Title : Run Away [Chapter 2]
Cast : ChanSoo, KaiSoo
Sub-cast : EXO other member
Author : Chang
Genre : AU, Romance, etc.
Length : Chaptered/Series Fic
Rating : NC+17
Disclaimer : FF ini asli buatan saya, hasil pemikiran saya dan tidak menjiplak hasil karya orang lain. Kejadian di cerita adalah AU. FF ini mengandung unsur Male Slash Fic/YAOI/Boy x Boy/Shounen-ai. Gak suka jangan dibaca XD
Sebelumnya…..
"Jo…jongin…."
PLAK
Kyungsoo bisa merasakan panas di sebelah pipi kanannya yang terkena tamparan Kai. Ia mendongakkan wajahnya menatap marah pada adik tirinya itu.
"Wae? Kenapa kau menamparku? WAE?!"
Chapter 2…..
Kai terdiam dengan pandangan tertuju ke tangan kanannya sendiri. Tangan yang baru saja memukul wajah hyungnya itu. Tangan itu sudah gemetaran. Baru kali ini Kai memukul Kyungsoo, padahal dari dulu tak sekalipun namja Tan itu tega menyakiti Kyungsoo meskipun dalam keadaan emosi. Namun, kali ini entah setan apa yang merasuk di dalam dirinya sehingga mampu melayangkan tangannya mengenai wajah Kyungsoo.
"Mi…mianhae, hyu…."
"Keluar….." usir Kyungsoo dengan suara sedatar mungkin.
"A…aku…tidak…."
"KELUAR! Hiks…hiks…."
Dengan langkah gontai Kai melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang masih diisi isakan kecil Kyungsoo. Setelah pintu tertutup, Kyungsoo langsung mengambil ponselnya berniat menghubungi seseorang. Nada sambung terdengar dan tidak butuh beberapa detik jawaban dari seberang terdengar.
"Yeoboseyo….."
"Hiks…Chanie…hiks…."
"Kyungie? Gwenchana? Kenapa menangis?" terdengar suara khawatir dari seberang.
"Chanie….aku boleh menginap di apartemenmu?"
"Kau dimana sekarang, chagi?"
"Masih di kamarku…."
"Bersiaplah. Aku sebentar lagi akan menjemputmu…."
"Go…gomawo….."
Setelah nada sambung terputus, Kyungsoo sesegera mungkin mengenakan pakaiannya. Menghapus sisa air mata diwajahnya dan mengambil ponselnya sebelum akhirnya meninggalkan apartemen.
Kai yang kini berada dibawah guyuran shower hanya mengutuk dalam hati. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa ia sampai hati menampar telak wajah Kyungsoo. tapi yang dia tahu, saat melihat tanda-tanda kemerahan di sekujur tubuh Kyungsoo, darahnya mendidih dan tanpa sadar menyakiti hyungnya itu.
"Mianhae….mianhae….mianhae…." ucap Kai lirih.
"Kenapa kau meninggalkan kenangan buruk lagi disini, hyung?" mulut Kai tidak henti-hentinya menggumamkan sesuatu.
Ya. Sebenarnya alasan Kai ingin pindah dari rumah mereka dulu bukan hanya agar ia bisa melupakan Hyo Rin. Rumah yang sudah banyak merekam momen-momen indah bersama kekasihnya dulu. Selain hal tersebut, Kai memang tidak suka berada disana karena bayangan Kyungsoo dan Chanyeol saling menyatukan tubuh dirumah mereka dulu membuatnya serasa ingin membunuh namja tiang listrik itu. Sakit, saat mendengar desahan yang bisa dipastikannya milik Kyungsoo. Hatinya benar-benar sakit.
.
.
.
Chanyeol terlihat sibuk memasak sesuatu di dapur apartemennya. Ia ingin membuat sarapan untuk sang kekasih yang masih tertidur dikamar miliknya. Ia benar-benar khawatir tadi malam saat Kyungsoo menelepon dan ingin menginap dirumahnya. Ingin sekali mencari tahu apa yang terjadi, namun melihat kondisi Kyungsoo yang terlihat lelah, Chanyeol mengurungkan niatnya. Tetapi, ia tahu ini pasti ada hubungannya dengan Kai.
Mendengar suara kursi kayu yang berdecit, memaksa Chanyeol membalikkan badannya dan senyumnya langsung merekah melihat Kyungsoo yang duduk disana dengan kondisi terlihat kacau. Namun, Kyungsoo tetap terlihat manis dan lucu.
"Bagaimana tidurmu chagi, eum?" tanya Chanyeol mengusak lembut rambut Kyungsoo.
"Tempat tidurmu selalu nyaman, Chanie…." Jawab Kyungsoo dengan senyuman hangatnya. Chanyeol terkekeh mendengar jawaban polos Kyungsoo.
"Baguslah kalo kau nyaman disini. Kau pasti sudah lapar, eoh? Kajja…aku sudah siapakan sarapan untuk kita…"
Chanyeol kemudian mempersiapkan semuanya di meja makan. Namja mungil itu berniat membantu kekasihnya namun segera dihentikan oleh Chanyeol. Ia pun hanya pasrah dan menikmati layanan paginya. Chanyeol benar-benar memanjakannya pagi ini.
.
.
.
"Arrggghhhh!"
PRANGG
Gelas yang tadinya berada di genggaman Kai kini mendarat mulus di lantai keramik apartemen. Tadinya ia berpikir Kyungsoo pasti berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Mungkin untuk menghindarinya atas kejadian tadi malam. Namun saat matanya menemukan tas yang biasa dipakai namja mungil itu ke kampus masih terletak manis di meja belajarnya, itu menandakan Kyungsoo tidak pergi ke kampus. Hal itu membuat darahnya mendidih.
"C-h-a-n-y-e-o-l" desis Kai dengan geramnya menatap pecahan gelas tadi.
Percuma bagi Kai untuk mencari keberadaan Kyungsoo di kampus karena sepertinya namja mungil itu tidak hadir. Kai sudah mencari sampai ke kelasnya namun nihil. Chanyeol juga tidak terlihat dan itu semakin meyakinkan Kai bahwa mereka pasti sedang bersama sekarang. Kai dan Kyungsoo maupun Chanyeol memang satu universitas hanya saja berbeda jurusan. Kai mengambil jurusan Art & Design sedangkan Kyungsoo dan Chanyeol pada jurusan Hukum.
Langkah kaki membawanya memasuki ruangan yang cukup luas tempat ia biasa berlatih dance. Ternyata bukan hanya dia saja berada di ruangan itu. Seperti biasanya, hari ini memang jadwal latihan mereka. Sengaja memilih hari Kamis karena saat itu mereka sedang kosong mata kuliah. Terlihat beberapa sahabatnya sedang latihan dan berhenti saat salah satu dari mereka melihat pantulan Kai dari kaca besar diruangan tersebut.
"Kai! Darimana saja kau? Kita janji latihan jam 10 dan kau baru datang sekarang? Terlambat!" kesal namja ber-dimple itu.
"Mian, aku bangun kesiangan tadi. Ayo latihan…" kata Kai yang tentu saja berbohong.
Namja ber-dimple itu, Lay memasang wajah kebingungannya karena Kai sepertinya tidak bersemangat hari ini. 'Ada apa dengannya?' batin Lay.
"Kau bisa ajari aku gerakan jumstyle? Aku cukup kesulitan, Kai" kata seorang namja berkulit susu yang baru menghentikan gerakan dancenya saat Kai sudah mengambil tempat disebelahnya.
"Baiklah, tapi aku peregangan dulu, ne?" balas Kai masih dengan wajah datarnya.
"Kau ada masalah? Kau seperti tidak bersemangat" kata namja yang kini beralih mengganti musik yang tadinya berdentum cepat menjadi lebih lembut. Mungkin membantu Kai yang akan melakukan peregangan otot sebelum masuk ke bagian inti.
"Aku tidak apa-apa, Minseok hyung" kata Kai lagi masih berupaya cuek.
"Kau bisa cerita pada kami kalau sedang ada masalah. Kau percaya kami, kan?" ucap Minseok perhatian.
"Terima kasih, hyung. Tapi aku tidak apa-apa. Sedang tidak enak badan saja"
"Eoh! Kabar yang aku dengar, kelas kami akan kedatangan mahasiswa baru hari ini. Benarkan, Hun?" kata Lay mengganti topik pembicaraan karena menyadari kondisi Kai yang tidak mood.
"Hm…aku juga dengar kabar itu…." jawab Sehun singkat.
"Kira-kira namja atau yeoja ya?" ucap Lay menerawang.
Lay dan Sehun memang berada dalam satu kelas. Sedangkan Kai maupun Minseok berpisah kelas satu sama lain. Minseok adalah senior mereka di Kyunghee University dan meskipun mereka berbeda tingkatan, tak menghalangi semuanya untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Bahkan Kai yang seorang pendiam dan tertutup akan berubah seratus persen apabila bersama sahabat-sahabatnya itu.
.
.
.
"Kyunggie, nanti aku antar ke apartemenmu, ne?" kata Chanyeol pada seorang namja mungil yang berada di pangkuannya.
"Ani. Aku masih ingin disini. Apa kau bosan bersamaku?"
"Aigooo….pikiran macam apa itu? Dengar chagi, aku selalu bahagia saat bersamamu. Bahkan aku membatalkan janjiku dengan hyungku itu untuk menemaninya pergi agar bisa menemanimu disini" kata Chanyeol sambil mencubit pelan hidung Kyungsoo karena gemas.
"Lalu kenapa kau memaksaku pulang, eoh?" wajah Kyungsoo mulai cemberut.
"Siapa yang memaksa, um? Aku hanya khawatir dengan keadaan Kai. Kau tahu, kan kalau dia tidak bisa apa-apa dirumah tanpamu? Dia tidak bisa masak, pasti dia kelaparan. Lalu apa kau tidak memikirkan penyakit Kai? Kalau terjadi apa-apa padanya disana bagaimana?" kata Chanyeol panjang lebar.
Wajah Kyungsoo berubah menjadi sendu. Ia memang membenarkan ucapan Chanyeol namun ia belum siap untuk kembali. Ia terlalu kaget saat Kai mulai berani memukulnya. Ia takut Kai akan mengulanginya disuatu hari nanti. Meskipun Kai sudah meminta maaf, tetap saja namja mungil itu masih terlalu takut. Tapi disisi lain ia sangat khawatir keadaan Kai. Benar-benar dilema menghinggapi dirinya.
"Aku janji akan lebih sering mengunjungimu, chagi" Chanyeol kembali mengusap-usap pipi halus Kyungsoo.
"Kau selalu peduli padanya, padahal Kai tidak pernah bersikap baik padamu sekalipun" kata Kyungsoo dengan mata bulat yang mulai memerah menahan haru.
"Kaulah alasanku mengapa selama ini aku bersikap sabar pada Kai, Kyunggie…." ucap Chanyeol dengan tatapan lembutnya yang dibalas senyuman hangat milik Kyungsoo.
"Ne, aku akan pulang. Tapi nanti malam saja, ne? aku masih ingin bersamamu…" rengek Kyungsoo manja.
"Baiklah. Aku juga masih ingin bersamamu, chagi" ucap Chanyeol tak lupa mengecup lembut bibir pulm milik Kyungsoo yang tentu saja dibalas dengan senang hati oleh pemiliknya.
TING TONG
TING TONG
Baru beberapa menit Chanyeol melumat bibir manis Kyungsoo, suara bel apartemennya memaksanya untuk dibuka. Dengan sedikit kesal ia bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, sosok raksasa tampan menyambut pemandangannya. Bukan. Chanyeol terperangah bukan karena ketampanan orang di depannya. Melainkan kenapa orang itu ada di sini sekarang.
"Bahkan wajah derp-mu itu tidak berubah dari dulu…" orang itu hanya menatap sekilas dan masuk tanpa dipersilahkan dahulu oleh si pemilik apartemen.
"Y-yak! Tidak sopan sekali kau raksasa bodoh! Yak! Darimana kau tahu alamatku?" teriak Chanyeol yang akhirnya sadar dari tingkah konyolnya tadi.
"Lalu kau apa? Tiang bendera? Haha….kau jangan meremehkanku. Kau akan terus kuhantui selama aku ada di Korea" balas orang itu.
"Ck, raksasa idiot!" geram Chanyeol dan mengikuti langkah orang yang menurutnya sungguh menyebalkan.
"Eoh, kau sedang ada tamu ternyata. Siapa dia?"
Kyungsoo yang mendengar suara di dekatnya segera mengecilkan volume televisi yang tadi ditontonnya dan menunduk hormat pada orang asing tersebut.
"Annyeonghaseyo….Kyungsoo imnida"
"A…annyeong Kyunggie….Kau bisa panggil aku Kris" namja tinggi itu juga mengenalkan dirinya pada sosok yang menurutnya terlalu mini untuk ukuran seorang namja.
"Yak! Apa-apan kau memanggil kekasihku begitu. Hanya aku yang boleh memanggilnya dengan Kyunggie" kata Chanyeol sewot.
"Hell! Dia kekasihmu?!" mata Kris sekarang sudah maksimal melotot.
"Ne, kenapa? Imut kan?" ucap Chanyeol membanggakan kekasihnya itu. Sedangkan Kyungsoo sudah memerah menahan malu.
"Aiisshhh…sudahlah! Kenapa tadi kau membatalkan rencana kita? Kau kan sudah janji akan menemaniku?" kata Kris mengalihkan pembicaraan.
"Aku kan sudah mengatakan alasannya tadi saat mengirimmu pesan, Kris. Apa semuanya sudah beres?"
Kyungsoo hanya diam mendengar pembicaraan kedua raksasa di depannya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Begitulah dan tadi sudah perkenalan ke jurusan. Ternyata bukan aku saja yang menjadi mahasiswa transfer. Ada yang lain juga" kata Kris menjelaskan pengalamannya tadi.
"Jinjja? Ah! Kyunggie…Kris juga akan satu kampus dengan kita. Dia mengambil jurusan Art & Design sama seperti Kai" kata Chanyeol menjelaskan saat melihat raut bingung di wajah Kyungsoo.
"Mwo? Ah…apa kau sekelas dengan Kai?" tanya Kyungsoo.
"Aku belum tahu karena baru hari ini aku masuk. Jadi belum mengenal semua. Kai itu siapa?" tanya Kris penasaran karena dari tadi mendengar nama Kai diucapkan saudaranya dan namja mungil itu.
"Dia dongsaengku…."
Kris hanya ber'oh' ria dan memilih duduk di sofa. Ia menyenderkan kepalanya di sandaran sofa sambil menutup matanya. Kris pasti kelelahan setelah seharian ini disibukkan dengan pengurusan kepindahannya dari China ke Korea.
"Kyunggi….bagaimana kalau kuantar sekarang? Sepertinya Kris harus beristirahat dulu" ucap Chanyeol menarik tangan Kyungsoo keluar apartemen.
.
.
.
Jam dinding di apartemen itu kini menunjukkan pukul sepuluh malam, namun pemiliknya lebih memilih berdiri di balkon apartemen dekat ruang depan. Tadi Ia sengaja membuka gorden besar yang menutupi dinding kaca diruangan itu. Pemandangan Seoul dimalam hari langsung menyambutnya, terlihat lebih indah dengan segala bentuk dan warna lampu yang berkelap-kerlip. Meskipun pemandangan itu indah, Kai sepertinya sama sekali tak menikmati pemandangan di depannya.
KLIK
Suara pintu dibuka dan langsung menampakkan sosok mungil yang memasuki ruangan. Tatapannya dengan mata Kai beradu. Diam. Tak ada satu pun dari mereka untuk memulai pembicaraan. Sosok mungil itu beranjak dari tempatnya dan memilih jalan ke arah dapur. Saat itulah matanya melihat kondisi apartemen yang sangat berantakan. Buku-buku berserakan, pecahan gelas yang mengotori lantai. Debu yang terasa menganggu kaki saat menginjak keramik putih tersebut. Mata namja mungil itu semakin membesar saat menyadari sisa-sisa abu rokok dan minuman keras ada di meja makan. Tangannya mengepal kuat dan kembali membalikkan badannya.
TAP
Kyungsoo menarik paksa batangan rokok yang masih menyala dari tangan Kai. Kyungsoo baru menyadari ternyata namja Tan itu merokok, padahal saat baru masuk ia tidak melihat rokok tersebut.
"Kau lupa janjimu untuk tidak merokok lagi? Atau kau pura-pura melupakannya, Kim-Jongin" ucap Kyungsoo penuh penekanan pada nama Kai.
Kai menatap Kyungsoo dengan tawa yang meremehkan. "Apa pedulimu, hyung?" ucap Kai kembali merebut batangan rokoknya dari Kyungsoo.
"Mwo? Apa maksud kata-katamu, eoh? Tentu saja aku peduli. Asmamu akan sering kambuh kalau kau merokok, Jongin" ucap Kyungsoo dengan suara yang mulai meninggi.
"Jongin, sejak kapan kau meminum minuman keras seperti itu?" kata Kyungsoo sambil tangannya menunjuk meja makan yang terletak di dapur.
"Tidak usah perdulikan aku, hyung. Tidurlah….kau pasti lelah setelah dari kemarin berada di luar…" Kai menatap tajam mata besar Kyungsoo.
"Aku peduli pada…."
"KALAU KAU PEDULI KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU SENDIRI DAN LEBIH MEMILIH BERSAMA KEKASIH SIALANMU ITU HYUNG?!"
"JAGA UCAPANMU JONGIN!" suara Kyungsoo tidak mau kalah tinggi dari Kai.
Lagi-lagi Kai tersenyum miris. "Kau memang selalu membela kekasihmu itu, hyung dibandingkan aku. Dan kau masih bilang kau peduli padaku? Kau lucu sekali, hyung…" Kai mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo.
"Kalau kau masih bersikap yang sama, aku mohon padamu, hyung. Jangan pernah anggap aku sebagai adikmu!"
CTAAARRRR
Ucapan Kai barusan serasa petir yang menyambar tubuhnya. Ia berusaha menahan perasaannya agar tidak melakukan hal bodoh yang nantinya malah akan disesalinya.
"Jo…Jongin…."
"Jangan pernah panggil aku Jongin lagi…kau keterlaluan hyung"
"Jongin….kau mau kemana?!" teriak Kyungsoo saat Kai menyambar mantelnya dan bergegas keluar dari apartemen mereka.
Kai tidak menghiraukan panggilan Kyungsoo sama sekali. Darahnya terlalu mendidih, ia lebih memilih segera keluar daripada nantinya sikapnya malah akan menyakiti Kyungsoo seperti kemarin.
BRUGH
Tubuh Kyungsoo yang sedari tadi sudah melemas akhirnya terjatuh di lantai. Tak ada air mata, hanya pandangan kosong yang tertuju ke luar arah balkon.
"Eomma….Appa….apa aku keterlaluan?" ucapnya kepada dirinya sendiri.
.
.
.
Hari ini genap seminggu sejak perginya Kai dari apartemen. Kyungsoo yang awalnya khawatir kemana adiknya itu pergi akhirnya bisa bernafas lega saat Sehun memberinya kabar tentang Kai yang menginap dirumahnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membujuk Kai kembali karena namja Tan itu benar-benar menghindar selama ini. Saat berpapasan di kampus pun, namja Tan itu tak sekalipun menanggapi Kyungsoo.
Kyungsoo merasa kesepian. Chanyeol tidak bisa menemaninya karena harus ikut orang tuanya ke Gippeun, untuk menjenguk neneknya yang sakit parah. Disinilah Kyungsoo berada. Duduk diam dikamarnya, tepatnya di dekat jendela kaca kamar itu. Sengaja membuka jendela selebar mungkin agar cahaya bisa menerangi kamarnya. Dia tak suka gelap dan semakin kesal saat penerangan di apartemennya bermasalah. Pihak apartemen mengatakan mungkin kerusakan pada lampu akan selesai besok pagi.
Mata besar itu sedikit nanar saat menyadari bahwa selama ini, khususnya saat keadaan seperti sekarang, Kai-lah yang selalu menemaninya. Memeluknya untuk sekedar menenangkannya di kegelapan. Kai rela tidur dengan lampu yang masih menyala terang demi Kyungsoo. Padahal namja mungil itu tahu jelas, Kai tidak suka tidur dengan sinar lampu yang menyilaukan baginya. Tapi lihatlah sekarang. Keadaan yang sunyi dan gelap menemaninya dalam kesendirian.
TES
Satu tetes air mata dari mata besarnya sukses jatuh membasahi bajunya. Posisinya yang terduduk dan membenamkan kepala dikedua lututnya menambah kesan bahwa ia benar-benar kesepian.
.
.
.
"Kai, kembalikan komik itu kalau kau tidak berniat membacanya." ucap Sehun kesal karena sedari tadi ia menunggu Kai selesai membaca komik yang selanjutnya ingin ia baca. Mereka memutuskan membaca komik sampai nanti tengan malam.
"….."
"Kai!"
"Eoh? Wae?" Kai akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Kemarikan komik itu" kata Sehun mengulurkan tangannya.
"Tidak mau! Aku belum selesai baca" ucap Kai kembali fokus pada komik di tangannya.
"Aissshh…jadi dari tad….."
Drrttt…ddrrtttt…..
Kalimat Sehun tergantung akibat getaran di ponselnya. Ia melihat nama 'Kyungsoo' tertera dipanggilan. Ia melirik ke arah Kai yang kembali asyik dengan komiknya.
"Kyungsoo-ah…?" Sehun memutuskan menjawab panggilan tersebut.
DEG
Kai membeku ditempatnya saat mendengar nama itu. Ditatapnya wajah Sehun dengan tatapan awas-kau-beritahu-aku-disini. Sehun mengabaikan tatapan Kai. Toh Kyungsoo sudah mengetahui keberadaannya disini. 'bodoh' batin Sehun.
"Kyung….kau masih disana?" ucapnya saat orang diseberang tak kunjung menjawabnya.
"Se…Sehun…." ucapan itu terdengar lirih. Sehun yakin suara itu efek dari menangis.
"Ne…gwenchana?" kata Sehun.
"Gelap….hiks….."
"Eoh?...apa maks….."
Tuuuttt…tuutt…tuuuttt…..
Sehun memandangi ponselnya dengan raut bingung. "Kenapa tiba-tiba mati?" ucapnya pelan. Kembali ditatapnya Kai yang juga memandang kearahnya dengan ekspresi tanda tanya.
"Ada apa?" kata Kai akhirnya tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Aku juga tidak tahu. Sambungannya tiba-tiba mati. Kenapa dia menghubungiku? Jangan bilang ponselmu kau non-aktifkan" Ucap Sehun dengan tatapan meneliti.
"Mungkin mati. Hanya itu? " sepertinya Kai tidak puas dengan jawaban sahabatnya itu.
"Mmm…tadi aku sempat dengar Kyungsoo bilang gelap. Apa maksud…YAK! KAI MAU KEMANA KAU?!"
Belum sempat Sehun bertanya lebih lanjut, namja Tan itu tiba-tiba turun dari tempat tidur Sehun, melempar asal komik ditangannya dan segera menyambar kunci motornya. Sehun hanya melongo parah saat ia baru menghitung detik kesepuluh dan ia berani bersumpah mendengar suara motor yang menggelegar itu menjauhi pekarangan rumahnya. Sehun hanya menggaruk tengkuknya, kebiasaannya kalau sedang kebingungan.
Kai mengendarai motor Mv Agusta F4CC hitam miliknya dengan kecepatan maksimal. Kecepatan yang seolah membelah kota Seoul dimalam hari. Rambut ikalnya diterpa angin karena helmnya ketinggalan di rumah Sehun. Dinginnya angin malam tak dipedulikannya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu orang yang kini mungkin menangis ketakutan di apartemen. Kai tahu bahkan sangat tahu kalau hyungnya itu takut akan gelap.
'Aku segera datang, hyung. Jangan takut' batin Kai yang wajahnya jelas-jelas khawatir.
Perjalanan dari rumah Sehun ke apartemen miliknya yang biasa memakan waktu dua puluh menit, kini Kai memecahkan rekor dalam waktu lima menit, tentu saja dengan mengabaikan teriakan memaki pengendara lain dan rambu-rambu lalu lintas. Ia memarkir motornya di basement yang disediakan apartemen dan buru-buru masuk.
KLIK
Saat pertama kali membuka pintu, gelap gulita yang langsung menyambutnya. Dengan bantuan cahaya ponselnya, Kai menuju kamar Kyungsoo. kamar itu tidak terlalu gelap karena bias cahaya bulan dari jendela kamar yang dibuka lebar.
"Hyung….."
Kai berlari kearah Kyungsoo yang masih tetap pada posisinya – duduk sambil menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Bahunya bergetar tanda bahwa namja mungil itu menangis.
GREP
Kyungsoo kaget luar biasa merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang. Namun segera merasakan kehangatan dan kenyamanan yang sangat saat menyadari orang yang memeluknya adalah orang yang sangat dirindukannya.
"Jongin…hiks…kenapa baru datang…hiks?"
Kai memutar tubuh kecil itu agar leluasa memandang kearahnya. Terlihatlah wajah Kyungsoo yang baru menengadah. Wajah manisnya terlihat basah, sesenggukan akibat terus menangis.
"Mian hyung….aku sudah disini jangan takut, ne?"
Bukannya menjawab, Kyungsoo malah kembali memeluk Kai dengan kedua tangannya yang dilingkarkan pada perut rata namja Tan itu. Tubuhnya masih gemetar. Kai mengelus punggung itu lembut untuk menenangkan Kyungsoo.
Mereka tetap pada posisi itu sampai beberapa menit hingga Kai bisa merasakan kalau namja mungil dipelukannnya itu sudah tenang. Perlahan dilepaskannya tangan mungil yang sudah melemah itu dan mengangkat tubuhnya ke tempat tidur. Kai tersenyum melihat wajah tertidur Kyungsoo. Sebenarnya ia sudah biasa melihat wajah tertidur Kyungsoo namun entah kenapa hari ini wajah itu bertambah cantik dan Kai menyukainya.
"Jallja hyung…" Kai tidak tahan untuk mengecup lembut bibir pulm milik Kyungsoo. ia tahu ini salah, tetapi tetap saja ia lakukan.
"Mianhae….jeongmal aku menyayangimu hyung…."
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, bersamaan itu pula ponsel Kyungsoo yang masih terletak di lantai bergetar menandakan panggilan masuk. Segera diraihnya ponsel itu dan segera berdecih saat mengetahui si penelepon. Namun Kai menjawab panggilan itu juga.
"Kau tahu ini sudah jam berapa, eoh? Apa kau tidak punya kerjaan mengganggu jam tidur orang?" sembur Kai mengabaikan sopan santun saat bertelepon.
"Kau? Dimana Kyungsoo?" jawab suara dari seberang.
Kai mengeluarkan smrik setannya. "Dia sedang bersamaku…sedang tidur….dipelukanku"
"Mwo? Jangan main-main padaku, Kai. apa yang terjadi pada Kyungsoo?" terdengar suara Chanyeol yang kaget saat mendengar jawaban Kai.
"Kekasih macam apa kau tidak tahu kabar tentang kekasihnya sendiri. Atau kau selingkuh?" Kai sepertinya ingin memancing emosi si lawan bicara.
"K-A-I…." Chanyeol mengeram marah namun seperti berusaha ditahan.
"Dia sedang menangis ketakutan dikamar saat aku menemukannya. Lalu aku memeluknya dan menciumnya sampai ia tertidur. Lihatlah…wajahnya sangat cantik saat tidur" Kai masih dengan seringaiannya.
"Jangan mengarang cerita…katakan padaku dimana Kyung…."
"Kau tidak percaya? Apa aku perlu melakukan video-call padamu sekarang?" sambar Kai sebelum Chanyeol menyelesaikan ucapannya.
"Kau…"
"Akan kubuat perhatian Kyungsoo hyung kembali seperti dulu padaku. Saat kau belum hadir dihidupnya!"
BIPP
Kai memutuskan panggilan itu dan tersenyum puas. Sekali lagi dipandanginya wajah Kyungsoo dan seringai itu berubah menjadi senyum miris.
"Kau harus menjadi Kyungsoo yang dulu, hyung. Kyungsoo hyung yang memberi 24 jam waktunya hanya untuk seorang Kim Jongin. Memperhatikan aku, menemaniku saat aku sendiri, memasakkan aku makanan – hanya untukku. Bukan untuk orang lain"
.
.
.
"Arrggghhh!"
Cukup aku bersabar denganmu, Kim Jongin! Kau menyatakan perang denganku!
SENT
.
.
.
.
TBC
