"Bosa...nnn..." gerutumu sambil menatap keluar jendela. Beberapa hari ini cuaca tak jelas, mendung, hujan, cerah bentar ujan lagi bahkan hari ini angin menderu tanda hujan badai. "Bagaimana aku pulang?"

"Maa, maa, sabar saja tunggu hujan reda." ujar Yamamoto yang sembari tadi memoles Shigure Kintoki miliknya.

"Kalau tak reda sampai malam?"

"Ya menginap." kamu melotot pada teman sekelasmu yang super ngak peka dengan keadaan. "Eh, salah ya? Ahahahahaha"

"Kau kan Rain Guardian, buat hujannya berhenti dong!" saking kesal dengan cuaca hari ini sampai bicaramu jadi ngawur hingga pemuda yang ada di depanmu bingung sendiri.

"Ahahahaha, aku ini memang Rain Guardian tapi bukan dewa hujan." katanya sembari menggaruk belakang kepalanya yang pastinya tidak sedang gatal ketombean. "Eh...bagaimana kalau kita main sambil nunggu hujan?"

"Main apa?"

"Black jack?"

"Boleh lah."

"Yang kalah kena hukuman." Yamamoto nyengir lebar.

"Oke!" kau menjawab dengan yakin karena di majalah remaja bilang peruntunganmu hari ini baik.

.

.

.

.

.

"Gyaaaa!" jeritmu frustasi karena tak menang sekalipun setelah mencoba 10 putaran, sementara remaja berkulit tan di depanmu tertawa sambil guling-guling di lantai kamarnya. Bahkan ayah pemuda itu tadi tertawa dari lantai bawah mendengarmu kesal karena kalah telak.

"Ahahahahaha! Aduh...kau memang sangat sial hari ini!"

"Aaahhh! Benciiiii!" kau melempar semua kartu di tanganmu ke arah Rain Guardian Vongola yang masih saja meringkuk menahan tawa. Kau bersumpah takkan percaya ramalan bintang lagi! "Jangan ketawa terus!"

.

Di luar deru angin sudah tak terdengar meski masih gerimis, kau pun menyambar tas dan jaket yang kau letakkan di atas meja belajar milik Yamamoto.

.

"Sudah mau pulang?" tanyanya setelah susah payah berhenti tertawa.

"Angin sudah tak ada, pinjam payung!"

"Marah, ya?" tanyanya sambil menyerahkan payung.

"Tidak!" sahutmu ketus langsung berbalik secepatnya ingin pulang.

"Hei, kau lupa hukumanmu lho." Kau mematung, hukuman... Apes banget...tapi sudah janji, janji itu hutang dan harus dilunasi.

"Baiklah, kau mau apa?" Tanyamu pasrah. "Jangan yang susah ato aneh-aneh!"

"Ahahahaha, nga susah. Besok buatkan aku bekal ya?" matanya berkata 'nga boleh nolak'

Kau menghela nafas, itu bukan hal sulit "Oke! Kubuatkan yang enak!" katamu semangat.

"Ah, satu lagi!" seru Yamamoto tiba-tiba hingga kau terpaksa kembali menoleh dan

.

CUP!

.

"Eh?" Hanya itu yang bisa kau katakan. Lagi-lagi kau mematung dan kali ini wajahmu pasti semerah apel atau kepiting rebus.

"Sampai besok!" serunya dengan wajah senang ketika kembali masuk kedalam kedai, meninggalkanmu yang masih bengong sambil memegang pipi kananmu yang bersentuhan dengan bibirnya aka dicium.

"...Sebenarnya hari ini...sial atau beruntung?" batinmu dengan perasaan tak menentu dan jantung berdebar kencang. Yakin besok kau pasti tak tanggup menatap wajah apa lagi mata Yamamoto Takeshi seperti biasa.

.

.

.

.

.

Story by : LIRINA

LIRINA : Kalo ada yang pengen request silakan! Caranya :

Ketik nama tokoh spasi rate kirim ke tombol imut dibawah *kedip-kedip* (author ngacir sebelum dilempar tomat busuk)

.

*balik lagi*

.

R

E

V

I

E

W

.

PLEASE *puppy eyes no jutsu*

*kabur lage*