Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Et cetera

Genre: BoysLove, Family

Disclaimer: The story is mine. And we're belong to God.

V

V

V

Chapter 1


"Noona, ha-"

'DUAGH!'

"AAWW!"

"Siapa yang kau panggil 'noona', anak nakal?!" geram seorang lelaki manis kepada seorang remaja tampan yang tengah berdiri sambil merapikan jas sekolahnya.

Remaja berusia 15 tahun itu mengelus kepalanya yang baru saja menjadi korban kejahatan tangan sang kakak dengan tatapan kesal serta bibir yang mendesis, antara sakit dan sebal.

"Kejam sekali! Kalau begini terus aku yakin Siwon ahjussi tidak akan mau berdekatan denganmu lagi." cibir anak itu dengan mimik tanpa dosa.

Mata bulat Cho Kyuhyun menyipit dan tangannya terangkat untuk memukul sang adik lagi. "Sahara Shin, kau benar-benar- eugh!" Kyuhyun menarik dasi Sahara yang susah payah ia pasang dengan rapi, tetapi kini sudah terlepas dan sedikit kusut akibat satu tarikan tangan lentik hyungnya.

Dengan panik, Sahara langsung memakai dasinya kembali. "HEI! Kau keterlaluan sekali, noona! Aku memasang ini penuh perjuangan, tahu!" omel Sahara sambil mulai memakai dasinya yang ia yakin tidak akan serapi tadi.

"Siapa suruh sudah sebesar itu tidak bisa memakai dasi?" Kyuhyun menjulurkan lidahnya, meledek dengan wajah menyebalkan.

"Sampai kapan kalian mau bertengkar seperti itu, hm?" tegur seorang wanita paruh abad yang sisa kecantikannya masih terlihat diwajahnya yang mulai menua itu pada kedua anak lelakinya yang memang setiap hari selalu membuat kegaduhan. Entah bercanda, saling ejek, atau kadang berkata manis (menggombal) satu sama lain.

Kyuhyun dan Sahara bertatapan. Jika Kyuhyun memandang Sahara dengan tatapan sebal, lain halnya dengan Sahara yang menatapnya dengan pandangan genit dan mata berkedip playboy. Penyakit lama yang kambuh, sepertinya.

"Kenapa menatapku seperti itu noona cantik? Terpesona untuk kesekian kalinya ya?" goda Sahara dengan satu tangan mencolek dagu runcing Kyuhyun.

"Aish! Hentikan Sa! Kau tampak seperti ahjussi-ahjussi mesum!" sungut Kyuhyun.

Sahara mengangkat kedua alisnya, menambah kesan tampan yang melebihi usianya. Terkadang Kyuhyun berpikir. Bagaimana bisa Sahara dan Felixander begitu tampan diusianya yang bahkan baru memasuki akil baligh? Meski dirinya juga tak kalah tampan, setidaknya itu menurut Kyuhyun.

"Tidak akan adaahjussi mesum setampan diriku, noona." sangkalnya dengan tingkat percaya diri penuh.

Salahkah jika kini Kyuhyun merasa ada asap mengepul diatas kepalanya? Salahkah jika ia ingin mematahkan leher adik tiri menyebalkan didepannya?

"Sa, berhenti menggoda hyungmu! Cepat sarapan jika tak ingin terlambat! Kau juga, Kyu! Hari ini ada jam wali, kan? Jangan sampai murid-muridmu menggerutu karena wali kelas mereka terlambat datang." lerai sang umma pada kedua anaknya yang entah akan beradu mulut sampai kapan jika tidak dihentikan.

"Wow! Hari ini menu kesukaanku! Terima kasih ummacantik." lagi-lagi Sahara mengedipkan sebelah matanya. Kali ini berniat menggoda sang umma setelah tadi kurang puas menggoda hyungnya.

Pada akhirnya Kyuhyun membuang napas. "Kau benar-benar berbakat menjadi playboy, Sa. Aku heran sifatmu ini menurun dari siapa. Padahal jika kuperhatikan, appatidak seperti ini." ujar Kyuhyun prihatin.

Sahara tersenyum dengan gaya yang dibuat sok cool. "Itulah kelebihan seorang Sahara Shin, noo-"

'DUGH!'

"Sekali lagi kau panggil aku noona, akan kusumpal mulut gombalmu itu!" ancam Kyuhyun dan berhasil membuat Sahara menutup mulut rapat-rapat sambil menahan tawa.

"Hentikan tawamu, Sa! Tidak ada yang lucu." Kyuhyun menginjak kaki Sahara lewat kolong meja dengan seringai menyeramkan, kali ini benar-benar membuat Sahara bungkam. Ia tidak ingin hari ini menjadi hari sialnya.

.

.

.

"Tumben kau duduk didepan? Ada apa?" suara menyebalkan Sahara Shin terdengar lagi. Tapi kali ini bukan untuk Kyuhyun, melainkan untuk sahabatnya, Tuan muda Choi alias Felixander Choi. Remaja yang terbiasa dipanggil Felix itu menatap si pemilik suara dengan tatapan jengkel. Mengapa anak itu berkata seenak jidat? Seolah-olah ia tidak pernah duduk didepan dan selalu memilih kursi belakang agar leluasa membaca komik –sebenarnya itu salah satu kebiasaan buruk Sahara- tanpa disadari guru didepan kelas.

"Tidak usah cari rebut dipagi hari begini, dessert." balasnya malas. Sahara menampakkan cengirannya lalu meletakkan tasnya di meja yang bersebelahan dengan meja Felix.

"Bawa bekal tidak?" tanya Sahara sambil mengeluarkan komik Detective Conan dari dalam tasnya.

"Bawa. Kau?" Felix kembali memasang earphone yang tadi sempat ia lepas saat mendapat tepukan bahu dari Sahara.

Sahara mengangguk dan mulai menekuni bacaannya. Keduanya tampak serius dengan kegiatan masing-masing, tak mempedulikan bisik-bisik kagum teman sekelas mereka yang berada disekitar dua Tuan muda yang terkenal tampan, cerdas, dan kaya raya tersebut.

.

.

.

"Maaf Felle, sepertinya hari ini papa tidak bisa menjemputmu. Ada meeting mendadak, harabeojijuga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya." Felix terus memasukkan makanan kedalam mulutnya sambil mendengarkan penjelasan sang ayah angkat tentang alasan mengapa hari ini ia tidak dijemput. Sebenarnya bukan merupakan masalah besar. Justru ia senang jika tidak dijemput. Jadi setidaknya ia bisa menjelajah toko buku dan game center bersama Sahara tanpa merasa terikat waktu. Tapi sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah terjadi mengingat betapa overprotective Siwon terhadap dirinya.

"Tidak masalah, pa. Tapi bolehkah aku ke toko buku dan game center sepulang sekolah nanti? Bersama dessert pastinya." Pinta Felix.

Sahara yang merasa julukannya disebut menoleh, menatap Felix penasaran mengapa namanya ikut dibawa.

"Dessert? Maksudmu Sahara Shin?" tebak Siwon.

"Tentu saja! Mana ada orang Korea yang mempunyai nama se-weirdo itu?" Felix melirik Sahara yang juga tengah menatapnya sambil mendesis jengkel.

"Aku Jepang-Korea, bodoh!" geram Sahara. Malas menanggapi ocehan tidak penting sahabatnya, Felix segera berbicara lagi dengan ayahnya.

"Bagaimana pa? Boleh?"

Siwon terkekeh. "Papa percaya pada kalian."

Felix bersorak dalam hati. Ia lebih dari paham, jika Siwon sudah berkata seperti itu artinya adalah jawaban final yang bermakna ia berhasil mendapat izin. Ah, akhirnya ia bisa mencari komik dan ksaet game terbaru tanpa harus dibuntuti sang ayah dan-

"Tetapi kalian tetap berada dibawah pengawasan melalui beberapa penjaga yang nanti papa kirim."

'JDERR!'

Felix langsung lemas mendengar penuturan ayahnya. Pupus sudah harapannya untuk berjalan-jalan tanpa bayang-bayang "Tuan muda" yang melekat padanya.

"Kenapa harus ada pengawal? Aku sudah 15 tahun dan sekarang menuju 16 tahun, pa!" kesal Felix yang merasa diperlakukan seperti anak kecil. Ia tidak suka, karena memang ia bukan tipe anak manja. Dan bukannya membantu sahabat yang sedang kesusahan, Sahara malah asyik mengambil telur gulung dari kotak bekal Felix yang sejak sampai tengah-tengah percakapan tadi terabaikan dan memakannya sambil tersenyum-senyum sendiri pada sosok kakak tiri yang kelihatannya sedang memeriksa nilai-nilai muridnya.

Kalian ingin tahu dua sekawan itu ada dimana?

Aha, sekedar info. Mereka biasa menghabiskan bekal dibawah pohon apel yang terletak di taman belakang sekolah yang juga berhadapan langsung dengan ruang guru. Pada dasarnya mereka berdua tidak terlalu suka tempat yang ramai, karena sedikit mengganggu privasi. Begitu alasan Sahara dan Felix saat ditanya mengapa mereka tidak pernah pergi ke Cafeteria dan lebih memilih menghabiskan waktu ditempat sepi begini.

Kembali lagi pada keadaan saat ini.

Felix masih terus membujuk Siwon agar mengizinkannya pergi tanpa pengawalan, sang papa yang tetap bersikukuh mengirim pengawal untuk anaknya, Sahara yang tadinya hanya berniat iseng mengambil makanan Felix kini malah tanpa sadar terus memakan bekal tersebut –bekalnya sendiri sudah habis tak bersisa- dan masih saja memperhatikan Kyuhyun tanpa ada raut bosan sedikitpun.

"Sekarang pilih salah satu, Felle. Pulang atau rencana awalmu bersama Sahara? Dengan syarat jika memilih option kedua kau harus tetap menuruti perintahku." ujar Siwon tegas.

Felix mengusap wajahnya kasar. Jika sudah begini ia benar-benar harus memilih salah satu. "Okay, okay! I choose the second option." jawabnya setengah tidak rela.

Terdengar tawa berat Siwon dari seberang sana. "This is my boy!"

"Dan kau harus pulang sebelum makan malam. Well, papa harus memeriksa beberapa laporan lagi. Bye, Felle."

"Bye, pa." Felix langsung memasukkan ponselnya kedalam saku dan berniat ingin menerukan acara makan bekalnya yang tertunda akibat percakapan –serius- nya dengan sang papa.

Saat menunduk, betapa kagetnya ia melihat kotak bekalnya tinggal berisi nasi saja dengan lauk yang sudah habis tak bersisa, itupun nasi tinggal 2 suap lagi. Diliputi perasaan jengkel dan perut yang masih lapar, ia menjitak kepala Sahara yang masih saja tersenyum sendiri dengan frekuensi yang cukup keras. Buktinya hal itu bisa menyadarkan Sahara dari tingkah abnormalnya.

"Weits! What's wrong, my nephew? Tidak sopan sekali!" omel Sahara seraya menatap Felix kesal.

Yang ditatap justru mendelik tajam. "Apa-apaan kau?! Sejak kapan aku jadi keponakanmu?!" cecar Felix. Habis sudah kesabarannya setelah makanan yang tadi baru seperempat ia makan kini tak bersisa akibat ulah iseng Sahara.

"Bukan, tapi calon. Anyway, ada apa?" tanya Sahara dengan tampang tak berdosa. Satu tangannya bergerak menuju bahu Felix, tapi dengan cepat Felix menghindar hingga tangan Sahara menggapai udara kosong.

"Dosa apa yang telah kuperbuat dulu sampai Tuhan mempertemukanku dengan makhluk sepertimu?" gumam Felix prihatin yang tak dibuat-buat.

Sahara mengibaskan jari telunjuknya sambil tersenyum menyebalkan. "Justru kau beruntung dipertemukan dengan calon paman sebaik aku, Felixander." balasnya bangga plus narsis.

Sekali lagi, Sahara berhasil membuat Felix memutar bola mata saking kesalnya. Tanpa membalas ocehan Sahara, Felix melenggang pergi.

"Eh? Jadi dia benar-benar marah?" Sahara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dalam perjalanannya, Felix menggeleng samar. 'Kasihan sekali Cho seonsaeng, setiap hari harus berhadapan dengan adik tirinya yang ajaib itu.'


NEXT?


Terserah readers ingin menggunakan persepsi 'Papa' dalam bahasa apa

Karena selain Indonesia, sebutan 'Papa' juga dipakai oleh Belanda, Inggris, Hindi, Hungaria, Jepang, Latin, Spanyol, dan Venesia.

Dan sepertinya... Belum ada yang mengenali saya ya?

Guess who? :)

Friday, August 16, 2013

- Coriander -