SHATTERED MEMORIES
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis. Ada beberapa nama dan tipe senjata yang saya gunakan di sini, jika tidak mengerti istilahnya cukup membayangkan jenis-jenis senjata yang biasa digunakan para tentara di film-film action. Selamat membaca! :D
.
.
Sasuke melirik keadaan Sakura yang kurang menguntungkan, ia sendiri masih berusaha lepas dari cekikan salah satu lawannya. Luka pada lengan kiri akibat sabetan pedang Kisame sepertinya terbuka dan kembali mengeluarkan darah. Pria Uchiha ini meronta, tidak peduli pada luka-luka yang dideritanya. Dia harus segera menolong Sakura yang berada dalam jarak tembak Akatsuki! Perhatiannya lagi-lagi terarah pada wanita yang beringsut berdiri sambil meringis kesakitan, sementara laras pistol telah mengarah pada kepalanya.
"Sakura, apa yang kau lakukan?! Berlindung!"
Peringatan Sasuke berakhir percuma. Bukannya menghindar, Sakura justru berdiri tegap di tengah-tengah seraya merentangkan kedua tangan. Wanita ini tahu persis, jika menghindar dari tembakan maka peluru itu akan langsung melesat menuju Sasuke. Dan ia tidak ingin itu terjadi, Sasuke Uchiha tidak boleh mati. Setidaknya, ia akan mengulur waktu. Biar dia yang menjadi perisai hidup bagi pria itu. Pria Akatsuki di hadapannya mengokang Beretta 9mm, jemarinya telah siap menarik pelatuk. Sakura perlahan menutup kedua matanya, sementara pupil Sasuke justru terbuka lebar.
"SAKURAAA!"
.
.
Sasuke mendorong tubuh pencekiknya hingga jatuh terjungkal, ia mengerahkan segenap tenaga untuk bangkit lalu menangkap tubuh wanita yang masih berdiri menantang maut. Jemarinya berusaha meraih bahu Sakura, jarak antar mereka tinggal beberapa sentimeter sampai— DORR!
Bertepatan dengan suara tembakan, tubuh Sasuke menghantam punggung Sakura dan ia mendorong wanita itu hingga jatuh telungkup. Keduanya berbenturan dengan lantai, Sasuke masih berada di atas Sakura Haruno, menelungkup dan berusaha melindungi tubuh itu dengan punggungnya. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari batas normal, buku-buku jarinya terasa kaku. Ia takut. Takut gerakannya barusan terlambat sepersekian detik, dia ketakutan jika peluru itu sampai bersarang pada tubuh Sakura. Bagaimana kalau wanita ini sampai ter—DOR! DORR!
Sial! Lagi-lagi ia merunduk, melindungi Sakura yang masih tiarap di bawah tubuhnya. Tembakan susulan tadi mengejutkan seluruh syaraf sang Uchiha, namun sedetik kemudian ia berjengit keheranan. Ada satu kejanggalan; dia tidak melihat darah atau merasa sakit. Sasuke akhirnya menyadari peluru-peluru tadi tidak mengarah pada tubuhnya, tapi … kenapa bisa?!
"Sa-Sakura, kau … tertembak?"
"Ugh, sepertinya tidak," Sakura menggeleng pelan sambil meringis karena bobot tubuh pria yang menimpanya, "… kau berat, Sasuke."
Sasuke segera menyingkir dari atas tubuh Agen Konoha yang berada di bawahnya itu, sekilas melihat Sakura bergerak dan kini berusaha untuk bangkit. Setelah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menembus tubuh Sakura, ia bernapas lega. Tembakan tadi luput mengenai wanitanya.
.
"Kalian baik-baik saja?"
Suara asing itu membuatnya terkejut, seluruh syarafnya kembali menegang. Perlahan-lahan Sasuke mendongakkan kepala, terbelalak mendapati beberapa sosok Akatsuki tadi telah tergeletak di atas lantai dengan genangan darah. Tepat di hadapannya Sasuke melihat seorang pria dengan perawakan sekitar 178 cm, berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kaki dan memiliki model rambut belah tengah. Garis usia tampak di bawah mata pria itu, sementara pupilnya yang berwarna merah balas menatap Sasuke dalam keheningan total. Ia menurunkan Colt M-16 yang sejak tadi melekat pada genggamannya, seakan tidak terganggu dengan sikap Sasuke yang tetap berada dalam kesiagaan penuh.
"Tenanglah, Sasuke," perkataan itu sontak membuat Sasuke semakin bingung, menyadari pria asing ini bahkan mengetahui namanya, "Aku bukan musuh."
Alisnya berkerut keheranan.
"Si-Siapa kau?! Kau—sepertinya bukan anggota Akatsuki. Bagaimana caranya kau bisa ada di sini?" Sasuke maju selangkah sampai berada di depan tubuh Sakura, tubuhnya refleks melindungi wanita yang masih berusaha berdiri. Sementara mata Sasuke tidak pernah lepas dari pria asing di hadapannya, termasuk menyadari pupil kemerahan itu kini berubah menjadi gelap. Berwarna onyx, seperti miliknya.
"Akan kujawab pertanyaanmu satu per satu. Pertama, bagaimana caranya aku ada di sini? Dengan GPS dan radio pemancar. Kedua, siapa aku?" ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah emblem bertuliskan S.S.S disertai lambang Negara Suna, "Perkenalkan; namaku Itachi Uchiha, Field Agent dari Suna's Secret Service. Tepat seperti dugaanmu, aku bukan anggota Akatsuki. Misiku adalah menangkap pimpinan Akatsuki hidup atau mati."
Field Agent? Jadi pria bernama Itachi ini adalah seorang agen rahasia Negara Suna, emblem itu cukup membuktikan bahwa pria yang telah menyelamatkan nyawa Sasuke dan Sakura beberapa saat lalu ini bukanlah lawan. Dia tidak berada di pihak Akatsuki, tapi— Sasuke teringat sesuatu.
"Tu-Tunggu! Kau barusan menyebut nama … Uchiha?"
Pria itu mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk singkat.
"Ya. Aku seorang Uchiha, dan secara biologis—" ia diam sejenak, mengulas senyum tipis pada bibirnya, "Aku kakakmu."
.
"APA?!" Bukan hanya Sasuke, tapi Sakura pun terkejut mendengarnya.
Sasuke punya seorang kakak?
"Jangan main-main denganku!" Sasuke mendesis, kedua tangannya terkepal. Ini konyol. Dia punya saudara kandung? Bagaimana bisa ia tidak tahu menahu soal keberadaan kakaknya? Kalau pun ada, bukankah hanya ia dan Tobi yang tersisa dari klan Uchiha?! Sasuke masih beradu argumen dengan pria yang mengaku sebagai kakaknya, "Dengar! Aku tidak tahu kejutan apalagi ini, tapi seluruh klan Uchiha kecuali aku dan Tobi telah dibunuh. Selain itu … aku sama sekali tidak mengenalmu sebagai kakakku."
Itachi menghela napas dalam-dalam, dia tahu akan seperti ini. Perkataan adik semata wayangnya terasa menyayat hati, tapi dia tidak punya pilihan apapun untuk memperbaiki keadaan. Mereka terlanjur… terpisah. Tidak saling mengenal satu sama lain, ia sudah dipisahkan dengan Sasuke sejak adiknya masih bayi. Berpisah sebelum adiknya ini memiliki memori yang cukup—setidaknya, untuk mengingat satu saja kenangan tentang figurnya sebagai seorang kakak. Menyayangi saudara kandung yang sama sekali tidak tahu akan keberadaanmu merupakan suatu kondisi yang cukup menyiksa.
"Kau memang tidak akan mengenalku, pada kenyataannya kita dipisahkan ketika kau masih sangat kecil. Ini salah satu cara ayah kita untuk melindungi anak-anaknya," onyx Itachi meredup namun tetap berusaha mempertahankan senyumnya di hadapan sang adik. "Ceritanya panjang, Sasuke ... akan kujelaskan semuanya ketika semua kekacauan ini selesai. Tapi sekarang kita tidak punya banyak waktu untuk reuni keluarga, baik kau dan aku masih punya misi yang harus dituntaskan."
Sakura mensejajarkan diri dengan Sasuke dan melihat ekspresi kebingungan dari pria itu. Jujur, dia bisa melihat dengan jelas kemiripan antara Sasuke dengan pria bernama Itachi di hadapannya. Sama-sama memiliki raut tegas dan berwajah tampan, keduanya memiliki onyx yang indah, juga beberapa kemiripan lain yang menyatakan bahwa mereka memang saudara kandung. Tapi Sakura menyadari, kenyataan mengejutkan seperti ini pasti membuat Sasuke terkejut. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ia memiliki seorang kakak; satu lagi keturunan Uchiha yang masih hidup.
Itachi mengambil sepucuk pistol berjenis Springfield XD dari holster dan melemparnya ke arah Sasuke, memberi gestur bahwa dirinya berada di pihak yang sama dengan sang adik. Sakura Haruno juga memberanikan diri untuk membungkuk dan mengambil salah satu senjata dari mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Sasuke yang menerima senjata dari Itachi masih menatapnya dengan penuh tanda tanya. Tapi dia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk membahas masa lalu keluarga atau jati diri Itachi Uchiha. Dia akan menagih penjelasan setelah semuanya selesai. Ketiganya bersiap melanjutkan perjalanan sebelum Sakura melihat luka sayat dari Kisame kembali mengeluarkan darah.
.
"Sasuke, lukamu terbuka! Sebentar, biar kutangani." Sakura merobek lengan bajunya sendiri lalu berusaha membelitkannya sebagai pengganti perban. Menahan darah agar tidak terus menerus mengalir, Sasuke meringis menahan sakit ketika lukanya disentuh, "Sakit? Tahan sebentar ya ..."
Sasuke mengangguk, mengernyitkan dahi akibat nyeri ketika Sakura membuat simpul ikatan dari kain pakaian untuk membalut lukanya. Tersenyum puas, Sakura selesai dengan pekerjaannya. "Nah, selesai! Setidaknya ini akan menghentikan rembesan darah lukamu untuk sementara waktu."
"Hn," Sasuke memperhatikan lengan kirinya yang telah dibalut oleh Sakura, tanpa sadar ia melirik sekilas pada wanita itu lalu menyunggingkan senyum. "Arigatou."
"Sama-sama, Sasuke-kun." Sakura memberi senyuman terbaiknya.
Itachi hanya memperhatikan kedua orang di hadapannya tanpa mengatakan apapun, dan sama sekali tidak terlihat terganggu. Ketika wanita Konoha itu telah selesai membalut lengan kiri Sasuke dan mengangguk hormat ke arahnya, Itachi hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Seolah-olah sebagai ucapan rasa terima kasih karena wanita Konoha itu telah memperhatikan adiknya. Itachi berbalik dan berjalan menuju pintu lorong.
"Oh ya, Sakura … jangan pernah lakukan itu lagi," gumam Sasuke saat sosok Itachi berjalan menjauhi mereka, "membiarkan dirimu menjadi perisai, kumohon … jangan pernah lakukan itu lagi. Aku tahu kau berniat melindungiku, tapi melihatmu merentangkan tangan seperti tadi … aku hampir mati karena serangan jantung, tahu?"
Sakura sedikit terkekeh mendengarnya, "Maaf ya, membuatmu cemas."
"Hn. Syukurlah kau baik-baik saja …" pelan dan sekilas, Sasuke mengangkat sebelah tangannya untuk membelai rambut Sakura, "yang penting kau selamat."
Sakura tersipu, ia berusaha sekuat mungkin menutupi rona wajahnya yang memerah.
.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Sasuke sambil mengokang senjata dan mengikuti figur yang mengaku sebagai kakak kandungnya itu menuju ruangan kerja Tobi.
"Simple; menghentikan Tobi sebelum dia berhasil kabur. Suna memberi perintah untuk menangkapnya hidup atau mati," Itachi memastikan kedua orang di hadapannya telah dilengkapi senjata, ia melihat GPS lalu meneliti keadaan sekeliling untuk memastikan arah yang harus mereka tuju.
"Tidak usah gunakan GPS, aku tahu persis di mana letak ruangan kerja Tobi. Kita masih punya waktu untuk menghentikannya, ayo!" Sasuke berjalan mendahului sosok kakaknya, memimpin di depan. Sakura Haruno dan Agen Suna mengikuti langkah pria itu tepat di belakangnya.
"Menghentikan Tobi?" terpaut beberapa langkah di belakang Sakura, Itachi mendengus. Ucapan itu terdengar seperti gumaman kecil yang tentu dihiraukan oleh kedua manusia di hadapannya, "Selain soal Tobi, aku juga harus menjemput seseorang lalu mengajaknya pulang."
.
.
SHATTERED MEMORIES
CHAPTER 20 : PROOF
.
.
Konoha's Hospital, VVIP Room A
"Hokage-sama, maafkan ketidaksopanan saya yang memaksa untuk berbicara empat mata dengan Anda." Tsunade berusaha tersenyum meski seluruh tubuhnya masih terasa kebas, "Bagaimana keadaan di luar? Apa yang bisa saya lakukan?"
"Tsunade, kau bukan robot. Saat ini kau tidak sehat dan menurut pendapatku sebaiknya kau beristirahat …" melalui secure line Sarutobi berhasil menghubungi Tsunade. Sang Hokage menatap lirih pada layar monitornya, seorang dewan petinggi yang dikenalnya sebagai pribadi jujur dan pantang menyerah kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Setelah peristiwa ledakan jam delapan tadi, Konoha diserang bertubi-tubi. Parahnya, pembajakan siaran yang dilakukan Akatsuki memberikan efek besar pada rakyat, mereka meminta kejelasan. Tenanglah, Neji sudah mengatur jadwal konferensi pers untukku bila para dewan belum bisa diselamatkan dari Safe House."
"Saya bisa melakukannya segera, Hokage-sama," pupil Tsunade membesar, ia tertarik pada tugas baru yang dapat dilakukan dalam keadaan terbaring di atas ranjang rumah sakit, "Anda tidak perlu menunggu lebih lama, untuk sementara saya bisa menangani media massa. Meski keadaanku seperti ini, saya mampu berbicara dengan mereka. Akan kuminta beberapa rekan wartawan untuk datang menemuiku, Anda bisa menjelaskan secara detil—"
"Demi Tuhan ... sekali-kali pikirkan dirimu dulu, Tsunade!" Hokage menyanggah saran nekad wanita ini, "Beruntung kau bisa selamat dalam ledakan itu, sekarang kau harus beristirahat total. Aku paham dedikasimu begitu tinggi bagi negara. Tapi tidak setiap saat kau harus mengorbankan keselamatanmu demi Konoha, aku tidak akan membiarkan lokasimu terlacak dan membuat Akatsuki bisa memburumu dengan mudah. Aku belum siap mengunjungi batu nisan yang bertuliskan namamu, Tsunade."
Wanita berambut pirang ini menutup matanya sejenak, ia sudah membuat keputusan.
"Terima kasih atas simpati Anda. Tapi sebagai salah satu wakil rakyat, saya akan malu seandainya saya hanya berdiam diri tanpa melakukan perjuangan apapun, Hokage-sama." Tsunade berkata dengan mantap, "Biarkan saya menghubungi beberapa wartawan dan melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah pengamanan. Setidaknya rakyat harus diberikan kejelasan sebelum Anda sendiri yang berbicara melalui konferensi pers besok."
.
Sarutobi hanya diam dan merenungkan perkataan anggota dewan tersebut, Tsunade bersikeras menemui para wartawan untuk mengatasi chaos yang terjadi di luar. Bukannya meragukan kemampuan Tsunade, namun sang Hokage lebih mengkhawatirkan keselamatan wanita ini. Berita tentang Tsunade yang ditemukan di reruntuhan gedung parlemen dan berhasil dibawa ke rumah sakit tidak pernah diekspos pada siapapun. Sekarang dia harus merelakan salah satu anggota dewan pilihannya berhadapan dengan wartawan di atas ranjang rumah sakit, tanpa bisa menggerakkan tubuh akibat pergeseran pada tulang punggungnya? Ia menghargai semua usaha yang diberikan Tsunade untuk membantu Konoha, lalu mengangguk.
"Baiklah. Aku akan meminta Neji mengurusnya untukmu, Tsunade."
"Terima kasih, Hokage-sama!" Senyum tulus itu tersungging begitu saja setelah ia mendengar kata persetujuan dari sang pemimpin Konoha, "Ah, ada satu hal lagi … tapi saya harus memastikan, apakah saya hanya berbicara langsung dengan Anda, tanpa rekaman arsip dan sebagainya?"
"Ya, percakapan ini aman," Hokage mengerutkan dahinya, "ada apa?"
"Uh—bagaimana mengatakannya," Tsunade tampak menimbang-nimbang ucapan berikutnya. "Ada yang harus kita bahas mengenai … Insiden Pemurnian Uchiha lima belas tahun yang lalu."
Sang Hokage berubah menjadi hening.
"Sepertinya ada beberapa fakta yang luput dalam pemeriksaan belasan tahun yang lalu, saya tidak paham bagaimana itu bisa terjadi. Bisa dibilang … kita melewatkan sesuatu yang penting. Saya bermaksud menyelidiki hal tersebut dalam arsip sebelum akhirnya terjadi ledakan pada gedung, tapi untungnya saya berhasil mendapatkan beberapa petunjuk. Intinya; Anda mungkin tidak percaya pada apa yang saya katakan, tapi kumohon agar Hokage-sama mendengar penjelasanku sampai selesai."
Sarutobi tahu ini hal yang sangat penting, dia tidak pernah melihat Tsunade se-serius seperti saat ini jika tidak menyangkut suatu hal yang menurutnya kritis.
"Katakan, Tsunade." Hokage menegakkan posisi duduknya, siap mendengarkan.
.
.
Safe House, 22.50 PM (10 menit sebelum tim Guy datang)
"Mereka tidak akan pernah mendapatkan Sora, Kabuto. Kau tahu pasti dia akan kubunuh di depan jutaan rakyat Konoha," Tobi berbincang dengan pria ini dari sambungan telepon, "dan yang tak boleh kau lupakan … lenyapkan si tua bangka Danzo. Dia terlalu lama menghirup udara segar di atas dosanya menghabisi klan Uchiha, dia tidak pantas hidup."
"Baik, akan kulakukan." Kabuto melirik, matanya bertatapan dengan Danzo. Pria ini menutup telepon, mengeluarkan senjata lalu menodongkan larasnya ke hadapan para dewan. Memang ini belum 45 menit sejak terakhir kali ia berunding dengan Hokage untuk menarik larangan kapal berisi selundupan senjata memasuki Konoha, artinya sudah sekitar dua puluh menit senjatanya absen memuntahkan peluru. Dia bosan. Sesuai perjanjian ia tidak akan menyentuh para anggota dewan, tapi toh … dia tidak peduli. Tidak ada satu pun yang tahu apa yang ia lakukan di ruangan ini 'kan?
DOR!
Kabuto mulai menembak salah satu pria yang berada paling dekat dari tempatnya berdiri.
"A-Apa yang kau lakukan?!" jerit salah seorang wanita, "Kau sudah janji untuk tidak me—"
DOR!
"Sshhh … wanita cerewet sepertimu lebih baik mati." Peluru melesat dan menembus kerongkongan wanita itu, memutus ucapannya dengan kematian, "Kalian mati pun, Konoha tidak akan tahu karena seluruh CCTV sudah dihancurkan! Dasar bodoh!"
Pria ini tertawa puas.
.
DOR! DOR! DOR!
Kabuto berseri-seri, ia menembak siapa pun yang menurutnya menarik untuk dibunuh. Tubuh-tubuh tak berdosa dari para anggota dewan jatuh bergelimpangan, cipratan darah disertai bau amis menguar di dalam ruang rapat. Dengan tenang Kabuto berjalan menuju arah Danzo, menatap tubuh renta pria angkuh itu tengah terikat di atas kursi dengan sebuah jam pada pergelangan tangannya. Tentu saja itu bukan sekedar jam biasa, melainkan sebuah bom waktu yang juga digunakan Akatsuki untuk menghabisi salah satu Agen Konoha di Central Market. Danzo menatapnya dengan penuh kebencian, pandangan yang diacuhkan oleh sang teroris.
"Tuan Danzo … apa yang telah kau lakukan untuk keluarga pemimpin kami adalah dosa berat," layaknya seorang pengkotbah ulung, Kabuto merentangkan kedua tangannya untuk melanjutkan pidato. "Ini saatnya kau mengakui semuanya, ini hari penghakiman atas seluruh dosa-dosamu! Ayo katakan sebelum kau mati. Dendam apa yang membuatmu menghabisi seluruh klan Uchiha? Apa yang kau bisikkan pada orang-orang suruhanmu untuk membunuh mereka?"
Danzo bungkam, meskipun beberapa anggota dewan mulai berbisik memperbincangkan ucapan Kabuto.
"Hmm? Seingatku, aku tidak menyuruhmu diam … apa kau bisu, Pak Tua?" dengan ujung senjatanya Kabuto memukul wajah Danzo, membiarkan sudut bibir pria itu memar dan mengeluarkan darah. Dengan kasar Kabuto segera mencengkeram kerah kemeja Danzo, mendesis ke arahnya. "Jawab aku, brengsek!"
Menarik, target utama Tobi ini ternyata tetap bungkam meski telah digertak. Pistol dalam genggamannya kini ia tempelkan pada pelipis Danzo, wajah Kabuto tampak menyeringai licik. Dia memperhatikan raut wajah pria paruh baya di hadapannya kini berubah pucat, tampak titik-titik keringat membasahi kening yang dipenuhi garis-garis keriput. Meskipun demikian, ekspresi Danzo tetap datar; seperti menunjukkan harga diri tinggi yang tidak akan pernah ia lepaskan sampai mati. Danzo masih balas menatap Kabuto secara intens, tidak membiarkan gertakan pria itu membuatnya mati langkah.
"Yang kuat yang akan bertahan," ucap Danzo, arogansi masih melekat pada tiap intonasi yang diucapkannya, "Mereka-lah yang lengah dan membiarkan semua rencanaku berhasil, kau bilang itu kesalahanku? Itu konsekuensi dari kelengahan—"
Ucapannya terputus.
Terdengar sebuah suara dari arah pintu masuk! Kabuto segera menoleh ke arah pintu yang seharusnya tertutup rapat karena sang pemegang kunci telah ia sekap dalam ruangan. Keadaan berubah hening, semua senjata diarahkan pada pintu double door di hadapan mereka.
"CONFIRMED."
Dan sesuai dugaan Kabuto, double door itu terbuka.
.
.
"Mereka berhasil masuk?!" Kabuto mengacungkan senjatanya lalu mulai menembak, "Habisi mereka!"
Adu tembak antara tim Konoha dan Akatsuki terjadi, pasukan barisan depan yakni Kiba dengan Captain Guy merapat pada dinding untuk mengambil jarak tembak. M4A1 Carbine milik sang pemimpin tim beradu dengan AK-47 milik para teroris. Para anggota dewan yang meringkuk di sudut ruangan pasrah sambil meletakkan tangan di atas kepala, kepala tertunduk dan mereka ketakutan. Dari jarak pandangnya Kiba telah berhasil mendapatkan lokasi di mana para sandera berkumpul, ia menoleh pada sang kapten untuk meminta izin melaksanakan langkah berikutnya. Guy mengangguk, memberi acungan jempol sebagai aba-aba. Secara serempak, seluruh anggota tim menurunkan masker pelindung hingga menutupi wajah.
"Memulai proses evakuasi," perintah kapten tim melalui transmisi, "3 … 2 … 1 … Masuk!"
Kiba mengeluarkan sebuah granat, dengan sigap ia menarik sumbu lalu menggelindingkan MP-1 smoke grenade tersebut untuk mengasapi ruangan rapat. Kepulan asap berwarna putih langsung membumbung memenuhi seisi ruangan, membuat pergerakan tim Konoha tidak terdeteksi oleh para teroris. Desingan peluru terdengar diikuti pekikan ngeri para sandera, tampaknya para teroris masih berusaha menembak dalam jarak pandang terbatas. Mereka tidak tahu di mana letak keberadaan lawan atau kawan, tembakannya membabi buta.
.
"Tembak mereka!" Salah satu teroris berteriak, "Bunuh!"
"Aku yang pertama masuk, cover me," Captain Guy membungkukkan tubuhnya lalu mulai merangkak.
Waktu pengasapan hanya berlangsung selama 25 detik dan itu merupakan satu-satunya celah para Agen Konoha untuk menerobos masuk. Kiba menyusul sang kapten. Baku tembak dalam kepulan asap terjadi, beberapa tentara bantuan Konoha yang bergabung bersama tim Guy harus pasrah menerima terpaan peluru. Ruangan penuh asap itu dipenuhi suara teriakan dan desing peluru. Guy dan Kiba berhasil melewati pintu depan, mereka menghindari tembakan dengan cara merangkak. Kiba Inuzuka menembak mati salah satu teroris, sementara Hinata yang bertugas menuntun sandera kini telah bergerak menuju posisi di mana anggota dewan berada. Ia menepuk pundak salah satu dewan yang meringkuk ketakutan, wanita itu terlonjak kaget namun Hinata langsung menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ssshhh … saya di sini untuk menyelamatkan Anda, tenanglah. Nah, Anda bisa menggenggam tanganku," bisiknya di telinga wanita itu, dalam kepulan asap Hinata bisa melihat sang dewan mengangguk. Jemarinya berhasil menggenggam Hinata dengan gemetar sementara Agen Konoha ini kembali berbisik, "Sekarang raih tangan rekan di sebelah Anda, kita akan bergerak bersama-sama."
Dalam hitungan detik beberapa anggota dewan saling berpegangan tangan sesuai instruksi yang diberikan Hinata. Naruto berada tepat di sebelah partnernya, ia bertugas untuk melindungi Hinata yang menuntun para sandera. Kini iring-iringan para anggota dewan mulai bergerak dalam pimpinan Hinata Hyuga, mereka saling berpegangan layaknya mata rantai. "Maju perlahan. Tetap merunduk, jangan keluarkan suara."
Masing-masing mulai bergerak mengikuti sang Agen Konoha yang menuntun di depan. Satu-satunya jalan yang ia lihat adalah sebuah cahaya dari senter mungil yang sengaja disiapkan Shino Aburame pada pintu sebagai penunjuk arah, ia terus menggiring para anggota dewan menuju jalan keluar. Jantung Hinata terasa berhenti ketika siluet Naruto Uzumaki yang berada di sisinya tiba-tiba jatuh diterpa seseorang, tubuhnya menghilang di balik kepulan asap. Terdengar suara pukulan dan erangan dalam penglihatan yang terbatas. Ia mengerjap, sepertinya partnernya sedang terlibat perkelahian dengan salah satu penyerang … namun sayangnya untuk saat ini Hinata tidak bisa membantu. Dalam genggamannya ia memegang hampir seluruh nyawa anggota dewan Konoha.
.
"Te-terus maju, jangan sampai terlepas!" Hinata memberi komando, sementara di sisi lain keadaan tetap bising oleh baku tembak. Genggaman Hinata semakin erat, terus berjalan mengikuti sinyal dari Shino dan—DOR! DOR! DOR!
"Arrghh!" Erangan anggota dewan terdengar jelas di telinga Hinata, tembakan tadi sepertinya mengenai salah seorang diantara mereka. Sementara itu waktu pengasapan telah berakhir, kepulan asap dari granat selama 25 detik perlahan-lahan memudar dan kedua kubu bisa melihat kondisi ruangan. Dengan usaha terakhir sebelum asap benar-benar hilang, Hinata bertekad membawa para sandera mendekati pintu keluar. Ia mempercepat langkahnya, tinggal sedikit lagi mereka sampai!
"KALIAN PIKIR BISA LARI, HAH?!" teriakan lantang itu menggema di ruangan, disertai letusan-letusan dari laras senjata yang mengarah pada kumpulan siluet para anggota dewan. "MATILAH!"
Jeritan, pekikan, erangan … semuanya bercampur dalam keadaan yang semakin kacau. Satu per satu iring-iringan sandera jatuh, sebagian tertembak dan sisanya tidak bisa diselamatkan. Beberapa anggota akhirnya berhasil dibawa menuju pintu keluar, di mana Shino telah menunggu untuk melanjutkan iring-iringan menuju helikopter. Begitu Shino bergerak, Hinata pun kembali ke dalam ruangan untuk menyelamatkan beberapa sandera yang terluka. Ia menembakkan submachine gun, tembakannya berhasil mengenai salah satu teroris yang masih berbaku hantam dengan Naruto. Di sisi lain, Kiba ambruk setelah menusuk lawannya. Di dalam ruang rapat yang porak poranda itu kini hanya terlihat Guy dan Naruto mengepung target terakhir; Kabuto yang menyandera Danzo.
.
"Letakkan senjata kalian, bodoh! Apa kau tidak lihat aku membawa dewan kesayangan kalian… Tuan Danzo yang agung ini?!" Kabuto membentak.
"DIAM! Kau sudah terkepung!" Naruto mengarahkan senjatanya menuju kepala Kabuto, sekilas melirik ke arah Hinata yang masih mencoba menggiring beberapa anggota dewan menuju pintu keluar, "Menyerahlah, Kabuto!"
"Naruto, tahan dia! Aku akan membawa Kiba dan mengantar para sandera menuju atap." Menyadari Shino seorang diri membawa semua anggota dewan menuju helikopter, Guy sebagai pemimpin tim berlari ke arah Kiba dan memeriksa anggotanya yang terkapar di lantai. Rupanya salah satu peluru berhasil menembus pinggiran perut yang tidak terlindungi rompi anti peluru, dengan sigap ia menarik tubuh itu dan memapah tubuh Kiba. Membantunya berdiri, Guy melirik satu-satunya anggota wanita dalam tim mereka. "Hinata, serahkan sisa anggota dewan padaku dan Shino. Bantulah Naruto! Aku menunggu kalian di atas, selesaikan dengan cepat!"
"Roger that, Captain!"
.
.
.
Suna Mansion – 23.25 PM
"Tahanan berhasil kabur dari penjara! Cari bocah bernama Sora itu lalu bunuh, ini perintah langsung dari Tuan Tobi!" Sai mendengar perintah itu dari lokasi persembunyiannya.
Setelah berhasil melewati pasukan Akatsuki dan menyuruh Sakura pergi menangkap Tobi, ia bergegas membawa Sora menuju jalan keluar. Sebenarnya Sai tidak ingat secara pasti tikungan mana saja yang dilewatinya, namun sejak pertama kali masuk di mansion ini Sai telah meninggalkan tanda. Ia mengenakan kacamata hitam yang sempat dikenakannya ketika berada di Pelabuhan Suna. Bagaikan bunglon; lensanya langsung beradaptasi dengan penerimaan cahaya dan berubah menjadi bening. Mengaktifkan mode infrared, kacamata yang di desain khusus untuk perlengkapan para agen ini memiliki kelebihan untuk melihat 'tanda' yang telah ditinggalkan Sai sebelumnya.
"Lewat sini." Sai menggiring Sora menuju lokasi yang tampak menyala dari pandangannya. Sebagai langkah antisipasi, setiap kali melewati pintu Sai selalu menempelkan sejenis cairan yang hanya dapat dilihat dengan infrared.
"Kau punya peralatan James Bond atau semacamnya, he?" Sora terkekeh melihat pergerakan penyelamatnya yang begitu berhati-hati. Sejak awal ia membebaskan ikatan, Agen Konoha itu tidak pernah membiarkan Sora jauh darinya— mungkin satu meter adalah batas maksimal dari toleransi jarak antar keduanya, "dan apa aku harus selalu menempel denganmu seperti ini?"
.
"Ini peralatan standar dari Konoha, Sora-sama. Hanya sebuah kacamata infrared," di hadapan target utama misinya Sai terdengar lebih sopan. "Anda harus tetap berada dalam jangkauan saya. Karena seluruh perjuangan yang kami lakukan semata-mata untuk Anda, cobalah untuk mentolerir ketidak nyamanan ini untuk sementara waktu."
Untungnya Sai tidak melihat Sora yang memutar bola matanya, tak disangka pengawalnya kali ini benar-benar tersistem dan mengikuti patokan keamanan layaknya buku panduan berjalan. Semuanya berjalan dengan lancar. Sora hanya perlu mengikuti langkah kaki Sai seperti robot terprogram; berjalan jika pria itu melangkah, diam jika Sai mengangkat tangan kirinya, lalu menunggu aba-aba sampai ia diperbolehkan bergerak lagi. Mereka melewati pintu demi pintu dalam diam, sesekali menyelinap atau bersembunyi. Ketika melewati sebuah tikungan panjang, dari arah belakang terdengar suara gaduh.
"ITU SORA!" sahutnya, mencoba memanggil bantuan.
"Sial." Sai menoleh dengan geram, dalam gerakan kilat ia berlari ke tengah-tengah ruangan untuk menghantam si sumber suara. Pria Akatsuki itu terlalu terkejut untuk bereaksi, ia jatuh setelah tubuhnya diterjang sesosok pria yang kini terus menghujaninya dengan pukulan… Sampai pingsan. Melihat sosok itu terkapar tak sadarkan diri, Sai menghela napas lalu kembali menarik tangan Sora untuk menjauhi lokasi. Pelariannya terhenti di tengah-tengah setelah melihat beberapa petugas kembali berdatangan. Sora menatap pria-pria berjubah Akatsuki itu berlarian ke arahnya dengan senjata teracung, ia menatap ngeri. Dia menggantungkan nyawa di tangan agen keamanan yang bahkan tidak memberinya senjata.
.
"Beri aku senjata, bocah! Aku harus menembak mereka!" Sora merapatkan tubuhnya pada punggung Sai yang masih sibuk menembaki lawan. "Mereka mengincarku!"
"Ya. Mengincar kita berdua tepatnya." Agen Konoha itu berbalik lalu dengan bidikan sempurna mengincar titik mati para pengejar, dalam sepersekian detik mereka jatuh berdebam di atas lantai. Sai mengecek persediaan amunisinya sendiri, sambil berjalan dengan tenang ia melucuti beberapa clip amunisi yang dibawa para mayat di hadapannya.
"Hei! Aku juga harus melindungi diriku sendiri, berikan aku senjata!" Sora tetap bersikeras.
Sai menoleh malas, terpaksa mengeluarkan sepucuk pistol dari holsternya. Memberikan senjata Springfield yang berbobot kira-kira dua kilogram itu untuk si bocah sementara ia mengambil senjata lawan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak bergeming sebelum Sora mengumpat kesal.
"Bocah sialan, kau mempermainkan aku!" tiba-tiba Sora membuang senjata pemberian Sai ke lantai, sementara Sai melirik ke arahnya dengan tatapan datar. "Senjata yang kau berikan kosong, tahu?!"
"Anda hanya minta senjata dan sudah kuberikan … meski tanpa amunisi. Maaf, aku hanya tidak ingin target utama misiku terluka karena ceroboh menggunakan senjata api, Sora-sama." Pria berambut hitam itu mengangkat bahu seperti tidak merasa bersalah. Tersenyum penuh arti, Sai mengambil senjatanya lagi lalu menaruhnya masuk ke dalam holster. Ia melanjutkan perjalanan tanpa menggubris makian lain dari bocah sepuluh tahun di belakangnya. Mereka sudah mencapai pinggiran mansion, sebentar lagi Sora bisa diselamatkan, "Daripada meributkan senjata lebih baik Anda ceritakan mengapa Anda sampai diculik Akatsuki, dan apa rencana mereka?"
"Tch. Akan kuceritakan kalau kau memberiku senjata beserta amunisinya, bocah." Sora berdecak kesal, "Asal kau tahu … aku tidak terlalu percaya orang luar bisa melindungiku sedangkan aku sendiri tidak memiliki pertahanan apa-apa, meski kau agen khusus atau semacamnya. Bagaimana, he?"
"Deal." Sai mengangguk, bahkan tidak protes sama sekali ketika anak berusia sepuluh tahun memanggilnya dengan sebutan 'bocah'. Dia merasa top secret Konoha di hadapannya punya rahasia besar yang selama ini disembunyikan pemerintah dari mata publik hingga memicu keadaan menjadi kacau seperti sekarang, dan dia harus tahu alasan dibalik semua ini. "Ceritakan padaku dan Anda akan mendapatkan senjata lengkap dengan clip amunisinya."
.
.
Di sisi lain Akatsuki Mansion, Sasuke menapaki ruang kerja Tobi yang porak poranda. Dindingnya dipenuhi lubang peluru, furnitur kayu mewahnya sebagian hancur menjadi puing yang berserakkan di lantai. Dengan hati-hati ketiganya berjalan ke belakang meja kerja sang pemimpin Akatsuki; ruang rahasia di balik lemari itu masih terbuka. Mereka menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang bawah tanah. Disambut dengan penerangan yang tergantung pada langit-langit, Sakura menangkap ruangan kerja dengan layar-layar monitor dan komputer layaknya sebuah kantor kecil yang dibangun di bawah tanah. Sasuke masih mengacungkan senjata, berjaga-jaga pada serangan tak terduga.
"Jangan-jangan ini ruangan kerja para Akatsuki dalam merencanakan aksinya?" Sakura mengedarkan pandangannya, "Apa kau pernah masuk ke sini sebelumnya, Sasuke?"
"Tidak," Sasuke menggeleng singkat, "Aku bukan orang kepercayaan Tobi."
Itachi yang berada di paling belakang merogoh ponselnya yang bergetar, tidak menggubris percakapan dua manusia di hadapannya yang masih berjalan menyusuri ruangan-ruangan kerja bawah tanah. Ia menerima sebuah pesan. Ketika membuka satu pesan singkat yang baru masuk, alisnya terangkat ke atas sambil membaca satu kalimat yang tertera.
'Apa kau tidak tertarik untuk melihat acara puncak? Sudah hampir dimulai. -Konan-'
Itachi tersenyum sinis saat membaca pesan tersebut, dia tahu waktunya tidak banyak.
.
"Jalan saja terus," Itachi tiba-tiba masuk dalam percakapan, "kita harus melewati gudang senjata sebelum akhirnya menemui basement—eh, garasi bawah tanah, tepatnya. Tobi pasti butuh waktu untuk mengaktifkan semua akses keamanan menuju tempat itu, kita harus bergerak lebih cepat untuk mengejarnya. Ayo!"
"A-Apa? Kau … tahu tentang tempat ini?" Sasuke menoleh, "Bagaimana bisa?!"
"Informan." Itachi mulai mempercepat langkahnya namun dengan cepat dihentikan oleh sang adik.
"Hei, jangan bergerak!" Itachi terdiam ketika Sasuke mengarahkan senjatanya, mengacungkan laras pendek itu pada wajah kakaknya, "Aku mau jawaban jelas. Sudah terlalu banyak kebohongan dan aku tidak mau berjalan berdampingan dengan musuh dalam selimut, jelaskan!"
"Hn? Kau tidak mempercayai kakakmu sendiri, Sasuke?" Itachi mendesah lemas seraya menggelengkan kepalanya, "Baiklah, akan kujelaskan garis besarnya. Aku bekerja sama dengan seorang informan yang dipercayai Tobi, dia memberikan aku denah termasuk arah di mana Akatsuki Mansion berada. Itulah kenapa aku bisa sampai jauh lebih cepat dibanding semua rekan-rekanku yang berada di gerbang depan, Sasuke … apa kau mengerti?"
"I-Informan?!" Sasuke bingung, "Siapa? Tobi tidak punya orang kepercayaan kecuali Kabuto dan—"
Bibirnya menganga tidak percaya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Konan?! Tidak, yang benar saja?" Sasuke benar-benar tidak mempercayai ucapan Itachi, "Tidak mungkin! Dia orang yang paling dipercayai Tobi selain Kabuto, di-dia … kenapa?!"
Itachi hanya mengangguk mengiyakan. Bahkan Sakura Haruno yang awam pun tampak terkejut pada tebakan sang Uchiha; Konan? Bukankah menurut Sasuke … Konan telah mengkhianati Konoha dengan menjual informasi pada Akatsuki dan membiarkan mereka membunuh Jiraiya?! Kenapa sekarang ia menjadi informan bagi seorang Agen Suna?
.
"Ya, Konan adalah informanku. Dia yang memberi semua informasi, termasuk memberi tahu kenyataan bahwa kau masih hidup dan bergabung bersama Akatsuki. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk terlibat, semata-mata untuk menolongmu. Aku harus menolong adik kandungku sendiri, jadi aku memutuskan untuk bekerja sama dengan Konan. Sudah mengerti?" Itachi menyunggingkan senyumnya yang tulus, "Sekarang turunkan senjatamu, Sasuke. Kita harus melanjutkan perjalanan."
"Tu-Tunggu dulu! Meski kau sudah menjelaskan semuanya," Sasuke memalingkan wajahnya dari Itachi, "Aku … tidak tahu sama sekali pada kenyataan kalau kau—um, kakakku."
"Tidak apa, Sasuke."
"Sampai saat ini aku belum bisa melihatmu sebagai sosok itu. Maaf." Sasuke masih membuang muka, sadar bahwa minta maaf bukanlah bidang yang menjadi spesialisasinya. Ia merasa kaku pada ucapannya sendiri.
"Sudah kubilang tidak apa, Sasuke. Aku tahu ini berat untukmu," Itachi menanggapi dengan tenang, berusaha tetap tersenyum. "Satu hal yang pasti adalah kenyataan bahwa kau dan aku adalah daging dan darah. Aku akan selalu berada di sana untukmu, bahkan jika kau membenciku sekalipun. Itulah gunanya seorang kakak."
Perkataan itu membuat Sasuke termenung beberapa saat. Sementara Itachi Uchiha mendahului sosok adiknya, berjalan untuk memotivasi dua orang itu agar bergegas. Dia tahu penjelasannya tidak cukup panjang karena memang butuh waktu untuk meyakinkan adiknya. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan sebagai Uchiha bersaudara, tapi yang harus diprioritaskan sekarang adalah penangkapan Tobi.
"Itachi-san," Sakura yang sejak tadi berdiam diri akhirnya buka mulut, ia melihat iris Itachi menoleh lalu balas menatapnya, "Siapa sebenarnya Konan? Setahuku dia mata-mata Konoha yang berkhianat demi Akatsuki, ia memberikan informasi di mana letak mobil kami berada dan mengakibatkan salah satu rekanku mati tertembak. Apa dia tahu tentang … pekerjaanmu sebagai Agen Suna?"
Itachi diam sejenak.
"Entahlah, tapi kurasa dia tahu? Aku justru heran jika ada satu hal yang tidak ia ketahui," pria bermarga Uchiha itu mengangkat bahu, "Siapa sebenarnya wanita itu … sebaiknya kalian tanyakan sendiri nanti. Bagiku dia bukan musuh. Konan memang penuh tanda tanya, tapi yang jelas ia tidak mengincar nyawa kalian berdua. Jadi tolong jangan arahkan senjata pada sosok penyelamatmu itu, Nona Sakura."
Sakura tidak mengerti pada perkataan pria ini.
Penyelamat?
"Apa kau heran mendengar kalimatku barusan?" Itachi yang tersenyum lembut membuat Sakura mengangguk tanpa ragu. Butuh waktu untuk mencerna seluruh informasi menggantung seperti ini, terlalu banyak kepingan puzzle yang harus mereka susun untuk mengetahui sebuah fakta. "Konan … dia adalah sniper yang menyelamatkanmu dari tembakan salah satu Kelompok Hoshigaki, Nona."
.
.
.
Gudang Tua – Suna
Bukan hal yang sulit membongkar gembok-gembok tua dari gudang di tempatnya sekarang, ia tahu persis di mana Sasuke Uchiha bersembunyi. Adik Itachi itu tentu tidak tahu menahu bahwa wanita ini telah menyelipkan sebuah pelacak ketika mereka sedang bercakap-cakap di laboratorium Akatsuki. Setelah mencium gelagat tidak sehat dari Kisame Hoshigaki yang tampak begitu tertarik menghabisi nyawa sang Uchiha, ia tidak punya pilihan lain. Sambil menggenggam sebuah kotak panjang berwarna hitam, ia mencari tangga yang akan membawanya menuju lantai dua.
Langkah demi langkah membawanya ke sebuah ruangan kosong berdebu, wanita ini berjalan menuju sebuah jendela lalu membukanya dengan tenang. Dari jarak pandangnya, ia dapat melihat sebuah jendela besar tanpa kaca maupun teralis terletak di seberang posisinya. Wanita bersurai keunguan ini berjongkok, membuka kotak hitam itu lalu mengambil sebuah sniper rifle berjenis SVD Dragunov. Dengan senjata itu ia mulai mengatur jarak pas untuk menembak dari jendela.
"Oh, lihat siapa yang bersembunyi di dalam lemari? Hmm ternyata tokoh utama wanitanya … Nona Sakura Haruno," ia menyunggingkan senyum tipis ketika menangkap pergerakan Sakura yang membuka lemari besar lalu bersembunyi di dalamnya. Di sisi lain, pada lantai pertama ia melihat beberapa pria tengah memasuki garasi. Di antara mereka Konan mengenali sosok Kisame Hoshigaki dengan pedang terhunus, seakan siap mencabik target lawannya. "Mereka sedang bermain petak umpet rupanya."
.
Tidak lama berselang, melalui lensa teleskopik PSO-1 miliknya Konan menangkap gerakan dari seorang pria asing. Berjalan dengan senjata teracung di tangan, tubuhnya muncul perlahan dari arah tangga dan kini berdiri tepat di sebelah lemari. Konan sempat menyembunyikan diri ketika pria itu berjalan ke arah jendela untuk melihat keadaan sekitar, dan tampaknya salah satu kawanan Hoshigaki ini tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari jauh. Tubuh pria itu kemudian berbalik menatap satu-satunya lemari besar yang ada di ruangan; lokasi di mana Sakura Haruno bersembunyi. Patut diakui, insting para kawanan Hoshigaki cukup tajam dalam 'mencium'tempat persembunyian mangsanya.
"Hmm … dia punya insting yang bagus dalam menebak," gumam Konan ketika ia memperbesar scope dan jarum bidikannya mengarah tepat pada kepala sang kawanan Hoshigaki, "Sepertinya aku harus memberi sedikit bantuan untukmu, Nona Konoha."
Pria itu mendekat, tangannya terulur untuk membuka lemari itu.
"Maaf ya, kawanan Hoshigaki ..." Konan selesai mengatur bidikan, jari telunjuknya telah berada pada pelatuk, "Ibaratnya kotak Pandora … maka lemari itu terlarang untuk kau buka."
DORR!
.
Tidak perlu memakan waktu beberapa detik, tubuh pria di seberangnya sudah rebah tak bernyawa. Konan berani bertaruh, saat ini Sakura Haruno yang masih bersembunyi di dalam lemari pasti ketakutan sekaligus penasaran. Wanita bertubuh semampai ini menutup jendela seperti semula, lalu meletakkan lagi senjata Dragunov miliknya ke dalam kotak hitam. Sebagai penonton asing yang tidak terlihat, dari jaraknya ia dapat mengintip situasi di seberang. Sasuke terlihat tergopoh-gopoh menaiki tangga, mendapati Sakura menghambur dari dalam lemari untuk memeluknya. Mungkin menyadari bahwa pria itu tewas di tangan orang lain, Sasuke menatap sekeliling termasuk mengedarkan pandangannya ke arah jendela. Wanita itu hanya tersenyum simpul dalam tempat persembunyiannya.
"Matanya benar-benar mirip sepertimu, Itachi," gumamnya. Dalam gelap Konan melihat tiap pergerakan dari Sasuke Uchiha, sebelum memutuskan untuk menekan beberapa nomor dalam ponselnya lalu meletakkan alat komunikasi itu pada telinganya.
"Ya, Konan?"
"Aku sudah menepati janjiku padamu, tampan." Ujarnya saat kembali menuruni anak tangga menuju lantai dasar, "Adikmu selamat dari orang-orang Akatsuki, dia aman bersama kekasihnya."
"Benarkah?" wanita ini mendengar helaan napas dari pria itu, seakan bernapas lega pada berita yang ia dengar, "Terima kasih, Konan."
"Padahal aku punya kesempatan untuk memberi tahu Sasuke tentang keberadaanmu, mengapa kau menolak?" ia sudah berada di lantai terbawah dan berjalan santai menuju lokasinya menaruh kendaraan. Pria yang sedang bercakap-cakap dengannya hanya diam tanpa mengatakan apapun, "Apa kau selamanya ingin bersembunyi dari sosok adikmu, hm?"
Itachi Uchiha masih membisu.
"Belum saatnya," akhirnya Konan mendengar suara lawan bicaranya lagi, "Aku sendiri yang akan menemui Sasuke lalu menjelaskan semuanya. Meskipun ada kemungkinan dia tidak akan pernah mengakuiku sebagai kakaknya, tapi aku tetap akan mengatakannya dengan mulutku sendiri."
.
.
.
Konoha's Central Office - Security Division
Shikamaru menepuk-nepuk pipinya, berusaha terus terjaga dalam kesiagaannya memberi bantuan bagi para agen lapangan. Entah sudah berapa hari ia tidak pernah menyentuh tempat tidurnya karena selalu bermalam di kantor. Tidak tidur, tepatnya. Asupan kafein dari kopi hitam sama sekali tidak membantu untuk mengusir rasa kantuk. Ia mendapat keterangan Sora telah berhasil ditemukan oleh Sai, sementara Sakura masih mengejar Tobi yang kabur. Misi penyelamatan Safe House dipantau penuh oleh Kakashi agar Shikamaru dapat terus fokus menangani Project Suna.
Menghela napas, ia berniat membuka beberapa arsip dokumen yang sempat diambilnya diam-diam dari server pusat, tapi—oh, tidak! Dia baru ingat semua berkasnya telah dititipkan pada Choji untuk tunangannya, Ino Yamanaka. Wanita itu pasti sudah tertidur lelap 'kan? Shikamaru kembali termenung.
"Tidak tahukah selama ini Anda telah ditipu? Tak sadarkah sejarah yang Konoha terapkan pada kalian adalah omong kosong?"
Perkataan dari Tobi sang pemimpin Akatsuki mengusik pikirannya, Shikamaru belum sempat membaca seluruh arsip yang ia curi dari server. Memangnya sejauh apa kebohongan yang disembunyikan Konoha selama bertahun-tahun? Merasa seluruh akar masalah itu seperti dihapus begitu saja dari ingatan masyarakat, instingnya mengatakan Insiden Pemurnian Uchiha adalah titik awal seluruh konspirasi yang ingin dibongkar oleh Akatsuki. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mendapati seisi ruangan telah kosong. Di ruangan itu ia sendirian. Rasa penasaran membuatnya tidak bisa menunggu, tidak ada salahnya membongkar data itu sekali lagi untuk melengkapi puzzle misteri ini, 'kan?
Aku harus memastikan kebenarannya… Fakta yang ditutupi pemerintah!
.
Secepat kilat ia membuka laptop dan mengetikkan bermacam-macam kode pemrograman, membawanya menembus protokol keamanan server Konoha. Shikamaru meneliti data-data lima belas tahun yang lalu, saat itu ia hanya membaca sekilas dan seluruh datanya berada di tangan Ino. Jemarinya dengan sigap mengetikkan 'Uchiha' sebagai kode pencarian, dan benar saja ... seluruh data mengenai nama itu di protect. Tapi tentu kemampuannya sebagai tangan kanan Kakashi Hatake adalah jaminan bahwa Shikamaru dapat membongkar arsip itu dengan mudah. Ia bergegas meneliti database mengenai kematian Fugaku Uchiha; sang buronan yang dikatakan menjadi pemberontak Negara Konoha.
Fugaku Uchiha, peneliti senior yang dipercaya menjadi ketua penelitian Proyek Sora telah mengambil langkah radikal dengan merebut hasil penelitian dan melarikan diri. Menurut keterangan resmi dari wakil peneliti yaitu Danzo, Fugaku diduga telah mendoktrinasi klan Uchiha untuk menggulingkan kedaulatan Konoha berbekal data tersebut. Saat komando untuk menangkap Fugaku dikeluarkan, pihak keamanan menemukan mereka berada dalam jalur pelarian menuju Suna bersama istri dan anaknya.
Jadi mereka membunuh pasangan suami istri Uchiha itu tapi tidak dengan Sasuke? Kenapa? Shikamaru meneliti lebih lanjut arsip tersebut, jantungnya kini berdegup lebih kencang.
.
Saat rapat besar digelar, secara mufakat para anggota dewan menganggap seluruh Uchiha ditakutkan mengancam keutuhan Konoha. Sebuah operasi besar-besaran dilakukan untuk meringkus seluruh individu yang bernama Uchiha atau memiliki keterkaitan khusus dengan klan tersebut. Keputusan ini disebut sebagai Pemurnian Uchiha. Perintah penangkapan untuk Fugaku dikeluarkan resmi oleh badan keamanan Negara Konoha dalam surat keterangan nomor VVII/01563/KNH-097/ IX .
Saat diamankan petugas keamanan, target diyakini memberi perlawanan dan menewaskan beberapa personil. Akhirnya petugas mengambil tindakan tegas untuk menembak. Fugaku dan istrinya dinyatakan meninggal di lokasi, sedangkan anaknya diputuskan untuk berada dalam perlindungan Negara Konoha.
Shikamaru menggerakkan pointer-nya untuk meneliti seluruh anggota dewan yang terlibat di dalamnya. Ada beberapa nama yang telah mengundurkan diri atau tidak menjabat lagi dalam dewan petinggi Konoha, termasuk Danzo yang saat itu belum tergabung. Pria ini juga melihat nama Tsunade sebagai salah satu anggota yang menolak program pemusnahan Uchiha namun kalah suara, akhirnya rahasia itu satu per satu terjawab. Mungkin ada permainan lain yang dijalankan para wakil rakyat hingga ide pemusnahan itu muncul, bahkan berubah menjadi sebuah keputusan resmi. Shikamaru menekan tombol "Officers" pada layarnya, dan melihat nama-nama personil keamanan yang juga terlibat dari permainan pemerintah lima belas tahun yang lalu.
Tiga personil yang bertugas dinyatakan meninggal di tempat akibat penembakan brutal yang dilakukan oleh Fugaku. Pada senjata Beretta M9 yang digunakan untuk menembak terdapat kecocokan sidik jari dengan pelaku. Satu-satunya saksi mata yang berhasil selamat dalam insiden ini memberi keterangan bahwa Fugaku menembak ketika hendak diamankan, dengan terpaksa ia menembak—
.
.
Tiba-tiba Shikamaru kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh.
Dia tidak mengerti. Sedetik kemudian ia merasakan badannya sudah terkapar di lantai, tergeletak tanpa sebab. Lho, ada apa ini?! Ia merasa sekujur tubuhnya dingin, sedingin es. Napas Shikamaru tercekat, terengah-engah sambil terus mencari celah untuk memompa oksigen masuk memenuhi paru-parunya. Jemarinya meraba-raba bagian perut yang terasa basah. Cairan merah mengotori tangannya, jemarinya gemetar hebat. Ia ketakutan.
"Da-Darah?" pandangannya menatap genangan darah pada perutnya yang tertusuk sebilah pisau.
Aku ditusuk?! Cairan merah itu mengalir keluar lalu membasahi pakaiannya, otak Shikamaru seketika buntu. Ia meringis kesakitan, memincingkan mata dan melihat ada seseorang yang tengah berdiri membelakanginya. Dengan satu gerakan sosok itu membanting laptopnya ke atas lantai, merusak barang pribadinya hingga berserakkan. Shikamaru terus berusaha meraup udara yang menjadi penyambung nyawanya, mencoba bergerak tapi tidak bisa. Dari sudut penglihatannya ia melihat orang itu berbalik, menatapnya dengan tatapan dingin. Tidak mungkin. Sial, ini pasti mimpi! Namun berkali-kali mengerjap pun hasilnya tetap sama; dia masih berhadapan dengan orang yang menusuknya.
"Sudah kukatakan jangan berurusan lagi dengan kasus itu, Shikamaru. Kenapa kau tidak patuh?"
.
Kakashi Hatake menusuknya tanpa belas kasihan.
.
Shikamaru tidak pernah mempercayai kenyataan ini, terlintas sedikit pun tidak. Dia menghormati pria itu sebagai figur sempurna, seorang pemimpin berkepala dingin, berwibawa dan jujur. Kenapa? KENAPA?! Kini supervisor yang paling dihormatinya berdiri dengan angkuh, ujung sepatunya menginjak pisau yang masih menancap pada perut anak buahnya dengan tatapan datar. Shikamaru mengerang kesakitan, tangannya berusaha menggapai benda apapun untuk lari. Tubuhnya mundur perlahan seakan-akan ingin merangkak pergi. Tapi tidak bisa, Kakashi menendang tubuh Shikamaru hingga membentur pinggiran meja. Terantuk cukup keras di belakang kepalanya, pandangan Shikamaru berkunang-kunang.
"Merepotkan!" Shikamaru berteriak dengan lantang, rasa amis terasa dari rongga mulutnya.
"Ini akibatnya jika kau tidak patuh padaku." Kakashi menggelengkan kepala tanda tak percaya, "Biar kutebak … kau menemukan namaku di sana, 'kan?"
"Satu-satunya saksi mata yang berhasil selamat dalam insiden ini memberi keterangan bahwa Fugaku menembak ketika hendak diamankan, dengan terpaksa ia menembak Fugaku dan istrinya. Target dinyatakan tewas di tempat. Kemudian, Officer Kakashi Hatake membawa satu-satunya keturunan Fugaku yakni Sasuke Uchiha menuju rumah sakit. Ia menjadi saksi mata tunggal atas kematian rekan-rekannya, dan menjadi satu-satunya petugas yang berhasil selamat dalam insiden tersebut."
Bait-bait terakhir dalam artikel tersebut terlintas dalam otaknya, akhirnya Shikamaru mengerti. Mengerti kenapa atasannya ini seakan menutupi misteri, bahkan menusuknya.
"Ka-Kau …" Shikamaru berkata lirih di sela-sela muntahan darah dari bibirnya, "budak Danzo?!"
.
"Budak Danzo? Tch! Tidak sebodoh itu, karena aku melakukannya dengan kesadaran penuh. Sudah lama sekali ya, waktu itu aku masih agen hijau sepertimu." Kakashi berjongkok dan menatap Shikamaru tanpa belas kasihan, "Ya, akulah yang membunuh Fugaku dan istrinya. Kubunuh rekan-rekan yang lain dan melimpahkan kesalahan pada Uchiha seakan-akan ia melawan, sehingga aku terpaksa menembaknya di tempat. Atas perintah Danzo juga aku membius Sasuke dan membawanya. Kulihat Danzo senang mempermainkan buah hati rivalnya itu seperti mainan, tapi aku tidak peduli. Persetan dengan itu semua, yang penting keinginanku tercapai. Aku bisa mendapatkan posisi yang kuinginkan setelah para petinggi melihat 'jasa' yang telah kulakukan untuk Konoha."
"Ke-kenapa kau … melakukannya?" ucapan Shikamaru terdengar seperti bisikan, sangat lemah.
"Pangkat dan kekuasaan," jawab Kakashi singkat, "sayang sekali, Shikamaru … sebagai juniorku, aku kagum pada kemampuanmu. Kalau saja kau patuh, pasti kau tidak perlu mengalami hal seperti ini."
"Br-Brengsek, kau- Kakashi!" dadanya terasa bergemuruh, ia ingin mencekik mati supervisornya ini. Namun betapa kerasnya ia mencoba tidak akan berhasil, Shikamaru sudah kehilangan banyak darah.
"Aku akan pergi menghapus rekaman CCTV dan membuat alibi … nah, sedangkan kau?" Kakashi memiringkan kepala ke samping seperti mengasihani, "Nikmati saja detik-detik terakhirmu di sana, Shikamaru."
Pandangan Shikamaru menerawang, tidak bergeming ketika Kakashi berlalu meninggalkannya seperti seonggok sampah. Segera setelah pria itu meninggalkannya seorang diri, Shikamaru mengerjap. Dia mengerahkan segenap kekuatan yang ia miliki untuk bangkit, menyeret bobot tubuhnya yang bersimbah darah. Tangannya terulur untuk menggapai ponsel yang terletak di atas meja … ya, dapat! Shikamaru berhasil menggenggam ponselnya dengan susah payah. Begitu melihat layarnya, dengan bibir dipenuhi darah ia tersenyum puas. Dia belum benar-benar kalah. Namun tenaganya kini telah terkuras habis, ia hanya mampu mengetik beberapa kalimat pesan sebelum tubuhnya kembali rubuh mencium lantai.
Shikamaru Nara pasrah menerima detik-detik kematian yang menggerogotinya.
.
Pandangannya mulai kabur, napasnya terputus-putus.
Senyum wanita itu yang terbayang di batas kesadarannya.
"I-Ino .…" Dari ujung kaki ia merasa dingin, perlahan merambati sekujur tubuhnya lalu naik sampai kepala hingga ia tidak bisa bernapas. "Maaf."
.
"Lihat, lihat! Yang mana yang paling pantas untukku? HEI, JANGAN MELAMUN!" Yamanaka Ino terlihat cantik mengenakan baju pengantin manapun. Entah sudah beberapa kali ia mencoba satu per satu pakaian berwarna putih itu dan aku harus memilih salah satunya. Che, kenapa begitu merepotkan? Ah-maksudku … bukan merepotkan, tapi membingungkan. Semuanya terlihat bagus untuknya dan aku yakin memilih yang mana pun tidak akan jadi masalah!
"Terserah … semuanya bagus kok." Aku berkata jujur.
"Heei, selalu saja 'terserah'. Tidak bisa begitu! Kau harus memilih salah satu dong, Shika~" Ino menggerutu kesal, mengerucutkan bibirnya karena tidak puas pada jawaban yang kuberikan. "Ini 'kan baju pengantin untuk pesta pernikahan kita? Jangan cuek begitu, ayo pilih yang paling kau suka!"
Akhirnya aku menunjuk salah satunya, sebenarnya kupilih karena aku tahu itu favoritnya … dan dia langsung mengangguk setuju. Senyumnya begitu lebar. Tanpa sadar lengannya mengalungi leherku dan memelukku dengan riang, berkata kalau ia sangat bahagia dan menunggu-nunggu hari di mana kami akan mengucapkan janji suci. Ino menatapku dengan pandangan berseri-seri, dan sungguh .…
Senyumnya waktu itu terlihat sangat cantik.
.
Ah … jadi, ini rasanya ketika meregang nyawa? Memori yang paling berkesan akan berputar di kepalamu dan tidak bisa dihentikan? Seolah-olah itu detik-detik terakhir sebelum aku harus menyerahkan kebahagiaanku pada maut. Padahal persiapan pernikahan kami hampir rampung, apa sependek ini garis nasibku? Apa harus berakhir menyedihkan seperti ini?!
Senyum Ino dalam bayanganku terus terbayang … Sial.
Air mataku tiba-tiba mengalir setelah mengingatnya … Ya ampun. Merepotkan.
.
Dingin, sekujur tubuhku berubah kaku ... tidak ada satu sendi yang bisa kugerakkan selain rongga pernapasan yang terus mencoba menarik udara untuk bernapas.
Mati rasa … semuanya terlihat berbayang, samar, lalu gelap. Aku pasrah sepenuhnya. Sayup-sayup kalimat wanita itu terdengar, suaranya seperti bisikan lembut. Sekali lagi wajahnya terbayang, senyumnya terpatri dalam benakku. Menyambutku ketika seluruh kesadaran ini perlahan menghilang, senyum Ino merupakan satu-satunya hal yang tersisa.
.
.
"Shikamaru, jangan lembur terus … cepat pulang, ya?"
.
.
"Maafkan … a-ku, Ino …"
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
YEAH! Chapter dua puluh akhirnya selesai juga! Waah apa semua kepingan puzzle-nya sudah lengkap? Sesuai dengan judulnya; saya sudah menjelaskan tentang identitas Itachi plus pertemuannya dengan Sasusaku, siapa sniper misterius yang nembak salah satu kawanan Hoshigaki… dan terakhir, siapa yang bunuh orang tua Sasuke. *berlindung dari lemparan pendukung Kakashi*. Ternyata Kakashi adalah orang dibalik tewasnya Fugaku dan Mikoto Uchiha; alias orang tua Sasuke dan Itachi... dan akhirnya terpaksa harus "meng-eliminasi" Shikamaru ketika diam-diam membobol data pusat.
Apa masih ada rahasia yang saya lewatkan / belum dibahas? Kalau ada tolong mention di review / PM ya? :D
Seluruh penyelesaian akan dibahas di chapter mendatang ; pertemuan Tobi-Konan dengan Itachi-Sakusasu, termasuk Kabuto VS Naruhina, dan Sai yang masih repot bawa Sora keluar dari mansion. Bagaimana tentang chapter ini? Buat yang suka dengan karakter Kakashi atau Shikamaru, author memohon maaf kalau chapter ini mengecewakan buat kalian. Oh iya,nggak ada sekuel untuk cerita Shattered Memories karena otak author bakal melepuh kalau mikirin lanjutannya, LOL.
Tapi sebagai gantinya, saya sedang menggarap satu cerita baru dan masih tentang Sasusaku berjudul "HEGEMONY", udah publish juga kok... *pakai nada promosi*. Bisa di cek di profil saya, saya tunggu kedatangan kalian disana! ^^ (btw, cerita ini buat gantiin jadwal update tanggal 7 dan 20 setelah SM tamat).
Nah, ayo mampir dan saya mohon dukungannya juga untuk HEGEMONY, ya! :D
.
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.
Dan ini balasan review chapter sembilan belas :
Devi no kaze : Kakashi jadi Hokage kayaknya nggak mungkin kalau liat kenyataannya begini, tapi karakternya memang dibuat kalau dia berjiwa kepemimpinan dan loyal kok. :D
Guest : Yap bentar lagi tamat dan sekarang Sasusaku belom ketembak, ikutin terus ya!
Alifa Cherry Blossom : Terima kasih buat reviewnya dan yang bener sampai mimpi cerita ini? *brb nangis terharu*. Seudah cerita ini saya rencananya hiatus, tapi sempat terpikir ada cerita Sakusasu lagi dari genre yang beda… dan bisa mampir di cerita yang judulnya "Hegemony". Mampir RnR lagi ya!
Ghero-sama : halo salam kenal ya, iya tenang aja saya bakal menepati janji dan nggak bakal hiatus sebelum cerita ini selesai kok. Iya banyak banget yang suka karakter Sai disini, syukurlah… bahkan Sai tampak lebih populer daripada Sasuke. Tentang Konan; dia memang sengaja saya buat seperti itu dan karakternya jauh dari OC-nya. Nggak apa, biar saya seorang yang cinta kerumitan sifat Konan di sini, LOL.
Vanillathin : sekarang 7 Septermber dan saya update nih ^^
CN Bluetory : halo, hahaha capslocknya jebol? *beliin keyboard baru*. 7 september datang nih… gimana buat chapter ini? Review lagi ya, sekalian ngintip di cerita saya yang baru kalau mau... ^^
Uchiha Shesura-chan : thank you reviewnya, tenang… 'kan di jadwal tiap tanggal 7 dan 20 publish, saya telat pun selisih 1-2 hari aja kok. Semoga yang ini juga seru, ditunggu komentarnya!
Anzu qyuji : nego Kabuto-Kakashi? Semoga chapter ini lebih menegangkan ya, salam kenal juga. Terima kasih udah menyempatkan baca dan review di sini. Mampir lagi lho, ya!
Fujinyan : wah nggak bisa bayangin actionnya ya, saya sudah coba deskripsiin tapi mohon maaf kalau nggak kebayang. Sakura nyerang kok, tapi di beberapa bagian udah nggak perlu nyerang… Musuhnya mati duluan sama Sasuke dan Sai secara mereka lebih pro dalam pertarungan. Ajudan itu semacam pengawal / tangan kanan yang dipercayai, kalau nggak kebayang… perannya ala sekretaris pribadi tapi merangkap pengawal juga.
Love Foam : Suka Neji? Tapi sepertinya dia nggak banyak berperan sih, meski chapter depan Neji pasti muncul. Iya penyelamat Sakusasu tentunya Itachi, hohoho… semoga chapter ini juga tetep seru kayak kemarin, meski adegan pertarungan akhir antri buat tanggal 20. :D
Mamet : nanti doakan aja semoga saya buat cerita baru, tapi bukan sekuel dari ini. Saya nggak ada niatan buat sekuel dari Shattered Memories tapi mungkin buat Sasusaku lain dengan genre yang beda. Silahkan mampir di profil saya, ada yang judulnya "Hegemony", jangan lupa kasih komentarnya lho. Nah buat chapter ini apa cukup oke?
Hanazonorin444 : syukurlaahhh kalau feelnya kerasa *lega*, semangat buat selesaiin ini ada kok… buat sekuel yang nggak ada wkwkwk, tapi ada cerita terbaru. Cek profil saya aja supaya gampang :)
cherryemo : Nah sekarang saya update lagi nih~ Terima kasih banyak buat reviewnya yang kemarin, saya ikut senang kalau chapter 19 bikin deg-degan plus penasaran. Semoga yang ini pun nggak mengecewakan, mampir komen lagi yaa. ^^
Mizuira Kumiko : yup, saya update nih Mizu-senpai! Kisame nggak aka nada penggantinya, lagipula ini tinggal tunggu kehancuran Akatsuki aja sebenernya. Itachi udah ketemu sama Sakusasu di sini, hmm kalau soal ending sih saya juga sebenarnya bingung. Apa soal Kakashi juga cukup mengejutkan? :D
Gita Zahra : yang nyelamatin Sasusaku ternyata Itachi dan mereka sekarang bertiga, mampir lagi ya!
roquezen : sist… jangan jambak-jambak saya nanti botak, sakuranya tetep selamat kok. Nah sekarang saya update lagi nih hahaha.
Foetida : ya berhubung tante mungkin tahu soal cliffhanger macam kemarin, jadi nggak aneh dong kalau udah nebak Itachi yang nyelamatin. Klimaksnya cepat soalnya ini tembak-tembakan, masa mau berlalu beberapa hari? Keburu mati di mansion dong hahaha, epilogue sepertinya ada. (berhubung no sequel).
NE : sekarang udah jelas siapa penolong mereka ya? Dan karena tamat sekitar 2 chapter lagi, jangan lupa RnR juga di sini ya…
Naabaka : jreng jreng, inilah yang terjadi… apa cukup seru? Mampir RnR ya ^^
Universal Playgirl : thank you *wah terharu dibilang keren*, saya update lagi nih, ayo mampir lagi!
selaladrews: lala-chan, iya memang sekolah itu menyebalkan tapi di sisi lain nggak mungkin ditinggalin, hahaha *tawa miris*. Itachi muncul jreng jreng, Sai apa boleh buat harus barengan sama Sora. Shikamaru kena musibah disini… Gimana nih? Mampir RnR lagi ya? terus ngintip cerita terbaru saya kalau bisa ya hehe~
Alisha Blooms : Sarutobi dan Tsunade akhirnya ada waktu untuk bicara, Itachi udah ketemu sama Sasusaku dan pastinya Sasuke nggak percaya dia kakaknya. Terakhir… Kakashi dan Shikamaru, sengaja ditaruh di paling akhir. Yup saya semangat buat selesaiin ini, masih ada cerita berikutnya! Oh iya Alisha main ke cerita terbaru saya setelah ini ya, judulnya Hegemony dan bisa diliat di profil. Yup saya semangat, GANBATTE!
Alluca : tenang Sakura belum mati kok hahaha :)
Gohara01 : Saya update niih!
DarknessRealities : Thanks reviewnya dan saya senang kalau idenya cukup oke, salam kenal juga. Soal alur yang lambat saya memang nyadar sih, soalnya kalau banyak action gini menurut saya … sepertinya sulit kalau beralur cepat sementara adegannya harus detil. Tapi thank you masukannya, semoga di cerita terbaru "HEGEMONY" saya bisa lebih cepat. Saya update niih!
Guest2 : thank you, saya udah lanjut! Mampir lagi buat RnR!
Himawari no AzukaYuri : haloo Yuri-chan, wah saya senang kalau chapter ini bisa dibilang paling menegangkan, thank you! Sebagai salah satu reviewer yang suka dengan cara kepemimpinan Kakashi, mungkin agak kecewa ya dengan chapter ini karena dia muncul jadi penyebab utama kematian orang tua Sasuke. Dan tebakannya oke, Itachi memang datang menyelamatkan Sasusaku, dia ternyata berada di kubu Suna dan pastinya mendukung Sasuke. Iya nih, setelah tamatin SM saya sedang buat satu cerita baru, Yuri-chan mampir ya... udah publish juga kok ^^
Sampai jumpa di chapter depan (20 September)! :D
-jitan-
