Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Sahara Shin (Original Character / Namja)

Felixander Choi (Original Character / Namja)

Et cetera

Genre: BoysLove, Family

Rating: PG-15

Disclaimer: The story is mine. And we're belong to God.

Warning: Typo(s), OOC.

V

V

V

CHAPTER 3


Cho Kyuhyun menggunakan segenap pertahanannya agar tak terlihat aneh didepan pria tampan didepannya. Menyuap makanan dan menyesap minuman sewajarnya dan –sedikit- ditambah dengan gaya anggun yang tampak natural. Agak menyimpang dari sikapnya yang biasa, namun ia cukup nyaman. Hei, bagaimana perasaanmu saat ada seseorang yang terus memperhatikan gerak-gerikmu dengan tatapan seperti itu? Kyuhyun mungkin linglung. Ia ingin berteriak tidak nyaman, tapi itu berarti ia mengkhianati kata hatinya. Tapi jika ia bilang suka, ia merasa malu dan panas sendiri. Diatas kebingungan itu, Kyuhyun memilih untuk agak menunduk agar pipi bulatnya tak memancarkan warna merah yang lebih terang.

'So cute, hmm…' gumam Siwon dalam hati, merasa tersihir dengan kemanisan wali kelas anaknya. Lain kali Siwon akan menyempatkan diri ke gereja lagi sebagai tanda syukur ia telah dipertemukan dengan orang seperti Cho Kyuhyun dalam 2 tahun terakhir. Ia jadi terpikir untuk segera melepas masa lajangnya diusia yang sudah berkepala 3 ini.

"Kyuhyun-sshi?"

Merasa namanya terpanggil, pria manis berambut coklat madu tersebut mengangkat wajah dan langsung bertatapan dengan sorot tegas seorang Presdir muda yang sudah mengisi hatinya semenjak pertama kali ia melihat pria ini duduk di kursi wali murid saat pendaftaran siswa baru Korea High School.

"N-ne?" balas Kyuhyun, lupa menyesuaikan nada gugupnya.

Choi Siwon tersenyum melihat tingkahnya. Kyuhyun menunduk lagi, tidak ingin memperlihatkan wajah imutnya didepan lelaki tersebut.

"Hei, bukankah tidak sopan jika berbicara dengan orang sambil menunduk?" candanya.

Kyuhyun langsung mendongak, wajahnya memancarkan kekagetan dan rasa bersalah yang begitu manis dimata Siwon.

"Maaf."

Lawan bicaranya menggeleng pelan disertai tawa ringan. "Hanya bercanda."

Tanpa sadar, Kyuhyun memajukan bibirnya sedikit. Kebiasaannya saat merasa kesal dan hanya ditunjukkan pada keluarga atau orang-orang terdekatnya.

Eh? Hei! Itu Choi Siwon!

Bukan keluarganya maupun orang ter-

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata besarnya membulat.

'Uhuk!'

Suara tersedak itu membawa Kyuhyun kembali dari tingkah kekanakannya. Dengan sigap ia menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Siwon. Kyuhyun yang –entah sejak kapan- sudah duduk disamping Siwon menepuk punggung kokoh tersebut pelan.

"Gwaenchana, Siwon-sshi?" tanyanya cemas.

Diam-diam Siwon tersenyum senang. Ternyata Kyuhyun lebih perhatian dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Dan-

Ehem!

Ini pertama kalinya mereka dinner bersama jika kalian ingin tahu. Tapi sekedar untuk minum kopi mungkin sudah beberapa kali, itupun tak lebih dari setengah jam setelah sesi pembagian raport yang berlangsung hanya 2 kali dalam setahun.

"Ne, nan gwaenchanayo. Gumawo, Kyuhyun-sshi." jawab Siwon tidak lupa dengan sepasang dimplenya.

Kyuhyun menghela napas lega. "Astaga. Kau membuatku panik, Siwon-sshi." ujarnya spontan. Sedetik kemudian, ia memekik perlahan. Menyadari kesalahan fatal yang telah dibuatnya. Bahkan bisa dilihatnya kini wajah Siwon berbinar senang.

"Sekali lagi terima kasih telah mengkhawatirkanku, Kyuhyun-sshi. Uhm… Dan bolehkah aku mengatakannya sekarang?" ia menatap lurus kedua bola mata Kyuhyun yang merefleksikan cerminan dirinya, enggan menyadari kegugupan yang mulai melanda pria 28 tahun ini.

"N-ne?" nada gugupnya terdengar lagi.

"Kau-"

.

.

.

.

.

"Ayahmu lambat sekali." cibir Sahara, menyesap Cappuccino dinginnya santai. "Perlukah aku mengajarinya bagaimana cara menyatakan cinta yang baik dan benar?"

Felix menatap sahabatnya tajam dengan telunjuk diletakkan diatas mulut, mengisyaratkan agar remaja tampan itu mengecilkan suaranya. "Kurasa ayahku lebih berpengalaman soal itu, dessert." bisiknya.

Sahara mengaduk-aduk minumannya, membalas tatapan Felix dengan seringai khasnya. "Tapi untuk mengatakan 'Aishiteru' saja butuh waktu hampir 2 tahun." sengaja ia keluarkan satu kata yang berasal dari negara kelahirannya.

"Sekarang kutanya padamu. Apa kau tidak cukup mengenal kakakmu?" ujar Felix kesal.

Adik tiri Kyuhyun itu mengernyit diselingi pandangan 'Apa-maksudmu?'

"Sudah berapa banyak lelaki yang ditolak oleh kakakmu?" cecar Felix.

Kerutan didahinya semakin banyak sejalan dengan jari tangannya yang mulai berhitung. "Empat orang." Sahara menunjukkan keempat jarinya dengan tatapan bodoh.

"Including our English teacher? Mr. Jay?"

"Who is he?"

Felix mendesis. "Bodoh! Dia guru kelas 3, pabbo! Bisa-bisanya kau tidak ingat pada guru-gurudi sekolahmu!" geramnya ketika Sahara memberi respon diluar dugaan. Padahal ia sendiri sudah tahu bahwa Sahara memang sering lupa dengan nama guru-guru di sekolahnya, kecuali guru yang menurutnya baik dan 'pantas' diingat.

Coba saja kau tanya siapa nama guru Matematikanya ketika Junior High School atau guru Sejarahnya sewaktu sekolah dasar. Suatu keajaiban apabila Sahara bisa menjawabnya dalam waktu kurang dari 20 menit –yang merupakan kejadian yang sangat langka-. Dan jangan heran jika jawaban final yang kau dapatkan adalah: 'Aku saja tidak ingat beliau itu perempuan atau laki-laki. Bahkan aku lupa kalau pernah bersekolah disana.'

Err… Jangan salah! Sahara itu pintar. Amat sangat pintar. Hanya saja… Yeah, seperti yang sering ditekankan oleh Kyuhyun: 'Sahara Si Otak Ganggang'.

Jadi bukan tanpa alasan 'kan mengapa Kyuhyun sering meneriaki Sahara dengan 'panggilan sayang' tersebut?

Kembali pada dua remaja tampan yang duduk dibelakang Choi Siwon dan Cho Kyuhyun yang sedang menikmati makan malamnya di restoran bergaya Eropa bernama Signature ini, okay?

Sahara menggeleng. "Aku malah ingat pada guru olahraga kita, Minho seonsaengnim." jawabnya sedikit melenceng.

Namun rasa ingin tahu Felix mengalahkan kalimat umpatan yang telah dirancang sedemikian apik dalam otaknya. "How about him?"

"Ditolak hari itu juga. Lalu esoknya jam olahraga di kelas kita kosong, 'kan?"

Felix mengangguk samar.

"He was sick." terang Sahara, mengambil 3 potong French Fries dan mencelupkannya kedalam campuran mayonnaise, saus sambal dan tomat. "Demam. Mungkin kaget lebih tepatnya. Selama ini belum pernah ada yang menolaknya."

"Sampai seperti itu?" tanya Felix tak percaya.

Kali ini Sahara mengangguk yakin. "Cherie hyung sendiri yang cerita padaku." balasnya setelah menelan 3 potong kentang goreng sekaligus. "Asal kau tahu saja. Cherie hyung sering menceritakan masalah percintaannya padaku."

"Really?"

"Tak terkecuali hubungan 'gantung' nya dengan ayahmu ini." sindir Sahara. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ayahmu?" ia buru-buru mengalihkan topik saat melihat wajah masam sahabatnya.

Remaja Choi itu mengangkat bahu. "Terkadang ia juga bercerita padaku." ia membalas senyum seorang waitress cantik yang lewat didepannya. "Meskipun begitu, papa adalah orang yang cukup tertutup. Well, berdasarkan opiniku."

Sahara tersenyum prihatin dan menepuk bahu Felix pelan.

"Kenapa wajahmu seperti itu?" selidiknya curiga. Ia tahu, pasti sebentar lagi anak aneh didepannya ini akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak biasa.

"Aku paham, kawan. Sangat paham." ujar Sahara masih dengan ekspresi yang sama.

Felix bergidik menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut 'bocor' sahabatnya.

"Kau belum punya bakat untuk menjadi seorang 'dewa cinta' sepertiku." tukas Felix dengan tawa percaya diri yang paling menyebalkan yang dimilikinya.

.

.

.

.

.

Audi R8 berwarna putih itu berhenti didepan sebuah rumah besar bercat putih elegan. Didalamnya, 2 orang yang mungkin kalian anggap sepasang kekasih sedang berusaha menetralkan detak jantung yang menggila.

"Thank's for tonight." sebuah suara husky memecah keheningan yang terjadi. Matanya menatap lembut sosok manis disampingnya.

Pria manis itu balas menatap si tampan dengan tatapan malu dan tak kalah lembut. "Anytime."

Choi Siwon mendekatkan wajahnya perlahan. Irisnya terfokus pada bibir merah yang sedikit terbuka. Cho Kyuhyun juga balas menatap wajah didepannya. Rahang dan sorot tegas Siwon membuat wajahnya panas. Semakin dekat, dekat, dekat...

Empat,

Tiga,

Dua,

Sa-

'Hatchi!'

.

.

.

.

.

To : Felixander Choi

'Failed kissing! Lalala~ -_-'


Maaf nggak bisa balas review satu-satu. Tapi semuanya saya baca kok. Terima kasih~ Semoga nggak mengurangi kadar kepuasan readers ^^

Thank's for my visible and invisible readers ^^

Sunday, September 29, 2013

- Coriander -