Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.
Buat yang belum jawab, siapa karakter favorit kalian di cerita ini?
Selamat membaca epilogue dan jangan lupa RnR karena ini terakhir, lho!
.
.
.
SHATTERED MEMORIES
EPILOGUE
.
.
Pria berusia tiga puluh tahunan itu bersiul sambil melakukan patroli dalam lorong sunyi yang diterangi lampu berwarna putih pada langit-langitnya. Mengenakan earphone dengan pemutar musik , telunjuknya seakan menari di udara mengikuti irama lagu. Rutinitas harian yang membosankan, sesekali ia menengok keadaan para tahanan yang berada dalam ruangan isolasi. Mengira-ngira bagaimana perasaan para tahanan setelah dipisahkan dari kebebasan dunia luar, kehidupannya dibatasi dengan tembok penjara dan jeruji besi sampai jangka waktu tertentu.
Tiba-tiba, ia berhenti.
Penglihatannya menangkap sebuah pemandangan ganjil dari salah satu ruang tahanan, ia memincingkan mata dan terbelalak. Di sekitar tempat tidur sang tahanan dipenuhi oleh cairan berwarna merah, sprei putihnya digenangi oleh noda darah. Tahanan dalam ruang isolasi itu sendiri tergeletak di sisi tempat tidur, wajahnya pucat. Petugas patrol ini menyadari sesuatu, ia segera berlari untuk meminta bantuan.
"Oh—shit … PANGGIL TIM MEDIS, CEPAT!" sipir penjara itu berteriak lewat intercom yang tersebar di beberapa sudut ruangan, "Tahanan dari ruang khusus butuh penanganan darurat! KAKASHI HATAKE MENGGIGIT LIDAHNYA SENDIRI SAMPAI PUTUS! Kuulangi; tim medis, ini panggilan darurat!"
.
Kakashi Hatake.
Nasib mantan pemimpin Divisi Keamanan Konoha ini harus berakhir di balik jeruji besi. Hasil persidangan membuktikan bahwa Kakashi terlibat dengan rencana Danzo untuk melenyapkan Uchiha, data-data yang berhasil diambil oleh Neji dan Shikamaru—yang berada pada tas yang dititipkan Choji untuk Ino—menjadi bukti yang menyatakan bahwa Kakashi adalah satu-satunya personil Konoha yang masih hidup saat mengadakan kontak senjata dengan Fugaku.
Hasil pembicaraan pribadi antara Hokage Sarutobi dan Tsunade juga terbukti; ada kejanggalan, di mana senjata yang dibawa Fugaku tidak sesuai dengan peluru yang menembus dua rekan Kakashi saat itu. Sebaliknya, pelurunya serupa dengan senjata yang digunakan Kakashi selaku petugas keamanan Konoha. Bukti nyata yang paling memberatkan alibinya adalah hasil rekaman suara pada ponsel Agen Shikamaru, Kakashi mengaku telah membunuh Fugaku dan istrinya, juga menusuk Shikamaru Nara dengan pisau hingga tewas.
Pada saat persidangan, Kakashi sama sekali tidak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan oleh jaksa. Dia juga tidak bersedia didampingi oleh pengacara, pria ini memilih bungkam. Pengadilan mempertimbangkan segala bentuk kejahatan Kakashi, termasuk memperhitungkan segala jasa yang telah ia lakukan sebagai seorang pemimpin divisi keamanan. Akhirnya Pemerintah Konoha memberikan hukuman pidana selama dua belas tahun penjara dalam ruang isolasi.
Dalam kurun waktu beberapa bulan berstatus sebagai tahanan, pria ini tercatat telah melakukan tiga kali percobaan bunuh diri dalam sel. Depresi setelah karir dan kewibawaannya hancur dalam sekejap, pada usaha yang keempat Kakashi nekad menggigit lidahnya sendiri hingga putus. Saat dibawa oleh tim medis untuk mendapat penanganan darurat, ia berhasil merebut peralatan dokter lalu mengiris urat nadinya menggunakan pisau bedah. Kakashi Hatake dinyatakan tewas setelah sembilan puluh enam hari menyandang status sebagai narapidana.
.
.
Konoha – Enam bulan setelah Insiden Akatsuki
Selama enam bulan pasca penyerangan Akatsuki dan terkuaknya beberapa dewan pemerintah yang bermain kotor dalam politik, Konoha perlahan-lahan memperbaiki susunan kursi kepemerintahannya. Negara Konoha membeberkan fakta mengenai keberadaan Sora kepada masyarakat, kecuali kenyataan bahwa bocah sepuluh tahun ini tidak bisa menua. Sekarang Sora menikmati hari-harinya sebagai ahli ekonom, dia mulai bersosialisasi dengan para dewan, dan kini menekuni hobi menembak. Selama satu bulan setelah lolos dari Insiden Akatsuki, bocah ini mengaku mengidap alergi pada jogging.
Setelah masa jabatannya berakhir, dua bulan yang lalu Sarutobi menyerahkan gelar Hokage kepada Tsunade; wanita ini mendapat kemenangan mutlak berdasarkan pilihan rakyat. Terpilihnya Tsunade juga mengukuhkan namanya sebagai wanita pertama yang menjadi Hokage. Hyuga Neji tetap berprofesi sebagai pendamping Hokage, dan dalam hal ini Neji harus ekstra bersabar ketika menjadi sasaran empuk kemarahan Tsunade saat ia mabuk. Namun berkat kesabaran pria itu juga, lambat laun Tsunade merasa bersalah dan mulai mengatur kadar konsumsi alkoholnya.
Divisi Keamanan Konoha mengalami perombakan yang cukup signifikan setelah kehilangan beberapa agen berbakat. Akhirnya setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, Might Guy atau Captain Guy ditunjuk untuk menggantikan posisi Kakashi Hatake menjadi Head of Konoha's Security Division. Shino Aburame dan Choji dipindah-tugaskan ke kedutaan Suna untuk menggantikan posisi Jiraiya. Secara mengagumkan namun bisa diprediksi, prestasi Sai sebagai agen junior yang bertahan dengan slogan "misi adalah misi" meroket naik, ia dipromosikan sebagai wakil Guy. Posisi penting Shikamaru masih sulit tergantikan oleh satu orang, untuk mengantisipasi hal tersebut Sai membentuk beberapa tim IT yang bertugas membantu agen lapangan dalam menjalankan misi.
.
Sasuke Uchiha mendapat kembali hak-haknya sebagai Warga Negara Konoha. Batu nisan-nya dicabut dua minggu setelah kedatangannya di Konoha, akte kematiannya juga dihapuskan.
Sebelum pergi dari Suna, Itachi menitipkan sebuah koper yang berisi seluruh data penelitian Sora yang diambil oleh Fugaku Uchiha. Ternyata Fugaku sengaja mengirimkan data-data tersebut pada Itachi yang namanya sudah bersih dari Uchiha, yang mengakibatkan keberadaan data tersebut sulit dilacak. Sesuai persetujuan Tsunade sebagai Hokage dan disaksikan oleh beberapa dewan petinggi, seluruh berkas mengenai penelitian Sora akhirnya dibakar. Hokage sependapat dengan Fugaku, bahwa kehidupan dan umur manusia merupakan rahasia Ilahi yang tidak seharusnya ditelaah melalui jalur ilmiah.
Setelah kejahatan Danzo terkuak, seluruh nama klan Uchiha dibersihkan dari tuduhan sebagai pemberontak negara. Secara resmi Negara Konoha mengajukan permintaan maaf kepada Sasuke selaku satu-satunya klan Uchiha yang tersisa (keberadaan Itachi tidak pernah diketahui oleh Konoha). Sebagai bentuk permintaan maaf, Konoha juga memberi sang Uchiha sejumlah materi dan tempat tinggal, juga mengembalikan karirnya sebagai agen keamanan. Bersama Naruto, kombinasi Teme – Dobe di divisi keamanan terbilang cukup tangguh meski sifat mereka berkebalikan satu sama lain.
.
.
Setelah Naruto Uzumaki berhasil mengajak Hinata Hyuga makan malam bersama, hubungan mereka berjalan cukup baik selama enam bulan terakhir. Pria berambut jagung ini menyerah soal Sakura dan mulai membuka hati pada partner kerjanya di Project Suna … yaitu Hinata. Karena kagum dengan kemampuan menyetir Hinata yang "luar biasa menegangkan", Naruto juga bersikeras mengajarinya secara privat, termasuk mendukung keinginan Hinata yang ingin mendapat lisensi izin mengemudi. Berkat otak cemerlangnya, wanita itu mendapatkan nilai sempurna dalam ujian lisan, dan kini Naruto sedang menunggu hasil ujian praktek Hinata dalam mengemudi.
"Woaah Hinata-chan, kau berhasil!" Naruto berdiri seraya bertepuk tangan ketika gadis itu menghampirinya dengan wajah berseri-seri. Menunjukkan sebuah kartu izin mengemudi, Hinata berhasil mengendarai mobil selain dalam game, "Selamat ya!"
"Te-Terima kasih, ini juga berkat Naruto-kun … kau yang su-sudah mengajariku menyetir," senyum malu-malu dari Hinata saat itu terlihat begitu menggemaskan, "akhirnya … a-aku berhasil."
"Yeah! Tentu saja, siapa dulu mentornya; NA-RU-TO!" ujar Naruto sambil mengusap hidungnya, dia merasa bangga, "Kau memang hebat kok! Ayo kita rayakan hari pertama Hinata-chan mendapat lisensi mengemudi! Aku yang traktir, katakan saja kau mau makan apa?"
"Ah—tidak perlu, ha-harusnya aku yang mentraktirmu," Hinata menggeleng pelan, "ti-tidak perlu dirayakan juga tidak apa. Su—sungguh, Naruto-kun!"
Tapi pria di sampingnya tampak terlalu antusias, ia sudah berjalan beberapa langkah di depan Hinata sebelum akhirnya berhenti lalu menoleh ke belakang.
.
"Ooh—ya ampun … bodohnya! Padahal aku sudah ingat tadi pagi, kenapa aku bisa lupa?!" Naruto menepuk kepalanya sendiri dan membuat Hinata terheran-heran. Selanjutnya pria itu tersenyum lebar; senyum tiga jari andalannya menjadi pemandangan silau bagi Hinata selama beberapa saat.
Berjalan mendekati tubuh gadis itu, Naruto sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi mereka, lalu sebelah tangannya diletakkan di pundak Hinata, "Hinata-chan, aku menyukaimu! Apa kau mau berkencan denganku?"
Lavender milik wanita itu terbelalak tak percaya.
"Sejak kita mendapat misi di Suna, aku tertarik pada beberapa sifatmu yang … kurasa menarik? Lalu, selama beberapa bulan terakhir kita juga cukup dekat, 'kan? Hehehe, akhirnya aku sadar kalau perasaanku padamu bukan sekedar partner kerja, jadi—" ucapan Naruto terputus setelah melihat ekspresi lawan bicaranya yang tak bergeming, "Hei, Hinata-chan? Kau dengar tidak? Hinata, HALO?!"
Hinata Hyuga sama sekali tidak menjawab, tubuhnya seakan kaku.
"HINATA-CHAN? Ka—Kau kenapa diam saja?!" Naruto mendadak panik, "Jangan bilang kau kena serangan jantung karena perkataanku barusan, Hinataaa!"
Saking paniknya, ia mulai mengguncang pundak Hinata.
"HINATA, SADARLAAH!"
"A—Eeh, i-iya Na-Naruto-kun," Hinata tersadar setelah guncangan Naruto membuatnya sedikit pusing. Mengingat kembali perkataan pria itu membuatnya langsung merona. Demi Tuhan … hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya!
"Fyuuh … kau baik-baik saja? Apa aku membuatmu shock?" pria itu tampak cemas setengah mati.
"Ma—Maaf membuatmu kaget," Hinata bergumam pelan, "hanya saja, a-aku … terlalu … se-senang."
.
"Senang? Apa artinya kau menerimaku?" Iris biru cerah milik Naruto kembali berbinar, apalagi ketika melihat rona pipi Hinata yang semakin memerah.
Hinata mengangguk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"HOREE!" dan secara spontan si pemilik rambut jagung ini memeluk tubuh mungil Hinata tanpa peduli bahwa mereka masih berada di tempat umum. Bobot tubuh Hinata yang ringan sampai terangkat beberapa senti dari atas tanah karena pelukan erat dari Naruto, sementara si pemilik lavender juga tersenyum. Sebelum melepas pelukannya, Naruto langsung mendaratkan satu kecupan kecil di pipi Hinata, dia sangat bahagia.
Tapi di sisi lain, ciuman tiba-tiba itu membuat Hinata … sekali lagi mematung.
Sejak mereka resmi berpacaran, Tsunade juga semakin akrab dengan Hyuga bersaudara. Bagaimana tidak, Neji adalah sekretaris yang mengurus segala keperluannya sebagai Hokage, sedangkan Hinata otomatis menjadi calon menantu kesayangannya. Wanita itu mulai memaksa Naruto agar cepat mempersunting Hinata dengan alasan konyol; dia ingin melihat anaknya menikah sebelum keindahan bentuk dadanya berkurang karena faktor usia.
.
.
.
"Shika, enam bulan setelah penyerangan Akatsuki, Konoha sudah kembali tenang … semua ini juga berkat jerih payahmu lho," kata wanita berambut pirang itu sambil meletakkan beberapa kuntum bunga di atas makam calon suaminya, "ngomong-ngomong … apa kau ingat hari ini, Shika? Seharusnya … hari ini kita menikah. Seharusnya, hari ini aku mengganti nama margaku menjadi 'Nara'."
Selama empat puluh hari setelah kepergian Shikamaru, Ino Yamanaka tampak sangat terpukul. Ia menolak kehadiran siapapun selain orang tuanya dan Sakura. Namun, lambat laun ia mulai menata ulang perasaannya … menyadari hidupnya belum berakhir. Sakura-lah yang menjadi penopang ketika ia depresi, Ino menghargai tiap usaha sang sahabat yang terus memberikannya semangat untuk tegar. Hubungannya dengan keluarga Nara pun terbilang cukup baik, bahkan ibu Shikamaru sudah menganggap Ino seperti anaknya sendiri.
"Kau juga tidak akan setuju kalau aku terus-terusan sedih … aku tahu kok, aku sendiri berusaha tegar untuk … merelakan kepergianmu. Kau juga sudah bahagia di sana, 'kan? Karena itu … aku tidak boleh sedih lagi," berdiri selama beberapa menit sambil memandangi pusara Shikamaru, Ino berusaha menguatkan hatinya, "Terima kasih untuk semuanya, Shika."
Saat sedang asyik bercakap-cakap, Ino merasakan ada kehadiran seseorang di belakangnya—yang tengah menatap punggungnya. Seperti enggan menyela Ino yang berada di makam Shikamaru, sosok tersebut hanya diam sambil mengambil jarak.
Perlahan, ia menoleh.
.
Begitu melihat sosok itu, Ino Yamanaka segera berdiri dan menunduk hormat, "Ah, A—Anda..."
"Maaf, aku tidak ingin mengganggumu, Nona. Silahkan lanjutkan, aku bisa menunggu," jawab pria itu dengan nada datar. Berada di tengah-tengah rerumputan, mengenakan pakaian hitam dengan atasan abu dan membawa sebuah botol minuman, Sai berdiri … menjaga jarak sekitar dua meter dengan makam Shikamaru, seperti tidak ingin mengganggu acara ziarah Ino Yamanaka.
"Tidak usah kaku begitu, aku juga sudah selesai," Ino berusaha tersenyum.
Setelah mendengar kalimat tersebut, Sai akhirnya mendekat. Pria itu menaruh sebotol arak di atas pusara, dan Ino mengenali merek tersebut merupakan salah satu minuman favorit Shikamaru. Berbeda dengan Ino yang berbicara panjang lebar, Sai hanya diam membisu sambil menatap batu nisan selama beberapa detik.
"Kau tampaknya cukup dekat dengan Shika," gumam Ino ketika Sai melirik ke arahnya, "maksudku … kau juga tahu minuman kesukaannya."
"Hn. Dia teman minum yang baik, aku berhutang satu botol padanya." jawabnya singkat. Ino hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun lagi, toh sebenarnya dia tidak pernah mengenal Sai selain dari cerita Choji atau Sakura.
.
.
Diam, keduanya hanya menatap pusara agen jenius yang menjadi korban kejahatan Kakashi Hatake.
"Yamanaka-san … ini bukan hari libur, apa kau mengambil cuti?" tanya Sai.
Wanita itu mengangguk lemah.
"Ya begitulah, aku sudah mengambil cuti untuk hari ini sejak beberapa bulan yang lalu," Ino meringis, mengingat seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya, "kau sendiri tidak bekerja?"
"Tidak, kepala divisi menyuruhku mengambil cuti selama tiga hari ke depan. Guy ingin menikmati hidup di kantor tanpa ada wakil yang merecokinya," Sai mengangkat bahu seperti tidak peduli.
Lalu keadaan kembali diam tanpa pembicaraan, sedikit kikuk ... sampai akhirnya Ino teringat sesuatu lalu membungkuk hormat, "O-Oh iya, terima kasih, Sai-san! Kata Sakura, kau yang membawaku pergi dari lokasi pemakaman Shika … ehm, waktu aku pingsan."
"Tidak usah dipikirkan," Sai yang telah selesai berziarah langsung membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi, namun baru beberapa langkah, ia berhenti, "Yamanaka-san, apa kau masih ingin berada di sini selama … kira-kira tiga puluh menit ke depan?"
Ino tampak tidak mengerti, "Eh? Tidak. Me—Memangnya kenapa?"
"Dilihat dari cuaca ada kemungkinan sebentar lagi akan turun hujan. Jadi, kalau kau masih ingin diam di sini, aku akan pergi sebentar ke mobil untuk … mengambilkan payung," jawab Sai sambil menatap langit yang mulai terlihat mendung, "sepertinya kau tidak membawa payung, berada di sini lebih dari tiga puluh menit kau bisa kehujanan. Di sekitar daerah ini tidak terdapat pertokoan yang menjual payung, minimarket terdekat juga berjarak sekitar—"
"Ahahaha! Ya ampun … apa kau selalu menjelaskan segala sesuatu sampai sedetil itu? Aku seperti berada di medan perang," Ino tertawa kecil mendengar penjelasan sang wakil ketua divisi keamanan, bisa-bisanya dia menjelaskan situasi "prediksi menjelang hujan" seperti berada dalam misi! Gadis pirang ini juga harus mengontrol gelak tawanya ketika melihat ekspresi Sai yang melongo keheranan, "tapi terima kasih untuk peringatannya … aku sudah selesai kok. Ayo, kita pergi sebelum hujan turun?"
Sai hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, salah tingkah. "Apa yang barusan terdengar seperti penjelasan misi? Tch, kebiasaan buruk," pikirnya.
.
Ino Yamanaka mulai berjalan mengikuti Sai, sesekali menoleh, ia memperhatikan batu-batu nisan lain yang tersebar di lahan pemakaman luas milik Pemerintah Konoha. Sai yang berjalan di depan tanpa sadar memperlambat kecepatannya, menyamai langkah agar sejajar dengan Ino. Mengenakan pakaian kasual berwarna ungu dan menjinjing sebuah tas tangan, gadis ini tampak cantik … jauh berbeda dengan wajah sembab yang dilihatnya di hari pemakaman; saat Sai harus menggendongnya karena pingsan.
"Apa rencanamu setelah ini?" Sai tiba-tiba bertanya, ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mereka sudah berada di pelataran parkir, tepatnya di sebelah mobil Sai.
"Rencana?" Ino diam sejenak seperti berpikir, "Hmm … tidak ada rencana sih, mungkin aku mau belanja untuk makan malam, atau … entahlah."
"Kalau begitu, apa kau menemaniku sarapan? Di dekat sini ada sebuah restoran enak."
Pupil mata Ino membulat, "Tu—Tunggu! Jangan bilang restoran yang ada di pertigaan seberang itu?"
"Ya."
"Kau bercanda … itu juga tempat favoritku! Wah, kebetulan sekali ya," Ino menyunggingkan senyum manis, "rasanya sudah lama aku tidak pernah berkunjung ke sana … apa ada menu baru yang enak?"
"Itu tempat favoritmu? Benarkah?" Sai mengangkat alisnya, cukup terkejut karena mereka memiliki kemiripan selera, "Aku bisa merekomendasikan beberapa menu terbaru. Percayalah … jika tidak enak, kau bebas memesan semua yang tertera di buku menu dan masukkan dalam tagihanku. Tapi kalau rasanya bisa ditolerir, kau yang mentraktirku secangkir kopi. Bagaimana?"
Tersenyum kecil setelah melihat gadis itu mengangguk setuju, Sai segera membuka pintu mobilnya, "Baiklah, ayo naik … kita akan segera berangkat, aku lapar."
Meninggalkan kompleks pemakaman dalam cuaca mendung, mobil Sai melaju menuju restoran yang menjadi favorit keduanya. Patut diakui, sebagai salah satu pelanggan setia tempat itu, Sai memberikan beberapa rekomendasi yang sesuai dengan selera Ino. Dan sebagai balasannya, Ino harus mentraktir pria itu secangkir kopi hitam, dan membiarkan Sai mengantarnya sampai ke rumah setelah ia selesai berbelanja. Mungkin, sudah saatnya Ino menemukan kebahagiaan lain dalam hidupnya?
.
.
.
Apartment No. 767 – Konoha
"Bagaimana kabar Itachi-nii, Sasuke?"
"Entah, satu bulan ini dia tidak ada kabar," pria emo ini menjawab singkat.
"Jadi, Itachi-nii juga tidak menghubungimu selama sebulan ini?" Sakura Haruno tampak tak percaya.
"Hn."
"Konan tiba-tiba menanyakan kabar kakakmu tadi siang di kantor, Sasuke. Aneh sekali ya, padahal selama enam bulan lebih setelah pertemuan di mansion Akatsuki, aku sama sekali tidak pernah melihatnya! Sekarang wanita itu datang cuma untuk menanyakan soal Itachi," Sakura bercerita sambil mengetuk-ngetukkan sumpit di atas mangkok kosong, mencari cara untuk membunuh kebosanan, "apa hubungan Konan dengan kakakmu tidak berjalan dengan baik? Benar-benar aneh."
"Ya, aneh."
Wanita berambut pink itu akhirnya berjengit, tampak kesal.
.
"Tch, Sasuke-kun! Aku sudah bercerita panjang lebar tapi kau hanya menanggapi dengan satu-dua kata, huh … menyebalkan sekali!" Sakura menggembungkan pipinya karena kesal, sementara pemilik onyx di hadapannya masih memasang wajah datar, "Komentar sedikit dong! Apa kau anggap ceritaku seperti siaran berita yang membosankan?"
"Bukannya bosan, tapi—nyam," Sasuke memasukkan irisan tomat ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan cepat, "aku masih sibuk makan, kau tidak lihat? Suruh siapa kau masak makanan sebanyak ini, Sakura? Aku jadi harus menghabiskan semuanya supaya tidak mubazir … sedangkan kau sendiri sudah kenyang."
"Kau sendiri yang bilang supaya porsinya ditambah!" nada suara Sakura sedikit meninggi, tidak terima.
" … " Sasuke hanya mendengus lalu mengambil lauk lain di atas meja, "Iya sih."
Sekarang wanita itu melipat kedua tangannya di atas meja. Wajahnya menunjukkan pose bangga telah menang adu argumen dengan agen berbakat sekelas Sasuke Uchiha. Meski sudah merasa menang, Sakura tetap menggembungkan pipinya, pura-pura marah.
"Aku harus mengatur strategi untuk menghabiskan semua masakan enak ini," Sasuke lega ketika raut marah wanita di hadapannya perlahan hilang dan digantikan oleh senyum. Dengan lahap ia mengambil satu per satu lauk yang masih tersisa di piring, mengunyahnya dengan cepat sebelum menggigit lauk lainnya, "tapi kalau setiap hari makan sebanyak ini … aku bisa mati kegemukan, Sakura."
.
Setelah Konoha membersihkan nama baik klan Uchiha dan mengakui kesalahan pemerintah di masa lalu, Sasuke berhak atas apartemen mewah di lantai tujuh yang dihuninya saat ini. Terhitung sejak tiga bulan yang lalu pula, Sakura memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama Sasuke di apartemennya. Hubungan pria ini dengan kedua orang tua Sakura juga baik. Mereka merasa bersalah karena di masa lalu telah menerima pekerjaan untuk mengawasi Sasuke, namun sang Uchiha menganggap semua perhatian yang keluarga Haruno berikan memang tulus, bukan semata-mata karena tugas.
Bergabungnya sang Uchiha bersama divisi keamanan Konoha merupakan salah satu cara Sasuke untuk melupakan kebenciannya selama tiga tahun, saat ini ia bekerja keras untuk membangun kembali mimpi dan karirnya di Konoha. Tentunya, tinggal bersama Sakura Haruno di apartemen ini juga sebuah pengalaman baru dalam kehidupan barunya. Jauh berbeda saat ia tinggal dalam satu atap bersama Karin tanpa perasaan apapun, rasanya benar-benar berbeda … tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
Tapi satu hal yang pasti; dia bahagia.
.
Akhirnya, acara makan mereka selesai juga, Sasuke memegangi perut yang terasa penuh oleh makanan. Ia kekenyangan. Sakura bernyanyi-nyanyi kecil saat membereskan semua peralatan makan, mengisi keheningan dapur –menyanyikan satu bait lagu yang sering didengarnya di televisi. Hari ini, secara kebetulan mereka berdua libur, Sasuke bersyukur misinya berakhir lebih cepat. Bisa menikmati hari liburnya bersama Sakura merupakan satu keberuntungan yang tidak direncanakan. Selesai menenggak tegukan terakhir air mineral dalam gelasnya, ia menoleh. Menatap punggung Sakura yang sedang membelakanginya, entah kenapa saat-saat sederhana seperti ini membuat hidupnya terasa damai.
Bangkit dari kursinya, Sasuke menghampiri Sakura lalu melingkari kedua tangannya pada pinggang wanita itu. Sambil memeluknya dari belakang, pria ini mulai mengecupi tengkuk Sakura dengan kecupan-kecupan kecil, membuat Sakura bergidik.
"Sasuke-kun, hentikan … aku sedang mencuci piring," Sakura mendengus geli, tangannya masih terfokus pada sabun cuci dan piring, sedikit kesulitan menghindari kecupan di sekeliling tengkuknya.
"Tch, hari ini 'kan libur? Aku akan membantumu membersihkannya … nanti," belum menyerah, Sasuke mengeratkan pelukannya dan berbisik di telinga kanan wanita itu, "setelah aku selesai denganmu."
.
Sakura melupakan air yang masih mengalir, atau cuciannya yang belum selesai. Wanita ini telah larut dalam ciuman Sasuke yang mendominasi, dengan rakus pria itu menjelajahi tiap sudut bibirnya. Perlahan Sasuke mengambil alih piring dalam genggaman wanitanya, menutup kran air, dan membiarkan Sakura yang memunggunginya kini berbalik. Kedua tangannya yang basah kini mengalungi leher pria itu dengan mata terpejam, Sakura tidak tinggal diam. Ia mulai membalas pagutan Sasuke, setidaknya mencoba untuk menyeimbangkan dominasi pria itu atas dirinya. Tubuh mereka berhimpitan satu sama lain, di mana Sakura bersandar pada sink di dapur apartemen.
Sang Uchiha melepaskan ciumannya pada bibir Sakura, namun berlanjut dengan menuruni leher jenjang wanita itu … dan tersenyum simpul saat telinganya mendengar desahan tertahan dari Sakura. Jemarinya kini mulai menjelajahi lekuk tubuh si pemilik emerald, tubuhnya mengingat-ingat di mana sentuhannya selalu berhasil membuat kekasihnya mendesah lebih kencang. Dan berhasil, di beberapa titik tertentu Sasuke meninggalkan jejak gigitan, dan di saat yang bersamaan ia mendengar suara sensual dari Sakura … suara yang mampu membangkitkan nalurinya sebagai seorang pria.
"Sakura …" ia berbisik di sela-sela kesibukannya meraup satu per satu bagian tubuh wanita itu, "sebelum aku kembali ke Konoha, Itachi-nii pernah bilang …" ucapannya terhenti sesaat untuk menarik napas, "agar aku berusaha meraih kebahagiaanku."
Meski Sakura tidak memberi respon dan tubuhnya dibiarkan pasrah menikmati tiap sentuhan dari Sasuke, dia tahu wanita itu mendengarkan setiap perkataannya.
"Itachi-nii mungkin gagal mendapatkan Konan, karena dia … tidak yakin pada perasaan wanita itu. Menunggunya terlalu lama, tanpa kepastian," gumamnya lagi. Jemari Sasuke terus bergerilya, menelusup masuk ke celah pakaian yang dikenakan Sakura, bersentuhan dengan kulitnya yang halus. Ia memperhatikan raut wajah Sakura yang masih terpejam, seakan terbuai oleh sentuhannya, "setidaknya, aku lebih beruntung ... aku tahu perasaan kita sama."
Sentuhan Sasuke pada daerah punggung Sakura terasa menggelitik … seperti hantaran listrik yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Sebelah tangan Sasuke sudah berada pada puncak payudara yang masih dilapisi oleh bra, rangsangan itu membuat Sakura bergidik, tanpa sadar meremas pakaian pria yang masih asyik menjelajahi lekuk tubuhnya.
"Sa-Sasuke, enggh—" Sakura kembali mengerang, bibirnya kehilangan celah saat sekali lagi bertemu dengan milik Sasuke. Pria itu tidak memberinya celah untuk berbicara. Mereka kembali terlarut dalam aktivitas sebelumnya; saling mencumbu.
Sial, bagaimana Sakura bisa merespon, jika pria itu lagi-lagi menguncinya dengan kecupan? Sepertinya maksud Sasuke bisa terbaca, dia tidak ingin wanita ini menyela ucapannya.
.
.
Namun saat berpikir demikian, Sasuke benar-benar melepas ciumannya dari Sakura, termasuk melepaskan pelukannya. Dia diam, menunggu sampai emerald itu balas menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Tidak biasanya Uchiha bungsu ini menunda "awal permainan panas" mereka seperti sekarang. Apa ada sesuatu yang membebani pikirannya? Sakura Haruno akhirnya membuka kedua mata yang sejak tadi terpejam, pandangannya bertemu dengan onyx Sasuke. Pria itu hanya terpaku di tempat, seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Sakura memperhatikan raut wajah Sasuke yang tampak gugup, "Apa ada masalah?"
Sasuke menggeleng.
"Hn … bukan masalah, tapi …" pria itu memalingkan wajah dan sedikit kikuk, "aku sedikit … gugup."
Gugup? Sakura mengernyitkan alis, mencoba maju selangkah mendekati Sasuke tapi langkahnya dihentikan. Sasuke Uchiha mengangkat satu tangannya, mencoba menghentikan gerakan wanita itu, "Tunggu—Sakura, kau … jangan bergerak. Tolong … diam saja, seperti itu."
Sakura semakin keheranan, "Ba—baiklah, Sasuke-kun. Tapi katakan, ada apa?"
Pria ini kemudian menghela napas dalam-dalam, memejamkan mata lalu sekali lagi memberanikan diri menatap Sakura yang masih tidak mengerti atas perubahan sikapnya.
.
"Aku tidak tahu … bagaimana menjelaskan ini. Tapi dengarkan saja, oke?"
Sakura menganggukkan kepala.
"Kau tahu, aku mengikuti saran Itachi-nii untuk meraih kebahagiaanku sendiri. Berjuang mengatasi dendamku pada Konoha, bahkan tinggal dan bekerja di Negara ini," onyx-nya sesaat menatap lantai, seakan-akan mencari bantuan untuk mengutarakan kalimat demi kalimat, "singkatnya, aku menemukan kembali hidupku. Termasuk karena keberadaanmu dan hubungan kita sekarang … aku merasa nyaman."
Mengekspresikan sesuatu dengan jujur memang terasa sulit, Sakura yang telah mengenal Sasuke sejak kecil benar-benar paham dengan sifatnya. Ia hanya menunggu sampai pria itu selesai bicara, tidak berkomentar atau mengusik satupun perkataan Sasuke. Saat ini, dia berperan sebagai pendengar yang baik ... sambil terus mengamati raut kikuk dari wajah tampan sang Uchiha.
"Aku bahagia … menjalani hubungan ini denganmu. Tapi rasanya tidak cukup. Aku memikirkan hal ini berulang-ulang, dan sudah mengambil keputusan. Karena itulah, ehm … aku ingin—," Sasuke berdeham dan menggaruk lehernya dengan gerakan kikuk. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
Mengulas senyum tipis, kini Sasuke Uchiha menatap lurus ke arahnya, "aku ingin kau menyandang nama 'Uchiha', hidup bersamaku, lalu menjadi ibu dari anak-anakku, Sakura."
Sakura terperangah.
.
Sasuke Uchiha … melamarnya?!
Dia menunggu kalimat itu terucap dari bibir Sasuke, entah sejak kapan, bahkan Sakura pernah memupus harapan itu selama tiga tahun setelah pria ini dinyatakan meninggal. Sakura tidak tahu ini mimpi atau kenyataan! Ia segera maju dan memeluk erat tubuh Sasuke, merasakan sudut matanya sedikit berair … ya, mungkin karena efek bahagia? Hanya itu yang bisa diekspresikan secara spontan oleh Sakura Haruno, mengencangkan pelukannya pada Sasuke … dia terlampau bahagia untuk mengeluarkan kata-kata.
.
"Apa kau … bersedia?"
Apa dia harus mengatakan "iya" jika jawabannya memang sudah pasti?
"Tentu saja aku bersedia, Sasuke-kun!" Sakura mengecup pipi pria itu dengan lembut, "Jawabanku sudah jelas, 'kan?"
"Arigatou," Sasuke menggumam pelan. Wanita itu merasakan tangan Sasuke kini berada pada punggungnya, balas memeluknya, dan mungkin sama seperti ekspresinya saat ini … keduanya sama-sama tersenyum. Mereka larut dengan perasaan masing-masing sambil terus mendekap satu sama lain, sebelum akhirnya Sasuke melihat ke sekeliling ruangan.
Ia terkekeh.
"Oh—ya ampun, aku baru sadar … aku melamarmu di dapur? Sakura, tolong jangan bandingkan ini dengan lamaran ala film-film drama yang sering kau tonton," pria itu tertawa kecil, memperlihatkan senyumnya, "kau tahu … aku tidak terlahir romantis."
"Maksudmu, lamaran sederhana tanpa ratusan bunga mawar atau candle light dinner di pinggir pantai?" Sakura tertawa lepas, menertawai respon pria emo yang mengiyakan jawabannya. Tetap tersenyum, jemarinya memainkan rambut pria itu, "Itu semua tidak penting. Asal pria itu adalah kau … itu sudah cukup, Sasuke-kun."
Sekali lagi Sakura menghujani pria itu dengan kecupan, saat ini dia benar-benar bahagia! Apalagi setelah melihat raut wajah Sasuke, wajahnya yang berseri-seri terlihat begitu tampan. Sasuke perlahan membungkuk lalu menggendong tubuh Sakura dengan satu gerakan mudah, meski sedikit kesulitan karena wanita itu terus memberikan ciuman kecil yang membuatnya hampir kehilangan akal sehat.
"Nah, sekarang … saatnya melanjutkan 'kegiatan' yang barusan tertunda," berjalan menggendong tubuh wanita itu menjauhi dapur, ia tersenyum jahil, "kita harus menjalankan misi untuk menghadirkan para Uchiha Junior, Sakura ... dan tentunya, lebih cepat lebih baik!"
.
.
.
Sharingan Café – Suna
"Saat ini emosimu labil … ayahmu tidak sepenuhnya salah, ia terbawa emosi. Begitu juga dirimu, aku bisa melihatnya," pria tampan itu duduk berhadapan dengan seorang gadis remaja yang menangis di meja pojokan. Menggenggam segelas frappe dan berhelai-helai tissue, gadis itu sedang mendengarkan perkataan lawan bicaranya, "kau merasa bersalah, 'kan? Pulanglah, itu lebih baik."
"Terima kasih untuk saranmu," gadis berseragam pelajar itu menganggukkan kepala. Ia berjalan menuju pintu, dan sebelum benar-benar keluar dari ruangan … gadis itu menoleh lalu melambaikan tangannya, "Mata ne, Itachi-san!"
Setelah gadis itu menutup pintu, keadaan kembali hening. Itachi Uchiha menghela napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat berwarna kayu kecoklatan … kedai kopi itu akhirnya kosong. Gadis remaja tadi adalah konsumen terakhirnya untuk hari ini, dan Itachi harus mendengarkan ceritanya hingga larut malam. Seharusnya café ini sudah tutup sejak satu jam yang lalu, bahkan barista dan pegawai lainnya sudah pulang … sekarang ia harus membereskan tempat ini sendirian.
Ini sudah menginjak delapan bulan sejak Insiden Akatsuki berakhir. Dari komunikasinya dengan Sasuke, Itachi mengetahui bahwa nama klan Uchiha sudah bersih dari segala tuduhan di masa lalu. Kini seluruh keinginannya untuk mengabdi sebagai agen pemerintah pun lenyap, ia mengajukan pengunduran diri dari Suna's Secret Service. Badan keamanan Negara Suna itu awalnya menolak, namun keputusan pria ini sudah bulat. Lima bulan setelah Insiden Akatsuki, Itachi resmi berhenti dari profesinya sebagai agen keamanan, dia ingin hidup sebagai warga sipil biasa.
Selama menunggu waktu pembebasan tugasnya pula, Itachi berencana untuk berwirausaha, membuka sebuah café di salah satu sudut perkotaan Suna. Dan terhitung delapan bulan hingga saat ini, ia berhasil mengelola "Sharingan Café", sebuah kedai kopi modern yang mengedepankan suasana nyaman juga aroma kopi yang kuat. Tidak sulit baginya untuk mendapatkan barista yang berpengalaman dari sekian banyak kandidat yang melamar, namun yang menjadi tantangan lain adalah menjalani profesi barunya sebagai owner sekaligus pendengar yang baik bagi keluh kesah para pengunjung.
Ya, sesuai dengan nama "Sharingan", Itachi menggunakan kemampuan matanya untuk melihat emosi pengunjung, mengajak mereka berbincang dan seringkali memecahkan masalah hidup mereka. Awalnya Itachi hanya bermaksud membantu salah satu pelanggannya yang tampak murung, namun ternyata melalui promosi dari mulut ke mulut, kini nama café-nya terkenal sebagai "tempat minum kopi yang bisa memberimu pencerahan dalam masalah hidup".
.
Pria ini sudah bersiap-siap menutup tempat usahanya, ia mengambil beberapa buah gembok dan mulai mengunci dapur. Tapi, belum sempat mengunci pintu depan, terdengar bunyi bel yang terpasang di pintu cafe—tanda ia kedatangan seorang tamu.
"Maaf, kami sudah tu—" Itachi menoleh dan menghentikan ucapannya.
Senyum dari wanita itu terpatri pada ingatan Itachi.
"Bisa anggap aku pengunjung terakhirmu hari ini?"
Konan; wajahnya terlihat cantik dibalut dengan pakaian bernuansa ungu, saat ini ia berada di ambang pintu café dengan senyum andalannya … membuat sang pemilik kedai kopi membeku di tempat.
"Tch, Konan ... bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" Itachi kembali meletakkan gembok-gembok itu, mengurungkan niatnya menutup toko. Masih menjaga jarak, namun melalui gerak tangannya ia mempersilahkan wanita itu memilih tempat duduk sementara ia berjalan ke arah counter, "Silahkan duduk, Nona … apa pesananmu? Espresso, seperti biasa?"
"Well, aku tersanjung … kau masih mengingat jenis minuman favoritku?" setelah mengitari ruangan dan mengamati desain interior dari café tersebut, akhirnya Konan duduk di salah satu kursi yang menghadap arah jendela, "kudengar, kedai kopi ini bisa memberi pencerahan dalam masalah hidup … aku jadi tertarik. Apa kau juga bisa mendengarkan ceritaku, Tuan?"
Itachi tidak menjawab, sibuk mempersiapkan secangkir kopi sementara pikirannya melayang entah kemana. Sudah dua bulan ia mengasingkan diri dari seluruh kehidupan lamanya, memutus kontak dengan siapapun; termasuk Konan ... dia ingin terbebas, sejenak menikmati hidup tanpa terikat dengan masa lalunya. Tapi lagi-lagi, Konan bisa menemukan keberadaannya.
Selesai dengan espresso yang mengepul panas, Itachi meletakkan cangkir kopi itu lalu duduk di hadapan Konan, menatap wajahnya. Sekalipun ia tidak ingin mengakui … namun pada kenyataannya, wajah wanita ini memang ia rindukan.
Sial, dia benci saat otak dan perasaannya tidak berjalan selaras.
.
.
"Jadi, Konan … bagaimana caranya kau—"
"Hampir enam belas tahun yang lalu, aku diadopsi … mereka membawaku pergi ke luar negeri; sesuatu yang awalnya kukira menyenangkan. Aku tidak menyadari, kepindahanku berarti meninggalkan anak laki-laki itu sendirian. Meninggalkan bocah yang mempercayai aku sebagai matanya," Konan memotong ucapan Itachi dan mulai bercerita, "Bocah laki-laki itu percaya jika kukatakan hari itu cerah sekalipun langitnya mendung … percaya jika bunga matahari berwarna merah meski pada kenyataannya berwarna kuning, dia mempercayaiku tanpa syarat. Namun sayangnya … kami harus berpisah, bahkan aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Aku mempelajari banyak hal dari orang tua angkat yang mengapdosiku … mengerti tentang politik uang, perebutan kekuasaan, atau bagaimana manusia menjual jiwa mereka untuk sebuah pangkat. Mereka membesarkan aku sebagai seorang mata-mata terlatih, membiayai hidupku agar kelak aku bisa berguna sebagai alat mereka … dan saat itulah; aku membuka mata. Tidak lagi percaya bahwa hubungan antar manusia bisa berjalan hanya dengan landasan kejujuran, tanpa melihat status sosial. Aku tumbuh menjadi seorang wanita yang familiar dengan dunia spionase. Hingga suatu saat … orang tua angkatku dijebak, mereka dibunuh oleh kaki tangan rival politik yang bernama 'Danzo'."
Raut wajah Itachi berubah saat mendengar nama itu, namun dia tidak berkomentar.
"Garis kehidupanku berubah setelah terpilih menjadi salah satu bawahan Sarutobi, berkali-kali Hokage menyerahkan tugas kenegaraan padaku. Satu kasus menuju kasus lain, membawaku berkenalan dengan sebuah insiden yang berkaitan dengan klan Uchiha yang juga berhubungan dengan Danzo. Tapi yang lebih mengejutkan, aku menemukan profil seorang anak bernama Sasuke; wajahnya mirip seperti bocah laki-laki yang kukenal di Suna," Konan berhenti sejenak untuk meneguk minumannya, "hm, di sisi lain, aku juga mendapat kabar … ada seorang pria bernama 'Itachi' yang mencoba melacak keberadaanku di Konoha. Well, nama pria itu sama dengan bocah yang kukenal dulu. Kurasa ini bukan cuma kebetulan semata ... jadi, aku memutuskan untuk mencari Itachi."
Itachi diam, saat ini dia benar-benar mendengarkan tiap patah kata dari Konan. Selama ini wanita misterius di hadapannya tidak pernah menjelaskan apapun, selalu bertindak sekehendak hatinya. Mungkin apa yang sedang Konan ceritakan adalah satu titik, di mana wanita ini mulai membuka masa lalunya di hadapan Itachi … mencoba membagi masalahnya dengan pria itu.
.
"Mencari keberadaannya tidak sulit, aku memanfaatkan koneksi yang kumiliki hingga kami bisa bekerja di kantor yang sama. Aku mulai mengamatinya, menyadari dia memang bocah laki-laki yang kukenal dulu. Sama seperti dulu; Itachi tetap percaya pada setiap perkataanku, dia bersedia bekerja sama untuk menyelamatkan seorang adik yang bahkan tidak mengenalnya. Dia sadar jika berhubungan denganku akan menyeretnya masuk ke dalam bahaya, tapi dia tidak menolak .
Kami mulai berhubungan dengan satu kondisi; aku bisa menyentuhnya kapan pun … sementara dia tidak bisa melakukan hal yang sama, karena hidupku tidak terikat hanya pada satu pria. Begitu bodoh dan naif ... jenis manusia keras kepala sepertinya membuatku bertanya-tanya ... 'apa hubungan rumit ini adil untuknya? Apa mungkin di dunia ini masih ada orang naif sepertinya?' Tapi aku tidak peduli, atau tepatnya … berusaha tidak peduli," Konan tersenyum simpul, "hingga dua bulan yang lalu, dia tiba-tiba menghilang. Sepertinya pria itu terlalu lelah mengejar ketidakpastian, mungkin dia menyerah."
"Konan, dengar … itu—" Itachi menghela napas setelah mendengarkan seluruh cerita dari bibir wanita ini, "sebenarnya aku tidak ada niat untuk menyerah—"
"Tuan pemilik cafe, aku belum selesai bercerita," Konan kembali meneguk minumannya yang mulai mendingin, membiarkan Itachi melongo tanpa sempat melanjutkan kata-katanya, "hm … sampai di mana tadi? Oh—pria itu menghilang. Ya, ya … tampaknya dia memilih jalan hidupnya sendiri sebagai warga sipil, dan aku memutuskan untuk menghargai pilihannya. Menjauhinya dan menjalani hidupku seperti biasa. Hanya saja, tidak mendengar satu pun kabar tentang keberadaannya ternyata membuatku … hm, sedikit frustasi? Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku untuk mencarinya … sampai ke sini, berharap kedai kopi ini bisa memberi pencerahan tentang masalahku."
Satu menit … dua menit … onyx pria itu hanya diam sambil menatap wanita di hadapannya. Tidak tahu harus menjawab apa, bingung harus merespon dengan kalimat seperti apa. Konan sendiri tampak tidak keberatan ketika dua pupil Itachi hanya terarah padanya, memperhatikan wajahnya dalam diam.
"Aku bisa salah tingkah, jika Tuan pemilik Sharingan Café ini hanya diam … dan memandangi pengunjungnya dengan tatapan seperti itu," ujar Konan masih dengan nada sarkastiknya.
"Tch. Apa kau yakin butuh pencerahan? Seharusnya itu perkataanku," Itachi meringis, "ehm, baiklah—Nona pengunjung, setelah mendengar ceritamu tadi … kurasa pria yang bodoh dan naif itu … melakukan apa yang dia suka. Dia sudah tahu itu berbahaya, namun tetap melakukannya, 'kan?"
Wanita di hadapannya tidak merespon.
.
"Dia—huh, baiklah … aku lelah dengan basa-basi Nona – Tuan ini. 'Dia' itu AKU. Aku peduli padamu, Konan … dan kau tahu perasaanku lebih dari sekedar peduli. Berharap setelah kau selesai bermain-main dengan semua 'hal menarik' itu, kau bisa melihatku masih berdiri di satu sisi yang sama; menunggumu. Hubungan rumit yang kita jalani ini memang konyol, terasa menyakitkan sekaligus membahagiakan. Seperti terikat, tapi kau tidak bisa membedakan itu kutukan atau anugerah," Itachi meluapkan perasaannya seraya mengepalkan kedua tangan, menatap lurus pada Konan yang justru memalingkan wajah—seakan enggan menatap onyx pria itu, "dan apa kau tahu? Ketika kau mencariku sampai ke sini … aku benar-benar senang."
Jemari Konan memainkan pinggiran cangkir, mencari cara mengisi keheningan dari bibirnya yang bungkam. Tiba-tiba tubuhnya melonjak kaget ketika Itachi meraih tangan kanannya yang berada di sisi cangkir … menggenggamnya dengan erat.
"Konan, dengarkan aku," Itachi sedikit menarik tangan wanita itu, membuat Konan harus balas menatapnya, "Sekarang Tobi dan Danzo sudah mati, Akatsuki hancur, satu per satu permainan yang kau anggap menarik juga sudah berakhir. Apa sekarang … aku bisa berharap lebih? Apa kita bisa mempertegas arah hubungan ini? Apa aku bisa ... memintamu untuk melupakan dunia spionase, lalu hidup bersamaku?"
Wanita cantik di hadapannya mengangkat kedua alis, senyum pada bibirnya lenyap. Diam dalam posisi kaku selama beberapa saat, Konan terpaksa harus menghela napas dalam-dalam. Membuat Itachi tersadar jika sejak tadi pandangannya yang tidak bisa terlepas dari wanita ini … ia berdeham, kikuk.
"Pikirkan saja, aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang," Itachi melepaskan genggamannya lalu tersenyum pahit, "Jika sudah yakin pada keputusanmu … kau tahu di mana bisa menemukanku, Konan. Sekarang sebaiknya kita pergi, ini sudah terlalu larut untuk menutup toko."
Itachi berdiri dari kursinya, mengambil cangkir kopi dan bersiap membereskannya dari atas meja. Namun langkahnya terhenti ketika wanita itu meraih pergelangan tangan Itachi, seakan menahan tubuh Itachi agar tetap berada di sisinya.
.
"Aku tidak lagi bekerja pada Konoha," gumam Konan.
"A—Apa?"
Konan menghela napas.
"Sarutobi tidak lagi menjabat sebagai Hokage, jadi aku tidak memperpanjang kontrak kerjaku. Semua sudah selesai, Itachi ... saat ini aku bebas dari siapapun, jadi ..." jemari Konan dari pergelangan tangannya bergerak, menelusuri sepanjang lengan pria itu … merambat naik pada pundak dan leher, lalu ditariknya kerah baju Itachi agar pria itu membungkuk—hingga bibirnya berhasil mengecup singkat pipi sang Uchiha. Ia menyunggingkan senyum menggoda ketika Itachi menatapnya dengan heran, "sepertinya menghabiskan waktu bersama orang sepertimu cukup menarik."
"Eh?" Itachi menahan napasnya selama beberapa hitungan, "Konan, maksudmu—"
"Kau bisa mengkategorikan jawabanku sebagai 'ya'," wanita cantik itu mengedipkan sebelah matanya, "mulai hari ini aku bisa mengabulkan permintaanmu. Keberatan jika aku setuju hidup bersamamu, Tuan Itachi?"
Cangkir kopi dalam genggaman Itachi nyaris terjatuh, beruntung pinggirannya tertahan oleh alas meja. Cangkir kosong itu berdenting, mengisi keheningan sesaat di antara mereka ... pupil pria di hadapannya terbelalak, kaget.
Sekilas—seringai tampan milik pria ini terlihat—sebelum Itachi memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Konan. Melumatnya perlahan, menyesap aroma kopi yang masih tertinggal di bibirnya ... butuh usaha ekstra untuk melepaskan diri dari ciuman menghipnotis milik wanita ini. Saat berhasil melepaskan diri, onyx sang Uchiha menatap Konan ... ia tersenyum lebar.
"Ya Tuhan … ini keajaiban."
Dia tidak bisa mengontrol raut wajahnya yang terlihat berseri-seri.
"Apa kau puas dengan jawabanku, tampan?" Konan balas tersenyum.
"Sangat," jawab Itachi sambil memeluknya dengan lembut. Penantiannya selama ini tidak sia-sia, akhirnya wanita ini berpaling padanya … menjadi miliknya, "itu jawaban terbaik yang pernah kudengar darimu."
.
.
"Oh—ya, aku harus segera menelepon Sasuke."
Konan melepaskan pelukan Itachi seraya menaikkan sebelah alisnya, "apa hubungannya ini dengan Sasuke?"
Melihat ekspresi wanita itu, Itachi harus menahan tawanya.
"Kemarin dia meneleponku, katanya tiga bulan lagi dia dan Sakura menikah. Sasuke sudah yakin aku akan datang ke pesta pernikahannya seorang diri, bahkan bertaruh untuk itu … dasar bocah sialan," Itachi menggerutu, sementara Konan terkekeh geli. Dengan seringai licik, Itachi mulai menekan digit demi digit dari ponselnya, "aku akan datang bersamamu, dan itu berarti aku yang menang. Tch … lihat saja, akan kubuat dia bangkrut karena taruhan konyolnya sendiri!"
Tapi sebelum Itachi berhasil meletakkan ponsel pada telinganya, dengan gesit Konan merebut telepon genggam itu dari tangan sang Uchiha.
"Selesaikan urusan kakak-adikmu besok pagi, sekarang sebaiknya tutup café ini," Konan mulai memberi komando, "kerjakan sekarang, atau aku akan berpikir dua kali untuk tinggal bersamamu, Itachi."
Itachi melongo. Baru menyadari bahwa kebahagiaannya mendapatkan Konan juga menyeretnya pada kenyataan lain; wanita superior ini akan mendominasi hidupnya!
"Apa kau dengar ucapanku, tampan?" pandangan wanita itu terlihat lebih dingin dari sebelumnya, Konan sudah melipat kedua tangannya—berperilaku seperti seorang bos yang menegur sang bawahan, "Baiklah, akan kuhitung sampai tiga. Satu … dua …"
"Y—Yes ma'am! Siap laksanakan!" Sebelum hitungan terakhir, Itachi lebih dulu memberikan hormat ala prajurit di hadapan Konan, dan sedetik berikutnya ia beralih pada cangkir kopi di atas meja—mengikuti perintah wanita itu dengan patuh—dan tanpa melawan sedikitpun, ia bergegas menutup café sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mengerti kenapa dia langsung takluk tanpa perlawanan, superioritas wanita ini memang terlalu mengerikan. Mulai detik ini juga, Itachi Uchiha akan mempersiapkan diri berada dalam dominasi wanita bernama Konan.
Sial, sebenarnya ini anugerah atau kutukan sih?!
.
.
.
Happiness is not something you postpone for the future,
it's something you design into the present.
.
.
.
THE END
.
.
Author's Note :
EPILOGUE SELESAI! Semua romance dihibahkan pada salah satu Nona (yang tidak mau disebutkan namanya - dia yang bakal bantuin saya untuk karakterisasi para wanita di Hegemony), jadi saya bertugas merubah beberapa kalimatnya sesuai karakter aja, LOL. Saya harap chapter epilogue ini cukup memuaskan para pembaca, sekaligus menutup Shattered Memories dengan kesan positif.
Terima kasih banyak atas semua reviews, fave dan follow, dan dukungan kalian di tiap chapter. Mohon maaf jika ada banyak kekurangan dalam cerita ini, semoga itu bisa jadi pembelajaran untuk author di kesempatan mendatang.
Ada request dari salah satu PM ... minta saya kasih sedikit curhatan author tentang Shattered Memories : hmm, ini fanfic pertama saya di thread Naruto. Ini juga pertama kalinya saya membuat cerita dengan setting AU, OOC, dengan multichapter dan karakter sebanyak ini. Awalnya dibuat karena sebuah request dan nggak pakai plot sama sekali, dan tidak pernah menyangka bisa mendapat respon dari para readers seperti sekarang. Oh ya, karakter fave saya adalah Konan; tipe wanita misterius yang sulit ditebak, dan untuk villain-nya jatuh pada Kisame si psikopat. Mungkin cukup ya, nggak tahu harus curhat apalagi :D
P.S July 2014: yang pernah baca / ngikutin cerita Shattered Memories, ada satu side story tentang Naruhina di akun salah satu reviewer setia disini, bisa di-search; Akatsuki Hotaru. Yang minat, boleh mampir dan jangan lupa tinggalin review yaa … thank you!
.
.
Balasan review chapter 22 kemarin :
Nejitan : nah ini dibanyakin romancenya, cuma memang sebelum nikah dan punya anak, para pejuang lain juga diceritain. Terima kasih sudah review ya.
Pink Uchiha : Terima kasih sudah mampir review, syukurlah kalau cerita ini disebut keren. Yup Konan memang sengaja dibuat dengan karakter seperti itu, hehehe Sakura diceritain mau nikah dulu aja ya. Mampir lagi? :)
Hotaru Keiko : Terima kasih sudah review, saya update nih epiloguenya!
Cheinnfairy : halo halo, sora-sai cukup seru? Syukurlah ... ini dia epilogue-nya, semoga bisa menutup cerita ini dengan kesan baik ya, dan terima kasih mau mampir di Hegemony!
Alifa Cherry Blossom : tenang, fic ini tamat kan saya sedang menggarap cerita satu lagi, meski Sci-Fi sih. wah ternyata ada yang suka sama karakter Konan disini, hahaha terima kasih banyak buat reviewnya selama ini lho!
hanazono yuri : Terima kasih sudah review, sekuelnya sepertinya nggak ada ... soalnya nggak ada lagi plot yang bisa digarap buat sekuel, hehe. Mampir di Hegemony ya!
vanillathin : halo halo, iya saya lagi garap satu cerita Sasusaku lagi kok judulnya Hegemony, mampir yaa saya tunggu! Syukurlah kalau suka sama cerita plus karakternya, thanks sudah menyempatkan review :D
Natsumo Kagerou : Happy ending, yeah ... selesai juga, terima kasih sudah review ^^
Guest : Thank you yaa.
UchiHarunoKid : hahaha iya nih semua request happy ending, dan saya udah publish epiloguenya, silahkan dibaca ... semoga suka :)
cherryemo : Terima kasih sudah mampir buat review dan saya senang baca reviewnya yang kemarin. Terima kasih sudah baca dari awal sampai akhir, dan untuk Ita-Konan, mereka akhirnya ada kepastian juga.
Foetida : Nggak apa mungkin Ino nanti ada jalan sama Sai, LOL. ItaKonan asalnya mau dibikin tetap gantung tapi yang bikin romance berkata lain -ya sudahlah-, romance yang nggak terlalu fluffy sih itu saya sudah berusaha sampai kepala berdenyut-denyut, butuh bantuan memang. Epilogue publish nih...thank you udah review, Foe.
kasih hazumi : hehehe karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan epilogue ambil setting yang nggak terlalu jauh. Jadi scene Saku hamil harus ditunda dulu, ganti pakai scene di atas aja ya? :)
sasusaku fans : Terima kasih sudah review, syukurlah kalau bagus, terharu bacanya lho.
NE : Iya disini ada titik terang antara Ino-Sai, termasuk Itakonan... porsi Sasusaku udah paling banyak tuh, meski harus bagi-bagi sama pairing lain juga. Thank you sudah review lho, mampir juga di Hegemony ya! :D
Reako Mizuumi : Thanks a lot sudah review, hehe iya di sini chara-nya banyak karena memang plotnya cukup kompleks. Hahaha Itachi banyak penggemarnya, iya terima kasih buat semangatnya ... saya bakal semangat buat Hegemony deh.^^
Alluca : Shika harus mati, tuntutan skenario itu. Favenya Sai ternyata, terima kasih sudah review!
Uchiha Shesura-chan : Haloo, thank you buat reviewnya, sekuel nggak ada hehehe soalnya beneran udah tamat. Tapi saya publish Sasusaku lain judulnya Hegemony, buat gantiin cerita ini. Dan, semoga suka juga sama epiloguenya ya ^^
Mizuira Kumiko : wah sist bisa aja, masa kayak novel sih (nggak pernah baca novel juga LOL). saya masih harus banyak belajar dari para senpai termasuk sist, hahaha Konan karakternya memang begitu, bukan tipe heroine yang bisa difavoritkan banyak orang. Thank you sudah mampir dan review di tiap chapter, bahkan di Hegemony juga, thanks buat dukungannya. Semoga epiloguenya cukup memuaskan :D
akasuna no ei-chan : ei-chan mampir lagi nih, terima kasih sudah review ya! Baca juga cape di bagian lari-larian? LOL *bantuin kipas-kipas kalau capek*. Wah amin banget tuh difilmkan, saya bakalan dapet royalti dari Om Masashi, wkwkwk. Ini epiloguenya, RnR?
Mulberry Redblack : wahahahaha tapi kan review juga, terima kasih banyak lho! Wah senang kalau ceritanya dibilang oke dan deskripsinya top. Btw kayaknya reviewnya kepotong ya kemarin, kalau sempat tulis lagi kesan-kesannya ya? *request author nih*
Tsurugi De Lelouch : Tulisan saya semakin membaik? THANK YOU, senpai! sepertinya perlu saya print screen reviewnya dan ditempel di tembok, haha. ini dia, Epilogue publish, kalau berkenan mampir lagi ya sist :D
hanazonorin444 : iyaa selesai, kenapa :( - sedih kalau tamat? hehehe, terima kasih buat reviewnya selama ini lho!
roquezen : iya sist TAMAAT nih, nasib Itachi ada disini, terima kasih banyak! oke saya semangat sist, dukung terus ya... arigatou :)
gita zahra : halo Gita, terima kasih sudah review ya... waah feelnya kurang greget? maafkan keterbatasan otak author, saya memang susah bikin romance, LOL. Tapi semoga epiloguenya lebih greget dibanding kemarin, RnR lagi oke?
Ellysia : Terima kasih sudah review ya, ini saya publish epiloguenya. Mampir lagi dong?
Terima kasih sudah mampir di Shattered Memories.
Sampai jumpa di Hegemony!
-jitan-
