Takut.

.

Itu adalah satu-satunya yang bisa kau rasakan saat ini. Baru beberapa jam lalu kau meninggalkan Vongola HQ untuk membeli titipan dari beberapa Guardian namun di tengah jalan mobil yang mengantarmu dicegat, orang-orang yang menemanimu entah masih hidup atau sudah mati karena mereka ditembak oleh sekawanan orang asing. Mereka membiusmu, membuatmu tak sadarkan diri, membawamu entah kemana karena begitu kau sadar kau ada di ruangan sempit tanpa jendela hanya sebuah pintu besi yang tak bisa kau buka meski digeser, didorong, bahkan dipukul. Hanya terdengar sebuah suara dari sebuah speaker-speaker kecil di sudut atas tembok ruangan yang mengatakan kau adalah sandera untuk memancing pimpinan Vongola.

.

Kau berteriak, memohon, menangis, semua percuma, tak ada yang mendengarmu. Kau sendirian, makluk lemah yang disebut Herbivora oleh Cloud Guardian Vongola yang berhati dingin.

.

"Siapa saja...tolong aku..." bisikmu disela tangis.

.

'Sudah untung mereka hanya menculik dan menyekapmu, tidak menyiksa atau melakukan hal keji lain!' batinmu untuk menguatkan diri. 'Kau harus kuat demi dia!'

.

.

.

Lama...entah berapa lama kau terkurung. Tak ada penunjuk waktu, kau bahkan tak bisa mendengar kicauan burung atau suara lainnya yang artinya kau ada di bawah tanah. Tempat sempurna menyembunyikan sesuatu atau dalam kasusmu menyekap orang tanpa ketahuan.

.

.

.

"BUKA PINTUNYA! AKAN KUBUNUH PEREMPUAN SIALAN ITU!"

.

Sebuah teriakan dari suara asing mengejutkanmu yang tertidur karena lelah menangis. Seseorang masuk dengan nafas memburu, ditangan kanannya ada sebuah pistol berlapis emas. Kau mungkin akan berkata itu pistol yang cantik jika tak ketakutan seperti sekarang. Orang itu menatapmu dengan mata melotot, jelas marah karena apa, kau tak tahu.

.

"Perempuan sialan."

.

DOR! Sebuah peluru meleset menembus lengan kirimu. Kau menjerit kesakitan, merapat ke dinding agar tetap bisa berdiri.

.

"Cih, kali ini pasti kena jantung." nadanya terkesan yakin ditambah seringai mengerikan membuatmu makin gemetar. Kau menutup matamu rapat-rapat, menunggu peluru-peluru berikutnya menembus tubuhmu.

.

Namun sekian detik tak ada suara apapun, tak ada suara tembakan atau raung kemarahan. Kau mengintip melalui celah tanganmu yang menutup wajahmu. Kau terbelalak kaget melihat orang tadi membeku masih dengan posisi hendak menembakmu.

.

"Y/N..." Suara itu, wajah itu, beserta semua atribut yang digunakannya juga api orange sebening kristal, orang itu datang menyelamatkanmu. "Maaf, aku terlambat."

Kau pun berlari menghampirinya, menghambur dalam pelukannya. Tangan besarnya menepuk-nepuk punggungmu dengan lembut, membuatmu makin erat memeluknya.

.

"Tak apa, kita pulang sekarang." bisiknya. Saking leganya kau kehilangan kesadaran dalam pelukannya, entah pingsan entah tertidur sehingga kau belum bisa mengatakan terimakasih tapi kau yakin saat membuka mata nanti kau pasti akan mengatakannya.

"Terimakasih telah datang, Giotto."

.

.

.

Ed : Yak, ini ditulis RIN untuk request dari ley-san. Suka nga?

RIN : Terus terang tanpa padam (?) aku bingung mau buat cerita apa tentang RXGiotto. *guling-guling nga jelas sambil nonton film crocodile.*

Ed : ogah bgt nonton ntu. Yak, minta review aja buat yang berkenan memberi!