Menjelang tengah malam kau terjaga, matamu tak mau kembali terpejam. Kau mendesah pendek menatap langit-langit kamarmu yang samar terlihat dalam suasana remang. Tenggorokanmu terasa agak haus. Saat kau hendak turun dari ranjang untuk meraih gelas berisi air putih yang selalu kau letakkan di meja, lampu kamarmu menyala.

.

"Belum tidur?" seorang pemuda bersurai raven kini mengunci pintu.

"Aku agak haus, jadi terbangun."

"Hm."

.

Kau tak memperhatikannya lagi karena tengah meneguk air yang kini membasahi tenggorokanmu.

.

Segar dan lega "Pekerjaanmu selesai cepat kali ini?" ketika akan menghabiskan sisanya, gelas di tanganmu lenyap_tepatnya diambil. "Kyouya, aku bisa ambilkan lagi untukmu."

"Ini saja." katanya sembari meneguk habis isi gelas, bahkan dia meminumnya tepat di bagian bibirmu tadi.

"Eh...itu..." Ciuman tidak langsung.

"Kalau kau berpikir tentang ciuman tidak langsung maka buang pikiran konyol itu. Dasar herbivora."

"Huh, kau memang suka sekali merusak suasana!" dia menyeringai, entah kenapa manusia satu ini sungguh sangat menyebalkan.

"Tapi...dulu kau bilang itulah daya tarikku."

"..."

.

Memang, namun sikapnya yang selalu sinis juga adalah kekurangan terbesarnya. Kau melengos kembali naik ke ranjang_menutupi kaki hingga kepala dengan selimut, membiarkan dia mengganti pakaiannya. Dentang jam besar di lantai 1 Vongola HQ terdengar hingga ke kamarmu. Jam 12 telah berlalu, menandakan hari telah berganti.

.

"Valentine..." gumammu pelan. Masa bodoh, pemuda satu ini juga pasti hanya mengejekmu jika kau berkata ingin merayakan hari kasih sayang bersama.

"Y/N." bersamaan dengan panggilan itu, selimut yang kau gunakan tersibak. "Apa kau tak lupa sesuatu?"

"Rasanya tidak. Semua pekerjaan sudah selesai."

"Bukan pekerjaan." pemuda bersurai raven itu tersenyum tipis_mengecup bibirmu. Perlahan ciumannya makin dalam hingga kau merasakan sesuatu yang manis masuk ke mulutmu, meleleh di antara ciuman kalian.

"Coklat..."

"Buon Valentine." Bisiknya sembari berbaring di sampingmu.

"Kukira kau tak peduli." kau tak bisa menahan senyum melihatnya pura-pura cuek saat kalian bertatapan. "Lalu, kau mau apa untuk balasannya?"

"Dirimu."

.

.

.

Rin : Mohon maaf buat yang minta Hibari TYL rate M, aku nga tega menodai bulan Februari penuh aura pink ini dengan fic berdarah maupun kekerasan. Agak atau sangat OOC saat membayangkan Hibari yang romantis tapi penuntut. But yah, ini lah yang bisa kutulis. Semoga cukup memuaskan para penggemar Hibari.

MIND TO REVIEW?