Yo, minna-san.. konnichiwa..
Ohisashiburi.. ogenki?
saikin isogashii naa.. demo, yatto chukan tesuto wo shitan da, yokatta..
ashita kanji no tesuto wo suru kedo kaze o hiite.. kawaisou na atashi..
kadang ada perasaan ingin nyerah.. d tambah masalah2 d luar pelajaran.. cape desuu..
pengen pindah jurusan ka na.. atau sekalian pindah rumah.. ke tempat yg lebih sepi to omou..
atama ga ittaku nachatta.. jya, hajimaruzo..! (are?!)
Chap. 3 : The Wandering Soul
Suara kendaraan terdengar agak berisik dari luar apartemen bernomor 1805 dan dengan hangatnya sinar matahari siang itu menembus lembut gorden berwarna krem di ruangan minimalis milik orang terkuat se-Ikebukuro. Dengan kaos putih dan celana pendeknya Shizuo bejalan ke dapur membuat kopi favoritnya, lalu menuju ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Sudah hampir sebulan sejak kejadian di rumah Shinra terjadi dan sudah hampir sebulan juga dokter illegal itu menjauhi dia. Entah kenapa, setiap kali disinggung soal email itu sikapnya langsung berubah gugup seperti gadis SMA yang malu kalau membicarakan orang yang disukainya. Misalnya saja..
.."shinra, apa kau kenal dengan orang yang bernama Iza-". "ah! Shizuo.. lihat.. lihat.. –menunjuk jam tangannya- sudah waktunya aku berkencan dengan ayangku Celty. Maaf ya Shizuo, kita lanjutkan saja pembicaraan besok" teriaknya sambil berlari seperti di kejar Simon(?)
.. atau
"Celty, boleh aku pinjam PDA mu? Ada sesuatu yang ingin kupastikan"
"maaf, Shizuo. PDA milik ayang ku Celty sedang terjangkit virus. Jadi tidak bisa di pakai"
"Kalau begitu aku hanya ingin tanya, kau kenal dengan orang yang bernama-" belum sempat Shizuo selesaikan pertanyaannya, Shinra dan Celty sudah pergi melesat dengan motornya meninggalkan Shizuo yang tercenga di pinggir jalan seperti orang bodoh.
..dan ada juga yang seperti ini
"Shin-"
"Lihat! Tom dan Vorona kisu shite(1)"
"apa?!.. mana..?"
"haha.. ternyata hanya imajinasi ku. Haha.. haha.. ha…. Aku pulang dulu ya. Ayangku Celty sudah menunggu"
..lalu yang terakhir
"Celty.. Shinra..buka pintunya! Aku tau kalian di dalam"
"Maaf, orang yang anda panggil sedang tidur, silahkan panggil lagi setelah bunyi –tiiiitt-" teriak Shinra darii dalam apartemen yang disusul bunyi seperti pintu yang di kunci, digembok, dan barang-barang yang digeser untuk mengganjal pintu yang kemudian berakhir dengan pintu apartemen Shinra yang didobrak paksa dengan satu kaki oleh Shizuo.
XxX
Shizuo POV
Aku merasa sangat pusing, benar-benar pusing. Aku tidak habis pikir tentang apa yang disembunyikan si kacamata itu, ingin sekali ku pukul wajahnya hingga tak berbentuk. Karena terlalu stress, aku jadi ingin sekali merokok, tapi semenjak Fuyuki tinggal di rumah bersamaku aku sudah memutuskan untuk mencoba mengurangi –berhenti masih tidak mungkin bagiku- kebiasaan burukku itu, minimal aku berusaha untuk tidak melakukannya saat Fuyu ada di dekatku.
Bicara tentang Fuyu, ku lirik jam berbentuk kucing pemberian Erika dan Walker yang tergatung di dinding di atas tv, jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00 dan itu berarti sudah satu jam aku melamun di sofa dengan cangkir kopi yang sudah habis di depanku. Sudah waktunya Fuyu untuk mandi setelah seharian bermain, pikirku sejenak. Aku pun bangkit dari posisiku yang nyaman di sofa mengahampiri anak berambut coklat itu, dengan liur yang melumuri wajahnya anak berusia lima belas bulan itu dengan wajah serius dan penuh konsentrasi sedang mengemut mic main-mainan yang diberikan Celty, seakan-akan itu adalah misi utamanya.
Saat ku angkat tubuh kecilnya, Fuyu pun mulai melepaskan mic itu dan ganti memokuskan perhatiannya untuk membasahi kaos putihku dengan air liurnya. Shinra bilang, hobi mengigit sesuatu dan berliur –dalam jumlah banyaknya ini- dipengaruhi oleh proses tumbuh giginya dan akan berakhir dalam beberapa hari. Meski sudah lebih besar dari waktu pertama kali menggendongnya, kadang aku tetap merasa takut saat memeluk tubuh kecilnya dengan kedua tanganku, takut kalau kekuatanku yang tidak normal ini akan melukainya suatu hari nanti, tapi suara tawa yang otomatis terdengar saat aku menggendongnya membuat rasa takutku itu sedikit demi sedikit menghilang. Fuyu memang hartaku yang paling berharga, dia adalah cahaya di dunia kecilku. Aku berjanji akan berusaha untuk menjadi ayah yang baik dan melindunginya dengan taruhan nyawaku.
XxX
Normal POV
Waktu mandi dihabiskan tanpa sesuatu yang special, tentu jika kau yang mengabaikan Fuyuki yang bermain dengan terlalu semangat di bak mandi kecilnya dan mencipratkan air ke Shizuo sehingga Shizuo terlihat seperti ia mandi dengan baju utuh. Dulu dalam bayangan Shizuo yang namanya mengurus anak kecil itu menyusahkan, sedikit-sedikit mereka menangis dan jika tidak dituruti kemauannya setan-setan kecil itu akan mulai marah, ngambek dan lagi-lagi berakhir dengan tangisan yang tidak berhenti dan suara yang keras membuat sakit telinga. Namun, Shizuo merasa hal itu setimpal dengan kebahagian yang ia terima saat ini. Pernah, tidak, tapi sering sekali ia di buat marah oleh anak laki-lakinya itu seperti sekarang ini, walaupun tubuhnya basah dari atas sampai bawah, walaupun ia masih pusing dan lelah, tapi saat menatap wajah terutama matanya rasanya amarahnya pun langsung terlupakan, ia tidak bisa menahan senyumnya yang kemudian berubah menjadi tawa kecilnya hingga akhirnya ia tertawa terbahak-bahak sambil membalas cipratan anaknya dengan lembut. Ia merasa menjadi orang biasa dengan kehadiran Fuyuki, seperti seorang ayah biasa yang mencintai anaknya.
Selesai mandi, Shizuo memutuskan mengajak jalan-jalan Fuyuki ke pusat perbelanjaan untuk membelikannya baju baru, hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunnya yang belum ia belikan. Sebenarnya ia sudah menerima gaji pertamanya dari Tom sejak beberapa hari yang lalu, tapi karena sibuk oleh pekerjaan dan anak semata-wayangnya ia jadi tidak sempat pergi berbelanja. Kemarin, saat diperjalanan pulang ia melihat sebuah toko perlengkapan bayi dan di pajang di depan tokonya adalah baju-baju bayi yang lucu, bahkan baju bartender seperti dirinya pun ada untuk ukuran bayi. Saat itu lah ia berniat untuk mengajak Fuyuki ke pusat perbelanjaan sekalian untuk membeli kebutuhan bulanan kami.S
XxX
Shizuo POV
Tidak disangka toko perbelanjaan yang dipikirnya sepi jam segini ternyata tetap saja ramai. Banyak pedagang yang berteriak mempromosikan barang dagangannya di sana sini. Ku peluk Fuyuki dengan sedikit lebih erat karena takut terjadi sesuatu yang buruk padanya, tapi yang dipeluk hanya mengabaikan rasa takutku dan menatap sekeliling dengan tatapan penuh heran, terkesan, dan heboh sendiri dengan mata besarnya yang bersinar-sinar dan mulut yang menganga lebar. Dia benar-benar lucu, pikirku sambil tersenyum-senyum sendiri menatapnya. Ternyata benar kata si bodoh Shinra, kalau aku di dekat Fuyuki aku jadi OOC, tapi masa bodoh dengan pemikiran orang lain. Aku malah bersyukur karena semenjak Fuyu tinggal bersamaku penyakit cepat marahku alias temperamenku mulai menurun.
Yosh! Tidak terasa cuma memikirkan hal itu saja membuat waktu beralalu begitu cepat dan sekarang aku sudah sampai di depan toko yang ku lihat kemarin.
Saat masuk aku langsung semangat melihat banyak sekali baju-baju yang lucu untuk Fuyuki. Aku pun mulai berjalan menuju salah satu bagian baju untuk anak laki-laki. Saking semangatnya memilih aku pun tanpa sadar mulai menurunkan Fuyuki dari gendonganku dan mulai melimih-milih baju yang lucu seperti ibu-ibu yang ku lihat hampir setiap pagi semangat berbelanja terutama saat ada diskon, tapi tentunya dengan gaya yang masih sok cool.
XxX
Fuyuki POV
Setelah mandi otou-tan (2) langsung memakai baju pink favorit punya Fuyu dan mengajak pergi ke luar. Tidak biasanya ia mengajak Fuyu keluar, tapi tidak apa-apa Fuyu malah senang.
Otou-tan terus menggendong Fuyu dengan erat sampai kami tiba di tempat tujuan. Tempat itu saat ramai dan banyak toko yang menjual berbagai macam barang. Karena hari sudah mulai gelap, lampu-lampu di pinggir jalan mulai dinyalakan, berwarna-warni dan terang. Iiindaaaaaah sekali seperti warna permen, tapi bersinar. Fuyu tidak bisa berhenti menutup mulut Fuyu saking terkesannya. Rasanya ingin turun dan menjelajah tempat ini sendiri, tapi otou-tan kembali mengeratkan pelukankannya pada Fuyu. Tiap kali ada paman atau bibi yang berteriak Fuyu pasti menengok. Rasanya senang sekali, ini pertama kalinya Fuyu di ajak ke tempat seperti ini, otou-tan memang yang terbaik J
Fuyu menengok ke arah otou-tan saat merasakan kami berhenti. Di depan kami ada sebuah toko kecil yang menjual banyak baju buat Fuyu. Otou-tan memasuki toko itu dan mulai memperlihatkan ekspresi yang persis dengan apa yang Fuyu gunakan di luar tadi. Sepertinya otou-tan juga senang, syukurlah.
Dengan cepat otou-tan berjalan ke salah rak baju yang ada di sudut toko dan mulai menurunkan Fuyu untuk memilih-milih baju. Perhatiannya benar-benar teralihkan dan Fuyu mulai sebal karena Otou-tan mengabaikankan Fuyu. Fuyu pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar otou-tan, tapi pemandangan di seberang toko yang Fuyu lihat dari kaca besar tembus pandang itu mangalihkan perhatian Fuyu sepenuhnya. Sebuah jaket putih-pink beserta earphone pink-nya terpajang dengan keren di kaca jendela toko. Tanpa berpikir lagi Fuyu pun pergi keluar dari toko meninggalkan otou-tan yang masih sibuk sendiri. Dengan penuh semangat Fuyu berusaha melangkahkan kaki-kaki kecil Fuyu meskipun agak sedikit gontai menuju surga dunia.
Sesampainya di depan toko Fuyu kecewa karena tidak bisa membuka pintu depan toko. Pintunya besar dan berat tidak seperti toko sebelumnya yang pintunya pintar karena bisa terbuka sendiri. Pada akhirnya Fuyu hanya bisa menatap baju itu dari balik kaca jendela dengan wajah super-duper sedih yang Fuyu tempelkan ke kaca hingga muka Fuyu terlihat gepeng. Butir-butir air mata pun mulai mengancam untuk jatuh, tapi Fuyu berusaha menahannya karena otou-tan bilang anak laki-laki tidak menangis. Semenit kemudian pun air mata ku jatuh seperti air terjun super mini di barengi suara isakan kecil yang masih berusaha Fuyu tahan sampai tiba-tiba suara seseorang dari arah belakang mengangetkan Fuyu.
"Adik kecil.. apa yang kau lakukan di sini sendirian? Mana ayah dan ibumu?" tanya seorang pria berambut hitam pada Fuyu sambil agak berjongkok menyamakan tingginya dengan Fuyu. Fuyu langsung menoleh dan tercengang melihat orang di hadapanku ini.
Tiba-tiba Fuyu merasa semakin ingin menangis. Fuyu tidak mengerti. Suaranya.. penampilannya.. wajahnya.. Fuyu tidak kenal, tapi Fuyu tahu. Fuyu bingung. Tanpa berpikir lagi Fuyu berlari ke arah orang itu dan langsung memeluknya dengan erat serta menangis sekeras-sekerasnya di dada pria dengan bau enak itu(3). Rasanya jadi kangen? Seperti lama tidak bertemu, tapi siapa? Fuyu benar-benar bingung, aku ingin otou-tan. Otou-tan dimana? Di satu sisi Fuyu ingin ke tempat otou-tan, tapi di sisi lain Fuyu tidak mau lepas dari pelukan orang ini, begitu hangat dan nyaman.. bagaimana ini? Paman Shinra? Bibi Celty? Tou..tan…
つづく。。
(1) Kisu shite = mencium (bibir) / berciuman
(2) Otou-tan = ayah. "tan" di sini biasanya di pakai ma anak kecil (tp g smua). Mirip2 anak cadel ngomong san/chan deh
(3) Bau (?) = maksudnya aroma. Biasalah fanfic jaman skrg (?) chara klo g ada baunya g khas (siapa yg blg?). di sini sy bayanginnya bau tu org (msh rahasia ceritanye) rose. Buntu ide sih..
Ditutup dengan Fuyu POV. Horay~
Klo ada yang tau atau kasih pendapat ttg bau2nya chara drrr bs lgsg ksh tw kok.. nanti langsung d bnrin.
hmm..
Nama fuyu sy ambil dr b. jepang (y iyalah) yg artinya musim dingin karena dia emank lahir di musim dingin..
tadinya namanya retsuki.. tp setelah d pikir-pikirlah apa hubungannya.. d cr artinya pun g cocok jdlah namanya Fuyuki
mgkn enak x y klo nanti shizuo punya anak lagi namanya natsuki deh.. biar opposite-nya fuyuki.. hahaha..
Fuyu : Musim dingin
Natsu : Musim panas.
hahahahaha
Tsuki Aizawa
