Author: Yo! Bertemu lagi dengan author yang gobloknya minta ampun ini! XDD

Kameharu: Akhirnya kau ngaku juga (==')

Author: Iya, iya... Kayaknya rintangan-rintangan buat Miku dan yang lainnya ada di chapter ini, ya

Kameharu: Beneran? *makan permen*

Author: Eh, bagi dong permennya!

Kameharu: Enak aja! Sebaiknya kamu cepat-cepat ngetik buat chapter 2! (==')

Author: ... Ok.. (T^T) Disclaimernya, Vocaloid milik Crypton! Tapi cerita tentu saja milikku~


Miku POV

Aku memandang diriku di cermin. Ugh, agak aneh, tapi terpaksa ku pakai juga kan? Kini aku berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Gumi menyuruhku dan Mikuo untuk memakai baju negeri peri karena baju dari dunia manusia yang ku pakai kurang cocok untuk di negeri peri. Kini aku layaknya seorang peri, hanya saja tidak memiliki sayap.

"Kyaa~ Miku-chan kawaii!" puji Gumi.

"Hm? Hontou desuka?" tanyaku tidak yakin.

Gumi mengangguk kuat. Aku ingin tau, bagaimana ya pakaian Mikuo? Apa sama seperti Gumiya? Aku dan Gumi segera keluar dari ruang ganti di rumah Gumiya dan melihat Mikuo dan Gumiya yang duduk di sofa.

"Waa!" aku terkagum-kagum melihat baju yang dikenakan Mikuo.

Ia benar-benar keren memakai baju yang sekarang dipakainya (Kameharu: Kayak gimana?). Tapi bukan berarti aku menyukai saudara kembarku sendiri! Memangnya kalian kira aku twincest?! (Author: Iya, udah pernah dibuat tuh ceritanya O3O #BLETAKKK | Miku: Jadi ceritanya kamu lagi promote, nih? ==')

"Kenapa, sih?" tanya Mikuo yang pipinya memerah.

"Kalian berdua jadi benar-benar mirip seperti peri! Hanya saja tidak ada sayapnya" kata Gumi.

"Aku juga tadi berpikiran seperti itu.." kataku.

"Sebaiknya kita berangkat besok saja" usul Gumiya.

"Mengembara! Mengembara!" seru Gumi.

"Eh? Mengembara ke mana?" tanyaku.

"Tentu saja kita harus pergi ke wilayah kekuasaan Chiaki! Dengan begitu, kita bisa berusaha melenyapkannya dan menyegelnya kembali!" jawab Gumi.

"Hei, kau kira itu hal yang mudah?!" tanya Gumiya.

"Hehe, nggak, sih... Oh iya, kalian berdua belum punya senjata!" kata Gumi.

"Eh? Senjata? Dimana kami bisa mendapatkannya?" tanyaku.

"Hm... Aku agak tidak yakin soal ini. Hanya saja, ku rasa kalian harus meminta kepada dewi Kitano" jawab Gumiya.

"Dewi Kitano?" aku dan Mikuo bingung.

"Shikashi, kalian harus melewati rintangan yang diberikannya dulu. Setelah itu, baru dewi Kitano akan mengabulkan permintaan kalian" kata Gumiya.

"Sokka... Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang saja!" ucapku.

"Ima?" tanya Mikuo dan Gumi.

Aku mengangguk kuat, "Ima!" jawabku.

"Baiklah, kalau begitu aku setuju dengan Miku. Ayo kita pergi sekarang!" ajak Gumi.

Ku lihat Gumiya yang menghela napasnya. Dan akhirnya, kami pun pergi menuju tempat dewi Kitano.


Normal POV

"IᅳIni rintangannya?" tanya Miku kaget.

"Iya. Ini saja baru rintangan pertama, kalian yakin mau mencobanya?" tanya Gumi.

Kini di depan keempat anak itu, tumbuh beratus-ratus pohon disertai duri yang lumayan besar dan tajam. Miku meneguk ludahnya.

"Apa tidak bisa melewati hutan ini dengan cara lain, Gumi nee-chan?" tanya Miku.

"Cukup berbahaya dan mengancam nyawa" kata Mikuo.

"Sudah banyak peri yang berusaha melewati rintangan ini, tapi sayangnya tidak satu pun yang berhasil dan terjebak di dalam hutan berduri ini. Hutan berduri ini juga sering disebut hutan berdarah karena banyak peri yang mati disini. Kalian yakin?" tanya Gumi.

Miku merinding ketakutan. Namun, ketika teringat akan tujuannya, ia berusaha memberanikan diri.

"Aku akan masuk!" kata Miku.

"Hee?!" Gumi, Mikuo dan Gumiya kaget.

"Kau yakin, Miku-chan? Kita belum tentu bisa keluar dari hutan ini dengan selamat!" kata Gumi.

"Tapi ini demi duniaku dan duniamu juga bukan?! Nah, ayo masuk!" ajak Miku berjalan terlebih dahulu.

"Matte, Miku!" panggil Mikuo, ia langsung berjalan mengikuti Miku.

Miku menunduk dan melewati lubang untuk masuk ke dalam hutan berduri itu. Ia terlonjak kaget ketika melihat didalamnya. Banyak sekali duri-duri tajam yang menempel pada pohon-pohon yang saling melilit satu sama lain. Miku agak tidak yakin karena duri-duri itu kelihatan besar dibandingkan duri-duri yang dilihatnya sebelum memasuki hutan berduri itu tadi. Namun, Miku harus melewatinya.

"Hati-hati, Miku" ucap Mikuo.

Miku mengangguk lalu bangkit berdiri. Mereka kemudian berjalan secara perlahan dan tetap berhati-hati. Miku waspada saja takut tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi padanya. Ia terus melihat ke sekelilingnya.

BLUP! BLUP! BLUP!

Namun, karena tidak melihat ke bawah, ia tidak sadar sehingga mendadak, kaki Miku tanpa sengaja menuruni sebuah kolam lumpur yang lumayan dalam. Miku terperosot hingga jatuh ke dalam kolam itu.

"KYAA!"

"MIKU!" panggil Gumi, Mikuo dan Gumiya kaget.

Dengan cepat, Mikuo meraih tangan Miku dan menggenggamnya dengan erat.

"Bertahan, Miku!" seru Mikuo.

Gumi dan Gumiya ikut menarik Mikuo agar Miku dapat tertarik keluar dari kolam lumpur itu. Dan pada akhirnya, Miku pun dapat tertarik keluar dari kolam itu. Namun sayangnya, Miku tak sengaja terlempar jauh dan kepalanya hampir saja mengenai duri yang tajam itu. Gumi dan Mikuo kaget, namun kemudian menghela napas.

Dengan cepat, Mikuo menarik saudara kembarnya, Miku. Saking takutnya, Miku sampai langsung mendekap Mikuo dan menangis. Mikuo agak kaget.

"Huwaa! Mikuo, aku takut! HUWAA!" tangisnya meledak.

Mikuo mulai mengerti dengan keadaan Miku sekarang dan balas memeluk Miku untuk menenangkannya. Sedangkan Gumi dan Gumiya cuma bisa berblushing-ria. Mungkin mereka mengira ya... twincest.. dan semacam itulah.

"Sudah ya, Miku. Setidaknya kau selamat..." ucap Mikuo.

"Kaunya sih, ceroboh sekali" kata Gumiya.

"Hiks.. Gomennasai.." kata Miku.

"EᅳEh... Eto... Kalau begitu, kita lewati jalan lain saja, ya.. Ayo" ajak Gumi.

Mereka pun berjalan menuju ke tempat tujuan mereka. Di tengah perjalanan, pastilah banyak rintangan yang harus dihadapi untuk sampai ke kolam dewi Kitano. Misalnya saja, mereka harus melewati batu-batu yang mungkin licin sebagai jalan penghubung untuk menyebrangi sungai yang alirannya amat deras.

"Hii~ Mengerikan" kata Miku berusaha berhati-hati.

Gumi dan Gumiya sudah berada di seberang sungai sedangkan Miku dan Mikuo masih melewati batu-batu itu. Yap, akhirnya Miku berhasil ke seberang, tapi Mikuo belum. Ia malah memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Dan tanpa disadarinya, ia menginjak air yang baru saja terciprat dari air terjun didekatnya sehingga membuatnya terpeleset.

"WAAA!"

BYUURR!

"Kyaa! Mikuo!" panggil Miku.

Mikuo berusaha untuk mencapai batu besar dan memeluknya sehingga ia belum hanyut terbawa arus air.

"ToᅳTolong aku!" seru Mikuo.

"Mikuo!" panggil Miku yang hampir menangis.

Gumiya cepat-cepat berpikir dan akhirnya ia menemukan sebuah ide yang cemerlang. Dengan cepat ia mengambil 2 buah kayu yang lumayan keras dan panjang. Ia lalu mendekatkan kayu satunya ke yang lain hingga bersentuhan, Gumiya menyihirnya sehingga kedua kayu yang awalnya terpisah menjadi satu. Gumiya cepat-cepat mengulurkan kayu itu kepada Mikuo.

"Mikuo! Pegang kayu ini!" kata Gumiya.

Sesuai yang diperintahkan Gumiya, Mikuo berusaha untuk menggenggam kayu itu dengan erat. Miku dan Gumi yang melihatnya (karena mungkin akan berhasil) pun ikut membantu Gumiya.

Dan pada akhirnya, Mikuo pun berhasil tertarik keluar dari sungai itu. Gumiya langsung berbaring ngos-ngosan saking lelahnya (Author: Soalnya Mikuo beratnya mencapai ratusan :v *dibunuh dengan sadis oleh Mikuo FC*). Mikuo juga melakukan hal yang sama.

"Huwaaa! Kami-sama, arigatou! Juga untuk Gumiya-kun! Kau sudah menyelamatkan nyawa saudaraku!" kata Miku.

"Dou.. ita..." balas Gumiya.

"Deras sekali. Kamu sih, Mikuo, melamun saja.." kata Gumi.

"Sudahlah, ayo kita beristirahat dulu.. Langit sudah mulai berubah warna..." usul Mikuo.

"Iya, kita beristirahat disini. Jangan paksakan dirimu, ya" kata Miku.

Mikuo mengangguk dan tersenyum simpul. Dan pada malam itu, mereka pun beristirahat disana, di dekat sungai itu.


Miku POV

"Hoammm...! Ohayou!" ucapku ketika baru saja terbangun dari tidurku.

"Ohayou, Miku-chan" balas Gumi.

"Eh? Mikuo dan Gumiya kemana?" tanyaku.

"Mereka pergi untuk mencari makanan" jawab Gumi.

"Hee? Maksudnya?" tanyaku.

"Kau pasti lapar nanti" jawab Gumi yang ga nyambung sama sekali.

"Ohh..."


Mikuo POV

Kini aku dan Gumiya berada di dekat sungai yang arusnya tidak terlalu deras dan mungkin lumayan dalam. Letaknya cukup jauh dari tempat kami beristirahat semalam. Ku pikir Gumiya akan mengajakku untuk mencari ikan disini. Kalau bawa ikan besar dan banyak, pasti akan sangat repot.

"Kita cari ikan" ucap Gumiya, tebakanku benar.

Aku terdiam sejenak, "Ikan?" tanyaku.

"Iya, ikan" jawab Gumiya.

"Maksudmu kita akan berenang?" tanyaku.

"Ya iyalah. Memangnya kita punya pancingan? Sudahlah, ayo lepaskan bajumu (Author: *nosebleed* O/ / / /A/ / / /O)" kata Gumiya sambil melepaskan bajunya.

Aku pun melakukan hal yang sama dengannya. Terpaksa juga karena aku dan Gumiya tak tau daerah sekitar sini, jadi kami hanya bisa menangkap ikan.

BYURRR!

Gumiya langsung menyeburkan diri ke dalam sungai. Hei, dia meninggalkanku! Ah, lupakan. Aku pun mendekati tepi sungai itu dan menyeburkan diriku ke dalam sungai ala Haruka dari anime Free (WTH?!).

BYURR!

Apakah aku bisa mendapatkan makanan untuk hari ini? Semoga saja.

To Be Continued

Gumiya: *menendang pintu hingga pintunya rusak parah dan membawa bazooka berbentuk wortel (?)* MANA AUTHOR?!

Author: *kaget sampai kejedot langit-langit (?)* Kenapa saya yang dicari?

Gumiya: SIALAN LU AUTHOR! KENAPA AKU YANG HARUS BILANG KAYAK GITU?! #capslockjebol

Author: *nosebleed lagi* Aku ga bermaksud kayak gitu.. (QAQ)

Gumiya: Bohong! Arghh! Kau mempermalukanku sebagai pemuda Vocaloid yang terkenal di dunia!

Author: (==') Narsis amat...

Gumiya: Udah gitu, enak banget ya Mikuo nyebur ala Haruka, kalau begitu aku kayak Nagisa atuh \(=A='\)

Author: Terserah -_- Yosh, review ne! ^^ Dan abaikan pemuda gila tadi *langsung dihajar sama Gumiya*