SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis.

Note : Ada beberapa nama dan tipe senjata yang saya gunakan, jika tidak mengerti istilahnya cukup membayangkan jenis-jenis senjata yang digunakan para tentara di film-film action. Selamat membaca :D

.

.


"Kau yakin akan melakukan ini, Sasuke?" emerald Sakura menatapnya dengan tajam, dia terus mengoceh meski sang pemilik onyx itu tidak menjawab sepatah kata pun. "Aku tahu kalau hidupmu dipermainkan para petinggi Konoha. Kau membenci Konoha, tiga tahun kau berjuang mati-matian untuk membunuh semua kenangan tentang Konoha. Aku mengerti dan tidak bisa menyalahkanmu… Tapi kau tidak harus berbuat seperti ini, kau bisa mati. Ini sama seperti bunuh diri!"

Sasuke diam, jemarinya tetap bergerak untuk membongkar satu per satu dokumen yang berhasil ia dapatkan dari laptop milik Kabuto. Seluruh data tentang rencana Akatsuki untuk menghancurkan Konoha kini ia pindahkan sebagai barang bukti. Dari beberapa email percakapan Kabuto dengan Tobi, secara garis besar ia tahu bahwa penyelundupan senjata besar-besaran itu dilakukan jam delapan malam ini. Semua senjata ilegal itu akan diperjual-belikan secara bebas karena rakyat merasa hidupnya terancam, apalagi setelah mengetahui satu per satu kebohongan Konoha. Akatsuki mengharapkan perpecahan kedaulatan Konoha akan menimbulkan perang dalam negeri. Rasa takut dan ketidak percayaan secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah pundi-pundi uangnya.

"Sasuke, tolong dengarkan aku! Kembali ke tempat itu berarti kau menyerahkan nyawa pada musuh. Kupikir kau tidak cukup gila untuk kembali ke markas Akatsuki hanya untuk membantu misi Konoha, aku bisa melaporkan ini semua pada Pak Kakashi dan-"

.

"Aku bukan monster," akhirnya pria Uchiha ini bicara. "Kuakui aku membenci Konoha, benci pada dewan petinggi busuk yang berkomplot untuk membunuh klan-ku. Benci pada si keparat Danzo yang membuatku seperti objek penelitiannya. Tapi ini berbeda. Rencana yang disusun Tobi tidak hanya berdampak pada dewan petinggi tapi justru akan menyengsarakan rakyat Konoha. Mereka tidak bersalah, rakyat sama-sama dibodohi oleh pemerintah dan sekarang mereka harus hidup dalam ketakutan? Wakil rakyat yang telah mereka pilih adalah penipu, sedangkan Akatsuki hanya memberi janji palsu. Mereka memanfaatkan rakyat sebagai alat untuk mendapatkan uang dan kekuasaan. Aku bukan monster tak berperasaan, Sakura."

Sakura memang membenarkan setiap perkataan pria itu, tapi tetap saja ia enggan. Dia tidak akan membiarkan Sasuke menghantarkan nyawanya sendiri untuk musuh. Mati konyol, ini sama seperti menyerahkan anggota tubuhmu ke dalam kandang harimau agar mereka bisa dengan senang hati memangsanya! Tidak, Sakura tidak ingin itu terjadi, "Aku paham tapi kau tidak perlu melakukan ini, bahkan kita berdua tidak cukup untuk mengalahkan seluruh kawanan Akatsuki! A-Aku bisa menghubungi kantor pusat dan meminta bantuan, kau tidak perlu kesana."

"Hanya aku yang tahu tempat persembunyian mereka," Sasuke menggumam, "Tenang saja, aku tidak pernah berniat mati di tangan Akatsuki."

"Tapi, Sasuke-"

"Bukankah kau akan selalu percaya padaku, Sakura?" perkataan itu telak membuat bibir wanita ini terkatup tanpa perlawanan, dia memang pernah mengatakan itu pada Sasuke Uchiha.

Sakura hanya bisa mengangguk perlahan.

"Kalau begitu percayalah padaku." Pria bermata onyx ini tersenyum tipis, memandang wajah Sakura yang masih terlihat cemas. Ia mengulurkan tangannya yang perlahan-lahan disambut, Sakura merapatkan jemarinya agar saling bertaut. Rasanya seperti mendapatkan sebuah kekuatan, semangat untuk menghadapi bahaya bersama-sama. "Kau selalu bilang kebenaran yang akan selalu menang, ini sama seperti cita-cita kita dulu kan? Bukankah begitu hn, pahlawan?"

Keduanya kembali diam, membereskan semua data yang bisa diambil. Sebelum beranjak dari kamar Kabuto, Sasuke berpaling dan menatap iris mata wanita di sisinya sambil mencoba tersenyum. "Sakura… Bagaimana pun juga aku menjunjung tinggi harga diri klan-ku. Seorang Uchiha tidak akan pernah lari dari masalah, tapi menghadapinya…"

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 19 : THE NEGOTIATOR

.

.

Konoha, 21.45 PM

Layar monitor raksasa di ruang rapat Safe House akhirnya tersambung dengan satelit Headquarters Konoha, Kakashi Hatake sebagai Kepala Divisi Keamanan Negara menjadi ujung tombak perundingan antara Konoha dengan para teroris. Pria dengan penutup mata satu ini duduk dan mencoba tenang, menatap lawan bicaranya yang masih tersenyum licik. Kabuto diapit dua orang bersenjata AK-47 di sisi kiri dan kanan, sementara di hadapannya tampak beberapa anggota dewan tengah berlutut dengan kedua tangan di belakang kepala. Ekspresi mereka dipenuhi rasa takut dan beberapa wajah tampak sembab akibat menangis. Setelah berhasil menguasai Safe House, Kabuto telah menghubungi Tobi dan atasannya tersebut memberi izin untuk melaksanakan rencana selanjutnya; bernegosiasi.

"Selamat malam, Tuan Konohaatau mungkin lebih sopan jika kupanggil Mr. Kakashi?" Kabuto menyapa dengan seringai liciknya, "Tanpa bercerita panjang lebar kalian pasti tahu apa yang terjadi disini, dan apa yang bisa kulakukan dengan para sandera-sandera di hadapanku. Jangan khawatir, Akatsuki akan menjaga mereka dengan baik… Asal Konoha memenuhi beberapa syarat yang kuajukan, maka nyawa mereka akan selamat."

Kakashi sebenarnya merasa khawatir, dia melihat hampir semua anggota dewan termasuk Danzo ada di dalam sana. Seluruh petinggi yang dapat dipercaya sebagai tangan kanan Hokage kini terjebak di satu tempat yang sama, tidak ada lagi kandidat yang patut dijadikan sandaran menggantikan Hokage dalam kondisi darurat. Untuk sementara waktu hingga Hokage dapat tersambung secara langsung dari bunker persembunyiannya, Kakashi Hatake adalah ujung tombak pertahanan sekaligus juru negosiator mereka. Dia sendiri ragu, apa ia sanggup menanggung masa depan negaranya dari perundingan kali ini?! Kakashi hanya mendengarkan dalam diam ketika Kabuto mulai bicara.

.

"Yang pertama… Aku ingin kalian membuka jalur pelabuhan utama dan membebaskan muatan kapal dari Suna yang berhasil kalian amankan beberapa saat yang lalu. Tinggalkan seluruh pasukanmu dari kapal itu, cabut larangannya. Tenggat waktunya sederhana… Selama kalian belum mengabulkan tuntutan kami, setiap lima belas menit aku akan menembak satu sandera. Paham?"

Che, yang benar saja?! Kakashi tercengang, bagaimana mungkin seluruh muatan berisi selundupan senjata dan peledak itu harus diloloskan? Dengan muatan sebanyak itu… Bukan hanya menghancurkan gedung parlemen, tapi itu jumlah yang cukup untuk meluluh lantakkan perkotaan. Dia tidak boleh terbawa arus perundingan yang hanya menguntungkan sepihak, Kakashi masih berusaha tenang dan menjaga nada bicaranya agar tidak terlihat terintimidasi, "Maaf. Tuan Kabuto, tapi Negara Konoha tidak bernegosiasi dengan teroris."

"Hmm begitu… Apa jawabanmu bisa dikategorikan sebagai penolakan?"

Kakashi Hatake hanya diam membisu.

"Sayang sekali, ini artinya kau telah menyia-nyiakan kesempatan pertama dalam negosiasi kita." Kabuto dengan enteng mengambil sepucuk pistol dari holsternya lalu membidik seorang wanita yang merupakan anggota dewan senior. Wanita itu tampak ketakutan dan menjerit kecil, air mata banjir dan tubuhnya gemetaran dengan hebat. Laras pendek tersebut menempel di belakang kepalanya, wajah tawanan itu memelas seraya menutup mata. Kakashi Hatake menggertakkan gigi saat pelatuk itu ditarik dan—

DORR!

Wanita itu jatuh tak bernyawa dengan cipratan darah pada tengkoraknya yang telah berlubang. Beberapa anggota lain memekik ngeri, berteriak minta tolong namun pria-pria bersenjata itu langsung memukul wajah mereka agar bungkam. Kakashi mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, bagaimana pun juga Akatsuki punya cara untuk menggertak. Mereka punya seluruh anggota dewan sebagai sandera. Tidak bisa begini terus, seluruh anggota dewan bisa mati! Tapi kalau mengabulkan tuntutan mereka, itu sama artinya jerih payah Naruto menjadi omong kosong… Sekaligus menyeret Konoha menuju kehancuran. Dia harus bagaimana?! Kabuto tampak menikmati raut tegang lawan bicaranya, ia benar-benar akan menembak satu per satu sanderanya tanpa ampun.

"Kau sudah lihat hasil keputusanmu? Kuperingatkan, ini bukan sekedar gertakan... Pikirkan baik-baik tawaran kami, karena aku akan menghubungimu lima belas menit mendatang. Sampai jumpa."

Komunikasi dengan Safe House langsung terputus, sontak membuat Kakashi menggebrak meja.

"SIALAN!"

.

.


Konoha's Hospital, VVIP Room A - 21.40 PM

Pintu dengan penjagaan ketat itu terbuka, di ambang pintu tampak seorang pria berambut kuning dengan keadaan berantakan. Beberapa luka pada permukaan kulit disertai debu dan peluh yang membuat wajahnya kusam, ia berjalan gontai menghampiri sebuah ranjang di hadapannya. Wanita itu memejamkan mata, daerah kepalanya dibalut perban sementara selang infus tersambung pada punggung tangannya. Naruto Uzumaki menarik sebuah kursi di samping meja lalu duduk di sisi ranjang ibu angkatnya, diam seribu bahasa sambil menghela napas dalam-dalam. Berat sekali menerima kenyataan ini, apalagi setelah mendengar diagnosis dokter perasaannya menjadi semakin kalut.

"Hingga saat ini Tsunade-sama belum sadarkan diri, sepertinya ia masih shock pada kejadian tersebut. Ketika beliau ditemukan di lokasi kondisinya sangat lemah dan mengalami dehidrasi. Beruntung Tsunade-sama hanya mengalami luka ringan akibat benturan di kepala, akan tetapi tulang punggungnya mengalami pergeseran. Ada kemungkinan beliau mengalami kelumpuhan temporer dalam fungsi motorik akibat tubuh bagian bawahnya yang tertimpa bobot lemari, penyembuhannya akan memakan waktu cukup panjang."

Itulah yang dikatakan tim dokter di luar ruangan, setelah mengingat perkataan itu Naruto hanya menangkupkan kedua tangannya pada wajah. Frustasi dan putus asa adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati pria ini. Hinata yang tadi bersamanya hanya bisa bersabar menunggu di luar ruangan, betapa pun ia cemas terhadap keadaan partnernya termasuk kondisi Tsunade-sama, Hinata tidak ingin mengganggu kebersamaan orang tua dan anak dalam kondisi runyam seperti ini.

.

Naruto memperhatikan detil wajah wanita yang telah membesarkannya selama ini, wanita yang telah membuat namanya diperhitungkan sebagai salah satu anak petinggi Konoha. Dia tidak pernah mempermasalahkan gunjingan apapun tentang status 'keberuntungan' yang diperoleh dari seorang yatim piatu yang diangkat menjadi seorang anak dewan petinggi, Naruto tidak peduli. Saat ini yang membuatnya miris adalah ketika menatap wajah tidur Tsunade-sama, ia jadi mengingat semua jasa wanita itu. Semua jasanya belum terbalas, atau mungkin tidak akan pernah bisa dibalas oleh Naruto.

"Nyonya Tsunade, wajah tidurmu itu sungguh konyol. Kalau kau terbaring seperti ini… Bar langgananmu pasti sepi. Mereka akan kehilangan pelanggan setianya, tidak mendengar ocehan dan omelan khasmu setiap kali kau mabuk." Naruto meringis menatap wanita yang biasanya langsung mengomel jika diingatkan tentang kebiasaannya minum-minum, "Lagipula kalau kau tidur terus pasti pekerjaanmu di kantor semakin menumpuk, tahu?"

"Karena itu, ayo bangun… Jangan tidur! Bangun!" Naruto berdiri dan suaranya sedikit meninggi, ingin rasanya mengguncang bahu Tsunade untuk membangunkannya tapi tidak mungkin. Menahan semua emosi yang tengah membuncah dalam dirinya, Naruto membelai rambut wanita yang telah membesarkannya sebagai orang tua asuh, "Maafkan aku, selama ini aku terbiasa memanggilmu 'Nyonya Tsunade'. Sebagai seorang anak aku tidak pernah memanggilmu dengan sebutan 'Ibu'. Maaf…"

Perlahan Naruto membungkuk lalu mendaratkan satu kecupan kecil di kening Tsunade, berharap dengan kedatangannya bisa membuat wanita itu siuman. Setelah ia keluar dari ruangan ini, keadaan akan segera berubah. Naruto akan segera tergabung dengan tim elit Kakashi yang ditugaskan menuju Safe House untuk membongkar ruang rapat tempat para dewan disandera. Ini artinya ia akan datang ke medan perang, dan tentunya ini bukan misi biasa. Pria ini mencoba tersenyum setelah melihat keadaan ibunya, ia menguatkan diri. Tidak, ia harus kuat sampai semuanya berhasil.

"Jangan terlalu lama tidur, cepat bangun dan lihatlah anakmu yang akan maju dengan gagah berani menyelamatkan Konoha!" Naruto tersenyum. Dia sudah siap meninggalkan ruangan sebelum akhirnya menoleh dan sekali lagi melihat wajah tidur Tsunade dari ambang pintu, "Cepatlah bangun… Ibu."

.

.


Suna – Akatsuki Mansion, 22.00 PM

Karena mansion ini sangat besar, wajar saja tidak semua ruangan pernah dijelajahi Sasuke. Ketiganya mengendap-endap sambil membidik tiap sudut yang dilewati, Sasuke sebagai penunjuk arah memimpin di depan. Seingatnya dari lorong gelap tadi akan tersambung ke sebuah hall dengan kaca-kaca yang memperlihatkan pemandangan taman, dan selanjutnya mereka harus mencari pintu besar menuju sisi lain bangunan. Setelah berhati-hati menyusuri ruangan, Sasuke menemukan seorang penjaga. Ia mengendap, dalam sekejap ia mencengkeram lalu menghantamkan kepala pria itu pada dinding. Sang penjaga langsung tak sadarkan diri akibat benturan, Sasuke segera menggeledah tubuhnya untuk mencari kunci.

"Ini pintu yang menyambungkan kita dengan sisi tengah bangunan, penjagaannya jauh lebih banyak." Sasuke memilih anak kunci dan membuka sebuah pintu besar di hadapannya. "Kita sudah dekat dengan lokasi Tobi, sebaiknya kita sembunyikan penjaga ini di ruangan sebelah… Lalu Sakura, kau bisa mengenakan pakaian Akatsuki untuk menyamarkan identitas kita."

.

.


Gelap dan lembab. Ruangan berdinding batu dengan penerangan seadanya itu merupakan pemandangan baru baginya, terutama setelah ia melihat jeruji-jeruji besi seperti sel penjara. Sora ditarik masuk ke sebuah sel terbesar yang memiliki penerangan berupa satu lampu di atasnya, tubuh mungil itu diharuskan duduk secara paksa. Kedua tangannya diikat pada punggung kursi kayu, mulutnya disumpal oleh kain agar tidak bisa berbicara. Orang-orang Akatsuki juga mengikat kedua kaki Sora agar bocah itu tidak berontak, dan di hadapannya telah dipasang sebuah camcoder. Layaknya proses pembuatan film, beberapa orang mengatur letak pengambilan gambar yang tersambung dengan layar monitor di sebelahnya.

Sora memandang jijik, dia tahu hidupnya sebentar lagi akan berakhir setelah menjadi tontonan. Tapi dia tidak akan pernah menyesali keputusannya, mereka memberi kesempatan satu kali lagi pun… Sora tidak akan menyetujui rencana Akatsuki.

'Ini bukan keinginan Fugaku Uchiha, semua ini semata-mata hanya karena perbuatan teroris biadab!'

Persiapan sudah selesai, para anggota Akatsuki segera meninggalkan ruangan dan memberi tahu Tobi bahwa semuanya sudah selesai. Dan ketika tangan kanan pimpinannya berjalan menyusuri penjara bawah tanah, mereka mengangguk seraya keluar dari tempat itu. Wanita berambut raven keunguan ini berjalan dengan anggun, menatap sosok anak malang itu dari celah-celah jeruji. Sambil melipat kedua tangannya di dada, ia menghampiri sel jeruji Sora dan memperhatikan bocah itu dengan pandangan datar seperti biasa. Senyum sinisnya terpatri ketika Sora membuang muka, bocah itu tetap keras kepala.

"Masih belum terlambat untuk mengulur waktu." Ujar Konan tiba-tiba, namun bocah sepuluh tahun di hadapannya tidak menggubris. Dia sama sekali tidak ingin melihat wanita ular itu. "Apa kau benar-benar mau mati sia-sia begini, hmm? Padahal kau tahu ada cara untuk membuat kematianmu diampuni… Atau setidaknya, mengulur waktu kematian."

.

Sora kini balas menatap Konan, tidak mengerti. Sementara Konan hanya terkekeh kecil melihat reaksi lawan bicaranya, sebagai negosiator ahli tampaknya Sora mulai terpancing, "Akan kuberitahu satu hal… Saat ini barang selundupan Akatsuki diketahui pihak Konoha, namun sebaliknya para dewan petinggi tengah disandera. Mereka menuntut akan menembak satu per satu sandera setiap lima belas menit jika barang muatan itu tidak dilegalkan. Jika kau memberi perintah untuk melegalkan muatan itu, seluruh dewan petinggi akan terhindar dari eksekusi."

"Tch. Aku tidak akan terpancing bualanmu, wanita ular!"

"Terserah, tapi ini memang bukan bualan…" Konan menyeringai, "Ini fakta. Aku hanya ingin menolongmu keluar dari detik-detik kematian. Kupikir tidak perlu menjatuhkan banyak korban tak bersalah, Safe House berisi seluruh tonggak pemerintahan Konoha dan mereka siap ditembak satu per satu. Kau tidak terlalu bodoh untuk mengikuti 'skenario' yang disiapkan Tobi, atau jangan-jangan otak jeniusmu itu sudah buntu dan memilih mati sebagai tontonan seluruh rakyat?"

Bocah sepuluh tahun ini terdiam.

"Untuk apa kau… Menolongku?" Sora melihat wanita itu masih menyeringai, dia tidak pernah bisa menebak jalur pikirannya. "Apa masih ada sifat nasionalis yang tersisa setelah kau mengkhianati negaramu sendiri demi Akatsuki?"

"Hmm… Anggap saja ini sedikit bantuan untuk menyeimbangkan alur permainan." Konan hanya mengangkat bahu, "Saat ini Akatsuki ada di atas angin, rasanya kurang menarik melihat kemenangan hanya dari satu pihak. Lagipula ideku tidak buruk 'kan?"

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."

"Kau tidak perlu mengerti…" Konan berjalan menjauhi sel jeruji milik Sora. "Aku hanya memberi ide, itu pilihanmu untuk memilih ya atau tidak. Lagipula pihak Konoha masih mencari keberadaanmu, semoga kau masih hidup sampai saat itu tiba."

.

"Wah wah wah… Sepertinya ada pembicaraan menarik antara kau dan wanitaku, Sora? Apa kau berubah pikiran?" Tepat setelah Konan berkata demikian, Tobi terlihat menuruni satu per satu anak tangga penjara bawah tanah. Ia masih mengenakan topeng oranye dan melihat Konan telah menyambutnya disana, wanita itu tampak tenang sambil menyunggingkan sebuah senyum. Tobi mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Konan, ia balas menggenggam.

"Bocah itu sepertinya tidak sudi mendengar ocehanku." Konan tersenyum sinis pada Sora.

"Kepalanya terbuat dari batu, Konan. Tapi kau tidak perlu cemas, semua rencana berjalan dengan baik dan kita tinggal menikmati hasilnya." Tobi menggumam kecil, menggiring wanita di sampingnya menuju tempat Sora ditempatkan. "Sebentar lagi kita akan menikmati kemenangan Akatsuki… Terutama setelah kita melihat kematian si bocah jenius ini di depan jutaan mata masyarakat."

.

.

.


Konoha's Central Office, 22.20 PM

Sudah dua korban yang jatuh semenjak pertama kali Kakashi Hatake menolak mengabulkan tuntutan Akatsuki untuk membebaskan muatan gelap dari Vessel yang ditemukan Naruto dan Hinata. Sesaat setelah meninggalkan rumah sakit, kedua agen rahasia Konoha itu segera menuju kantor untuk menemui supervisornya. Berlari kecil menyusuri lorong perkantoran yang sepi karena sebagian besar pekerja selain agen divisi keamanan telah dipulangkan, keduanya melihat Kakashi Hatake telah berdiri tegap di hadapan beberapa agen lain dalam posisi siaga penuh. Dari sana Naruto melihat beberapa wajah agen yang ia kenal seperti Kiba Inuzuka dan Shino Aburame, juga Captain Guy yang merupakan salah satu agen senior sampai diikutsertakan.

"Naruto, Hinata, silahkan bergabung bersama rekan-rekanmu." Kakashi menyapa singkat ketika melihat kedua agen pilihannya telah berada di ambang pintu, setelah keduanya berbaris Kakashi berdeham lalu melanjutkan. "Seperti yang telah kukatakan tadi… Pemimpin kalian dalam penyerbuan menembus Safe House adalah Guy. Aku dan Shikamaru akan terus berjaga disini, seluruh komando akan disampaikan lewat transmisi… Termasuk password menuju pintu ruang rapat."

"Yes, Sir!"

"Aku tidak mungkin meninggalkan ruangan ini sedangkan Konoha berada dalam krisis, kalian adalah tim terpilih. Kupercayakan pada kemampuan Guy sebagai seorang agen senior, juga dengan kemampuan-"

"PAK KAKASHI!" teriakan Shikamaru memotong ucapan atasannya. Pria ini berlari terengah-engah sambil menyambar sebuah remote dan menyalakan layar monitor besar lalu membesarkan volume suaranya. "A-Anda harus lihat ini!"

.

"Selamat malam, rakyat Konoha. Maaf mengganggu tontonan kalian, tapi percayalah tayangan ini akan membuka mata Anda lebar-lebar." Tiba-tiba di seluruh saluran televisi lokal tampak seorang pria berpakaian serba hitam dengan motif awan merah sedang duduk manis. Mengenakan topeng oranye dan beralur, mereka menyabotase seluruh waktu siaran. Dan tidak salah lagi, mereka berhadapan dengan Tobi si pemimpin Akatsuki. "Aku ingin mengajak Anda semua tersadar dari mimpi yang diciptakan Konoha selama ini… Tidak tahukah selama ini Anda telah ditipu? Tak sadarkah sejarah yang Konoha terapkan pada kalian adalah omong kosong? Atau… Apa kalian menyadari bahwa hidup kalian berisi kebohongan?"

"A-Apa ini?!" Kakashi sangat terkejut, "Mereka membajak seluruh siaran kita!"

"Apa yang kalian lihat di televisi tentang pengeboman gedung parlemen dilakukan oleh teroris… Itu juga tipuan yang diberikan pemerintah. Kalian mau tahu buktinya?"

Sesaat gambar berganti, si pria bertopeng menghilang dan digantikan sebuah rekaman CCTV. Disana tampak seorang petugas berseragam keamanan Konoha menaruh tas asing di lokasi yang diduga menjadi titik ledakan di Sektor A, lalu tidak lama kemudian kamera itu bergoyang lalu padam akibat ledakan. Akatsuki sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, hasil rekaman ini bahkan telah di back-up oleh seseorang dan mengirimkannya pada musuh. Kakashi Hatake geram, mungkin orang suruhan Kitsuchi mengirimkan hasil rekaman ini untuk Akatsuki.

"Lihat? Pelakunya adalah petugas keamanan Konoha, teroris itu ternyata salah satu petugas! Wahai Konoha, akuilah dosamu pada rakyat…Termasuk saat kau membantai salah satu marga tidak bersalah lima belas tahun yang lalu tanpa satupun saksi- OOH- Ada! Ada satu saksi yang mengingatnya, bahkan terlibat sebagai bidak catur kalian selama ini… Hei rakyat Konoha! Biar kuperkenalkan, dia Sora." Sora terlihat di sebuah kursi dengan tangan terikat di belakang dan wajah setegar mungkin. "Anak ini bukan bocah biasa, dia adalah penyelamat kalian! Kalian tidak tahu bahwa selama ini yang mengatur perekonomian hingga stabil adalah berkat kejeniusan anak ini kan?

Ya! Tentu saja KALIAN TIDAK TAHU! Karena selama ini Konoha yang kalian agungkan tak elaknya seperti penipu ulung. Mereka menyembunyikan keberadaannya selama belasan tahun padahal sebenarnya ia lebih pandai dari seluruh pakar yang kalian kenal di dewan Konoha... Sudah jelas Konoha mempergunakan bocah ini di belakang layar semata-mata untuk kepentingan mereka sendiri, tidak ada kebebasan! Sekali lagi kuingatkan, kalian tertipu mentah-mentah oleh kebusukan pemerintah. Apa kalian marah dan merasa dipermainkan? Atau justru merasa pasrah pada para penipu yang selama ini menggunakan uang pajak kalian untuk menciptakan lapisan tipuan politik? Membohongi rakyat?"

.

"Shikamaru! Lacak lokasinya, minta seluruh petugas untuk menghentikan siaran ini!" Kakashi menyabet telepon dan segera menghubungi seluruh pihak yang kompeten untuk memblokade pembajakan siaran.

"Sampai kapan kalian mau hidup dalam kebohongan? Mana mungkin Anda bisa percaya pada lembaga-lembaga keamanan yang justru memberi kalian berlapis-lapis tipuan? Itu konyol. Kalian mempertaruhkan keselamatan pada pihak yang salah, bukankah itu menyedihkan?!" Tobi berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di dada, "Mulai sekarang, bangkitlah! Sudah cukup lama Anda tertipu. Inilah saatnya membuat revolusi, menciptakan pemerintahan Konoha yang baru. Kami; Akatsuki, akan membongkar satu per satu kebusukan pemerintah, semata-mata karena kami mendukung Anda untuk mandiri. Akatsuki datang sebagai rekan, sebagai satu-satunya jalur yang memberi kalian sebuah fakta daripada kebohongan!"

"PUTUS SIARANNYA DENGAN SEGALA CARA!" Kakashi panik. Shikamaru masih terlihat menghubungi beberapa lembaga siaran dan mereka terus berusaha merebut ulang jaringan yang telah di hack.

"Dan untuk Konoha? Atas nama keadilan, Akatsuki memberi peringatan langsung pada tiap-tiap anggota busuk pemerintahan untuk menyerah. Kami memperjuangkan hak rakyat untuk bebas dari bayang-bayang kebohongan! Kalian tidak akan bisa melawan kebenaran, akui saja dosa-dosamu. Hentikan kesombongan dan tataplah rakyat yang selama ini kalian bodohi… Mereka harus mengetahui fakta. Tapi sekalipun kelak Anda menyadari kesalahan, sayangnya saat itu sudah tidak ada lagi tempat untuk pengampunan dosa."

-siaran terputus-

.

Seluruh agen yang berada di ruangan Kakashi diam kini tak bergerak, ini ancaman. Akatsuki memanfaatkan keadaan untuk menarik simpati rakyat dan mengorbankan pemerintah sebagai biang masalah. Mereka tahu para pakar tidak bodoh, tapi tidak semua masyarakat bisa mencerna kebenaran. Ada kemungkinan timbul keraguan yang berujung pada perpecahan dalam kesatuan masyarakat itu sendiri, gerakan pro kontra… dan tentunya situasi akan bertambah gawat.

"Skenario yang terencana dan berbahaya… Akatsuki cukup pintar berdiplomasi." kata Shino, "Aku yakin sebentar lagi kita akan digempur oleh pertanyaan seluruh media massa juga aksi demonstran."

Kakashi menatap wajah agennya satu per satu, wajah pemimpin mereka bisa dibilang cukup berantakan. Tampak jelas peluh dan raut wajah stres dari pria ini, namun sayangnya dia tidak punya hak untuk melepas tanggung jawab. "Kalian sudah dengar ancaman Akatsuki, kita harus secepatnya menghentikan teroris mendikte rakyat dengan ucapan-ucapan mereka! Guy, Hinata, Naruto, Kiba, dan Shino… Kalian akan segera diberangkatkan. Di lokasi ada beberapa pasukan gabungan yang membantu kalian untuk menembus pertahanan. Hinata, aku akan memberi kodenya padamu secara langsung. Helikopter telah siap di hanggar, Shikamaru akan memandu kalian lewat transmisi. Kerjakan dan bubar!"

"Yes, Sir!"

.

Ia menatap satu per satu anggotanya menghormat lalu berlari keluar untuk melaksanakan misi, termasuk Shikamaru. Pikirannya masih buntu mengingat ucapan sang pemimpin Akatsuki, siapa itu Tobi? Jelas sekali ia tahu soal Insiden Pemurnian Uchiha! Dia tidak terlihat main-main dengan ancamannya, besar kemungkinannya seluruh aib yang ditutupi pemerintah selama belasan tahun akan terkuak dan menjadi konsumsi publik. Nama Konoha akan hancur setelah fakta tersebar menjadi headline news di setiap media massa. Sial! Ketika seluruh agen telah meninggalkan ruangan kerja Kakashi, tiba-tiba telepon mejanya berdering. Pria ini menghela napas, seakan-akan dunia tidak pernah membiarkan Kakashi untuk beristirahat sejenak. Ia menekan tombol terima.

"Ya. Kakashi disini."

"Pak Kakashi…" seorang operator berbicara melalui panggilan telepon, "Hokage saat ini telah tersambung dengan Headquarters melalui secure line."

Alis Kakashi terangkat seraya melirik jam tangannya, "Sambungkan aku dengan beliau, sebentar lagi Safe House akan menelepon untuk melanjutkan negosiasi konyol mereka."

.

.


Suna – Akatsuki Mansion

Ketiga penyusup di markas Akatsuki ini masih meniti sebuah lorong gelap yang membatasi mansion timur dengan gedung utama, Sakura telah mengenakan pakaian Akatsuki meski ukurannya sedikit kebesaran. Sakura sudah sepenuhnya beradaptasi dengan ketegangan di sekitar mereka, kemampuannya sebagai lockpick handal beberapa kali berhasil diterapkan untuk membuka pintu yang terkunci. Saat ini mereka lagi-lagi dihadapkan oleh sebuah tikungan bercabang di ujung ruangan, Sasuke melirik ke sisi kanan-kiri yang ternyata kosong dari penjagaan.

"Aku tidak tahu pasti, tapi kurasa ke arahnya kiri…" Sasuke ragu.

"Ingatlah baik-baik arahnya," Sai bergumam kecil, "Kita tidak punya waktu untuk tersesat."

Sakura menatapnya dengan pandangan menusuk tapi Sai tidak peduli.

"Pilih saja jalanmu sendiri." Sasuke menghiraukan ucapan pria itu dan mulai bergerak ke arah kiri. Sejak tadi memang komunikasi mereka seperti itu dan wanita ini seperti terjepit di tengah-tengah. Sakura sendiri sampai bingung dan cukup lelah mendengarkan ocehan keduanya, dari kerjasama yang baik tapi selalu disertai adu mulut beraliran sarkasme di sepanjang perjalanan… Sebenarnya mereka berdua bisa didefinisikan sebagai partner yang kompak atau tidak sih?!

.

Baru berjalan beberapa langkah, pintu di sisi kiri mendadak terbuka dan tampak beberapa orang berjubah hitam melalui jalan yang mereka lalui. Sakura Haruno menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah, bertindak setenang mungkin dalam penyamaran. Ketiganya berpapasan dengan kelompok lawan, saling mengangguk untuk menyapa singkat. Ternyata mereka tidak menyadari keberadaan para penyusup, Sakura bernapas lega seraya menggapai gagang pintu dan—

"Hei, kau!"

Langkah mereka seketika terhenti. Tubuh Sakura seperti tertimpa bongkahan es yang membuat kakinya tidak bisa bergerak. Salah satu anggota dari kelompok tersebut menghampiri mereka, menuju Sai yang berada di barisan paling belakang. Sai menunduk dan tetap mengatur napasnya setenang mungkin, pria itu memperhatikan postur tubuh sang Agen Konoha dari atas kepala hingga kaki. Sakura membatu di tempat, sedangkan Sasuke membalik badan sambil tetap menunduk menyembunyikan wajah. Tubuhnya berada selangkah di depan Sakura, semata-mata untuk melindungi tubuh wanita itu apabila terjadi serangan. Sai sekali lagi menghormat pada sang Akatsuki dan bermaksud meninggalkan lorong, sebelum bahunya ditepuk oleh pria tinggi besar yang sejak tadi memperhatikannya.

"Tunggu!" ia menghentikan gerakan Sai, mencengkeram bahunya dengan cukup keras. "Aku sepertinya baru melihatmu disini… Kau anak baru?"

Jantung Sai berdegup lebih cepat, gawat! Jangan sampai penyamarannya terbongkar! Dengan sigap ia mengangguk untuk memberi hormat, "Ya, saya baru bergabung."

"Hee… Anggota baru sepertimu sudah melakukan shift malam? Aneh juga…" Sai bersumpah ingin merobek mulut besar pria ini, ia melirik ke arah Sasuke yang balas menatap tajam ke arahnya. Memberi anggukan kecil sebagai aba-aba untuk bersiap melawan. Dan benar saja, tangan pria itu terangkat seperti ingin membuka penutup kepala yang dikenakan Sai. "Coba kulihat wajah si anggota baru!"

Sai dengan refleks menepis gerakan tangannya.

.

"H-Hei! Apa-apaan kau ini?! Beraninya!" Sekali lagi pria itu bermaksud membuka jubah Sai, tapi dengan sigap Agen Konoha ini mundur dan melayangkan sebuah tinju telak pada wajahnya. Seluruh anggota Akatsuki segera menyadari sebuah kesalahan; dia bukan anak baru tapi penyusup! Sasuke Uchiha sontak mendorong Sakura agar berlindung sementara ia mengeluarkan pistol lalu menembak mati dua anggota yang berlari ke arahnya. Sai juga tanpa kesulitan menjatuhkan pria besar yang mengganggunya barusan, menendang mulut besarnya agar tidak bisa bersaksi. Selesai menjatuhkan tiga orang, Sasuke berjongkok untuk mencari clip karena persedian pelurunya mulai menipis.

Sialnya, dari pintu seberang tampak beberapa orang yang menyaksikan tiga rekannya terkapar dan berusaha dilucuti oleh tiga orang asing lain berpakaian Akatsuki. Mereka menyahut lalu mengejar para penyusup. Sakura langsung memanggil Sai dan Sasuke, mereka ketahuan!

"Lari!" Sakura memberi aba-aba. Sasuke segera menyusul langkah Sakura, sementara Sai yang berada di tengah-tengah ruangan kini mengeluarkan senjata dan membidik barisan terdepan. Perlahan-lahan berjalan mundur sambil menembak lawan sampai beberapa diantaranya terjatuh, ia berbalik dan segera berlari. Berhadapan dengan ruangan luas yang lagi-lagi terlihat mirip seperti sebuah ruangan penyambung, Sai mengerahkan segenap kekuatan untuk menjatuhkan satu petugas yang tersisa. Tidak butuh banyak waktu untuk menjatuhkan lawan, akan tetapi salah satu dari mereka telah berhasil memanggil bala bantuan.

Dari jauh terdengar derap-derap kaki petugas yang merespon laporan rekannya tentang kehadiran penyusup, Sai kembali melarikan diri setelah mengambil senjata api lawan. Mengarahkan pandangan ke segala penjuru ruangan, Sakura dan Sasuke telah menghilang di tikungan berikutnya dan membuat Sai kehilangan jejak. Dia sendirian di mansion Akatsuki, kesigapannya meningkat. Ia menembak semua CCTV yang ditemuinya dalam tingkat keakuratan tinggi sambil mencari kedua rekannya. Derap-derap kaki semakin terdengar di telinga, gerombolan Akatsuki semakin dekat dan jumlahnya banyak.

"Sial, aku tidak sudi mati disini!" Sai mengumpat seraya terus berlari menghindar dari kejaran.

.

.


"Sai kehilangan jejak kita, Sasuke!" Sakura terengah-engah dalam lokasi persembunyian. Sedetik yang lalu Sasuke menyeretnya masuk ke dalam ruangan untuk bersembunyi, dan sepertinya Sai tidak mengetahui hal tersebut. Sasuke tampak acuh tak acuh, ia masih berusaha mengatur napasnya yang menderu akibat berlari.

"Kalau beruntung kita akan bertemu lagi dengan atasanmu yang sok itu…" gumamnya singkat. "Kita ketahuan, sepertinya mereka akan mengecek tiap CCTV untuk melacak keberadaan kita."

Lagi-lagi mereka diam karena sibuk mengatur napas, Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Eh? Ru-ruangan ini-" Sakura terkesiap. Mereka berada di sebuah kamar tidur, perabotannya tertata rapi dan ada beberapa pakaian bersih yang tertata di atas tempat tidur. "Sepertinya kita berada di sebuah kamar milik seseorang, Sasuke."

Kamar?

Pria Uchiha ini berjalan menuju ranjang dan mengambil satu helai pakaian yang telah dilipat untuk memastikan perkataan Sakura. Sasuke membentangkan baju tersebut dan terbelalak ketika mendapati ukuran pakaian untuk seorang bocah. Bingo! Siapa sangka pelariannya berbuah manis, mungkin dewi fortuna memang sedang berpihak pada mereka? Tobi pasti mempergunakan ruangan ini sebagai kamar Sora, dan seingat Sasuke ruang para tamu tidak terlalu jauh dari posisi ruang bawah tanah atau ruang kerja Tobi untuk mempermudah akses sang pemimpin Akatsuki menemui klien.

"Tidak salah lagi… Ini pasti kamar yang digunakan Sora!" Sasuke tersenyum kecil seperti mendapat pencerahan. Sakura balas menatapnya dengan pandangan lebih berbinar, "Kita sudah dekat dengan lokasi tujuan, Sakura."

.

.

.


Konoha, Safe House – Bunker (via phone), 22.30 PM

"Pak Kakas- oh? Maaf, ucapan saya begitu lancang di hadapan Hokage. Ini kehormatan untuk berbincang langsung dengan Anda." Kabuto menyeringai setelah melihat lawan bicaranya bukan lagi Kakashi Hatake, ia berhadapan langsung dengan pemimpin Negara Konoha; Hokage Sarutobi.

Pria paruh baya yang memegang tampuk kepemimpinan seluruh Konoha terlihat tenang di kursinya, berada di usia senja tidak mempengaruhi kewibawaan yang melekat di pundaknya sebagai seorang Hokage. "Aku tidak tahu apa maksud kalian dan tidak tertarik pada basa-basi. Lanjutkan saja ke intinya, bukankah kalian ingin kami membebaskan muatan yang sedang ditahan di perairan? Bagaimana kalau kau dan aku bernegosiasi dengan imbang? Aku akan mengabulkan permintaan kalian dan kalian juga harus memenuhi syarat yang aku minta."

"Hmm… Tidak salah lagi nyalimu sebagai Hokage memang besar, senang mendengarnya. Lalu, syarat apa yang kau ajukan, Hokage-sama?"

Pandangan Kabuto tampak mengintimidasi, Hokage masih bungkam.

"Sora." Hokage Sarutobi berdeham kecil setelah mengatakan nama itu, "Kami akan mengabulkan tuntutan kalian dan mencabut semua armada dari Vessel yang ditahan, asal kalian berhenti menembak satu per satu dewan. Lalu mengembalikan Sora... Dia merupakan bagian dari Negara Konoha, kembalikan dia pada kami."

"Well… Kami mengajukan satu permintaan sedangkan kau meminta dua imbalan? Che, rupanya kakek tua bangka sepertimu pandai bernegosiasi… Sora tidak bisa dilepaskan begitu saja, tapi akan kupikirkan." Kabuto tertawa licik, bertepuk tangan seperti menertawakan apa yang baru saja ia dengar. "Untuk saat ini aku tidak akan menembak mati para dewan kesayanganmu. Artinya Anda punya waktu empat puluh lima menit untuk menarik semua pasukan dari kapal kami, tapi sekali lagi kuingatkan… Telat satu menit saja, maka perundingan kita anggap batal dan para dewan akan kutembak. Jangan mengecewakanku, Pak Tua."

.

Sarutobi diam di tempat, setelah komunikasi terputus dengan Safe House ia masih tersambung dengan HQ Konoha. Kakashi Hatake menjadi pihak ketiga yang mendengarkan perundingan mereka berdua, matanya bisa menangkap sang pemimpin divisi keamanan tampak kelelahan. Pria dengan rambut putih itu mengangguk hormat pada sosok Hokage, memastikan setiap jalur negosiasi yang terjadi telah direkam sebagai bukti arsip kenegaraan.

"Cabut larangannya." Hokage melihat pupil Kakashi membesar seperti tidak percaya pada keputusan nekadnya, "Kau dengar perintahku?"

"Y-Ya, saya mengerti, Hokage-sama. Tapi bukankah mengabulkan permintaan mereka sangat beresiko?"

"Kakashi, kau sudah dengar kemauan mereka. Segera cabut semua armada yang menahan muatan kapal Akatsuki, kita tidak bisa mengorbankan lebih banyak nyawa dewan petinggi. Mereka akan mati sia-sia setiap lima belas menit, jadi biarkan muatan itu memasuki pelabuhan utama Konoha. Kita bisa berharap tim pasukanmu bisa menyelamatkan Safe House, setelahnya kita rebut lagi kapal muatan itu." Sarutobi akhirnya mengambil resiko, "Aku tahu mereka masih memiliki Sora sebagai kartu AS dalam negosiasi, dia tidak akan dilepaskan begitu saja. Waktunya sempit, Kakashi. Lakukan apa yang kau bisa untuk menyelamatkan negara ini, aku tidak mau mendengar kata menyerah."

"Siap laksanakan, Sir!"

.

Hokage Sarutobi masih termangu di tempat meskipun sambungan dengan HQ telah usai dan Kakashi telah undur diri untuk mengurus misi. Sebaliknya ia menoleh, mendapati seorang pria berambut panjang hitam dengan perawakan tegap berada di sisinya. Pria yang menjadi pengawal pribadinya itu maju beberapa langkah, setelah mempersempit jarak ia memberi hormat untuk memberi laporan.

"Ada beberapa perkembangan yang terjadi di luar, Hokage-sama. Pembajakan siaran yang dilakukan Akatsuki mulai berdampak, ratusan telepon masuk menanyakan kepastian dan tampaknya barikade pengamanan gedung parlemen kini kewalahan mengatasi gempuran massa, mereka menuntut penjelasan. Selain itu dikabarkan beberapa simpatisan politik mulai berkumpul untuk mengadakan orasi di gedung parlemen besok pagi."

"Aku tahu keadaan ini seperti pedang bermata dua, salah langkah bisa melukai kita." Sarutobi mengusap dagunya, menimbang keputusan sebagai pemimpin Konoha. "Baiklah. Jika sampai besok pagi para dewan masih disandera, atur konferensi pers dalam jadwalku. Beri pengumuman resmi tentang jadwal konferensi sehingga kerumunan di gedung parlemen bisa reda dan minimalkan gerakan anarkis. Perkuat barikade jika diperlukan, Kakashi tahu apa yang harus ia perbuat."

"Baik, Hokage-sama... Oh, tambahan lainnya," sekali lagi pria itu melapor, "Ada kabar terbaru mengenai kondisi Nyonya Tsunade di rumah sakit."

"Katakan."

"Tsunade-sama sudah siuman kira-kira lima menit yang lalu." Mendengarnya Sarutobi tampak terkejut dalam artian positif, ia menarik napas lega dan mempersilakan bawahannya melanjutkan. "Beliau mengalami kelumpuhan temporer namun tim dokter telah memastikan tidak ada gangguan pada organ vital atau fungsi memorinya. Dokter bersikeras untuk melakukan diagnosa lanjut, tapi beliau menolak. Lalu menurut dokter… Tampaknya beliau bersikeras untuk menghubungi Anda secara langsung."

Hokage mengernyitkan dahi, dia tahu tabiat wanita ini. Salah satu dewan Konoha yang teramat loyal dan berpendirian teguh; Tsunade adalah figur wanita mandiri, pantang menyerah dan selalu mengutamakan pekerjaan di atas keselamatannya sendiri. Tapi dia tidak pernah menyangka sifat keras kepalanya bisa seperti ini. Setelah mengalami kecelakaan dan menderita kelumpuhan, wanita itu masih bersikeras untuk menghubunginya? Terdengar tidak lazim, apa dia mengetahui sesuatu? Sesuatu yang terlalu penting sehingga harus disampaikan langsung pada seorang Hokage?

"Neji Hyuga…" Hokage berkata singkat pada sosok pria yang kini menunduk hormat setelah namanya dipanggil. "Sambungkan aku dengan Tsunade melalui secure line."

.

.


Safe House, 23.00 PM

Perjalanan menuju gedung pertahanan terakhir Konoha berakhir mulus, dua helikopter telah berhenti melakukan manuver dan mendarat dengan rapi di atap gedung. Kelima personil utama turun mengenakan pakaian lengkap, beberapa tentara dengan rompi anti peluru juga helmet telah menanti untuk menggiring pasukan elit ini menuju lokasi. Masing-masing memeriksa perlengkapan, Naruto menggenggam salah satu senjata favoritnya yakni M4A1 Carbine, sedangkan Hinata lebih memilihsebuah submachine gun karena bobotnya lebih ringan dan memiliki mobilitas yang baik.

"Perhatian, semuanya dengarkan instruksiku!" Agen senior Guy berdeham dan memandang mereka satu per satu, "Kita berada di atap Safe House dan harus menuruni sekitar lima lantai sampai tiba di ruang rapat yang terletak di lantai dasar. Format misi kita sederhana; bongkar lalu selamatkan! Setelah kita menjebol kode kombinasinya, sebagian harus menggiring para sandera sampai menuju helikopter dan sebagian lagi menghabisi para teroris. Pastikan korban yang jatuh seminim mungkin! Sekarang bentuk formasi 2-2-1; Aku dan Kiba akan berada di barisan terdepan."

Kiba Inuzuka memberi hormat dan berjalan menuju posisi yang telah diperintahkan.

"Hinata, pastikan kau mengingat kodenya dengan sempurna karena kesempatan kita hanya sekali! Naruto, kau harus lindungi partnermu dengan baik atau aku tidak akan pernah menyebutmu sebagai pria sejati." Guy mengangguk ketika melihat pria berambut jagung di hadapannya memberi acungan jempol, "Sedangkan kau, Shino Aburame… Kupercayakan pertahanan terakhir kami padamu. Jangan biarkan punggung rekan-rekanmu ditembus peluru, atau arwahku akan terus menggentayangimu setiap malam. Mengerti?"

"Siap!" Shino menyahut sambil memperbaiki posisi rompinya.

"Kita datang untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita! Pastikan keselamatan anggota dewan dan kita wajib kembali dengan selamat… Apa kalian semua mengerti?!" Seluruh bawahannya menyahut paham disertai mengokang senjata masing-masing, "Baiklah… Ini saatnya memberi pelajaran pada para keparat itu, LET'S GO!"

"Roger!"

.

Bergerak beriringan menuruni satu per satu tangga darurat, Guy membuka pintu akses lantai dua untuk menetralisir gangguan dari para gerilyawan. Keadaan Safe House pada dua lantai terbawah tidak kondusif, beberapa gerilyawan berhasil memukul mundur para tentara dan bermaksud menghancurkan gedung pertahanan ini dengan bom. Mayat-mayat bergelimpangan, kelima pasukan elit yang digiring oleh beberapa tentara berusaha secepat mungkin menuju ruang rapat. Napas mereka mulai memburu setelah menuruni tiga lantai tanpa jeda sambil membawa senjata berat.

"Sector 2 CLEAR!" sahut Kiba setelah menembak kepala salah satu pemberontak.

Mereka akhirnya menuju lantai dasar, jarak dengan ruangan rapat hanya terpaut hitungan menit. Peluru 5.56 x 45mm NATO dari senjata karabin Naruto menghujani tubuh seorang gerilyawan yang tiba-tiba menyergap dari arah samping, Hinata juga membanting tubuh salah satu penyerang dan mematikan gerakannya dalam satu tembakan. Setelah Shino mengambil alih keadaan agar rekan-rekannya maju, Hinata lantas mengikuti Naruto, membawanya menuju sebuah pintu besar dengan kode pengaman. Sebagai personil yang mendapat kode dari Kakashi Hatake, ia maju ke depan sementara semua personil mengelilingi Hinata dan Kiba - membentuk barikade pengaman.

"Hanya satu kali kesempatan!" Guy mengingatkan sambil menembaki beberapa penyerang.

"Kau siap?" Kiba Inuzuka melihat Hinata mengangguk. Tangannya berada pada digit kunci kombinasi sementara Hinata bertugas mengeja kodenya, "Oke, kita mulai! Alfabet pertama?"

Hinata menyahut, "Foxtrot!"

"Foxtrot!" Kiba mengeja ulang sambil jemarinya menekan alphabet yang diberikan Hinata. Lalu kode-kode berikutnya juga dieja dalam kondisi serupa, "Oscar – Seven – Sierra – Zero – One- Echo".

"Echo!"ucap Kiba setelah menekan kode terakhir dari nomor kombinasi tersebut. F-O-7-S-0-1-E; adalah tujuh digit kode yang menjadi satu-satunya kesempatan mereka untuk merebut kembali Safe House. Seluruh pasukan elit Konoha kini menyamping, mengambil posisi di samping pintu dengan sikap siaga penuh ketika Kiba menekan tombol untuk mengidentifikasi kecocokan kode. Naruto Uzumaki berada tepat di sisi Hinata, bersiap menyerbu. Posisi tubuhnya terangkat naik saat lampu LED berwarna merah di pintu besar tersebut kini berganti menjadi hijau. Semua senjata terangkat, mereka siap menembak.

"CONFIRMED."

Dan double door itu pun terbuka.

.

.

.


Suna Mansion – 23.15 PM

"Shikamaru, aku kehilangan jejak Sakura Haruno. Keadaan kurang menguntungkan, aku kehabisan peluru. Mereka terlalu banyak dan mansion ini sangat luas," Sai melaporkan kondisinya. Dia tampak terengah-engah dan setengah berbisik, "Aku berhasil sembunyi untuk sementara waktu, hh… Bagaimana dengan pasukan bantuan?"

"Pihak Suna telah mengirim tiga tim menuju lokasi. Kemungkinan mereka akan tiba sesaat lagi, bertahanlah. Apa kau sudah menemukan keberadaan Sora?"

"Tidak, tuan rumah disini tidak menyambutku dengan baik." Sai menanggapi dengan sarkastik, "Beri aku waktu untuk menemukan bocah itu... Semoga belum terlambat."

"Berusahalah! Sepertinya dia disekap di semacam penjara, Akatsuki membuat ancaman dengan membajak saluran televisi kita. Mereka memperlihatkan wajah Sora juga menunjukkan beberapa bukti kebobrokan pemerintah Konoha. Ada kemungkinan nyawa Sora dalam bahaya, Sai."

"Tch, akhir-akhir ini informasi yang kudapat darimu selalu berita buruk, Shikamaru." Sai mendengus, "Akan kukabari jika sudah menemukan bocah itu. Sai's out."

.

Dia bermaksud merangkak keluar dari tempat persembunyian namun mendadak terhenti, rombongan pasukan berhenti di dekat lokasinya sehingga Sai berhasil mencuri dengar percakapan mereka. "Tim A ke arah timur, tim B menuju barat! Ada serangan yang tertangkap dari wilayah gerbang depan, lakukan pembersihan!" Sai menajamkan indera pendengarannya, serangan di gerbang depan? Sepertinya itu mengacu pada beberapa tim yang dikerahkan oleh Suna untuk menghabisi Akatsuki dan membantu para agen Konoha di lapangan. Baguslah, setidaknya perhatian mereka terpecah! Setelah mereka membagi tugas lalu membubarkan diri, giliran Sai menyelinap keluar melalui celah pintu yang tidak terkunci.

Ia harus mencari cara untuk menemukan lokasi Sora; misi utamanya dalam Project Suna. Tanpa satu pun pengetahuan tentang mapping mansion besar ini, Sai melanjutkan perjalanan sambil mengingat-ingat arah. Sesekali berlindung dalam tikungan tembok, menyelinap di balik tirai atau daun pintu yang berada dalam gelap, Sai tiba di sebuah lorong yang dindingnya terbuat dari bebatuan. Remang-remang dan terasa dingin, ia berhadapan dengan pintu-pintu kayu di sisi kanan dan kiri, pencahayaan semacam obor menerangi tiap daun pintu. Alat transmisinya mendadak mengalami gangguan, sepertinya di daerah ini terdapat alat untuk mengacaukan gelombang frekuensi. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan di dalam ruangan-ruangan ini, Sai menghela napas.

Ia mencoba memutar kenop pintu pertama, terkunci. Demikian juga pintu kedua dan ketiga yang sama-sama terkunci. Ketika jemarinya hendak membuka pintu keempat yang terletak di seberangnya, ia mendengar suara langkah kaki. Agen Konoha ini terkesiap, ia segera mundur dan berlindung di balik dinding batu lalu merapatkan tubuhnya sambil berusaha mengintip. Dari pintu tersebut muncul beberapa orang berpakaian hitam dengan motif awan, dan—TUNGGU! Sai mengingat ciri pria terakhir yang keluar dari ruangan tersebut, si pria yang mengenakan topeng aneh di foto! Lebih terkejutnya lagi, di belakang pria bertopeng tersebut muncul seorang wanita dengan rambut keunguan yang dikenalnya di awal misi. Dia mengenali postur tubuh wanita dingin yang dikenalkan Jiraiya pada hari pertama misi.

.

'Bukankah itu… Konan?! Jadi ternyata dia juga salah satu anggota Akatsuki?' jantung Sai berdebar, ruangan dingin di sekitar membuatnya merinding, 'Jangan-jangan dia yang membocorkan informasi tentang keberadaan tim kami dan membuat Jiraiya tewas malam itu?! Ya, besar kemungkinannya Konoha tidak tahu double agent kepercayaannya juga berkhianat. SIAL!'

Untungnya tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan Sai, dari lokasinya ia melihat Konan dan kelompoknya menjauhi ruangan, pergi entah kemana. Setelah yakin mereka benar-benar sudah pergi, Sai mengendap-endap menuju pintu tersebut dan mendapati ruangan tidak terkunci. Sai menyunggingkan senyum sementara sebelah tangannya membuka pintu. Hanya berjarak satu meter dari daun pintu, ia mendapati beberapa anak tangga menuju ke bawah tanah. Sai menyiagakan pistolnya lalu turun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan satu bidikan mudah ia menjatuhkan seorang penjaga, sementara satu orang lagi ia habisi dengan tangan kosong.

Agen Konoha ini mengerjap, masih dengan senjata teracung ia memeriksa keadaan sekeliling. Ruangan bawah tanah itu terdiri dari beberapa sel jeruji tua, situasi disana cukup gelap dan udaranya lembab. Perhatiannya teralih pada sebuah sel yang menyala, ia berjalan mendekati sel penjara dengan satu penerangan lampu di atasnya. Di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat sesosok anak kecil, dia tertunduk dengan tangan dan kaki yang dibelenggu pada kursi. Mulutnya ditutup semacam perekat, sementara di hadapannya terdapat beberapa perlengkapan untuk pengambilan video.

Apa-apaan ini?!

.

'Sepertinya Sora disekap di penjara, Akatsuki mengancam dan membajak saluran televisi kita.' Perkataan Shikamaru tiba-tiba terlintas di benaknya, jangan-jangan dia Sora?

"Hei! Apa kau bisa mendengarku?" Satu sosok bocah yang tertunduk itu akhirnya menengadah, dalam diam mengamati seorang pria berseragam Akatsuki yang tengah mengarahkan senjata padanya. Sai langsung mengenali wajah itu, dia yakin telah menemukan targetnya. "Apakah Anda… Sora?"

Bocah itu hanya diam, tapi Sai tidak perlu mengkonfirmasi sekali lagi.

"Perkenalkan, namaku Sai." Agen Konoha ini segera menurunkan bidikan, bergegas menuju jeruji dan membuka paksa gemboknya dengan satu kali tembakan. Pertama-tama ia membuka selotip yang menutup bibir anak itu, lalu dengan sebilah pisau membebaskan ikatan pada tangan juga kakinya. Dalam waktu singkat Sora telah terbebas, Sai berdiri di hadapannya seraya memberi hormat. "Atas perintah Konoha, saya datang untuk menyelamatkan Anda, Sora-sama."

.

.


Benteng pertahanan Akatsuki Mansion diserang bertubi-tubi, beberapa tim bantuan berhasil menempelkan peledak dan membuat jalan masuk. Kedatangan pasukan berlogo Suna itu menyulitkan pengamanan di gerbang depan, atas perintah Tobi mereka mengisolasi gedung utama dengan mengaktifkan pagar pembatas di sepanjang lokasi. Arena itu berubah menjadi medan pertempuran, tim A dan B berada di garis depan sedangkan Tim C berusaha mencari rute alternatif. Keamanan terpecah menjadi dua; mempertahankan gedung utama dan sebagian lagi mencari para penyusup.

"Sasuke, arah jam sepuluh!" Pria itu menoleh dan menangkis sebuah pukulan telak dari salah satu penyerang. Sasuke membungkuk, menyikut pria itu telak di rusuk, berkelit lalu menginjak belakang lutut penyerangnya sampai jatuh terjerembab. Ia berbalik dan mengeluarkan senjata dari holster, menghabisi dua orang sekaligus telak di kepala.

Sementara Sasuke berjibaku dengan penyerangnya, Sakura berhasil menghantam salah satu anggota Akatsuki dengan tendangan, ia merebut senjata dari salah seorang mayat dan menembak lawan tepat di perut dan dadanya. Selesai menghabisi mereka celah menjadi terbuka lebar, Sasuke segera mengajak Sakura bergerak. "Ayo, tinggal sedikit lagi kita akan sampai di ruang kerja Tobi…"

.

Sakura Haruno mengatur napas agar kecepatan larinya dapat menyeimbangi Sasuke. Ketika Sasuke membuka sebuah pintu dan di hadapan mereka tampak sebuah ruang kerja mewah yang dihiasi ukiran kayu, Sasuke terkejut dan segera mengarahkan senjatanya, Sakura Haruno berada tepat di belakang tubuh pria Uchiha tersebut. Beberapa pasang mata memperhatikan kehadiran mereka berdua.

"Kutemukan kau, Tobi!"

Tobi? Untuk pertama kalinya Sakura Haruno bertatap mata dengan sang pemimpin Akatsuki. Tobi berada di ruang kerjanya, ia berdiri sambil memegang sebuah koper hitam dan dikelilingi barikade pasukan. Sedetik kemudian Sakura mengenali wajah sang double agent; Konan, wanita itu juga berada di sisi Tobi dengan tenang sambil melipat kedua tangan. Sepertinya apa yang dikatakan Sasuke benar, Konan memang seorang pengkhianat. Tepat di belakang mereka tampak sebuah ruangan lain yang terbuka lebar, tampaknya meja kerja itu merupakan penyambung menuju ruang rahasia milik Akatsuki.

"Lihat siapa yang kembali… Sasuke!" nada bicaranya masih sama seperti yang dikenal Sasuke selama ini, ramah namun penuh jebakan. "Rupanya Kisame tidak becus menghadapimu, ya? Coba lihat keadaanmu sekarang… Kau berdiri di hadapanku dengan gagah berani, ckckck. Apa wanita Konoha itu yang telah menjeratmu untuk berkhianat? Akhirnya seorang Sasuke kembali menjadi anjing Konoha?!"

"Aku tidak berpihak padamu atau Konoha." Sasuke menjawab tegas, pistolnya masih membidik wajah Tobi, "Hentikan perbuatan konyolmu, ini bukan cara untuk membalas dendam atas pembantaian klan!"

.

Pemimpin Akatsuki itu tertawa keras, suaranya menggema di sekeliling ruangan sementara genggaman Sasuke pada senjatanya semakin erat.

"Tch. Kau tidak mengerti, Sasuke…" Tobi terkekeh seperti mencemooh, "Oh tidak, tidak… Sejak awal kau tidak akan pernah mengerti rencana brilianku, bocah! Setelah mereka memperlakukan klan Uchiha seperti sampah yang tinggal dibakar lalu dimusnahkan, apa kau bisa memahami seberapa besar dendam yang Uchiha wariskan pada kita? Mereka telah membunuh keluarga kita, SEMUANYA! Apa kau pikir ini tidak adil?! Semuanya adalah bayaran atas penderitaan kita selama lima belas tahun. Pakai otak dan buang semua rasa kemanusiaanmu, Sasuke… Kenapa? Karena mereka juga hanya memperlakukan kita seperti seonggok sampah!"

"Tapi tidak seluruhnya bersalah! Bukan berarti kita harus menyengsarakan seluruh rakyat Konoha!" Sasuke balas berteriak, "Masyarakat tidak bersalah, mereka sama-sama dibodohi—"

"Shut up, Sasuke…" kata-kata dingin itu meluncur dari bibir Obito Uchiha, "Setiap langkah ada akibatnya, kekacauan masyarakat hanya menjadi salah satu dari puluhan 'konsekuensi' yang harus Konoha terima. Kau bersimpati pada mereka dan mempertaruhkan nyawamu disini? Dasar bodoh. Kau yang seperti ini tidak pantas berada disini… Orang-orang naif sepertimu tidak kuperlukan dalam Akatsuki."

Lalu dengan satu jentikan jari Tobi membuat barikade pasukan menjadi siaga dan mengarahkan senjatanya menuju Sasuke, "Pasukan… Singkirkan dia dari pandanganku!"

.

Oh, sial…

.

"SAKURA, MUNDUR!"

Tanpa diperintah dua kali, keduanya berlari keluar dari ruangan dan menghindari terpaan peluru yang membentur dinding-dinding ruangan. Sakura dan Sasuke lari pontang panting, merunduk menghindari tembusan peluru yang mengoyak dinding. Mereka lari sekencang mungkin dari para pengejar yang membawa senjata AK-47, terkena rentetan pelurunya berarti siap mati. Berlarian di lorong, keributan yang terjadi membuat keadaan mereka terkepung dari dua sisi. Sasuke menembak satu per satu anggota Akatsuki yang menghalangi langkahnya, sementara Sakura berusaha mengurangi jumlah para pengejar. Tepat di ujung tikungan, tiba-tiba emeraldnya menangkap sosok Sai sedang berlari bersama seorang anak berusia sepuluh tahun.

"SAI?!" Sakura memanggil.

"Aku berhasil menemukan Sora-sama. Tapi kurasa kalian terlalu 'sibuk' untuk basa-basi perkenalan, ya?" Atasannya itu dengan sigap membantu dua orang di hadapannya menjatuhkan musuh, Sai menarik tubuh Sora berada di tengah-tengah sementara Sakura-Sai-dan Sasuke memunggunginya. Membentuk barikade pertahanan untuk melindungi target penting misi Konoha. "Bagaimana Tobi, apa kalian berhasil menemukannya?"

"Dia kabur dan memberi kami sedikit upacara penyambutan..." Ujar Sasuke sambil melempar satu clip untuk Sakura yang mulai kehabisan peluru.

"Huh, tipikal tuan rumah yang tidak sopan… Meninggalkan pesta yang belum selesai."

"Dimana kau menemukan Sora-sama?" tanya Sakura.

"Penjara bawah tanah yang disulap seperti lokasi shooting." Satu kombo serangan yang dilakukan Sai telak menjatuhkan salah satu anggota Akatsuki dan membuat pria itu berhasil merebut AK-47 dari genggaman musuh. Assault rifle yang banyak digunakan banyak Negara Blok Timur semasa Perang Dingin itu kini berpindah tangan, rentetan pelurunya menembus tubuh pasukan Akatsuki.

.

Berkat kemahiran mereka sebagai agen terlatih, kini jumlah komplotan Akatsuki mulai berkurang. Sora masih terhimpit di tengah-tengah, Sai sama sekali tidak memberinya celah untuk membantu menembak. Bagaimana pun juga perintah untuk membawa pulang Sora dengan selamat adalah 'mutlak' dalam poin misi mereka, dan sebagai pemimpin tim... Sai tidak ingin misinya gagal. Lalu mengingat menghabisi beberapa tim Akatsuki membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak, pria ini merasa mereka akan kehilangan jejak Tobi jika tidak bergegas mengejarnya. Dia harus membuat keputusan.

"Hei! Aku akan menahan mereka disini lalu menyelamatkan Sora, kalian berdua pergilah duluan!" Sai mengambil alih situasi, membiarkan Sasuke melakukan hal yang sama yaitu merebut senjata para penyerang lalu balik menembaki mereka. "Jangan buang-buang waktu disini!"

"Jumlah mereka masih terlalu banyak, Sai—"

"Aku bisa mengatasinya..." Sai berkata sekali lagi, "Pergilah!"

"Sakura, dia benar. Kita harus mengejar Tobi, cepat ikuti aku!" Sasuke menembakkan laras rifle-nya untuk membuka jalan, ia menerobos kerumunan dan diikuti Sakura yang masih menengok ke belakang untuk melihat Sai. Atasannya itu mengangguk singkat, memberi izin anak buahnya untuk segera pergi.

.

.


Berlarian menyusuri lorong awal sebelum mereka lari menghindari serangan, Sakura dan Sasuke berada dalam perjalanan menuju ruang kerja Tobi.

"Me-mereka datang lagi!" Sakura Haruno sedikit memekik, di hadapannya terlihat beberapa pria dengan senjata berat di tangan sedang berlarian menuju arahnya.

Sialnya, Sasuke hampir saja mencapai ruangan kerja Tobi jika tidak dihadang lagi-lagi oleh anak buah Akatsuki. Meskipun kalah jumlah, AK-47 dalam genggamannya sempat membantai beberapa tubuh lawan yang tidak terhalang rompi anti peluru. Sasuke menahan laju mereka dan membiarkan Sakura lebih dulu berlindung di tikungan, ia menyusul sepersekian detik kemudian. Lari terengah-engah menuju ruang kerja Tobi.

"LARI TERUS, SAKURA!" Sasuke berteriak sambil terus memacu langkahnya agar terus berlari, sesekali keduanya merunduk untuk menghindari desingan peluru yang mengincar kepala mereka.

"Mereka juga datang dari arah jam dua belas!" Sakura melihat beberapa orang baru saja keluar dari pintu di depan mereka. Ia segera memperlambat kecepatan lari dan mencari-cari lorong atau tikungan agar bisa berlindung sebelum tubuhnya diterpa timah panas. Tapi sayangnya, tidak ada. Mereka dihimpit oleh kumpulan musuh di sebuah lorong tanpa cabang. Sasuke berbalik, memunggungi Sakura. Dilihatnya dari arah belakang juga tampak beberapa pengejar, mereka harus menghadapi musuh dari dua arah!

Dan tepatnya, mereka terkepung.

"Tembak mereka atau kita yang mati!" Sasuke berteriak. Jemarinya menekan pelatuk rifle dan rentetan peluru secara otomatis menerpa tubuh lawan. Belum sempat menghabisi semuanya, amunisinya habis meminta reload. Sang Uchiha tanpa senjata api sontak menggunakan senjatanya sebagai pemukul, ia mengayunkan senapan tersebut hingga menghantam salah satu kepala Akatsuki layaknya sebuah tongkat baseball. Bertarung dengan tangan kosong, tubuhnya diserang oleh beberapa orang menggunakan senjata tajam. Sasuke terlibat baku hantam yang cukup sengit.

.

DOR DOR DOR DOR – klik-!

"Sial!" di sisi lain tampaknya Sakura juga kehabisan peluru, penyerangnya masih tersisa. Sakura berusaha melawan namun tubuhnya harus pasrah terhempas oleh tenaga pria yang jauh melebihi kekuatannya. Agen Konoha ini jatuh tersungkur, meringis kesakitan. Sang pria Akatsuki justru menyeringai, menatap lawannya sudah tak berdaya tanpa senjata apapun. Dia mengarahkan senjata api pada sang agen Konoha, bersiap-siap menembak.

Sasuke melirik keadaan Sakura yang kurang menguntungkan, ia sendiri masih berusaha lepas dari cekikan salah satu lawannya. Luka pada lengan kiri akibat sabetan pedang Kisame sepertinya terbuka dan kembali mengeluarkan darah. Pria Uchiha ini meronta, tidak peduli pada luka-luka yang dideritanya. Dia meninju rahang pria besar yang sedang mencekiknya, mengerahkan tenaganya semaksimal mungkin. Sasuke harus mengalahkan orang ini. Dia harus segera menolong Sakura yang berada dalam jarak tembak Akatsuki! Perhatiannya lagi-lagi terarah pada wanita yang beringsut berdiri sambil meringis kesakitan, sementara laras pistol telah mengarah pada kepalanya.

"Sakura, apa yang kau lakukan?! Berlindung!"

Peringatan Sasuke berakhir percuma. Bukannya menghindar, Sakura justru berdiri tegap di tengah-tengah seraya merentangkan kedua tangan. Wanita ini tahu persis, jika menghindar dari tembakan maka peluru itu akan langsung melesat menuju Sasuke. Dan ia tidak ingin itu terjadi, Sasuke Uchiha tidak boleh mati. Setidaknya, ia akan mengulur waktu. Biar dia yang menjadi perisai hidup bagi pria itu. Pria Akatsuki di hadapannya mengokang Beretta 9mm, jemarinya telah siap menarik pelatuk. Sakura perlahan menutup kedua matanya, sementara pupil Sasuke justru terbuka lebar.

"SAKURAAA!"

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter sembilan belas selesai dengan 8.333 words! Sampai saya menulis A.N. ini, ternyata Shattered Memories sudah mencapai 35.000 views O_o;;. WOW. Terima kasih sekali lagi, saya sendiri nggak nyangka bisa banyak yang baca *terharu*.

Chapter ini masih menceritakan perjuangan Sai-Sakusasu menembus markas Akatsuki dan Naruto-Hinata merebut kembali Safe House. Hokagenya itu Sarutobi, dan ajudannya Neji Hyuga. Buat yang mengira Kakashi akan ikut beraksi harus kecewa ya, secara pemimpin nggak mungkin 'meninggalkan kapal tanpa nahkoda', hehe. Tobi mulai mempengaruhi rakyat dengan membajak siaran televisi dan memasang semacam jammer untuk mengacaukan gelombang frekuensi (makanya alat transmisi Sai tidak bisa dipakai di penjara). Chapter depan dipastikan menjadi klimaks, dan saya perkirakan cerita ini akan TAMAT 2-3 chapter lagi… Jadi ikutin terus ya!

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.

Dan ini balasan review chapter delapan belas + chapter ITACHI :

Alifa Cherry Blossom : Terima kasih buat reviewnya dan udah suka sama 2 chapter kemarin, bentar lagi tamat nih. Mampir RnR lagi ya!

Vanillathin : dan saya update nih ^^

Natsumo Kagerou : halo salam kenal, dan terima kasih buat reviewnya. Senang kalau suka sama cerita ini, hahaha ya cowok mana suka kalau ceweknya digangguin cowok lain. Dan itu memang lemon pertama yang saya bikin, susah ternyata. Mampir lagi ya!

UchiHarunoKid : Itachi masih misterius kah meski ada chapter bonusnya? Iya Sai jadi obat nyamuk, untung sekarang dia ada Sora hahaha. Karena banyak yang dibahas jadi 8.000 words nih, beneran panjang. Ditunggu reviewnya lagi lho :D

Hanazono yuri : 2-3 chapter lagi nih Yuri-chan, sebentar lagi tamat~ Lemon Sakusasu, nanti coba diselipin yah! ^^

cherryemo : Udah baca bonusnya? Nah sekarang saya update lagi nih~ ^^

Akasuna no ei-chan : gimana chapter bonusnya nih, nanti ditunggu komentarnya loh ya haha~ Sebentar lagi tamat ceritanya, ikutin terus ya Ei-chan…

Cheinn PinkTom : Syukurlah kalau Naruhinanya mulai terasa, saya sendiri bingung harus nyelipin scene mereka dimana. Mungkin kalau ini selesai bisa kepikiran cerita lain, gawatnya ada beberapa request yang belum sempat dibuat. Semoga nanti ada ide baru dan ditunggu reviewnya ya! :D

QRen : tanggal 11 udah dicek lagi chapter bonusnya? Syukurlah kalau seru, semoga yang ini juga oke!

NE : Sakusasu saya usahakan selalu muncul karena mereka pairing utama, tapi adegannya juga nggak bisa terus-terusan romance karena tuntutan keadaan yang harus action. Hehehe terima kasih udah mampir di chapter bonusnya juga, RnR lagi ya…

Alluca : iya nih kemana aja, thank you kalau seru pakai banget :)

Uchiha Nakama : thank you buat review dan favenya, moment Sakusasu saya coba selipin…kurang banyak ya? Wkwkwk…

irma : Semua request happy end, tapi terus terang saya belum memikirkan endingnya akan seperti apa. Wait n see aja ya, hohoho. Mampir lagi ya ^^

Love Foam : Thank you buat reviewnya, deg-degan takut mereka ketauan? Ah dan syukurlah kalau lemonnya cukup asem, iya ngetik lemon itu susah juga ternyata. Lebih enak bayangin #ditampar. Nah saya update pas tanggal 20, cek archive ya :)

Haekal Uchiha : Review ini mengingatkan saya kalau tujuan Sasuke belum dijelaskan, terima kasih banyak. Sasuke disini bukan semata-mata bantu Konoha, dan nggak lagi berpihak ke Akatsuki. Setelah tahu dia diincar Kisame, dia tidak lagi berpihak pada Akatsuki tapi kebenciannya untuk Konoha juga bukan berarti hilang. Semata-mata dia tidak ingin Konoha hancur dan rakyat yang jadi korbannya, karena nasib rakyat juga sama seperti Sasuke; jadi korban yang dibohongi. Hehehe chaos di Konoha belum separah Gotham City untungnya, mereka baru menggempur Safe House.

Mizuira Kumiko : yup, saya update! :D

Nitya-chan : masih hidup kok Itachi, dia bakal beraksi disini. ^^

Naabaka : terima kasih karena penasaran jadi review, semoga chapter ini juga penasaran jadi mampir lagi hahaha. Yup, saya update pasti tanggal 7 dan 20 kok (kalau ada sesuatu juga selisih 1-2 hari), tenang aja :)

Foetida : Sora… Berperan jadi sandera yang harus diselamatkan hahahaha. Dan Kakashi nggak terjun ke medan kok, secara dia pemimpinnya. Iya masa lalu Uchiha bersaudara dibuatnya berat, yang satu dipermainkan Danzo, satu lagi harus berjuang sendiri buat hidup. Lemonnya 8/10, itu artinya sukses apa saya terlihat mesum? Hahaha, Itachi baru tahu Akatsuki dari Konan… Nanti terungkap di chapter depan.

Guest ajah : liburan baca cerita saya? Wah senangnya ada readers baru… Oh soal romance selain bukan ahlinya, saya sendiri spesies yang nggak suka too much romance. Menulis banyak romance di cerita ini salah satu tantangan, termasuk pengembangan karakter dan plotnya karena saya nggak pernah berpatok sama plot. Terima kasih atas reviewnya, benar-benar bikin hepi.

Himawari no AzukaYuri : Nggak kok Kakashi nggak bakalan pergi dari markas, dia kan pemimpinnya… Dan sepertinya Sakusasu – Naruhina tidak akan dipertemukan di medan perang, mereka beda Negara sih sekarang. Kalau gitu, udah bisa menebak sifat Konan seperti apa? Karena dari semua karakter disini, Konan dan Itachi memang saya buat sebagai karakter yang paling 'abu-abu'… Terutama Konan sih (fave saya ceritanya). Ternyata fave di anime-manga Naruto ya, oh kalau soal Sai yang jadi santai… dia 'geli' lihat Sakura sama Sasuke sepertinya, jadi lalat di antara mereka sih, hahaha. Hokagenya sudah saya putuskan, Sarutobi dan ajudannya Neji.

Alisha Blooms : Halo Alisha-chan, biar telat yang penting setia RnR :D. Hehe Alisha penasaran soal Itachi ya? Sama saya juga kalau di posisi Lee mungkin nembak diri sendiri haha. Konan masih setia di sisi Tobi tentunya, SakuSasuSai memang sengaja dibuat adu sarkastis… dan Sakura terpaksa harus terjepit di antara mereka XD.

selaladrews: Jadi anak kuliah lebih menyebalkan lagi lala-chan… Naruhina kurang greget? Apa boleh buat, mereka masih grogi. Naruto juga belum benar-benar lupain Sakura kan. Hahahaha di skip ya, nggak apa… Tenang, kan saya udah janji buat chapter bonus. Jadi pasti ada dong! Mampir RnR lagi ya?

Gohara01 : Saya update niih!

Fujinyan : Halo Fuji, salam kenal… Nggak apa yang penting menyempatkan baca, soalnya kemarin kan bukan chapter utama, chapter bonus tentang Itachi. Sekarang mampir lagi oke? :D

Akari Chiwa : *ngakak* pro dalam hal lemon? (hahaha jadi berasa mesum, beneran ini pertama kali nulis lemon. Nulis loh ya, bukan baca atau nonton #digampar), hmm lemon Sakusasu ya. Semoga bisa dibuat! :D

Mamet : thank you, iya dulu nggak sesuai jadwal dan ada readers yang mengusulkan cara ini. Teratur dan memudahkan sih, asal author bisa update tiap tanggalnya aja, hehehe.

CN Bluetory : halo, ada Yonghwa dkk review disini ternyata, LOL. Thank you so much buat reviewnya ^^, syukurlah kalau suka sama cerita ini…

Gita Zahra : haha iya karena saya bilang mau ada lemon jadi dibuat begitu, suka adegan Sasusaku di markas Akatsuki? Yang digangguin sama Sai? :D

Tsurugi De Lelouch : iya hahaha kasihan juga Sai terjebak disana, yang penting ada adegan sakusasunya ya… hmm *harap harap cemas* apa lemonnya nggak asem? LOL.

Universal Playgirl : saya update lagi nih, ayo mampir!

roquezen : sist… beneran pertama kali nulis lemon, artinya itu saya sukses buat lemonnya, atau sekaligus berarti ketauan mesum? *kabur*.

Sampai jumpa di chapter depan (7 September)! :D

-jitan-