"Fuutaa!" kau menyerukan nama pemuda berambut coklat yang tengah melintasi taman bermain bersama 2 orang anak.
"Ah, Y/N-chan." ia tersenyum padamu.
"Yang mau mendekati Fuuta harus bayar upeti pada Lambo!" salah satu anak yang berambut hitam dengan kaos motif sapi menghadangmu.
"Lambo jangan!" yang satu lagi ribut melarang.
"Ahahahaha, tak apa I-pin. Aku bawa ini untuk kalian berdua." Kau menyerahkan sekotak coklat strawberry yang langsung disambar Lambo untuk dibawa kabur. Kau segera meraih kerahnya "Makan bareng dengan I-pin atau tak ada cake untukmu besok!" ancammu.
"Huahahahaha! Kalo besok ada cake Lambo akan jadi anak baik!" Keduanya naik ke tempat perosotan. Mereka makan coklat itu berdua dengan girang.
.
"Ah, seperti biasa kau selalu bisa mengatur mereka." Fuuta menghampirimu.
"Hm, aku kan juga punya adik hyper active seperti mereka." kalian berdua duduk di ayunan. "Fuuta, katanya kau bisa meramal ya?"
"Ah, begitulah. Tapi kemampuanku memburuk jika mendung dan hujan." katanya diselingi tawa kami berdua.
"Bisa meramal percintaan ngak?" tanyamu lagi.
"Bisa. Kau mau diramal ya?" Kali ini giliranmu merona, kau mengangguk pelan. "3 besar yang pantas jadi pacarmu, baiklah. Ayo kita coba."
.
Fuuta mengeluarkan buku bersampul coklat yang lumayan besar dan berat. Ia membuka halaman entah keberapa kemudian meletakkan tangannya di permukaan buku. Beberapa saat kemudian benda-benda di sekitarmu melayang termasuk dirimu juga nyaris melayang jika tak berpegangan pada tiang ayunan. Syukur kau pakai celana panjang, jika rok pasti tersingkap.
.
" Peringkat tiga yang cocok jadi pacarmu adalah Shiro Kagami."
"Siapa itu? Aku nga kenal." kalian kan baru masuk SMA jadi itu mungkin adalah salah satu anak di sekolah.
"Peringkat kedua adalah Ryou Amachi." katanya beberapa saat kemudian.
"Amachi? Itu kan teman sekelas yang masuk pemandu sorak pria?" kau belum terlalu kenal tapi dia masuk peringkat 2?
"Peringkat pertama adalah..." kau menanti dengan jantung berdebar. "...adalah..."
"Fuuta? Siapa dia?" kau jadi khawatir karena pemuda itu terdiam lumayan lama. Tiba-tiba semua benda jatuh, Fuuta tampak menunduk menyembunyikan wajahnya dalam buku besar di pangkuannya. "Fuuta?! Apa ada yang salah?! Jangan-jangan kau tak enak badan malah-"
"Bukan..., bukan begitu. Ramalan tadi..peringkat pertamanya..."
"Orangnya jelek? Atau sudah tua ya sampai kau tak sanggup bilang."
"Enak saja, aku kan tidak jelek atau tua!" serunya tiba-tiba.
"Eh?" kau terkesima.
"A...etto..." dia juga tergagap, kalian sama-sama bingung. Saling bertatapan dengan wajah semerah kepiting rebus.
"Peringkat...pertamanya...kamu ya?" kau mencoba memberanikan diri bicara.
"..." hanya anggukan singkat, kalian kembali terpaku.
.
"Alalala? Kalian berdua kenapa? Kok merah begitu?" Lambo datang dengan mulut belepotan coklat.
"Hya? Apa kalian bertengkar?" I-pin tampak khawatir.
"Ti-tidak, kami tak bertengkar. Iya kan Fuuta?"
"I-iya..., semua baik-baik saja." katanya, kami memaksakan diri tertawa.
"Kalian mencurigakan..."
"Ada yang disembunyikan." kedua anak ini sungguh makin mempersulit saja!
"A-aku pulang ya! Bye!" kau kabur sebelum mereka sempat membalas kata-katamu. Peringkat pertama untuk jadi pacarmu adalah Fuuta?! Mimpi pun kau tak pernah!
.
~Omake~
.
"Nee, Fuuta. Kenapa wajahmu masih merah begitu? Apa kalian tak sengaja ciuman?" Lambo sengaja menggoda Fuuta yang masih saja terpaku memeluk bukunya.
"L-lambo!" I-pin ikutan memerah mendengar candaan yang sungguh tak cocok keluar dari anak berusia 8 tahun seperti Lambo.
"Kalau saja memang kejadian mungkin bagus, sayangnya tidak."
"...Fuuta-nii..."
"Aku bercanda I-pin! Ayo pulang, Tsuna-nii dan mama pasti sudah menunggu untuk makan malam."
.
.
.
RIN : Gariiiiiiing...!
Cerita ini biasa banget yah? Nga menarik? Maaf jika tak suka. Hanya ini yang terpikir saat ini. *mewek sambil makan nastar punya edden sambil dicelup ke coklat*
