"Tsunaaaa!" kau dengan emosi mendobrak pintu kamar sang Decimo Vongola. "Apa maksudmu ini?!"

.

Ini baru sehari kedatanganmu setelah setahun penuh tanpa ada komunikasi karena kesibukan kalian di negara yang berbeda. Tak ada angin atau hujan apa lagi badai, Sawada Tsunayoshi mengirim pesan singkat.

Aku ingin mengakhiri semuanya, detik ini juga kita pisah.

.

"Ah...masa tak mengerti? Aku bosan dengan hubungan kita sekarang." ia menjawab dengan nada dingin dan tenang, tak perduli kau sudah menangis dengan tubuh gemetaran. "5 tahun tak ada perubahan, aku bosan. Apa kau tak bosan?"

"Tapi...aku..."

"Aku sudah tak membutuhkanmu. Kau juga cari saja laki-laki lain." bagaimana bisa bicara begitu dengan mudahnya? "Sudahlah, aku tak suka melihatmu menangis hanya karena kita putus. Aku mau pergi bersama yang lain, kau mau ikut tidak?"

"T-tidak..., aku...mau sendiri." Kau tak berani menatapnya meski ia ada di hadapanmu.

"Ya sudah, kau tidur saja duluan." Ia berlalu begitu saja.

.

Tsuna yang ramah dan baik sudah berubah menjadi Don Vongola berhati dingin. Dia bukan lagi pemuda yang kau kenal. Bagai orang asing, bahkan Hibari Kyouya dan Gokudera Hayato yang dikenal kasar tak pernah menyakiti kekasih mereka dengan tidur bersama perempuan lain apa lagi bermesraan di depan matamu dan memutuskanmu karena kau memprotes perbuatannya.

.

Bosan? Selama ini kau sudah bersabar meski kau begitu ingin dia mengesahkan statusmu. Setahun kau pergi begitu kembali kau dapat kejutan besar, seorang Tsuna bisa begitu berubah hanya dalam satu tahun. Ia bahkan belum tahu apa yang terjadi setahun belakangan padamu. Kau begitu berharap ketika kembali akan disambut senyum ramah dan pelukan hangat namun malah pengkhianatan dan rasa sakit yang seakan merobek jantung.

.

"Kau...sudah tak membutuhkanku, Tsuna? Baiklah...aku akan menghilang selamanya..." kau tersenyum miris. "Tapi takkan ada pria lain untukku..."

.

.

.

Omake :

.

Sawada Tsunayoshi bangun dengan malas karena gedoran pintu kamarnya diiringi teriakan sang Storm Guardian dan Rain Guardian juga tangisan melengking.

.

"Jyuudaime! Tolong keluarlah!"

"Tsuna, buka pintunya!"

"Iyaaa! Kalian berdua ini kenapa?"

"Y/N menghilang, ia meninggalkan surat untukmu dan dikamarnya ada bayi ini!" laporan Yamamoto Takeshi membuatnya mengernyit kening.

"Anaknya dan selingkuhannya selama tak ada disini? Jauhkan dia dariku, tangisannya membuatku sakit kepala!"

"Tapi, Jyu-"

"Kau dengar perintahku kan Hayato?! Bawa dia pergi! Terserah mau kau apakan!" keduanya terkejut dengan reaksi dingin Tsuna, kali ini sangat jelas sikap Tsuna yang berdarah dingin.

"Tsuna, coba baca dulu suratnya!" Yamamoto mencegat sahabatnya yang berniat kembali masuk ke dalam kamar. "Hanya membaca tak ada ruginya kan?"

"Huh, baiklah. Jika sempat akan kubacal"

"Baca segera!" Bentak Yamamoto. "Telingamu masih berfungsi meski hatimu tidak kan?!"

"O-oi, Yakyuu baka!"

"Diamlah Hayato, bawa bayi itu! Dia pasti lapar."

"...baiklah. Tapi jangan pernah gunakan nada dan tatapan itu lagi padaku karena lain kali aku tak menjamin tubuhmu tetap utuh."

.

Pertama kalinya seorang Takeshi Yamamoto menentangnya, bahkan terkesan mengintimidasi. Tsuna membuka amplop putih yang sudah lecek dalam genggamannya, surat dengan tulisan yang familiar untuknya.

.

Untuk yang terhormat, Vongola Decimo

Sawada Tsunayoshi.

.

'Begitu surat ini ada di tanganmu, berarti aku sudah pergi jauh bahkan kau takkan bisa menemukanku. Itu yang kau inginkan bukan, ah, bodohnya tentu jawabannya iya.'

.

'Selama setahun ini aku memang sengaja menyibukkan diri dalam pekerjaan untuk melihat reaksimu dan ingin memberi sebuah kejutan, tapi apa? Yang kudapat malah sebaliknya. Tapi itu bukan masalah lagi, aku tak menyalahkanmu karena siapapun bisa berubah apa lagi dengan hidup yang kita pilih sebagai mafia. Tapi sayangnya aku tak bisa melakukan apa yang kau mau, aku tak ingin mencari orang lain sebagai penggantimu untuk putra kita.'

.

Mata Tsuna membulat kaget, ada juga secercah keraguan di matanya.

.

'Kau tak salah baca, dia memang putramu. Saat aku berangkat aku baru sedang mengandung. Jika kau ragu, silakan lakukan tes DNA. Aku tak pernah mengkhianatimu Tsuna...aku sungguh sangat mencintaimu. Hanya dirimu.'

.

"Hayato, Tekeshi, siapa saja cepat kemari!" Tsuna berteriak bagai kesetanan.

.

'Tak perlu mencariku, apa lagi memikirkanku. Karena saat ini mungkin aku sudah tak ada di dunia ini lagi. Aku hanya ingin kau menjaga putramu dengan baik, tapi jika kau keberatan tolong titipkan saja dia di panti asuhan yang jauh agar tak mengganggumu. Asal kau tak membunuhnya aku sudah sangat berterimakasih. Salam sayang dari yang selalu mencintaimu.'

.

.

.

Rin : Ada yang teriak ini aneh? Aku emang gatel pengen nulis cerita yang bertolak belakang dengan Tsuna.

Tsuna : Aku sungguh jahaaaat~! Reader! Ampuni dosaku!

Gokudera : Tenang Jyuudaime, ini hanya fanfic.

Rin :Ala~h, gitu aja mewek. Okeh, review dan request tetap di nanti!