Dengan ragu kamu menggeser pintu ruang OSIS, takut akan tatapan mata sang prefek. Lewat celah pintu yang baru bergeser sedikit kau mengintip, kosong, tak ada siapapun. Kau pun menarik nafas lega dan masuk.
.
"Fuh...untung Senpai tak ada." kau pun meletakkan laporan klub seni yang dititip padamu.
.
Begitu kau berbalik kau mematung, tubuhmu seakan kena sihir batu Medusa. Pemuda yang kau kira tak ada ternyata sedang bersandar di sisi lain tembok, disamping pintu masuk. Karena itu kau tak menyadarinya. Ditangannya ada sebuah tonfa perak kesayangannya yang berputar-putar seakan memperlihatkan kemarahannya padamu. Kau mundur beberapa langkah, sementara pemuda berambut hitam legam itu mengunci pintu. Matilah kau! Padahal selama seminggu kau sudah berusaha menghindarinya, kabur sejauh mungkin dari pandangannya.
.
"Akhirnya kita bisa 'bicara'." ucapan yang penuh penekanan, hingga kau bisa merasakan peluh menetes di punggung dan pelipismu padahal ruangan ini cukup dingin.
"B-bicara...apa...senpai?" kau ingin lari tapi yakin dia malah akan berbuat buruk jika kau mencoba kabur.
"Apa maksudmu menghindariku?"
"T-tidak ada. Hanya...tak ingin menganggumu, kau selalu bilang aku berisik kan?" dia selalu mengataimu berisik, penganggu, tak berguna, dll. Tadinya kau tak peduli tapi akhirnya kau bosan, menyerah untuk mengejarnya setelah hampir 2 tahun kau berusaha. "Aku...menyerah... Senpai terlalu sulit untuk kumengerti walau aku sudah berusaha."
"..." dia hanya diam, berdiri menyilangkan tangannya dihadapanmu.
"M..h, aku permisi senpai."
.
Kau pun secepatnya melangkahkan kakimu ke pintu namun baru selangkah kau melewati tubuhnya, tangan kekarnya terbentang di depanmu, mencengkram erat lengan kananmu. Kau terdiam, menoleh padanya yang menatapmu tajam seakan ingin merobekmu menjadi serpihan.
.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" tanyanya dingin. Jawabannya tak ada, kau hanya ingin menjauh sebelum mendapat lebih banyak kata-kata yang menyakitkan hati. "Aku belum memberi perintah."
"Aku bukan pelayan atau anak buahmu yang setia mengekorimu walau kau perlakukan dengan kasar." kau membalasnya dengan nada penuh kekesalan. "Aku manusia, bukan hewan peliharaan yang menganggapmu segalanya meski kau sakiti. Aku punya perasaan, punya batas kesabaran!" air mata sudah bersiap menetes, kau menggigit bibirmu agar cairan itu tak sampai membasahi wajahmu.
"Herbivora...perempuan lemah, kau tak pantas membantahku."
.
Dia mendorongmu hingga terlentang di meja kerjanya, punggungmu mengenai dokumen yang bertumpuk hingga jatuh berserakan di lantai. Tangan kirinya mencekikmu meski masih dalam tingkat medium, belum cukup untuk membunuhmu namun tetap sakit. Mata kelabu sedingin es menatapmu dengan tatapan tajam, seakan ribuan jarum menusuk jantungmu. Kedua tanganmu terlalu lemah untuk melepaskan cengkramannya, ia menyeringai saat kau mencoba melawan.
.
"Lepaskan aku."
"Kalau begitu memohonlah layaknya perempuan lemah. Selama ini kau selalu bersikap tak takut dan menantangku kan?"
"Aku bosan mengikutimu, kau juga senang aku menghilang kan?" kau membalas tatapannya dengan malas. "Aku mau pulang, ini sudah mau malam."
.
Dia melepaskanmu, kau merasa agak lega namun sedetik kemudian begitu kau berdiri, tubuhmu terhempas ke lantai. Saat kau mencoba bangun tangannya mendorong kepalamu hingga kembali menyapa dingin dan kerasnya lantai ruang prefek. Kedua kakimu ditindih lututnya, kedua tanganmu pun dikunci dengan borgol di atas kepala. Mulutmu dibekap dengan kuat hingga kau yakin nanti pasti ada bekas tertinggal.
.
"Memang ada yang menunggumu? Kau kan sudah yatim piatu, paling yang ada di rumahmu sekarang hanya...'tak ada'." kau memberikan deathglare maksimal padanya, tapi dia hanya menyeringai "Aku tak suka tatapan matamu." desisnya "Padahal kau lemah, sok, dan tak bisa apa-apa. Membuatku ingin menghancurkan dirimu agar tak bisa lagi memandangku apa lagi muncul dihadapanku!"
"MMMHHHH...!"
.
Kau menjerit tertahan karena mulutmu disumpal oleh sesuatu yang entah apa tapi bukan itu yang kau takutkan melainkan apa yang dilakukan oleh pemuda itu saat ini. Dengan kasar dia menyingkap seragam bawahmu, membuat paha dan bagian yang tadinya tertutup rok terekspose oleh matanya. Kau mencoba menjatuhkannya dari kakimu yang ditindih namun percuma, dia lebih berat darimu. Kini tangannya merayap dalam baju seragammu, mencari kait bra yang menopang dadamu. Dalam sekali jentik dia membuka bra yang kaitnya ada di bagian depan kemudian menaikkan seragammu. Kau menggeliat tak nyaman ketika ia menciumi tubuhmu, menghisap dan mengigit dadamu, menariknya dengan giginya. Ia tak peduli kau kesakitan, itu hanya membuatnya makin beringas. Tangannya menyusup ke dalam kain putih yang menutupi bagian bawahmu, bergerak naik turun sesekali menyusup makin dalam menjamah bagian yang tersembunyi. Sekali tarik ia merobek kain tipis itu, membuangnya sembarang. Ia menekuk kedua kakimu ke atas, kau melihatnya menyeringai sekali lagi ketika mengetahui ketakutan mulai merayap ke dadamu.
.
"Sekarang kau takut?" detik berikutnya kau merasakan sesuatu memasuki tubuhmu, keras dan runcing. Kau tahu itu hanya sebuah jari, tapi itu sungguh menyakitkan.
.
Kau menggeliat, menendang, tapi yang kau dapat hanya tamparan dan ia menambahkan satu jari lagi ke dalam tubuhmu. Tangannya bergerak cepat menghujam ke dalam dirimu. Sakit, perih hingga kau siap meneteskan air mata karenanya.
.
"Sakit eh? Tapi tampaknya belum cukup untuk membuatmu menangis." ia menjilati jarinya yang tertutup lendir bening bercampur cairan merah. Darahmu, kau langsung tahu. "Saatnya permainan ke bagian utama."
.
Kau terbelalak ketika sesuatu yang lebih besar melesak masuk ke dalam tubuhmu, mengoyakmu hingga kau merasa akan mati saat itu juga. Kau menjerit, menangis, meronta sementara pemuda itu menghantamkan miliknya dengan keras dan cepat. Tanpa ampun, kau menahan rasa sakit yang mendera sementara ia melenguh nikmat di atas penderitanmu. Kau bisa merasakan darah yang keluar dari daerah kewanitaanmu, perih, sakit, hingga kau tak tahu mana yang lebih sakit antara hati atau tubuhmu.
.
Hantaman demi hantaman menghujanimu hingga kau tak tahu berapa lama kau telah menjadi alat baginya. Detik dan menit terasa ratusan kali lebih lambat, dia masih saja mencari titik kenikmatan dari tubuhmu yang sudah tak sanggup melawan. Kau hanya bisa merintih kesakitan, menangis, membuatnya senang dengan menyiksamu lebih, dan lebih. Kau marah padanya, kenapa dia selalu kejam padamu? Kenapa hanya dirimu?
.
"Kau...masih saja menatapku begitu!"
.
Ia kembali menghujani dirimu dengan keras hingga kau merasakan tubuhnya menegang, ia menghantamkan miliknya makin keras dan cepat. Tubuhnya melengkung kearahmu, meraup dadamu dengan mulutnya, menghisapnya dengan kuat sementara ia menanamkan miliknya seutuhnya dalam dirimu. Kau merasa sesuatu memenuhi bagian dalam dirimu, terasa panas, kau mengutuk dirimu, mengutuk dirinya yang menanamkan benihnya dalam dirimu.
.
Senyum puas terpancar di wajahnya, menatapmu yang tak berdaya di hadapannya. Ia mengambil sebuah kamera, mengabadikan keadaanmu yang menyedihkan bahkan dengan dirinya yang masih tertancap dalam dirimu. Kau tak tahu harus apa, hanya rasa lelah dan sakit menderu hingga kau kehilangan kesadaran. Sayup-sayup kau mendengar dia bicara.
.
"Sekarang, dan seterusnya kau harus melayaniku atau aku akan membuatmu lebih menderita."
.
.
.
RIN : *ngumpet di belakang Daemon* hahahaha, Rate M untuk Hibari! Maaf ya fans Hibari! Review dan request tetap di nanti. Silakan ikut poling juga! *kabur*
