"Em...h!" entah desahan atau gumaman yang kau keluarkan ketika merasa tidurmu terganggu oleh sebuah tangan usil yang membelai pipimu serta mengusap bibirmu. "Hentikan..."

.

Yang menjawab adalah sebuah dengusan disertai tawa kecil dan kau mengacuhkannya untuk kembali ke alam mimpi. Nyaris tertidur ketika tangan itu mulai berulah kembali. Kali ini bahkan lebih berani dengan menyusup ke dalam kaos longgar yang kau pakai sebagai piyama. Jemari panjang dan usil itu meraba perut dan pinggangmu, membuatmu mengeram geli. Makin naik ke punggung, perlahan melewati tiap ruas tulang belakangmu, memberikan sensasi geli yang agak menjurus ke berbahaya kali ini. Kau pun membuka mata, menatap pelaku yang kini tersenyum lebar di atasmu.

.

"Jangan ga-ah!" protesmu teredam menjadi desahan karena dia tiba-tiba menarik -tepatnya mendorong punggungmu- hingga terangkat dari ranjang dan tanpa sungkan ia menciumi lehermu. "K..h! Hentikan!" kau berusaha mendorongnya, tapi malah membuatnya menyeringai hingga kau agak ngeri.

"Salahkan dirimu malah tidur di sini." suaranya yang berat membuat bulu roma-mu berdiri. Hell! Apa salahnya tidur di kamarmu sendiri?!

"Ini kamarku-ugh!"" elakmu, masih mencoba melepaskan diri dari tangan kurang ajar pria ini. "Ah...! A-aku salah apa?!"

"Yakin tak tahu kesalahanmu, Nona Y/N?" kau menggeleng, rasa mengantuk benar-benar lenyap karena barusan dia nyaris menyingkap kaosmu. "Yakin?"

"I-iya..." yang benar saja! Sejak pertama bekerja padanya kau selalu saja di usili olehnya. "Bukankah tadi anda yang menyuruhku istirahat di kamar?"

"Maksudku kamarku! Otakmu sungguh tak berguna!" hei, tidur di kamar sendiri saja sudah tak bisa, apa lagi di kamarnya?! "Atau kau lebih suka kita melakukannya di sini?"

.

HARUS KABUR! Kedua kata itu muncul dengan huruf kapital tebal di kepalamu dan sepertinya dia menyadarinya hingga dengan sengaja meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuhmu. Tak bisa bangun! Kau panik sementara dia mendekatkan wajahnya yang masih dihiasi senyum mengejek. Keringat dingin menetes dari pelipismu ketika tangannya menyentuh pahamu, membuatmu terlonjak ketika sedikit sentuhan mengenai bagian yang paling pribadi.

.

"So~ sensitive." ia menyeringai nakal. "Kau tak menjawab pertanyaanku, berarti kau memilih kamar ini?"

" ! " tak ada kesempatan menjawab ia menciummu dengan kasar, tangannya menyelinap dari dalam kaosmu_mendorong kepalamu agar ia bisa memperdalam ciumannya.

.

Tangan lainnya menjamah bagian bawah, sentuhan halus yang berlawanan dengan ciuman dan mulutnya yang selalu kasar penuh sindiran. Kau bisa merasakan cairan panas keluar, kau mulai basah padahal tangannya tak menyentuhmu secara langsung. Ia melepaskan ciumannya namun begitu kau akan bicara dia kembali menciummu. Desahan terus meluncur karena dia terus menggesek telapak tangannya di bagian kewanitaanmu tanpa melepaskan pakaian dalammu. Kakimu menghentak, menendang udara karena terbuai dengan sentuhannya. Tanpa mengikuti perintah otak, tanganmu naik ke bahunya, meremas rambutnya, sesekali mendorong wajah pria yang tengah memainkan puncak kembar milikmu dengan jari dan mulutnya agar lebih dekat.

.

"Aaah!" kau menjerit saat ia terlalu keras menggigit dadamu. Tapi kau segera lupa rasa sakit itu karena ia menggesek tangannya lebih keras, menusuk lubang basah yang mulai berdenyut tak sabar untuk diisi. "Oh...hmmh!"

"Kau menginginkanku, perempuan?" bisiknya sambil menciumi lehermu.

"A...ah! Aku...h...mmmhh!" kau mendesah tak karuan. Setiap ingin menjawab, dia selalu membuatmu kehilangan kata. "S..ah...!" kau sedikit lagi mencapai puncak ketika ia melepaskan tangannya.

"Hm? Katakan lebih jelas." godanya.

.

Menyebalkan! Ia sengaja melakukannya agar kali ini kau sendiri yang memintanya. Kau merasa akan gila dengan perbuatannya, tapi kau juga gengsi memohon. Menghentikan perbuatan itu di tengah-tengah, mengganggu tidurmu, dia memang atasan kejam dan menyebalkan! Kau putuskan melakukannya sendiri, ketika tanganmu akan menyentuh daerah pribadimu, ia segera menangkapnya, mengikatmu dengan pita yang biasa kau gunakan mengikat rambut. Ia dengan paksa membuka kakimu, meletakkannya di kedua sisi tubuhnya. Hell! Fucking bastard from hell! Kau mengumpat dalam hati.

.

"Memohonlah perempuan! Aku sendiri tak keberatan melihatmu tersiksa, ini pemandangan menarik." ia menciummu lagi, sengaja membuat dadanya bergesekan dengan payudaramu yang telah tegak mengeras.

"Hmm!" tanganmu dikalungkan di bahunya, ia terus menggodamu dengan ciuman dan jilatan di dada dan lehermu. "La-lakuka...nnnh...aaah!"

"Apa?" Tanyanya. "Katakan dengan benar."

"Ku...mohon...danna-sama.."

"Huh, belum benar." ia menyeringai, kau makin frustasi. "Ala sex slave." perintahnya.

"F..ah! Please fuc..k me..hh masssterrrh, Squalo!"

"Itu lebih baik." dalam hitungan detik ia melepaskan bawahannya dan juga milikmu yang sudah basah. "Hadiah untukmu."

"Aaahhh!" kau menjerit ketika ia memasuki dengan sekali hentak. Mengguncang tubuhmu dengan kasar, membuatmu meneriakkan namanya berkali-kali hingga dia puas dengan apa yang kalian lakukan.

.

.

.

"Voi, lain kali jangan lupa dimana seharusnya kau berada!" kau hanya mengangguk dengan sisa tenaga terakhirmu. Kau sungguh butuh tidur kali ini. Takkan lupa, kau bersumpah takkan lupa perintahnya jika lain kali dia ada di markas. Kalau dia tak ada? Ya di langgar saja! Perintah ada untuk dilanggar ketika ada kesempatan! Oh, you are Varia's member after all.

.

.

.

Rin : *Gubrak!* kenapa...aku malah nulis Squalo? *author kumat* Lupakan. Yang penting udah nulis dan posting. Rate M -lage- yang penuh godaan dari hiu cantik *ditebas Squalo* nan nakal.

au ah terang, at least like usual!

.

MINTA REVIEW DONG, DANG DING DONG! YANG JELAS AKU BUKAN PETUGAS ODONG-ODONG! *ditabok reader*