprihatinkan, tapi sekarang Konoha membutuhkan tenaga kita untuk mencari petunjuk sekecil apapun. Terlalu pagi untuk mengutuk keadaan dan menyerah. Mengerti?"
"Y-Yes, Sir!" hanya suara mereka yang menggema di reruntuhan tersebut.
.
Langkah demi langkah membawa mereka menyusuri lorong sempit yang sebagian tertimbun bongkahan tembok yang berat, satu per satu anggota tim harus membungkuk dan sedikit merangkak untuk mencapai akses ke titik berikutnya; ruangan kerja para dewan petinggi Konoha. Dentuman yang terjadi di sektor A masih memiliki daya rusak yang cukup besar, akan tetapi ruangan kerja ini tidak sepenuhnya hancur. Beberapa lokasi dan pintu-pintu masih kokoh meskipun keadaannya tetap porak poranda, seluruh kaca pecah dan penerangan padam. Keadaan yang benar-benar gelap gulita dengan suhu yang cukup panas membuat suasana semakin pengap.
"Report; Alpha to HQ! Di radius ini daya hancur ledakan mulai berkurang," ketua tim Alpha lagi-lagi memberi laporan pada pusat, "Kami berharap disini ada korban yang selamat. Over."
Sebagian besar ruangan ini ternyata kosong, dokumen-dokumen bertebaran layaknya sampah disertai puing-puing retakan atap juga pecahan kaca. Mungkin para dewan yang masih mengadakan rapat hampir sebagian besar berada di ruangan sebelumnya, ruang kerja ini seakan-akan tak berpenghuni. Tapi seluruh anggota tim belum menyerah, mereka membuka satu per satu pintu yang masih utuh, memeriksa setiap sudut ruangan.
.
TRAK! TRAK! TRAK!
Tiba-tiba suara asing terdengar dari ruangan itu, terdengar seperti benda tumpul yang diketukkan berulang kali di lantai. Ketua tim Alpha semakin siaga dan bergegas mendatangi arah datangnya suara. Ketika membuka kenop pintu ruangan besar di ujung, ruangannya masih terkunci. Terpaksa ia harus melompati jendela kaca besar yang sudah sepenuhnya pecah, melompat ke dalam ruangan yang dicurigai sebagai asal usul suara asing itu berasal. Gelap, berantakan, dimana-mana kertas berserakkan dan buku-buku bertebaran di lantai bersama dengan serpihan kaca. Terdengar bunyi gemertak pecahan kaca setiap kali ia melangkah.
.
TRAK! TRAK! TRAK!
Bunyi itu terdengar lagi, namun suaranya lebih kecil. Lemah dan hampir tidak terdengar.
"Aku mendengar suara, apa ada yang selamat? Tolong berikan lagi tanda agar aku dapat menemukan lokasi Anda!" dengan lantang ia berseru di ruangan besar dan gelap itu. Baru saja berkata demikian, senternya menangkap sesosok tubuh yang tertindih lemari besar dengan buku-buku berantakan di sekitarnya. Ia segera berlari, mendapati tangan wanita berbaju kehijauan itu terulur. Menggenggam satu-satunya benda yang bisa ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk lantai; sebuah kipas kayu. Dipanggil berulang kali tidak menyahut, namun denyut nadinya masih terasa. Meskipun lemah tapi dia masih hidup! Lemari menghimpit tubuhnya, ia mungkin kehabisan tenaga setelah mencoba bergerak. Sisa tenaga hanya digunakan untuk mengetukkan kipas, memberi sinyal tentang lokasi keberadaannya.
"Aku menemukan seseorang. Bantu aku menyingkirkan lemari ini!" Ketua tim Alpha segera memanggil anak buahnya, dengan sigap sebagian mengangkat bobot lemari dan sebagian lainnya menyeret tubuh wanita berambut pirang yang hampir tidak sadarkan diri ini keluar dari himpitan. Membalikkan tubuh wanita itu perlahan, seluruh tim Alpha melonjak kaget.
"T-Tsunade-sama?! Ya Tuhan, Nyonya Tsunade?! Bertahanlah!" ketua tim Alpha segera mengenali sosok tersebut, wanita itu terkapar akibat tertimpa lemari. Ia menekan alat transmisinya untuk meminta bala bantuan, "DISINI ALPHA, KAMI MENEMUKAN NYONYA TSUNADE! MINTA BANTUAN TIM MEDIS, SEGERA!"
.
.
Vessel (Kapal) – 21.15 PM
"Na-Naruto, kau kenapa?" bisik Hinata ketika pria bermata biru itu mendadak terdiam ketika tangannya membuka satu per satu panel yang dicurigai sebagai barang selundupan Akatsuki.
"AH? Oh- Nggak kok. Tidak ada apa-apa, hanya tiba-tiba… Terlintas wajah Nyonya Tsunade yang sedang mengomel." Naruto menggelengkan kepala dan melanjutkan membuka panel pengunci dibantu Lee. Meskipun status mereka kini ibu dan anak, Tsunade tidak keberatan jika Naruto tidak memanggilnya dengan sebutan 'ibu'. Kebiasaan sejak kecil memanggilnya 'Nyonya Tsunade' tidak membuat Naruto melupakan peran wanita itu sebagai orang tua asuhnya, ia menyayangi Tsunade layaknya orang tua kandung. Tiba-tiba Naruto merasa khawatir, tapi menyingkirkan prasangkanya jauh-jauh, "Mungkin beliau terlalu banyak minum dan memarahi pelanggan lain sambil menyebut-nyebut namaku, seperti biasa! Hahaha… Kita lanjutkan, Lee!"
Membuka panel ternyata cukup melelahkan, mereka harus memanjat lalu memeriksa isinya setelah pintu itu terbuka. Mereka telah membuka beberapa kontainer berdasarkan nomor yang diingat Hinata, entah ini panel ke berapa yang mereka periksa. Derit kontainer terdengar ketika panel itu terbuka, Naruto melirik sekitar sebelum membuka pintu itu dengan lebar. Lee dan Naruto masuk ke dalam panel yang panas dan gelap, dengan senter seadanya mereka menyinari peti-peti kayu tertutup. Berbekal sebuah linggis yang diambil tanpa izin dari ruang penyimpanan, Naruto mendongkrak penutup peti tersebut dengan paksa. Simbol WARNING pada peti tidak dihiraukannya, dalam hitungan detik penutup peti terbuka dan Naruto mengambil senter dari tangan Lee. Melihat isinya.
"Tidak salah lagi, pasti ini!" suara Naruto terdengar lebih keras dan membuat Hinata yang berjaga di luar terkejut. Naruto Uzumaki segera membuka peti di sebelahnya, lagi dan lagi menemukan barang sejenis. Agen Konoha ini berhasil menemukan bukti barang selundupan Akatsuki! Senjata-senjata api yang dibawa dalam jumlah besar dan beberapa diantaranya merupakan peledak, dan semuanya diatas namakan Kitsuchi sang Menteri Perhubungan. Menyinari jam tangannya, Naruto hanya punya waktu sekitar dua belas menit untuk meminta Konoha mengirimkan helikopter. Tanpa pikir panjang ia menghubungi tangan kanan Kakashi Hatake dalam Suna Project; menelepon Shikamaru.
"Disini Shikamaru, Naruto?! Bagaimana hasilnya?" suara itu menggema dari earpick Naruto.
"Aku sudah mendapatkannya! Waktunya tinggal sedikit lagi, aku mohon agar bantuan cepat datang!" setelah Shikamaru mengiyakan, Naruto berjalan keluar dan melompat dari panel kontainer. Lalu membantu Lee melakukan hal serupa.
.
"HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISANA?!"
Ketiganya terkejut, suara lantang itu terdengar dari ujung ruangan. Tampaknya langkah mereka terlihat ketika melompat keluar dari panel, Lee yang awam dalam hal ini langsung bergidik ketakutan. Tegang. Hinata telah menyiapkan senjata di tangan sebagai langkah antisipasi, kedua Agen Konoha ini menuntun Lee agar menyusuri pinggiran kontainer yang tertutup cahaya untuk menyamarkan keberadaan mereka. Lari sekuat tenaga, apalagi menyadari langkah-langkah di belakang mereka tidak kalah cepat. Saat ini ketiganya berpikiran seirama; lari secepat mungkin! Mereka harus berhasil bersembunyi atau berbaur dengan awak kapal lain!
"TUNGGU! JANGAN LARI, PENYUSUP!" sahut para pengejar.
Hinata menoleh dan melihat ada tiga orang yang sedang mengejar mereka, salah satunya terlihat mengeluarkan sebuah benda kehitaman dari sakunya… Hinata memincingkan mata. Apakah itu pistol?! Tangan pria itu terulur ke depan, seperti mengambil jarak pas, lalu jemarinya seakan-akan menarik pelatuk benda itu dan-
"Awas!" Naruto menarik tubuh wanita mungil itu lalu menundukkan kepalanya.
.
Refleks wanita ini mengatakan hal yang sama, tembakan itu berdesing dan melesat mengenai dinding kontainer. Meleset mengenai kepalanya, jantung Hinata terasa berhenti berdetak. Terlambat sedetik saja, aku pasti sudah mati! pikirnya. Naruto geram dan menyadari para pengejarnya ini juga merupakan anggota Akatsuki yang menyusup. Bagaimana mungkin awak kapal biasa memiliki senjata?! Sementara itu ketiga orang berseragam awak kapal masih mengejar buruannya, mereka berlari dengan kecepatan penuh setelah gagal membidik. Jarak mereka semakin dekat. Naruto Uzumaki tanpa pikir panjang menggenggam erat tangan Hinata Hyuga, sekedar memberi jalan agar wanita itu berlari mendahuluinya… Lalu mendorongnya agar berlari menjauh.
Sementara ia sendiri berhenti.
"LARILAH, HINATA! Biar kuhentikan mereka!" Naruto melepas genggamannya dan justru berbalik arah, menuju arah para pengejar. Hinata shock pada kejadian mendadak ini, meski dia tahu kekuatan dan kemahiran Naruto, namun pertarungan tiga lawan satu akan berjalan tidak imbang.
"Na-Naruto?! A-apa yang-"
"TUNGGU HELIKOPTER DAN LINDUNGI LEE!" Naruto menoleh dan menatap mata lavender itu masih terpaku di tempat sementara Lee sudah lari pontang panting di depan, "CEPAT LARI!"
Hinata Hyuga tidak punya pilihan lain, ia meninggalkan partnernya lalu berlari menyusul Lee dengan kecepatan penuh. Berdoa untuk keselamatan Naruto Uzumaki, nyawa pria yang terlalu berarti untuknya.
.
.
Naruto memilih menggunakan combat knife untuk pertarungan jarak dekat, benda tajam tersebut dikeluarkan dari dalam holster dan ia berlari kencang menyongsong ketiga musuh di hadapannya. Gerakannya yang gesit dalam himpitan panel-panel kontainer membuat tembakan demi tembakan dari senjata lawan meleset, Naruto merunduk lalu menerjang tubuh pria pertama dengan tendangan. Pijakan yang kuat pada dada pria itu membuat tubuhnya naik- melayang beberapa sentimeter dari tanah sementara tangan kanannya menghujam leher pria kedua dengan pisau. Darah bercipratan mengenai wajahnya, pria kedua jatuh dan mati seketika.
Tubuh Naruto ikut terjungkal bersamaan dengan pria pertama yang terjengkang setelah menerima tendangan. Kepala lawan yang ditendangnya membentur panel kontainer dan membuatnya hilang kesadaran. Tubuh Naruto sigap dan berhasil menghindari benturan, ia langsung melakukan roll ke depan dan men-slide kaki orang terakhir dengan keras. Kehilangan keseimbangan, tubuh pria bersenjata itu terjatuh dan senjatanya menembak dinding-dinding kontainer tanpa arah. Naruto dengan sigap melucuti senjata pada tangan lawannya, menindih tubuh pria itu lalu menghujamkan tinju pada rahang lawan tanpa ampun. Hidung lawannya sudah dibanjiri darah, wajah pria itu penuh lebam tapi ia tidak peduli. Naruto menggenggam leher pria terakhir dan berusaha mencekiknya.
"Katakan, dimana lokasi Akatsuki?" saat mencekik leher tersebut, Naruto menginterogasinya. Pria itu meregang nyawa dan tangannya menggapai-gapai ke segala arah, kesulitan mengambil napas.
"DIMANA MARKAS AKATSUKI?!" Naruto bertanya sekali lagi, lebih kencang, "SIAPA BOSMU?!"
"To-Tobi…" bisiknya lirih, nyaris kehabisan napas. Satu tinjuan dari Naruto langsung membuatnya pingsan namun tidak membunuhnya. Agen Konoha ini berdiri, mengambil pisau yang masih menancap pada leher pria kedua, lalu menghapus cipratan darah pada wajahnya. Sedikit terengah Naruto melihat waktu yang tersisa sebelum helikopter tiba tinggal tujuh menit, ia menekan earpick-nya. "Shikamaru, aku mendapat informasi! Tolong kau selidiki nama 'Tobi'. Dialah pemimpin Akatsuki."
.
.
Konoha – Safe House, 21.10 PM
Dengan langkah-langkah panjang, beberapa bodyguard mengapit enam orang penting tersebut melewati penjagaan. Setibanya di Bandara Konoha, Kitsuchi selaku Menteri Perhubungan segera diamankan regu elit pemerintah dan dibawa menuju Safe House, berikut dengan kelima tamunya yang diperkenalkan sebagai delegasi penting dari kerjasama antar Negara Suna - Konoha. Lolos penjagaan dengan mudah, mereka diantar oleh agen wanita yang ditugaskan untuk membawa semua dewan petinggi Konoha menuju ruang rapat. Seperti sebelumnya, wanita ini menekan nomor kombinasi pada pintu double door untuk membuka ruangan dengan keamanan berlapis.
"Kudengar ruangan ini dirancang khusus dengan keamanan tingkat tinggi. Apa pintu ini hanya kau yang bisa membukanya?" Kitsuchi-san bertanya dengan sopan.
Wanita ini mengangguk hormat, "Ya, Tuan. Atas dasar protokol keamanan negara, nomor kombinasi pintu hanya diketahui oleh tiga orang, termasuk saya yang menjadi penanggung jawab disini."
Pintu itu terbuka, tampak Danzo memimpin rapat dan mendapat banyak dukungan dari beberapa anggota dewan petinggi. Mereka tidak menyadari kehadiran Kitsuchi dan tamunya di ambang pintu, tidak sebelum Kabuto mendorong paksa satu-satunya wanita yang mengetahui nomor kombinasi kunci ke dalam hingga jatuh terjerembab. Rapat seketika itu terhenti, seluruh mata memandang heran ke arah pintu. Pria berkacamata bulat ini dengan tenang menutup pintu yang otomatis terkunci, lalu membantu agen wanita yang sudah didorongnya agar bangkit berdiri. Mengulurkan tangan layaknya gentleman sambil tersenyum, "Maafkan kelancanganku barusan, Nona. Aku harus mengamankan orang penting seperti Anda." Senyumnya tampak dingin, sementara wanita itu tetap tidak mengerti.
.
"APA-APAAN INI?!" Danzo bertanya dengan suara lantang, "Siapa kalian?"
Pandangan semua tertuju pada kelima tamu asing yang jelas-jelas bukan petinggi Konoha, mereka terheran-heran. Siapa orang-orang asing yang berani mendorong agen keamanan agar masuk ke dalam ruang rapat lalu menutup pintunya hingga mengunci otomatis?! Bukankah itu berarti kini mereka terjebak ruangan rapat? Pria berwajah ular ini hanya membenarkan letak kacamatanya, sekilas menatap Kitsuchi yang sudah tahu garis besar rencananya. Menteri Perhubungan Konoha itu tetap terlihat tegang dan berusaha mengikuti alur, tampak keringat dingin bercucuran di keningnya.
"Well… Selamat malam! Kami adalah delegasi Suna yang menjadi tamu kehormatan Konoha. Saya minta kalian kembali duduk dengan tenang dan mohon maaf jika kehadiran kami disini sedikit mengganggu jalannya rapat..." Kabuto menyapa dengan nada ramah. Dia tersenyum sambil menatap ke sekeliling ruangan lalu mengatupkan tangannya di depan dada, "Tapi sayangnya… Kami memang harus menghentikan kalian."
Seluruh peserta di ruangan tersebut masih terperangah tidak mengerti.
"Ladies and gentlemen… It's SHOWTIME!" Pria berkacamata ini menjentikkan jarinya di udara, memberi aba-aba layaknya pertunjukkan yang akan segera dimulai. Lalu secara serentak keempat pria lain dengan koper di tangan masing-masing dengan sigap membuka tas pelindung berwarna keperakan tersebut. Dari dalam koper ternyata tersimpan senjata api, keempatnya mengeluarkan assault rifle jenis AK-47 (Avtomat Kalashnikova 1947). Dengan amunisi berkaliber 7.62 x 39 mm inilah mereka menghancurkan titik-titik CCTV yang terpasang di ruang rapat. Memutuskan pantauan dari Headquarters Konoha. Seluruh dewan petinggi langsung memekik ngeri ketika rentetan peluru merusak kamera pengawas.
.
"KYAAA!" pekikan itu terdengar dimana-mana, disertai umpatan juga sumpah serapah.
Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan di Safe House ini?! Sebagian lagi tidak sempat berpikir, mereka hanya mampu menutup telinganya akibat suara bising dari tembakan, membungkukkan badan secara refleks setelah kamera-kamera itu dihancurkan. Seperti memohon ampun, berteriak agar Tuhan menyelamatkan mereka. Kabuto mengeluarkan sepucuk pistol dari saku jasnya, membidik satu per satu kepala yang bermaksud memanggil bantuan. Ia menyuruh seluruh anggota mengeluarkan handphone dan memastikan mereka tidak menghubungi siapa pun. Seluruh anggota dewan melakukan seperti apa yang diinginkan Kabuto, mereka ketakutan dan sama sekali tidak bisa melawan.
"Hmm… Kalian tahu apa arti semua ini?" Kabuto berjalan dengan tenang ke depan dan mengambil alih peran Danzo sebagai pemimpin, "Bayangkan jika tempat teraman Konoha sesungguhnya menjadi tempat paling berbahaya? Atau… Bagaimana jadinya jika ruang rapat modern yang didesain tidak dapat ditembus selain melalui nomor kombinasi ini ternyata menjadi kelemahan terbesar kalian?!"
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan tersebut. Sambil menyilangkan kaki, Kabuto duduk dengan arogan di kursi yang merupakan bangku kehormatan untuk Hokage. Ia merentangkan kedua tangannya dengan seringai lebar, menikmati raut ketakutan dari seluruh sanderanya. "Aku Kabuto, sepertinya harus mengucapkan pada kalian… Selamat datang, di Neraka ciptaan Akatsuki."
.
.
Konoha's Central Office - Security Division, 21.10 PM
Apa yang pria ini lihat lewat monitor CCTV adalah malapetaka.
Sesaat setelah Menteri Perhubungan memasuki area Safe House dan kelima tamu delegasi menutup pintu ruang rapat dan mematikan CCTV, sebuah ledakan kembali terjadi. Buruknya, ledakan itu terjadi di gerbang utama Safe House! Mobil yang digunakan Kitsuchi menuju tempat itu tiba-tiba meledak, mengacaukan barisan keamanan. Dari sembarang arah muncul pasukan asing layaknya gerilyawan, masing-masing bersenjata dan mulai memborbardir para pleton keamanan yang ditugaskan untuk menjaga garis pertahanan darurat Konoha. Singkatnya, mereka berperang satu sama lain. Rain of bullets; dari posisinya saat ini Kakashi Hatake melihat hujan peluru menghabisi tentara-tentara Konoha.
"BRENGSEK!" Ia menggebrak meja dan tidak percaya. Apalagi yang direncanakan Akatsuki? Bagaimana bisa kelima delegasi bersenjata itu masuk dengan mudah ke ruang rapat dan mengambil alih keadaan? Mereka berhasil menyandera semua dewan petinggi Konoha yang tersisa! Terkecuali Tsunade yang baru saja ditemukan selamat di reruntuhan Sektor A, dan Hokage. Beliau diamankan ke sebuah bunker khusus yang letaknya cukup jauh dari Safe House. Tapi tidak menutup kemungkinan Akatsuki juga mencium jejak dimana pemimpin Hokage ini diamankan.
.
"Pak Kakashi, Naruto sudah menemukan barang selundupan Akatsuki!" tidak sadar pada keadaan yang sedang terjadi, Shikamaru setengah berlari menghampiri atasannya yang tengah frustasi. "Saat ini satu unit helikopter sudah saya kerahkan untuk membantu Hinata dan Naruto. Muatan senjata dalam jumlah luar besar itu didaftarkan atas nama- uh… Kitsuchi-san, Menteri Perhubungan kita."
"A-APA?! Kitsuchi?!" Kakashi menggelengkan kepalanya, "Sudah kuduga… Ternyata memang ada orang dalam yang berkhianat... Sial! Kenapa jadi begini?"
Shikamaru terkejut pada perubahan sifat atasannya yang tampak emosional. Ketika menatap layar monitor yang menampilkan seluruh rekaman CCTV pada gedung Safe House barulah ia sadar. Sebelumnya ia tidak sempat meneliti keadaan disana karena tugasnya terpaku pada keselamatan rekan-rekannya di Suna. Shikamaru menyadari teror belum berakhir bahkan semakin meluas, "Itu- Pak Kakashi, kenapa mereka bisa berperang melawan tentara kita? Ada apa dengan penjagaan gerbang? A-Apa yang terjadi?!"
Sang pemimpin divisi keamanan Konoha ini menggeleng seraya menghela napas.
"Tch, ini malapetaka. Mobil yang ditumpangi Kitsuchi tiba-tiba meledak dan hal itu membuka jalan bagi para gerilyawan untuk menerobos masuk gerbang. Safe House sekarang berubah menjadi medan perang. Sementara kelima tamu yang masuk bersama Kitsuchi ke ruangan rapat… Tak salah lagi, mereka komplotan Akatsuki. Mereka menembak CCTV dalam ruangan dan kita tidak tahu apa yang sedang terjadi disana." Kakashi menjelaskan singkat, "Keadaan kritis. Kitsuchi membantu mereka lolos dalam penjagaan sambil membawa senjata, dan akibatnya saat ini semua petinggi Negara Konoha menjadi sandera di ruang rapat itu!"
Shikamaru tertegun, detak jantungnya tak beraturan akibat cemas. Meskipun demikian, pihak Konoha belum sepenuhnya kalah. Berkat keterampilannya menarik data, ditambah informasi yang diberikan Sai di Suna… Shikamaru sudah mendapatkan letak lokasi dimana teror ini berasal. Akatsuki Mansion, markas Tobi sang pemimpin Akatsuki, "Kita belum benar-benar kecolongan, Pak. Aku berhasil menemukan koordinat dimana markas Akatsuki berada. Saat ini Sai sedang menuju kesana, bersama Sakura dan Sasuke Uchiha. Dan menurut informasi yang diberikan Sai… Sasuke- dia berkhianat dari Akatsuki dan berbalik menyerang organisasinya."
.
Kakashi Hatake seperti mendapatkan oase di tengah-tengah bebannya.
"Benarkah? Kerja bagus, Shikamaru! Aku akan menghubungi Hokage agar beliau berbicara dengan Suna, meminta izin untuk mengirim tim menuju markas Akatsuki dan membantu Sai disana. Sementara tugasmu, kau kumpulkan beberapa pasukan elit yang masih tersisa di Sektor A, kumpulkan mereka di ruanganku sekarang juga! Kita akan menyusun strategi mengeluarkan seluruh sandera yang ada disana. Laksanakan!"
Shikamaru mengangguk dan berjalan ke luar ruangan, namun berhenti di tengah-tengah. "Tapi, setahuku ruang rapat itu di desain khusus tahan terhadap ledakan, api, dan serangan lainnya? Bukankah ini semua akan berakhir sia-sia?" Shikamaru bukan bermaksud menentang, tapi sekedar memberi masukan pada Kakashi.
"Memang benar," Kakashi mengangguk yakin, "Tapi selain Hokage juga wanita yang ikut disandera Akatsuki di dalam sana, masih ada satu orang lagi yang mengetahui kombinasi nomor ruangan itu… Dan orang itu adalah aku."
.
.
Vessel (Kapal) – 21.25 PM
"NA-NARUTO! AWAS!" teriakan wanita itu memekakkan gendang telinga pria ini.
Waktunya tinggal lima menit, sebelum bantuan datang dan barang bukti bisa diamankan. Naruto berhasil menyusul Hinata dan Lee setelah menghabisi tiga orang penyusup yang mengejarnya. Baru saja keluar dari penyimpanan kontainer, ia terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Teriakan Hinata membuatnya waspada, sebuah tendangan tengah ditujukan pada bagian atas tubuhnya namun Uzumaki Naruto mampu berkelit. Ia memotong serangan, menangkap lengan kanan lawan lalu memutarnya. Hanya dengan satu gerakan ia berhasil melepas lengan pria tersebut dari engselnya, lawannya berteriak kesakitan lalu terjengkang.
Pandangan Naruto teralih pada sosok mungil di hadapannya, Hinata tengah melindungi Lee. Meskipun tidak ahli dalam pertempuran seperti halnya Naruto, Hinata Hyuga masih mempu menandingi dua pria yang mengepung Lee. Setelah menembak salah satu kaki mereka, wanita ini segera melucuti senjata api yang diarahkan pada wajahnya. Dengan ilmu bela diri dasar wanita bermata lavender ini memanfaatkan tenaga lawan dengan mendorong tubuh lawannya hingga terbanting ke atas tanah. Sedangkan satu pria lainnya belum menyerah, ia menangkap tubuh Hinata dan bermaksud menghantam tubuh itu dengan pukulan. Belum sempat menjalankan aksinya, Naruto telah menarik leher pria itu ke belakang. Ia mendorong tubuh itu menjauhi Hinata lalu menendangnya hingga terjungkal, terjun ke laut lepas.
.
"Kau tidak apa-apa Hinata-chan?" Hinata mengangguk ketika tanpa sadar pria di hadapannya memperhatikan keadaan fisiknya dari atas hingga ke bawah, "Apa kau terluka? Ada yang sakit? Luka? Tusukan? Kau juga tidak tertembak kan?"
"Ti-tidak. Aku baik-baik saja, Naruto." tidak sanggup menutupi rona merah akibat perhatian yang diberikan pria ini padanya, Hinata menundukkan kepala. Naruto tidak menghiraukan tingkah Hinata, dia masih sibuk menelaah keadaan tubuh wanita itu dan memastikan Hinata tidak cedera.
Hinata membungkuk dan menghampiri Lee yang masih bersembunyi di sudut kapal, tangan pria itu terluka oleh benda tajam sehingga mengeluarkan cukup banyak darah. "Lee terluka, ki-kita harus memberinya perawatan darurat!"
Belum sempat bernapas lega, Naruto menyadari ada bahaya lain mengancam mereka. Lengah sedikit saja, kini hampir seluruh awak kapal telah mengerumuni mereka bertiga. Di antara mereka Naruto tidak tahu yang mana awak kapal asli yang menyangka Naruto adalah penyusup, atau para anggota Akatsuki yang memang bersembunyi di antara mereka. Beberapa kru memegang perlengkapan kapal yang mungkin berguna sebagai senjata, siap menghajar Naruto beramai-ramai. Menyadari situasinya terpojok, akhirnya Naruto berdiri membelakangi Hinata dan Lee seraya merentangkan kedua tangannya. Dengan tubuhnya, Naruto Uzumaki berniat melindungi mereka berdua.
"DENGAR! Kami bukan penyusup maupun teroris seperti yang kalian pikirkan!" Ia mencoba bernegosiasi sambil tetap merentangkan kedua tangannya, "Kami adalah agen Konoha yang-"
Ucapan Naruto terputus oleh deru mesin dan angin kencang yang menerpa mereka.
.
Cahaya lampu yang menyilaukan membuat seluruh awak kapal harus menyipitkan mata, ditambah dengan deru mesin dan angin kencang dari putaran baling-baling benda besar itu. Dari arah belakang muncul helikopter bersimbol stilasi api milik Konoha, tali-tali terjulur ke bawah dan beberapa pasukan elit turun secara bergantian, mengambil posisi untuk melindungi tim Naruto. Sambil bersenjata penuh, mereka membidik para awak kapal yang berniat melawan, kru kapal tersebut segera menjatuhkan senjata lalu mengangkat tangan tinggi-tinggi. Menyerah.
Bantuan dari Konoha datang tepat waktu, pikir Naruto sambil bernapas lega.
"PERHATIAN! Saat ini kalian telah berada di wilayah perairan Konoha, dan sesuai prosedur yang telah disepakati kami akan menggeledah barang muatan yang dicurigai merupakan selundupan teroris. Kerjasama kalian akan membantu kami menyelesaikan ini secepat mungkin. Silahkan berbaris satu per satu dan angkat tangan kalian!" Ujar salah satu petugas Konoha yang baru saja mendarat di atas kapal, ia menoleh pada Naruto dan suaranya sedikit lebih pelan, "Terima kasih untuk laporannya, Agen Naruto! Untuk selanjutnya biar kami yang mengurus situasi disini, Anda dan Agen Hinata diperkenankan menaiki helikopter. Kalian segera diberangkatkan menuju titik berikutnya."
Naruto mengangguk, ia berbalik dan membantu Lee berdiri. Sambil memapahnya, Naruto mempersilakan Hinata menaiki anak tangga menuju helikopter sementara ia membuat tali simpul untuk mengamankan tubuh Lee yang terluka ketika naik. Alat transportasi itu perlahan meninggalkan kapal ketika Naruto sudah sepenuhnya duduk, pria ini menarik napas panjang untuk menetralisir ketegangan yang ia rasakan beberapa saat yang lalu. Naruto menoleh dan melihat luka Lee sedang ditangani oleh Hinata dengan perlengkapan P3K sebelum mendapat perawatan medis dari rumah sakit. Diam-diam ia memperhatikan tingkah laku Hinata yang masih berkutat dengan antiseptik dan perban.
Pria ini tersenyum kecil, entah mengapa sesaat tadi ia emosi melihat wanita ini diserang. Dia sangat cemas pada keadaan Hinata Hyuga, khawatir tubuh partnernya terluka meskipun itu hanya sekedar luka goresan. 'Che, aku ini kenapa?' Naruto berusaha mengenyahkan kekhawatirannya, berpikir mungkin ini hanya perasaan yang terjalin antara partner di lapangan untuk melindungi satu sama lain.
.
"Kami harus mengantar Lee ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan," Naruto berbicara pada pilot yang mengangguk mengerti dan menerbangkan alat transportasi itu menuju wilayah Konoha. Selagi beristirahat di dalam helikopter, ia berhasil tersambung dengan Shikamaru. Pembicaraan mereka tersalur melalui earpick sehingga Hinata juga mampu menyimak informasi, "Shikamaru! Aku dan Hinata sedang berada dalam perjalanan menuju Konoha, kami membawa saksi mata yang terluka. Setelah itu apa kami harus segera kembali ke Suna untuk menolong Sai dan Sakura?"
"Sepertinya terjadi perubahan rencana, Naruto. Keadaan disini tidak kondusif, setelah pengeboman di Sektor A seluruh dewan petinggi diamankan menuju Safe House. Namun beberapa saat yang lalu Kitsuchi tiba beserta lima delegasi Suna, dan… Uh- Aku benci mengatakannya, tapi dari rekaman CCTV di luar… Salah satu tamu Kitsuchi memiliki kemiripan dengan ciri-ciri Kabuto." Naruto mengernyitkan dahi dan tanpa sadar menggertakkan gigi, dia terlalu terkejut, "Lima belas menit yang lalu mereka menyandera seluruh dewan petinggi di dalam ruang rapat Safe House dan menembak semua kamera CCTV disana. Kita tidak tahu bagaimana nasib mereka saat ini."
Jangankan berkomentar, saat ini Naruto bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengerjap, mengatur emosinya agar tetap dapat berpikir jernih, "I-Ini gila, Shikamaru. Aku tidak percaya…"
"Lebih buruknya lagi, mobil yang ditumpangi Kabuto dan Kitsuchi meledak sehingga gerbang berhasil ditembus oleh para gerilyawan asing yang bersenjata. Kini sebagian kekuatan Konoha dikerahkan untuk berperang melawan gerilyawan yang memaksa menghancurkan Safe House, sebagian lagi dikerahkan untuk menelusuri Sektor A dan sisanya menjaga Hokage." Berita dari Shikamaru lagi-lagi mengejutkannya, Hinata bahkan menangkupkan tangannya pada wajah sambil memejamkan mata. "Saat ini Pak Kakashi sedang menyusun tim darurat untuk menjebol ruang rapat, dan kalian berdua sesampainya di Konoha akan langsung dikerahkan sebagai salah satu anggotanya. Sai akan mendapatkan bantuan dari tim militer Suna."
"Ya, kami mengerti. Terima kasih informasinya, Shikamaru…"
"Tunggu! Ehm… Naruto, ada satu lagi berita yang harus kau ketahui." Pria ini berdoa agar kali ini yang didengarnya merupakan berita baik. Shikamaru melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati dan ternyata bertolak belakang dengan keinginannya, "Ibumu; Nyonya Tsunade… Beliau ditemukan di reruntuhan gedung Sektor A. Saat ini beliau telah dilarikan ke rumah sakit dan sudah mendapatkan penanganan khusus, namun hingga saat ini belum sadarkan diri."
.
Habis sudah... Pria ini berusaha sekuat tenaga menahan diri, namun emosinya tidak dapat dibendung lagi. Setetes airmata tanpa isak tangis membasahi pelupuk mata dan menggenangi kedua pipinya, dia benar-benar geram, kesal, marah. Cobaan apalagi yang harus ia terima dari ulah Akatsuki? Melihat negaranya hancur dan rekan-rekannya berperang melawan gerilyawan, lalu ibunya kini sekarat?! Naruto mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya terasa dingin, menahan amarah dengan memejamkan mata. Tanpa disadari Hinata Hyuga telah berada di sisinya, tanpa menghibur dengan kata-kata… Wanita ini mengerti penderitaan Naruto Uzumaki.
Kedua jemari mungil itu terulur pada pipi Naruto, menghapus air mata dari pria yang dicintainya. Naruto hanya balas menatapnya dalam keheningan total, dengan raut seakan-akan kehilangan sifat cerianya. Tersenyum yang bagi Hinata terlihat seperti senyum paksaan, tiba-tiba Naruto merengkuh tubuh wanita di hadapannya dengan kedua tangan. Wanita ini terpaku sesaat namun membalasnya, menepuk-nepuk punggung Naruto untuk menenangkannya. Sekedar untuk berempati, berbagi kesedihan dan menyemangati. Dia sendiri tidak tahan melihat sosok yang dikaguminya terlihat begitu terpuruk, pasti ini semua berat bagi Naruto.
Terdiam selama beberapa saat sampai perasaannya kembali tenang, Naruto melepas pelukannya lalu mengangguk. Berterima kasih pada wanita itu, kini perlahan-lahan senyumnya telah kembali. Naruto berusaha keras untuk tegar, "Terlalu dini untuk menyerah... Aku akan berusaha sampai akhir."
.
.
.
Suna – Akatsuki Mansion, 21.40 PM
Jarak antara Vega Sun Motel dengan Akatsuki Mansion ternyata cukup jauh dan menyita waktu. Kedua motor berkecepatan tinggi kini tengah menempuh pinggiran kota dengan hamparan pohon di sisi jalan. Sai dengan dirt bike curiannya masih mengikuti laju motor sport yang dikendarai Sasuke bersama Sakura Haruno, jalan yang mereka lewati gelap dan sepi. Markas Akatsuki terletak di pinggiran kota Suna, di daerah yang cukup terpencil dan sebagian wilayahnya berupa hutan pelestarian. Menurut Sasuke, mansion elit bergaya klasik yang sebagian telah dirombak dengan perlengkapan modern ini memiliki ruang rahasia untuk menyembunyikan senjata, dan sebuah penjara bawah tanah.
Dari kejauhan Sakura dapat melihat beberapa nyala lampu dari bangunan bergaya batu yang membentang di ujung jalan. Sasuke bercerita meskipun bangunan ini dilengkapi penjagaan ekstra, namun tetap memiliki celah kelemahan karena bangunannya terlalu luas. Itu memungkinan mereka dapat menyusup masuk. Motornya berbelok dari jalan utama yang beraspal menuju jalan setapak dan memasuki wilayah hutan yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Keadaan gelap gulita dan jalanan yang tidak rata melambatkan laju kendaraan, sorot lampu motor adalah satu-satunya sumber cahaya bagi mereka. Setelah beberapa menit menempuh jalan setapak, Sasuke menyalakan lampu hazard sebagai kode untuk Sai; mereka sudah dekat. Keduanya memadamkan lampu dan mematikan mesin.
Berbekal senter kecil kedua pria ini memarkir kendaraannya di tempat aman, kegelapan hutan dan celah-celah pohon menyamarkan keberadaan mereka. Berada di tengah-tengah hutan yang dingin dan gelap gulita menimbulkan perasaan tidak nyaman, kadang terdengar bunyi kepak sayap atau gemeresik rerumputan di sekitar mereka. Bulu kuduk Sakura Haruno berdiri akibat rasa takut, ditambah lagi ia memang memiliki ketakutan terhadap gelap. Melirik diam-diam, pria Uchiha ini tahu Sakura sedang gemetar namun berusaha keras melawan ketakutannya.
Sasuke menggenggam jemari Sakura dengan erat ketika mereka mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak, seperti yang dulu ia lakukan di masa lalu ketika Sakura ketakutan saat mati lampu. Gestur sederhana tersebut rupanya cukup menenangkan hati Sakura, dia tahu Sasuke ingin membuatnya merasa aman. Tanpa melepaskan genggaman, Sasuke memimpin para agen Konoha ini hingga mendekati pagar pembatas markas Akatsuki. Terbentang pagar pembatas dari batu yang kokoh menjulang di hadapan mereka, seperti sebuah benteng yang dijaga oleh pasukan keamanan. Sakura sekilas menyangsikan mereka bertiga akan berhasil menyusup ke dalam dengan penjagaan seperti itu.
.
"Anak buah Tobi sedikit malas dalam upaya pemugaran bangunan," Sasuke tiba-tiba bicara. Meskipun suaranya pelan, keadaan yang sunyi di tengah hutan membuat ucapannya cukup jelas terdengar oleh Sai dan Sakura. "Kalian akan tahu arti ucapanku sesaat lagi."
Setelah berjalan mengitari hutan sekitar 600 meter, di hadapan mereka terdapat tembok pembatas dengan celah yang terbuka cukup besar. Batu-batunya telah habis dimakan usia sehingga menimbulkan rongga yang bisa dilewati oleh tubuh orang dewasa, Sakura berpikir mungkin Akatsuki tidak berpikiran untuk memugar bagian ini karena letaknya yang berada di tengah-tengah hutan. Lagipula para penjaga itu mungkin merasa siapa pun penyusup yang berhasil masuk, mereka tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Sai berjalan mendahului mereka berdua untuk memeriksa celah, tidak peduli pada sikap Sasuke Uchiha yang sedang menatap emerald wanita itu, lalu mengeraskan genggaman tangannya.
"Sakura… Sebentar lagi adalah pertaruhan nyawa, dan aku tidak mau nyawamu terancam." Sasuke menatapnya dalam-dalam, "Lari kalau terdesak, bunuh jika memungkinkan. Apapun yang terjadi kau harus selamat."
Wanita itu mengangguk, namun Sasuke masih terlihat cemas, "Tolong jangan membahayakan dirimu sendiri, Sakura." Onyx pria itu menatapnya sekali lagi, "Aku serius."
"Aku mengerti…" Sakura merangkulkan kedua tangannya di leher Sasuke lalu berjinjit, memberi pria itu sebuah kecupan lembut di bibirnya. Ia tersenyum, "Kau juga… Berjanjilah kalau semua ini sudah berakhir, kau akan ikut pulang bersamaku. Meskipun kau masih membenci Konoha, tapi orang tuaku pasti sangat senang bertemu lagi denganmu, Sasuke."
"Hn, aku janji." Sasuke Uchiha menyetujui permintaan wanita itu tanpa ragu. Keduanya kemudian menyusul Sai yang berperilaku seolah-olah tidak melihat tingkah laku dua sejoli itu, ketiganya kini berada di sisi pinggir celah tembok yang merupakan akses masuk menuju markas Akatsuki.
.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Sai bertanya dalam suara pelan. Ketiganya membentuk sebuah lingkaran kecil agar percakapan diantara mereka tidak terlalu keras.
"Dari sini kita melaju ke arah timur, pintu masuk kira-kira berjarak 250 meter dari celah ini." Sasuke mulai mengatur strategi, "Ruangan rahasia terdapat di ruang kerja Tobi, sementara kamar-kamar tamu juga penjara bawah tanah terletak di lokasi yang berbeda… Sayangnya aku tidak tahu dimana Sora berada, jadi sepertinya kita harus menyebar."
"Bagaimana dengan kondisi penjagaan di dalam?"
"Soal itu…" Sasuke menyeringai, "Akatsuki terlalu royal dalam mempekerjakan para penjaga, alhasil mereka bertebaran dimana-mana. Jangan bilang kau takut, huh?"
"Che. Aku justru senang mendengarnya, 'pesta' yang terlalu sepi juga tidak akan seru... Tunjukkan padaku arah menuju penjara, sementara kalian berdua mengurus si Tobi." Sai balas meringis, "Dan sebelum aku lupa- Sakura, sebaiknya kau membawa ini."
Sai mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyerahkannya untuk Sakura, mata wanita ini terlihat lebih berbinar karena ketua tim Suna itu membawakan kotak perlengkapannya sebagai ahli lockpick! Sasuke menegaskan bahwa ada beberapa pintu yang tidak dilengkapi pengaman modern sehingga keahlian Sakura pasti berguna. Selesai mengatur strategi mereka mulai bergerak. Keturunan Uchiha ini kembali memimpin di depan, Sakura setelahnya, dan Sai berada dalam urutan terakhir.
.
Sasuke mengintip keadaan di dalam, penjaga tidak terlihat lalu lalang di daerah ini. Sasuke menoleh seraya mengangguk sebagai tanda. Lalu dimulai dari Sakura, secara bergantian ketiganya berhasil melewati celah batu kemudian bersembunyi di balik semak-semak. Sekarang mereka telah berada di dalam area Akatsuki Mansion, tepatnya di sebuah taman luas yang tampak sepi dari penjagaan. Sasuke menunjuk satu arah pada dua orang lainnya, memberi informasi tentang titik yang harus mereka capai berikutnya; pintu masuk bangunan. Sai maju terlebih dahulu, gerakannya sangat cekatan ketika berlari menyusuri pinggir taman yang tidak terkena cahaya lampu. Di belakangnya Sakura dan Sasuke menyusul. Ketiganya sepakat ketika bergerak beriringan, Sakura harus selalu berada di tengah-tengah.
Sai segera memberi tanda ketika terdengar langkah-langkah kaki penjaga, mereka harus merebahkan diri di tengah-tengah rerumputan yang tertutup tanaman cukup tinggi. Penjaga itu berlalu tanpa curiga sedikit pun, setelah menunggu beberapa saat kini giliran Sasuke yang berlari menuju pintu masuk diikuti dua rekan yang lain. Dengan senjata berperedam ia menembak telak kamera CCTV di sudut pintu lalu membiarkan Sakura menunjukkan keahliannya dalam membuka pintu yang terkunci. Mata Sai dan Sasuke terus memeriksa keadaan sekitar, berharap pintu segera ter—
CKLEK!
Dalam waktu singkat pintu itu berhasil terbuka, tak pelak membuat Sasuke berdecak kagum pada kemampuan wanita ini. Sejak kapan wanita yang menjadi sahabat masa kecilnya itu, yang bersama-sama menempuh pendidikan di Akademi, ternyata memiliki kemampuan luar biasa sebagai seorang agen rahasia?
Sai yang melihat gelagat kagum Sasuke terhadap anak buahnya hanya menyeringai, "Dengan keahlianmu ini sepertinya membuka pintu kamarku akan sangat mudah, Sakura. Aku harus berhati-hati."
"Jangan khawatir, karena Sakura hanya akan menyusup ke kamarku." Sasuke menimpali ucapan Sai dengan cuek, sementara Sakura Haruno hanya menggelengkan kepala mendengar lontaran-lontaran sarkastik keduanya. "Cukup basa-basinya, saatnya kita bertamu di markas Akatsuki."
.
.
Mereka disambut oleh lorong panjang yang gelap tanpa penerangan, sepertinya Sasuke menerobos masuk melalui bagian belakang gedung yang memang tidak dipakai. Mansion yang terlalu besar ini memang lebih banyak dimanfaatkan sebagai lokasi menyelundupkan senjata di ruang bawah tanah, akibatnya beberapa ruangan biasa jadi terbengkalai atau berubah menjadi gudang. Bergerak beriringan dan perlahan, mereka menyusuri lorong gelap gulita itu.
Sasuke tiba-tiba berhenti.
Mereka mendengar derap kaki, otomatis tubuh ketiganya merapat pada dinding lorong. Belum cukup untuk menyembunyikan tubuh mereka, dengan sigap Sasuke membuka sembarang pintu yang berada di dekatnya lalu menyuruh dua agen itu masuk. Benar saja, tepat beberapa detik kemudian seorang penjaga datang dan mengarahkan senternya ke arah lorong, lalu mendekati ruang gelap itu untuk memeriksa keadaan. Dari balik pintu Sasuke mengarahkan jari telunjuknya pada bibir, menyuruh agar ketiganya tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Keringat dingin, Sakura tidak bisa menahan degup jantungnya yang terpompa karena rasa tegang… Wanita ini berharap si penjaga tidak memeriksa ruangan ini karena—
.
CKLEK!
.
Sial, ternyata pintu itu dibuka! Ketiganya yang berada di belakang pintu otomatis menahan napas, tampak tegang ketika sorot lampu senter menyeruak masuk dan menyinari ruangan gelap yang menjadi lokasi persembunyian si penyusup. Tampak dua orang pria berjalan hati-hati dari pintu masuk; salah satu mengarahkan sumber cahaya dari baterai itu ke sekeliling ruangan, sementara satu petugas lagi mengikuti dari belakang. Perlahan-lahan mereka masuk ke dalam dan membiarkan pintu terbuka. Sai sudah siaga, ia menepuk pundak Sasuke dan menyuruhnya merunduk. Bisa gawat kalau mereka ketahuan! Sakura mengikuti dua pria ini membungkukkan badan, suasana terasa sangat menegangkan.
"Aku yakin di daerah ini terdengar suara!" ujar si pria pemegang senter.
"Hee, tapi kau lihat sendiri memang tidak ada siapa-siapa." Rekannya menanggapi, "Kau tahu kan mansion tua ini cukup angker dan suara-suara asing pasti sering terdengar—"
Ucapannya terputus, Sai telah mencengkeram kepalanya dari belakang dan dengan satu gerakan ia memutar kepala pria itu ke samping; mematahkan tulang leher si petugas. Sementara di saat yang sama Sasuke menarik tubuh pria pemegang senter ke belakang, lalu melakukan hal yang sama dengan Sai. Kedua petugas itu mati dalam sekejap. Sakura yang masih berada di balik pintu segera bergerak dan menutup pintu ruangan tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Wanita ini bernapas lega, mengatur napasnya yang masih menderu akibat ketegangan barusan. Ternyata kerja sama Sai dan Sasuke sangat baik, ditambah keduanya memang unggul dalam pertarungan jarak dekat.
Ketika ia berbalik, dalam gelap ia melihat siluet dua pria itu tengah melucuti pakaian mayat si petugas dan mengenakannya, dan tanpa sadar Sakura memalingkan wajah. Sedikit salah tingkah ketika kedua pria itu berganti pakaian, meski pada kenyataannya tidak terlihat apa-apa karena gelap. Mereka mencoba menyamarkan identitas dengan mengenakan seragam yang sama dengan petugas lain.
"Ternyata bukan hanya pria yang senang mengintip lawan jenis sedang berganti pakaian." Sai memecahkan keheningan saat menyadari mata Sakura tengah memandang ke arah mereka. Gumamannya memang pelan, tapi terdengar jelas oleh Sakura. "Aku akan mencari seragam untukmu, asal kau tidak mengintip."
"Bu-bukan begitu! Lagipula tidak terlihat apa-apa!" desisnya. Ingin rasanya Sakura menjerit, tapi ia hanya mampu membalas dengan bisikan frustasi. Wanita ini bisa melihat Sai mendengus geli, atasannya ini benar-benar menyebalkan dan sepertinya memang tidak bisa akur dengan sifatnya.
.
"Perkataanmu benar-benar menggelikan, rasanya aku ingin membunuhmu." Sasuke berkata dengan nada dingin namun menusuk, ia tidak suka saat Sai menjahili Sakura dengan kalimat-kalimat sarkastik seperti tadi. Dia tahu itu hanya candaan, tapi entah kenapa membuatnya jengah.
"Jangan lupa kalau aku yang akan membunuhmu duluan, Sasuke…" Sai menjawab dengan nada super santai, setelah melucuti senjata si petugas ia pergi ke arah pintu tanpa berkomentar lain.
Keduanya telah selesai berganti pakaian, rasa takut dan tegang kembali menguasai Sakura. Sasuke bisa melihat wanita itu tampak tidak tenang. Sementara Sai maju memeriksa keadaan di balik pintu lalu perlahan keluar menuju lorong, dengan gerakan super kilat Sasuke meletakkan sebelah tangannya di belakang kepala Sakura, lalu tubuhnya maju.
Mengecup keningnya.
Pelan dan hanya berlangsung sepersekian detik, tapi mampu membuat seluruh tubuh Sakura memanas dan pupilnya terbelalak. Termasuk rona wajahnya yang bersemu kemerahan karena bingung dengan ciuman kilat barusan. Sasuke hanya tersenyum simpul, menikmati reaksi heran wanita di hadapannya meskipun hanya samar karena gelap.
"Jangan tegang, semua akan baik-baik saja." Setelah berkata demikian pun, Sasuke tetap menatap emerald itu tampak terhenyak di tempat. Tubuh pria ini sedikit membungkuk hingga wajahnya berada di dekat telinga Sakura, lalu berbisik.
"yang barusan adalah jimat keberuntungan dariku…"
Lalu masih dengan seringai tipis pada wajahnya, Sasuke menyusul Sai keluar dari ruangan.
.
.
Suna – 21.40 PM
"Kabuto sudah menguasai Safe House, sekarang giliran kemunculanmu… Sora." ucapan pria ini terdengar jelas di telinganya. Ia masih memacu mobil dengan kecepatan tinggi di jalan bebas hambatan Suna yang sesaat lagi akan terhubung dengan daerah pinggiran negara ini, "Bawa bocah pahlawan ini ke bawah tanah! Kita akan laksanakan skenario berikutnya… Menghancurkan kepercayaan rakyat dengan teror di media massa, dan tentu saja bocah ini akan jadi pemeran utamanya. Siapkan semua perlengkapan dan hubungi aku jika kita telah berhasil menguasai line siaran mereka, cepat laksanakan!"
Keheningan di mobil itu hanya diisi oleh satu per satu transmisi yang berhasil ia sadap. Dari sumber lain ia juga mendengar percakapan transmisi tentang bala bantuan yang akan dikirim Suna, "Disini HQ. Meminta tiga unit keamanan untuk segera bergerak ke koordinat yang telah dikirimkan, Kazekage telah menyetujui untuk membantu Konoha menangkap para teroris yang diduga mendirikan markas di pinggiran Suna, persembunyian mereka terletak di sebuah mansion tua dekat hutan lindung. Tim Alpha, Bravo, dan Charlie akan segera diberangkatkan!"
"Hn… Pestanya terlihat semakin ramai," gumamnya sambil menekan pedal gas lebih dalam dan menaikkan kecepatan mobilnya. Transmisi itu masih berlanjut, kantor pusat tampaknya memberi pengarahan misi pada tiga tim yang diutus untuk membantu Konoha melacak keberadaan Akatsuki.
"Penyerbuan akan dilaksanakan diam-diam. Tobi terlibat dengan beberapa kasus sebagai bandar penggelapan senjata yang telah diincar pihak Suna sejak lama, seorang buronan kelas kakap dan punya pasukan yang tangguh. Dia buronan dengan tindak pidana hukuman mati, setiap personil dapat menangkapnya hidup atau mati. Ini perintah dari pusat. Kalian adalah tim yang dipercaya Suna untuk melakukan yang terbaik. Good luck, agent!"
Komunikasi transmisi telah selesai sementara pria ini tetap berada di balik kemudinya, mempercepat laju mobil ketika hamparan hutan lindung sudah menjadi pandangan di sisi kiri-kanan jalan. Sudah cukup lama ia berkecimpung mencari keberadaan Akatsuki yang memang diburu oleh Suna sebagai buronan. Dari kebuntuan informasi hingga akhirnya menemukan titik terang, saat ini ia akan menangkap pria itu. Hidup atau mati. Jarak yang ia tempuh sudah semakin dekat menuju lokasi Akatsuki, Itachi menghela napas dalam-dalam lalu tersenyum. Hanyut dalam pikirannya, tersenyum kecil.
"Sebentar lagi aku akan tahu letak permainan menarik dari yang kau ceritakan, Konan." Itachi menggenggam kemudinya dengan erat, "Dan kita berdua akan lihat siapa pemenangnya."
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter delapan belas selesai! Wah ternyata cerita ini makan banyak chapter, nggak nyangka juga makin lama jumlah wordsnya sampai 8.000 per chapter. Yang tanya cerita ini tamat chapter berapa, saya usahakan nggak lebih dari 25 chapter. Mohon dukungannya sampai tamat ya! :D
Chapter ini intinya mengenai kejelasan tentang Kitsuchi si pengkhianat Konoha, Safe House dikuasai Akatsuki dan Nyonya Tsunade ada di reruntuhan gedung parlemen, Naruhina juga berhasil mengamankan selundupan senjata, dan Sasusaku plus Sai mulai beraksi di Akatsuki Mansion. Oh- Ditambah lagi potongan cerita Itachi yang sama-sama menuju markas Akatsuki. Tentang chapter bonus Itachi, akan saya publish sekitar tanggal 11 ya! (sesuai dengan request lebih baik publish sesudah Lebaran daripada saya juga menyesatkan diri sendiri, hehe). Jangan lupa komentar kalian buat chapter khusus Itachi, saya menanti meskipun itu bonus chapter. :D
Terakhir, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H bagi semua yang merayakan! Mohon maaf lahir batin, termasuk kalau Sasusakunya kurang banyak atau kurang romantis mohon dimaafkan (apa daya author masih harus banyak belajar soal ilmu yang satu ini).
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan di ke depannya.
Dan ini balasan review chapter tujuh belas :
Gohara01 : Saya update niih!
sasukebadboy : LOL minat Sasuke rupanya, wkwkwk *brb author mau bawa kabur Konan kalau gitu*. Mampir lagi yah :D
Hanazono yuri : Thank you reviewnya, sekarang saya update nih~ ^^
Tsurugi De Lelouch : Konan… Sehat-sehat aja kok dia, lagi bermesraan sama Tobi mungkin? LOL. Dan soal mata Itachi saya akan bahas di chapter khusus Itachi publish tgl 11, nasib Sora makin miris sekarang. Mampir lagi ya senpai, thank you sudah review kemarin! :D
NE : Iya kebalik sebutannya T_T. Itachi tau kok Sasuke itu adiknya, lebih jelasnya baca di chapter khususnya nanti tanggal 11. Sasusaku sudah saya tambahin tapi makin kesini agak susah karena banyak actionnya. Hehehe RnR lagi ya…
Alifa Cherry Blossom : halooo, setelah baca reviewnya Alifa saya memutuskan untuk memisah chapter Itachi bukan publish sesuai jadwal... Biar tanggal 7 dan 20 tetap ada Sasusakunya, hehe. Terima kasih udah suka sama chapter yang kemarin, doakan supaya happy end. Mampir RnR lagi ya!
cherryemo : Thank you, syukurlah kalau suka! Nah sekarang saya update lagi nih~ ^^
EastRobo : Hahahaha iya romancenya kurang ya, saya susah bikin romance (ketauan author buta soal romance). Mohon maap, semoga makin kesini feelnya dapet waktu bikin Sakusasu :D
UchiHarunoKid : nggak apa yang penting masih sempetin review… Hahaha kepanjangan deskripsinya ya? Saya sendiri bingung gimana nyingkat deskripsi, takutnya nanti penjelasannya nggak dapet apalagi makin kesini banyak yang harus dibahas… Gomen ne. Semoga nggak bosen buat mampir ya :D
Julia : soalnya banyak yang harus dibahas, saya usahakan terus ada Sakusasunya sist, makasih udah mampir!
Me : terima kasih banyak kalau nggak ngebosenin *lega*, lanjut lagi kok! Mampir lagi ya :D
Nitya-chan : thank you! Saya update loh ^^
Himawari no AzukaYuri : wah akhirnya Yuri-chan mampir, welcome back! Saya bales review plus PM langsung disini ya… Terima kasih kalau masih ngikutin cerita saya, hehehe. Hmm Kakashi apa terlihat misterius ya, yang pasti tanggung jawab Kakashi bakal berat banget setelah Safe House dikuasai Akatsuki. Sai dan Sasuke karakternya memang sengaja dibuat serba sarkastik, yang harus menengahi ya Sakura… Tapi sifat Sai juga sedikit clash sama atasannya kan XD. Hokage itu siapa? Wah iya saya juga belum mikirin dia siapa, wkwkwk *parah*. Sesuai request… Chapter khusus Itachi akan publish sesudah Lebaran… tepatnya tanggal 11, alias cuma selisih 3 hari dari saya publish chapter 18. Minta dukungannya dan mohon maaf kalau lemonnya nanti kurang asem, hahaha.
Afisa UchirunoSS : Terima kasih masih sempet mampir! :D Hmm saya juga sebenernya mau mempertemukan Naruhina dulu sama Sakusasu tapi seperti biasa plot berubah sesuai otak saat nulis chapter, LOL. Itachi-nya tungguin 3 hari lagi, dan jangan lupa mampir lagi yaa!
Akasuna no ei-chan : ei-chan, nggak usah khawatir skip lemon gara-gara lagi puasa, saya bakal publish tanggal 11. Hahaha *tawa setan*, tapi maaf juga kalau lemonnya kurang greget... Maklum newbie. Overall emang banyak pendeskripsian, tapi saya coba selipin dialog juga semoga nggak terlalu berbelit-belit. :D
Sherlock holmes : wah detektif balik lagi, saya usahain tambah scene sakusasu… tapi ke belakang agak sulit soalnya akan banyak action. Ikutin terus ya ^^
Hanazonorin444 : terima kasih udah mampir review meskipun nggak login gak apa kok, hahaha iya chapter Itachi nanti dipublish tanggal 11. Jangan lupa mampir review disini juga yaa~
Cheinn PinkTom : hai juga! Terima kasih sudah mampir lagi buat baca *happy*, syukurlah kalau ceritanya makin seru dan nggak membosankan. Wahahaha iya semua juga bakal ikhlas kalau Danzo yang mati XD. Hmm fanfic baru Sakusasu? Belum kepikiran sih, saya biasanya selesaiin per fic (plus masih harus translate fic English di thread Resident Evil juga). Ada ide-kah? (jadi ingat ada beberapa request fic tapi saya nggak sempet buat). Sip, ganbatte juga ya :D
irma : halo Irma, salam kenal. Saya masih berusaha nambahin sakusasunya tapi mungkin susah sih kalau porsinya terlalu banyak (maklum banyak banget yang harus dibahas, LOL). Saya usahain ada Sakusasu terus tiap chapter kok, mampir lagi oke?
roquezen : iya Sasuke dan Sai itu sengaja saya buat saling adu sarkastik, Itachi dulunya buta dan hilang ingatan (mencontoh sinetron). Mampir lagi buat RnR yaa…
Akari Chiwa : iya siap! Demi kelancaran berpuasa dan mencegah saya bikin dosa dengan publish cerita lemon di bulan puasa… Saya publish tanggal 11, semoga bisa kasih respon dan mohon maaf kalau kurang 'asem' tuh cerita. Mampir lagi :D
Yukira love : Haloo, salam kenal! Terima kasih banyak dari silent reader mau menyempatkan kasih review disini *terharu*, untung kalau ceritanya nggak membosankan. Kalau gitu Yukira mampir review lagi ya di chapter ini?
Alisha Blooms : Halo Alisha-chan, biar telat yang penting setia RnR :D. Hehe Alisha penasaran soal Itachi ya? Tentang ItaKonan bakal dibahas di chapter khusus Itachi yang publish tanggal 11, mungkin nggak bisa semua masa lalu Itachi masuk tapi setidaknya itu mencangkup beberapa potongan cerita. Saya nunggu review Alisha lagi ya…
selaladrews: Thank you reviewnya, lala-chan mampir lagi akhirnya... Sibuk sepertinya. Wahh jauh kalau dijadiin film, tapi thank you saya terharu bacanya *temple reviewnya di sebelah PC*. Kalau penasaran sama cerita Itachi jangan lupa dong baca bonus chapternya tanggal 11 Agustus, saya pasti upload tepat waktu, hehe. Mampir RnR lagi ya?
Gita Zahra : halo Gita, hmm gitu ya… Makasih buat masukannya, saya usahakan buat menyingkat penjelasan yang nggak perlu deh! Wah nggak nyinggung sama sekali kok, terima kasih buat masukannya… Semoga di chapter ini sudah lebih oke dibanding sebelumnya :D
Sakura Zouldyeck : Sakusasu selalu saya usahain muncul di tiap chapter secara mereka pairing utama, tapi mungkin harus dibagi dengan porsi yang lain supaya ceritanya tetep jalan, hehe. Makasih reviewnya!
Mizuira Kumiko : Hello sist, Itachi berada di pihak mana masih misteri ya? Konan memang karakternya dibuat seperti itu tapi makin ke belakang makin jelas, apalagi nanti di chapter khusus Itachi ada beberapa hal lagi yang terungkap. Mampir RnR lagi sist :D
HalloweenJunky : saya update nih!
Foetida : hahaha berasa lagi di thread RE liat user ini nongol di review XD. Jadi intinya lebih rame gara-gara lebih banyak karakter? LOL, semoga nggak pusing sama flashback ya soalnya banyak. Makanya dikasih keterangan tempatdan waktu supaya flashbacknya ketauan. Itachi tetap dimana pun juga jadi kakaknya Sasuke, kalau soal Konan saya memang bikin dia seperti itu hahaha. Sip, mampir lagi ya di chapter berikutnya, Foe ^^
Sampai jumpa di chapter depan (20 Agustus)! :D
-jitan-
