PRETTY, PLEASE

Chapter 2

Judul : Pretty, Please.

Genre : Yaoi, Romance, etc.

Cast : EXO.

Length : Chaptered.

Author : Sam / SamKou.

.

HAPPY READING!

.

Pretty, Please

.

Pretty please... Show me what you feel

Tell me what you need

Angry at me if it's necesssary

And hold me if that's what you need it

But please, don't hide yourself

Or

Happiness will leave you

The darkness will eat you

.

.

Chapter 2

.

.

.

-START-

.

.

.

-Flashback-

.

"Appa... wae? Hiks…."

Seorang anak berbisik kepada dirinya sendiri, sambil menatap sang ayah didepannya dengan tampang memohon. Memohon untuk semua ini tidak terjadi, memohon bila semua ini hanya mimpi.

Sang ayah hanya tersenyum, memberikan kalimat-kalimat menenangkan agar anaknya tidak bersedih, tidak menangis. Memberikan sebuah janji, yang entah kapan akan ditepati, yang anak itu percaya hingga saat ia sadari bahwa janji ayahnya tak pernah terlaksana.

Sampai akhirnya figur sang ayah benar-benar pergi menjauh tepat didepannya, berjalan lurus dengan hanya sesekali melihat kearahnya hingga akhirnya benar-benar menghilang dari pandangannya. Tangis yang sudah hampir redam kembali mengalir, saat dilihatnya sepasang mata juga memandangnya dengan tatapan bingung.

Sepasang mata yang polos, sepasang mata yang berarti satu orang lagi yang meninggalkannya selain ayahnya. Seorang lagi yang ia harapkan tetap berada disisinya. Seseorang yang ada didalam gendongan sang ayah.

.

-Flashback End-

.

.

.

-Author's POV-

.

"Kai mau kemana?" tanya salah satu roommatenya, Tao.

"Aku ingin pergi sebentar" jawab Kai.

"Jangan lama-lama ya. Ini sudah malam dan aku tak mau sendiri" jelas Tao yang saat ini sudah memakai piyamanya.

"Memangnya kemana Luhan hyung?"

"Entahlah, dia pergi dari tadi sore. Sekalian ajak Luhan ge pulang kalau kau berpasasan dengannya. Ingat jangan lama-lama"

"Ne, aku hanya ingin bertemu seseorang dan memperjelas sesuatu" ucap Kai dan langsung keluar kamarnya menuju suatu tempat.

.

.

===00===00===00===

.

.

"Hiks... hiks..." tangis seseorang disalah satu sudut dorm dengan ponsel masih menempel ditelinganya.

Setelah beberapa saat menangis sesunggukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, iapun segera mematikan ponselnya karena tidak tahan dengan apa yang ia dengar. Menenangkan diri sejenak dan menghapus jejak air mata yang masih tersisa diwajahnya.

Setelah dirasa cukup kembali normal segera dirinya meninggalkan tempat sebelum ada yang memergokinya atau membuat roomatenya khawatir.

Luhan berjalan dengan gontai menuju kamarnya, masih terukir kesedihan diwajahnya. Sampai sebuah tubrukan membuatnya tersadar.

Bruk!

"Ah..."

Luhan dengan orang yang ditabraknya jatuh tersungkur kelantai. Dengan beberapa barang-barang praktek kimia berserakan disekitar tubuh mereka, beberapa diantarnya pecah.

"Luhan?" merasa dipanggil Luhan melihat orang didepannya sekaligus yang ia tabrak, ternyata Lay, salah satu temannya.

"Kau tak apa?" Lay berdiri kemudian membantu Luhan.

"Tak apa-aw!"

"Kau terluka?" tanya Lay khawatir.

"Aku baik-baik saja. Apa perlu aku bantu? Maaf aku tidak lihat-lihat, barangnya jadi rusak..."

"Tak apa aku bisa sendiri, lagipula ini memang sudah tak terpakai. Aku hendak membawanya kegudang. Benar kau tak apa? Kau nampak... berbeda." Lay kembali khawatir melihat raut wajah Luhan yang tak biasa.

"Iya, aku sedikit lelah"

"Oh, kalau begitu kembalilah kekamarmu, biar aku saja yang membereskan ini"

"Ne, maaf dan terima kasih" dengan begitu Luhan segera kembali kekamarnya. Meninggalkan Lay yang sedikit curiga.

.

.

===00===00===00===

.

.

"Ada apa kau memanggilku?" tanya Kyungsoo yang baru datang kepada seseorang yang memunggunginya.

"Oh kau sudah datang" orang tersebut berbalik arah untuk menghadap Kyungsoo.

"Cepat katakan... Kai" Kyungsoo mendapati lidahnya kelu saat menyebut nama orang didepannya tersebut yang hanya memasang wajah santainya.

"Aku harus segera menyelesaikan urusan dapurku" alasan Kyungsoo untuk mengalihkan perhatian, meski benar ia sedang menyiapkan makan malam saat Kai memintanya untuk bertemu disini, diatap dorm.

Kai berjalan mendekati Kyungsoo, mendekat hingga benar-benar tepat dihadapan Kyungsoo. Meraih kedua tangan Kyungsoo dan menggenggamnya lembut.

"Tentang perjodohan itu-"

"Sudahlah aku sudah memikirkannya" Kyungsoo segera menarik tanggannya dari genggaman Kai, namun Kai menahannya enggan untuk melepaskan.

"Lepaskan Kai" Kai malah semakin mengeratkan genggaman tanggannya.

"Dengarkan aku..." raut muka Kai berubah serius.

"Kita bisa bicara lain waktu, aku harus segera kembali" Kyungsoo bersikeras menarik tangannya agar lepas dan meninggalkan Kai.

Begitu juga dengan Kai yang tidak mau kalah segera meraih kembali pergelangan tangan Kyungsoo dengan sedikit keras.

"Aw!" Kyungsoo sedikit merintih menahan sakit dipergelangan tangan kirinya. Melihat Kyungsoo yang kesakitan Kai melepas genggamannya.

"Gwaenchana?" tanyanya khawatir. Kyungsoo hanya mengangguk sambil mengusap pergelangan tangannya yang terbalut sweater lengan panjangnya.

"Biar aku lihat..." Kai ingin meraih kembali lengan Kyungsoo dengan lembut namun Kyungsoo menghindar dengan mundur kebelakang.

"Tak apa, ini hanya masalah kecil"

"Tapi kau terluka"

"Ini hanya luka bakar saat memasak. Eum... aku rasa aku harus segera pergi" Kyungsoo membungkukkan badan sebelum melesat pergi meninggalkan Kai.

Kai tidak bersikeras lagi, ia membiarkannyan pergi kali ini. Percakapan yang terunda bisa dilanjutkanlain waktu. Tapi tetap Kai merasa khawatir dengan lengan Kyungsoo.

.

.

===00===00===00===

.

.

"Ow Baekhyunnie kau baru pulang" sapa Xiumin melihat Baekhyun yang baru kembali malam-malam begini.

"Ne, ini..." Baekhyun memperlihatkan apa yang ia bawa, seikat bunga.

"Ow indah, apa kau membelinya?"

"Ani, aku mendapatkannya dari tukang kebun setelah membantunya" jelas Baekhyun sambil menaruh bunga didalam vas dan menaruhnya dimeja.

"Oh, lihat bajumu juga kotor, lebih baik kau mandi sekalian. Sepertinya Sehun sudah selesai"

"Ne"

Baekhyun menuju kekamar mandi setelah mengambil baju ganti. Ia bersihkan badannya yang terkena tanah saat membantu tukang kebun yang memangkasi taman belakang sekolah.

Setelah selesai ia balut tubuhnya dengan handuk, sebelum dirinya berganti baju ia sempatkan memakai perban yang ia bawa tadi. Ia balut tangannya, setelah selesai iapun keluar dari kamar mandi.

Duk!

Baekhyun menabrak orang yang ada didepannya saat keluar kamar mandi. Saat mendongak didapatinya Sehun.

"Mian Sehun-ah"

"Gwaenchana" mereka saling tersenyum, dan Baekhyun mempersilakan Sehun yang sepertinya ingin masuk kembali kekamar mandi.

"Hyung..." panggil Sehun pelan, Baekhyun berhenti dan menoleh.

"Ne?"

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sehun sementara matanya mengarah ketangan Baekhyun.

"Ah ini?" kata Baekhyun sambil mengusap-usap tangannya yang ia perban dari mulai pergelangan tangan hingga telapak tangan.

"Tak apa hanya terluka, terkena cabang dan duri saat memotong tanaman. Itu lihat aku membawa beberapa tangkai bunga" jelas Baekhyun sambil memperlihatkan letak bunga yang ia dapat.

"Oh, baguslah..." Sehun kembali ketujuannya, masuk kedalam kamar mandi.

"Gomawo..." ucap Baekhyun lirih dan kemudian pergi. Yang tidak Baekhyun tahu, bahwa Sehun mendengarnya.

.

.

===00===00===00===

.

.

Aula sekolah sudah dipenuhi oleh siswa-siswa, duduk tenang-sedikit banyak berbisik- sambil menunggu apa yang akan disampaikan oleh pihak sekolah nantinya.

Saat kepala sekolah sudah menaiki altar, sontak seluruh siswa diam dan mentap kearah depan.

"Selamat pagi semuanya..."

Sambutan yang sedikit membosankan membuat beberapa siswa kembali melanjutkan pembicaraan yang mereka tunda. Hingga pada akhirnya topik yang menarik, mampu menarik perhatian mereka kembali.

"Untuk memperingati hari olah raga, sekolah kitapun akan melakukan hal yang sama. Yaitu untuk mengadakan beberapa event pertandingan dan perlombaan olahraga. Team dibentuk sesuai dengan kelas, setiap kelas wajib mengirimkan anggotanya untuk pertandingan sesuai yang dibutuhkan. Tentu saja pihak sekolah akan memberikan reward. Event akan dilakukan selama seminggu penuh mulai minggu depan..."

Jelas kepala sekolah, yang selanjutnya pidatonya berisikan tentang pesan-pesan selama pertandingan nanti. Hampir semua siswa senang dan semangat dengan diadakannya event tersebut saat awal ajaran baru seperti ini.

Sesaat setelah keluar dari aulapun, para siswa-siswi sudah mulai mendiskusikan apa yang harus mereka lakukan nantinya.

.

.

===00===00===00===

.

.

"Woah menyenangkan sekali, aku sudah tidak sabar. Sudah pasti aku akan memenangkan banyak pertandingan nantinya hahaha..." pemuda dengan suara beratnya tertawa dengan bahagia, membayangkan kemenangannya nanti saat event sedang berlangsung dan dirinya yang akan mendapat gelar MVP nantinya.

"Jangan bercanda Chanyeol hyung, sudah pasti Kris ge yang akan menang" Tao, pemuda dengan lingkar mata hitamnya, sedikit mengejek Chanyeol denagn meminum orange smoothie-nya.

"Lagipula ada aku, meski aku ini anak baru. Aku rasa aku bisa memenangkan beberapa pertandingan dan perlombaan" tambah Tao.

"Akupun juga tidak akan kalah hyung, aku cukup hebat dalam beberapa olah raga. Dan aku tidak akan mengalah atau merasa kecil meski aku baru kelas satu" pemuda sedikit pendek dari Tao, Chen ikut menyuarakan pikirannya

"Ya kalian jangan meremehkanku. Kalian belum tahu kehebatanku, dasar! Sudah pasti aku akan mengalahkan kalian" kembali Chanyeol tidak mau kalah.

Mereka bertiga asik saja dengan perdebatan siapa yang akan menjadi pemenang dan kelas mana yang akan jadi kelas terbaik. Sedang yang teman yang lain yang juga duduk didekat mereka hanya menggelengkan kepalanya.

Lebih kearah Chanyeol yang sama sekali tidak mau kalah dari hoobaenya. Meski sudah terviasa dengan tingkah Chanyeol kadang teman mereka juga terkadang masih terheran dengan sikap hypernya.

Meski tidak bisa dipungkiri memang Chanyeol jago dalam berbagai olahrga bersama dengan teman seangkatannya Kris.

.

.

===00===00===00===

.

.

Event hari olah raga sudah menasuki hari pertamanya. Siswa-siswa sudah dibagi kedalam bidang masing-masing. Dan untuk menyambutnya event pertama adalah sepak bola. Para pemain dari kedua belah pihak yang akan bertanding sedang melakukan pemanasan.

"Wah Baekhyun-ah sayang sekali kita harus bertemu dipertandingan pertama" Xiumin datang kerah Baekhyun yang sedang melakukan pemanasan.

"Dan sudah pasti kelas kami yang akan menang" timpal Jonghyun yang ternyata mengikuti Xiumin, Jonghyun memang suka sekali perdebatan, Baekhyun akhirnya bangkit dan tersenyum manis.

"Kekeke kita lihat saja bagaimana nantinya hyung" teman Baekhyun yang bernama Taemin ikut menyela.

"Benar meski kami junior kami tidak akan kalah"

"Hm bagus, dan kami tidak akan mengalah. Jadi bersiap-siaplah" tantang Jonghyun.

Prrriiitttttt!

Pertandingan putaran pertama telah dimulai antara kelas 1-D (Baekhyun, Sehun, Taemin, Zelo dan Youngjae) melawan kelas 2-B (Luhan, Xiumin, Onew, Jonghyun, dan Himchan).

Pertandingan cukup ketat, dengan pihak kelas 2 yang terus melancarkan serangan mereka. Terutama Luhan yang dengan gesit menggiring bola. Namun pertahanan anak kelas 1 tidak selemah yang ia pikirkan. Disisi lain Sehun selalu berusaha untuk merebut bola darinya.

Pertandingan terus berlanjut dengan skor 2-1, sementara waktu tinggal beberapa menit lagi. Kali ini Jonghyun yang berinisiatif untuk melancarkan serangan dengan Luhan yang mengikutinya. Jonghyun kembali dihadang oleh Taemin, namun berhasil melewatinya dengan gerakan mengecoh.

"Oh dapat bye" Jonghyun tersenyum senang karena gawang tepat berada dihadapannya tanpa pertahanan, hanya tinggal Baekhyun seorang sebagai penjaga gawang.

"Tangkap ini" Jonghyun menendang bola dengan keras kearah gawang. Semua teman dan para penonton menantikan hasil yang terbaik.

Duk

Tapi sayang bola berhasil ditepis oleh tangan kiri Baekhyun, dan Baekhyunpun tersungkur.

Drap drap drap

Duk

Namun dengan tiba-tiba bola kembali ditendang oleh Luhan kearah pojok atas tiang gawang, Baekhyun yang menyadari segera bangkit dan mencoba menghadangnya kembali dengan melompat.

Pritttt!

Goal!

Namun sayang gol kembali tercetak, hampir bersamaan dengan selesainya waktu pertandingan. Luhan dan teman-temannya bersorak gembira dengan kemenangan mereka. Sedang kelas Sehun mau bagaiman lagi mereka sudah kalah, hanya ikut bertepuk tangan memberi selamat pada sunbae mereka.

Xiumin melompat-lompat kegirangan, akhirnya ia ingin roomatenya yang kalah melawan mereka. Ia ingin menghampiri mereka memberikan semangat meski mereka kalah. Ia berbalik menoleh kesisi lawan.

"Oh tidak!" Xiumin berlari kearah gawang lawan, tempat tercetaknya gol. Berlari dengan khawatir. Sehun dan beberapa orang yang sadar akan sesuatu juga ikut berlari kearah sana.

"Baekhyun!"

Xiumin berjongkok dihadapan Baekhyun yang ternyata masih dalam posisi miring tergeletak dilapangan. Xiumin membantunya bangun, Baekhyun masih tersadar namun dengan luka dikepala sebelah kirinya, mengeluarkan darah.

Saat tadi dirinya hendak menahan bola dari Luhan ia sedikit panik dan malah menghantam tiang gawang, alhasil dirinya terluka.

"Gwaenchana Baekhyun?"

"Ne hyung, gwaenchana hanya pusing" katanya dengan menyunggingkan senyum.

Grep

"Oh…"

"Dia harus segera dibawa keruang kesehatan" kata Sehun.

Saat mendengar teriakan Xiumin dan melihat Baekhyun yang terluka. Sehun ikut menghampiri dan dengan tiba-tiba namun lembut ia mengangkat Baekhyun dan menggendongnya dipunggungnya.

Ia bawa Baekhyun menuju ruang kesehatan, diikuti dengan Xiumin dan Luhan yang mengikutinya dari jauh.

"Gomawo" lirih Baekhyun ditelinga Sehun. Sehun hanya menggumam dan tidak ada percakapan lagi setelah itu hingga sampai diruang kesehatan.

.

.

===00===00===00===

.

.

"Xiumin sebaiknya kau kembali, kau dibutuhkan dipertandingan yang lain" salah satu teman Xiumin menghampirinya diruang kesehatan untuk menjemput Xiumin.

Xiumin hendak menolak tapi Baekhyun menyuruhnya mengikuti apa kata temannya, dan dengan berat hati Xiumin harus meninggalkan Baekhyun. Meninggalkannya bersama Sehun dan … Luhan. Luhan memang masih berada disitu namun hanya mengamati dari kursi seberang dan dengan kata-kata maafnya berulang kali.

Karena ternyata cukup banyak juga para siswa dan siswi yang ada diruang kesehatan, maka suster meminta Sehun ataupun Luhan untuk memberi pertolongan pertama dulu kepada Baekhyun. Karena suster harus mengurus siswi yang pingsan.

"Angkat ponimu hyung biar aku yang membersihkan lukamu" pinta Sehun. Dan karena masih merasa pusing Baekhyun menuruti semua yang diperintahkan dalam diam.

Dengan telaten Sehun membersihkan luka didahi Baekhyun setelah sebelumnya memperhatikan lukanya, Luhan hanya melihat mereka dalam diam. Dengan tersenyum simpul.

"Luhan-ssi kau tidak ada pertandingan atau perlombaan lain?" tanya Sehun tiba-tiba pada Luhan yang sejak tadi hanya diam duduk disisi lain tempat tidur Baekhyun.

"A-ah ani, hari ini sudah selesai" katanya canggung, yang tiba-tiba ditanya.

"Eum... Baekhyun-ssi maaf tentang yang tadi" kembali Luhan meminta maaf kepada Baekhyun

"Gwaenchana, hal seperti ini sering terjadi" dan kembali Baekhyun menyunggingkan senyumnya dengan berkata tak masalah.

"Baekhyun-ssi lebih baik kau ganti bajumu, yang kau pakai basah karena keringat, pakailah ini" salah satu suster kembali dengan membawa kaos putih.

"Ne, gomawo"

Baekhyun melihat kearah dua orang disampingnya, menatap dengan malu.

"Eum... bisakah... kalian eum... berbailk arah?" pinta Baekhyun malu-malu. Sepertinya Baekhyun malu jika harus berganti pakaina didepan orang lain.

"O-oh baiklah"

"Mian, aku tidak biasa berganti baju didepan orang"

"Tak apa. Eum... kami berdua lebih baik keluar saja, lagipula kau butuh istirahat. Benar kan?" Sehun bangkit dari duduknya diikuti dengan Luhan.

"Hmm begitu? Baiklah…"

"Beristirahatlah dengan baik"

"Ne"

Mereka berdua hendak pergi meninggalkan Baekhyun sebelum akhirnya berhenti sejenak mendengar gumaman Baekhyun.

"Gomawo"

Mereka berdua tersenyum, merasa bahwa hanya ucapan terimakasih yang dilontarkan Baekhyun, benar-benar tulus dan sekaligus terasa...

.

.

===00===00===00===

.

.

"Sehun-ssi.." panggil Luhan setelah mereka keluar dari ruang kesehatan.

"Ne?"

"Eum.." Luhan bingung dan ragu dengan apa yang ingin ia katakan tadi.

"Kau terlihat perhatian sekali dengan Baekhyun-ssi, ah maksudku kau baik sekali dengan temanmu"

"Hmm entahlah, hanya panggilan hati mungkin?"

"Pasti menyenangkan memiliki seseorang yang memperhatikanu…" lirih Luhan sangat pelan, namun Sehun masih samar-samar mendengarnya.

"Tidakkah kau memiliki sahabat yang memperhatikanmu?" tanya Sehun memuat Luhan terhenyak, ia pikir Sehun tidak mendengarnya tadi.

"Eh… eum tentu saja ada, tapi… tapi berbeda jika…"

"Jika keluarga sendiri maksudmu?"

"Ne?"

"Aku sedikit mengerti apa yang kau maksud, karena akupun menantikan hal semacam itu…."

.

-Author's POV End-

.

.

-TBC-

.

.

A/n :

Iya maaf chapter sebelumnya kalo ada yg bingung. Sama siapa yang ngelakuin ini dan siapa yang ngelakuin itu. Memang dibuat seperti itu, demi kelancaran cerita.

Biar kedua belah pihak (yang di cari & yang mencari) sama-sama ga' tau. Tapi nanti pada akhirnya cepet ketahuan koq. Tinggal prosesnya aja.

Kalo kelasnya, buat bikin reader gampang nerkanya gitu.

Mian kalo Sam sok2 umpet2an karakter.

And, Gomawo yang baca & review ^^