Kau terduduk di tepi jalan tanpa peduli dingin yang menusuk tulang maupun pandangan orang-orang yang melihat keadaanmu yang berantakan. Kacamata pecah, rambut berantakan dan terpotong-potong tak karuan, pakaian kotor penuh debu, buku-bukumu yang basah dan sobek kau jejalkan seenaknya ke dalam tas yang sama basahnya. Sore ini kau entah kenapa dan untuk kesekian kalinya menjadi korban dari anak-anak di kelasmu. Laki-laki maupun perempuan sama saja, mereka memperlakukanmu seperti sampah, makhluk terhina hanya karena kau bisa sekolah dengan kerja sambilan dan beasiswa dari direktur sekolah. Kau hanya sampah yang mengotori mata bagi mereka.
.
"Orang sepertimu yang jelek dan miskin ya miskin saja terus! Untuk apa sekolah di sini?"
"Sekolah saja di kolong jembatan!"
"Tampangmu merusak suasana hati saja! Enyah sana!"
"Kau jual diri pada orang kaya supaya bisa sekolah di sini?"
"Aduh, mana ada yang mau dengan manusia jelek begini?!"
.
Tengah malam, kau belum beranjak dari tempatmu, jalanan mulai sepi, pakaianmu yang setengah basah terasa dingin bagai ada di dalam freezer. Pulang? Kau tak ingin pulang menemui ayah tirimu yang memperlakukanmu seperti pembantu ataupun ibumu yang sama sekali tak peduli padamu sejak ayah kandungmu mati.
.
"Lebih baik mati di luar sini..." kau memeluk kedua lututmu, membenamkan wajahmu di sana. "Katanya di sini sering ada pertarungan antar geng, tapi kenapa sepi? Pa-"
.
Dor!
.
Belum sempat kau mengeluh lebih jauh suara tembakan terdengar kemudian diikuti suara tembakan dan teriakan. Takut, tapi kau sudah putuskan, kali ini kau akan mengakhiri hidupmu yang tak berguna. Beberapa puluh meter dari tempatmu, ada beberapa mobil hitam dan orang-orang berpakaian ala Men in Black mengepung sebuah mobil sport warna putih dengan bendera hitam bergambar singa. Ada 3 orang yang keluar dari mobil itu, laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut perak panjang, pemuda berambut pirang dengan tiara miring dan seorang laki-laki bertubuh kekar dengan bekas luka di wajah. Dikepung belasan orang bersenjata api, ketiganya tampak santai, bahkan yang pirang malah girang! Udah gila kali ya?
.
Kau bersembunyi dibalik pohon, beberapa meter dari mobil putih itu. Terpana bagaimana ketiganya mengalahkan semua penyerang dengan satu tarikan nafas. Keren, bahkan melebihi film yang pernah kau lihat di televisi. Ketika dua orang lain memeriksa mobil-mobil penyerang, laki-laki berambut gelap menunggu dengan malas sambil bersandar di mobil. Dia tampak mengantuk hingga tak menyadari masih ada satu orang yang mengincarnya dari seberang jalan. Tanpa pikir panjang kau lari ke arahnya, mendorong tubuhnya hingga jatuh dan kaulah yang akhirnya kena tembak. Kau masih sadar saat tubuhmu beradu dengan aspal dingin. Terdengar suara tembakan dari pistol milik laki-laki itu.
.
"Dasar sampah bodoh!" rutuk laki-laki itu. Kau hanya bisa menatapnya yang kini berdiri di depanmu, menatapmu dengan bola matanya yang bagai ruby. "Tindakanmu tadi sungguh bodoh, otak sampah." bahkan dia juga menyebutmu sampah, kau hanya bisa tersenyum miris.
"Meski...aku...sampah, paling tidak aku sempat melakukan hal baik." sakit di pundakmu makin menjadi hingga akhirnya kau memilih menyerah dan menutup mata, menyambut kegelapan.
.
.
.
Silau dan hangat, itulah yang pertama kau rasakan saat pertama membuka mata. Tak ada perih dan sakit bekas tembakan, hingga kau sempat berpikir itu mimpi namun sejurus kemudian kau sadar ada di tempat asing. Kamar luas dengan perabotan mewah, ranjang besar dan empuk, bagai hotel bintang 7 -jika ada-.
.
"Ara~ kau sudah bangun!" kau menoleh menemukan laki-laki dengan gerak-gerik kemayu dan kacamata hitam. "Bahumu sudah aku obati tapi perlu seminggu untuk sembuh total." katanya, kau menatap bahumu yang dibalut perban.
"Terimakasih. Ini di mana ya?" kau agak kecewa karena masih hidup.
"Ini Varia Headquarter. Boss, Squalo dan Belphegor yang membawamu semalam." katanya sambil meletakkan meja kecil di atas tempat tidur dan meletakkan nampan berisi roti dan sup sayur hangat juga air jeruk. "Sarapan dulu, setelah ini mandi dan ganti baju lalu rapikan rambut. Kita akan menemui boss siang ini."
"Varia itu apa?" tanyamu setelah mandi dan ganti baju. Laki-laki yang bernama Lussuria itu kini tengah merapikan potongan rambutmu yang acak-acakan.
"Fufufu, makin sedikit kau tahu makin bagus. Kami sudah mengirim berita ke sekolahmu jadi tak usah khawatir soal bolos, tapi rumahmu tak ada orang."
"Oh, itu biasa." sahutmu datar. Paling ayah ibumu kabur dari penagih hutang.
"Selesai! Sekarang baru kau tampak manis!" katanya sambil memberimu kaca untuk melihat hasil tangannya. Cukup rapi meski kini rambutmu tinggal sebahu, lebih baik dari pada acak-acakan seperti orang gila. "Kenapa kau bisa sekacau itu?"
"...bukan apa-apa. Hanya kecelakaan."
"Hm~" dia bergumam pelan, tampaknya tahu aku malas menjawab jadi dia tak bertanya lagi.
"Ushishishi! Ternyata gadis itu sudah bangun!" pemuda blonde semalam masuk ke dapur saat kau menunggui Lussuria memasak. Di belakangnya ada seorang remaja tampaknya seumuranku dan rambutnya hijau dengan topi atau helm kodok. "Kau sungguh nekat ya? Berkeliaran tengah malam dan ikut campur dalam pertarungan antar mafia."
"Huh?" Mafia? Mereka mafia? Bukan geng preman tapi MAFIA?! Seketika tenggorokanmu kering.
"Bel-senpai, kau menakutinya. Kuadukan ke pacarmu lho!" entah kapan dilempar, tahu-tahu ada 3 pisau telah menancap di helm kodok anak itu. "Itu sakit."
"Vraoooi! Apa sarapan sudah siap?!" kau terkejut mendengar suara besar dari laki-laki berambut perak yang seenaknya menendang pintu dapur. "Vo-oh? Kau sudah di sini. Pantas tak ada di kamar perawatan."
"Shishishishi! Beda dengan semalam ya? Kau seperti habis dikerjai orang!"
'Memang...' batinmu namun kau memilih diam. Meski hanya mereka, suasana terasa ramai sekali. Tampa sadar kau ikut tertawa melihat keributan yang dibuat para laki-laki ini.
"Siang boss!" kau menoleh ke belakang mengikuti tatapan Lussuria dan yang lain, laki-laki dengan bola mata ruby itu masuk ke dapur sambil menguap malas.
"Oh, sampah bodoh ini sudah bangun rupanya." kau menggigit bibir bawahmu mendengar kata-katanya.
'Apa aku memang sampah tak berguna?'
"Jangan diambil hati." Kau manatap Fran, remaja pemilik rambut hijau yang unik. "Boss selalu menyebut semua sampah, stronzo atau bodoh. Nada bicara dan sikapnya memang kasar meski pada ayahnya sen-" Dzing! Kau dan Fran terpaku, sebuah kilatan kuning baru saja melewati kalian berdua dan melubangi tembok.
"Tutup mulutmu kodok sampah sialan! Tak ada yang butuh penjelasanmu!" kau melihat sebuah pistol dengan simbol X di tangannya. Bukan pistol peluru ataupun laser.
'Mengerikan!' kau menjerit dalam hati.
.
.
.
Makin hari lukamu makin baik, rasa ngilu di bahu juga mulai hilang. Sungguh aneh, api kuning menyembuhkannya dengan cepat padahal perlu berbulan-bulan penyembuhan tulang patah akibat tertembus tembakan peluru. Seminggu di Varia, kamu makin mengerti sifat laki-laki bernama Xanxus itu. Hanya sikapnya saja yang kaku dan bahasanya kasar, usianya 16 tahun diatasmu dan dia bukan tipe yang suka dikelilingi perempuan. Yah, kalau perempuannya semacam yang biasa kulihat seminggu ini, wajar saja dia tak suka.
.
'Aku saja eneg melihat tingkah mereka yang sok dan nada bicara yang dibuat semanis mungkin.'
.
Hari ke 6, Lussuria dan Fran mengantarmu ke sekolah. Kau pun melihat para murid menatapmu heran, meski ada juga yang ketakutan. Apa lagi ketika di kelas, guru pun memandangmu dengan mata ketakutan. Ketika jam makan siang kau seperti biasa pergi ke atap namun hari ini kau sial lagi karena sudah ditunggu.
.
"Seminggu lenyap sekarang kau malah bersama Varia, kau mau apa sebenarnya?!"
'Harusnya itu pertanyaanku, dan..,mereka tahu Varia?' kau memilih diam.
"Kau bisu?! Katakan kenapa kau bersama Varia?!" seorang perempuan menyudutkanmu.
"...mereka hanya merawat lukaku. Selama seminggu ini." itu benar, mereka merawatmu karena telah menolong boss mereka.
"Memangnya kau pikir Varia itu pengasuh?! Mereka itu mafia golongan elit! Kau jual diri pada mereka?!" lagi-lagi mereka bicara soal jual diri. Apa tak ada hal lain di otak mereka?!
"Aku ti-" belum selesai bicara, sebuah tangan putih dengan jari lentik menarikmu menjauh dari kepungan mereka. Ketika menoleh kau menemukan si pirang, Belphegor juga Squalo. "Eh? Kenapa kalian di sini?"
"Ushishishishi, mengurus kepindahanmu." ha? Pindah?
"Voi, kenapa mulutmu menganga begitu?! Minta diisi pedang atau pisau?!" kau buru-buru menutup mulutmu dengan tangan dan menggeleng cepat.
"Ushishishishi, kau mau boss melubangi kepalamu, Squalli?" Buat apa? "Nah, kalian akan bertanggung jawab atas perbuatan kalian pada milik boss kami. Pangeran rasa sekarang keluarga kalian sudah merasakannya saat ini, shishishi!" kau pun diseret keduanya. Begitu agak jauh, kau mendengar mereka menjerit-jerit histeris, menangis ketakutan.
.
.
.
"Tuan Squalo, apa maksudnya dengan tanggung jawab tadi?" tanyamu saat tiba di Varia.
"Karena mereka telah menyiksamu. Mungkin sebagai ganti ucapan terimakasih karena telah menolongnya, Xanxus meminta kami menyelidiki keadaan keluarga dan sekolahmu."
"He..., aku kan tidak...seharusnya tidak perlu." 'karena awalnya aku memang ingin mengakhiri hidupku saat itu. Tak ada maksud menolong.' batinmu.
"Ushishishishi, boss tak suka berhutang. Omong-omong, kami menemukan ayah dan ibumu mati karena dihajar deepcollector."
"Oh..." entah kenapa kau tak merasa apapun, seakan kau sudah tahu itu akan terjadi.
"Dingin sekali, ushishishishi!" Squalo pun menyeringai lebar melihat reaksimu.
"Boleh aku bertemu dengan tu-ah- maksudku boss?"
"Cari saja di ruangannya." kata Squalo, kau pun pamit meninggalkan mereka.
.
Hanya karena menolong sekali, seorang Xanxus sampai memberi pelajaran pada semua keluarga yang anaknya membullymu. Kau tersenyum miris antara kasihan dan senang, bukankah hal itu terlalu berlebihan? Sekarang malah kau yang merasa berhutang padanya. Pintu ruangan boss Varia itu sudah terbuka lebar, seakan tahu kau akan datang menemuinya. Di dalam sana, dibelakang meja besar penuh tumpukan surat, kertas, map entah apa isinya, dia tengah bertopang dagu membaca sebuah kertas dengan malas.
.
"Ada apa lagi sampah?" tanyanya tanpa melirikmu.
"Terimakasih sudah menolongku dan merawatku seminggu ini, tapi apa tak berlebihan sampai menyusahkan keluarga mereka?"
"Huh, untuk apa kau mengurusi mereka? Berlagak jadi malaikat kesiangan?" tanyanya sinis.
"Tidak, hanya saja anda membuat saya merasa berhutang besar. Apa lagi anda mau memindahkan saya ke sekolah lain. Terimakasih atas semuanya."
"Huh, kau memang otak sampah, perempuan aneh." kau tersenyum,tak merasakan ada nada sinis maupun menghina dari cara bicaranya. "Sudah tak ingin mati lagi?"
"Masih, tapi...saya rasa ada satu cara mati yang lebih baik dibanding bunuh diri maupun menjadi tameng hidup."
"Katakan."
"Saya ingin ada di samping anda." laki-laki itu menyeringai sinis "Biarkan saya menjadi bagian dari Varia."
.
.
.
Rin : nah lho! Ini cliff! Memang rencananya ada 2 bagian. Kurang menarikkah? Kalo menurutku iya. Ini nga ada romance ataupun lawak. Dah lah. Xanxus x reader part 1 done! *digebukin sekomplek*
