Title : Run Away [Chapter 3]

Cast : ChanSoo, KaiSoo

Sub-cast : EXO other member

Author : Chang

Genre : AU, Romance, etc.

Length : Chaptered/Series Fic

Rating : NC+17

Disclaimer : FF ini asli buatan saya, hasil pemikiran saya dan tidak menjiplak hasil karya orang lain. Kejadian di cerita adalah AU. FF ini mengandung unsur Male Slash Fic/YAOI/Boy x Boy/Shounen-ai. Gak suka jangan dibaca XD

Sebelumnya…..

"Arrggghhh!"

Cukup aku bersabar denganmu, Kim Jongin! Kau menyatakan perang denganku!

SENT

Pesan itu sudah terkirim. Mungkin saja namja Tan disana sudah membacanya dan Chanyeol yakin akan hal itu. Wajah Chanyeol masih mengeras dan terlihat sangat emosi. Bagaimana tidak marah saat kau mengetahui kekasihmu sedang berada di pelukan lelaki lain.

'Kai adalah saudara Kyungsoo. Kau tidak perlu khawatir. Ingat…Kyungsoo hanya mencintaimu' itulah suara hati Chanyeol saat ini.

'Kau harus waspada karena mereka adalah saudara tiri. Kai pasti menyukai Kyungsoo' suara hati dari sisi lain juga mengganggu pikiran Chanyeol.

"Arrgghhh!" Chanyeol meremas kuat rambutnya. Ini benar-benar membuatnya frustasi.

Chanyeol jelas mengetahui bahwa Kai memang tak pernah menyukainya bahkan saat pertemuan mereka yang pertama. Namja Tan itu entah kenapa selalu memasang raut penuh kebencian saat melihatnya, terutama saat ia dekat dengan Kyungsoo.

TAP

Seketika tubuh Chanyeol menegak. Ia seperti mendapat pencerahan. Ya, ia yakin akan pemikirannya kali ini – Kai mencintai kekasihnya, Kyungsoo. Tangan itu kembali mengepal keras dan mengeluarkan bunyi akibat jari-jari yang terlalu kuat dikepal.

"Kau menjijikan, Kim Jongin….Tak akan kubiarkan kau menyentuh kekasihku" desisan itu terdengar seram.

.

.

.

"Jongin….." panggil Kyungsoo pada namja Tan di depannya yang sedang sibuk dengan sarapannya.

"Hm? Wae hyung?" jawab Kai kini memandang wajah polos hyungnya itu.

Kini tatapan mereka saling bertemu. Kyungsoo menyukai tatapan teduh adiknya itu. Baginya tatapan Kai bisa menenangkan hatinya, seperti saat ini. Tadi ia sangat takut untuk mengatakan apa yang kini mengganggu pikirannya. Bahkan ia hampir menggagalkannya, tetapi pada akhirnya bertekad untuk mengeluarkan isi pikirannya karena tatapan penuh kasih milik Kai. ia memang harus mengatakan ini.

"Hyung….ada apa?" tanya Kai bingung saat Kyungsoo hanya bengong memandanginya. Kini sarapan di depannya terabaikan.

Kyungsoo tersentak dari lamunannya. Ia kini mengerjapkan matanya imut dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kai terkekeh pelan melihat tingkah hyungnya itu. Ia selalu suka kalau Kyungsoo mulai salah tingkah.

"Janji jangan marah padaku…." kata Kyungsoo memelas. Namun bagi Kai itu terlalu seksi.

'Aishh…apa yang kau pikirkan, Kai' Kai menggeleng kuat kepalanya mengabaikan pikiran barusan.

"Hahaha….jangan pasang wajah itu lagi padaku hyung kalau kau tidak kau akan menyesal. Ne, aku janji hyung. Katakanlah…" Kai menggenggam tangan Kyungsoo. Meyakinkan namja mungil itu kalau ia benar-benar tidak akan disakiti lagi.

"Hmmm…itu…bisa kau mengganti password pintu apartemen kita?" ucap Kyungsoo. kini kepalanya menunduk karena terlalu takut akan reaksi Kai nantinya.

Hening.

Kyungsoo bisa merasakan sakit ditangannya akibat genggaman Kai yang semakin erat. Takut Kai bersikap kasar lagi seperti sebelumnya, Kyungsoo membalas menggenggam tangan namja itu dengan tangannya yang satu lagi.

"Jongin, dengar….bu…bukan maksudku untuk membuatmu marah karena permintaan bodohku. Hanya saja kau sudah berjanji, kan untuk melupakan kenanganmu bersama Hyo Rin. Tapi bagaimana bisa kalau kau membuat kata sandi pintu itu dari tanggal lahirmu dan tanggal lahir Hyo Rin? 1403. Itu sama saja kau belum bisa melupankannya, kan?" jelas Kyungsoo panjang lebar.

"….."

"Jongin….tanganku sakit…." Kyungsoo berusaha melepas genggaman tangan Kai namun gagal karena genggaman itu malah semakin erat.

"Darimana kau tahu kalau itu inisial dari tanggal ulang tahunku dan Hyo Rin….?" tanya Kai dengan ekspresi datarnya.

"Aku…ah! Aku ingat karena password di ponselmu. Saat aku tanya maksud dari angka-angka itu, kau bilang itu tanggal ulang tahunmu dan ulang tahun Hyo Rin. Sama dengan kata sandi pintu itu" ucap Kyungsoo dengan suara rendah di akhir kalimat.

Mata elang Kai terus menatap Kyungsoo yang kini balik menunduk. Kai memang tahu kalau Kyungsoo mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengannya, bahkan rahasianya sendiri. Kai selalu terbuka pada hyungnya itu, menceritakan pengalamannya selama menjalin hubungan dengan Hyo Rin, meminta saran-saran pada Kyungsoo yang dengan senang hati membantunya.

SRET

Kyungsoo bisa merasakan badan mungilnya ditarik paksa dan kini ia dan Kai sudah berada di depan pintu apartemen mereka. Ia menatap bingung namja Tan disebelahnya.

"Jongin, kau mau apa?"

"Mengganti kata sandinya, hyung" ucap Kai tanpa memandang Kyungsoo. ia sibuk mengotak-atik tombol-tombol di depannya.

KLIK

"Selesai! Sekarang buka pintunya, hyung"

"Mwo? Apa sandinya?" tanya Kyungsoo masih dengan wajah bingungnya.

"Tanggal lahirku dan tanggal lahir hyungku yang cantik ini…." jawab Kai sambil mencubit gemas kedua pipi chubby Kyungsoo.

"Yak! Aku ini namja bagaimana aku bisa jadi cantik?!" teriak Kyungsoo tidak terima disamakan dengan yeoja.

"Sudahlah hyung. Terima saja kenyataan kalau kau bahkan lebih cantik dari yeoja yang pernah ku lihat. Hahaha…." Kai melewatkan wajah Kyungsoo yang sudah memerah dan melotot.

"1412…."

KLIK

Pintu itu berhasil terbuka dan kini wajah Kyungsoo berbinar senang.

.

.

.

"Bagaimana keadaan nenekmu, Channie?" tanya Kyungsoo pada Chanyeol. Mereka kini berada di kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.

"Sudah lebih baikan daripada sebelumnya…."

"Baguslah, kau tahu aku sangat merindukanmu"

Chanyeol memandang Kyungsoo yang kini wajahnya terlihat menggemaskan karena kedua pipinya yang gembung terisi banyak makanan. Chanyeol tersenyum sambil mengusap pipi Kyungsoo.

"Benarkah? Kan ada Kai yang menemanimu" Chanyeol menatap Kyungsoo penuh selidik.

"Ya! Apa hubungannya? Aku merindukanmu, Channie….Tapi dengan teganya kau jarang memberi kabar padaku selama kau disana"

"Maaf….aku terlalu sibuk karena nenekku berada di rumah sakit. Aku harus selalu menjaganya karena kedua orang tuaku pun sibuk menyelesaikan urusan kantornya selama disana. Kau tahu kan aku sangat menyayangi nenekku?" ucap Chanyeol merasa bersalah pada Kyungsoo.

"Mmm…aku tahu. Maaf kalau aku bersikap seperti ini, Channie. Aku janji akan selalu mengerti dirimu"

"Hahahaha…kau sangat lucu, Kyunggie…." Chanyeol mengusap sayang puncak kepala Kyungsoo karena tidak tahan dengan mimik wajah Kyungsoo yang memelas namun tetap lucu baginya. Sedangkan namja mungil itu tertunduk malu.

"Apa Kai bersikap baik selama aku tidak ada?" kata Chanyeol.

"Tidak. Malah dia sangat perhatian padaku. Aku senang dia mulai berubah seperti Jongin yang ku kenal dulu, Channie. Bahkan saat aku merasa kesepian ketika kau tidak ada, Jongin selalu menemaniku" jawab Kyungsoo bersemangat dan tak lupa dengan senyum lebarnya.

Tidak tahukah Kyungsoo kalau ekspresinya saat ini benar-benar membuat hati Chanyeol mencelos? Hal itu tampak dari perubahan drastis di wajahnya. Ingatannya kembali ke percakapannya dengan Kai minggu lalu di telepon.

"Channie….Channie…."

"Eoh….a..apa?"

"Kau tidak mendengarkanku?"

"Ani, aku dengar. Aku senang Kai sudah mulai berubah. Itu tandanya usahamu selama ini tidak sia-sia" ucap Chanyeol memaksakan bibirnya mengembangkan senyuman.

"Itu juga berkat bantuanmu. Kalau bukan karena dukunganmu, pasti sudah dari dulu aku menyerah…."

"Kau yang terbaik, Kyunggie….Baiklah bagaimana kalau pulang kuliah ini, kita kencan. Sekaligus sebagai tanda permintaan maafku karena membuatmu kesepian selama aku pergi?"

"Jeongmal? Baiklah, aku mau!" ucap Kyungsoo bersemangat dan tanpa sadar memeluk erat kekasihnya itu. Beberapa pasang mata memandang ke arah mereka. Namun tidak dipedulikan oleh kedua orang yang sedang merasakan kebahagiaan itu.

.

.

.

Jam terus berputar namun sepertinya mata kuliah hari ini belum juga berakhir. Kyungsoo terlihat memandangi langit sore dari jendela kelasnya. Senyum terus menghias bibirnya saat mengingat janji Chanyeol yang akan mengajaknya kencan hari ini. Ia sudah tak sabar, namun ia harus menunggu setidaknya mata kuliah ini berakhir kalau tidak ingin mendapatkan nilai yang buruk. Ia menolehkan wajahnya ke sudut kelas dan mendapati Chanyeol yang sedang asyik mencatat pelajaran. Lagi-lagi senyum itu mengembang. Jarang-jarang namja tiang listrik itu mau mencatat.

Drrttt…Ddrrrttt….

Getaran pada ponselnya menghentikan Kyungsoo memandangi Chanyeol. Ia melihat nama 'Bayi Sehun' tertera di layar gadget touchscreennya itu. Sebelum menjawab panggilan itu, Kyungsoo sedikit melirik ke arah dosen yang mengajar dan setelah memastikan keadaan ia sedikit merunduk agar tidak ketahuan.

"Yeob…."

"Kyungsoo hyung! Bisakah kau ke ruangan kami biasa latihan dance sekarang?" ucap suara dari seberang yang bisa dipastikan suara Sehun. Kyungsoo sedikit menjauhkan ponsel miliknya dari telinganya akibat suara Sehun yang terlalu kencang dan tiba-tiba.

Kyungsoo mengernyitkan dahinya. Ia bingung karena suara Sehun yang terdengar khawatir.

"Memangnya ada apa, Sehun-ah?"

"Cepatlah Kyungsoo hyung…Kai….asmanya kambuh…."

Tubuh Kyungsoo menegang. Kini ia benar-benar khawatir. Namun ia menahan dirinya untuk terlihat tidak panik.

"Cari nebulizer di dalam tasnya dan berikan padanya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya" ucap Kyungsoo memastikan suaranya tidak terlalu kuat dan pada akhirnya akan mengganggu suasana tertib kelasnya.

"Tidak ada! Makanya aku meneleponmu, hyung! Ayolah…cepat kesini!"

BIP

Tanpa aba-aba, Kyungsoo mengakhiri panggilan tersebut dan berlari keluar kelas. Ia tidak menghiraukan panggilan dosen yang memanggilnya dan tatapan bingung penghuni-penghuni kelas itu, termasuk Chanyeol.

Tidak butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk sampai di ruangan yang di dominasi kaca-kaca besar di semua sisi dindingnya itu.

"Kyungsoo!" Xiunmin memandang panik wajah Kyungsoo. namja mungil itu kemudian beralih ke Kai yang kini sedang bertarung menghirup udara dengan susah payah.

Kyungsoo bisa melihat wajah Kai yang pucat dan keringat yang mengucur dari pelipisnya. Ia buru-buru mencari sesuatu di dalam tas Kai namun hasilnya nihil.

SRET

Kini tubuh mungilnya sudah ada di samping tubuh Kai yang tergeletak lemah di lantai.

"Pelan-pelan Jonginnie….hirup udaranya pelan-pelan…." Bisik Kyungsoo lembut ke telinga Kai.

"Unghh…" Kai menggeleng lemah dan Kyungsoo bisa mengerti kalau Kai sudah tidak sanggup lagi.

"Tarik perlahan…"

Kai melakukan sesuai instruksi Kyungsoo meski agak kesulitan.

"Lalu hembuskan perlahan…."

Pelan-pelan Kai menghembuskan nafas yang tadi ditahannya sebentar.

"Haaahh….ughhh…."

Kyungsoo mulai merasa tenang karena dia mengira nafas Kai bisa normal kembali. Namun perkiraannya salah saat secara tiba-tiba nafas namja Tan itu kembali tersenggal-senggal.

"Keluarlah!" ucap Kyungsoo tiba-tiba membuat Sehun, Minseok dan Lay memandang satu sama lain.

"Jebal…tinggalkan aku dan Kai disini. Tutup pintunya, Minseok hyung…" Kyungsoo memandang Minseok penuh harap dan beralih pada Sehun dan Lay.

Ketiga namja itu pun mengabulkan permintaan Kyungsoo. Setelah yakin hanya mereka berdua di ruangan tersebut, Kyungsoo perlahan mendekatkan wajahnya pada Kai. dengan hati-hati ia memberikan nafas buatan. Butuh bermenit-menit agar Kai kembali ke kondisi pernafasannya yang normal. Kyungsoo pun melepaskan tautan bibirnya dari bibir Kai. ditatapnya namja yang menjadi adiknya itu dengan raut penuh kekhawatiran.

"Jongin-ah, gwenchanayo?" ucapnya sambil mengusap lembut kepala Kai.

Kai hanya balas mengangguk lemah karena masih berupaya mengembalikan tenaganya seperti semula.

"Kita ke rumah sakit kalau…."

"Andwe!" tiba-tiba saja Kai berteriak lumayan kencang membuat Kyungsoo sedikit tersentak. Pasalnya Kai terlihat sangat lemah namun tiba-tiba bisa berteriak kencang.

"Mianhae hyung, aku bukan maksud membentakmu. Hanya saja aku rasa tidak perlu sampai ke rumah sakit. Aku sudah baik-baik saja" ucap Kai menjelaskan.

"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Jonginie…Baiklah kalau kau tidak mau ku antar ke rumah sakit, tapi kita harus segera pulang. Kau butuh istirahat" kata Kyungsoo.

Sifat protektifnya pada Kai kembali kalau dalam keadaan seperti sekarang. Kai menyukai hyungnya yang seperti ini. Tanpa diketahui Kyungsoo, namja Tan itu mengeluarkan senyuman yang sulit diartikan.

"Ne, hyung yang menyetir, ne?" katanya sambil menumpukkan tangannya ke bahu Kyungsoo yang akan memapahnya.

.

.

.

Namja yang tingginya di atas rata-rata itu terlihat mengotak-atik ponselnya sambil sesekali melirik ke kanan, ke kiri dan kebelakang. Seperti mencari seseorang, namun orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Rasa bosan sudah dari tadi menderanya namun ia tahan karena yang ditunggunya adalah orang yang sangat ia sayangi. Do Kyungsoo – namja yang tadi berjanji akan menemuinya di taman belakang kampus.

"Minseok hyung!" panggil Chanyeol saat melihat Kim Minseok melewati koridor yang tak jauh di depannya.

"Chanyeol? Sedang apa kau disini?"

"Aku menunggu Kyungsoo. Apa hyung melihatnya?"

"Eoh? Kau tidak tahu? Dia sudah pulang mengantar Kai. Tadi penyakit Kai kambuh dan Kyungsoo mengantarnya pulang" jelas Minseok.

"Oh…baiklah kalau begitu aku pergi dulu, hyung. Gomawo…"

Chanyeol berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Berlari sekuat tenaga – melampiaskan rasa kecewanya atau mungkin sakit hatinya. Ya. Dia sudah tahu kejadian yang sebenarnya tanpa Minseok menjelaskan. Chanyeol mengikuti Kyungsoo sejak keluar dari kelas tadi dan juga melihat saat Kyungsoo memapah tubuh Kai keluar untuk membawanya pulang.

Chanyeol merasa sangat bodoh. Mengapa dia harus merasa sakit hati saat Kyungsoo mempedulikan Kai? apa dia cemburu? Apa ini semua akibat ucapan Kai minggu lalu? Entahlah…..

.

.

.

"Kau harus mengurangi jadwal latihan dance-mu, Jongin…Kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kau tau kan kalau kau punya penyakit asma? Satu lagi, jangan lupa membawa alat bantu pernapasanmu! Ini yang selalu membuat kondisimu semakin parahmmmpppp….."

Kai membungkam mulut Kyungsoo dengan tangannya. Satu tangannya lagi untuk menggaruk telinganya yang sedari tadi sudah panas mendengar ocehan Kyungsoo.

"Ne, hyungku yang cerewet…."

"Aissshhh….awas tanganmu itu! Kau ini kalau dinasehati selalu seperti ini. Dewasalah Jongin, kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku sudah memberitahu Appa tentang keadaanmu"

"Ck, hyung! Kenapa jadi tukang ngadu begini sih" rutuk Kai dengan sikap Kyungsoo. Pasalnya, Kai tidak suka kalau appanya mengetahui keadaannya seperti tadi. Pasti appanya akan mengomelinya dari sana dan menyuruhnya untuk berhenti dari kegiatan dancenya yang menurut appanya terlalu menguras tenaga. Kai tentu tidak mau.

"Biar saja. Sekarang kau harus istirahat. Palli" Kyungsoo menarik Kai masuk ke kamar.

"Aku baru bangun tidur hyung, kenapa disuruh tidur lagi. Lagi pula ini masih jam tujuh malam" rengek Kai.

"Kau sedang sakit, Kai. Jadi harus istirahat, palli masuk" Kyungsoo menyelimuti Kai yang sudah terbaring – dengan terpaksa.

"Istirahatlah….Aku keluar sebentar ke swalayan untuk keperluan dapur"

Kai menarik tangan Kyungsoo. "Aku temani…"

"Tidak perlu. Kau harus istirahat. Jaljja…" Kyungsoo tersenyum lembut pada Kai.

"Ne, arra….hati-hati hyung"

"Tidak perlu khawatir…swalayannya kan tidak jauh dari sini" Kyungsoo baru akan berbalik menuju pintu saat ia merasa ditarik lagi.

"Hyung…"

CUP

Mata Kyungsoo semakin membesar merasakan benda kenyal yang mendarat di pipi sebelah kanannya.

"JONGIN!"

Kyungsoo berniat memukul kepala dongsaengnya itu namun niatnya itu ia urungkan saat Kai buru-buru menyelimuti dirinya dengan selimut dan menutup matanya – lebih tepatnya berpura-pura tidur.

Kai bisa mendengar dengan jelas suara derap kaki Kyungsoo yang menjauh dan sengaja dihentakkan kuat-kuat pertanda namja mungil itu sedang kesal. Kai hanya tersenyum puas bisa mengerjai hyungnya itu.

Waktu sudah berlalu lebih dari setengah jam dan Kai belum juga bisa tidur. Ia hanya bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidurnya. Bagaimana ia bisa tidur lagi saat baru terbangun saja, Kyungsoo malah menyuruhnya untuk tidur lagi. Hyungnya itu memang selalu bersikap berlebihan kalau penyakitnya kambuh. Tetapi Kai tidak bisa memungkiri bahwa ia ingin Kyungsoo selalu bersikap begitu sampai kapan pun. Tanpa sadar Kai tersenyum.

TING TONG

TING TONG

Kai mengernyit saat mendengar suara bel pintu. Kalau Kyungsoo yang datang pasti akan langsung masuk saja. Ini artinya orang yang membunyikan bel apartemen bukanlah Kyungsoo. Kai pun melangkah dengan malas-malasan menuju keruang depan dan langsung membuka pintu. Matanya berputar malas saat mendapati seseorang di depannya.

"Kyungsoo hyung tidak ada…." Kai berniat menutup kembali pintu tersebut tanpa menyuruh tamunya tersebut masuk.

BRAK

"Apa semua ini kau yang rencanakan?" tanya namja yang menyandang status tamu.

"Aku tidak mengerti maksudmu…."

GREB

"JAWAB SAJA PERTANYAANKU"

"Woaaahhh….aku tidak tahu kalau seorang Chanyeol yang dibangga-banggakan oleh hyung-ku sebagai orang yang paling sabar dan lembut sedunia adalah orang seperti ini" ledek Kai dengan tatapan meremehkannya. Kini dengan tangan kekar Chanyeol yang menarik kerah bajunya.

"Kau…" desis Chanyeol dengan geramnya.

SRET

Kai melepas paksa cengkraman tangan Chanyeol dan mengibaskan bajunya yang terlihat kusut akibat genggaman erat tangan Chanyeol. Ditatapnya wajah Chanyeol yang memerah menahan emosi. Kai terkekeh pelan tak menyangka ternyata Chanyeol dengan mudahnya emosi. Dia pikir akan sulit membuat namja raksasa itu marah.

"Kau ingin tahu sesuatu, Chanyeol-ssi?" kata Chanyeol sambil memberi tekanan suara di sebutan terakhir nama Chanyeol.

Chanyeol diam menunggu Kai melanjutkan ucapannya.

"Tadi saat penyakitku kambuh, aku hanya berpura-pura saja agar Kyungsoo hyung datang padaku. Dia terlihat sangat khawatir sampai-sampai menciumku untuk memberikanku nafas buatan" ucap Kai dengan suara pelan agar mendramatisir suasana.

Chanyeol menggeram marah. Terdengar dari suara jari-jarinya yang mengeluarkan bunyi akibat dikepal terlalu kuat. Namun ia berusaha untuk menahan diri.

"Aku sengaja melakukannya agar rencanamu untuk mengajak Kyungsoo hyung kencan itu gagal. Jangan tanya kenapa aku tahu semua rencanamu. Mulai sekarang aku akan selalu mengawasi Kyungsoo" tatapan Kai menajam seraya menyelesaikan ucapannya.

BUGH BUGH

DUAK DUAK

"Arrgghhhhh…."

Kai tergeletak dilantai dengan tidak elitnya saat secara tiba-tiba pukulan kuat dari Chanyeol melayang ke arah wajahnya. Ia tidak bisa menghindar karena gerakan itu terlalu cepat. Cairan merah kental berlomba-lomba keluar dari hidungnya dan bibirnya terlihat robek ditepinya.

"Dengar…apapun yang kau rencanakan untuk merusak hubunganku dengan Kyungsoo tidak akan pernah berhasil! Kau menjijikkan brengsek!" Chanyeol berkata sambil berjongkok dihadapan Kai yang belum sempat membenarkan posisinya.

"Menjijikkan kau bilang?"

"Ya…seorang adik terobsesi pada hyungnya. Apa itu tidak menjijikkan? Harusnya kau malu dengan sikapmu seperti ini. Memuakkan…." Lanjut Chanyeol dengan tatapan jijiknya.

DUAK

Chanyeol sukses terjerembab saat Kai menendangnya. Dengan sigap Kai naik ke atas tubuh Chanyeol dan memukuli wajah namja tinggi itu. Namun tenaga Chanyeol masih lebih kuat daripada Kai sehingga tidak butuh waktu lama sampai Chanyeol kembali menguasai permainan. Tubuh Kai makin babak belur akibat pukulan Chanyeol yang bertubi-tubi. Emosi sudah menguasai kedua manusia itu sehingga tidak bisa menahan diri untuk saling memukul satu sama lain.

"JONGIN! CHANNIE!"

Suara dari arah belakang sukses menghentikan pergumulan kedua namja itu. Chanyeol begitu terkejut saat mendapati Kyungsoo memandangi mereka dengan pandangan tidak percaya. Segera ia berdiri dan mendekati namja mungil itu. Kyungsoo mematung di tempat, matanya memandang Kai yang wajahnya kini sudah babak belur.

"Kyunggie….ini bukan seperti yang kau pikir….."

"Jongin-ah…." Kyungsoo berlari ke arah Kai namun segera dihentikan Chanyeol. Ia membawa Kyungsoo keluar dan menutup pintu itu dari luar.

"Kyunggie….maaf aku bisa jelaskan ini semua"

PLAK