"Ayo semangat TO THE EXTREME!" seru pemuda bersurai putih tanpa berpikir kalau para juniornya sudah setengah mati mengikuti latihan maraton yang dia usulkan dan dia setujui sendiri a.k.a seenak udel aja tuh orang karena dia ketua club tinju.
.
"Senpai! Istirahat dulu!" serumu yang disambut sorakan dari anggota lain yang sudah nyaris sekarat.
"Ini baru 10 kali keliling sekolah! Belum cukup untuk pemanasan TO THE EXTREME!"
"Ini bahkan lebih berat dari latihan karateku!" bentakmu.
.
Kau adalah anak pemilik dojo karate dengan ayahmu yang menjadi guru sekaligus pemiliknya. Sungguh, latihan yang kau jalani sejak kecil pun tak pernah memaksamu hingga kaki dan badan nyaris terpisah. Berlebihan? Oke, nga sampai segitunya tapi keliling sekolah Namimori Chuu sebanyak 20 kali hanya untuk pemanasan itu sudah keterlaluan banget!
.
"Senpai, kita adu kemampuan ya?" tantangmu. Kau sudah sering ikut kejuaraan dan pernah menyabet perak beberapa kali.
"Extreme! Kau yakin?"
"Yakin. Jika aku menang kau harus melakukan latihan sesuai porsi yang kuberikan."
"Memangnya makanan pakai porsi? Aku terima TO THE EXTREME! Jika kau kalah maka aku punya satu perintah mutlak TO THE EXTREME untukmu!"
"Siapa takut" padahal dalam hati kau lumayan gentar.
.
Yak, karate vs street boxing. Napa jadi street boxing? Karena cara tarung yang digunakan tak sepenuhnya mengikuti aturan tinju alias pake kaki juga, lagian itu kan dilakukan di jalan jadi cocok aja dah. *alasan maksa dan nga guna*.
.
"Hyaaa!" kau melompat untuk menyarangkan tendangan di dada pemuda bersurai putih jabrik.
.
Tendanganmu ditahan olehnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh. Kakimu mendarat di antara persilangan tangannya, dengan cepat ia menangkap kakimu yang terperangkap. Kau berusaha menarik kakimu, sayangnya cengkraman itu kuat sekali. Dengan cepat tangannya yang masih bebas mengarah ke wajahmu. Tak bisa lari, kau memejamkan mata hingga merasakan sebuah tepukan kecil di pipi kananmu.
.
"Kau kalah." katanya dengan senyum 5 jari, kau mendengus kesal. Ternyata meski kau bisa mengimbangi kecepatan seniormu ini, kau tetap tak bisa menang melawan tenaga laki-laki.
"Ah..." desahmu kesal. Anggota lainnya juga ikut down, hei ini kan pertarungan jadi nga salah kan kalau ada menang kalah. "Baiklah, karena aku menang kuputuskan tiap latihan kita pemanasan keliling sekolah 10 kali! Dan tak boleh di tolak TO THE EXTREME!"
"Orz!" sahut mereka lemas. 10 lebih baik dari 20 kan?
"Dan kau, manager."
"I-iya senpai?" tanyamu gugup.
"Mulai sekarang kau dapat tugas tambahan!"
"Hukh, tugas apa?" pasrah saja lah, kerjaanmu bakal makin menggunung.
"Kau jadi manager pribadiku."
"Huh?" bingung. Manager pribadi?
"Yak, itu saja. Sekarang kalian bubar! Latihan selesai TO THE EXTREME!" serunya sambil melanjutkan larinya.
"Senpai tunggu dulu!" kau mengejarnya, tak peduli sorakanan para anggota lainnya. Susah payah kau mengejar kakak kelasmu yang super hyper active itu. "Apa maksudnya jadi manager pribadi?!"
"Pikir sendiri TO THE EXTREME!" katanya, larinya makin cepat hingga tak bisa kau kejar. Tapi sepintas kau melihat rona merah di wajahnya.
"Tunggu, maksudnya dia nembak aku?" kau akhirnya terpaku, blushing sendiri setelah mengerti apa maksudnya dengan tugas tambahan sebagai 'manager pribadi'. "Dasar senpai menyebalkan! Ngomongnya jangan berbelit-belit dong!"
.
.
.
RIN : nyari ide tentang Ryouhei yang romantis susah lho! Kalo yang M mah saya ada beberapa. Tapi karena ini edisi kecilnya kita pake T aja ya? *dilempari buah busuk ama reader*
