SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.

Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis. Ada beberapa nama dan tipe senjata yang saya gunakan di sini, jika tidak mengerti istilahnya cukup membayangkan jenis-jenis senjata yang biasa digunakan para tentara di film-film action. Selamat membaca! :D


.

.

.

"Kepada seluruh rekan wartawan yang kuhormati, sebelumnya saya memohon maaf jika menyapa kalian dalam kondisi terbaring di ranjang rumah sakit seperti ini. Izinkan saya; Tsunade, sebagai wakil dewan petinggi Konoha, akan mewakili Hokage dalam menjelaskan segala berita simpang siur yang terjadi sejak gedung parlemen diledakkan beberapa jam yang lalu. Saya tahu keadaan ini meresahkan masyarakat Konoha, maka dari itu saya yakin, dengan bantuan rekan-rekan media … masyarakat bisa mendapat kejelasan yang sebenar-benarnya atas peristiwa ini.

Adapun para teroris yang melakukan tindakan keji dengan meledakkan gedung parlemen di Sektor A adalah perbuatan sebuah organisasi bernama Akatsuki, mereka telah menyusun rencana besar untuk menghancurkan kedaulatan negara kita. Sayangnya, ada beberapa dewan petinggi yang termakan bujukan mereka dan berbalik mengkhianati Konoha, kami pun menyesali hal tersebut. Beberapa rekan dewan yang masih melangsungkan rapat terpaksa menjadi korban ledakan. Saya sendiri merupakan salah satu korban yang ditemukan di lokasi kejadian, namun saya selamat berkat tim penyelamat yang menemukan keberadaan saya di saat yang tepat."

.

"Kantor ini sepi sekali …"

Sementara Nyonya Tsunade mengadakan temu wartawan di rumah sakit … lewat titah langsung Hokage Sarutobi, ia diperintah untuk menyelamatkan semua data yang berada di server utama. Hyuga Neji bukanlah pria yang mahir membobol data server yang diproteksi seperti Shikamaru, namun ia telah memiliki izin dari Tsunade untuk memakai user ID juga password-nya. Ia mengemban misi rahasia yang hanya diberikan Hokage untuknya, ia mempertaruhan masa depan Konoha dari permainan para anggota busuk selama lima belas tahun.

Timbul kejanggalan dari komunikasi yang terputus begitu saja dari kantor keamanan Konoha, ia tidak bisa menghubungi Kakashi Hatake maupun tangan kanannya; Shikamaru Nara. Langkah-langkah panjang diambilnya dengan senjata siaga di tangan. Kewaspadaannya meningkat, pria berambut panjang ini mendapati lorong divisi keamanan kosong tanpa penjagaan … tentu saja, karena hampir seluruh staf di lantai itu diperintahkan pindah setelah peledakan di Sektor A. Semua meninggalkan meja kerjanya, selain dua pria yang mengemban kesuksesan misi Project Suna dan penyelamatan Safe House. Neji mendapati ruangan CCTV mati total, ia semakin tidak mengerti … namun firasatnya cukup buruk. Sekarang sudah terlambat untuk meminta bantuan, ia harus maju seorang diri.

.

"Mengenai apa yang kalian lihat di televisi, itu adalah cara pemimpin Akatsuki yang mencoba memecah belah masyarakat dengan propagandanya. Tapi kutegaskan sekali lagi; Konoha tidak menipu rakyat! Permainan politik kotor dan semua hal-hal yang disebutkan Akatsuki masih kami selidiki, para agen-agen terbaik sedang kami kerahkan untuk menguak kebenarannya. Jadi, kami berharap agar masyarakat bisa bersikap bijak dalam menelaah setiap informasi yang masuk. Jangan sampai pihak luar memporak porandakan semua kesatuan yang kita bangun selama puluhan tahun. Dengan ini saya juga memohon doa, agar para agen-agen lapangan yang mengemban misi untuk menyelamatkan negara kita dapat kembali dengan selamat.

Sebagai informasi tambahan, besok pagi, Hokage Sarutobi akan menjelaskan secara langsung tentang semua musibah yang sedang kita hadapi. Hokage-sama juga berjanji akan melindungi masyarakat Konoha dari pihak manapun yang berniat memecah belah keamanan Negara ...kita harus bersatu demi kedaulatan. Karena itulah, kami meminta masyarakat agar tetap tenang, berpikir bijak, juga menghindari tindakan anarkis. Kami akan mengusahakan yang terbaik bagi negara juga rakyat. Sekian penjelasan dari saya, terima kasih dan selamat malam."

.

Neji berjalan tanpa mengeluarkan suara di lorong kantor yang sepi tak berpenghuni, langkah-langkah membawanya menuju ruangan para agen bertugas … kosong. Ia membiarkan tubuhnya masuk ke ruangan para agen yang kosong melompong sambil membidikkan senjata. Dari sekian banyak deretan monitor yang berada dalam kondisi padam, ia melihat masih ada sebuah komputer yang menyala. Perlahan ia maju mendekati arah layar monitor yang menyala, selangkah demi selangkah ... sampai pandangannya beralih pada keadaan berantakan di lantai. Langkahnya kontan bertambah cepat ketika menyadari ada seseorang yang terbaring di lantai, terlebih lagi … ia bersimbah darah. Keadaan sekitarnya kacau; laptop yang terbanting hingga patah, juga beberapa benda lain yang bertebaran.

Pupil Hyuga Neji tidak dapat mempercayai pandangannya.

"A-Agen … Shikamaru?!" ia mengenali sosok itu. Neji langsung berlari dan berlutut di samping tubuh pria itu, mengecek denyut nadinya yang terasa sangat lemah. Dia berusaha memanggil namanya berulang kali, tapi kesadaran Shikamaru tampaknya berada di titik nol, "Sial, siapa yang melakukan ini?!"

Neji memandang keadaan sekeliling dengan gusar, ia berdiri dan menyambar telepon terdekat dari jangkauannya, mencoba menghubungi operator namun gagal. Kemungkinan besar semua operator terlalu sibuk mendapat serbuan telepon dari pihak luar. Tidak berhasil dengan cara pertama, ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi salah satu petugas yang tadi ditemuinya di lantai dasar. Neji menginstruksikan agar pria itu membawa beberapa rekannya menuju lantai divisi keamanan; juga menambahkan bahwa ada seorang agen yang tertusuk. Sambil menunggu bantuan datang, ia berinisiatif membawa tubuh itu ke luar ruangan. Dengan sigap ia mengangkat tubuh Shikamaru dari atas lantai, membawa serta handphone yang terus tergenggam pada jemarinya.

"Shikamaru, bertahanlah!"

.

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 21 : ASHES

.

.

Safe House – Konoha

Guy sebagai pemimpin tim berusaha menyeret tubuh Kiba menuju lantai teratas untuk menyusul Shino, tangannya kebas karena menopang bobot tubuh anak buahnya yang tertusuk. Ini sudah kesekian kalinya Guy menarik tubuh pria yang tiba-tiba merosot agar kembali sejajar dengan bahunya, sementara Kiba Inuzuka merasa kedua kakinya semakin lemas. Pandangannya kabur, Guy dapat melihat dari bibirnya yang pucat pasi bahwa Kiba telah kehilangan banyak darah. Sang pemimpin menepuk pundak pria ini, menyemangatinya agar terus berjuang. Belum sempat mengangguk, mata Kiba terbelalak … ia langsung mendorong tubuh atasannya hingga jatuh ke sisi berlawanan.

DOR!

Dari arah tikungan, seorang pria jatuh terkapar. Terluka bukan berarti mengabaikan posisi dan kewaspadaannya, Kiba berhasil menembak mati seorang penyusup yang membidik rekan timnya. Guy sendiri belum selesai, setelah dipaksa jatuh oleh Kiba, ia dengan sigap segera menembakkan karabinnya ke arah belakang. Rentetan peluru menembus dua penyusup lain hingga mayatnya jatuh secara bersamaan. Guy menghampiri jasad pria yang tadi ditembaknya lalu memincingkan mata … mayat itu memegang sebuah kotak kecil seperti jam. Kecurigaannya bertambah ketika di salah satu dinding terdapat benda yang sama, kotak itu tertempel dan memiliki perhitungan waktu mundur.

"I-Ini bom waktu!" Guy mengumpat, pandangan terkejut juga diperlihatkan oleh anak buahnya. Ternyata para penyusup yang berhasil masuk sudah ditugaskan untuk menempelkan peledak di sekitar ruangan, artinya lantai satu dan dua akan meledak secara bersamaan sesuai hitungan mundur, "Kiba, kita harus cepat pergi secepat mungkin! Aku akan meminta Naruto dan Hinata mencari jalan keluar terdekat … waktunya terlalu sempit, mereka tidak akan sempat mencapai lantai lima. Ayo, kita harus—"

.

Kiba menepis uluran tangan kaptennya.

"Pergilah, Kapten."

"A-Apa-apaan kau ini?! Jangan bodoh!" Guy bersikeras mengangkat tubuh Kiba yang sudah terkulai lemah, sementara pria itu dengan sisa-sisa kekuatannya berusaha menolak. Sang kapten tetap belum menyerah, "Aku mampu membawamu sampai ke atas, percayalah!"

"Aku hanya akan menghambatmu. Kau harus memberi tahu Shino dan bergegas ke atas, dia sendirian membawa para dewan! Misi kita … tidak boleh gagal," Kiba terengah-engah, darah semakin banyak mengalir dari lukanya, "selamatkan para dewan. A-Aku … akan berjaga di sini, pergilah … Kapten."

"Alasanmu kutolak. Bangun, Kiba Inuzuka! INI PERINTAH!"

Sekali lagi Kiba menepis tangan Guy yang berniat mengangkat tubuhnya dengan paksa.

"Senang bekerja bersamamu, Kapten … tapi aku bersungguh-sungguh," Kiba menyeringai, sambil mengisi amunisi pistolnya ia mengindahkan perintah Guy, "pergilah, aku akan menahan mereka di sini."

Guy mengepalkan kedua tangannya, kondisi Kiba memang sudah di ambang batas … sepertinya tetap bersikeras pun hasilnya tidak akan berubah. Haruskah ia mengikuti saran Kiba dan menghormati pengorbanannya? Kiba Inuzuka menatap sosok kaptennya kemudian mengangguk, memastikan bahwa keputusannya sudah bulat. Guy mengambil sikap siaga, lalu melakukan salute; menghormat pada Kiba sebagai penghargaan atas dedikasinya untuk Konoha.

Pria itu tersenyum sekilas, membungkukkan badan lalu tanpa berkata apapun ia meninggalkan Kiba seorang diri. Guy tidak akan memberikan kata-kata perpisahan yang membuat pengorbanan anak buahnya terkesan cengeng, ia menghargai tindakan gagah berani Kiba. Sang kapten bersumpah pada dirinya sendiri ; misi kali ini tidak boleh gagal.

.

.


"Menyerahlah, Kabuto!" dengan senjata karabin yang berada dalam genggaman, Naruto Uzumaki membidik Kabuto. Di sisinya telah berdiri Hinata, yang juga tengah mengarahkan senjatanya.

Kabuto menyeringai licik, sambil mencengkeram tubuh Danzo dan meletakkan ujung pistolnya di pelipis dewan Konoha tersebut, ia menjadikan tubuh tawanannya sebagai perisai. Dari semua rencana yang disusun Akatsuki, mereka sudah mempersiapkan yang terburuk; seperti saat ini. Tujuan utama mereka untuk meraih kedaulatan Konoha mungkin gagal, namun rencana untuk menghabisi nyawa pria dalam tangannya ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Kabuto harus membunuh Danzo.

"Aku sudah melihat profilmu … jadi kau Naruto? Apa yang kau tahu tentang public figure bernama Danzo ini? Pahlawan? Ilmuwan ulung yang mengabdikan hidup pada Konoha? Tch, mereka tidak pernah memberi tahu kenyataannya, 'kan?!" Kabuto mencoba memprovokasi pria berambut jagung di hadapannya ini, "Apa kau tahu, siapa sebenarnya Danzo, hah? Dia adalah pria yang menyusun rencana Insiden Pemurnian Uchiha, dan dia juga yang menurunkan perintah untuk membunuh kedua orang tuamu! Kalau bukan karena dia, sampai sekarang mungkin kau masih hidup bersama ayah dan ibumu … kau tidak tahu soal ini, 'kan?! Konoha menipumu!"

"Berisik. I-Itu … tidak benar," Naruto mengerutkan alisnya, berusaha tidak goyah, "meskipun itu benar, bukan kau yang berhak menghakimi semuanya. Sudah, turunkan senjatamu dan menyerah!"

"Naruto, Hinata … Akatsuki sudah memasang peledak di lantai satu dan dua, aku hanya punya waktu sepuluh menit untuk menunggu kalian. Jika waktu kalian terlalu sempit untuk mengejar helikopter sampai ke lantai lima, kuminta kalian mencari jalan keluar alternatif melalui pintu utama, berjuanglah!" melalui transmisi Guy mengabarkan kedua anggotanya untuk segera bergegas.

"Copy." Hinata melirik sekilas ke arah Naruto, memperhatikan raut wajahnya yang menegang. Ia mengingat perkataan Shikamaru malam itu, ketika ia berhasil menjebol data server pusat dan membocorkan Insiden Pemurnian Uchiha padanya di telepon. Hinata mencium adanya keterkaitan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kabuto, "Na—Naruto-kun, kita harus cepat—"

.

DOR!

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, wanita ini dikejutkan oleh desing peluru dari Kabuto. Tembakan yang ditujukan pada Naruto berhasil menggores bahu kirinya, Naruto terhuyung namun tidak bisa membalas karena sang teroris menggunakan tubuh Danzo sebagai perisai hidup. Sambil menarik tubuh Danzo, Kabuto perlahan mulai bergerak, "MUNDUR, SIALAN! Kalian tidak akan bisa menyelamatkannya, tubuhnya sudah kupasangi bom waktu. Pria keparat ini harus mati!"

"Hinata, kau paham?" ujar Naruto sambil mengangkat senjatanya, berkomunikasi dengan partnernya tanpa peduli ucapan Kabuto. Hinata mengangguk, membuat cengiran di wajah Naruto semakin melebar, "Sekali lagi kuperingatkan, Kabuto! MENYERAHLAH!"

"Persetan dengan kalian, anjing Konoha!" Kabuto terkekeh lalu membuang ludahnya, seakan mencemooh gertakan sang Agen Konoha, "Gertakan kalian tidak bernilai, dasar sampah!"

"HINATA, SEKARANG!" tanpa membuang-buang waktu lebih lama, Naruto menembak dinding dekat Kabuto berdiri. Gerakannya membuat Kabuto terkejut dan mulai menembak tak beraturan, sementara Hinata membungkuk dan menembakkan satu peluru … menembus paha Danzo.

.

"Aargh!" Danzo berdarah, ia berteriak dan tumpuan kakinya melemah. Respon tiba-tiba itu membuat Kabuto kehilangan keseimbangan saat harus menyeret perisai hidupnya untuk menghindari tembakan Naruto. Selagi kerepotan dengan tawanannya yang jatuh tertembak, Uzumaki Naruto berlari … menerjang tubuh di hadapannya.

DOR!

Satu tembakan mengenai rompi anti pelurunya.

DOR!

Tembakan kedua berhasil mengenai sisi perut Naruto, namun pria ini lebih dulu menerjang tubuh Kabuto hingga ketiganya terjungkal. Dengan satu gerakan, Naruto yang menindih tubuh Kabuto segera melucuti pistol yang digenggam sang teroris, sementara Hinata telah siaga untuk menarik tubuh Danzo menjauh. Senjata karabin yang dipegang Naruto juga terlempar berkat ulah Kabuto yang menendangnya hingga sulit dijangkau. Naruto memutuskan untuk menghujamkan pukulan pada wajah Kabuto, berusaha melumpuhkan lawannya dengan tangan kosong. Kabuto sendiri masih melawan, pria itu menekan luka tembakan di bahu Naruto, membuat sang Agen Konoha harus meringis kesakitan dan kekuatannya melemah. Keduanya terlibat perkelahian sengit yang tak terelakkan.

"Sialan kau, rambut jagung!" Kabuto mencoba meninju Naruto namun refleks pria itu sangat mengagumkan dalam menghindari serangannya. Kabuto berubah pikiran, dengan sigap ia mencuri kesempatan untuk mengambil pisau dari holster Naruto. Mengacungkan pisau itu tinggi-tinggi dan berteriak seperti orang gila, "ENYAH DARIKU, KEPARAT!"

.

.


Hinata menarik tubuh Danzo keluar dari area perkelahian antara Kabuto dan rekannya, dengan susah payah ia berhasil menyingkirkan tubuh pria paruh baya itu ke sisi berlawanan. Hinata melihat kondisi paha yang sengaja ditembak untuk melemahkan kewaspadaan Kabuto dalam memanfaatkan tawanan. Belum sempat memeriksa, Danzo meminta agar ikatannya dibuka, ia menyodorkan kedua tangan yang terikat. Pupil Hinata melebar ketika melihat sebuah benda aneh berupa arloji pada pergelangan tangan Danzo, benda mungil itu tersegel rapi dan tidak bisa dilepas. Ketika ia bermaksud memotong paksa benda peledak itu, tangan Danzo menahannya … ia menggeleng.

"Bom," Danzo membisikkan kata-kata itu, "dia menempelkan bom waktu padaku. Kalau kau memotong benda ini, bisa saja langsung meledak. Lebih berbahaya."

"Tu-Tuan Danzo, pasti ada cara untuk menjinakkan bom ini, 'kan?!"

"Sudahlah, ini sudah nasibku. Bayaran atas dosaku," Danzo menatap wanita itu dengan pandangan kaku.

"Masih ada waktu—"

"Aku lelah. Konoha tidak akan mengerti, mereka tidak akan memaafkan semua jerih payah yang kulakukan. Pada akhirnya, aku akan tetap diadili karena peristiwa itu. Korban yang berjatuhan tidak bisa dibangkitkan kembali … semua Uchiha itu mati karena kelalaiannya dalam mempertahankan eksistensinya dalam rantai kehidupan," seringai pria itu sempat membuat Hinata takut, di dalam posisi apapun Danzo tidak mengurangi arogansinya, "berburu atau diburu. Tidak peduli apa yang mereka pikirkan, aku tidak akan menyesali semua perbuatanku … tidak ada yang kusesali, satupun."

Perkataan Danzo sontak membuat Hinata terdiam, wanita ini bingung dan tidak mengerti. Namun hati kecilnya mengatakan, Konoha telah mempertahankan seorang iblis di dalam kursi kepemerintahannya selama belasan tahun … mungkin Akatsuki tidak sepenuhnya salah. Mungkin bukan hanya Uchiha, Naruto, atau masyarakat yang ditipu. Konoha pun termasuk korban dalam tipu muslihatnya, negara ini telah memelihara seekor ular berbisa dalam kedaulatannya sendiri. Bahkan mungkin, dewan petinggi sombong bernama Danzo ini merupakan akar permasalahan dari semua kudeta.

.

"ENYAH DARIKU, KEPARAT!" teriakan itu membuat perhatian Hinata dan Danzo beralih, keduanya menoleh. Menggunakan sebilah pisau, Kabuto mencoba menghujamkan senjatanya menuju Naruto. Namun dengan kemampuan pertarungan jarak dekat yang merupakan keahlian Naruto, pria berambut kuning ini segera menghindar dari serangan membabi-buta tersebut. Tubuhnya menangkis pisau lalu ia melakukan back roll agar terbebas dari wilayah serang Kabuto. Pria berwajah mirip ular ini justru berbalik memunggungi Naruto, sontak membuat sang Agen Konoha sadar … dia terkecoh!

"Hi-Hinata—!" Naruto hanya dapat memanggil nama partnernya, wajahnya panik. Rupanya pengalihan adalah maksud terselubung dari sang teroris, Kabuto sengaja membiarkan Naruto menghindari serangannya, Naruto secara tidak langsung memberikan dia jarak yang cukup untuk meraih senjatanya yang tergeletak dan—DOR!

Naruto serasa membeku di tempat.

DOR!

Satu lagi suara tembakan terdengar dalam ruangan rapat itu. Keadaan berubah hening, bahkan Naruto tanpa sadar menahan napas … jantungnya sekarang berdegup sangat kencang berkat suasana yang terlalu intens. Sambil berkeringat dingin, ia menatap sosok partnernya; Hinata Hyuga, wanita itu mengarahkan senjata SMG tepat ke bagian dada Kabuto … sementara Kabuto juga melakukan hal yang sama, pistolnya teracung menuju posisi Hinata. Apa yang terjadi? Siapa yang tertembak?!

.

Sepersekian detik kemudian, Kabuto yang memunggungi tubuh Naruto tiba-tiba jatuh terduduk … lalu ambruk ke atas tanah. Genangan cairan berwarna merah kental mewarnai lantai putih tersebut, dan Naruto melihat pakaian Kabuto telah basah oleh darah. Ternyata tembakan kedua dari Hinata berhasil menjatuhkan sang Akatsuki, menembus tepat di dada, sekaligus mencabut nyawanya.

"Dia mati. Se-Selesai?! Kabuto mati, ini sudah selesai..." kata itu terucap beberapa kali, pria ini meyakinkan bahwa teroris itu sudah tergeletak tak bernyawa. Meskipun demikian, jantung Naruto belum bisa berdetak dengan normal. Pria berambut jagung ini berdiri, pandangannya teralih … menatap Hinata, iris matanya meneliti setiap sudut tubuh wanita itu. Berdoa jangan sampai wanita itu ikut ambruk seperti Kabuto. Kalau tembakan kedua melesat pada Kabuto, lalu tembakan pertama berasal dari laras sang teroris?! Lalu, melesat pada siapa?!

Ia mencoba berjalan menuju Hinata, langkahnya tertatih, ditambah lagi dengan luka pada bahu dan perut … ia sedikit terhuyung, "Hinata-chan, kau … tidak apa-apa?"

Hinata Hyuga mengangguk, dia tidak merasakan sakit atau tertembak. Melihat Naruto terhuyung, ia berusaha mendekap tubuh Naruto yang nyaris jatuh. Namun di saat yang bersamaan, Naruto menatap sosok Danzo yang berada tepat di belakang Hinata. Dewan Konoha itu telah tergeletak dengan mata terbuka, darah bercipratan dan sebuah peluru bersarang pada tengkoraknya … Danzo mati secara mengenaskan. Naruto paham sekarang, tembakan Kabuto sejak awal memang mengincar titik mati Danzo. Pria itu berhasil membunuh buruannya, meski dengan bayaran nyawanya sendiri.

Hinata bermaksud menoleh, namun pria ini segera menutup jarak pandangnya. Tidak memperbolehkan wanita itu melihat pemandangan naas dari akhir perjalanan seorang wakil rakyat Konoha yang mati menyedihkan.

"Jangan lihat, Hinata." Naruto berbisik, "Danzo … tewas."

.

Hinata diam selama beberapa detik, tidak percaya dewan petinggi yang beberapa saat masih bernapas itu bisa terbunuh dengan mudahnya. Namun wanita ini tetap menuruti saran pria itu, ia tidak menoleh.

"Aku be-berpikir Tuan Danzo memang memiliki keterkaitan dengan ini, e-entahlah … semuanya membingungkan. Lalu … di-di pergelangan tangannya ada bom! Kita harus pergi secepatnya!" Perlahan ia melepaskan diri dari tubuh Naruto, dan terkejut menyadari banyaknya darah yang mengalir dari tubuh partnernya itu, "Na-Naruto-kun … kau tertembak?! Lukamu cukup parah!"

"Aah, tenang saja … ini hanya luka kecil, Hinata-chan! Dijilat juga sembuh!" senyum khas Naruto Uzumaki terpatri pada wajahnya yang dipenuhi luka, memperlihatkan bahwa rasa sakit itu tidak berarti. Pria ini kembali ceria memikirkan Kabuto telah tewas. Toh semua ini sudah selesai, dia bisa pulang, mandi, makan ramen, mengambil cuti sejenak sebelum kembali ke rutinitasnya—dan lamunannya terhenti, terkejut karena Hinata menarik tubuhnya dengan paksa. Sebelah tangannya kini mengalungi pundak wanita itu, sementara Hinata menyangga bobot Naruto dengan lengan kiri yang bertumpu pada pinggangnya.

"Ki-kita harus cepat! Kita harus keluar sebelum bom meledak!" Hinata mencoba menerangkan sambil terus memapah Naruto dan mencari jalan keluar.

'Oh, ya ampun … rupanya penderitaan ini belum berakhir …' batin Naruto menjerit.

.

.

.


Akatsuki Mansion – Suna

Tobi menekan beberapa nomor sandi yang membuka ruangan bawah tanahnya menuju basement, tempat ia menaruh beberapa kendaraan … alat transportasi yang akan menyelamatkan dirinya dari hujan abu mansion ini. Ya, selama ia berada di ruangan rahasianya, Tobi mendapat kabar bahwa gerbang depan diserang oleh sekelompok agen yang berasal dari pemerintah Suna, Sora melarikan diri, juga Kabuto yang tidak dapat dihubungi.

Sudah menjadi rencana, bila rencana mereka gagal maka Tobi akan menghapus jejak dengan meledakkan mansion. Dia berniat meluluh lantakkan seluruh bukti dalam kediamannya ini, membiarkan api menyebar luas ke arah hutan. Sementara dia akan lari, bersembunyi, lalu menjalankan rencana penyelundupan senjata dari balik layar.

Masih mengenakan topengnya, ia menoleh … mendapati Konan berdiri di sisinya. Mereka hanya berdua sekarang, seluruh anak buah Tobi dikerahkan di pintu sebelumnya untuk berjaga. Wanita itu mengulas senyum tipis andalannya, melipat kedua tangan di depan dada dan sama sekali tidak terlihat takut. Sepertinya rasa takut tidak pernah terlintas dalam otak wanita kesayangannya ini. Saat memikirkan semua itu, Tobi berada tepat di hadapan pintu yang menghubungkannya dengan jalan keluar.

"Kau terlihat begitu tenang," Tobi berbicara pada Konan yang balas menatapnya, "apa kau tidak pernah merasakan takut? Seperti saat ini, takut karena rencana kita ternyata gagal, dan timbul kecemasan karena mereka berniat menghentikan kita?"

"Aku aman bersamamu, apalagi yang kutakutkan?" nada bicara Konan tetap terdengar datar, "Lagipula … ketakutan hanya akan membuatmu bertindak ceroboh dan salah langkah."

.

Diam sesaat memikirkan beberapa hal, sepersekian detik kemudian Tobi tertawa terbahak-bahak ... dalam keheningan ini tawanya terdengar menakutkan.

"Tch, benar juga … kenapa aku baru menyadarinya? Aahh ya ampun, bodohnya!" Tobi menepuk kepalanya sendiri, ia menghentikan langkahnya membuka pintu menuju basement rahasia. Tubuhnya kini justru berhadapan dengan Konan, "Kenapa baru detik ini aku mendapat garis terang tentang keberadaanmu, sayang?"

Konan menaikkan satu alisnya.

"Apa maksudmu?" setelah mendengar kalimat terakhir Tobi, kali ini Konan bersikap lebih siaga.

"Aku sempat bertanya-tanya, kenapa rencana brilian Akatsuki bisa hancur begitu saja? Kenapa mereka bisa dengan mudah menemukan letak mansion ini—selain karena Sasuke, tentunya. Dia tidak mungkin memanggil polisi, lalu mengapa Suna dengan mudahnya mengirimkan bala bantuan ke sini? Tentu itu bukan semata-mata karena permintaan langsung dari Konoha, mereka tidak akan bergerak tanpa bukti apapun! Ya, ya, aku paham sekarang. Semuanya jelas … ini pasti karena ulahmu," Tobi mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam jubah hitamnya, lalu menodongkannya tepat menuju Konan, "karena kau yang membocorkan semuanya, Konan. Kau sudah merencanakan ini semua, apa tebakanku tepat?"

Konan tidak mengalihkan pandangannya, ia tetap menatap Tobi dengan berani dan tetap tersenyum.

.

"Hmm … kau baru menyadarinya? Cukup lamban untuk seorang penjahat sekelas dirimu, Obito …" wanita ini mengangkat kedua tangannya tanpa perlawanan berarti. Dia bisa melihat genggaman Tobi pada senjatanya mengeras ketika mendengar kalimat itu, "apa kau lupa? Tempat persembunyian terbaik adalah membaur dalam kandang musuhmu sendiri."

Tobi mendengus, seakan berusaha menjaga emosinya tetap stabil.

"Brengsek! Dasar wanita jalang … beraninya kau mempermainkan aku," Tobi memiringkan kepalanya ke samping, "apa alasanmu? Apa semua yang sudah kuberikan tidak cukup untukmu? Apa Konoha memberimu uang lebih banyak? Apa rencana kita ini tidak kau anggap sempurna? Kita bisa menguasai Konoha! Bahkan jika kau mau, setiap kali kau melangkahkan kaki, mereka akan bersujud di hadapanmu! Kenapa kau melakukan semua ini, hah?!"

"Kertas putih yang tersiram tinta hitam tidak akan pernah bisa digunakan lagi … mereka sudah kepalang kotor, Obito. Sama seperti hidup; dunia yang dipenuhi kejahatan tidak akan memiliki arah kehidupan yang baik," Konan berkata dengan tangan yang masih terangkat ke atas, "lagipula mereka tidak perlu menyembahku, aku tidak berminat disetarakan dengan patung pemujaan."

"Bravo … kau layak mendapatkan penghargaan Oscar untuk aktingmu, Konan." Tobi menggertakkan giginya, geram. Wanita ini berhasil menipunya mentah-mentah, Obito Uchiha terjebak dalam kepiawaian Konan dalam mengambil hatinya. Dengan intelegensi yang ia akui, paras cantik yang ia sanjung, melakukan semua pekerjaan dengan sempurna, ditambah sifat loyal yang benar-benar membuatnya mempercayai wanita ini sebagai tangan kanannya … ternyata itu hanya tipuan belaka! Semua perasaan dan kekaguman yang melekat untuk Konan kini berubah menjadi rasa benci dan jijik. Dari balik topeng, sang pemimpin Akatsuki menyeringai; jarinya siap menekan pelatuk dan menghancurkan kepala wanita cantik yang menjadi kesayangannya … sekaligus yang mengkhianatinya.

.

.

"ANGKAT TANGANMU, TOBI!"

Keheningan itu terpecah, dari sisi seberang kini tampak Sasuke Uchiha yang telah mengarahkan senjatanya ke arah Tobi, disusul Sakura Haruno, dan terakhir muncul sesosok pria asing yang wajahnya memiliki kemiripan fisik dengan Sasuke. Tobi hanya melirik sekilas untuk mengetahui wajah tamunya.

"Sa-su-ke, akhirnya kau datang …" Tobi dengan cepat mencengkeram leher Konan yang berada di sisinya, mendekatkan wajah wanita itu agar lebih dekat pada laras senjatanya, "seorang wanita pengkhianat, keturunan Uchiha yang naif, juga si anjing Konoha berwarna pink sudah berkumpul di sini … kebetulan sekali, semua anggota sudah lengkap sekarang. Aku akan membunuh kalian semua, kuucapkan selamat datang di kuburan kalian!"

"LEPASKAN WANITA ITU!" Itachi berang, darahnya mendidih ketika melihat Konan tak berkutik dalam cengkeraman Tobi, "Menyerahlah, kau sudah terkepung!"

Tobi terkekeh geli.

"Haa—terkepung?! Apa aku tidak salah dengar? Terkepung di rumahku sendiri? Hahaha, Tuan … kata-katamu menggelikan!" dan seperti hantu, tiba-tiba dari arah belakang muncul beberapa pasukan Akatsuki yang berdatangan. Mereka berhasil menemukan lokasi genting pemimpinnya di saat-saat yang tepat. Saat lawannya teralih dengan kedatangan pasukan, dalam satu gerakan Tobi menekan sebuah tombol pada dinding. Pintu di belakangnya sekarang terbuka, seketika itu pula lampu di sekeliling mansion padam ... berganti dengan penerangan darurat dan peringatan tanda bahaya yang berkedip-kedip. Tobi berteriak dengan lantang, "Aku sudah mengaktifkan peledaknya, dalam sepuluh menit kalian akan berubah jadi abu! Pasukan, BUNUH MEREKA SEMUA!"

.

"Sialan … Sakura, hati-hati!" Sasuke mengambil kuda-kuda menyerang, berpunggungan dengan Sakura. Ketiganya kini harus menghadapi kepungan pasukan dalam penglihatan terbatas, Sakura merunduk dan menyerang seorang pria dengan pistolnya. Ketika pelurunya menipis, ia akan beringsut untuk mengambil senjata lain yang berada di sekitar para mayat. Baku tembak terjadi dalam sepersekian detik, sementara Itachi menggunakan sharingan-nya untuk mendeteksi keberadaan Tobi dan Konan. Begitu mendapati sosok keduanya, ia terbelalak. Tobi terlihat sedang mendorong wanita itu, dan langsung menembak dadanya dalam satu tembakan … tanpa belas kasihan.

Tubuh semampai Konan ambruk ke atas tanah, sementara Tobi meninggalkan sosok itu terkapar seperti benda tak berharga. Tobi masuk ke dalam ruangan terakhir menuju basement.

"Ti-Tidak … KONAAAN!" tanpa logika, Itachi berteriak kesetanan. Bagaimana mungkin wanita itu tertembak?! Dia wanita yang menjadi objek pencariannya selama belasan tahun, dia wanita yang melindungi adik semata wayangnya selama berada di Akatsuki, dia sosok wanita yang ia butuhkan! Konan tidak boleh mati! Itachi benar-benar marah, ia berlari, berniat menerjang tubuh pria keparat itu lalu mengulitinya. Namun tubuh Itachi lebih dulu dikepung oleh sekawanan musuh yang membuatnya jengah, "Ck … minggirlah kalian, pengganggu!"

Sasuke yang baru saja menancapkan pisaunya di leher seorang Akatsuki mendapati keadaan Itachi yang terkepung, Itachi terkena pukulan hingga jatuh. Ia mencabut pisaunya lalu berlari menuju sosok kakaknya. Pria Uchiha ini menarik salah satu tubuh hingga terjungkal ke belakang, menendang tubuh pria yang hendak menembak Itachi, Sasuke menusuknya tanpa ampun. Itachi melihat kawanan yang mengepungnya perlahan berkurang … dan mendapati adiknya sedang bersusah payah menghabisi lawan yang mengincar nyawanya. Sekilas, ia tersenyum.

Ini merupakan kerjasama pertama mereka sebagai saudara.

.

Tubuh Itachi yang bebas dari kepungan kini berguling ke samping—mengambil senjatanya yang tergeletak—lalu menghabisi kawanan itu dalam rentetan tembakan. Mereka berdua terlepas dari kepungan. Sasuke Uchiha menghampiri tubuh kakaknya yang terjatuh, mengulurkan tangan untuk membantu Itachi berdiri, "Kau sudah menyelamatkan Sakura, kita impas sekarang."

"Thanks," Itachi menyambut uluran tangan adiknya, sementara matanya kembali terarah pada Konan.

"Pergilah, kau cemas pada wanita itu, 'kan?" Sasuke menarik pistolnya lalu menembak salah satu lawan yang hampir menyerang Sakura, "Biar aku dan Sakura yang menghentikan Tobi. Kita harus cepat pergi, waktunya hanya empat menit lagi!"

"Ya, kuserahkan Akatsuki sialan itu padamu, Sasuke ... habisi dia!" Itachi menepuk pundak adiknya, lalu berlari ke tempat Konan berbaring untuk mengecek keadaannya. Di sisi lain, Tobi telah bersiap meninggalkan mansion dengan kendaraan yang terparkir di ujung basement.

"Sakura, kejar Tobi!" Sasuke memanggil Sakura agar mengikutinya, mereka berlomba-lomba memasuki pintu yang baru saja dilewati Tobi. Tepat beberapa detik setelahnya … pintu itu tertutup. Membuat Itachi dan tubuh Konan terkurung di dalam, beserta para mayat bergelimpangan.

Namun sang Uchiha tidak peduli dengan keadaan pintu, tujuannya hanya satu; menyelamatkan Konan.

.

.

.


"Aneh, aku tidak bisa menghubungi HQ," gumam Sai ketika melewati pintu lorong. Mengenakan mode infrared, dengan mudah ia melacak tanda yang telah ia tinggalkan. Setelah mengetahui semua cerita secara singkat dari Sora, akhirnya Sai mengerti. Ia hendak melaporkannya pada Shikamaru, namun agen itu tidak menjawab panggilannya. Jelas ini adalah suatu kejanggalan, "apa yang terjadi di kantor pusat?"

"Hei bocah, lihat ke arah jendela," Sora menghentikan langkahnya menyusuri lorong sepi tanpa penjagaan, pandangannya tertuju pada sisi jendela. Sejak tadi otak jeniusnya berpikir ada sesuatu yang tidak beres, jumlah musuh di mansion ini semakin sedikit—selain karena kebanyakan dari mereka mungkin sudah mati, tapi tetap saja ini aneh. Pemandangan di jendela semakin membuatnya yakin, "kau lihat sisi berlawanan dari bangunan luas ini? Satu per satu lorongnya gelap secara teratur, sepertinya listrik mulai dipadamkan dalam mode paralel … sebentar lagi di sini juga akan gelap gulita."

Sai melihat sekilas, lalu pandangannya beralih ke sekitar ruangan. Ia memeriksa langit-langit, dinding, entahlah … apa saja yang ditemuinya. Sang agen menggeleng, ia hanya menarik tubuh Sora agar anak sepuluh tahun itu bisa berjalan lebih cepat, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi pemadaman total biasanya berujung pada hal buruk. Kita harus cepat, apa kakimu paham caranya berlari?"

"Tch! Kau mengejekku, bocah?!" Sora berjengit.

"Hanya memastikan apa kau tahu perbedaan antara jogging dan sprint," Sai langsung meraih pergelangan tangan Sora lalu mengajaknya berlari. Kecepatannya kali ini luar biasa kencang, mereka seakan dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata—sementara kegelapan mulai menjelajahi satu per satu wilayah dalam mansion. Sora bersumpah, dia melakukan kesalahan. Pengertian "sprint" baginya dan seorang agen jelas berbeda! Bocah ini kesulitan mengatur napas dan kecepatan kakinya, tubuhnya yang mungil ditarik oleh Sai melewati pintu demi pintu sebelum kegelapan total menyelimuti mereka. Keadaan sekitar ruangan ini sangat sepi, "benar-benar aneh. Tidak ada satupun penjaga di daerah ini?!"

.

Dari arah belakang satu per satu lampu padam, kegelapan mulai merambat ke depan.

"Apa jalan keluarnya masih jauh?" Sora mencoba bertanya sambil terengah-engah mengatur napas, hanya mendapat anggukan kecil dari pria di hadapannya. Sesekali ia menengok ke belakang, melihat lampu satu per satu padam secara berurutan. Ia merasa kegelapan sedang mengejar mereka. Mendekat, dan semakin mendekat ….

Akhirnya lampu di ruangan itu pun padam.

Mereka berhenti berlari.

"Gelap sekali … hhh … kegelapan total dan suasana kastil mengerikan ini … hhh … cocok sebagai lokasi film horror," Sora berusaha mengatur napasnya, sementara Sai mengecek keadaan. Lampu-lampu di ruangan lain telah sepenuhnya padam, sedangkan mereka masih harus menempuh perjalanan menuju pintu keluar.

"Berdoa saja agar kau tidak menemukan salah satu 'penghuni' mansion ini," Sai menanggapi ucapan bocah itu sambil membuka sebuah ruangan terdekat. Dari sakunya ia mengeluarkan senter kecil, ia menerangi ruangan itu tetap dengan menyiagakan senjata di tangan. Jika mengikuti arah awal mereka masuk, menurut perhitungan Sai, itu akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit—belum termasuk jika ia harus menghabisi beberapa anggota Akatsuki yang menemukan keberadaan mereka. Dari pengalamannya selama berada di lapangan, kegelapan total yang dilakukan oleh pihak lawan selalu berdampak buruk, dan Sai tidak ingin mengambil resiko berada terlalu lama dalam ruangan. Baru saja pemuda ini masuk untuk mengecek ruangan, tiba-tiba alarm menyala. Suaranya begitu nyaring dan berasal dari beberapa speaker yang tersebar di sekitar mansion.

Sial … firasat tentang bahaya yang mendekat sepertinya memang tepat, Sai mengumpat dalam hati.

.

"A-Alarm! Apa artinya itu?!" Sora mengikuti Sai masuk ke dalam sebuah ruangan kamar tidur yang tampak rapi dan tak dihuni. Aroma lembab dan dingin menyelimuti suasana di sekitar kamar itu, pencahayaan hanya berasal dari cahaya malam yang masuk lewat jendela, suasananya membuat Sora sedikit bergidik. Ia menggenggam erat satu-satunya senjata yang diberikan Sai beberapa saat yang lalu; hasil dari perjanjian setelah ia menceritakan soal Akatsuki pada sang agen.

"Entahlah, tapi setahuku … alarm tidak pernah memberikan kabar baik," Sai mengintip dari jendela. Ia membuka penguncinya lalu membuka jendela itu lebar-lebar, melihat jarak tanah dari ketinggiannya saat ini. Tanpa berkata apapun, dengan sigap ia menarik sprei yang melapisi ranjang kosong di ruangan itu. Sora bertambah bingung saat pria ini juga mengacak isi lemari, melempar beberapa barang yang sepertinya bisa digunakan ke atas ranjang.

"He-hei, apa yang kau lakukan?!"

"Mencoba alternatif jalan keluar, terlalu beresiko jika mengikuti jalur awal …" masih dengan tenang namun gesit, Sai membuat tali-tali simpul antara lembaran kain, mengikatnya agar tersambung satu sama lain hingga menyerupai tali. Terakhir, ia mengikatkan ujungnya pada kaki ranjang. Membawa semua perlengkapan lalu melemparkan kain sprei ke luar jendela, gerak-gerik Sai membuat Sora terbelalak. Bocah sepuluh tahun itu segera menggelengkan kepala, berdoa semoga ini bukan seperti apa yang ia pikirkan. Sai menoleh, "jadi, kita akan coba cara 'tuan putri yang kabur dari jendela kastil'. Sora-sama … ayo, kita akan turun."

"Ki-Kita turun menggunakan … itu?! Kain sprei itu?!" Sora masih ternganga.

"Ya."

"Oh my God! Sial, kau … bahkan kau tidak tahu kain itu aman atau tidak, 'kan?!" Sora tetap berceloteh sementara Sai dengan tenang mengecek simpul, menarik dan memastikan ikatannya kuat, "Kau gila!"

"Hn. Kau ikut atau tidak?" Sai tersenyum simpul, seakan menertawai sosok Sora yang seakan menciut ketakutan di balik bibirnya yang banyak bicara. Ia sudah naik ke batas jendela, menaruh senjata dan senter ke dalam hoster, kini Sai melangkahkan kakinya ke luar dan siap turun, "Tenang saja, Sora-sama … aku berada tepat di bawahmu. Kau akan baik-baik saja."

"Tapi tetap sa—"

.

Sora menutup bibirnya. Dari sela-sela bunyi alarm dan kegelapan total, sayup-sayup terdengar beberapa langkah kaki … dan buruknya, beberapa cahaya senter. Ada beberapa orang tengah mencari keberadaan mereka, dan jika mereka sampai menemukan kamar ini ... artinya gawat. Sai tidak bisa menembak dalam keadaan tergantung karena kedua tangannya bertumpu pada kain, mereka berdua akan menjadi sasaran empuk bagi peluru. Mereka harus cepat pergi! Sai segera memanggil bocah itu dengan bisikan dan gerak mulut, menyuruhnya cepat. Sora mendadak panik, ia berlari menghampiri jendela. Sai memberi penjelasan agar Sora memanfaatkan simpul-simpul yang telah ia buat sebagai pijakan, juga di mana ia harus meletakkan tangannya. Sora mengangguk sekenanya.

"CEPAT, orang-orang itu datang!" bisik Sora, frustasi.

"Aku duluan. Turun secara perlahan, jangan lihat ke bawah … tetap tenang dan atur napasmu." Setelah berkata demikian, Sai menurunkan tubuhnya menggunakan kain yang berubah fungsi menjadi tali. Mereka perlahan turun, Sora bisa merasakan tangannya gemetaran. Dia tidak terbiasa menopang bobot tubuh seperti ini, tapi kalau tidak melakukannya … ia pasti terjatuh dan mati sia-sia. Sai mengawasi gerak gerik bocah itu … beberapa kali Sora salah mengambil pijakan yang mengakibatkan tubuhnya oleng ke samping. Membuat Sai harus berkali-kali memberi instruksi, mengajari sang top secret Konoha agar menuruni "tali" dengan benar.

"Kemana mereka?!" dari jaraknya yang masih berada di tengah-tengah, Sora dapat mendengar perkataan lantang pria di atas. Hal itu memaksanya untuk turun lebih cepat, langkahnya terburu-buru, napasnya berpacu seiring dengan detak jantungnya yang berdegup kencang. Jangan sampai mereka menemukan kami, jangan sampai mereka melihat keadaan kamar itu!

.

"Apa-apaan kamar ini?!" sahut yang lain, sepertinya sudah menemukan kamar dengan jendela terbuka dan sprei yang disulap menjadi tali, "MEREKA MENCOBA KABUR!"

Habis sudah.

"HEI! MEREKA TURUN LEWAT JENDELA!"

Mereka ketahuan.

Sai mampu mendengar teriakan mereka, termasuk sorot cahaya senter yang keluar dari kegelapan pekat di sekitar mansion. Sai mempercepat langkahnya—kali ini menggunakan kemampuannya sebagai agen, bukan mentor yang mengiringi muridnya belajar menuruni tali. Jaraknya dengan Sora kini terpaut cukup jauh, sebentar lagi ia akan mencapai daratan.

"Itu mereka!" Ketika menengok ke atas, Sai dapat melihat sebuah kepala yang terjulur … menyeringai seakan mendapati mangsanya dalam keadaan tak berdaya, "Kejar mereka, tembak!"

"Cepat turun!" Dengan kecepatan penuh Sai menuruni lembaran kain itu dan berguling setelah sampai di darat. Ia mengeluarkan senjatanya, mencoba menembak pria di jendela agar mundur, namun tembakannya meleset karena sang Akatsuki telah bersembunyi di balik bingkai jendela, "Sora-sama, percepat langkahmu! Tidak … lepaskan saja, aku akan menangkapmu dari bawah!"

"Ka-Kau gila?! ADUH!" Sora masih berusaha menuruni tali darurat itu dengan tergesa, pijakannya bergeser dan ia nyaris jatuh—sebelum sebelah tangannya kembali menahan bobot tubuhnya sendiri.

.

"PUTUS SAJA TALINYA!" kali ini perkataan sang Akatsuki membuat Sai harus bertindak.

"Sora-sama, aku akan menangkapmu! Percayalah!"

"Tidak bisa!" Sora menengok ke bawah, "SIALAN, ini terlalu tinggi!"

"Mereka akan memotong kainnya! Cepat lepaskan peganganmu!" Sai berteriak.

"Ta-Tapi—"

"LOMPAT!" Sai merentangkan kedua tangannya, siap menangkap tubuh bocah itu, "SEKARANG!"

.

Dia tidak peduli lagi.

Sora mengendurkan genggamannya, ia terjun bebas menuju daratan.

.

.

.


Safe House – Konoha

"Perhatian, di sini Captain Guy. Semua unit diperintahkan untuk segera memulai proses evakuasi, tinggalkan Safe House sekarang juga! Kami masih menunggu dua unit helikopter yang tengah mengantar para dewan di quarter pertama. Agen Hinata dan Naruto, dimana posisimu saat ini?"

"Kami berada di tangga darurat menuju basement, Sir. A-Agen Naruto terluka, kami ti-tidak akan bisa mencapai lantai lima ... jadi, kami mencari ja-jalan alternatif. Over." Hinata dengan gigih menopang tubuh partnernya menuruni tangga. Napas Naruto terdengar semakin berat, setiap kali menuruni anak tangga itu berarti memberi efek pergeseran pada luka di perutnya, ia kesakitan. Luar biasa sakit … namun yang bisa ia lakukan hanya menggigit bibir bawahnya sendiri, sedapat mungkin Naruto menahan suara erangan yang keluar, ia tidak ingin membebani Hinata dengan rintihan cengengnya.

"Copy. Cepatlah, Hinata … waktu kalian tidak banyak!" Guy mengakhiri komunikasinya.

"AAARGGHH! Ouch … si-siaal!" Naruto berteriak kesakitan. Tubuhnya membentur pinggiran tangga dan mengenai lukanya. Nyeri. Pria ini segera menutup bibirnya rapat-rapat, mengambil lirikan sekilas ke arah Hinata yang menatap cemas.

"Na-Naruto-kun, kau tidak—"

"Tidak apa, aku tidak apa-apa … ukh," banjir keringat, Naruto masih meringis menahan sakit. Sejujurnya ia sedikit merasa tidak enak pada partnernya, seharusnya dia yang melindungi Hinata, bukan terbalik seperti ini. 'Kalau begini, aku jadi tidak terlihat keren di depan Hinata, sialaan!' Naruto mengumpat dalam hati, perasaannya campur aduk. "Hinata-chan, maaf ya … aku jadi merepotkanmu."

Hinata langsung menggeleng, dia sama sekali tidak merasa direpotkan. Menolong Naruto Uzumaki sebagai partner kerja—sekaligus pujaan hatinya—adalah suatu kewajiban yang ia lakukan secara sukarela, mana mungkin dia merasa direpotkan?!

.

"Peringatan terakhir! Untuk semua unit yang masih berada di dalam, segera pergi! Keluar dari Safe House sekarang juga! Kuulangi—" sang kapten sekali lagi berteriak lewat transmisi. Waktu hanya tersisa beberapa menit sebelum lantai satu dan dua meledak. Tertatih-tatih menyusuri tangga, sebelah tangan Hinata yang bebas mendorong pintu tangga darurat, mereka telah berada di basement. Keadaan di ruangan ini benar-benar sepi, dan seperti apa yang Hinata prediksi … di sana terparkir beberapa high-end class alias mobil-mobil mewah yang digunakan untuk mengantar para anggota dewan menuju Safe House. Hinata melihat ada beberapa mayat bergelimpangan … entah jasad para penyusup atau sesama rekan agen, tubuh tak bernyawa itu tersebar di beberapa titik ruangan bersama dengan bau amis darah.

Hinata kebingungan melihat banyaknya mobil di ruangan itu, namun Naruto berhasil menemukan salah satu mobil yang pintunya terbuka. Ia segera menunjuk sebuah mobil sedan keluaran Eropa yang berjarak tiga puluh meter dari tempatnya berdiri, "Hinata, lihat itu! Arah jam satu, di sana ada satu mobil yang pintunya terbuka! Ayo!"

Hinata memapah tubuh Naruto yang semakin terseok-seok, membawa pria itu ke sisi kanan mobil. Betapa kagetnya Naruto, ketika wanita itu mengantarnya … ke kursi penumpang?!

"Hinata-chan?! Kenapa, biar aku yang—"

"A-aku yang mengemudi, kau terluka!" Hinata memotong ucapan Naruto, gadis ini segera berlari mengitari sisi mobil menuju kursi pengemudi. Ia menarik jasad supir yang mati tertembak di atas kemudi, mendapati kunci masih menempel pada tempatnya. Tanpa mengatakan apapun, Hinata duduk dan memasang sabuk pengaman, "Ki-Kita pergi, Naruto-kun!"

.

Hinata memutar kunci dan mesin pun menyala, sementara Naruto yang cemas kini menangkap gerak-gerik gugup dari wanita di sampingnya, "Hinata, apa kau … bisa mengemudi?"

"…"

Hinata Hyuga mengambil napas dalam-dalam seiring dengan lampu mobil yang menyala.

"Hi—Hinata-chan?" tanya Naruto lagi, meski dengan refleks tangannya menarik seat belt.

"Tenang saja, Naruto-kun," menginjak rem sambil memindahkan tuas persneling P (park) menuju D (drive), wanita ini langsung memutar arah setirnya, "aku pernah latihan menyetir dengan se-sepupuku."

"Oh—benarkah? Fyuh, kalau begitu syukurlah … dari gerak-gerikmu barusan, aku hampir mengira kalau kau tidak bisa me—UWAAAAA!" Naruto berteriak, matanya terbelalak sementara tangannya berusaha mencari pegangan. Tepat setelah Hinata Hyuga melepaskan rem dan menginjak gas, pria Uzumaki ini merasa nyawanya telah hilang separuh, "Hati-hati … uh, perhatikan kaca spion-mu, Hina—AWAAS!"

Luput menabrak tembok, ban sedan hitam tersebut berdecit, Hinata mengitari basement parkir dengan manuver kasar.

.

"PEGANGAN!" Hinata memperingatkan.

Yeah, tanpa disuruh pun … Naruto sudah melakukannya. Seakan tanpa perhitungan, Hinata membelokkan kemudinya ke kiri—menuju tanjakan keluar. Mobil ini mulai menaiki tanjakan melingkar yang landai, pergerakan setir yang dikemudikan Hinata masih tidak stabil. Lagi-lagi Naruto berjengit ngeri, bahkan sampai tidak sempat menarik napas, dan untuk sesaat … luka tembakan pada perutnya sama sekali tidak terasa sakit! Naruto terlalu sibuk menginstruksikan ini-itu akibat gaya menyetir Hinata yang jauh dari kata "lancar mengemudi".

"I-iya kau harus menggerakkan kemudinya ke kiri, aah—tidak sebanyak itu! Ya, ya, benar begitu … ya, ke kanan sedikit, i-ini terlalu menukik! GYAAA … ki-kiri! KIRI!"

Dengan sedikit "keajaiban" atau mungkin "keberuntungan pemula", mobil ini berhasil melewati tanjakan dengan selamat. Mobil itu keluar dari basement, kini mereka berhadapan dengan halaman utama Safe House—lokasi yang menjadi medan perang utama antara tentara garis depan Konoha dengan para gerilyawan Akatsuki. Keadaan benar-benar porak poranda, mulai dari para jasad manusia yang bergelimpangan hampir di semua sisi, aspal yang telah berubah warna menjadi merah kecoklatan, kobaran api dari mobil terbakar sampai pemandangan gerbang depan yang hancur. Melalui salah satu jendela mobil, Naruto juga melihat dua buah helikopter telah pergi meninggalkan Safe House.

.

"Sudah tidak apa-apa, kita sudah aman sekarang. Kau bisa pelankan kecepatannya, pelan—uh kurasa tidak, percepat! Percepat kecepatannya, Hinata!" Naruto mengurungkan niatnya. Saat menyipitkan mata, ia melihat ada keganjilan dari kaca spion, dan—DUARR!

Safe House meledak!

"Kyaa!" suara ledakan yang tiba-tiba membuat konsentrasi Hinata dalam melakukan putaran hancur berantakan, ban mobil yang mereka kendarai kini berdecit tak terarah. Dengan susah payah, Hinata berusaha menstabilkan posisi kemudi dalam kecepatan tinggi seperti ini.

"Oh—shit! CEPAT GAS! GAS, INJAK GASNYA!" Naruto kembali histeris, ia menoleh ke belakang dan mendapati bangunan Safe House yang kokoh kini luluh lantak oleh ledakan. Api berkobar disertai debu dan puing-puing yang terlempar bersama efek ledakan membuat keduanya harus segera melarikan diri. Badai debu kini melebur bersama nyala api, asapnya bergerak dengan kecepatan tinggi seakan-akan sedang mengejar mangsanya. Puing-puing bangunan yang terlempar beberapa kali nyaris mendarat tepat di atap mobil. Naruto panik, ia terus menunjuk pintu gerbang utama yang sudah rusak total sebagai satu-satunya jalan keluar yang bisa mereka tempuh, "Di sana! ITU PINTUNYA!"

Berpacu dengan waktu sepersekian detik, mobil yang dikendarai Hinata mampu menembus kepulan debu … dan melewati gerbang utama dengan selamat.

.

Hinata terus menginjak pedal gasnya dengan tenaga penuh, membawa mobil sedan tersebut berlari kencang di jalan raya. Melirik sekilas dari spion tengah, wanita itu melihat bangunan keamanan Konoha telah berwarna kemerahan, luluh lantak … sementara jarak antar mereka menjauh, gedung itu semakin lama semakin terlihat mengecil, hingga akhirnya lenyap dari pandangan. Naruto yang sudah berkeringat dingin akhirnya menghela napas dalam-dalam, ia memejamkan mata sambil menggenggam erat seat belt yang membelit tubuhnya. Pandangannya kosong selama beberapa detik, seperti tubuh tanpa roh. Berkali-kali Naruto menggelengkan kepala dan menghembuskan napas lega.

Selesai sudah …

Konspirasi ini, misi melelahkan ini … juga "gaya" menyetir Hinata yang memacu adrenalin.

Dia berharap Sai, Sakura, dan Sasuke yang berada di Suna pun berhasil menyelesaikan misi Sora juga melenyapkan Akatsuki … berharap sahabatnya akan tiba dengan selamat sampai Konoha.

"Semoga mereka baik-baik saja." Naruto membatin.

.

.

"Hinata-chan, kau belajar mengemudi di mana?" merasa jiwanya yang melayang perlahan kembali, Naruto akhirnya berinisiatif untuk mengisi keheningan dengan obrolan ringan.

"I-Itu … uh, game," lavender Hinata tidak sanggup menatap iris biru pria di sampingnya, "be-bersama Neji-nii, kau tahu … menggunakan controller seperti kemudi se-sebenarnya. Kukira akan mudah—"

" … " Naruto menepuk kepalanya, "sudah kuduga."

Entah Naruto harus bersyukur atau tertawa mendengarnya. Di samping sifat gugup, pemalu, namun memiliki ingatan super ala Superman, ternyata Hinata Hyuga memiliki banyak sisi lain yang tidak ia ketahui. Dia tertarik. Jika menjalani beberapa waktu bersama Hinata lebih lama, bisa mengenal wanita ini lebih jauh, sepertinya itu akan menarik.

Kejutan apalagi yang akan Hinata perlihatkan untuknya?

.

"Ma—maafkan aku, Naruto-kun!"

Naruto tersadar dari lamunannya, ia terkekeh.

"Sudahlah, Hinata-chan. Kau … cukup 'mahir' untuk ukuran baru pertama kali mengemudikan mobil asli. Kau juga sudah menyelamatkan hidup kita berdua, hebat 'kan? Bahkan lihat, sekarang kau sudah terbiasa menyetir di jalan—UWAAA!"

PRAKK!

Mereka mendengar bunyi benturan terjadi.

Terdiam beberapa saat seperti patung, akhirnya Naruto menoleh pada spion di sisi kanan mobil yang … menghilang begitu saja. Tanpa disadari, sepertinya mobil mereka menabrak sebuah tiang di sisi jalan yang mengakibatkan spion kanan patah. Mereka menoleh satu sama lain, hanya bertatapan dalam diam. Hinata tampak tersipu, ia menurunkan wajahnya yang memerah karena malu ... padahal beberapa detik yang lalu pria itu baru saja memuji kemampuan amatirnya dalam mengemudi!

"Nah, kalau yang barusan …" Rona merah dari pipi wanita itu sukses membuat Naruto menyeringai lebar dan harus bersusah payah menahan tawa, "itu gunanya ikut asuransi, Hinata-chan."

.

.

.


Konoha's Central Office - Security Division

"Guy melapor pada HQ; seluruh sandera yang berhasil kami selamatkan telah diberangkatkan secara berkala oleh dua helicopter. Saat ini aku dan Shino telah meninggalkan Safe House, Agen Hinata dan Naruto dikabarkan selamat dan menuju kantor pusat melalui jalan darat. Kabar buruknya, kami kehilangan Agen Kiba Inuzuka, beberapa anggota dewan petinggi, termasuk … Tuan Danzo. Over."

"Copy, kerja bagus. Aku sudah meminta beberapa unit kebakaran untuk memadamkan api pada lokasi, pastikan seluruh anggota dewan pulang dengan selamat. Periksakan semua kondisi sandera di Rumah Sakit Konoha, dan aku menunggu laporan tertulis darimu." Kakashi memutus pembicaraan. Dengan tenang, sang pemimpin divisi keamanan ini duduk sambil berpangku tangan.

Ia menghela napas, "Danzo, ternyata … dia mati."

Kakashi meletakkan kunci ruang CCTV pada sakunya, ia baru saja "membersihkan" bukti-bukti tentang keberadaannya di ruangan Shikamaru … termasuk melenyapkan rekaman bahwa ia yang menusuk anak buahnya. Patut diacungi jempol, Shikamaru berhasil mengambil data yang diproteksi oleh sistem keamanan negara ... siapa sangka keputusannya menarik pria itu ke dalam tim ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dia tidak pernah menyangka campur tangannya dalam peristiwa lima belas tahun yang lalu akan terbongkar. Kerjasama dengan Danzo hanyalah simbol simbiosis mutualisme untuk mencapai kekuasaan yang mereka impikan … sebuah pangkat yang menjadi cita-cita karirnya.

.

"Pak Kakashi, Anda di sini rupanya …"

Lamunannya buyar, di depan pintu ruang kerja yang terpaut satu lantai dengan ruangan karyawan telah berdiri seorang pria berambut hitam panjang … Kakashi melihat sosok Hyuga Neji; sepupu dari Hinata, tengah menatapnya. Ia segera berdiri untuk memberi hormat bagi sang pengawal Hokage, "Neji-san, apa yang Anda lakukan di tempat ini? Anda tidak berada bersama Hokage?"

"Maaf mengganggu … Hokage menitipkan pesan untuk mengecek beberapa arsip, tapi aku tidak punya ID maupun password-nya. Hokage-sama berkata bahwa Anda bisa membantuku untuk membuka server utama di ruang arsip, jadi kupikir aku harus meminta bantuanmu."

"Server utama?" Kakashi memiringkan kepalanya ke samping, "Ya … tentu. Aku bisa membantumu."

"Maaf merepotkan, daritadi aku tidak melihatmu di kantor bawah."

"O—ooh, tentu saja. Aku memantau anak buahku menyelamatkan Safe House. Sekarang sudah selesai, Akatsuki yang menguasai Safe House sudah kami atasi," Kakashi sedikit gugup, apa Neji mencarinya di ruangan bawah? Memang, lokasinya dengan kantor Shikamaru terpaut satu lantai dan cukup jauh, tapi apa pria itu tidak melihat keadaan Shikamaru? Kakashi menangkap kesan Neji tampak begitu tenang dan tidak curiga sama sekali, "mari, kuantar menuju ruang arsip."

.

Mereka berjalan dalam diam, Kakashi mengajak Neji menuju ruang arsip yang berjarak dua lantai di bawah ruangannya. Ia menekan tombol elevator, keduanya masuk tanpa pembicaraan apapun ... seperti sama-sama berpikir, Kakashi berharap bisa membaca pikiran pria di sebelahnya.

"Aku sudah membawa Shikamaru ke rumah sakit," ucap Neji, sedetik setelah pintu elevator menutup.

Perkataan Neji sontak membuat Kakashi berkeringat dingin.

"A-Apa?!" Kakashi Hatake mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi?!"

"Dia terluka dan kehilangan banyak darah, Pak Kakashi … aku menemukan dia tergeletak di ruangannya, tertusuk pisau." ia menghela napas, menoleh ke arah Kakashi yang tampak begitu tegang. Masih dengan tatapan datar, Neji tersenyum kecil, "Oh—baiklah. Ini konyol, tolong jangan main-main denganku. Apa Anda terkena amnesia ringan?"

"Maaf? Apa maksudmu, Neji-san?" Kakashi mengepalkan kedua tangannya, tinggal satu lantai lagi mereka sampai di lantai arsip. Ia memperhatikan Neji merogoh sesuatu pada saku kirinya, Kakashi sudah siap untuk menghantam pria itu … berjaga-jaga apabila yang dikeluarkan Neji adalah senjata.

.

"Ya, akulah yang membunuh Fugaku dan istrinya. Kubunuh rekan-rekan yang lain dan melimpahkan kesalahan pada Uchiha seakan-akan ia melawan, sehingga aku terpaksa menembaknya di tempat. Atas perintah Danzo juga aku membius Sasuke dan membawanya."

.

Kakashi membatu.

Ia mendengar suaranya sendiri … perkataan yang hanya ia katakan pada Shikamaru! Bagaimana bisa?! Pupilnya semakin terbelalak setelah Neji mengeluarkan sebuah ponsel berlumur darah; yang tak lain merupakan ponsel milik Shikamaru, memperlihatkan benda itu seperti sebuah tanda kemenangan. Oh, sial. Shikamaru berhasil merekam rahasia terpendam yang bahkan tidak tertulis dalam data arsip?! Tapi … bagaimana mungkin—dan kapan ia melakukannya?! Dalam suasana kaku di dalam kotak sempit itu ia memutar otak, seingatnya ponsel itu berada di atas meja. Tidak mungkin aktif tanpa disentuh, kecuali—melalui voice recognition? Apa ada kata-kata khusus yang Shikamaru katakan?

Hatinya mencelos, akhirnya dia teringat. Ada satu kata yang dikatakan oleh anak buahnya;pasti itu yang memicu ponsel Shikamaru untuk merekam sesuai pemindai suara.

Satu-satunya perkataan khas bocah itu … "Merepotkan."

.

Tch, dasar bocah jenius merepotkan.

.

"Ini bukti yang kutemukan pada ponsel Agen Shikamaru," Neji menjelaskan singkat, toh dia tahu … Kakashi pasti mengenali suaranya sendiri. Raut wajahnya tampak begitu terkejut, "Kau bertanggung jawab atas kematian Fugaku Uchiha juga istrinya lima belas tahun yang lalu, bekerja sama dengan Danzo, lalu sekarang kau menusuk Shikamaru yang berhasil membongkar rahasia itu. Sayangnya, pria itu terlalu jenius ... dia sempat merekam suaramu, dan ini menjadi bukti kuat yang sulit kau bantah, Pak Kakashi."

Pria itu terkekeh.

"Ternyata ketahuan, huh?" Kakashi Hatake hanya mampu tersenyum sinis di balik penutup mulutnya, balas menatap Neji yang tak bergeming. Dia bersiap menutup mulut sang ajudan Hokage, Kakashi Hatake menarik napas dalam-dalam lalu—TING!

Pintu elevator terbuka, di depan mereka telah berjejer pasukan keamanan Konoha yang telah Neji siapkan. Sang pemimpin divisi keamanan hanya bisa melongo, mengurungkan niatnya untuk melenyapkan sang ajudan Hokage. Setelah Neji memeriksa ponsel dan menemukan adanya bukti penting yang ditinggalkan Shikamaru, pria ini sengaja mengajak Kakashi menuju ruang arsip. Dengan berpura-pura membutuhkan akses ID, ia berniat menangkap sang pembunuh Fugaku Uchiha, sekaligus orang yang bertanggung jawab atas kondisi kritis Shikamaru di rumah sakit. Kakashi Hatake tidak bisa mengelak lagi, dia pantas menerima ganjaran dari perbuatannya.

"Tch. Neji, kau—" Kakashi mati kutu, terjebak.

"Simpan semua pembelaanmu di pengadilan, Pak Kakashi. Selamat malam," tepat setelah Neji berkata demikian, beberapa orang maju menangkap Kakashi lalu memborgol kedua tangannya.

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

YEAH! Chapter dua puluh satu selesai! Inti chapter ini tetap penyelesaian misi dari Suna dan Konoha, Danzo dan Kabuto akhirnya mati. Hinata - Naruto berhasil selamat, Sai - Sora masih berusaha lari, Sakusasu kejar Tobi dan Itakonan yang tertinggal di dalam ruangan bawah tanah Akatsuki. Di sini juga Kakashi akhirnya ditangkap oleh Neji yang menemukan bukti rekaman di ponsel Shikamaru.

CHAPTER DEPAN adalah CHAPTER TERAKHIR dari Shattered Memories! Jadi, jangan lupa cek tanggal 7 di archive dan tentunya share pendapat kalian tentang keseluruhan cerita ini. (untuk epilog akan saya lihat perlu atau tidaknya.) Nggak nyangka, ini adalah fic pertama di thread Naruto dan multichapter fic terpanjang saya—yaa setidaknya sampai saat ini, LOL.

Buat beberapa PM yang masuk dan mungkin belum baca A.N saya kemarin, saya ulang deh … nggak ada sekuel. Tapi saya buat cerita baru masih tentang Sasusaku judulnya "HEGEMONY", bisa cek di profil saya (cerita ini bakal gantiin jadwal update tanggal 7 dan 20, hahaha). Jangan lupa mampir ya?

.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow tambahan yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.

Dan ini balasan review chapter dua puluh :

cherryemo : thank you buat reviewnya kemarin, untuk chapter depan tinggal penyelesaian para agen di Suna aja. Jangan lupa RnR di chapter terakhir ya!

Uchiha Shesura-chan : hahaha wajah Sasuke yang mana yang dibayangin? Sip, ini udah update kok ^^

Alifa Cherry Blossom : Wahaha Konan sesuatu banget? Iya Kakashi jahat, gimana chapter ini? Chapter depan tamat (belum tahu bakal ada epilogue atau nggak), mampir lagi ya.

Nitya-chan : thank you, jangan lupa RnR lagi…

Universal Playgirl : siip ini saya update kok :)

Hanazono yuri : gak sabar sama endingnya, kalau gitu harus mampir buat tanggal 7 ^^

Tsurugi De Lelouch : Aloha, hahaha kaget sama rahasia Kakashi ya … sekarang udah ketangkep sama Neji kok. Mampir lagi ya senpai di chapter terakhir tanggal 7, arigatou!

Gita zahra : untuk chapter ini nggak banyak kejutan karena tinggal penyelesaian aja, naah bulan depan Shattered Memories ini bakalan tamat. :)

mamet : Terima kasih banyak kalau mau mampir di Hegemony, iya soalnya untuk sekuel sepertinya nggak ada lagi yang bisa dibahas, RnR lagi oke?

Hanazonorin444 : iya Kakashi jahat, biasa di cerita lain dia jadi protagonist ya? *digebukin fans Kakashi*

Mizuira Kumiko : yup, Kakashi nggak nyangka Shikamaru bakalan menjebol data arsip dan nemuin namanya di sana … apa yang Tsunade bicarain sama Sarutobi nggak sempat dibahas, jadi hutang buat tanggal 7 besok. Thank you reviewnya!

selaladrews : karakter unpredictable bermunculan? Hahaha suka Konan? Iya biasanya Kakashi protagonist ya sepertinya, kasian Shikamaru. Jangan dong, update lebih cepat nanti saya bisa cepet botak mikirin ceritanya hehe…btw, chapter depan terakhir loh.

Foetida : jangan disambar geledhek dong Foe, hore dikasih jempol… Sakusasunya sengaja diselipin buat semua review yang minta sakusasu dibanyakin, Konan sejatinya kerja buat … saya, LOL.

Gohara01 : update nih ^^

alluca : jati diri sniper ternyata Konan, yaa sebagian besar nyangka itu Itachi soalnya.

NE : suka ItaKonan? Wah nggak nyangka ada yang suka juga selain Sakusasu di sini… nasib Shika dan itakonan ada di chapter terakhir, hehehe. Mampir lagi yaa.

Ghero-sama : tenang, rahasia Kakashi sudah terbongkar … Shika yang jenius sudah menyiapkan serangan balasan lewat rekaman suara di ponselnya. Konan memang rumit kok… RnR lagi?

roquezen : masih untung bukan Sai yang jahat kan sist, nanti saya di-demo lewat PM setiap hari LOL.

Alisha Blooms : haloo Alisha! :) Iya Itachi juga yang nyelamatin Sasusaku dari bahaya kemarin, hehe kayaknya Kakashi jadi headline news buat review kemarin, dia memang berjiwa kepemimpinan kok. Mungkin kalau 15 tahun dulu dia nggak bunuh orang tua Sasuke pun karirnya bakal tetap gemilang, tapi dia memilih jalan pintas dan sekarang menanggung akibatnya. Konan sudah diceritain di chapter ini, okee saya semangat. Alisha mampir lagi yaa…

Levi : Thank you kalau suka sama ceritanya!

Love Foam : siip ini saya update kok, memang twist kemarin lumayan mengejutkan ternyata… chapter depan bakalan jadi chapter terakhir lho… dan semoga suka juga sama chapter ini. :)

Kasih hazumi : halo salam kenal, hahaha kayak puzzle tapi nggak bosen kan? Semoga tetep ngikutin sampai tamat ya, tinggal satu chapter lagi kok. Thank you reviewnya.

Sampai jumpa di chapter terakhir (7 Oktober)! :D

-jitan-