SHATTERED MEMORIES

Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.


.

.

.

Wanita ini terbelalak, duduk sambil mengatur napasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, ia bangun tiba-tiba setelah mengalami mimpi buruk. Sangat buruk. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, memompa aliran darahnya dua kali lebih cepat. Sekali lagi wanita ini menutup kedua matanya, mengumpulkan semua kesadaran yang sebagian masih berada di alam mimpi ... lalu menghela napas. Bersandar pada punggung ranjang, ia menautkan kedua tangan lalu berdoa, mendoakan sahabatnya yang berada di medan perang, jangan sampai ia terluka parah. Juga berdoa untuk kekasih—ah, calon suaminya—agar pria itu tidak jatuh sakit karena bekerja terlalu keras di kantor.

"Kami-sama, tolong selamatkan nyawa orang-orang yang kucintai," gumamnya pelan, "jauhkan mimpi buruk itu dari kami … aku mohon, biarkan semuanya berakhir bahagia."

Doanya terputus oleh suara pintu yang diketuk berulang kali.

Di apartemen ini Ino Yamanaka tinggal seorang diri, meskipun sebagian besar tetangganya juga merupakan sesama rekan kerja di kantor kepemerintahan Konoha, termasuk Sakura dan Choji. Menguncir rambut indahnya dengan tali rambut, ia turun dari ranjang dan bergegas menuju pintu … melewati beberapa dus besar berisi barang-barang yang siap dipindahkan ke apartemen Shikamaru. Setelah menikah nanti, Ino akan pindah ke apartemen Shikamaru yang lebih luas.

Suara ketukan pintu lagi-lagi terdengar.

.

"Ya, siapa?" Ino membuka pintu apartemennya, lalu terhenyak.

Di hadapannya tampak dua orang petugas berseragam Konoha … dan Choji yang masih mengenakan piyama motif garis-garis. Wajah pria gemuk itu tampak berkerut cemas. Begitu pintu terbuka, Choji segera maju beberapa langkah, mengacuhkan dua petugas yang sedang memberikan salute untuk wanita ini, "Ino, aku menghubungimu berulang kali! Apa kau sudah mengecek ponselmu?"

Ino menggeleng, tidak mengerti.

"Be—belum, aku merubah ponselku ke mode silent, Choji. Aku baru bangun … ada apa?" Ino melirik dua petugas yang masih berdiri mematung di belakang Choji, "Mereka … petugas keamanan, 'kan? Untuk apa mereka datang ke apartemen kita? A—Apa yang terjadi?!"

"Sebaiknya kau segera berkemas, kita akan pergi ke rumah sakit," Choji menepuk pundak Ino Yamanaka berulang kali, "sepuluh menit lagi kita akan bertemu di lobi, oke?"

Rumah sakit?! Ino berubah panik, pengertian "rumah sakit" terdengar begitu menakutkan di telinganya.

"Apa maksudmu, Choji? Rumah sakit?" pupilnya melebar, tanpa sadar Ino mengingat mimpi buruknya, "Apa yang ter—"

Ucapannya terputus saat Choji menarik tubuhnya, lalu membenamkan wajah Ino dalam dekapannya. Sebelah tangannya digunakan untuk menepuk pelan punggung wanita ini, seperti berusaha menenangkannya. Ino Yamanaka terdiam dalam pelukan sahabatnya, dia tidak berani mengira-ngira. Wanita itu tahu, ada sesuatu yang buruk … dan dia tidak ingin mendengarnya.

"Ino," dengan pandangan menerawang Choji berbisik, "Shikamaru ditusuk. Keadaannya … kritis."

Tangis calon mempelai ini meledak dalam dekapan Choji.

.

Ya Tuhan … kenapa mimpi buruk itu berubah menjadi kenyataan?

.

.

.


SHATTERED MEMORIES

CHAPTER 22 : FREEDOM

.

.

Akatsuki Mansion – Suna

"PUTUS SAJA TALINYA!" perkataan sang Akatsuki membuat Sai harus bertindak, ia menilai gerakan Sora semakin tidak stabil akibat panik. Musuh bisa dengan mudah membidik lalu menembak target misinya, dan Sai tidak akan membiarkan misinya gagal.

"Mereka akan memotong kainnya! Cepat lepaskan peganganmu!" Sai berteriak.

"Ta-Tapi—"

"LOMPAT!" kesabarannya habis. Sai merentangkan kedua tangannya, bersiap menangkap tubuh Sora yang masih berpegangan pada kain, "SEKARANG!"

Sora mengendurkan genggamannya, ia terjun bebas menuju daratan. Pasrah. Dalam sepersekian detik tubuhnya jatuh, melayang di udara dan siap menghantam tanah, Sora menutup kedua matanya rapat-rapat. Berharap jika Agen Konoha itu gagal menangkapnya, maka dia akan mati tanpa melihat apapun. Berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh top secret Konoha, Sai segera berlari ke arah jatuhnya tubuh bocah berusia sepuluh tahun itu … merentangkan kedua tangannya, dan—ya, berhasil! Ia berhasil meraih tubuh Sora tepat beberapa meter sebelum terantuk tanah, Sai menghela napas dalam-dalam.

Bobot seorang anak kecil ternyata tidak seberat yang ia pikirkan, Sora mendarat dengan mulus dalam jangkauannya. Sama sekali tidak beristirahat, pria ini segera berbalik dan berlari kencang ke arah berlawanan; menghindari arah jendela. Ia membawa target misinya sejauh mungkin dari penglihatan para Akatsuki. Masih menutup mata sambil mengepalkan kedua tangan, tubuh bocah itu bergetar ketakutan. Sora akhirnya menyadari ada seseorang yang berhasil menahan tubuhnya, perlahan … ia membuka mata. Dia memandang heran pada sosok penyelamatnya. Bukannya menurunkan tubuh Sora, Sai justru berlari sambil menggendongnya.

"Ini lebih cepat daripada mengajakmu berlari, Sora-sama. Jadi, nikmati saja peranmu sebagai tuan putri yang kabur dari jendela kastil dan dijemput oleh pangeran berkuda putih," gumam Sai di sela-sela napasnya yang terengah akibat berlari. Sora sama sekali tidak protes, bocah ini masih berusaha mengendalikan detak jantungnya yang hampir copot akibat adegan terjun bebas tadi. Dari kejauhan Sai menangkap ada beberapa siluet pria berjubah berlarian menuju mereka, ia mempercepat larinya, berusaha menghindar. Tubuh Sora ikut berguncang seiring dengan langkah-langkah panjangnya saat berlari, tangan Sai mulai terasa kebas.

.

Setelah melintasi taman yang cukup sepi dan menemukan semak-semak, Sai menurunkan Sora lalu mengambil senjatanya dari holster, "Sora-sama, kau lihat tembok pembatas di seberang sana?"

Sora menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Sai, mengangguk.

"Di salah satu sisi tembok itu terdapat sebuah retakan yang celahnya cukup besar untuk dilewati tubuh manusia dewasa. Nah, itu satu-satunya jalan keluar yang kutahu," bisik Sai sambil berjongkok, mengintai keadaan dari balik semak-semak, "kita harus melewati taman ini lalu mencari celahnya."

"Mencari?" bocah itu berusaha menatap tembok pembatas di sekeliling Akatsuki Mansion, tapi dimana-mana dindingnya terlihat sama, terlebih lagi … dia sadar kalau bangunan ini sangat luas! Ini konyol. Bagaimana mereka bisa menemukan sebuah celah di antara tembok sepanjang itu?

"Tunggu—jangan bilang kau sendiri tidak tahu persis dimana letaknya?!" Sora frustasi.

"Sayang sekali, dindingnya tidak dipasangi papan bertuliskan 'jalan rahasia', jadi kita memang harus mencarinya," Sai mengomentari pertanyaan Sora seraya mengokang senjatanya sendiri, "siapkan senjatamu, Sora-sama ...aku tidak memberikan pistol itu hanya untuk menjadi pajangan di holster."

.

.


Keadaan di sekeliling mereka sepi, Sai menganggukkan kepala sebagai aba-aba. Keduanya berlari menyeberangi halaman taman dengan kecepatan penuh, berusaha menyembunyikan diri di balik pohon atau semak yang ada di sekitar mereka. Menyusuri dinding yang menjulang tinggi beberapa meter di atas mereka seakan tidak ada habisnya, Sora mulai kelelahan. Sementara Sai terus mencari petunjuk, mengira-ngira letak pintu masuk yang ditunjukkan Sasuke Uchiha beberapa jam yang lalu.

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan itu mengagetkan syaraf sang Agen Konoha, secara refleks Sai mendorong tubuh Sora hingga jatuh terjerembab di atas tanah. Tubuh mereka sekarang terlindungi oleh pohon. Seakan tidak peduli dengan beberapa luka memar pada bocah yang menjadi target misinya, Sai keluar dari balik pohon untuk balas menembak. Satu tembakannya meleset, satu lagi berhasil bersarang pada kepala musuh. Sekarang ia kembali berlindung dan melirik pada Sora, "Mereka menemukan kita."

"Lalu bagaimana sekarang?" Sora mengambil posisi jongkok, ia mengokang senjata lalu mulai membantu Sai menghabisi lawan. Ia membidik dari balik semak belukar dan ternyata tembakannya cukup jitu, "Sialan, mereka ada banyak! Apa yang harus kita lakukan?"

"Lari, aku akan melindungimu dari belakang." Sai sudah mengisi ulang senjatanya.

"APA KAU GILA?! Mereka bisa menembak kita!"

"Apa kau punya alternatif lain, bocah jenius? Ini cuma buang-buang waktu!" Sai berdecak kesal, "Lari!"

Sora mengumpat. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti saran Sai, Sora terus berlari sambil menundukkan kepala, terengah-engah dan tubuhnya banjir keringat. Beberapa semak menggores kulitnya, sesekali ia menopang tubuhnya di antara batang pohon karena kelelahan. Sial! Ia bersumpah—seandainya nanti dia masih hidup—maka sesampainya di Konoha, dia tidak akan jogging selama beberapa minggu ke depan. Peristiwa hari ini membuatnya trauma, sungguh melelahkan!

.

"Sai report to HQ, I repeat … Sai to HQ!" sekali lagi Sai memanggil rekannya di Konoha lewat transmisi. Menekan earpick pada telinga, ia mengikuti tubuh mungil Sora melewati deretan pohon. Desingan peluru untuk saat ini tidak terdengar, ada kemungkinan musuh kehilangan jejak … untuk sementara mereka aman, "Shikamaru? Kau bisa mendengarku?!"

"Di sini Hyuga Neji. Agen Sai, kami bisa mendengarmu."

Sai terdiam.

Hyuga Neji? Untuk apa tangan kanan Hokage berada di line transmisi milik Shikamaru?!

"HQ to Sai, berikan informasi terakhirmu, Agent." Suara Neji kembali terdengar.

"Dimana Shikamaru?" Sai tetap siaga, dia merasakan keganjilan dengan adanya kehadiran Neji. Saudara dari Hinata Hyuga ini seharusnya menjaga Hokage Sarutobi sesuai protokol keamanan, menggantikan pekerjaan Shikamaru sama sekali tidak tercatat dalam job desk-nya.

"Ada banyak yang terjadi, tapi ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan. Atas perintah Hokage-sama, untuk sementara aku akan menggantikan tugas Kakashi Hatake dalam memimpin Project Suna," Neji memang tidak mengerti seluk beluk pekerjaan Shikamaru, dia juga bukan pria jenius dalam bidang IT. Tapi di sisi lain, dia punya jabatan yang bisa diandalkan. Setidaknya cukup untuk menarik beberapa tenaga bantuan. Terbukti, di ruangan divisi keamanan yang awalnya kosong karena sebagian petugasnya dipindahkan ke tempat lain … sekarang telah terisi oleh beberapa tenaga ahli. Semuanya bekerja sama untuk menggantikan posisi Shikamaru, bergerak sesuai komando dari Hyuga Neji, "Kita sudahi basa-basinya. Apa yang kau butuhkan dari kami, Sai?"

Sai mendengus, dia sadar keadaan di Konoha sepertinya cukup kacau. Tapi dibanding mencemaskan masalah lain, saat ini dia memiliki prioritas yang tidak kalah penting, "Baiklah—tolong lacak GPS ponsel ini, aku dan Sora berada di taman. Kami kesulitan mencari jalan keluar."

Sementara Sai menunggu Neji melakukan tugasnya, ia menghantam tubuh musuh yang berada di depan mata, menjatuhkan pria itu sambil membungkam mulutnya agar tidak berteriak. Dengan kekuatan penuh Sai menghujamkan tinju pada wajah lawan, memukulnya berulang kali hingga tak sadarkan diri.

.

"Got it! Aku menemukan posisimu. Selanjutnya bagaimana?"

"Aku meninggalkan sebuah pelacak pada kendaraan yang kutaruh di luar mansion. Sinyalnya bisa terlacak oleh Konoha, tolong temukan sinyal itu dan cocokkan dengan posisiku saat ini," menyadari ada beberapa orang yang berlari ke arahnya, Sai berlari kencang hingga kecepatannya melampaui Sora, ia menarik lengan bocah itu agar terhindar dari peluru. Desingan peluru yang melubangi batang-batang pohon cukup memekakkan telinga, tapi setidaknya … mereka luput dari tembakan,"Apa kau bisa menemukannya?! Tolong … cepat sedikit!"

"Copy. Sudah kutemukan, sinyal itu berada sekitar 400 meter di depanmu, ke arah timur!"

"Roger that." Sai mengkalkulasi posisinya; dari tempat mereka menaruh motor … mereka harus bergerak sekitar 300 meter untuk menemukan celah itu. Dan itu berarti, keduanya harus berlari sekitar 700 meter untuk menemukan celah, lalu putar balik sejauh 300 meter lagi menuju motor?! Tidak—Sora tidak akan kuat berlari sejauh itu. Sambil terus berlari, Sai menanggalkan jubah Akatsuki yang ia kenakan, membuangnya begitu saja. Di pinggangnya terdapat holster yang berisi sepucuk pistol, beberapa pouch tempat menyimpan amunisi, pisau, dan dari saku lainnya Sai mengeluarkan sebuah peledak, "Tolong pantau posisiku sampai sejajar dengan sinyal itu, Neji-san!"

"Terus lalui jalanan itu, 120 meter lagi kau akan sampai pada lokasi."

Mereka terus berlari mengikuti arah petunjuk yang diberikan Neji. Tubuh Sora limbung akibat permukaan tanah yang tidak stabil, pijakannya goyah dan ia hampir terjatuh jika tangan Sai tidak menariknya. Tangannya terasa kebas saat menahan bobot tubuh bocah berusia sepuluh tahun yang terpeleset, namun dengan satu hentakan ia berhasil menarik Sora kembali pada posisi semula. Sora hanya mengerjap, terengah-engah karena kehabisan napas, "apa … masih jauh?"

.

DOR!

"Terus lari, tundukkan badanmu, Sora!" Secara otomatis mereka merunduk, berusaha menghindari tembakan dari arah seberang. Lagi-lagi Sai menarik tubuh Sora agar menjauh. Tubuh mungil ini dibawa menyusuri sisi taman hingga terpontang-panting, Sora pasrah. Kehabisan napas, asupan oksigen pada tubuh Sora berkurang dan hal itu membuat kepalanya pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang. Sementara Sai sama sekali tidak memberikan bocah ini waktu untuk beristirahat. Sambil berlari menggiring Sora, ia terus mendapat perkembangan posisi terakhir melalui alat transmisi.

"Jarakmu dengan pancaran sinyal akan presisi dalam hitungan 3 ... 2 … 1! Stop!"

"Aku akan meledakkan dindingnya, tetap diam di sini," Sai mengambil jarak aman sejauh beberapa puluh meter dari dinding, lalu melepaskan genggamannya dari tangan Sora. Bocah itu langsung terjatuh di tanah akibat kelelahan … napasnya memburu, "terus siaga, Sora-sama. Siagakan senjatamu!"

Sora hanya mengangguk lemah, namun mengeratkan genggaman pada pistol yang telah diberikan Sai. Sambil mengatur napas, matanya menelaah ke sekeliling … berjaga-jaga jangan sampai tubuhnya menjadi sasaran timah panas. Tanpa pikir panjang Agen Konoha ini segera mengeluarkan detonator dari pouch, ia berlari menghampiri tembok lalu menempelkan benda tersebut pada dinding pembatas. Setelah mengatur waktu dan menekan tombolnya, Sai segera kembali ke tempat Sora untuk berlindung dalam jarak aman, "Merunduk!"

Detonator itu berkedip berulang kali, keduanya menunggu beberapa detik sampai—DUAR!

Dinding pembatas itu berhasil dilubangi secara paksa.

"Ayo, kita harus cepat!" Debu dari ledakan berterbangan di udara membentuk kabut, namun Sai bisa melihat sebuah lubang telah menganga di tengah-tengah dinding. Ia berniat menarik tubuh Sora namun bocah itu sudah tidak sanggup berlari. Akhirnya Sai mengangkat Sora dengan satu tangan, menaruh tubuh bocah itu di salah satu pundaknya seperti mengangkat karung beras, "Aku akan menggendongmu keluar, sementara kau yang membidik musuh! Mengerti?"

.

Belum sempat menjawab, Sai sudah berlari sambil membawa Sora dalam gendongannya. Tidak ada waktu untuk adu argumen. Suara ledakan yang cukup keras membuat seluruh penjaga keamanan di sektor timur curiga, mereka mulai berlarian menuju sumber suara … keduanya harus keluar dari tempat ini secepat mungkin!

Kumpulan pria-pria berjubah dan bersenjata api yang mulai berdatangan membuat adrenalin Sora terpacu, berada dalam pundak Sai membuat kepalanya bisa dengan jelas melihat gerak-gerik musuh dari arah belakang. Dengan bidikan seadanya, Sora mulai menembaki beberapa pria berjubah Akatsuki yang terlihat dari berbagai sudut. Namun, tidak peduli berapa orang yang berhasil ia jatuhkan, gerombolan yang mengejar mereka terlihat semakin banyak ... satu per satu berdatangan dari segala sisi.

"CEPAT! Mereka mengejar kita!" Sora panik namun tetap menjaga keakuratan bidikannya, ternyata ilmu yang dipelajarinya di kelas menembak Konoha tidak sia-sia, "Bocah, berikan aku amunisi!"

Sai tidak bergeming, ia sibuk berlari menuju reruntuhan tembok yang telah diledakkan. Sora akhirnya kehabisan peluru, "Tch, hei bocah! Amunisiku habis!"

"Hn, aku tidak tuli," sebelah tangannya menahan bobot Sora … sementara sebelah lagi meraih saku dan mengeluarkan magazine 9mm; amunisi untuk Sora. Setelah bocah itu menerima clip amunisi, Sai menoleh ke samping dan ikut menembaki dua pria yang mengejarnya. Kini jaraknya dengan lubang pada dinding semakin dekat. Agen Konoha ini mengeluarkan M67 grenade; satu-satunya granat tangan yang ia miliki dan disimpan untuk keadaan paling mendesak. Berbentuk layaknya bola baseball dan bisa dilempar sejauh tiga puluh meter, Sai menggenggam erat granat tersebut. Mengatur jarak lempar dengan radius sekitar lima belas meter, ia mencabut tuas sumbunya.

"Saatnya memberi hadiah perpisahan!" ujar Sai sambil melempar granat ke arah kepungan lawan.

Sedetik kemudian ia kembali berlari, melewati celah reruntuhan tembok pembatas Akatsuki Mansion dengan hutan lindung. Baru menginjak beberapa langkah di kawasan hutan, terdengar suara ledakan dan jeritan sakit dari arah belakang … tampaknya "hadiah perpisahan" dari Sai berhasil mengenai beberapa pasukan, sekaligus menghambat langkah mereka.

Sekarang, yang harus ia lakukan adalah menemukan motor di antara gelapnya hutan belantara. Sai menekan earpick-nya,"Neji-san, aku sudah berhasil keluar! Di mana posisinya?"

"Oke. Teruslah berjalan dalam arah jam dua belas, sinyal itu berada tepat di depanmu … sekitar dua puluh lima meter," setelah mendengar petunjuk dari Neji, secara spontan ia mengaktifkan senter sebagai alat bantu menembus hutan. Membiarkan Sora tetap berada pada pundak kirinya untuk mengawasi arah belakang, dengan gesit Sai melewati deretan pohon-pohon, juga mengabaikan semak atau ranting yang sesekali menggores permukaan kulitnya. Melalui transmisi Neji terus memberi arahan, tidak lama berselang, cahaya senter perlahan menangkap sebuah siluet—dia menemukan motornya!

.

"Bingo! Aku menemukannya, Neji-san," ia langsung memadamkan senter lalu menurunkan tubuh Sora di samping motor. Tangannya segera merogoh saku untuk menemukan kunci kontak. Tidak lagi peduli pada kejaran anggota Akatsuki yang mungkin tengah menyusuri hutan, Sai menyalakan mesin motornya.

"Naik ke motor, sekarang!" Bunyi mesin yang menggerung terdengar nyaring di tengah hutan sepi dan mencekam itu, tarikan gas menggema di sekitar hutan belantara.

Sora segera naik ke bangku penumpang, berpegangan erat pada tubuh Sai agar tidak terjatuh. Tenaganya sudah habis, yang harus dia lakukan hanya bertahan … dan semuanya akan berakhir. Ia sudah berada di ambang kebebasan!

"Kita berangkat, Sora-sama!" Sai mengaktifkan lampu motor lalu menarik gas, kendaraan roda dua itu akhirnya melaju di tengah hutan, meninggalkan Akatsuki Mansion. Agen Konoha ini berusaha sekeras mungkin menghindari jalanan tidak rata atau pohon-pohon yang menghalangi laju kendaraannya.

Sora tak henti-hentinya menengok ke belakang. Dari jarak pandangnya yang dipenuhi kegelapan hutan, ia memincingkan mata … dari balik tembok pembatas yang menjulang tinggi tampak warna kuning dan merah yang menyala. Ketakutannya semakin menjadi setelah mendengar bunyi ledakan yang sangat keras, gemuruh dari bangunan mansion satu per satu luluh lantak oleh kobaran api, Sora terbelalak.

Akatsuki Mansion meledak?!

"Mansion itu meledak! Terbakar!" Sora berteriak di sela-sela deru mesin yang bising, "Lihat itu!"

"Apa?!" Sai terkejut, ia memalingkan pandangannya sejenak untuk mengkonfirmasi perkataan Sora; dan melihat nyala-nyala api dari kejauhan yang semakin membesar. Melahap apa saja yang dilewatinya. Ini buruk—jangan sampai nyala api itu melewati tembok pembatas dan membakar hutan lindung ini. Mereka harus segera keluar dari hutan! Sai kembali bergegas mengendarai motornya melewati hutan, berpacu dengan waktu. Prioritasnya adalah menyelamatkan Sora; sekaligus mengukuhkan fakta bahwa tugas utama Project Suna telah berhasil ia laksanakan.

Deru motor yang menapaki jalan setapak lalu berakhir di jalan beraspal menjadi akhir dari misinya kali ini, Sai menarik napas dalam-dalam ... Ia berhasil.

.

"Neji-san, aku berhasil membawa Sora keluar dari mansion! Saat ini kami berada dalam perjalanan menuju kota," Sai melaporkan kondisi terakhirnya pada pengganti Shikamaru, "Akatsuki Mansion … meledak. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno ... semoga saja mereka berhasil menyelamatkan diri. Over."

"Copy, terima kasih atas kerja kerasmu, Agen Sai …" Neji mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus, ikut bernapas lega. Sepertinya ia bisa mengerti posisi Shikamaru saat mendampingi rekan-rekannya bertugas, paham bahwa di dalam tangannya ia menanggung tanggung jawab begitu besar; nyawa para agen lapangan. Neji melanjutkan kalimatnya, "pergilah ke kedutaan. Aku sudah menghubungi kedutaan besar Konoha di Suna, mereka sudah menyediakan tempat untuk kalian … aku akan mengerahkan satu unit helikopter untuk menjemput kalian di sana."

.

.

.


Akatsuki Mansion – Suna (Sembilan menit sebelum ledakan)

Pintu yang menghubungkan garasi dengan ruangan Itachi berada tiba-tiba tertutup, Sakura menyadari hal tersebut beberapa detik setelah ia berhasil menyusul Sasuke. Sementara Tobi sudah masuk ke dalam mobil mewah berwarna biru metalik dan segera menyalakan mesinnya.

"Sakura! Bantu Itachi keluar dari pintu itu, aku akan bereskan Tobi!" teriak Sasuke.

Ia berusaha mengejar sambil menembakkan pistolnya berulang kali, menghujani kaca mobil yang ternyata dilindungi bahan anti peluru. Langkah pertama gagal, namun kecepatan larinya berhasil menyusul mobil sebelum kendaraan roda empat itu melesat pergi. Sasuke membuka pintu penumpang di sebelah kanan kemudi, lalu melompat ke dalam mobil sepersekian detik sebelum Tobi menginjak pedal gas. Tubuh pria berambut raven ini merangkak ke dalam, membiarkan pintu penumpang masih dalam keadaan terbuka, "Hentikan mobil ini, Tobi!"

Tobi tidak tinggal diam, sambil tetap mengemudikan mobilnya melaju melintasi gerbang basement yang terbuka, sebelah tangannya meninju rahang Sasuke, "Brengsek kau, Sasuke! Enyah kau dari sini!"

BRAKK!

Suara logam yang bertabrakan dengan benda solid terdengar begitu kencang. Tobi berusaha mengendalikan kemudi yang hilang kendali ketika pintu mobilnya yang terbuka menabrak dinding basement hingga patah. Sebelah pintunya kini hilang. Mobil sedan produksi Eropa itu mengalami guncangan beberapa kali akibat benturan keras dengan dinding, namun Tobi tetap menginjak gasnya. Mobil tanpa pintu ini akhirnya menaiki tanjakan basement dan mulai meninggalkan lokasi mansion lewat jalan belakang; arah berlawanan dari hutan lindung.

Sasuke meringis ketika tinjuan Tobi tepat mengenai rahangnya, amunisinya telah habis setelah ditembakkan berulang kali pada kaca anti peluru. Tobi mengambil pistol dari dashboard, siap menembak sebelum Sasuke balas menyerang. Namun gerakan lawannya lebih cepat. Sasuke berhasil mengunci lengan kanan Tobi yang memegang senjata agar tidak bisa bergerak. Lalu dalam sekejap mata, ia memiting lengan sang pemimpin Akatsuki; memaksa agar senjata Springfield dalam genggamannya terlucuti. Kuncian Sasuke membuat jemari Tobi terasa mati rasa, tanpa sadar cengkeramannya terlepas dan senjata api itu jatuh ke bawah kemudi, berhimpitan dengan tuas rem.

"Sial," berkali-kali Tobi melancarkan tinju pada mantan anak buahnya ini, "MATI KAU, SASUKE!"

.

.


"Konan!" Itachi menghampiri tubuh wanita itu, berlutut di sampingnya dengan perasaan campur aduk.

Konan tidak sadarkan diri. Dengan gerakan terburu-buru ia mencabut paksa jubah Akatsuki yang menyelubungi tubuh wanita dalam dekapannya, berniat untuk memeriksa luka tembakan dari Tobi. Itachi mendapati kemeja berwarna ungu itu telah terkoyak oleh peluru. Tapi yang membuat matanya terbelalak sekaligus bernapas lega adalah; di balik kemejanya, Konan mengenakan rompi anti peluru. Tembakan Tobi pada dadanya berhasil terlindungi oleh rompi, namun daya tembak peluru dalam jarak dekat membuat tubuhnya mengalami hentakan keras yang mengakibatkan Konan jatuh pingsan.

"Konan?" Itachi menepuk-nepuk pipi Konan sambil terus memanggil namanya, "Konan, bangunlah! Kau mendengarku?! Hei, sadarlah!"

Belum berhasil, Itachi mulai mengguncang tubuh wanita itu, "Sadarlah, kita harus cepat pergi!"

.

"Uchiha-san! Pintunya terkunci, apa kau bisa membuka secara manual dari sana?!" teriakan itu berhasil membuat perhatiannya teralih, Itachi menoleh. Pada pintu jeruji yang terkunci otomatis itu ia melihat Sakura Haruno sedang memeriksa keadaannya … seakan memastikan bahwa sosok kakak Sasuke masih bernyawa. Wanita berambut pink ini berjongkok di hadapan pintu, entah apa yang dilakukannya.

"Apa yang kau lakukan? Di mana Sasuke?!"

"Sasuke mengejar Tobi," wanita itu menjawab sambil terus berjongkok, "aku … melakukan apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kalian berdua. Apa di sana ada petunjuk darurat membuka pintu?"

"A-Apa?" Itachi tidak mengerti, tapi ia sendiri mulai mencari-cari cara menjebol pintu tersebut. Tidak memiliki tuas yang bisa dihancurkan oleh peluru, sementara perangkat elektroniknya juga terkunci otomatis, "Tidak ada petunjuk apapun, terkunci secara otomatis. Apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku ahli lockpick," Sakura masih berkonsentrasi pada pekerjaannya, dengan jari-jari terampil ia memasukkan besi pipih dari kotak yang diberikan Sai sebelum memasuki mansion, "sepertinya aku bisa membongkar kunci ini, bersabarlah. Aku masih mengusahakannya."

.

"Uhukugh, sepertinya … aku belum mati?" Sosok wanita yang terbaring di lantai itu bergerak, Konan terbatuk-batuk sambil memegang bagian tubuh yang menjadi sasaran tembak. Nyeri.

"Konan?!" Itachi menyadari suara wanita itu, dia siuman! Ia segera beralih pada tubuh Konan, membantunya duduk, "Aku panik melihatmu tertembak. Syukurlah kau tidak apa-apa, terima kasih pada rompi anti peluru itu! Kau selamat, Konan!"

Sekali lagi Itachi memastikan keadaan Konan dari ujung kepala hingga kaki, mendapati wanita ini benar-benar hidup … lalu memeluknya secara spontan.

"Ya—ukh, le-lepas … Itachi, sesak!" Konan meringis saat sang Uchiha mengendurkan pelukannya yang terlalu kencang, "Pelukanmu yang hampir membunuhku, bukan tembakan Tobi."

Itachi meringis, namun tetap bernapas lega. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Konan bangkit berdiri, sementara wanita itu menangkap gerakan Sakura di balik pintu. Tidak perlu bertanya pun, Konan tahu bahwa Sakura sedang berusaha membongkar kunci dengan keahlian lockpick-nya, ia sudah membaca profil para personil dari Project Suna. Data-data tersebut ia dapatkan dari Jiraiya di hari pertama, ketika wanita ini membantu para agen mendapatkan senjata api.

"Sakura Haruno, apa kau bisa membongkarnya?" Konan mengecek waktu lewat jam tangannya, "Waktunya tinggal lima menit, kita harus cepat. Aku tidak sudi terpanggang seperti daging barbeque di reruntuhan Akatsuki."

"Beri aku waktu sedikit lagi," Sakura masih terfokus pada pekerjaannya.

Wanita bersurai keunguan ini mengangguk. Tanpa bicara apapun, Konan berlari ke arah berlawanan. Ia berlari menuju sebuah lemari kaca di sudut ruangan, di sana terdapat puluhan kunci dengan berbagai jenis dan ukuran, semuanya berjajar dengan rapi dalam etalase yang terkunci. Konan berhenti di depan lemari kaca itu, lalu mengeluarkan sepucuk pistol kecil jenis Makarov. Ia mengarahkan senjatanya pada etalase dan—DOR!

Etalase kaca pada sisi kanan Konan kini hancur lebur, pecahan kacanya jatuh berserakkan ke sekeliling lantai. Setelah mengembalikan senjata pada holster, dengan tenang Konan menghampiri etalase yang sudah porak poranda … ia berjinjit lalu mengambil sebuah kunci yang terletak di sudut kanan lemari.

"Kunci apa itu?" Itachi kebingungan.

Mendapati wajah Itachi berkerut tak mengerti, Konan hanya tersenyum simpul, "Tiket untuk pulang."

.

KLEK!

Tepat di saat yang sama, pintu pembatas ruangan Itachi dan Sakura berhasil terbuka dengan lockpick!

.

"Ya, BERHASIL!" Sakura bernapas lega, "Pintunya terbuka! Kalian berdua, cepat keluar!"

"Well, kurasa kita berdua berhutang nyawa pada nona pink itu, hm?" gumam Konan.

Itachi mengangguk. Keduanya segera berlari menyusul Sakura, sosok kakak dari Sasuke Uchiha ini mengacungkan jempolnya, memuji kepiawaian Sakura Haruno dalam menjebol kunci. Sementara Konan yang menyusul Itachi kini langsung berlari menuju sebuah mobil hitam yang terletak di sisi kanan basement. Wanita itu membuka pintu mobil, lalu berhasil menyalakan mesin mobil itu menggunakan kunci yang baru saja diraihnya dari etalase kaca. Tanpa pikir panjang, Itachi dan Sakura segera masuk ke dalam mobil yang dinaiki oleh Konan.

"Ternyata kau mengambil kunci mobil, tch … memangnya ada sebanyak apa mobil mewah Tobi?" Itachi Uchiha duduk di samping kemudi, menemukan wanita itu sudah tersenyum penuh arti di sampingnya.

"Ini mobilku," jawaban Konan sontak membuat Sakura dan Itachi teralih lalu menatapnya secara bergantian. Memindahkan tuas persneling, Konan mengedipkan satu matanya, "Hmm … apa kau pikir seorang pemimpin Akatsuki tidak pernah memberi hadiah apapun pada wanita kesayangannya?"

Itachi hanya mampu mengangkat kedua bahunya, seolah tak peduli. "Tchsi Tobi sialan itu memang teroris kaya raya yang bisa membeli barang mewah layaknya menjentikkan jari," batin Itachi menggerutu, ia tersenyum masam.

.

"Oke—kita hanya punya waktu dua menit, pegangan!" Konan memindahkan tuas persneling lalu berputar arah, dengan stabil melakukan manuver lalu mobil hitam ini bergerak menuju tanjakan basement—yang membawa mereka keluar dari mansion. Dalam waktu beberapa detik mereka berhasil keluar dari Akatsuki Mansion, meninggalkan gedung yang sebentar lagi berubah menjadi puing. Ban mobil ini menyentuh aspal, setelah menemui tikungan Konan berbelok dan memilih jalan raya.

DUARR!

Bunyi ledakan terdengar sangat keras dari arah belakang.

"Mansion itu meledak!" ujar Sakura ketika menoleh ke belakang, sementara Konan dan Itachi menatap ledakan itu lewat kaca spion. Ketiganya mendengar suara letupan kencang disertai api yang berkobar di sekeliling gedung, meluluh lantakkan bangunan klasik itu dalam beberapa kali ledakan. Konan menginjak pedal gas lebih dalam untuk menaikkan kecepatan, memacu kendaraan mewah ini di jalanan. Mereka berhasil keluar dari mansion tepat satu menit sepuluh detik sebelum ledakan terjadi.

"Kita kemana?" tanya Sakura.

"Mengejar Tobi, aku tahu pasti di mana ia berada." Konan menekan sebuah tombol pada dashboard mobilnya, mengaktifkan peta GPS. Di sana terlihat dua buah titik berwarna merah dan biru. Itachi menyadari bahwa posisi mobil mereka diwakili oleh titik biru, sementara Konan sedang mengejar titik merah yang tak lain merupakan kendaraan Tobi. Ternyata Konan sudah menempelkan pelacak pada kendaraan Tobi? Itachi tidak berkomentar apapun, ia hanya mengisi ulang senjatanya dalam diam.

Sekarang yang tersisa hanya satu; menghabisi Tobi dan menyelamatkan Sasuke.

.

.

.


Mobil yang dikendarai Tobi bergerak tak beraturan, kemudinya berbelok ke kanan dan kiri secara berantakan di jalanan yang sepi … dua pria Uchiha yang berada di dalam kendaraan tersebut sibuk berbaku hantam. Tobi membenturkan kepala Sasuke berulang kali pada dashboard mobilnya hingga berdarah, sementara tubuhnya sendiri harus terjepit di antara cengkeraman sang mantan Akatsuki. Sasuke mengepalkan tinjunya, lalu menyerang rusuk Tobi dengan sisa-sisa tenaganya. Pemimpin Akatsuki ini mengerang kesakitan, sementara Sasuke mengambil alih kemudi. Sasuke membelokkan setirnya ke arah kanan, menghindari sebuah tikungan yang bisa mengakhiri nyawa keduanya.

"PENGKHIANAT SIALAN!" Tobi meraung, mengayunkan tinjunya pada Sasuke yang masih sibuk mengendalikan mobil, "Seharusnya kita membalaskan dendam Uchiha pada Konoha! Membalas dendam orang tuamu, ayahmu! KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA PERASAANKU SAAT MEREKA MATI!"

"AKU TAHU!" Tidak mau kalah, Sasuke menyikut wajah Tobi hingga hidungnya berdarah, "Mereka membunuh semua Uchiha! Aku tahu perasaanmu, Tobi … tapi bukan seperti ini pembalasannya, INI KONYOL! Hentikan mobil ini dan menyerahlah!"

"Jangan sok jadi pahlawan, bocah sialan!" Tobi mencengkeram rambut Sasuke lalu menghantamkan kepala pria itu pada setir, sontak membuat Sasuke berteriak kesakitan. Sama sekali tidak memperhatikan jalanan, Tobi yang penuh amarah langsung mencekik Sasuke menggunakan kedua tangannya, "Seharusnya aku membunuhmu di tebing itu!"

Kemudi yang lepas kendali kini bergerak kacau tak beraturan, tanpa navigasi. Sasuke Uchiha melirik sekilas ke arah jalanan, di sisi kanan dan kiri mereka hanya terdapat deretan pohon. Gerakan berantakan dari mobil ini bisa mengakibatkan mereka menabrak pembatas jalan dan menghantam pohon. Dia harus melakukan manuver untuk menghindari tabrakan! Mungkinkah Tobi sudah putus asa dan berniat bunuh diri bersama?! Tidak, dia tidak boleh mati, dia sudah berjanji pada Sakura akan kembali ke Konoha! Sasuke berusaha keras melawan tenaga Tobi yang mencengkeram lehernya, namun pandangannya kabur akibat kepala yang dibenturkan dengan keras pada setir, tenaganya semakin melemah.

"Si-al," umpatnya di sela-sela napas, sementara Tobi semakin menguatkan cekikannya.

"DASAR UCHIHA TAK BERGUNA!" teriak Obito Uchiha dengan lantang, "KUBUNUH KAU, SASUKE!"

.

.


"Itu mobil mereka, Konan!" Itachi terkesiap. Mobil hitam yang dikendarai Konan berhasil mengejar letak posisi Tobi dalam GPS, kini ketiganya melihat mobil mewah berwarna biru metalik itu melaju di jalanan dan bergerak tak terarah. Kondisi malam hari juga gelapnya jalan raya membuat pandangan mereka terbatas … hanya diterangi oleh lampu mobil. Itachi tidak bisa memastikan keadaan adiknya, dia cemas ... terlebih karena mobil bergerak tanpa terkendali. Sakura dan Itachi mulai mempersiapkan senjata masing-masing, keduanya berniat menghentikan mobil itu dengan paksa.

"Mobil Tobi dilengkapi kaca anti peluru, sia-sia saja," Konan yang masih fokus pada kemudi tiba-tiba bersuara, "yang perlu kau khawatirkan adalah kontrol pada kemudinya, jika terus tak terkendali mereka bisa menghantam pohon."

"Ugh—sial, kita harus segera menolong Sasuke. Konan, tolong sejajarkan mobil dari sisi kanan, aku akan menembak Tobi dari sisi mobil yang tidak berpintu!" ujar Itachi seraya membuka jendela di sampingnya. Sisi kanan merupakan sisi mobil yang sudah tidak berpintu—jadi Itachi bisa menembak tanpa perlu mengkhawatirkan adanya perlindungan dari kaca anti peluru. Tapi di sisi lain, sisi kanan adalah tempat dimana Sasuke berada. Sakura tampak tidak sependapat, bagaimana mungkin kakak Sasuke ini punya ide nekad menembak dalam keadaan gelap seperti ini … bisa-bisa tembakan itu justru mengenai Sasuke lalu membunuhnya!

"Itachi-san, salah sedikit saja … Sasuke yang akan tertembak!" Sakura cemas.

"Dia benar, Itachi … kau bisa membunuh adikmu sendiri," Konan akhirnya menyuarakan pikiran Sakura, "sasaran tembaknya cukup rawan, jangan gegabah."

"Huh, ternyata kau belum tahu 'semuanya' tentang aku, Konan …" Itachi Uchiha menyeringai tipis, lalu melepas seat belt-nya, "tenang, aku cukup yakin pada bidikanku. Lakukan saja, cepat!"

Konan melirik sekilas.

"As your wish, tampan …" entah berdasarkan rasa percaya yang begitu besar atau mereka tidak punya pilihan lain, Konan mengikuti saran pria di sampingnya … ia berhenti berdebat dan membanting setirnya ke kanan. Melakukan manuver mulus, mobil hitam ini melaju kencang di sisi kanan dan bersiap mensejajarkan diri dengan kendaraan Tobi. Itachi mulai bangkit dari kursinya, mengeluarkan setengah tubuhnya dari sisi jendela sambil mencoba membidik.

.

Angin malam seakan membekukan setengah tubuhnya yang melayang dari jendela mobil, Itachi berusaha menyangga tangannya, mencari posisi. Ia harus membidik dari jarak yang cukup jauh—ditambah dengan tubuhnya yang tidak stabil akibat terpaan angin—resikonya cukup besar. Buruknya lagi, gerakan tak beraturan dari mobil Tobi membuat Itachi semakin kesulitan membidik ... dan dari gestur yang terkesan ragu-ragu, Konan menyadari hal itu. Wanita itu menghela napas dalam-dalam, membuat keputusan. Bukannya mensejajarkan mobil dengan Tobi, Konan justru menginjak gasnya semakin dalam. Membuat mobil mereka melaju kencang hingga meninggalkan mobil Tobi, jauh ke depan. Itachi kembali masuk ke dalam mobil, terkejut pada gerakan Konan, "Apa yang kau lakukan?!"

"Relax. Aku paham maksudmu," setelah terpaut jarak yang cukup jauh, Konan segera memutar setir juga mengangkat rem tangan—dia melakukan drift—yang sontak membuat ban berputar sambil berdecit kencang. Mobil hitam itu dipaksa berputar 180 derajat, berbalik arah dan kini justru berhadap-hadapan dengan mobil Tobi. Selesai memutar balik mobil, Konan kembali memacu kendaraan itu menghampiri sedan biru metalik milik Tobi, kali ini dari arah berlawanan.

"Nah, sekarang kau bisa membidik Tobi dalam jarak lebih dekat," kata wanita itu sambil tersenyum simpul, "see? Improvisasi itu penting, tampan ..."

Itachi hanya menyeringai, Konan memberi Itachi kesempatan membidik dari sisi jendelanya sendiri, tanpa harus repot mengeluarkan setengah tubuh atau diterpa angin. Ia segera mengatur jarak tembakan dari jendelanya yang terbuka.

Mobil yang dikendarai Konan maju berhadapan dengan mobil biru metalik milik Tobi; face to face. Jarak mereka semakin dekat, Konan sudah siap memberikan aba-aba begitu jarak jendela mobilnya dan mobil Tobi berselisipan secara presisi. Itachi mengatur napas, jemarinya telah siap pada pelatuk. Ia memejamkan mata sejenak sebelum mengeluarkan kemampuan mata yang diberikan oleh Fugaku Uchiha.

Hanya ada satu kali kesempatan, hanya satu kali kesempatan untuk membunuh Tobi! Itachi mengukuhkan kalimat itu berulang kali dalam benaknya, dia harus menyelamatkan Sasuke.

.

"Sekarang!" Konan mengkonfirmasi posisinya; mereka berselisipan satu sama lain!

Itachi sontak membuka kedua matanya lebar-lebar.

Sharingan!

Pupilnya kini berubah warna menjadi merah dengan titik kehitaman. Dengan kemampuannya, dalam waktu sepersekian detik Itachi mampu melihat sosok adiknya yang tengah dicekik oleh sang pemimpin Akatsuki. Dia memastikan target berada dalam posisi terkunci, mengukuhkan keakuratan bidikannya. Spontan, jemari telunjuknya langsung menarik pelatuk setelah membidik titik mati lawannya; kepala.

.

DOR!

.

.

Sasuke Uchiha mengerjap.

Suara tembakan itu terdengar begitu jelas dari belakang kepalanya, sisi kiri wajahnya terasa hangat dan basah … sementara cekikan pada lehernya terlepas.

Apa yang terjadi?!

Detik berikutnya, Sasuke mendengar Tobi membenturkan kepalanya sendiri pada tengah-tengah kemudi, yang mengakibatkan klakson langsung berbunyi nyaring. Lalu dilihatnya di sana; Obito Uchiha lunglai dan jatuh menabrak kemudi dengan lubang menganga pada tengkoraknya. Pemimpin Akatsuki ini tewas tertembak! Dia sendiri cukup terkejut pada kejadian yang hanya berlangsung selama beberapa detik.

Tobi … tewas?!

.

Lengah sedikit, di hadapannya pohon-pohon besar telah menanti … siap beradu dengan besi boron milik mobil Eropa ini.

Mereka akan bertabrakan!

"Argh, gawat!" Sasuke terkesiap.

Terbangun dari rasa keterkejutannya, Sasuke segera menarik kepala Tobi dari atas setir, mengambil alih dan memutar kemudinya ke arah kanan. Manuver kasar dan tiba-tiba dari Sasuke mengakibatkan badan mobil menukik ke samping, moncong depan mobil sedan itu terhindar dari tabrakan. Tapi buruknya, bagian tengah mobilnya tetap harus beradu dengan pembatas jalan.

"SIAALLL!" tubuhnya berguncang saat badan mobil bergesekkan dengan besi pembatas, Sasuke berusaha keras mengendalikan kendaraannya. Bunyi hantaman dari adu besi itu berbunyi nyaring, berdecit hingga memekakkan telinganya. Badan mobil bergerak tak terkontrol akibat hantaman, susah payah Sasuke mengatur laju kendaraan roda empat tersebut. Pria Uchiha ini menarik paksa rem tangan untuk meminimalisasi laju mobil, ia tidak bisa menggunakan rem kaki karena terhalang oleh tubuh Tobi yang masih tergeletak di bangku kemudi.

.

Perlahan, gerakan mobil yang ditahan oleh rem tangan mulai melambat, meskipun deru dari mesin mobil yang menggerung tetap terdengar nyaring. Ia harus segera keluar dari mobil ini! Sasuke Uchiha berpaling dari kemudi, ia merangkak menuju sisi pintu kanan yang telah hilang, lalu mengambil aba-aba. Beberapa hitungan setelahnya, ia memutuskan untuk melompat keluar. Tubuhnya melayang selama sepersekian detik, kedua tangannya terulur untuk menutupi wajahnya dari benturan. Berguling beberapa kali di atas aspal jalan, tubuh Sasuke Uchiha telungkup sambil mencium aspal.

Ia kehabisan tenaga, luka pada kepalanya sekarang terasa berdenyut. Kesadarannya berada di tengah-tengah, sayup-sayup ia mendengar langkah-langkah kaki mendekat. Seseorang berusaha mengangkat tubuhnya yang terkulai lemas di tengah jalan, lalu menyeretnya entah kemana. Ada jemari yang membersihkan wajah Sasuke dari debu dan noda darah, entah siapa. Onyx-nya kini setengah terpejam, namun bisa merasakan seseorang memanggil namanya berulang kali, perlahan suaranya terdengar semakin menjauh. Kesadarannya menipis.

"Sudah selesai, Sasuke … sudah selesai." Sasuke mendengar isak tangis di sela-sela kalimat itu. Lalu dia tidak ingat lagi bagaimana kelanjutannya, semuanya terasa begitu ringan dan gelap.

.

.

.


"Kepada seluruh rakyat Konoha yang kucintai, hari ini saya berdiri di depan podium untuk menjelaskan semua hal yang telah terjadi. Insiden penyerangan yang dilakukan oleh Akatsuki adalah sebuah teror, sekaligus ujian bagi kedaulatan negara kita. Akatsuki bertanggung jawab atas peledakan gedung parlemen, penyelundupan senjata dalam jumlah besar, juga penyanderaan para dewan petinggi di Safe House. Kini teror Akatsuki telah berakhir, Konoha mampu menghentikan aksi terorisme mereka berkat kepercayaan, kerja sama, juga kegigihan para pasukan dalam memperjuangkan persatuan bangsa.

Tidak sedikit yang menjadi korban, kami menyadari dan menyesali hal tersebut. Mereka wafat saat menjalankan tugas mereka sebagai anggota dewan, mereka gugur dalam misi melawan para gerilyawan, mereka harus menghembuskan napas terakhir demi mempertahankan kedaulatan Konoha. Para korban meninggalkan keluarga, istri, anak, juga semua orang-orang yang mereka cintai demi negara. Namun, setiap jiwa rekan-rekan Konoha yang gugur dalam peristiwa kemarin adalah pahlawan … mereka telah gugur dengan gagah berani! Kita yang masih hidup saat ini menanggung hutang dari pengorbanan nyawa mereka. Kita wajib menghargai pengorbanan mereka dengan cara menjaga kedamaian negara ini, memperkuat kesatuan kita sebagai Warga Negara Konoha.

Mulai saat ini juga … Pemerintah Konoha akan berbenah. Kami akan melakukan segala tindak pembersihan terhadap setiap personil yang berpotensi merugikan negara. Kami akan membenahi kursi kepemerintahan juga para dewan petinggi, berusaha melakukan perbaikan berkala. Atas nama Hokage dan segenap pemerintah Konoha, saya Sarutobi; Konoha mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas semua perjuangan para agen pemberani kita. Kami pun turut berbelasungkawa terhadap semua pihak yang menjadi korban Akatsuki, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

Mari kita bersama-sama membenahi diri dan melupakan dendam satu sama lain. Saling berpegangan dan saling percaya, dan niscaya … kita bisa melewati masalah ini bersama-sama. Terima kasih, dan Tuhan memberkati Konoha." Sarutobi undur diri dari podium. Beliau membungkuk hormat di hadapan kamera-kamera yang terpasang di ruangan konferensi pers. Pagi itu, sesuai jadwal yang telah dibuat, pidatonya disiarkan secara langsung di seluruh stasiun televisi Konoha.

.

.


Konoha – 09.00 AM

Dia bisa mencium aroma alam dari sekelilingnya, merasakan wangi rumput hijau yang tumbuh lahan luas itu. Wanita berambut pink ini melangkahkan kakinya di tengah-tengah rerumputan, rambutnya yang tergerai perlahan dihembuskan angin segar di pagi hari. Namun, berkebalikan dengan cuaca cerah dan teriknya matahari, Sakura Haruno sama sekali tidak menikmatinya, senyumnya menghilang. Sakura menghela napas, setelah Tobi dipastikan tewas ditembak dini hari tadi, ia hanya sempat mengantar Sasuke menuju rumah sakit. Konan mendapat perintah untuk membawa Sakura ke Konoha malam itu juga, mereka segera dipulangkan dari Suna setelah bergabung dengan Sai dan Sora yang sebelumnya telah berada di kedutaan.

Emerald-nya bisa melihat kehadiran Sai, Choji, Shino Aburame, Captain Guy, Hinata juga Neji Hyuga, dan beberapa agen lain yang ia kenal dari divisi keamanan. Semua berbaris dalam diam. Diliriknya batu pusara bertuliskan "Kiba Inuzuka"; salah satu pejuang pemberani yang gugur dalam misi menyelamatkan Safe House. Menurut laporan Captain Guy, anak buahnya mengalami luka parah dan menolak diselamatkan. Kiba memilih untuk tinggal untuk menghentikan pasukan gerilyawan yang berniat memasang peledak di lantai dua Safe House.

.

"Hari ini kita hadir untuk mengenang kepergian salah satu agen yang berbakat, seorang sahabat—"

Ketika kalimat itu diucapkan oleh Captain Guy, wanita yang berada di samping Sakura langsung jatuh terduduk, tangisnya pecah. Kesepuluh jemarinya mengais tanah meski sia-sia, sementara Sakura ikut bersimpuh, ia terus memeluk tubuh si wanita yang menangis histeris. Wanita itu terus berteriak, memanggil, sesekali memeluk pusara tersebut … seakan-akan bisa membangkitkan sosok yang telah terkubur di dalamnya.

Berjarak beberapa meter dari makam Kiba, di salah satu batu nisan itu juga tertulis nama "Shikamaru Nara". Ya, setelah tubuh Shikamaru dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan intensif dari tim dokter, satu setengah jam setelahnya pria jenius ini harus meregang nyawa … Shikamaru kehabisan banyak darah, dan menghembuskan napas terakhirnya di hadapan sang kekasih; Ino Yamanaka. Calon mempelai wanita yang berniat melangsungkan pernikahannya enam bulan mendatang tampak histeris. Ino belum bisa menerima kenyataan yang terjadi, apalagi ketika mendengar fakta bahwa Shikamaru dibunuh oleh atasannya sendiri.

"SHIKAAA, kenapa kau pergi?!" isaknya dalam dekapan Sakura, tubuhnya bergetar hebat akibat emosi yang meluap-luap dalam proses pemakaman kekasihnya. Ino meraung, ia balas memeluk Sakura dan bersandar pada tubuh wanita pink itu, raut wajahnya tampak begitu putus asa, "Sakura … ini … bohong! Shika tidak mungkin … pergi, dia tidak mungkin … meninggalkanku. Iya, 'kan?"

Sakura terdiam, air matanya ikut menetes.

"Enam bulan lagi, Sakura … kami seharusnya—hiks," Ino bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia kembali tenggelam dalam tangisan, duka yang tidak kunjung berakhir.

Kenapa mimpi buruknya berubah menjadi kenyataan?

Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doanya?

Kenapa seorang Ino Yamanaka tidak boleh hidup bahagia bersama orang yang dia cintai?!

.

"Ino, tenanglah … kau harus tegar," ucapan itu terdengar begitu kelu di bibir Sakura. Wanita ini hanya mampu memeluk sahabatnya sambil menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan Ino meski rasanya sia-sia. Dia tahu, dia sangat mengerti bagaimana perasaan Ino saat ini. Bagaimana perasaan kehilangan itu pernah dirasakannya tiga tahun yang lalu, ketika dia menangisi kepergian Sasuke Uchiha. Sekarang … saat Sasuke kembali dalam hidupnya, ketika semua permasalahan Konoha berakhir dengan kemenangan, kenapa sahabatnya sendiri harus berduka? Kenapa Ino harus mengalami kejadian serupa dengan dirinya tiga tahun yang lalu?

Wajah cantik Ino telah sembab oleh air mata yang tidak pernah berhenti mengalir sejak semalam. Sejak mendarat di Konoha beberapa jam yang lalu, Sakura segera menyusul Ino menuju rumah sakit untuk mendampinginya. Hati Sakura benar-benar teriris melihat kondisi sahabatnya yang tampak depresi, seakan-akan seluruh kebahagiaannya direnggut begitu saja. Dia tahu bagaimana Ino menanti-nantikan hari pernikahannya, merencanakan ini-itu, dia ingin tampil sempurna dalam hari sakralnya. Bencana ini adalah sebuah pukulan berat bagi sang calon pengantin.

Tiba-tiba ia merasakan genggaman Ino melemah, Sakura semakin panik ketika tubuh itu lunglai.

"Ino? Ya Tuhan … I—Ino?!" diguncangnya tubuh Ino berulang kali, wanita itu jatuh pingsan. Dari barisan seberang Choji segera bergerak untuk membantu Sakura yang harus menopang tubuh Ino dalam posisi berlutut, namun langkahnya didahului oleh seseorang.

"Aku akan membawa Nona Yamanaka menuju mobil terdekat, kau sebaiknya ikut. Dia membutuhkanmu," ujar pria itu. Sakura Haruno hanya mengangguk lemah, mengikuti pria itu dari belakang. Mengambil tubuh Ino Yamanaka dari dekapan Sakura Haruno, Sai menggendong calon istri Shikamaru menjauhi lokasi pemakaman.

.

.


Konoha's Hospital, VVIP Room A – 10.30 AM

"ADUUH SAKIIT!" Naruto meringis, menyesali perbuatannya. Dia terlalu banyak bergerak saat menghabiskan sepotong kue, yang mengakibatkan luka tembakan dari Kabuto tersenggol karena kesalahannya sendiri.

"Tch. Naruto, sakit atau tidak ternyata sama saja. Ini rumah sakit, kalau kau terus berisik, aku akan panggil dokter supaya dia menjahit bibirmu!" Tsunade yang berada di ranjang sebelah menggerutu. Wanita itu terbaring kaku, namun matanya terus bergerak menelusuri baris demi baris kalimat dari novel populer yang diberikan oleh wartawan yang datang mengunjunginya semalam. Atas permintaan Tsunade juga, pasangan ibu dan anak ini akhirnya digabung dalam satu ruang perawatan.

"Huh. Kau selalu memarahiku, Nyonya Tsuna—eh, maksudku … Ibu," Naruto bisa melihat ekspresi Tsunade tampak terkejut, "kaget? Aku sudah memutuskan untuk memanggilmu demikian, hehe."

Wanita berdada besar itu diam.

"Naruto, ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang peristiwa lima belas tahun yang lalu," Tsunade sontak menutup bukunya lalu mulai bercerita, "sebelumnya aku tidak tahu alasan mengapa aku terpilih untuk menjadi ibu angkatmu … tapi aku menerimanya begitu saja. Belakangan aku tahu, alasannya semata-mata karena kau adalah sahabat Sasuke, ternyata Danzo memiliki obsesi tidak sehat pada satu-satunya Uchiha yang tersisa. Lalu—"

"Yaah—cukup, Bu. Selama ini kau sudah merawat dan membesarkan aku di Konoha. Aku sebagai yatim piatu bisa merasakan lagi kehangatan dari sebuah keluarga, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Peristiwa yang terjadi di masa lalu, Danzo atau apapun itu, aku tidak peduli. Itu tidak akan mengubah ikatan ibu dan anak yang sudah kita jalani selama ini. Aku menyayangi Nyonya Tsunade seperti ibuku sendiri, jadi alasan apapun tidak lagi penting." Naruto menoleh ke arah Tsunade sambil menyeringai lebar.

Wanita di sampingnya hanya mengangguk setuju, "Ya ampun, Naru-chan, aku terharu mendengarnya. Seandainya saja bisa bergerak, aku pasti sudah memelukmu erat-erat."

"Eeh?! Ja—jangan," Naruto langsung menggelengkan kepala, "maaf Bu, tapi aku bisa sesak napas kalau dipeluk dengan dada sebesar itu!"

Rasa haru Tsunade hilang dalam sekejap, tangannya gatal ingin melempari anak itu dengan tabung oksigen, "Aku akan panggil dokter untuk menjahit mulutmu, Naruto."

.

.

Tiba-tiba pintu diketuk, dan seorang gadis bermata lavender masuk ke dalam ruangan. Membawa sebuket bunga dan buah-buahan, senyumnya terkesan malu-malu, langkahnya juga sedikit kikuk. Pasangan ibu-anak yang sedang adu mulut ini mendadak terdiam, mendapati Hinata Hyuga membungkuk hormat ke arah Tsunade sambil menyodorkan buket bunga.

"Ma—Maaf mengganggu," dengan sopan Hinata menyapa sang dewan petinggi, "selamat siang, Tsunade-sama … ba-bagaimana keadaan Anda?"

"Ah, Agen Hinata … keadaanku sudah membaik. Aku bahkan sudah bisa memarahi anak rambut jagung ini, artinya sebentar lagi aku sembuh," sikapnya berubah lembut di hadapan agen wanita itu, Tsunade mengambil buket bunga dari Hinata sambil tersenyum, "terima kasih sudah berkunjung, dan juga untuk bunganya ... cantik sekali."

"I—Iya, sama-sama."

"HINATA-CHAN! Akhirnya kau datang menjenguk!" memotong percakapan Hinata dengan ibunya, Naruto sudah menunjukkan senyum tiga jari, "Ibu, ini Hinata Hyuga; partnerku selama di Suna … dia yang menolongku ketika tertembak oleh peluru si Kabuto."

"Ya. Aku sudah tahu tentang Agen Hinata, sekali lagi terima kasih sudah menjaga anakku yang merepotkan," Tsunade menanggapi dengan ramah.

"Hmm … kau bawa buah untukku, Hinata-chan? Waah kebetulan sekali, aku masih lapar."

Pemilik lavender itu mengangguk pelan. Naruto tidak menyadari rona merah pada pipi Hinata ketika menyerahkan keranjang buah, pria itu terlalu sibuk mengamati beraneka buah yang ada dalam keranjang. Kemudian ia mengambil sebuah apel lalu menggigitnya seperti seorang anak yang kelaparan.

"Ka—Kau terlihat … sehat," Hinata memperhatikan pria ini dari ujung kepala hingga kaki. Jika selang infus dan perban tidak membalut beberapa bagian tubuhnya, pasti wanita ini mengira Naruto sudah sehat sepenuhnya, "bekas luka tembakan itu sa-sakit?"

"Nggak! Ah—ya sakit sih, terkadang," ujar Naruto sambil mengunyah, "tapi aku sehat kok. Sudah kubilang, 'kan … luka seperti ini dijilat juga sembuh!"

.

Dari sisi tempat tidur Naruto terdengar kekehan kecil dari Tsunade. Baru saja lima menit yang lalu dia berteriak kesakitan karena lukanya tersentuh, sekarang bilang lukanya tidak sakit? Dasar bocah sok kuat. Tsunade melirik jahil sementara Naruto Uzumaki mencibir ke arah ibunya. Hinata hanya menanggapi dengan senyuman, senang melihat keadaan pria ini tampak sehat dan ceria seperti biasa. Beberapa jam yang lalu ia sendiri tampak murung setelah menghadiri upacara pemakaman Kiba dan Shikamaru, tapi syukurlah … suasana hatinya kembali membaik setelah datang ke rumah sakit.

"Ngomong-ngomong, Hinata-chan … apa perban ini membuatku jadi terlihat jelek?" Naruto mengisi keheningan di ruangan itu, "Apa aku terlihat menyedihkan?"

Tentu saja Hinata segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ti—Tidak, kok! Sungguh, Naruto-kun te-tetap ehm, tampan … seperti biasanya," Hinata bisa merasakan wajahnya mulai merona setelah menyebut Naruto tampan.

"Benarkah? Haa—aku lega," seringai itu lagi-lagi muncul menghiasi wajah Naruto, "kalau begitu, aku tidak terlihat menyedihkan untuk mengajakmu makan malam, 'kan?"

Hinata mematung … sekaligus memastikan dirinya tidak terkena serangan jantung setelah mendengar Naruto Uzumaki mengajaknya makan malam.

.

.

.


Suna's Hospital, Suna – 11.40 AM

"Ini di mana?" dengan perban di sekeliling kepala, Sasuke tersadar. Setelah mengalami benturan beberapa kali, ia merasa kepalanya berdenyut dan terasa sakit. Dia mengingat-ingat kejadian semalam, Tobi si pemimpin Akatsuki mati tertembak, lalu mobilnya mengalami tabrakan dan … ia tidak ingat lagi. Begitu tersadar ia sudah berada di tempat ini. Di hadapannya telah berdiri sosok Itachi Uchiha, untuk sesaat mereka saling bertatapan dalam diam.

"Ini di rumah sakit. Kau pingsan setelah melompat keluar dari mobil Tobi, Sasuke. Tapi untungnya kepalamu baik-baik saja. Semua lukamu—termasuk luka tebasan pada lengan—sudah mendapat perawatan dari dokter, apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?" senyum dari Itachi mengembang ketika adiknya mengangguk, "Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisimu, Sasuke."

"Di mana Sakura?" adalah pertanyaan kedua yang diajukan sang Uchiha bungsu setelah sadar.

"Oh, kekasihmu … dia baik-baik saja. Sakura diharuskan pulang ke Konoha tadi malam, ada salah satu sahabatnya yang menjadi korban dalam insiden," Itachi menekan tombol panggil di sisi tempat tidur adiknya, "tenanglah, aku sudah janji akan mengabarinya ketika kau siuman."

"Jangan sekarang."

Itachi mengerutkan alis, tidak mengerti, "Kenapa? Apa ada masalah?"

"Tidak, aku hanya ingin menyelesaikan masalah satu per satu. Kau masih berhutang penjelasan padaku," Sasuke membalas tatapan kakaknya, "jelaskan semuanya. Tentang jati dirimu, tentang Uchiha."

Itachi Uchiha tertawa geli, "Ya ampun … ternyata karena itu? Sasuke, aku pasti menjelaskan semuanya … setelah kau diperiksa oleh dokter, oke?"

"Hn." Dari balik pintu, Sasuke melihat pria berjubah putih telah datang bersama seorang perawat. Sosok kakaknya segera mundur dan keluar dari ruangan saat Sasuke diperiksa.

.

.


"Konan-san, sebenarnya kau berpihak pada siapa?" dari bangku belakang, Sakura bertanya. Tubuh Sasuke yang pingsan terbaring di pangkuannya, "Jika kau memihak Konoha, kenapa kau membunuh Agen Jiraiya dan Agen Yuki? Mereka termasuk anggota tim Konoha."

Konan yang masih berada di balik kemudi tampak enggan menjawab, namun tidak punya pilihan.

"Selama ini aku melaporkan pekerjaanku langsung pada Hokage," Konan menjawab dengan nada datar, "Jiraiya memang bekerja untuk Konoha … sekaligus Danzo, hmm … bisa dibilang karena mereka masih punya hubungan saudara. Sebagai pengikut Danzo, Jiraiya pasti mencari tahu tentang keberadaan Sasuke dalam kubu Akatsuki, dan keberadaannya bisa membahayakan posisiku. Sedangkan Yuki, aku tidak tahu ... dia dibunuh oleh salah satu bawahan Kabuto."

"Kau melapor langsung … pada Hokage?" Sakura semakin tidak mengerti. Itachi yang berada di samping Konan pun tampak tertarik pada pengakuan wanita misterius ini.

"Uhm, aku hanya memberikan informasi pada satu orang. Seseorang yang memegang kendali tertinggi dari hierarki kepemerintahan, dan tentunya kau paham siapa saja kandidatnya, 'kan? Aku berhubungan langsung dengan pemimpin dari dua kubu; Hokage dari Konoha, dan Tobi dari Akatsuki."

Itachi terkekeh.

"Bukankah kau juga yang memanggil bala bantuan dari Suna ke mansion?" timpal Itachi, "Sepertinya kau mengenal satu lagi pemimpin, Konan."

"Oh—ya, aku sampai melupakan bantuan dari Kazekage manis itu … Sabaku Gaara," Konan tersenyum kecil, "Beliau meminta bantuanku untuk membongkar perdagangan gelap yang dilakukan Akatsuki, dan dia berjanji akan membantuku. Jadi, ya … kurasa Kazekage memang melakukan tugasnya dengan baik. Bukankah begitu, hm?"

Itachi Uchiha menggelengkan kepalanya berulang kali, merasa takjub pada wanita ini. Dia tidak dapat membayangkan kedok apa yang Konan gunakan dalam menghadapi tiga pemimpin dari tiga kubu yang berbeda, bagaimana bermain peran dan menjaga kerahasiaannya. Terjawab sudah semua misteri mengapa Konan bisa dengan mudah mengetahui letak keberadaan Itachi, bahkan bergabung dan menjadi rekan kantornya. Ya, tentu saja. Jika berhubungan langsung dengan Sabaku Gaara selaku pemimpin Negara Suna … data apa yang tidak bisa ia dapatkan?

.

.


"Sampai kapan kau mau mematung?" suara Sasuke membuat Itachi tersadar dari lamunan, "Bahkan dokter sudah pergi dari lima menit yang lalu … apa kau tidur sambil berdiri?"

"Oh—maaf," Itachi beranjak dari tempatnya, ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Sasuke lalu duduk sambil melipat tangannya, "baiklah, aku akan mulai bercerita. Dimulai dari hubungan kita sebagai kakak - adik yang terpisah …."

Uchiha sulung ini menceritakan semuanya, berawal dari keputusan Fugaku untuk memisahkan kedua buah hatinya demi keselamatan mereka. Tentang kecelakaan yang membuat ingatan Itachi buta dan lupa ingatan, sampai Fugaku merencanakan operasi cangkok mata bernama Sharingan. Berita tentang Akatsuki yang Itachi dapatkan dari Konan ternyata sama dengan yang Sasuke dengar dari pihak Tobi. Tragedi lima belas tahun yang lalu memang berawal dari ambisi terpendam Danzo; pria licik itu berhasil mengambil celah saat Fugaku mengambil data-data penelitian Sora yang "tidak bisa menua", ia memanfaatkan Konoha untuk menghancurkan klan Uchiha agar musnah.

"Jadi, apa Akatsuki tidak bersalah? Mereka memang merencanakan kejahatan yang akan merugikan Konoha. Tapi faktanya, Danzo adalah dalang di balik insiden lima belas tahun yang lalu, dia yang menghabisi klan kita, termasuk ayah dan ibu. Apa menurutmu … teori Tobi bisa kau benarkan, Itachi-nii?" saat memanggil kakaknya dengan sebutan itu, Sasuke tampak sedikit kikuk, "Dia juga seorang Uchiha yang tersisa, selain kita berdua. Apa kau … menyesal telah menembaknya?"

Itachi Uchiha diam untuk memikirkan kata-kata Sasuke.

.

"Dengar, Sasuke … semua orang terikat pada persepsi yang mereka anggap sebagai kenyataan. Tetapi, pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi," Itachi menghela napas dalam-dalam, "dan karena semua orang hidup dalam asumsi, pengertian tentang benar dan salah punya nilai berbeda dari tiap individu. Aku hanya melakukan apa yang menurut asumsiku benar … dan dalam hal ini, aku mengambil keputusan untuk membunuh Obito Uchiha."

Melakukan apa yang menurut asumsinya benar?

"Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan sekarang, Itachi-nii?" Sasuke mendengus, "Selama tiga tahun aku membenci Konoha karena dendam, tapi sekarang … aku tidak tahu."

Pandangan Sasuke menerawang, sang Uchiha memikirkan semua peristiwa yang merantai nasibnya selama beberapa tahun terakhir. Sekarang, rasanya seperti terlepas dari sebuah rantai beban bernama "balas dendam". Tidak dapat dipungkiri, ia masih membenci tanah kelahirannya; Konoha, meski kenangan manis dan pahit tentang negara api tersebut mengalun secara beriringan dalam otaknya. Namun di sisi lain, ia lega karena rencana Akatsuki menguasai Konoha gagal. Perasaannya bercabang dan dia sendiri tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa.

.

"Pada dasarnya manusia diciptakan untuk mendapat kebahagiaan. Jalani hidup dengan caramu sendiri, lalu cintai orang yang berarti untukmu dengan sepenuh hati," Itachi tersenyum, "Kau tahu? Itu adalah pesan terakhir yang ayah sampaikan untuk kita, anak-anaknya. Ayah tidak pernah meminta kita membalas dendam … beliau hanya ingin kita bahagia, Sasuke."

Keduanya diam selama beberapa saat, sebelum keheningan itu terpecah setelah seorang perawat datang dan membawakan makan siang untuk Sasuke.

"Sakura … dia penting bagimu, 'kan?" Itachi tiba-tiba bersuara, "Kalau begitu, kau tidak perlu bingung. Kejar kebahagiaanmu, Sasuke. Sebelum semuanya menjadi rancu … sepertiku."

"Hn? Apa ini menyangkut hubunganmu dengan Konan?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Jangan bilang kau terlibat cinta sepihak, dan wanita itu menolakmu ... huh, skenario yang cukup dramatis."

"No comment." Itachi terkekeh, merasa hubungannya dengan sang adik mulai menghangat. Ia hanya diam sambil memperhatikan Sasuke mengambil makan siangnya, mengamati tiap menu dalam piring tersebut. Onyx mereka sekali lagi bertatapan, seakan-akan mampu berkomunikasi dalam diam.

"Apa Itachi-nii akan pulang ke Konoha?" Sasuke menyendok makanannya.

"Sayangnya tidak, aku tercatat sebagai Warga Negara Suna. Apa kau lupa kalau kata 'Uchiha' sudah hilang dari namaku?" Itachi menyeringai dan melihat adiknya menganggukkan kepala, "Tapi sebagai gantinya, aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu. Dengan benda itu, sebagai seorang Uchiha … kau berhak memutuskan semuanya. Aku percaya padamu, Sasuke."

Sasuke tidak mengerti, tapi dia tidak bertanya apapun. Toh dia akan tahu hadiah apa yang diberikan sang kakak untuknya. Pria ini akhirnya kembali diam sambil melanjutkan makan siangnya.

.

.

.


Konoha – lima hari setelah Insiden Akatsuki

"Sasuke, apa doamu?" Bocah perempuan itu terlihat begitu antusias mengekor setiap gerakan dari pria emo di sampingnya. Emerald-nya tampak bersinar indah, memancarkan semangat yang mampu dirasakan oleh onyx gelap yang dimiliki si bocah. Mereka masih berada di kuil, menuruni puluhan anak tangga setelah mengucapkan permohonan bersama-sama.

"Aku ingin jadi kuat dan hebat. Soalnya, kalau sudah besar aku ingin jadi agen keamanan Konoha supaya bisa menyelamatkan Negara ini. Itu cita-citaku!" ucap bocah itu dengan lugu.

Sasuke seperti melihat sosoknya sendiri berada di sana, ia menerka ulang kenangan masa kecilnya. Ingatan yang membimbingnya menuju tempat ini untuk berdoa, kenangan tentang wanita itu. Dari dulu, dia bisa merasakan rasa optimisme besar dari sosok Sakura Haruno … semangat yang lambat laun mengikis rasa sepi ketika hidup sebatang kara sebagai yatim piatu.

.

"Katanya doa orang lain lebih ampuh lho, jadi aku juga akan berdoa untukmu! Kita akan sama-sama melindungi Konoha. Janji, ya?"

Janji untuk melindungi Konoha. Dia teringat pada janji masa kecilnya, janji yang ia abaikan selama tiga tahun setelah mendapat fakta tentang masa lalu Uchiha. Dia merasa dicurangi, kenyataan itu menghancurkan seluruh harapan dan cita-cita mulia-nya untuk Konoha. Bagaimana mungkin hidupnya selama belasan tahun hanya dibentuk seperti bidak catur oleh seorang Danzo?

.

Si bocah Sasuke menatapnya heran, "Memangnya tadi kau memohon apa?"

"Kalau aku mengatakannya, nanti doanya jadi tidak terkabul!" Sakura mencoba mengelak, "Tapi janji ya, Konoha ini akan kita lindungi dari orang-orang jahat, Sasuke! Kita berdua, bersama-sama!"

Jemari kecil keduanya bertautan, diiringi senyuman dan keyakinan yang menghiasi wajah mereka.

Pria Uchiha ini diam saat gambaran itu terlintas dalam otaknya. Ia bisa mengingat ekspresi Sakura kecil yang tersenyum antusias ketika mereka bergandengan tangan. Rasanya hangat, aura positif milik wanita itu terasa mengalir lewat kontak fisik sesederhana itu; berpegangan tangan. Sasuke menunduk seraya memandangi telapak tangannya sendiri, mengira di mana posisi jemari Sakura saat terkait dengan miliknya, mengingat-ingat rasa sentuhannya yang nyaman.

.

"Ya. Aku janji…"

Spontan, Sasuke Uchiha mengepalkan tangannya, seperti meraih sebuah keyakinan baru. Sesuai dengan janji masa kecilnya, dia sudah berjanji untuk melindungi Sakura. Wajahnya tampak begitu yakin pada keputusannya, dia belum terlambat untuk menepati janji itu.

"Jalani hidup dengan caramu sendiri, lalu cintai orang yang berarti untukmu dengan sepenuh hati."

Mulai sekarang, dia akan berusaha melaksanakan amanat terakhir dari ayahnya. Jika memang manusia diciptakan untuk mendapat kebahagiaan, maka tidak ada gunanya terus mendendam dan meratapi kesedihan. Dulu, dia memang melakukan kesalahan. Dulu, dia pernah meninggalkan segala yang ia cintai, mengubur semua perasaannya demi pembalasan dendam. Tapi dia tidak akan terus terpuruk dalam penyesalan. Dia bisa berubah. Masih belum terlambat untuk mengejar kebahagiaan itu sendiri.

.

.

Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Konoha … setelah tiga tahun menghilang bersama Akatsuki. Angin sepoi-sepoi membelai wajahnya yang mulai berkeringat setelah menuruni tangga. Menjinjing tas ransel di punggung, pria Uchiha ini menikmati cuaca cerah hari itu. Rasanya daerah ini sama sekali tidak berubah, masih sama persis seperti ingatannya.

Tentu saja, dia tidak memberitahukan kepulangannya pada Sakura. Pemilik iris emerald itu masih disibukkan oleh semua urusannya di Konoha; mengurus laporan misi sekaligus mendampingi Ino yang masih terpukul setelah kepergian Shikamaru. Sebenarnya, Sakura berniat menjenguk Sasuke di Suna dua hari mendatang … akan tetapi pria berambut raven ini sudah diperbolehkan rawat jalan lebih cepat dari perkiraan. Jadi, di sinilah ia berada sekarang … Negara Konoha.

"Sa—Sasuke?!"

Suara itu terdengar familiar. Onyx-nya yang semula menatap tanah, kini terangkat.

.

"Kau … Sasuke, 'kan? Ke—kenapa kau bisa ada di Konoha?!" dari jarak yang terpaut beberapa baris anak tangga, mereka berhadap-hadapan. Sasuke Uchiha tetap membisu, dengan senyum yang merekah ia bergegas menuruni tangga itu … memperkecil jarak antar mereka.

"Kau benar-benar Sasuke? Apa yang—" ucapannya terputus.

Kedua tangan Sasuke kini terulur dan mendekap gadis itu dalam pelukan. Pupil sang wanita terbelalak tidak mengerti, mengira ini hanya khayalan semata. Dia tidak percaya.

Bagaimana mungkin seorang Sasuke Uchiha berada tepat di depan matanya?!

"Sa—Sasuke-kun?!" bisiknya masih tidak percaya.

"Sakura, kaget melihatku?"

Tanpa melihat pun, pria ini tahu Sakura sedang mengangguk dalam dekapannya, "Kenapa kau bisa ada di … Konoha? Aku—sangat terkejut. Sudah kubilang kan, aku akan menjengukmu lusa?!"

"Hn. Tapi aku tidak bisa menunggu sampai lusa tiba, jadi … aku memutuskan untuk mengunjungimu," senyum tipis terpatri di bibir Sasuke saat wanita itu balas memeluk tubuhnya, mereka diam mematung selama beberapa detik. Merasakan kehadiran masing-masing, Sasuke menyesap wangi cherry dari surai merah jambu milik wanitanya, "Mungkin bisa dibilang … aku merindukanmu, hn?"

"A—Aku juga sama," gumam Sakura, "dan akhirnya … kau pulang ke Konoha."

Ya … Sasuke Uchiha telah kembali.

"Tadaima."

"Okaeri, Sasuke-kun …" Sakura mempererat genggamannya pada punggung Sasuke, menyadari ini bukan mimpi semata. Penantian dan doanya selama ini kini tergenapi, keberadaan pria yang dicintainya memang nyata. Perlahan, Sasuke melepas pelukannya dari tubuh Sakura, dan keduanya bertatapan.

Sekali lagi, Sakura Haruno memastikan kehadiran sang pria Uchiha dengan mata kepalanya sendiri. Wanita bersurai pink ini menyunggingkan senyum terbaiknya.

.

Sasuke sudah berada di tempat yang tepat, pulang pada tanah kelahirannya ... rumahnya.

.

.


"Kenapa kau bisa datang ke tempat ini?" menggenggam jemari wanitanya, Sasuke membawa tubuh Sakura menuruni tangga lalu menjauhi kuil.

"Aku memang sering datang ke sini untuk berdoa, Sasuke," Sakura tersenyum, "seharusnya aku yang terkejut melihatmu di sini. Oh—apa kau ingat, dulu kita pernah berdoa di kuil ini? Memohon agar ketika dewasa, kita menjadi pelindung Konoha?"

Sasuke mengangguk.

"Ya, meski aku tidak tahu apa isi doamu," jawab pria ini sambil mengingat kembali masa lalunya.

"Ahaha, iya sih. Tapi itu dulu, aku bisa memberi tahu isi doaku sekarang, kok!"

"Hn?" kedua alis sang Uchiha terangkat, terkejut pada jawaban lugas wanita itu.

"Kami-sama, aku dan Sasuke-kun sudah berjanji untuk menjadi pelindung Konoha bersama-sama. Kelak, jika kami sudah dewasa … tolong izinkan agar aku tetap mendampingi Sasuke. Aku ingin tetap berada di sampingnya, berjuang bersamanya, saling melindungi satu sama lain seperti sekarang. Dan yang terpenting, izinkan kami bersama-sama meraih kebahagiaan!" Sakura berkata dengan lantang, nadanya ceria dan begitu bahagia. Emerald-nya tampak berbinar saat menatap pria itu.

Meskipun langka, kali ini Sasuke tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Perlahan ia menoleh, menatap sosok wanita di sampingnya … seseorang yang terus mendampinginya dalam kesepian, menjadi sahabatnya sejak kecil, wanita yang setia menantinya bahkan ketika dia dinyatakan meninggal. Sakura Haruno; menjadi sosok wanita yang kini paling berarti bagi sang Uchiha bungsu, wanita yang membuatnya bahagia.

.

"Doa yang bagus. Tapi, jika mengatakan isi doamu, apa kau tidak takut permohonannya tidak terkabul?" genggamannya pada tangan Sakura mengerat, seakan tidak ingin melepaskan wanita ini lagi.

"Hee, tentu saja tidak," Sakura Haruno menggeleng, dengan riang ia mengayunkan tangan yang mengait jemarinya dengan pria itu seperti seorang anak kecil, "karena dengan keberadaanmu di sini … semua doa dan permintaanku sudah terkabul, Sasuke-kun!"

.

.

.

THE END

.

.


Author's Note :

Chapter dua puluh dua selesai, sekaligus mengakhiri cerita Shattered Memories. Akhirnya, TAMAT! Cukup panjang ya, sekitar 9.800 words, asalnya mau dibuat 2 part tapi nggak jadi (nanti jadi mirip film bioskop ala vampir, LOL).

Akhirnya saya memutuskan buat bikin Epilogue. Ditunggu ya chapter epilogue-nya, akan publish lebih cepat dari tanggal 20. :D

Karena ini chapter terakhir, saya mohon review-nya tentang kesan-kesan cerita ini, ya? Selain itu, saya mau tanya sedikit … kira-kira karakter favorit kalian di Shattered Memories ini siapa?

Saya ucapkan terima kasih banyak atas semua reviews, fave dan follow yang sudah masuk dari chapter pertama sampai sekarang, terima kasih juga untuk semua readers yang meluangkan waktu buat baca cerita ini sampai akhir, banyak kasih semangat, bahkan mengirimkan PM entah itu pertanyaan atau ide. Saya sendiri nggak nyangka kalau SM bisa banyak yang baca, padahal ini fanfic pertama saya di thread Naruto, sekali lagi arigatou gozaimasu!

.

Dan ini balasan review chapter dua puluh satu :

UchiHarunoKid : siip, saya update nih mampir lagi ya!

Levi : hahaha Naruto cute? Thanks reviewnya :D

Mizuira Kumiko : Kiba gugur … termasuk Shikamaru sist. Hahaha iya Tobi kena tipu sama Konan juga, thank you buat reviewnya dan mampir lagi buat RnR ya.

Vicky Prasetyo : astaga, Om Vicky yang statusisasinya heboh kemarin ini sempet kasih review dan doa buat Sasusaku. Terima kasih buat reviewnya lho.

Uchiha Shesura-chan : halo, syukurlah kalau chapter kemarin menghibur termasuk waktu Naruto shock dengan kemampuan Hinata nyetir, dan Itachi nggak jadi histeris setelah Konan masih hidup. Saya update, dan tamat nih. Review yaa.

Nitya-chan : siip, saya update nih mampir lagi ya!

Gita zahra : Neji jadi cukup banyak muncul bahkan bantuin Sai, chapter kemarin Sasusakunya memang sedikit, tapi tenang … Sasusakunya ada lagi kan di chapter ini :D

Alifa Cherry Blossom : hehehe saya memang menekankan di adventure-nya jadi romance nggak terlalu banyak per chapter, tapi chapter ini Sasusakunya muncul lagi kan. Epilogue ditunggu aja Sasusakunya udah pasti ada kok. RnR yaa?

cherryemo : Siap, epilogue lagi diketik nih, Konan hidup kok, tapi Shika-nya yang nggak *gomen*

Love Foam : iya semua sudah terkuak sekarang, dan sudah ada penjelasannya masing-masing ya, terus semua pertanyaan di chapter kemarin soal Konan, Sora, Sai, Tobi, Shika, Kakashi … semua sudah terjawab ya. Ditunggu aja epilogue-nya dan terima kasih kalau suka sama Hegemony :D

Yamaneko achil : maaf ya Shikamaru tewas dan Kakashi sengaja saya buat antagonis di sini. Sasusakunya nggak mati kok, RnR lagi ya?

Tsurugi De Lelouch : oke saya nggak panggil senpai deh sist Wulan, gaya nyetir Hinata jauh berbeda sama sifatnya yang pemalu ya hahaha, tapi saying Shikamarunya harus tewas, thank you sudah mampir!

alluca : Konan nggak mati, hahaha dan syukurlah kalau scene Naruto bikin ngakak xD

guest : siip, saya lanjut nih!

aipon : halo, salam kenal juga. Wah suka sama Konan? Ternyata ada yang suka Konan selain saya, waduh chapter kemarin kurang greget ya, semoga yang kali ini bisa lebih seru, review lagi ya?

selaladrews : Hahaha Lala-chan ngumpulin 50 jempol darimana tuh? xD Btw maaf ya Shikamaru akhirnya mati *sembunyi*, tapi Konan selamat kok. Tenang aja, chapter epilogue bakalan ada … lagi dalam proses kok. Tapi endingnya udah ketahuan kan, semoga suka! RnR lagi oke?

hanazono yuri : siip, saya update nih Yuri-chan, mampir lagi ya!

roquezen : Naruto panik gara-gara Hinata nyetir ya, haha … tetep aja sukanya sama Sai, sist? LOL.

Foetida : kalau dia tahu tipu muslihat Konan sejak awal nggak akan bisa kayak gini ceritanya, Foe … harus dirombak lagi dari awal, capek dong. Iya memang, Itachi se-histeris apapun saya tetap selamatkan Konan. xD Alasan Kiba mati udah jelas kan dia luka parah. Misi khusus Naruto untuk membunuh Sasuke otomatis ditiadakan dong, berhubung yang ngasih tugasnya juga Kakashi.

NE : Konan hidup, dan Neji di sini banyak bantuin tim ya. Siip, saya kabulkan requestnya minta epilogue, hahaha Sasuke yang unyu unyu menye itu kayak apa? Sebagian Sasusakunya sudah ada sekarang ya, nanti di epilogue muncul lagi kok.

Reako Mizuumi : konspirasi mengingatkan pada konspirasi hati statusisasi maksudnya? LOL, updatenya satu jam sekali sih tangan author-nya Parkinson, dong xD. Thank you reviewnya, RnR lagi ya?

Kasih hazumi : wah terima kasih untuk fave dan semangatnya, kalau boleh, RnR lagi oke ^^

Sherlock holmes : halo, senangnya Tuan detektif kembali … banyak kasus yang harus dipecahkan ya sepertinya? Sasusaku sudah kelihatan Happy ending kan? Thank you reviewnya lho!

Akasuna no ei-chan : ei-chan akhirnya muncul lagi! Terima kasih banyak, masa tinggal di filmkan? Bisa aja *terharu*, iya nggak apa yang penting ei-chan muncul lagi. RnR lagi yaa…

Guest 2 : halo, terima kasih buat reviewnya dan saya senang kalau fanfic ini dibilang bagus apalagi keren. Action dan penjelasan senjatanya semoga bisa dideskripsikan cukup baik ya, meski sebenarnya yang bikin saya kesulitan itu bagian romance-nya, LOL. Endingnya sudah ada, tinggal epiloguenya aja, thank you sekali lagi, RnR? :D

Alisha Blooms : Halo Alisha! Hehe iya Konan berhasil nipu Tobi tuh, Danzo dan Kabuto mati di ruangan yang sama, Kabuto nggak peduli bakalan dibunuh … yang penting Danzo mati. Sebenarnya tangan kanan Tobi yang paling setia itu memang Kabuto. Hahaha nggak salah otak / sakit kok, saya memang mencoba bikin Sai-Sora agak ringan, apalagi sifatnya Sora itu cerewet dan sinis. Endingnya udah keliatan kan? Hehehe iya ditunggu nih kalau mampir di Hegemony, okee saya semangat! :D

cheinnfairy : ah akhirnya mampir lagi, iya sekarang tamat! *mohon maaf buat Kakashi di sini saya buat jadi antagonis, sekali-sekali nggak apa ya xD* Udah publish kok, judulnya Hegemony … mampir ya, liat aja di profile saya ^^ Actionnya belum tahu bakalan ada atau nggak, saya lagi coba genre Sci-Fi. Semoga cerita yang baru ini juga bakalan disukai ya? RnR lagi untuk chapter terakhir SM? ^^

Sekali lagi, thank you semuanya!

-jitan-