Cast:
Cho Kyuhyun
Choi Siwon
Sahara Shin (Original Character / Namja)
Felixander Choi (Original Character / Namja)
Et cetera
Genre: BoysLove, Family
Rating: PG-15
Disclaimer: The story is mine. And we're belong to God.
Warning: Typo(s), OOC.
V
V
V
CHAPTER 2
"Okay. Besok kita tukar pinjam ya?" Sahara menaikkan sebelah alisnya sambil memasukkan beberapa komik dan sebuah novel tebal bertemakan 'konspirasi' setelah selesai melakukan pembayaran. Felix menggumamkan terima kasih saat si kasir wanita menyerahkan belanjaannya. Gadis muda itu tersenyum malu-malu pada dua remaja tampan didepannya. Felix yang memang masih lebih 'waras' dari Sahara hanya balas tersenyum tipis ketika sahabatnya itu melemparkan seringai playboy yang dimilikinya pada si kasir sebelum akhirnya mengikuti langkah Felix keluar dari toko tersebut.
Felix menepuk bahu Sahara. "Mungkin lusa akan segera kuserahkan padamu." balasnya dengan mata yang terfokus pada ponsel. "Tapi sebagai jaminan, aku pinjam novel 'Angel & Demon' mu."
Sahara mengangguk, mengunyah santai gigitan terakhir Burgernya . "Nanti kucarikan. Aku lupa meletakannya dimana."
"Cih! Awas saja kalau sampai kau menghilangkan komik-komikku!"
Yang dimarahi hanya mengangkat bahu dan memasuki mobil yang dibawa supirnya. "Sampai ketemu besok!"
Felixander bergumam pelan, melangkahkan kaki menuju mobilnya yang terparkir disamping mobil Sahara.
Kedua anak ini memang seperti anak kembar namun berbeda ayah, ibu, bahkan wajah. Tapi sedikit banyak mereka memiliki kesamaan sifat dan hobi. Suka membaca segala jenis buku –terutama komik- , mendengarkan musik, olahraga, dan bermain game.
.
.
.
.
.
Taemin membungkuk sekilas pada Siwon yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Pria cantik yang menjabat sebagai sekretaris itu langsung menyampaikan niatnya masuk kesini. "Ada yang ingin bertemu dengan Anda, sajangnim."
Ia tetap fokus pada pekerjaannya tanpa melirik Taemin sedikitpun. "Siapa?"
"Aku." seorang remaja tampan masih dengan seragam Korea International School masuk ke ruangannya dan langsung mengambil tempat di sofa yang tersedia. Taemin tersenyum sopan dan undur diri.
Siwon menghentikan pekerjaannya dan menghampiri keponakan yang sekarang resmi menjadi anaknya dengan senyum lembut. "Tumben kau kesini?" ia mendudukkan tubuh lelahnya disebelah Felix.
"Aku datang dibilang tumben. Aku tidak datang dibilang tidak jantan. Apa maksudnya?" cibir Felix datar sambil membetulkan letak kaca matanya.
Siwon menggaruk kepala dan tersenyum bodoh. "Tidak ada maksud apa-apa, Felle. Kau tidak ikhlas sekali sepertinya." Jawabnya sambil menepuk bahu putranya. Ugh! Rasanya Felix ingin sekali mengcover wajah tampan –yang setengah hati diakuinya- dan menyebalkan itu.
"Berhenti menggunakan tatapan seperti itu Felle! Papa tahu, kau iri dengan ketampanan papa kan?" Siwon kembali pada sifat narsisnya. Berbeda sekali dengan sikapnya yang sangat berwibawa jika berada dihadapan orang lain.
"Ada kantung plastik tidak? Atau gelas? Atau apalah yang sekiranya bisa menampung sebuah cairan."
Siwon menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa?"
Yang ditanya malah menyeringai. "Aku ingin muntah!"
Wajah Siwon berubah panik. "Kau kenapa? Sakit? Tifusmu kambuh? Lambungmu bermasalah lagi? Perlu papa panggilkan ambulance? Atau papa bawa ke rumah sakit terdekat?"
Felix menatap wajah Siwon yang berheboh ria dengan tatapan aneh. "Too much, pa!"
Siwon tersadar. "Eh? Jelas saja! Bagaimana bisa aku tidak berlebihan jika anakku sakit?" Siwon menempelkan punggung tangannya ke dahi Felix. "Tapi tidak panas." gumam Siwon.
Felix memutar bola mata, malas menanggapi ayahnya. Matanya tertuju pada arloji yang dipakai Siwon. "Patek Philippe Calatrava 5120/1G? Baru ya?" tangannya meraba jam berwarna silver tersebut. Felix tahu barang ini. Simpel dan elegan. Harganya pun tak bisa dibilang main-main.
Dan ia langsung disuguhi wajah tampan yang menampakkan dua lesung pipi serta senyum lebar, terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Tidak." jawab orang itu singkat, padat, dan jelas.
Si anak mengernyit heran. "And then?"
"Dibelikan seseorang."
Rasanya Felix begitu menyesali pertanyaan yang tadi sempat dilontarkannya. Siapa yang salah disini? Err, tidak! Tidak! Maksudnya, siapa yang bodoh disini?
"Bukankah tadi aku bertanya apakah itu jam tangan baru?"
Siwon tersenyum. "Ya, lalu?"
"Kenapa papa memberikan jawaban seperti itu?"
"Karena memang itu jawabannya." balas Siwon santai.
Remaja laki-laki bernama Korea Choi Geun Hyeong itu mendengus. "Ibarat mesin, pasti dalam otak papa ada sesuatu yang tidak sinkron."
Siwon kembali mengernyit. "Memangnya robot?"
Untuk yang kesekian kalinya, ia benar-benar menyesal menuruti perintah Siwon untuk datang kesini. Sepertinya tekanan darahnya mulai naik. Bahkan ia pernah berpikir, kalau begini terus bisa-bisa ia akan terkena hipertensi atau lebih parahnya mati mendadak. Hm… Sungguh berlebihan.
"Inti dari pertanyaanku adalah, dari mana papa mendapatkannya? Aku tahu itu bukan merk sembarangan. Itu Patek Philippe, pa! Salah satu brand terkemuka arloji pria. Siapa yang tidak mengenalnya? Harganya saja tidak pernah main-main!" jelas Felix gemas.
Siwon mengamati arloji yang melingkar indah dipergelangan tangan kirinya. Lagi-lagi sebuah senyum kasmaran –begitu menurut Felix- tercipta dibibir tipisnya.
"Astaga! Sebenarnya yang remaja itu aku atau papa?" ia mengusap wajahnya kasar.
"Memangnya ada apa, Felle?" tanya Siwon dengan polos –bodoh- nya.
Kini Felix benar-benar menahan diri agar tidak mengacak-acak ruang kerja sang ayah. Ia mulai berpikir macam-macam.
'Bagaimana bisa haraboeji menyuruh papa untuk memegang asset Choi Group di Korea?' tapi kemudian ia menggeleng samar. 'Untunglah hanya di Korea. Apa jadinya jika papa yang memegang kendali Choi Group International?"
"Tingkahmu seperti remaja yang sedang kasmaran, Papa Choi!" cecar Felix tajam.
"Ahaha… Benarkah?"
"Tidak penting untuk dijawab dan tak perlu dibahas lagi. Mana cake pesananku?"
"Cake?" Siwon menerawang. "Ah, iya!" sedetik kemudian ia teringat akan apa yang dimaksud dengan 'cake' oleh Felix. Ia berjalan menuju kulkas kecil yang ada diruangannya. Mengeluarkan sebuah kotak sedang dan meletakkanya di meja kecil yang berada didepan sofa. Siwon memotong kue itu menjadi beberapa bagian, lalu mengambil piring kecil yang sudah dibawanya untuk meletakkan potongan tadi. "Special for my baby Felle!"
Felix bergidik. "Don't 'baby' me! Aku jadi merinding."
Tawa Siwon membahana di ruang kedap suara tersebut, menyisakan seorang remaja tampan yang masih berdarah Jerman turunan dari ibunya itu menatap aneh pada sang lawan bicara.
'Please save me, God!'
.
.
.
.
.
Kyuhyun turun dari tangga sambil merapikan poninya. Ia memakai kaus lengan panjang ketat berwarna putih polos dengan rompi panjang selutut berwarna coklat dipadu dengan celana jeans hitam yang tak kalah ketat dari kausnya dan sepatu kets putih. Kesan manis didirinya semakin menguar dengan sedikit kilatan lip gloss pada bibirnya yang memang agak kering.
Sahara tampak terpukau oleh penampilan simple but sexy hyung-nya. Ia menatap Kyuhyun dari atas sampai bawah. "Mau kemana, babe?"
Kyuhyun tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. Lucu dan kekanakkan. "Aku ingin keluar sebentar, babe."
Heran? Sepertinya tidak usah. Karena selain bertengkar, Sahara dan Felix juga terbiasa begini. Berkata manis satu sama lain. Namun itu tergantung suasana hati Kyuhyun. Bisa menebak sendiri, 'kan? Jika Kyuhyun sedang badmood, sudah pasti Sahara akan jadi sasaran amukan bantal Kyuhyun karena panggilan barusan. Tapi berhubung saat ini ia sedang –sedikit- berbahagia, maka tak dipermasalahkannya panggilan yang biasanya ia bilang 'menjijikkan' dari adik tirinya tersebut.
"You're so sexy tonight! Dating Siwon hyung, right?" tebak Sahara.
Rona merah langsung menjalari pipi bulat Kyuhyun. Sebuah kalimat langsung melintas dibenak Sahara.
'He's so fuckin' hot, God!'
"Not a date! Just accompany him for dinner." jawab Kyuhyun cepat.
Sahara tersenyum playboy. Ia berdiri dan mengitari Kyuhyun dengan seringainya. "Yeah, dinner…" gumama Sahara, lalu berhenti dibelakang Kyuhyun. "And sex?" bisiknya sambil meniup tengkuk Kyuhyun pelan.
Kyuhyun terkesiap. Ia berbalik badan dan mendapati adik –kurang ajar- nya tertawa jahil dan mengambil ancang-ancang untuk lari. "PABBOYA SAHARA SHIN! YOU'RE PERVY BOY!" teriak Kyuhyun histeris.
"Eww! Santai saja, babe! Kau tahu 'kan bagaimana pergaulan dunia barat? Setidaknya kurang lebih 5 tahun aku mengalaminya." terang Sahara dari depan kamarnya yang berada dilantai 2.
"TETAP SAJA KAU MASIH TERLALU KECIL UNTUK BERBICARA SEPERTI ITU, OTAK GANGGANG!" Kyuhyun sudah bersiap melempar remote AC pada Sahara yang berada diatasnya.
Anak itu mengibaskan jari telunjuknya, tertawa puas atas reaksi sang kakak. "Tenang saja, Cherie Kyu. Aku masih ingat Tuhan dan orang tua, terutama dirimu. Aku tidak ingin apa yang kulakukan berbalik padamu, jadi aku selalu berhati-hati dalam bertindak."
"Apa maksudmu, bocah autis?" desis Kyuhyun.
Raut wajah Sahara berubah serius. "Kau percaya adanya karma?"
Menangkap nada kesungguhan dalam suara Sahara, Kyuhyun mendengus pelan. "Apa hubungannya?"
Sahara mengeratkan tangannya pada pegangan tangga. "Jika aku mempermainkan perasaan seseorang, aku takut karmanya bukan berbalik padaku, tapi kau."
Kyuhyun mendecih. "Otak ganggang selamanya akan tetap otak ganggang!"
"Kenapa tidak kau saja yang jadi adikku? Kurasa aku lebih dewasa dalam segi apapun." Sahara kembali pada sikap santainya.
"Andai waktu berputar balik pun aku tidak akan pernah sudi punya kakak berotak ganggang sepertimu, autis!" geram Kyuhyun. Ah, mood baiknya harus ternodai oleh mulut comel nan kurang ajar adik tirinya. Padahal tadi masih baik-baik saja. Memang sifat bawaan Sahara Shin ini menjengkelkan sekali!
"Yang penting 'kan aku tampan." siulnya. "Untung saja appa dan umma sedang tidak di rumah. Kalau mereka tahu anaknya yang paling tampan ini dimaki-maki dengan begitu sadisnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka." Sahara memegang dadanya dengan wajah dramatis, membuat Kyuhyun ingin bunuh diri melihatnya.
Baru saja Kyuhyun membuka mulutnya untuk mencibir tingkah Sahara, handphone disakunya bergetar. Senyum langsung terkembang diwajah kesalnya saat melihat ID penelpon. Ia berdehem sebentar, lalu menyentuh ikon telepon dilayarnya.
"Yobseyo?" sapa Kyuhyun, berusaha agar nadanya terdengar biasa.
"….."
"Okay!"
Kyuhyun memasukkan ponselnya, mendongak ke arah Sahara yang tersenyum menggoda. "Aku pergi sebentar. Kau! Jangan mengacau selama kutinggal!"
Sahara tertawa. "Have fun, Cherie. Kalau bisa jangan berikan aku keponakan dulu. Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang paman."
"Kau benar-benar otak ganggang, Sahara Shin!" ketus Kyuhyun sebelum keluar dan menutup pintu keras-keras.
Korban perkataan pedas Kyuhyun itu menggeleng pelan. Melangkah turun dan mengetik sebuah pesan singkat.
.
.
.
.
.
To: Felixander Choi
'Let's go! Pakai mobilmu saja. Kunci mobilku disembunyikan oleh Cherie hyung.'
NEXT?
Review Reply Chapter 1:
wonkyufa : Terima kasih sudah menyukai fic aneh ini ^^
WonKYunJae : Salam kenal WonKyu moment masih lama sepertinya *dzigh* Papa diganti Daddy? Hm… Terima kasih atas sarannya, tapi saya memang sengaja memilih panggilan itu agar sedikit berbeda dengan family fic yang lain ^^
shin min young : Akan dipaparkan secara perlahan ^^
Kayla WonKyu : Sahara 'kan berdarah campuran Err… Saya biasa 'hidup' di wordpress ^^
siscaMinstalove : Hubungan teman, mungkin? Sahara dan Felix itu satu paket ^^
evil kyu : Sahara memang kurang ajar dari lahir *jderr* WonKyu moment ditunggu ya ^^
Guest : Sengaja saya buat perbedaannya disitu ^^
Guest: Ini lanjutannya ^^
zita frauke : Perlahan pasti mengerti , ini ringan kok ^^
shin min hyo : Yang pasti saya WonKyu Hardcore kkk~
missjelek : Ini lanjutannya ^^
NaraKim : Sahara dan Felix memang bagai dua sisi koin yang berbeda -_- WonKyu moment ditunggu ya ^^
Thank's for my visible readers and invisible readers ^^
Maaf update-nya lama banget. Sekolah semakin sibuk.
Dan dibaca ulang, ternyata chapter kemarin banyak typo ya? *blank*
Hmm... Belum ada yang bisa menebak siapa saya? Okay, nggak memaksa kok. Kkk~
Saturday, 7th September 2013
- Coriander -
