(Note : Ini adalah cerita selipan tentang Itachi Uchiha, berhubung menurut author sepertinya banyak yang harus dibahas tentang masa lalu Itachi, maka chapter bonus ini dibuat. Chapter berikutnya akan publish sesuai jadwal. Peringatan : sama sekali tidak membahas Sakusasu atau Naruhina.
Ada beberapa bagian berisi mature content, yang merasa belum 17+ silahkan skip di ALERT yang saya kasih.)
.
.
Suna – 15 tahun yang lalu
Langit-langit ruangan ini berwarna putih dengan satu lampu panjang yang menyala, sinarnya terasa sakit menusuk penglihatanku. Ketika aku membuka mata, di hadapanku berdiri seorang pria berpakaian putih dan dua orang perawat yang membawa sebuah map. Kupikir wajah mereka seharusnya berseri-seri karena operasi pencangkokan mata yang dilakukan beberapa hari yang lalu telah berhasil, dan aku bisa melihat! Debaran jantungku belum kembali normal dan saat itu juga aku menyadari ada yang aneh. Tatapan mereka asing, dan aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati... Apa ada kesalahan?!
"Selamat datang kembali pada duniamu, Itachi." ujar dokter yang berada di sisi sebelah kiri, aku menatap heran. Dia menepuk pundakku berulang kali sambil menyunggingkan senyum, "Operasinya berhasil dengan sempurna, semua berkat ayahmu."
Ayahku?
Jadi… Aku bukan yatim piatu seperti Konan?
Salah seorang perawat membawa sebuah cermin dan menyerahkannya padaku, dengan hati-hati aku mengarahkan cermin itu untuk mengintip- Melihat wajah dengan mata baru yang kudapatkan. Rambutku yang berwarna hitam dan bermodel belah tengah terlihat sama seperti yang dikatakan Konan, tapi yang membuatku takjub bukan karena aku berhasil mengenali wajahku sendiri. Tapi pada mataku. Kedua bola mata yang kudapatkan ini… Berbeda. Iris matanya berwarna merah dengan titik hitam pada pupilnya, i-ini jelas bukan mata manusia normal kan?! Berulang kali aku mengerjap tapi warna merah itu tidak memudar, aku semakin panik dan perhatianku teralih pada dokter.
"Dokter! Ke-kenapa mataku-"
"Tenang Itachi, warna matamu akan kembali normal dalam dua hari. Saat ini penglihatanmu masih beradaptasi dengan penerimaan cahaya," dokter mencoba menenangkan, sementara aku tidak mengerti sama sekali. "Operasi yang dilakukan padamu… adalah mencangkokkan kornea mata hasil penelitian yang bernama Sharingan Project."
Sharingan?!
Mendengar kata itu, kepalaku menjadi sakit.
.
.
SHATTERED MEMORIES
BONUS CHAPTER : ITACHI
.
.
"Halo, Itachi… Lama tidak bertemu, ya? Karena seperti biasa… Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku di Konoha dan sudah hampir dua tahun tidak mengunjungimu. Sudah tiga tahun sejak kau kupindahkan ke sekolah elit di Suna dan masuk ke asrama, kau terlahir sebagai anak yang jenius. Prestasimu di sekolah selalu di atas rata-rata dan hal itu membuatku bangga, sekaligus membuatku merasa tidak perlu mengunjungimu. Aku berpikir dengan ada atau tidaknya kehadiranku, kau pasti bisa meraih yang terbaik dimana pun. Yaah aku tahu pemikiran ini bodoh, itu juga yang menyebabkan aku menjadi sesosok ayah yang gagal. Oh ya ngomong-ngomong… Kau pasti tidak mengenalku, meskipun kenyataannya aku adalah ayah kandungmu; Fugaku Uchiha."
Itachi menonton sebuah video message yang tersimpan pada arsip, dokter itu yang memberikannya. Menurutnya ini adalah pesan khusus yang harus ia tonton setelah berhasil melihat, Itachi memeriksa bahwa rekaman itu dibuat sekitar tiga bulan yang lalu. Atau tepatnya, selama ia berada dalam kebutaan. Itachi melihat seorang pria berseragam peneliti sedang duduk dan bercakap-cakap dengannya melalui video rekaman, memperkenalkan dirinya sebagai Fugaku Uchiha; ayah kandungnya.
"Dalam waktu yang singkat ini, aku akan mencoba menceritakan tentang jati dirimu yang sebenarnya… Namamu Itachi, kau berasal dari keluarga Uchiha meski dengan alasan keamanan aku mendaftarkanmu tanpa embel-embel nama keluarga. Pekerjaanku lah yang membuatku mengambil keputusan untuk membuat keberadaan anak-anakku tidak diketahui, bahkan aku memilih sekolah yang berada di luar Konoha untuk menjauhkanmu dari bahaya. Penelitian yang kulakukan demi Konoha cukup berbahaya, dan itu sebuah konsekuensi yang harus kutanggung. Aku tidak ingin mempertaruhkan nyawa anak-anakku, jadi aku berinisiatif untuk memisahkanmu dari klan Uchiha selama beberapa waktu.
.
Itachi… Apa yang terjadi padamu, aku menyesalinya. Kau mengalami kecelakaan lalu lintas saat berinisiatif pulang ke Konoha berbekal uang saku dan peta yang telah kau pelajari sendiri. Murid pandai sepertimu dengan mudah menyelinap keluar dari asrama dan menumpang kendaraan umum menuju perbatasan Konoha. Dari surat yang kau tinggalkan di kamar asrama, aku tahu alasan mengapa kau kabur. Tujuanmu pulang ke Konoha hanya satu; karena adikmu, Sasuke. Kau khawatir dia tidak mengenali sosokmu sebagai kakaknya, karena ketika kalian berpisah Sasuke masih terlalu kecil untuk mengingatmu. Buruknya, saat itu kendaraan yang kau tumpangi mengalami kecelakaan fatal."
Bayang-bayang ketika ia menimang sesosok bayi laki-laki terlintas, kepalanya berdenyut tak tertahankan. 'Sasuke, ini Nii-chan!' Itachi mendengar kalimat itu terngiang, disertai gambaran ketika ia mengangkat adiknya tinggi-tinggi sambil tertawa renyah. Kilasan tentang ibunya, atau ayahnya… Juga gambaran sebuah bangunan yang ia yakini sebagai rumah, tempatnya untuk pulang.
"Aku segera terbang menuju Suna setelah mendengar kau dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan sekarat. Kepalamu terantuk cukup keras, kau mengalami koma dan harus mengalami kebutaan dan… Hilang ingatan. Saat kau tersadar dan tidak mengingat apapun, aku mengutuki diriku sendiri sebagai figur ayah yang gagal, Itachi. Tapi hanya menyadari kesalahan dan melihatmu buta pun percuma… Aku tidak bisa tinggal diam. Akhirnya aku menciptakan sebuah pengembangan kornea bernama Sharingan yang kusesuaikan dengan matamu, lalu merencanakan operasi pencangkokan mata melalui dokter kenalanku di Suna. Hasilnya, meskipun tidak ingat apapun… Setidaknya kau telah melewati kebutaan dan mampu melihat, lagi."
Argh, sakit! SAKIT! Setiap kilasan gambaran masa lalunya muncul kepalanya terasa amat sangat sakit, seperti dirajam dengan ribuan jarum. Itachi berteriak sekuat tenaga sambil memegangi kepalanya, tubuh mungil itu gemetar dan air mata jatuh dari mata Sharingan-nya. Dokter juga perawat dengan sigap datang memegang erat pasien yang berteriak kesakitan. Mereka segera menjauhkan rekaman itu dan menyuruh Itachi agar beristirahat. Dia tidak perlu memaksa seluruh ingatannya kembali dalam sekejap. Itachi mengiyakan, dengan keyakinan ia akan mengingat jati dirinya lagi.
Berhari-hari terkurung dalam kamar rumah sakit yang terisolasi, melalui video message Itachi berhasil mengingat masa lalunya. Tidak semua, setidaknya dia ingat tentang kebahagiaan saat menggendong bayi kecil bernama Sasuke. Menyayangi sang pemilik onyx itu, mengingat detik-detik dimana Itachi harus berpamitan dengan adiknya yang masih tertidur pulas ketika ia berangkat ke Suna. Sharingan yang menjadi matanya adalah salah satu hasil penelitian yang membuat Fugaku diincar oleh 'rekan ayahnya yang serakah'. Mata ini juga merupakan peninggalan terakhir Fugaku untuk Itachi, begitu yang dikatakan pria itu dalam video. Sebelum rekaman itu terhapus otomatis, Fugaku menitipkan pesan agar tidak mencari letak keberadaan Uchiha kecuali ia sudah cukup dewasa dan bisa mengingat semuanya.
.
.
.
Tahun demi tahun berlalu dengan cepat bagi sebagian orang, tidak demikian dengan Itachi Uchiha yang telah beranjak dewasa. Sepeninggal dari rumah sakit dan kembali ke asrama sekolah, ia hampir menjadi gelandangan jika tidak memiliki otak jenius. Sebagai yatim piatu Itachi menghidupi diri dari beasiswa pemerintah, berhasil lulus dari Universitas Suna dengan nilai sempurna. Kini bukan hanya otaknya, ternyata mata sharingan yang diterimanya itu memiliki keistimewaan. Dalam keadaan emosi yang tidak terkontrol irisnya akan berubah menjadi merah secara otomatis. Namun setelah berhasil mempelajari kemampuan barunya, Sharingan memberinya kemampuan penglihatan ekstra seperti melihat detil dalam kejauhan; sesuatu yang seharusnya dilakukan menggunakan bantuan teropong. Itachi juga mampu melihat perubahan emosi dan aura keberadaan seseorang.
Dia mampu melihat bagaimana kondisi emosional lawan bicaranya, membuat Itachi mampu mengendalikan situasi dan terlahir sebagai ahli berdiplomasi. Ia diperebutkan oleh berbagai perusahaan negara, karirnya melesat naik dan berjalan selaras dengan pendapatan finansialnya yang semakin tinggi. Wanita berkelas satu per satu datang, Itachi bisa mendapatkan semuanya dengan mudah meskipun lebih memilih mengacuhkannya. Setelah mengingat masa lalunya, Itachi terlalu sibuk mencari tahu tentang kematian klan Uchiha yang penuh kejanggalan. Sebelumnya ia mendengar kabar bahwa adiknya; Sasuke Uchiha telah meninggal dalam tebing Konoha. Hatinya hancur ketika mengunjungi makam dan menghadiahi sebuket bunga pada batu nisan adiknya.
Beberapa kali ia mengunjungi Konoha mengenai misteri hilangnya klan Uchiha sekaligus mencari keberadaan sahabat masa kecilnya; Konan. Ada beberapa petunjuk namun semuanya berakhir menuju jalan buntu, seakan mereka sengaja menghilangkan jejak. Ia juga sempat mencarinya ke beberapa tempat lain namun tidak membuahkan hasil yang baik, membuatnya hampir menyerah. Namun keinginannya untuk menyerah selalu tertunda karena ia sendiri tidak menginginkannya, atau tepatnya karena wanita itu tidak bisa putus dari ingatan Itachi. Nama 'Konan' terpatri di alam bawah sadar Itachi selama bertahun-tahun. Berapa pun banyaknya wanita yang berhasil ia dekap, rasanya tetap hampa.
.
.
Suna – Setahun yang lalu.
Tahun ini adalah tahun pertamanya bekerja di sebuah lembaga keamanan Negara Suna. Dering telepon tak henti-hentinya menghiasi ruangan, ditambah dengan bunyi ketikan keyboard yang menandakan adanya rutinitas kerja per harinya menjadi lingkungan pekerjaan pria ini. Dia memutuskan untuk bekerja di lembaga keamanan atas pertimbangan tertentu, ada kemungkinan kasus yang ia tangani berhubungan dengan misteri Uchiha. Seperti memancing di air keruh, tapi dia tidak pernah menghapus harapan sekecil apapun. Hari itu, Itachi hanya terpaku pada layar monitor komputer sebelum tiba-tiba telepon di meja kerjanya berdering, dari ruang atasannya.
"Itachi, ke ruanganku sekarang."
Alis pria ini terangkat, tapi Itachi mengikuti perintah atasannya menuju ruang terpisah yang berada di ujung lorong. Pria itu membuka pintu dan melihat ada seorang tamu yang tengah duduk berhadapan dengan atasannya yang gendut dan berpakaian jas warna gading. Suara pintu yang terbuka membuat keduanya sadar pada kehadiran Itachi, mereka menoleh lalu berdiri.
Itachi diam beberapa detik di tengah-tengah ruangan, dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Bertubuh tinggi semampai, berambut keunguan dengan iris mata senada, wanita itu tampak cantik dibalut pakaian kerja formal. Membuat mata pria ini menelaah tubuh di hadapannya dari ujung kepala hingga kaki, ciri juga postur wanita ini mengingatkannya pada-
"Perkenalkan. Mulai hari ini dia akan bekerja bersama kita sekaligus menjadi rekanmu." Atasannya berdiri memperkenalkan sementara Itachi masih berkutat pada pikirannya yang menerawang, "Namanya Konan. Nona, ini rekan yang akan mengajari tentang semua job desk-mu, dia Itachi."
Jantung Itachi serasa berhenti, ini hanya kesamaan nama… Atau dia benar-benar Konan?!
"Halo, saya Konan..." sapa wanita itu dengan senyumnya yang cantik seraya menjulurkan tangan, "Salam kenal, mohon bimbingan Anda."
Itachi bahkan tidak sempat merespon uluran tangan wanita bernama Konan, dia masih terdiam. Kebingungan selama beberapa detik. Hingga atasannya yang gendut itu harus menepuk pundak anak buahnya yang masih melongo seperti hilang kesadaran. Setelah ditepuk dan tersadar, barulah Itachi menyambut uluran tangan lalu berjabat tangan dengan partner barunya. Merasakan jemari lentik itu mengadakan kontak dengan tangannya, Itachi merasa jantungnya semakin berdegup tidak teratur. Sedikit kikuk dan ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat itu.
"Salam kenal." Itachi berusaha tetap tenang namun memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf sebelumnya, tapi… Apa- Eh, Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Nona?"
Wanita itu menaikkan alis dan menggeleng sambil tetap tersenyum, "Kurasa tidak."
.
Wanita cantik yang menjadi partner barunya itu membuat Itachi penasaran setengah mati, bahkan ia sempat menggunakan mata sharingannya untuk melihat kondisi emosi wanita yang bernama 'Konan'. Emosi wanita ini selalu stabil bahkan cenderung stagnan, meskipun demikian Itachi masih mencurigai dia sebagai sahabat masa kecil yang menemani menjalani masa-masa kebutaannya. Hubungan mereka selama tiga bulan pertama benar-benar berdasarkan profesionalitas kerja. Dan selama itu Konan memang seakan tidak pernah mengenal Itachi, bahkan memiliki kepribadian yang berbeda dengan 'Konan' masa kecilnya. Dia lahir dari keluarga mapan, ayahnya seorang pengusaha sedangkan ibunya dikenal sebagai salah satu konsultan interior.
Memasuki bulan berikutnya intensitas percakapan mereka semakin sering, Itachi yang memaksa dirinya sendiri untuk tetap berkomunikasi dengan partner barunya itu. Ada ketertarikan khusus yang dirasakan pria ini, obrolan mereka cocok dan tingkat kecerdasan mereka pun setara. Meskipun cukup akrab, Konan menolak tawaran Itachi mengantarnya pulang karena ia memiliki kekasih yang setia menjemput setiap hari. Faktanya Itachi memang pernah melihat sebuah mobil mewah menjemput Konan, pemilik mobil itu memperlakukannya seperti tuan putri. Melihat itu Itachi semakin ragu dan merasa ia terlalu terobsesi menemukan Konan masa kecilnya.
'Pakai otakmu! Memiliki kesamaan nama dan beberapa ciri lain tidak berarti mereka orang yang sama, kan?'
.
Hampir lima bulan meja kerja mereka bedampingan dan Itachi mulai terbiasa dengan keberadaan Konan. Terkadang bersama rekan kerja yang lain mereka akan makan siang bersama. Pada saat tertentu Konan juga mengikuti acara minum-minum seusai jam kantor dengan alasan pacarnya sibuk atau ia sedang bosan, dan Itachi dengan senang hati menjadi teman berbincang bagi wanita ini. Mungkin, dia menyukai Konan… Entah karena mereka memang cocok, atau karena terobsesi menemukan sahabat masa kecilnya. Intinya Itachi merasa memiliki perasaan khusus yang tak bisa disangkal.
Beberapa rekan kerja Itachi yang jahil sering mengomentari kedekatannya dengan Konan, sekedar mengingatkan kalau ia terlalu nekad mendekati seorang wanita yang sudah memiliki kekasih kaya raya. Tapi tentu Itachi tidak pernah peduli. Meskipun ia menyangkal semua perasaannya, namun keinginan untuk bersama wanita itu selalu datang menghantui. Seperti hari ini, jam makan siang tiba dan Itachi melihat Konan tengah duduk di sebuah meja, siap menyantap makan siangnya.
"Hei, uh- Keberatan aku duduk disini?" tanyanya dengan sopan, sekedar basa-basi karena sebenarnya dari awal Itachi sudah mengincar tempat duduk di hadapan wanita itu sebelum pria-pria lain melakukan hal yang sama. Sambil tersenyum, Konan mempersilakan rekan kerjanya duduk lalu mereka makan sambil diselingi beberapa pembicaraan ringan.
"Ngomong-ngomong, kapan kau pindah ke Konoha?" Itachi bertanya tiba-tiba setelah pembicaraan mereka mengarah pada negara yang pernah dikunjungi, "Eh, maksudku- Apa kau pernah tinggal di Konoha waktu kecil?"
"Uhm, tidak." Konan berhenti mengunyah makanannya sambil menatap iris mata Itachi dengan tatapan heran, "Aku lahir dan besar di Suna, hanya menyelesaikan pendidikan sarjana di luar lalu kembali lagi kesini. Tidak sanggup meninggalkan Suna yang menjadi tanah kelahiran, terutama karena faktor lain… Kau tahu, pacarku itu tidak tahan dengan hubungan jarak jauh!"
Hati Itachi mencelos.
Mungkin benar… Dia terlalu terobsesi mencari Konan masa kecilnya.
.
"Ada apa memangnya?"
"Eh?" pria itu terbangun dari lamunannya.
"Kenapa kau bertanya tentang Konoha, ada apa?"
"A-Ah, tidak apa-apa… Jangan dipikirkan." Itachi mengelak namun tidak sanggup menjauhkan pandangannya dari wanita ini. Sempat mengutuki takdir mengapa ia sudah memiliki kekasih, termasuk menyayangkan kenapa dia bukan orang yang selama ini ia cari. "Kau… Mirip dengan seseorang yang kukenal."
"Wah, benarkah? O-oh… pantas saja ketika kita berkenalan, kau bertanya apa kita pernah bertemu sebelumnya?" pertanyaan Konan membuat pria ini hanya bisa membalas dengan senyum lalu mengangguk kecil, "Siapa wanita itu? Apa hubunganmu dengannya?"
Itachi meringis, "Hn… Rumit."
Itachi pamit lalu meninggalkan waktu makan siangnya begitu saja. Dia kehilangan nafsu makan, sekaligus jika menatap wanita itu terus menerus hanya akan membuat perasaannya semakin kacau. Dia mengambil kesimpulan kalau prasangka dan obsesi menemukan Konan masa kecilnya justru membuat Itachi terlihat bodoh. Absen mengikuti sisa jam kantor dan tidak pergi ke Raikiri Café seperti biasa, Itachi bermaksud mendinginkan kepalanya dengan alkohol. Dia benci dengan keadaannya saat ini, semuanya terasa hampa dan monoton. Menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk mencari kepingan masa lalu yang hingga saat ini belum ada kejelasan, sungguh menyedihkan. Satu per satu beban pikiran itu ia hapus melalui cairan scotch yang terasa panas ketika menuruni kerongkongannya.
Sampai saat ini aku tidak tahu apapun tentang nasib klan Uchiha… Juga tentang keberadaan Konan. Meski aku mendapat karir dan pekerjaan yang cukup mapan, kehidupan finansial yang berlimpah… Semua itu seperti omong kosong. Belum ada satu pun tujuan hidupku yang terpecahkan!
Hidupku selama lima belas tahun terakhir… Seperti orang tolol.
.
.
Sore berganti malam, dia tidak bisa membedakannya lagi. Tidak terlalu mabuk memang, tapi Itachi terpaksa harus meninggalkan kendaraannya lalu pulang menggunakan taksi. Tiba di apartemen mewahnya, Itachi merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci. Membukanya dengan nomor kombinasi, pintu terbuka dan ia masuk dengan sedikit terhuyung. Itachi menanggalkan sepatunya asal-asalan karena bermaksud segera mandi dan tidur, ia pun mempercepat langkahnya menuju letak kamar. Baru saja hendak melangkah, ia berhenti. Menyadari lampu ruang santainya menyala dan- Mata sharingannya menangkap ada keberadaan orang lain disana.
Penyusup?!
Ia bergegas menjejakkan kaki ke ruang santai untuk memeriksa keadaan.
Dan hanya mampu melongo ketika menyadari sosok si penyusup.
.
.
.
"Ko-Konan?!"
Itachi melihat wanita berambut keunguan itu tengah duduk manis di sofa apartemennya. Mengenakan kemeja kerja berwarna putih dan rok hitam sama seperti yang dilihatnya tadi siang, wanita itu duduk sambil melipat satu kakinya; masih menggunakan high heels. Dengan posisi duduk yang santai sekaligus terlihat seksi tersebut Konan mengecap wine yang dituangnya sendiri. Ia hanya tersenyum geli ketika Itachi masih berdiri keheranan, mematung tanpa berhasil mengatakan sepatah kata pun.
"Welcome home… Atau bisa kusebut sebagai pesta reuni teman masa kecil?" ucapannya terdengar menggoda. Konan menyesap wine lalu menaruh gelas minumnya di atas meja layaknya tuan rumah, masih dalam posisi duduk menyilangkan kaki.
"Bagaimana caranya kau masuk ke apartemenku?" Itachi berusaha keras menanyakan hal itu dengan nada setenang mungkin, "Pintunya selalu terkunci."
Konan tertawa kecil sambil mengambil anak kunci dari saku dan menunjukkannya di depan mata Itachi Uchiha, seperti memamerkan bukti bahwa ia masuk tanpa kesulitan. Sifatnya berubah drastis dari yang dikenalnya selama lima bulan terakhir di kantor, wanita di hadapannya terlihat misterius dan dingin.
"Kunci duplikat, handsome…" Konan balas menatap Itachi dengan senyuman, merasa puas ketika respon Itachi tetap terpaku pada tempatnya, "Kau tidak selalu membawa kunci rumahmu ketika bepergian di kantor, kan? Itu memberiku celah untuk menduplikat kunci milikmu. Lalu tentang nomor kombinasinya… Uhm, menurutku sistem keamanan dengan kombinasi nomor tidak terlalu sulit untuk dibongkar."
.
Itachi merasa frustasi, senyum wanita ini terlihat seperti madu yang mengandung racun. Ia menginginkannya, sekaligus merasa was-was pada sifatnya yang terlampau misterius. Dia tidak terlihat seperti Konan yang dikenalnya sejak ia masih berada dalam kebutaan, yang harus berpisah dengannya karena diadopsi. Bukan, sifatnya ini juga berlainan dengan Konan rekan kerjanya di kantor. Che, apa jangan-jangan wanita ini berkepribadian ganda?
"Setahuku Konan yang kukenal adalah yatim piatu yang diadopsi." Itachi mulai menegaskan ucapannya, "Bukan sesosok wanita yang memiliki orang tua dari keluarga terpandang seperti Konan rekan kerjaku."
"Oh… Itu hanya 'peran' yang harus kumainkan di depan semua orang."
Jawaban simpel dan menggantung dari wanita ini semakin membuatnya jengah.
"Kemana kau selama ini?" Itachi tetap berdiri seraya melipat kedua tangannya, "Di luar kau bersikap seolah-olah tak mengenalku, dan tiba-tiba sekarang ada disini. Duduk di sofa apartemenku tanpa izin, seperti penyusup. Apa maumu sebenarnya?"
Wanita itu hanya tersenyum simpul ketika melihat Itachi menghela napas.
Konan… Dia masih tetap cantik seperti foto masa kecilnya; satu-satunya benda yang Itachi miliki tentang wanita ini. Jadi benar dugaan Itachi selama lima bulan terakhir, tapi kenapa Konan berperilaku seolah-olah tidak pernah mengenal sahabat masa kecilnya? Hal itulah yang membuat pria Uchiha ini ragu sekaligus bertanya-tanya, dan dengan peristiwa kali ini kecurigaan Itachi berubah menjadi kenyataan. Kewaspadaannya meningkat. Bagaimana mungkin seorang pegawai kantoran bisa menjebol sistem keamanan dengan nomor kombinasi seperti yang dilakukannya barusan?!
.
"Menjebol nomor kombinasi kediaman seseorang bisa dikatakan tindakan kriminal, lagipula itu tidak terlihat sebagai pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang pegawai kantoran biasa." Itachi akhirnya beranjak dari tempat ia berdiri lalu maju berhadapan dengan Konan. Sambil mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin ke depan wajah wanita itu, ia tersenyum sinis. Jarak antar mereka hanya terlampau beberapa sentimeter, "Jadi benar… Kau memang orang yang kucari."
Dalam jarak sedekat itu Konan tidak mundur maupun menghindar, namun memilih diam sambil terus menatap Itachi. Iris matanya terlihat tegar dan berani, yang bagi pria berdarah Uchiha itu berarti tantangan karena tidak merespon pertanyaannya.
"Aku memang mengenalmu," Konan akhirnya menjawab dengan nada datar, "Lalu apa yang harus aku katakan? Basa-basi seperti 'lama tidak bertemu, ya'? Begitukah?"
Itachi meringis.
Sial, selama lima bulan aku dibodohi oleh akting wanita ini…
"Mungkin kau tidak pernah tahu apa yang kulakukan selama ini, Konan." Itachi sejenak berpikir harus mengatakannya atau tidak. "Selama ini aku berusaha untuk mencari keberadaanmu sejak kau diadopsi, tapi anehnya kau tidak bisa kutemukan! Sekarang kau tiba-tiba datang di kantor itu sebagai partner kerjaku, sambil berpura-pura tidak mengenalku. Membuatku berpikir apa mungkin kau lupa, atau memang kau bukan Konan yang kucari? Tapi nyatanya kau ada disini dengan... Yah, semua yang baru saja kau katakan. Sebenarnya apa mau-" ucapan Itachi terpotong.
.
"Relax," Konan menjawab singkat sementara kedua alis Itachi terangkat, tidak mengerti. Jemari wanita itu tiba-tiba terangkat lalu menyentuh pipi kanan Itachi, merasakan kontak dari Konan pada permukaan kulitnya sontak membuat jantung Itachi berdegup lebih kencang. Dia terpaku pada posisinya, tanpa sedikit pun protes ia membiarkan jemari itu mengelus pipinya dengan lembut. Senyum yang terpatri pada bibir wanita itu membuatnya luluh, "Aku punya alasan tersendiri mengapa berperilaku tidak mengenalmu, tapi untuk saat ini tidak bisa kukatakan. Yang pasti… Aku ingin menemuimu."
"Che, konyol. Untuk apa kau berniat menemuiku?" Itachi balas bertanya dan mendadak terdiam saat Konan menarik wajah Itachi hingga mendekati wajahnya, mereka saling bertatapan, dan dalam jarak sedekat itu dia bisa merasakan hembusan nafas Konan. Perlahan wanita itu maju dan memberi kecupan singkat di bibirnya. Jantung Itachi serasa berhenti karena tidak percaya, tubuhnya mematung. Kali ini dia benar-benar mengira sedang bermimpi atau mendapat halusinasi. Menyalahkan scotch yang tadi ditenggaknya mungkin terlalu banyak dan membuatnya mabuk.
"Aku ingin menemuimu, hanya itu alasannya. Karena aku harus berperilaku tidak mengenalmu di luar sana, maka satu-satunya alternatif adalah… Aku yang menemuimu." Konan menyunggingkan senyum, "Lalu… Apa yang akan kau lakukan pada sahabat lamamu ini? Rindu padaku?"
Tanpa menjawab, Itachi sudah membungkam mulut Konan dengan bibirnya.
Sial. Pertahanan diri Itachi runtuh ketika bibirnya bertemu dengan bibir wanita itu. Dia akan menyalahkan pengaruh alkohol yang membuatnya labil, meski dia sadar hanya menghindari perasaan sebenarnya. Konan tidak menolak ciuman itu, justru membalasnya dengan melesakkan lidah ke rongga mulut Itachi, beradu dengan miliknya. Merasakan aroma tubuh wanita ini membuatnya hilang akal sehat, pagutannya bertambah liar dalam melumat bibir ranum itu sementara Konan juga menyambut tiap ciumannya. Dia tidak mengerti permainan apa yang sedang dimainkan wanita misterius ini, juga mengapa ia harus berperilaku seolah tak mengenalnya.
Ia mengesampingkan semua pertanyaan, konsentrasinya terpaku hanya pada Konan. Dan ciumannya yang menghipnotis. Luapan perasaan Itachi tidak terbendung, lumatan bibir wanita itu seperti candu. Itachi merasakan dirinya berdebar sekaligus bingung. Bukan cuma satu atau dua wanita yang berhasil didapatkannya dalam kurun waktu beberapa tahun, dia bisa mendapatkan mereka semudah menjentikkan jari. Tapi nama wanita ini selalu memiliki arti khusus bagi Itachi Uchiha, entah mengapa ia berharap ada kesempatan untuk menemukannya lagi.
Dan sekarang adalah saat dimana penantiannya tiba.
.
ALERT! *MATURE CONTENT, yang risih bisa langsung skip.*
.
.
Sungguh. Dia tidak percaya telah berhasil menemukan wanita ini lagi.
Dari posisi mencondongkan badan kini Itachi berlutut, mensejajarkan pandangan mereka. Lengan Konan mengalungi belakang lehernya sebelum ia kembali berinisiatif memulai cumbuan. Ciuman panas keduanya kembali berlanjut sesaat setelah mereka menarik napas, erangan Konan ketika lidah mereka beradu membuat nafsu Itachi semakin terpacu. Tidak butuh aba-aba ketika jemari pria itu menggerayangi tiap lekuk tubuh wanita berambut keunguan tersebut, sementara ia menikmati leher jenjang Konan. Bagaimana ia mengecup dan menggigit sudut demi sudut, perlahan-lahan menuruni jenjang lehernya hingga bersemu kemerahan. Tindakan itu menghasilkan reaksi suara yang membuat Itachi hilang kesadaran, wanita itu meremas rambut Itachi seperti tidak ingin melepaskannya.
Itachi Uchiha menginginkan wanita ini menjadi miliknya.
Memiliki Konan, seutuhnya…
.
"Ini yang kuinginkan saat ini," Itachi berbisik di sela-sela ciumannya, "Aku menginginkanmu."
Respon wanita berambut keunguan ini melebihi ekspektasi Itachi. Di luar dugaan, tiba-tiba Konan mendorong pria ini hingga terduduk di karpet apartemennya sementara ia bangkit berdiri. Sambil terus menatap Itachi, Konan mulai melucuti pakaiannya sendiri, pertama-tama ia menanggalkan heels-nya. Lalu satu per satu kancing dari kemeja berwarna putih yang dikenakannya kini terbuka, hingga akhirnya jatuh tergeletak. Dengan satu gerakan mulus ia juga membuka pengait rok dan membiarkan rok hitamnya meluncur ke bawah dan berakhir di atas lantai. Wanita itu kini hanya mengenakan bra berwarna hitam juga pakaian dalam berwarna senada, dari jarak pandangannya ia tersenyum penuh arti. Menatap Itachi yang balas menatapnya seperti serigala lapar, mata pria itu dipenuhi nafsu birahi.
Menengadahkan kepala sambil memperhatikan wanita itu melucuti pakaiannya satu per satu membangkitkan gairah tersendiri bagi sosok pria Uchiha ini, dalam pandangannya Konan terlihat sangat menggoda. Apa yang dilakukan wanita itu jelas bukan gestur seorang amatiran yang merengek untuk ditiduri, ia menelan ludahnya sendiri. Tidak sabar untuk melumat tubuh itu. Pikirannya berbanding lurus dengan rasa sesak yang menguasai daerah celananya, Itachi tidak dapat menahan rasa panas yang terasa menggebu-gebu. Berbagai pikiran liar menguasai otaknya, betapa dia ingin menjilati tiap senti tubuh Konan dan mengklaim wanita itu dengan miliknya. Bagaimana ia ingin mendengar desah dan rintihannya ketika tubuh mereka bersatu, saat ia memacu kejantanannya hingga mencapai akhir.
Itachi hilang kesabaran.
.
"Sudah, cukup..." Dia mengulurkan kedua tangan lalu menarik tubuh Konan setengah paksa hingga berada di atasnya, yang segera disambut oleh wanita itu dengan menghujani wajah Itachi menggunakan ciuman. Pria ini memiringkan kepala seraya berbisik di telinga wanita dalam dekapannya, "Cukup. Aku sendiri yang akan melucutimu, Konan."
Pria berdarah Uchiha ini tanpa kesulitan melepaskan pengait pada bra hitam yang dikenakan Konan, membuang benda itu sembarangan dan membiarkan tubuh atas wanita itu kini berubah menjadi polos. Dia dapat melihat kulit wanita idamannya yang mulus juga lekuk tubuhnya yang terlihat sempurna di mata Itachi. Sementara ia mengagumi dan menjelajahi punggung polosnya, menggerayangi setiap lekuknya, jemari Konan juga balas melucuti pakaian Itachi. Bibir wanita itu mengecup tiap sisi wajah Itachi, jemarinya membuka satu per satu kancing pakaiannya.
"Aku pikir- Selamanya tidak akan bisa bertemu lagi denganmu." Itachi menggumam, "Ini seperti mimpi."
"Ssshh… Ini nyata, tampan." Wajah Konan berpaling, mengecup pipi Itachi kemudian menjilat daun telinganya, menggigit kecil telinga Itachi untuk memberikan rangsangan sambil berbisik, "Pada kenyataannya, akulah yang menemukanmu."
.
Bibirnya yang beradu dengan milik Konan kini berhenti, berganti dengan menghujani leher wanita itu dengan ciuman-ciuman kecil. Erangan kembali terdengar dari bibir Konan. Sensasi geli ditambah kulit yang meninggalkan ruam kemerahan, perlahan mulut Itachi menuruni lehernya, menggigit daerah bahu wanita itu lalu menjilati daerah antara leher dan pundaknya, dan perlahan turun hingga menuju daerah dada. Sebelah tangannya sibuk bermain-main dengan payudara kanan wanita itu, sedangkan mulut Itachi menguasai bagian kirinya. Tatapannya dipenuhi nafsu. Deru napas keduanya semakin tidak beraturan.
Gigitan-gigitan kecil pada permukaan kulit di sekitar dadanya membuat Konan mengerang lebih keras, ditambah dengan lumatan dan permainan mahir lidah Itachi yang tanpa henti memberikan puting itu rangsangan. Lidah sang Uchiha mengulum puting milik Konan, menghisap perlahan lalu menjilati setiap sudutnya. Desahannya lagi-lagi terdengar ketika pria itu memainkan lidahnya pada ujung puting yang mengeras, menjilatnya sekilas lalu melakukan rangsangan yang sama berulang kali.
Demikian juga dengan jemari yang berada di sisi kanan, bentuk dada yang indah dan kenyal itu membuatnya gemas. Pertama-tama Itachi mengusap puting Konan agar mengkerut, lalu mulai memainkannya dengan jari. Kegiatan remasan juga pijatan pada dadanya mendominasi, dia menstimulasi hasrat seksual Konan agar terbangun. Jamahannya membuat Konan sesaat berhenti melucuti pakaian Itachi. Ia memejamkan mata, terhanyut pada dunianya seraya meminta lebih. Konan juga tidak tinggal diam, ia membalas perlakuan pria itu dengan menggerayangi tubuhnya hingga Itachi menggeram. Dari sentuhannya dia tahu wanita ini bukan amatiran.
.
Wanita ini membuatnya gila.
.
Dengan satu gerakan mudah Itachi menaikkan tubuh wanita yang berada di atasnya menuju sofa, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera setelah punggung Konan menyentuh permukaan sofa, Itachi kembali menikmati tubuhnya. Jemari tangannya melesak turun menuju kewanitaan Konan, berada di balik celana dalam hitam model tali yang dikenakan wanita itu. Tubuh Konan menggeliat ketika tangan Itachi kini mulai bermain dengan organ sensitifnya. Menyadari area intim wanita itu telah basah oleh rangsangan, Itachi menurunkan celana dalam hitam itu. Melepas artikel terakhir yang membungkus tubuh, Konan polos sepenuhnya. Napasnya naik turun ketika ibu jari dan telunjuk pria itu mengelus daerah kewanitaannya, menemukan letak klitoris lalu mulai menjamahnya.
"Aahhnnnn…" Konan mulai mendesah lebih kencang, terutama ketika gumpalan syaraf kenikmatan itu ditekan dan digesekkan dalam ritme naik turun. Panggulnya otomatis terangkat akibat mendapat rangsangan dari Itachi, otaknya buntu. Ia merasa di atas awan, jemari Itachi yang memanjakan daerah kewanitaan dan buah dadanya, semua rangsangan itu sudah membuatnya mabuk kepayang. Sementara lidah pria itu juga tidak pernah berhenti mencumbu dan mengulum puting yang kini tegak mengeras, Konan melenguh. Reaksinya membuat Itachi tersenyum puas, tapi itu belum cukup.
"Kau cantik…" Itachi berhenti mengulum buah dada Konan dan ciumannya menuruni daerah perut wanita itu, rasa geli dari jilatan pada perutnya membuat Konan menggeliat. Sensasi layaknya serangan elektrik memenuhi dirinya ketika lidah Itachi berada di sekitar pusarnya, geli namun menyenangkan, membuatnya merinding dan semakin sulit menarik oksigen akibat kenikmatan yang bertubi-tubi. Pria itu menjelajahi tiap bagian yang dapat ia rengkuh, mengagumi tubuh molek yang menggelinjang nikmat di hadapannya karena rangsangan, "Aku menginginkanmu, Konan… Jadilah milikku."
.
Pagutannya pada daerah perut turun pada paha hingga menuju area sensitifnya, Itachi membuka kedua kaki jenjang itu hingga terbuka lebar dan memperlihatkan daerah intim sang wanita. Kejantanannya yang masih terhimpit celana terasa begitu menyakitkan, tapi dia tidak ingin menyudahi permainannya sesingkat ini. Ia membungkuk, lidah Itachi mulai merangsang kewanitaan Konan dan menimbulkan wanita itu menjerit kecil. Sementara lidahnya menjilati organ seksual Konan, satu jari telunjuknya ia masukkan kepada lubang senggama yang sukses membuat desahan nikmat semakin terdengar.
Wanita ini mendesah, mengucapkan beberapa kata umpatan akibat sensasi yang tengah dirasakannya. Tangannya mencengkeram pinggiran sofa sementara pikirannya terasa melayang nikmat. Basah, sekarang dia ingin merasakan 'milik' pria itu. Memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, Konan yang dikuasai kenikmatan mulai meremas-remas buah dadanya sendiri. Menstimulasi kedua dada yang lepas dari kehangatan mulut pria itu, buah dadanya naik turun saat jemari Konan bermain di atasnya, mengusapi puting yang sebelumnya telah menegang. Itachi merasa tekniknya berhasil, apalagi ketika salah satu tangan Konan berada di belakang kepalanya. Wanita itu menekan dan mengatur gerakan lidah Itachi agar sesuai dengan rangsangan yang diinginkan.
"Cu-cukup…" Konan mendesah tidak dapat menahan dirinya lagi, "Sampai kapan kau mau menggodaku dengan foreplay? Lakukan, sekarang!"
Itachi tetap tidak bergeming, justru berinisiatif memasukkan satu jari lagi pada kewanitaan Konan. Tubuh Konan menggelinjang nikmat, desahan-desahan itu semakin terdengar dan membuat Itachi semakin hilang akal. Mulutnya meraup bagian terintim yang telah basah oleh cairan, lidahnya bermain menciptakan rangsangan di sekeliling vagina Konan. Dua jari yang berada di dalam lubang senggama ditarik masuk dan keluar, juga sesekali ia tekuk untuk memberi rangsangan pada dinding-dinding rahim wanita itu. Klitoris Konan tidak henti-hentinya ditekan dan dipijat dalam ritme tidak beraturan. Membuat respon wanita berambut keunguan ini menggila, desahannya semakin menjadi, keringat mulai membanjiri keduanya.
"Akh, ah, cu-cukup… Henti- AAahhh!" Konan mengerang ketika jari ketiga Itachi masuk dan membuatnya hilang kendali. Tubuhnya seketika mengejang dan ia meremas kepala Itachi dengan keras sementara cairan kenikmatannya keluar membasahi jari-jari sang pria. Itachi menghentikan godaannya lalu menjilati cairan pada jemarinya dengan senyum kemenangan. Sambil mengagumi postur Konan yang masih terengah-engah setelah klimaks pertama, pria ini dengan sigap membuka sabuk juga celananya. Akhirnya rasa sakit dan sesak yang daritadi menyiksanya berakhir, batang kejantanannya telah berdiri tegak, menunggu datangnya gelombang kenikmatan ketika menguasai tubuh wanita itu.
"Shit. Aku menginginkannya…" ucapan Konan terdengar seperti rintihan saat melihat kejantanan Itachi sudah siap di depan matanya, ia setengah memohon. "Sentuhlah! Sentuh aku, aku tidak tahan lagi…"
.
Itachi mengatur posisi dan langsung mengabulkannya. Ketika kejantanan itu melesak masuk melalui Konan, wanita itu kembali mendesah. Namun mendadak Itachi mengeluarkannya lagi lalu terdiam, membuat wanita itu semakin frustasi. Kesulitan menguasai kesadaran yang sepenuhnya diliputi nafsu, "Ke-kenapa… Kenapa berhenti?"
"Panggil namaku." Itachi memandangi tubuh wanita itu sambil terus menahan diri, "Selama ini kau memanggilku dengan nama sebutan 'tampan'... Panggil aku seperti yang kau lakukan dulu, Konan. Panggil aku Itachi."
Wanita itu tampak tidak mengerti sekaligus kehilangan kesabaran, dalam saat-saat seperti ini apa yang dibicarakannya?! Hasrat seksual Konan begitu tinggi dan tidak mampu mencerna perkataan Itachi. Lagi-lagi Itachi memasukkan kejantanannya, menerobos lubang senggama Konan dan membuat tubuh itu menggeliat nikmat sebelum akhirnya berhenti di tengah-tengah. Itachi menggodanya setengah mati. Birahi Konan pada kebutuhan dasar seksualnya semakin meninggi. Tanpa sadar wanita itu mengangkat lalu menggoyangkan sendiri pinggulnya agar mendapat sedikit tusukan dari kemaluan Itachi yang masih tertanam pada daerah kewanitaannya. Pemandangan itu terlihat sangat menggairahkan, tapi Itachi harus bertahan karena belum mendapatkan apa yang ia mau.
.
"Jangan keras kepala," Itachi belum menyerah. "Panggil namaku, Konan."
Konan mendesah frustasi.
"Itachi…" tidak punya pilihan dan menyerah, Konan memanggil namanya, "Itachi, Itachi, Itachi! Puas?! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, to-tolong… Sentuh aku!"
Senyuman puas tergaris dari wajah pria tampan ini. Entah karena apa, Itachi menyukai bagaimana namanya disebut oleh Konan. Ia berhenti menggoda lalu mulai mencumbu bibir ranum itu dengan ritme pelan dan lembut, sementara ia mengatur posisi lalu pinggulnya membantu batang kejantanannya melesak masuk memenuhi diri wanita itu. Konan mendesah juga merintih, suaranya membuat Itachi semakin bersemangat. Saat batang kejantanannya melesak masuk di lubang sempit dan basah itu, nafsunya tidak bisa terbendung. Jepitan pada organ kejantanannya terasa mengagumkan.
Menikmati cengkeraman dan kehangatan bagian intim wanita itu, Itachi mengerang. Saat menghujamkan miliknya Itachi merasa penuh, sebaliknya ketika ia menariknya terasa kosong dan ingin memberinya satu per satu hentakan yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti lokomotif yang terpacu, mereka bergerak dalam ritme naik turun. Cairan yang melumasi organ intim Itachi membantu batang kejantanannya masuk dan menembus daerah terdalam yang dapat ia jangkau, membuat Konan menggelinjang. Konan mengalungi tangannya di sekitar leher pria itu, sesekali kukunya menancap dan membuat Itachi menggeram.
Sofa yang mereka pakai sebagai alas bercinta ikut bergoyang ketika Itachi menginvasi tubuh Konan dengan hentakan-hentakan yang lebih cepat. Wanita itu mengerang dan melumat bibir pria itu dengan penuh nafsu, saling menyatukan diri dalam keintiman. Seluruh sel otaknya menjerit pada kenikmatan seksual yang sedang dirasakannya, napas keduanya terengah-engah meskipun tidak ada niat untuk berhenti.
"Ah… Ahhnn…" suara desahan Konan membuat ritme permainan mereka semakin cepat dan keras. Sensasi yang ia rasakan begitu hebat, desahan-desahan itu terdengar sebagai pemacu pada jiwa Itachi Uchiha untuk memuaskan hasrat wanita ini. Ia membisikkan kata-kata di telinga Konan, membisikkan namanya berulang kali saat area kewanitaan ini membasahi kejantanannya dan membuat miliknya melesak sedalam mungkin. Meminta agar wanita itu menyebut namanya lagi dan lagi, sebagaimana ia menyukai saat namanya terucap dalam desahan-desahan.
"Ita-Itachi… Itachi," namanya lagi-lagi disebut bagaikan mantra. Konan melingkarkan kedua kakinya di antara pinggul Itachi untuk menambah kekuatan rangsangan juga tusukan dari batang kejantanan pria ini, "Ouuhhh, I-Itachi… Lebih… Ahn, lebih cepat!"
Ia mengabulkannya. Dengan segala hentakan yang bisa ia lakukan, Itachi mempercepat ritme permainannya. Genjotannya bertambah liar dan keringat bercucuran membasahi permukaan kulit keduanya. Dia merasa kenikmatan saat menambah hentakan dan memuaskan wanita ini, dia merasakan sesuatu yang lain. Kepuasan tersendiri, dia ingin memberikan segalanya. Bukan hanya kenikmatan yang ia rasakan ketika bersama wanita-wanita lain, ia ingin berusaha memuaskan Konan dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Itachi meletakkan tangannya di pinggul wanita itu. Mengatur napas dan bergerak dalam ritme lain, dia mengubah kecepatan permainan mereka.
.
"Ah, ahn, Akhh… Oh God…" Konan mendesah kencang mendapat perlakuan dan ritme yang berbeda, "Jangan- Ahn, jangan berhenti!"
Pria ini juga ikut mengerang, kontak fisik dalam keintiman mereka membuat klimaksnya semakin dekat. Dan ia merasakan Konan juga berada dalam fase serupa dengannya. Itachi menggertakkan gigi untuk menahan hasrat tersebut, sebisa mungkin ia tidak ingin selesai sebelum wanita ini terpuaskan.
"I-Itachi, a-aku da… AAAKKHHH!" Penantiannya untuk melihat reaksi wanita itu mendapat klimaks kedua tidak terlalu panjang. Wanita ini menggeram lalu mendesah kencang. Seluruh otot tubuh Konan menegang, sambil memejamkan mata tubuhnya menggeliat dan menekuk ke atas, jari-jari yang bebas itu mencakar punggung Itachi sebagai pelampiasan dari gelombang kenikmatan yang datang. Dia merasa gelombang itu bertubi-tubi menghantam kesadarannya hingga kehilangan kata-kata.
Bagian intim Konan berkedut dan membuat celah yang ia masuki bertambah sempit akibat otot-otot yang mengejang. Itachi masih menyisakan sisa-sisa kekuatan terakhirnya untuk menggenjot lubang kewanitaan Konan yang tengah mengalami klimaks. Ia menghentakkan pinggulnya berulang kali dengan kecepatan penuh hingga saat klimaksnya tiba menyusul Konan. Itachi mengerang dan sama-sama mengejang, cairan cinta itu membanjiri lubang kewanitaan Konan dan selama beberapa saat ia terdiam untuk menikmati puncak kenikmatan.
Ruangan itu diliputi lenguhan dan sesaat kemudian desahan keduanya berakhir. Keduanya terkulai lemah dan banjir keringat, ia melepaskan tubuhnya dari Konan dan membiarkan wanita itu mengatur napas. Itachi melirik Konan yang kini juga menatapnya, ia mengelus pipi wanita itu dan tersenyum ke arahnya. Masih dengan sisa-sisa tenaga, pria ini maju lalu mengecup kening Konan dengan lembut.
.
"Ini hebat…" Ucap Itachi terengah-engah, "Kau… Mengagumkan, Konan."
Ia mencari celah bicara di tengah-tengah napasnya yang menderu, kepuasan yang dirasakannya membuat ia mengerti bahwa posisi wanita ini berbeda. Selama ini dia memiliki ketertarikan khusus dengan Konan. Perasaan pada sahabat masa kecilnya tumbuh dan menganggap wanita ini istimewa…. Jika ia tidak ingin menyebutnya sebagai cinta. Itachi tidak ingin memikirkan hal itu, setidaknya untuk saat ini. Rasa lelah dan kantuk mendera, permainan yang ia lakukan kali ini cukup membuat energinya terkuras. Itachi merengkuh tubuh polos Konan dan memboyongnya menuju tempat tidur yang masih tertata rapi. Konan mengecup pipi Itachi yang ia anggap sebagai ucapan rasa terima kasih, mungkin ia terlalu lelah untuk mengucapkannya. Berada di sisi tubuh wanita itu sambil menaikkan selimut, Itachi mendekapnya erat. Tanpa sadar dalam waktu singkat keduanya terlelap, menikmati sisa-sisa keintiman mereka dengan mendekap satu sama lain.
.
.
END OF ALERT! *Silahkan baca mulai dari sini…*
.
"Sekali pun kelak di masa depan kau mengetahui permasalahan pada klan kita, jangan menaruh dendam. Kebencian tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan, Itachi. Karena selamanya penyesalan itu akan terasa menyakitkan. Aku yakin kau memiliki jalan hidup cemerlang, dengan ada atau tidaknya bayang-bayang nama Uchiha. Kau pasti bisa menjadi anak yang kubanggakan. Yah baiklah, kurasa ini sudah waktunya untuk salam perpisahan? Dengarkan aku, ini adalah pesan terakhir sebelum video ini terhapus secara otomatis. Mulai saat ini hidupmu tidak akan terikat lagi dengan keluarga Uchiha, namamu sudah bersih sepenuhnya.
Itachi, anakku…
Seberapa pun besar penderitaan manusia ketika hidup, pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Jadi… Jalani hidup dengan caramu sendiri, lalu jaga dan cintai orang yang berarti untukmu dengan sepenuh hati. Dan sekali lagi, tolong maafkan kebodohan ayahmu.
Selamat tinggal, Itachi."
.
Ia mengerjap, sendi-sendi tubuhnya masih kelelahan sementara kepalanya terasa berputar akibat scotch yang ditenggaknya semalam. Mimpi tentang pesan terakhir dari Fugaku Uchiha membuat matanya terbuka, keadaan kamarnya pagi ini sunyi dan cukup gelap. Tubuh polos tanpa sehelai benang itu terasa dingin, membuat tangannya menarik selimut yang berantakan lalu menaikkannya sebatas pinggang. Perlahan, ia menoleh. Dia merasa lega. Itachi mendapati wanita bersurai keunguan itu masih berada di sisinya, wajah tidurnya tampak tenang tanpa beban. Mungkin selama sepersekian detik pria ini berdoa agar pemandangan di hadapannya bukan mimpi, meski sempat terbesit pikiran jika wanita ini akan pergi meninggalkannya tengah malam ketika ia tidur.
Ah, sudahlah… Ia menenangkan pikirannya sendiri. Menikmati waktu tenang dengan melihat Konan tertidur, sejenak terbayang suasana intim mereka tadi malam, tapi Itachi segera mengenyahkannya jauh-jauh. Wajah tidurnya tetap cantik, membuat pria ini tidak bosan walau menatapnya terus seperti saat ini. Begitu damai. Deru napas wanita itu naik turun secara teratur, membuat tangan Itachi terulur untuk membelai wajahnya. Perasaannya pada wanita ini sekarang campur aduk, dia sendiri tidak bisa menjelaskan artinya. Diam-diam ia tersenyum simpul ketika Konan mengernyitkan alis, terbangun akibat merasakan sentuhan pada wajahnya.
"Tersenyum sambil menatap wanita yang sedang tidur itu terlihat sedikit mengerikan…" Konan akhirnya membuka mata dan menangkap basah pria itu tengah memperhatikannya, "Seperti pria mesum yang mengincar mangsa."
"Hn, benarkah?" Senyum menawan menghiasi bibir Itachi, ia tertawa sejenak lalu secepat kilat mencuri celah untuk mengecup kening wanita yang baru saja terbangun. Wajahnya berseri-seri, "Apa boleh buat. Wajah tidurmu yang tenang itu berbanding terbalik dengan desahanmu tadi malam, Konan."
Konan hanya mampu memutar bola matanya, kehilangan kata-kata.
.
.
"Tentang apa yang terjadi-uh, semalam…"
"Jangan khawatir, aku sudah mensterilkannya." ucap Konan tanpa beban, seperti telah terbiasa menghadapi keadaan seperti ini. Di sebuah meja kecil yang terletak di sudut ranjang Itachi melihat ada sebuah botol obat, berisi semacam pil KB yang mungkin ditenggak wanita ini semalam.
"Bukan, bukan soal itu. Aku justru ingin menjelaskan kalau itu bukan sekedar pelampiasan," Itachi tidak mendapat respon apapun dari wanita di sisinya, tapi dia tetap melanjutkan. "Itu memang spontan, tapi bukan berarti aku melakukannya tanpa perasaan pribadi. Kau mengerti maksudku?"
Konan tetap tidak menjawab, bahkan mengalihkan pandangannya dan ruangan kembali sunyi.
.
"Kau masih membuatku bingung dengan semua ini, Konan," Pria Uchiha ini terduduk, matanya melihat Konan melakukan hal yang sama dengan cara bersandar di punggung ranjang sementara tangannya menarik selimut hingga sebatas dada. Bertatapan dengan matanya, "Apa yang membuatmu mencariku? Atau berpura-pura tidak mengenalku?"
Konan yang terduduk di sisi ranjang itu terlihat sedikit ragu, ia menarik napas sebelum akhirnya menjawab, "Sebuah misi, tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Singkatnya aku terlibat dengan sebuah permainan yang menarik, dan tidak bisa lepas darinya…"
Permainan?
Itachi tampak tidak mengerti, "Misi? Untuk siapa kau bekerja?"
"Sayangnya, aku dibayar untuk menutup mulutku rapat-rapat."
Keduanya kembali terdiam.
"Sasuke, adikmu… Dia masih hidup." Konan bergumam. Itachi terbelalak mendengarnya, selain karena keberadaan adiknya yang masih hidup… Ternyata Konan juga menyelidiki kehidupannya?! Dia jadi ingin tahu apa Konan juga mengetahui rahasia tentang klan Uchiha yang menghilang lima belas tahun yang lalu? Sebelum bertanya, Konan sudah melanjutkan perkataannya, "Aku tahu. Selain mencariku, kau mencari keberadaan keluargamu, kan? Faktanya Sasuke tidak benar-benar meninggal di tebing perbatasan Konoha, ia selamat dan menjadi anggota Akatsuki."
"Akatsuki? A-apa itu?" Itachi mengernyitkan dahi, "Apa hubungannya denganmu?"
"Mereka… Teroris; kasarnya. Kelompok radikal penuntut revolusi dan memiliki rencana besar untuk merubah kebusukan pemerintahan; itu sebutan halusnya." Konan menjawab santai, dia bisa melihat sharingan Itachi tengah mendeteksi auranya. Pria Uchiha ini tidak mendapatkan bukti kalau wanita ini berbohong. "Saat ini aku juga berada di tengah-tengah kelompok itu, aku masuk dalam kantor tempatmu bekerja semata-mata untuk mendapatkan informasi. Sama sepertimu, handsome."
.
Itachi tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan, perkataan wanita misterius ini membuatnya merinding. Tentang Sasuke, Akatsuki, alasan mengapa ia tiba-tiba bekerja di kantor yang sama dengannya, juga mengetahui jati dirinya sudah cukup membuat Itachi menarik kesimpulan; Konan adalah seorang spy. Mata-mata terlatih, dan itu yang membuatnya semakin penasaran. Apa yang ia ketahui selain itu?! Sejak kapan ia menyelidiki kehidupannya, sementara ia sendiri tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Konan? Konan melihat ekspresi Itachi yang masih termangu dan tertawa kecil karenanya, mungkin jati dirinya terdengar sedikit menakutkan bagi pria itu.
"Terkejut?"
Itachi justru beringsut mendekat dan menatapnya secara intens, "Apa maksudmu memberitahuku semua ini, Konan? Apa rencanamu… dan kenapa kau bergabung bersama organisasi seperti itu?!"
Terdiam sesaat, Konan tersenyum penuh arti.
"Karena menurutku permainan ini menarik. Di antara dunia dengan wilayah putih dan hitam juga terdapat warna abu-abu, sekilas mereka terlihat seperti warna yang tampak netral kan? Tapi sebenarnya kau tidak tahu mereka berpihak pada siapa… Merasa dirinya gelap seperti hitam, atau suci layaknya putih?" wanita itu balas menatap pemilik mata sharingan di hadapannya dengan tatapan penuh percaya diri, "Saat ini aku berada dalam wilayah abu-abu tersebut, dan mengikuti arus permainan ini lebih menarik dari yang kubayangkan sebelumnya. Aku ingin mengajakmu ikut masuk ke dalamnya."
Pria itu hanya mendengus geli sementara Konan menggenggam jemarinya untuk meyakinkan, bukan memohon. "Bantu aku, dan aku juga akan membantumu untuk melihat kenyataan dari masa lalu Uchiha. Dengan itu kau bisa melihat apa yang kulihat, Itachi…"
Itachi Uchiha menggelengkan kepala, kehabisan kata-kata.
"Jadi itu rencanamu menemuiku? Che, kau gila." Itachi turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari baju di sisi ruangan, membelakangi wanita itu dalam keadaan telanjang bulat dan sama sekali tidak peduli Konan tengah memperhatikan tiap gerak-geriknya. Mengambil pakaian teratas pada tumpukan baju, Itachi mengenakan pakaian santai dan bermaksud segera mandi. Terlebih karena ini akhir pekan, ia ingin menghabiskan waktunya dengan beristirahat. Bersama Konan, kalau bisa. Tapi pemikirannya lagi-lagi ia redam, dia merasa bodoh. Meskipun mencarinya selama bertahun-tahun, wanita itu ternyata seorang mata-mata profesional dan besar kemungkinan akan membawa hidupnya pada bahaya.
.
Sharingannya menangkap wanita itu menghilang dari kamar, Itachi mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru lalu bergegas keluar. Dilihatnya Konan tengah memunguti satu per satu pakaian yang tergeletak di pinggiran sofa, wanita itu tinggal mengenakan kemeja juga roknya. Mungkin berpikir kalau sesaat lagi ia akan pergi meninggalkan apartemen ini, tanpa berpikir pria ini segera menghampirinya. Entah karena dorongan apa, dengan refleks tangan Itachi mendekap tubuh yang hanya berbalut pakaian dalam itu dari belakang, seperti tidak ingin melepasnya pergi.
"Apa harus secepat ini kau pergi?" Dia seakan tidak peduli pada apa yang baru saja diceritakan Konan. Persetan dengan Akatsuki si teroris atau semacamnya, aku tidak peduli. Aku baru menemukan wanita ini setelah pencarian bertahun-tahun dan tidak berniat melepasnya secepat ini!' pikir Itachi.
"Lepaskan tanganmu, aku sedang berpakaian."
"Tidak. Tidak secepat ini, Konan."
"Aku harus berkemas," wanita itu berkata pelan, "Maaf. Apa yang bisa kuberikan padamu semalam sudah cukup, tidak akan lebih dari itu."
Itachi Uchiha belum menyerah.
"Semalam… Apa kau tidur denganku semata-mata karena misi?" Saat menanyakannya Itachi sendiri merasa sakit, berharap jawabannya membawa hasil baik. Dia masih tetap merengkuh lekuk indah tubuh wanita itu dan belum berniat melepasnya. Dagu Itachi berada pada bahu Konan, indera penciumannya menyesap aroma tubuh wanita itu sekali lagi. "Mencariku hanya untuk mengajakku bekerja sama?"
Sejenak ia mendengar wanita ini menghela napas.
"Tidak. Aku sama sekali tidak melakukannya karena tugas." Konan mematung di tempatnya berdiri, tidak bergeming maupun protes saat Itachi mendekap tubuhnya dengan erat. Mungkin dia sendiri merasa kejadian semalam berjalan di luar kendalinya, "Saat ini semuanya masih rumit, tapi pikirkan ajakanku sekali lagi, Itachi. Aku akan menjelaskan semua yang perlu kau ketahui tentang klan Uchiha, atau mempertemukanmu dengan Sasuke. Tapi dengan satu syarat… Jika kau mau bekerjasama denganku."
.
Pikiran Itachi buntu. Ia tidak bisa lagi memikirkan alternatif lain, selain memikikan bentuk kerjasama mereka akan membawanya mengetahui rahasia hilangnya klan Uchiha, ia pun terbayang bahwa kemungkinan menemui wanita ini pasti lebih besar dari sebelumnya. Dia tidak bisa melepasnya, melepas Konan maupun melepas kesempatan emas mengetahui masa lalunya. Tanpa berpikir panjang Itachi mengangguk setuju, dia harus mengambil resiko ini.
"Katakan. Apa yang harus kuperbuat, Konan?"
"Jawaban bagus," wanita ini menoleh lalu menyunggingkan senyum puas ke arah pria yang masih mendekapnya; senyum kemenangan setelah rencananya berhasil untuk menarik Itachi Uchiha dalam permainan, "Aku akan menceritakan semuanya padamu."
Itachi menunggu, genggamannya berubah kaku dan keadaan mendadak hening.
"Kuceritakan setelah aku mandi, Itachi…" Konan lagi-lagi menggodanya, menoleh singkat pada wajah tampan yang masih melongo. Konan pun tersenyum penuh arti, "Duduk manis disitu, karena aku hanya berminat mandi sendirian."
Setelah memungut seluruh sisa pakaian ia meninggalkan pria yang tengah frustasi itu menuju kamar mandi. Sementara Itachi hanya mendengus pelan, menggelengkan kepala saat sosok wanita itu menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya. Melarang pria ini ikut bersamanya.
'Dasar wanita…' umpat Itachi dalam hati seraya menghempaskan dirinya di atas sofa.
.
.
.
Raikiri Café – Suna, 7 bulan setelahnya
Setiap hari pukul tiga sore, aku akan datang untuk menikmati coffee break di kedai kopi ini. Selalu duduk di tempat yang sama; di sebuah sofa nyaman menghadap jendela… Aku selalu datang dan menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menikmati kopi, tentu saja sendirian... Karena aku tidak mau mengajak siapa pun. Seandainya ada pun, dia tidak akan pernah bisa kuhubungi. Hidupnya masih terikat dengan 'permainan' yang ia sebut menarik, dan aku tahu… Ia masih mendekap tubuh pria asing yang membuatku jijik, tapi aku sendiri tidak berdaya untuk menghentikannya.
Setelah melakukan perjanjian dengan wanita itu, dia tidak pernah sekali pun muncul di kantor. Che, dasar mata-mata, dia akan pergi begitu saja setelah tugasnya selesai. Tapi kuakui berkat Konan juga aku mengetahui semua hal tentang tragedi yang menimpa klan Uchiha, tentang adikku yang masih hidup… Dan tentang rencana Akatsuki yang disusun oleh Tobi. Aku luput dari pengejaran Konoha lima belas tahun yang lalu karena ayahku telah menghapus nama 'Uchiha' dan memperbaharui seluruh aktenya melalui salah seorang kenalan di Suna, Konoha tidak pernah tahu aku masih hidup.
Yah, sepertinya aku memang harus terseret dalam masalah ini berkat Konan.
Repotnya, setelah 'malam itu' perasaanku padanya semakin tak menentu, ditambah lagi ada beberapa malam yang kami lewati dengan cukup manis. Hubunganku dengannya bukan sekedar pelampiasan nafsu tapi tidak juga terkait dengan perasaan, setidaknya karena aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Benar dugaanku, berurusan dengan wanita misterius seperti dia hanya akan menyeretku dalam bahaya. Aku tidak mengerti dimana letak menariknya 'permainan' ini tapi masih kuikuti sesuai keinginannya.
Sedikit sibuk dengan lamunan, tanpa sadar mata sharingan-ku mendeteksi jika wanita itu ada disini. Tanpa ragu wanita berambut keunguan ini duduk manis di hadapanku lalu berpangku tangan.
"Aku tidak terima tamu saat sedang menikmati kopi," aku berkata singkat, menatap wanita cantik ini dengan ekspresi datar, "Aku butuh privasi."
"Seingatku, kehidupanmu sepenuhnya adalah privasi." balas Konan sambil tertawa kecil, yang bagiku terdengar seperti sindiran karena rasanya aku memang tidak lagi memiliki privasi. Dia selalu bisa menemukan keberadaanku entah bagaimana caranya sementara dia sendiri tidak terlacak. "Jadi… Apa ini artinya kau tidak senang bertemu denganku, handsome?"
.
Aku menatap wajahnya dalam diam.
Menjalani hidup dengan caraku sendiri, lalu menjaga dan mencintai orang yang berarti bagiku dengan sepenuh hati…
Aku mengamini pesan terakhir mendiang ayahku; Fugaku Uchiha. Dia figur ayah terbaik yang pernah kudapatkan. Berkat itu juga aku tersadar pada perasaanku, atau pada arti hubungan kami yang rumit. Mungkin terdengar bodoh dan membuat nyawaku berada dalam pertaruhan bahaya, tapi ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menjaganya; menjaga orang yang berarti bagiku.
Huh, kau dengar itu, Konan?
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk mendapatkan kebahagiaan…
Baiklah, sepertinya aku mengerti arti kalimat itu, ayah… Jadi, karena aku sudah menemukan satu sisi dimana aku bisa merasa bahagia, aku tidak akan menyerah. Alasanku mudah; bagaimana mungkin kita mendapat kebahagiaan jika tidak menciptakannya bersama orang yang bisa membuatmu bahagia?
.
Untuk saat ini aku akan tetap berada pada jalur yang telah kupilih, memainkan 'permainan menarik' yang membuatmu tenggelam di dalamnya. Lalu saat semuanya menjadi jelas atau justru wanita ini tenggelam terlalu dalam, aku akan menariknya keluar. Mengeluarkanmu dari Akatsuki, dan merebutmu dari sisi Tobi. Aku tahu ia wanita cerdas tapi aku sendiri tidak akan pernah lengah.
"Konan…" akhirnya aku menyebut nama wanita itu, siap mengikuti arus permainannya. "Apa maumu?"
.
.
Bonus Chapter - END
.
.
Author's Note :
Ini dia bonus chapter tentang Itachi! Seputar masa lalunya, hubungannya sama Konan, dan alasan waktu Fugaku bilang Itachi berada di masa 'pemulihan'... Panjang juga ternyata sampai 8.200 words. Saya coba bikin pairing antara Itachi-Konan disini meski Konan juga masih terikat sama Tobi. Pertemuan Itachi dan Konan itu kira-kira setahun sebelum Sakura ditugaskan ke Suna, jadi artinya Konan juga sudah berkecimpung cukup lama di Akatsuki. Gimana tentang pengembangan karakter Itachi dan Konan?
Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya bikin cerita beradegan lemon… Gimana kesan-kesannya? Mohon maaf kalau mungkin feel-nya kurang dapet, ternyata ngetik adegan itu jauh lebih sulit daripada membayangkannya, LOL. *tampar diri sendiri*.
Meskipun ini chapter bonus, saya tetap menanti review dari kalian semua lho… Chapter berikutnya tetap rilis di tanggal biasa (semua review akan saya balas di chapter mendatang). Dan terima kasih banyak sudah mau mampir dan mengikuti cerita ini.
Sampai jumpa di chapter depan!
-jitan-
