Ketika sedang sibuk menyiapkan pakaian yang harus dipakai bossmu untuk pesta ulangtahunnya hari ini kau mendengar suara ribut dari luar kamar Don Cavallone.

GUBRAK!

PRANG!

GDUBRAK!

.

"Aw..."

.

Tentu kau mengenali suara ribut yang telah menemanimu selama beberapa tahun ini. Bossmu yang ceroboh saat sedang sendirian, selalu begitu meski di kediamannya sendiri. Dengan langkah tergesa kau menghampirinya, membantunya berdiri. Dari sudut matamu kau melirik siku Boss-mu yang terluka karena pecahan guci. Menghela nafas pelan, kadang kau berpikir kenapa begitu sulit untuk mengacuhkannya meski kau ingin. Ada saja tingkahnya yang membuatmu tak tahan untuk sekadar memarahi atau menolongnya secara spontan.

.

"Anda ini tak bisa lebih hati-hati? Lihat, sekarang anda luka begini." gerutumu. Pemuda yang masih betah single di usianya ke 35 itu hanya senyam senyum cengengesan. Ayolah, dia lebih tua sekian tahun darimu dan seorang Don Famiglia tapi kok tingkahnya seperti bocah bongsor jika di luar mode 'kerja'.

"Maaf Y/N, sudah sejak lahir kalau aku sendiri selalu begini."

"Jangan cengengesan! Huh, hebat banget nga mati - mati juga walau jatuh dari tangga, terluka, dll setiap beberapa jam sekali." kau memukul pelan kepala pirangnya, pemuda itu berjengit mengusap kepalanya yang kau pukul memang agak keras.

"Jahaaat! Kau menyumpahi pria se perfect aku mati?!" sungguh suka mendramatisir.

"Perfect dari Hongkong? Boss macam apa sih anda ini? Sama sekali tak ada kharismanya!"

"Bhuuu! Memangnya kenapa? Bagaimanapun juga aku kan bossmu! Addudududuh!" kau kesal dengan jawabannya yang sok hingga dengan sengaja mencubit lukanya "Dasar sadis!"

"Salah sendiri." mungkin terlihat kurang ajar, kau hanya seorang anak buah, tepatnya sedikit dari sekian perempuan yang bekerja sebagai anak buah Cavallone Famiglia."Kalau begini terus, bisa-bisa anda tak laku-laku dan jomblo seumur hidup!" ejekmu tanpa ampun. "Aku juga sibuk dengan anda sampai nga punya kekasih!" kali ini kau mengasihani diri sendiri.

"Bagus dong. Jomblo kan asik."

"Tak bagus! Di negaraku, usia diatas 25 itu sudah disebut perawan tua!"

"Ahahahaha, ini Eropa, bukan Asia. Tenang saja, sebentar lagi kau pasti dapat jodoh."

"Kalau orangnya baik dan bukan pengangguran juga penjudi saja, aku juga tak suka playboy." gerutumu.

"Banyak maunya."

"Dari pada mengurusi orang lain, urus saja kecerobohan anda yang tak hilang-hilang!" Begitu selesai membersihkan lukanya kau membalutnya dengan perban tipis dan plaster luka. Sekali lagi ia hanya cengar cengir mendengar omelanmu, dasar kuping kadal! (ziho : kadal nga punya kuping lho!)

.

Seperti biasa saat pesta atau di manapun undangan atau acara yang dihadiri bossmu, perempuan single berebut mengerubungi pemuda yang dijuluki Kuda Jingkrak oleh para Mafia. Berlomba mencuri perhatian dengan kecantikan, body sexy dan sikap mereka yang entah asli anggun atau hanya topeng. Para orang tua juga saling berlomba memuji putri mereka serta menyindir sekitarnya. Memuakkan, kau diam di sudut ruangan, agak jauh bersama bersama para anak buah Cavallone lain sambil mengawasi keadaan sekitar. Kau sudah mengatur pengamanan sedemikian rupa bersama para bodyguard lainnya, semua yang masuk tak lepas dari pemeriksaan.

.

"Nona Y/N, kau tak tertarik dengan para pemuda yang datang kemari?" Romario menghampirimu sembari membawa 2 gelas white wine. Kau menggeleng, memperhatikan bossmu yang mulai memberikan sambutan basa basi pada semua orang yang datang.

"Mana ada laki-laki normal yang mau dengan perempuan sepertiku, paman." Ah...kau mau ini cepat berakhir sehingga kau bisa tidur.

"Ahahahaha, jangan merendah."

"Sudah ah, jangan membahas hal menyebalkan ini."

"Y/N! Bisa ke sini sebentar?" perhatianmu teralihkan pada bossmu yang memanggil dengan mike yang masih menyala.

"Ya ampun...apa lagi sih?"

.

Kau melangkah dengan kesal. Ia senyum-senyum seperti biasa sementara kau merasakan puluhan pasang mata menatapmu tajam, oh bagus. Boss tercintamu yang suka buat masalah tampaknya akan melakukan sesuatu yang menyebalkan alias bodoh dan kali ini di depan orang banyak.

.

"Ada apa boss?" tanyamu begitu ada di hadapannya.

"Tolong ambilkan kotak kecil beludru di atas meja kerjaku."

"Baiklah." katamu singkat 'KENAPA NGA BAWA SAJA DARI TADI DASAR BOSS BEGO!' kau meracau dalam hati.

.

Beberapa saat memeriksa ruang kerja Don Cavallone tersebut akhirnya kau menemukan kotak bludru hitam yang tertimbun beberapa map laporan. Kau mengintip isi kotak dan terbelalak melihat isinya. Sebuah cincin emas putih dengan pink diamond diapit 4 berlian tifanny di empat sisi, cantik sekali dan pastinya mahal!

.

"Dia mau melamar cewek? Bagus deh." Kau senyum-senyum membayangkan seperti apa perempuan yang disukai oleh Bossmu. Cantik atau manis? Sombong atau baik? Glamour atau sederhana atau tomboy? Kau sangat penasaran. Kau menyerahkan kotak kecil tersebut padanya. "Semoga berhasil boss." kau menyemangatinya.

"Aku harap dia takkan menolak, karena selama beberapa tahun ini dia dingin sekali padaku." Decimo Cavallone itu pasang tampang mandesu membuat para hadirin tertawa, termasuk kamu. Kau baru tahu kalau selama ini bossmu melirik perempuan dan kau tak tahu padahal hampir selalu bersamanya.

'Kalau boss nikah, aku kesepian deh.' batinmu agak sedih, kan tidak mungkin kau mengisengi suami orang tanpa menyinggung istrinya. Kau nyengir sendiri ketika mengingat keisengan-keisengan yang kau sempat lakukan pada bossmu.

"Y/N!" kau masih dalam alam bawah sadar saat dipanggil dengan mike, itu sudah menjadi suatu respon otomatis untuk menjawab panggilan seseorang. Beberapa hari lalu juga kau sempat membuatnya kesal.

'Kalau kau tak mau berhenti menertawaiku aku pecat kau! Tak takut aku pecat nih!' itu ancamanya ketika kau menertawakan kecerobohannya. "Apa kau mau menikah denganku?"

"Tentu saja ta-" kau pun kembali ke dunia nyata. "Anda bilang apa boss?" kini sang Cavallone Decimo membungkuk 45 derajat di hadapanmu sembari menyodorkan kotak berisi cincin yang kau ambil tadi.

"Nona Y/N, maukah kau menjadi pendampingku, selamanya?"

.

Kau terbelalak, kaget, tak percaya. Sama halnya dengan para undangan di pesta sang Cavallone Decimo, bahkan ada yang pingsan! Kau melihat Romario dan para anak buah lainnya melambai sambil bersorak 'terima!'. Pemuda pirang itu kembali menegakkan tubuhnya dan menghampirimu, meraih tangan kirimu dan menyematkan cincin itu di jari manis. Oh ya ampun, bagaimana dia tahu ukuran jarimu?!

.

"Boss, aku-" sebuah ciuman di bibir menyegel semua yang ingin kau katakan. Kau bisa mendengar jeritan para gadis yang kemudian pingsan.

.

Ia tersenyum, bukan senyum cengengesan seperti biasa tapi senyum yang membuatnya terlihat tampan dan penuh kharisma. Ia menunduk sedikit berbisik di telinga kirimu.

.

"Tak kuijinkan kau menolak atau kabur."

.

Entah kenapa kau tersenyum, ini pertama kalinya kau tahu dia punya sisi egois. Kau meraih tangan kanannya dengan kedua tanganmu yang terlihat kecil ketika bersanding dengan tangannya yang besar dan kekar. Kau mencium punggung tangannya, saat menatapnya kau bisa melihat seburat rona merah tipis di wajahnya.

.

"Jiwa dan ragaku sudah sejak dulu kuberikan padamu sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini."

.

.

.

RIN : Ya...kurang romantis kah? Atau terkesan konyol? Maaf, agak susah membayangkan bagaimana seorang Dino Cavallone menyatakan perasaannya karena saya bukan penggemar Dino. *dicambuk penggemar Dino*