Title : Run Away [Chapter 4]
Cast : ChanSoo, KaiSoo
Sub-cast : EXO other member
Author : Chang
Genre : AU, Romance, etc.
Length : Chaptered/Series Fic
Rating : NC+17
Disclaimer : FF ini asli buatan saya, hasil pemikiran saya dan tidak menjiplak hasil karya orang lain. Kejadian di cerita adalah AU. FF ini mengandung unsur Male Slash Fic/YAOI/Boy x Boy/Shounen-ai. Gak suka jangan dibaca XD
Sebelumnya…..
"JONGIN! CHANNIE!"
Suara dari arah belakang sukses menghentikan pergumulan kedua namja itu. Chanyeol begitu terkejut saat mendapati Kyungsoo memandangi mereka dengan pandangan tidak percaya. Segera ia berdiri dan mendekati namja mungil itu. Kyungsoo mematung di tempat, matanya memandang Kai yang wajahnya kini sudah babak belur.
"Kyunggie….ini bukan seperti yang kau pikir….."
"Jongin-ah…." Kyungsoo berlari ke arah Kai namun segera dihentikan Chanyeol. Ia membawa Kyungsoo keluar dan menutup pintu itu dari luar.
"Kyunggie….maaf aku bisa jelaskan ini semua"
PLAK
Chapter 4…
Tamparan telak dari Kyungsoo membuat pipi Chanyeol terlihat memerah. Kyungsoo menampar terlalu kuat akibat emosinya yang membuncah. Bagaimana tidak, saat mengetahui kekasihnya yang selama ini diketahuinya adalah namja yang sabar bisa marah sampai menyakiti adiknya sendiri – Kai.
Nafas Kyungsoo terengah-engah karena berusaha menahan amarahnya. Chanyeol bisa melihat dengan jelas air mata yang menggenang di kedua mata Kyungsoo. menunggu beberapa detik lagi dan kristal bening itu akan terjatuh.
TES
Benar saja. Kyungsoo terisak sambil memandangi tangannya yang digunakan untuk menampar kekasihnya itu. Hampir tidak mempercayai bahwa tangannya sendiri sudah menyakiti Chanyeol. Emosinya terlalu berlebihan sampai-sampai ia tidak sanggup berpikir jernih lagi.
"Hiks…hiks…" isakan Kyungsoo pun mulai terdengar.
"Kyunggie….mianhae" Chanyeol masih berusaha meminta maaf meski ia tidak yakin nasibnya akan berujung sampai dimana.
"Hiks…hikss…." Kyungsoo terisak masih dengan menunduk.
GREP
Tidak tahan dengan suara isakan Kyungsoo, namja tinggi itu dengan sisa keberanian yang ada akhirnya menarik Kyungsoo ke pelukannya. Isakan Kyungsoo terlalu menyakiti hatinya. Selama ini dia berusaha membuat kekasihnya itu bahagia dan ia tidak suka kalau Kyungsoo menangis.
"Mianhae….mianhae…mianhae…." bisik Chanyeol tepat di telinga namja mungil itu. Berharap bisikannya adalah mantra agar tangisan Kyungsoo bisa mereda.
"Hiks…ke…kenapa kau memukul Jongin, Channie…hiks…Dia baru saja sembuh setelah tadi penyakitnya kambuh lagi" kata Kyungsoo masih di dalam pelukan Chanyeol. Tangan mungilnya memukul-mukul dada Chanyeol meski tidak terlalu kuat. Paling tidak ia ingin menyalurkan amarahnya melalui pukulan-pukulan kecil dari tangannya.
"Aku tadi terlalu emosi, chagi…Mianhae, aku janji tidak akan bersikap seperti tadi. Aku mohon percayalah padaku" ucap Chanyeol sambil mengusap punggung Kyungsoo berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Kyungsoo berhenti memukul dada Chanyeol dan pelukan itu terlepas. Kyungsoo menatap mata namja di depannya itu dengan seksama. Wajahnya benar-benar basah oleh air mata, mata sembabnya terlihat memerah.
"Biasanya apapun yang Jongin katakan kau pasti tidak pernah menanggapinya seperti tadi. Kau selalu sabar meskipun Jongin mengeluarkan kata-kata kasarnya. Aku tahu tentang dirimu. Tapi apa yang membuatmu kali ini emosi, Channie? Katakan padaku….pasti Jongin mengatakan sesuatu, bukan?" kata Kyungsoo bersikap bijak.
Kyungsoo tahu 'akibat' terjadi karena ada 'sebab' dan ia tidak mau terjadi kesalahpahaman yang tidak penting. Itulah sebabnya ia mencoba tenang dan mengajak Chanyeol bicara dengan baik-baik.
Namja tinggi itu bernafas lega saat Kyungsoo akhirnya mau mendengar penjelasannya. Ia mengembangkan senyum terbaiknya sebelum menarik tangan kecil itu keluar dari kawasan apartemen Kyungsoo.
"Channie, kita mau kemana?" tanya Kyungsoo bingung.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kita perlu suasana yang bagus. Aku akan memngajakmu ke suatu tempat" jawab Chanyeol menatap sayang ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo masih diliputi rasa penasaran namun ia mau saja dibawa namja tinggi itu. Ia percaya pada seorang Park Chanyeol. Tanpa sadar, senyuman indah di bibir mungil itu akhirnya tercipta.
.
.
.
Namja kulit Tan itu sedang membersihkan bekas-bekas darah yang ada di dekat bibirnya dengan perlahan. Berkali-kali ia meringis kesakitan. Berkali-kali pula pandangannya tertuju ke arah pintu menunggu Kyungsoo kembali. Kai - namja Tan itu bisa saja tadi mengikuti atau menahan Chanyeol membawa Kyungsoo keluar dari apartemen. Namun, tenaganya serasa habis disedot akibat memukul dan dipukuli oleh Chanyeol. Ia menyerah dan memilih membersihkan luka lebamnya dan menunggu.
"Akh!" Kai meringis kesakitan untuk kesekian lagi.
Tetapi tidak lama, smirk-nya terlihat mengingat bagaimana nasib Chanyeol nantinya. Ia benar-benar ingin hyungnya bisa berpisah dengan namja tiang listrik itu. Apa pun akan ia lakukan agar rencananya berhasil – termasuk berbohong.
"Mianhae…." ucapnya lirih entah untuk siapa ucapan tersebut ditujukan.
.
.
.
"TIDAK! JONGIN TIDAK PERNAH MELAKUKAN HAL ITU SEBELUMNYA!" teriak Kyungsoo tepat di depan wajah Chanyeol. Kini mereka sedang berada di sebuah taman kota yang malam ini terlihat cantik berkat lampu-lampu yang menyala.
Namun sepertinya suasana menyenangkan taman itu tidak berlaku sama sekali dengan suasana hati Kyungsoo. Nafas namja mungil itu memburu sejak Chanyeol mengatakan semua kronologis perkelahiannya dengan Kai. Bahwa namja Tan itu telah berbohong tentang penyakitnya yang kambuh tadi sore saat di kampus.
"Tapi Kyunggie…itulah kenyataannya. Kai yang mengatakannya langsung padaku saat aku berkunjung ke apertemen kalian tadi. Mungkin kalau Kai tidak mengatakan hal itu, aku tidak kan punya pikiran sepicik itu" ucap Chanyeol selembut mungkin.
"ANDWE!" Kyungsoo sepertinya tidak bisa – lebih tepatnya tidak mau percaya.
"Kyung…."
"Aku kenal Jongin sudah lama, Channie. Bahkan sebelum aku mengenalmu. Ia tidak mungkin melakukan hal itu. Kau berbohong padaku, eoh?"
Chanyeol meremas rambutnya frustrasi. Ia tidak tahu lagi akan berbuat apa agar kekasihnya itu percaya. Ia sudah menceritakan semua kebenarannya. Tapi sepertinya Kyungsoo tidak mau memercayai ucapannya. Chanyeol terjongkok di depan Kyungsoo. Sepertinya ia tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi. Ia terlalu lelah satu harian ini dengan berbagai masalah yang menguras emosinya.
TING
I-phone di kantong jacket besar yang dikenakan Kyungsoo berbunyi. Namja mungil itu memandang Chanyeol yang masih terjongkok bermaksud memberitahu bahwa ponsel milik namja tinggi itu berbunyi. Ya. Jacket yang dikenakan Kyungsoo sekarang adalah milik Chanyeol sebelum akhirnya dipakai oleh Kyungsoo karena dipaksa oleh Chanyeol agar ia tidak kedinginan di udara malam ini. Ponsel itu juga milik Chanyeol.
Chanyeol tidak berniat apa-apa dengan ponselnya meskipun ia tahu ponsel itu berbunyi. Ia hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kyungsoo akhirnya berinisiatif membuka pesan line yang terpampang di layar i-phone itu. Terlalu lancang? Tentu tidak. Kyungsoo biasa melakukan hal itu sebelum-sebelumnya. Wajar karena mereka adalah sepasang kekasih.
TUK
DRAP DRAP
DRAP DRAP
Chanyeol menyaksikan ponsel miliknya terjatuh dengan manis di tanah dan sejurus kemudian pandangannya bisa melihat Kyungsoo yang berlari menjauh. Chanyeol berdiri namun masih terdiam di tempat.
"KYUNGSOO!"
Nihil. Kyungsoo tidak menoleh sedikit pun bahkan sosok itu semakin jauh berlari. Bingung dengan apa yang terjadi, Chanyeol berniat mengejar setelah sebelumnya memungut ponselnya yang terjatuh tadi.
DEG
Mata Chanyeol membesar saat memandang sebuah foto dan tulisan dibawahnya. Foto seorang namja yang sedang mengerucutkan bibirnya ke depan – seperti ingin mencium. Dibawanya tertulis pesan yang makin membuat mata Chanyeol membesar.
~Yeolli….Seminggu lagi aku akan datang ke Seoul dan menetap di apartemenmu. Bolehkan? Aku merindukanmu~
"Aishhh…apa-apaan si marmut jelek ini!"
DRAP DRAP
DRAP DRAP
"KYUNGSOO! KYUNGSOO!"
Chanyeol mengejar Kyungsoo dan bertekad untuk mendapatkan namja mungil itu sekarang juga. Semua masalah ini benar-benar membuatnya hampir gila!
"Kyunggie!" Chanyeol berhasil menarik salah satu tangan Kyungsoo dan menahan tubuh mungil itu agar tidak berlari lagi.
"Lepaskan!" ucap Kyungsoo sambil memberontak minta dilepaskan.
"Kau marah karena pesan tadi? Namja yang difoto itu bukan siapa-siapa, Kyunggie. Percayalah pa….."
"Ternyata selama ini kau berselingkuh, Channie? Tidak ada alasanku untuk mempercayaimu lagi. Bahkan ucapanmu tadi yang mengatakan Jongin hanya berbohong tentang penyakitnya. Aku tidak akan percaya! LEPAS!"
SET
Kyungsoo berhasil melepaskan gengaman Chanyeol dari lengannya. Ia berbalik dan kembali berlari sekencang yang dia bisa. Ia tidak peduli pada orang-orang disekitar yang memandangnya heran. Ia hanya berlari mengikuti kemana langkahnya sendiri membawanya. Tangisan dan suara isakan menemaninya saat berlari.
Tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah yang mendera seorang Park Chanyeol. Ia hanya pasrah menyaksikan Kyungsoo berlari meninggalkannya. Ia tidak akan mengejar lagi karena ia tahu itu semua tidak akan menyelesaikan masalah. Kyungsoo akan menghindar kalau sedang ada masalah. Namun, ia akan kembali saat pikirannya sudah tenang. Chanyeol tahu semua itu. Hingga satu kenyataan pahit membuatnya menggigit bibirnya – ia takut Kyungsoo akan bertindak yang akan membahayakan dirinya saat sedang marah. Kyungsoo pernah datang padanya dengan kaki yang bengkak juga lebam dan itu karena ia melampiskan amarahnya pada tiang besi di depan rumahnya dulu.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA" teriakannya terdengar benar-benar frustrasi!
.
.
.
Namja mungil itu kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan dengan air mata yang sama sekali belum berhenti. Malam semakin larut tanpa disadarinya saat sedari tadi ia hanya berjalan tak tentu arah diluar. Kyungsoo menekan tombol bel apartemen. Rasanya ia tak memiliki tenaga lagi hanya untuk sekedar menekan angka password pintu.
KLIK
Pintu dibukakan dari dalam. Tentu saja Kyungsoo tahu kalau Kai-lah yang membuka pintu tersebut.
"H-hyung…?!"
BRUKK
Kyungsoo langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh Kai yang langsung menyambutnya dengan pelukan.
"Hyung! Kau kenapa?" tanya Kai masih dengan kekagetannya dan tentunya sangat khawatir.
Bagaimana tidak kaget saat melihat Kyungsoo yang kembali dengan keadaan menyedihkan seperti sekarang. Mata sembab karena terus menangis. Rambut yang sedikit berantakan dan mata Kyungsoo yang sayu akibat kelelahan.
"Tenanglah hyung….." ucap Kai sembari mencium puncak kepala Kyungsoo.
"Jo-Jongin…hiks…hiks…."
Kai melepas pelukannya untuk sekedar menatap wajah hyungnya itu. Ia tersenyum miris menyaksikan air mata Kyungsoo yang terus mengalir deras. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kyungsoo namun hatinya sangat sakit saat melihat dan mendengar tangisan Kyungsoo.
"Jongin-ah…." kata Kyungsoo dengan suara serak akibat pengaruh terus menangis.
"Wae….?" jawab Kai dengan suara lembut.
"Hikss…Chanyeol….dia…."
"Sssttt….masuk dulu hyung. Kau pasti lelah, kajja…" ucap Kai memotong ucapan Kyungsoo. Ia tidak mau mendengar kelanjutan cerita Kyungsoo saat mendengar nama Chanyeol ada di dalamnya. Ia yakin pasti terjadi sesuatu hingga hyungnya itu sampai begini.
Kai mendudukkan Kyungsoo di sofa dan ia berlalu ke arah dapur. Tidak lama kemudian, ia datang membawa minuman dan diberikannya pada Kyungsoo.
"Minumlah dulu, hyung"
Kyungsoo meminumnya sampai habis. Sepertinya ia memang kelelahan dan baru sadar sudah dehidrasi dari tadi. Kai terus menatap Kyungsoo sampai namja mungil itu menyelesaikan acara minumnya.
"Apa yang namja brengsek itu lakukan padamu, hyung?" kata Kai terdengar pelan namun penuh penekanan.
Kyungsoo memandang Kai masih dengan tatapan sayunya. "Jangan berkata seperti itu, Jongin-ah."
"Hyung! Kau masih bertahan untuk membelanya saat kau sudah dibuatnya terlihat menyedihkan seperti sekarang ini?" ucap Kai dengan geram.
Kyungsoo menunduk. Ia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. Ia masih saja belum bisa menerima kata 'brengsek' disatukan dengan diri namjachingunya itu. Padahal Chanyeol sudah menyakiti hatinya.
"Ceritalah….Aku janji hanya akan mendengarkanmu. Tidak akan marah. Yaksok" akhirnya setelah beberapa menit terdiam, Kai mengeluarkan suaranya saat menyadari hyungnya itu tidak akan berbicara terlebih dulu.
Kyungsoo mengangkat kepalanya dan matanya menerawang kedepan. Kai hanya menghembuskan nafas menyaksikan wajah Kyungsoo yang terlihat menyedihkan.
"Chanyeol….."
"….."
"…"
"Wae? Kenapa dengan dia?" ucap Kai menahan diri agar tidak mengeluarkan kata 'brengsek' seperti biasanya. Ia sudah janji hanya akan mendengarkan Kyungsoo berbicara.
"Chanyeol…..dia selingkuh….."
Mata Kai seketika melotot tidak percaya. "A-apa?" katanya tidak percaya.
Kyungsoo menatap Kai. Namja Tan itu kini dengan jelas melihat air mata yang mengaliri kedua pipi chubby Kyungsoo.
"Dia membohongiku selama ini, Jongin hiksss. Dia berselingkuh hikss…"
"Uljima hyung…." Kai mengusap air mata dari wajah Kyungsoo. "Darimana hyung tahu dia berselingkuh?"
"Hikss….aku melihat foto namja lain di ponsel miliknya. Orang yang di foto itu mengirimnya pesan dan mengatakan kalau dia merindukan Chanyeol. Hikss…hikss…aku harus bagaimana, Jongin-ah?" Kyungsoo mengungkapkan isi hatinya.
"Mungkin dia bukan seseorang yang cocok untukmu, hyung" kata Kai sarkastis. Bukannya berusaha menenangkan hyungnya itu dengan kata-kata menghibur.
"TAPI AKU MENCINTAINYA KAI! KENAPA DIA TEGA MELAKUKAN INI PADAKU?!"
PRANG
KRAKK
"YA! HYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Kai histeris saat menyaksikan ulah Kyungsoo yang membenturkan gelas kosong digenggamanya ke meja kaca di depan, hingga gelas tersebut pecah berkeping-keping. Telapak tangan kanan Kyungsoo mengeluarkan darah cukup banyak. Kai segera menarik Kyungsoo ke wastafel di dapur dan membersihkan luka tersebut. sedangkan Kyungsoo hanya diam mengikuti kemana Kai membawanya. Tatapannya matanya tetap kosong.
'Haaahhh…kenapa aku bisa lupa…' batin Kai saat teringat kebiasaan hyungnya itu – melukai diri sendiri saat sedang emosi.
Selesai membasuh tangan Kyungsoo untuk membersihkan lukanya, Kai dengan telaten membalut luka itu dengan kain kasa lembut setelah luka tadi diberi obat merah.
Hening.
Kyungsoo maupun Kai tidak mengeluarkan suara sama sekali. Kai takut apa yang dikatakannya nanti malah akan membuat Kyungsoo melakukan hal-hal buruk dan membahayakan. Lebih baik ia memilih untuk diam walaupun sesekali ia melirik Kyungsoo. Namja mungil itu masih bersikap seperti berada di awang-awang.
"Hyung, ayo masuk kamar. Kau harus istirahat…." ucap Kai memecahkan keheningan.
Kyungsoo tersentak saat tangannya yang tidak terluka ditarik oleh Kai. Ia menatap Kai sejenak dan kemudian berdiri mengikuti Kai menuju kamar miliknya. Sesampainya dikamar tersebut, Kai langsung membantu Kyungsoo merebahkan dirinya di tempat tidur lalu menyelimuti dengan perlahan.
"Tidurlah hyung…kau terlihat kelelahan. Lupakan semuanya. Aku disini menemanimu" ucap Kai sambil menyingkirkan rambut di dahi hyungnya itu.
"…"
Kyungsoo hanya diam menatap langit-langit kamarnya tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun. Hingga butuh beberapa menit sampai Kyungsoo benar-benar tertidur pulas. Kai bisa memastikannya karena mendengar dengkuran teratur Kyungsoo. Ia beranjak dari tepi tempat tidur Kyungsoo dan melepaskan genggaman tangan Kyungsoo pada tangannya. Ia tersenyum saat mengingat bahwa Kyungsoo tadi menggenggam tangannya. Meskipun Kyungsoo melakukannya tanpa sadar, itu cukup membuat Kai tersenyum bahagia.
"Jaljayo hyung…."
CUP
.
.
.
"Yak! Sehun-ah! Gerakanmu salah lagi!" teriak Kai pada sahabatnya itu.
"Aku sudah melakukan sebisaku, Kkamjong-ah. Ini lebih baik daripada yang tadi, kok?" ucap Sehun membela diri.
"Tapi itu masih salah! Coba ulangi lagi dan kau Lay hyung! Gerakanmu sudah bagus, tapi belum detail. Bisa hyung ulangi lagi?" kata Kai saat mengalihkan pandangannya pada namja satunya lagi.
"Ne…." jawab mereka serempak. Mereka berdua akan melakukan apapun yang Kai katakan kalau itu berhubungan dengan dance. Karena mereka tahu Kai adalah dancer yang handal. Kai tidak main-main saat mengatakan gerakan mereka ada yang kurang tepat.
Kai berjalan kesudut ruangan untuk berisitirahat sebentar. Mengambil botol minum dalam tasnya dan meneguknya sebanyak yang ia bisa. Minseok datang menghampirinya dan duduk disebelah namja Tan itu.
"Aku rasa ada sesuatu yang membebani pikiranmu, Kai. Kau ada masalah?" tanya Minseok perhatian.
Kai menggeleng santai sambil matanya terus meneliti gerakan Sehun dan Lay. "Tidak ada hyung" jawabnya singkat.
"Aku yakin….."
"YAK! SEHUN-AH! SALAH LAGI!"
Secara bersamaan Sehun dan Lay menghentikan gerakan mereka dan memandang kearah Kai. lalu keduanya saling memandang dan detik berikutnya hanya saling mengangkat bahu tanda mereka tidak peduli. Mereka kemudian melanjutkan tarian mereka yang tertunda.
"Aku yakin gerakanmu tadi benar. Dasar dia saja yang sedang sensitif…" bisik Lay disamping Sehun sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Si hitam itu kapan profesionalnya, sih…." ucap Sehun menanggapi ucapan Lay.
"Ck! Lihatlah Minseok hyung! Mereka tidak pernah mendengarkanku" kesal Kai. untung saja suara musik agak menyamarkan suaranya. Kalau saja Sehun dan Lay mendengar ucapannya, bisa dipastikan mereka akan beradu argumen tanpa batas.
"Kau belum cerita padaku….." Minseok malah mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Haaaahhh….baiklah hyung. Kau seperti biasa. Selalu memaksa!"
Minseok hanya tersenyum mendengar opini Kai tentang dirinya. Ia memang seperti apa yang dikatakan Kai atau hanya Kai yang menyebutnya seperti itu, entahlah. Ia tahu ada seseorang yang mengerti dirinya dan seseorang itu tidak pernah mengatakan dirinya 'pemaksa' seperti ucapan Kai.
"Kyungsoo hyung…" ucap Kai membuka kalimatnya dan itu sukses membuat Minseok tersadar dari lamunannya.
Kai menceritakan perihal Kyungsoo dan kondisinya tadi malam. Terdengar dari cara ia bercerita kalau namja Tan itu sangat khawatir dengan keadaan hyungnya itu. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi saat bangun pagi tadi, Kyungsoo tidak mau keluar kamar. Namja mungil itu mengurung diri di kamar. Kai sudah berupaya menyuruhnya keluar untuk sarapan namun harus berakhir sia-sia.
"Jadi Kyungsoo tidak kuliah hari ini?" tanya Minseok saat Kai berhenti bercerita.
Kai menggeleng. "Dia bahkan tidak membuatkan sarapan seperti biasanya" jawab Kai dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kau sudah menghubungi Chanyeol untuk menjelaskan semuanya?"
"Hyung! Bisakah kau tidak menyebutkan nama si brengsek itu?!" jawab Kai tidak suka.
"Aku rasa tidak ada salahnya. Agar semuanya bisa jelas, kau harus berbicara padanya. Ya, itupun kalau kau mau. Kau tidak mau bukan Kyungsoo seperti ini terus?" ucap Minseok tenang.
Kai dilema. Satu sisi dia tidak suka pada Chanyeol apalagi mengajaknya bertemu apalagi berbicara. Tetapi disatu sisi lagi, ia memang harus mencaritahu kebenarannya.
"Awas saja kalau dia memang benar-benar selingkuh!" geram Kai.
"Kau harus belajar mengontrol emosimu kalau tidak mau masalah ini semakin rumit" kata Minseok menepuk pelan bahu Kai.
"Annyeonghaseyooooo….."
Suara dari pintu menghentikan semua aktifitas di ruangan khusus dance tersebut. Seorang namja cantik sedang berdiri sambil memamerkan senyum handalnya. Beberapa kali ia menunduk hormat pada semua yang ada di ruangan tersebut.
"Eoh? Nugu?" Minseok pertama kali yang mengeluarkan suaranya.
"Ah! Luhan imnida! Gomapsumnida…" jawab namja cantik yang ternyata bernama Luhan tersebut.
Luhan tetap dengan senyumannya. Benar-benar bersemangat. Tidakkah ia menyadari dua pasang mata yang menatap kearahnya. Sepasang yang menatapnya dengan intens dan sepasang mata lagi yang menatapnya antara penasaran dan tak peduli.
"Luhan-ssi, ada perlu apa?" Lay tidak tahan untuk bertanya.
"Aku dapat informasi kalau disini tempat berlatih dance. Aku suka dance, bolehkah aku bergabung?" kata Luhan langsung ke inti. Akibatnya, semua pasang mata menatap Luhan dengan raut wajah yang kaget.
"….."
"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa. Maaf kalau aku menggang…."
"Ah! Tidak tidak tidak! Masuklah. Anggota club dance juga masih membutuhkan anggota. Kau boleh bergabung" kata Minseok mempersilahkan Luhan masuk.
"Kamsahamnida….."
"Namaku Minseok. Panggil saja begitu. Kau jurusan apa?"
"Aku sekelas dengan Kim Jongin…." Kata Luhan sambil melirik ke arah namja yang bernama Kim Jongin itu.
"Mwo! Jadi dia mahasiswa baru itu?" Minseok, Sehun dan Lay kaget dan sejurus kemudian menatap Kai dengan tatapan kenapa-kau-tidak-pernah-memberitahu.
Kai yang merasa ditatap hanya menggaruk kepalanya. "Dia mahasiswa baru. Jalur transfer dari universitas di Cina" kata Kai dengan malas-malasan.
"Oh….selamat datang di universitas kami Luhan-ssi! Selamat datang juga di club dance ini!" ucap Lay bersemangat dan disambut bahagia juga oleh Luhan.
"Ne, terima kasih. Aku pasti akan betah disini. Mohon bantuannya" kata Luhan.
"Baiklah, kau mau mulai sekarang?" tanya Minseok.
"Bolehkah?" tanya Luhan lagi. Matanya berbinar-binar menambah level kecantikannya, ya meskipun ia namja. Siapapun yang melihat pasti tidak akan tahan.
"Tentu saja! Lay, Sehun-ah, bisa kalian temani Luhan-ssi untuk berlatih, kan?"
"Ne!" jawab Lay bersemangat. Sehun hanya diam.
Entah siapa yang memulai saat mata Luhan dan Sehun saling menatap satu sama lain. Sehun dengan tatapan tajamnya dan Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Luhan mulai melangkahkan kakinya. Bukan. Bukan kearah Sehun. Bukan juga ke arah Lay dan Minseok.
"Aku ingin dilatih oleh Kim Jongin….."
.
.
.
Berkali-kali Chanyeol menghubungi nomor Kyungsoo namun tidak ada jawaban sama sekali. Namja tinggi itu terlihat gelisah di jok mobilnya. Ia baru saja menyelesaikan kelas mata kuliahnya dan tidak tahu harus kemana lagi. Kembali pulang? Tidak saat pikirannya masih dipenuhi seorang Kyungsoo. Seharian ini pikirannya tertuju ke namja mungil itu. Apakah Kyungsoo sudah makan? Apakah dia tidur dengan nyenyak? Dimana namja mungil itu berada saat ia absen kelas hari ini? Namun yang terpenting untuknya saat ini adalah apakah Kyungsoo sudah memaafkannya?
Semua itu membuatnya tidak konsentrasi saat mata kuliah tadi berlangsung. Ia menunggu saat Kyungsoo meneleponnya dan mendengar bahwa namja itu sudah memaafkannya dan menunggu kedatangannya. Tetapi harapannya hanya sia-sia belaka saat menyadari Kyungsoo tidak menghubunginya sama sekali.
Ponsel Chanyeol bergetar menandakan telepon masuk. Chanyeol berharap besar itu adalah Kyungsoo namun keningnya berkerut saat mendapati nomor asing yang tak dikenalnya terpampang di layar.
"Yeoboseyo…."
"…"
"MWO?! KAU!"
Sejurus kemudian Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Suara decitan ban dan aspal membuat telinga pejalan kaki disekitarnya merasa terganggu. Ia tidak mempedulikan hal itu. Ada yang lebih penting baginya. Paling tidak untuk saat ini.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu setempat. Mobil milik Kai menyongsong gelapnya kota Seoul menuju suatu tempat.
Banyan Tree Club, San 5-5, Jangchung-dong 2-ga, Jung-gu.
Kai sekali lagi menatap alamat sebuah club yang akan ditujunya sekarang. Selama menyetir, Kai terus gelisah. Rasa khawatir melanda perasaannya. Padahal sedari tadi dia hanya menghabiskan waktu di ruang dance untuk melatih anggota baru di club dancenya, Luhan dan tak sadar waktu terus berlalu sampai akhirnya panggilan di ponselnya memaksanya untuk segera meninggalkan ruang dance dan semua sahabatnya.
CKIIITTTTT
Suara decitan mobil Kai terdengar benar-benar dipaksakan agar cepat berhenti dan dia bisa cepat-cepat masuk kedalam bangunan dihadapannya itu. Setelah keluar dari mobil miliknya, Kai berlari secepat mungkin dan memasuki sebuah club malam yang sangat dikenalnya.
Baru saja masuk, pemandangan umum sebuah club malam langsung menyambutnya. Suara hingar-bingar yang memekakkan telinga. Namun Kai sudah biasa akan hal ini, yang tidak bisa dimasukkan ke akalnya adalah kenapa seseorang yang akan dicarinya itu berada di tempat seperti ini. Ia kenal bahwa orang itu tidak akan pernah mau ke tempat seperti ini. Pandangan matanya berhenti di satu titik. Kai langsung menuju titik itu, tidak ia pedulikan yeoja-yeoja genit yang berusaha menggodanya sepanjang langkahnya ke tempat itu. Pikirannya hanya dipenuhi seseorang yang sepertinya kesadarannya sudah hilang. Disana….
"Kai, untunglah kau sudah datang. Keadaan Kyungsoo sungguh mengkhawatirkan" kata seorang di tempat bartender biasa bekerja dan melayani pelanggan.
"Sejak kapan dia disini Suho hyung?" ucap Kai menatap Kyungsoo yang kini tertidur di barstool di depannya.
"Sejak jam enam sore tadi. Apa dia punya masalah? Setahuku dia bukan tipe orang yang melampiaskan beban masalahnya dengan minum-minuman…keras" tanya Suho dengan dahi berkerut.
"Aku akan jelaskan di lain hari, hyung. Aku harus membawanya pulang. Terima kasih sudah memberitahuku masalah ini" ucap Kai kemudian mengangkat tubuh kecil Kyungsoo.
"Aku hanya khawatir melihatnya saat dalam keadaan mabuk tadi. Baiklah, jaga dia Kai" balas Suho mempersilahkan Kai membawa pulang.
"Gomawo hyung. Lain kali aku akan mampir kesini. Kami pergi dulu"
"Ne, hati-hati dijalan"
Kai pun berlalu dan hilang dibalik keramaian pengunjung club itu. Suho melanjutkan kerjanya yaitu mengawasi kinerja dari semua pegawainya. Ya, dia adalah pemilik sah dari club mewah ini. Sebelumnya ia adalah senior Kai saat dikampus setahun yang lalu. Setelah lulus ia melanjutkan usaha ayahnya. Tempat ini sering di datangi Kai, Sehun, Lay dan Minseok untuk sekedar melepas penat.
"Bisa beri aku segelas wine" suara bass seorang namja berambut blonde itu.
"Baik, tunggu sebentar…" ucap Suho ramah lalu berlalu ke arah seorang namja tinggi yang sedang sibuk dengan botol-botol minuman beralkohol dan gelas-gelas berbagai bentuk di hadapannya.
"Tao…berikan segelas wine pada pelanggan itu…" perintah Suho sambil menunjuk namja berambut blonde tadi.
"Ne, Suho hyung" jawab namja tinggi itu. Lebih tepatnya tinggi dan mirip panda karena lingkaran hitam disekitar kedua matanya.
.
.
.
Tubuh mungil itu perlahan diletakkan di atas tempat tidur. Kai melepaskan sepatu kets yang dikenakan hyungnya itu beserta kaos kaki yang melekat dikakinya. Jacket tebal itu juga dilepaskan dari tubuh Kyungsoo. Setelah itu Kai menyelimuti tubuh kecil itu. Tidak lupa Kai mengusap sayang dahi Kyungsoo dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Gerakan kecil yang dilakukan Kai rupanya mengusik tidur Kyungsoo. namja mungil itu bergerak gelisah sebelum pada akhirnya mata besar miliknya terbuka secara perlahan. Sampai benar-benar terbuka sempurna menampakkan mata besarnya yang indah.
"Maaf mengganggu tidurmu….."
SET
GREP
Kai mematung saat Kyungsoo bangkit dari langsung memeluknya erat. Gerakannya sangat cepat membuat Kai yang tadinya sedikit menunduk akhirnya ambruk ke tempat tidur dengan posisi menindih tubuh Kyungsoo.
"H-hyung…."
"Aku merindukanmu…."
DEG
Kai merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya agar bisa melihat wajah Kyungsoo. Kai menelan ludahnya saat mendapati wajah Kyungsoo tiba-tiba berubah menjadi seksi dengan mata sayunya menambah kesan menggoda, menurutnya. Apalagi dengan jarak wajah mereka hanya beberapa senti membuat Kai hampir pingsan. Wajah Kyungsoo benar-benar memukau baginya. Keduanya saling bertatapan.
CHU
Mungkin sebentar lagi mata Kai akan sama besarnya dengan mata Kyungsoo karena terlalu sering melotot. Kai sangat kaget saat Kyungsoo meraup bibirnya dan menciumnya dengan liar. Melumat, mengigit, bahkan lidah namja mungil itu menerobos masuk ke mulut Kai dan mengajak lidahnya bertarung.
Kai terlalu terperangah akan aksi hyungnya itu dan ia sendiri hanya diam tanpa membalas ciuman panas Kyungsoo. Otaknya masih berusaha mencerna semuanya. Nihil. Otaknya malah blank disaat seperti ini.
"Kau tidak suka kucium, eoh?" kata Kyungsoo akhirnya setelah melepaskan pagutan panasnya.
Kai menganga parah tidak tahu mau menjawab apa. "H-hyung, kau sedang mabuk. Tidurlah…." ucap Kai sembari bangun dari posisinya, berniat keluar dari kamar hyungnya tersebut.
TAP
Kyungsoo terlebih dahulu menarik tangan Kai untuk menahannya. "Aku merindukanmu…hiksss…."
DEG
Lagi-lagi Kai terperangah. Ya. Dia tidak salah dengar lagi. Kali ini suara itu terlalu jelas di telinganya. Ia berbalik memandang Kyungsoo. namja mungil itu masih pada posisinya yang terlentang namun wajahnya sudah berlinang air mata.
"Hyung….."
"Hiks…apa kau tidak mencintaiku, eoh? KATAKAN! Hiks…aku merindukanmu….A-aku mencintaimu….Chanyeol"
DUAR
Hati Kai serasa mengalami ledakan bom dengan kekuatan yang luar biasa saat mendengar nama 'Chanyeol' diakhir kalimat ucapan Kyungsoo. ia berpikir curahan hati hyungnya itu adalah untuk dirinya. Ternyata ia salah, Kyungsoo masih mencintai Chanyeol. Bahkan sangat. Namja yang brengsek kalau menurut Kai.
"Kenapa kau hanya diam. Katakan! Apa kau tidak suka kucium?! Biasanya kau suka menciumku, CHANNIE! APA KAU SUDAH BOSAN DENGANKU?!" ucap Kyungsoo semakin meninggikan suaranya di akhir kalimat.
Emosi kembali menyelimuti diri Kai yang kini tatapannya penuh ke arah Kyungsoo. ingatan kembali saat barusan Kyungsoo menciumnya. Ciuman yang memabukkan apabila ia tadi berniat untuk menikmatinya. Ternyata ciuman itu hanya untuk Chanyeol? Kai membayangkan saat Kyungsoo dan Chanyeol bergumul mesra dan itu semakin membuat emosinya memuncak. Ia tidak rela tubuh Kyungsoo dipakai sesuka hati oleh orang seperti Chanyeol. Ia selalu benci dengan namja tinggi itu.
"Hahaha…ya, aku tahu…kau pasti sudah bosan dengaku hingga pada akhirnya aku bahkan tidak menyadari kau sudah berselingkuh di belakangku. Siapa dia, Channie? Apa yang dia punya yang tidak aku punya, eoh? Katakan padaku. Aku akan lakukan sesuai keinginanmu…." Kyungsoo mulai berbicara dan Kai tahu hyungnya itu mulai merancau tidak jelas.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Channie….Aku mencintaimummmmppptttt….."
Bibir plum milik Kyungsoo tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena benda kenyal yang membungkamnya. Ya. Kai tidak tahan lagi. Tidak tahan dengan rancauan Kyungsoo yang menginginkan Chanyeol kembali padanya. Tidak tahan dengan bibir Kyungsoo yang terlalu menggoda untuknya.
Kai melumat kasar bibir Kyungsoo. terkadang menggigitnya dan menyesapnya kuat-kuat. Saat merasa bibir Kyungsoo sedikit terbuka, ia langsung menerobos dan menarik lidah Kyungsoo keluar. Ia menyesap lidah itu hingga lenguhan Kyungsoo terdengar.
"Euuunnghhh…"
Kai tidak peduli dengan siapa sekarang dia melakukan adegan berdosa ini. Untuk sementara ia ingin dibutakan akan hal apapun – Termasuk buta akan hubungan persaudaraannya dengan namja mungil yang ada dibawah tubuhnya tersebut.
"Channiehhhh…ahh…."
Tanpa sengaja Kai menggigit bibir bawah Kyungsoo hingga berdarah karena terkejut mendengar Kyungsoo mendesahkan nama Chanyeol, bukannya dirinya. Selanjutnya ia harus menerima kenyataan bahwa Kyungsoo mabuk dan menganggap dirinya adalah Chanyeol – bukan sebagai Kai.
Kyungsoo mendorong dada Kai hingga ciuman itu terlepas. Kai bingung, takut Kyungsoo sadar dari mabuknya maka mampuslah dia. Ternyata pikirannya salah! Kyungsoo malah menghempaskan tubuhnya dan tangan-tangan mungil itu bergerak ditubuhnya. Kyungsoo dengan gerakan cepat membuka kancing-kancing kemeja milik Kai. Tidak mempedulikan perban akibat luka ditangannya kemarin malam. Namja Tan itu tersenyum kecut.
'Apa kau sudah terbiasa melakukan ini dengan namja brengsek itu, hyung?' batin Kai.
BRUGH
"Biarkan aku yang menyelesaikannya" ucap Kai dengan tatapan tajamnya menatap Kyungsoo yang tubuhnya kini balas di hempaskan oleh Kai.
Kai langsung menyerang leher mulus Kyungsoo dan menggigitnya sekaligus menyesapnya. Meninggalkan bekas-bekas kemerahan disana. Kyungsoo terus mendesah menikmati service yang diberikan oleh Kai. Namja Tan itu harus menulikan pendengarannya saat Kyungsoo terus mendesah memanggil nama Chanyeol.
SRET
Secepat mungkin Kai melepaskan kaos yang melekat di tubuh Kyungsoo dan langsung menjelajahkan lidahnya dan bibinya di kedua nipple Kyungsoo secara bergantian. Tidak lupa menciumi perut tak berotot itu dan bisa di pastikan tubuh bagian atas Kyungsoo benar-benar basah akibat liur Kai yang melekat disana.
"Eeenggghhhh….Bukahh…sesakhhh…" ucap Kyungsoo dengan desahannya.
Kai memandang tangan Kyungsoo yang mulai membuka ikat pinggangnya sendiri. Mungkin Kyungsoo sudah tidak tahan lagi. Kai mendengus kesal.
"AKU BILANG BIAR AKU YANG MENYELESAIKAN SEMUA! DIAM DAN NIKMATI!"
SRET
Kai meletakkan kedua tangan Kyungsoo di kedua sisi kepalanya. Tidak ia pedulikan tangan Kyungsoo yang diperban. Untung saja pemilik tangan yang di perban itu sedang mabuk sehingga tidak sesensitif saat sadar. Ia tidak merasakan kesakitan. Kai mengunci gerakan tangan mungil itu lalu kembali membungkam bibir yang sudah membengkak itu. Sekedar meluapkan kekesalannya tidak ada salahnya ia bermain agak kasar, bukan? Kesal? Ya. Kai tidak suka cara Kyungsoo mendesahkan nama Chanyeol. Entah kenapa ia malah menginginkan Kyungsoo mendesahkan namanya. Tapi ia sadar untuk saat ini itu semua mustahil.
Tidak mau berlama-lama, Kai melepaskan semua pakaian bawah Kyungsoo sampai pada akhirnya tubuh mungil itu full naked. Namja Tan itu untuk sekian kalinya terperangah menyaksikan pemadangan yang menggoda iman di hadapannya. Berkali-kali pula itu meneguk susah payah ludahnya.
"Euunghhh…cepathh lakukan….." desak Kyungsoo saat merasakan tubuhnya hanya di abaikan begitu saja.
Kai tersadar dan langsung bergerak menuruti keinginan Kyungsoo. Tidak butuh waktu lama hingga Kyungsoo kembali mendesah hebat saat juniornya di manjakan oleh tangan, lidah dan mulut Kai. Gerakan Kai menaik-turunkan mulutnya pada junior Kyungsoo semakin lama semakin cepat hingga namja mungil itu tidak bisa menahan hasratnya lagi.
"CHANNIEHHHH! Ahhhkk…!"
Cairan hangat itu menyembur di mulut Kai. Segera Kai menelannya sambil menyaksikan wajah Kyungsoo yang sedang klimaks. Wajah itu bersemu merah dan benar-benar menggoda dengan mulut kecilnya yang terbuka cukup lebar saat berteriak.
Tidak tahan lagi, akhirnya Kai buru-buru berdiri dan menanggalkan semua pakaiannya. Kini dua namja itu sudah tanpa busana. Kembali di tindihnya tubuh mungil itu. Merasa ada yang menyentuhnya, Kyungsoo terpaksa kembali membuka matanya, padahal ia baru saja akan tertidur setelah merasakan lelah akibat klimaksnya barusan.
"Kita belum selesai, hyunghh"
"Asshhhh….mmhhh….ah!" desah Kyungsoo saat merasa tangan Kai menyentuh juniornya lagi.
Tidak lama kemudian junior itu kembali menegang sama dengan milik Kai. Kai memposisikan dirinya agar lebih mudah memasuki Kyungsoo. Perlahan-lahan ia memasukkan ujung juniornya ke hole hangat Kyungsoo.
"Mmhhhh….Chan - Ahk!"
Secara tiba-tiba dan terkesan sengaja, Kai menusukkan junironya ke hole Kyungsoo dengan kuat dan cepat agar 'nama' itu tidak jadi terucap dan berhasil!
Bersamaan itu pula, air mata keluar dari sudut mata Kyungsoo dan terjatuh membasahi bantal dibawah kepalanya. Kyungsoo merasakan sakit luar biasa saat kejantanan Kai memasukinya secara paksa. Apalagi itu dilakukan tanpa pemanasan terlebih dahulu.
"Kau akan menikmatinya, hyunghhh….mmmhhh…." ucap Kai mulai menggoyangkan pinggulnya dan menusuk-nusuk hole sempit dan ketat itu. Tidak butuh lama untuk Kai menemukan titik yang mampu membuat Kyungsoo melupakan rasa sakitnya. Namja Tan itu terlalu pintar menemukan sweetpot Kyungsoo.
"Ngaaahhhh….disanaahhhh….Chan-mmpphh…."
"Berhenti menyebut nama itu hyunghhh…." ucap Kai sambil membekap mulut Kyungsoo menggunakan salah satu telapak tangannya.
Kyungsoo tidak punya tenaga sama sekali hanya untuk sekedar menyingkirkan tangan Kai dari wajahnya. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk. Entah dia mengerti atau tidak atas ucapan Kai yang penting Kai tersenyum puas dan melepas bekapannya.
"Ahhhh!"
Kyungsoo menggelinjang nikmat saat junior Kai menyentuh dengan keras bagian prostatnya-lagi. Tubuhnya melengkung ke atas yang langsung di sambut Kai dengan memelintir kedua nipple merah itu. Semakin menggila-lah desahan Kyungsoo.
"Emmmhhhh….hyunghhhh….ahhh!" Kai pun terus mendesah saat merasakan juniornya di remas kuat di dalam sana.
Tusukan Kai semakin cepat saat merasa mereka akan berada dipuncak. Semakin gila karena tubuh Kyungsoo dibawah sana bergerak-gerak menambah sensasi rasa nikmat pada juniornya.
"A-aku ingin ke-keluar….hhnnggg" ucap Kyungsoo patah-patah. Akibat rasa nikmat tiada tara yang dirasakannya.
"Bersama hyunghhhh…ahhh…"
Kai semakin menggila meng-in-out-kan juniornya dengan cepat dan selalu tepat pada titik kenikmatan Kyungsoo hingga namja mungil itu serasa melayang.
"A-aku mau ke….AHK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Kyungsoo saat merasa hasratnya terhambat akibat Kai yang menutup jalur keluar cairannya.
"Mhh…hyung, janji terlebih dulu padaku jangan menyebutkan nama itu lagi" ucap Kai memberi syarat. Jujur, ia melakukan ini karena takut Kyungsoo akan meneriakkan nama Chanyeol saat klimaks nanti.
"Jadi aku harus bagaimana? Aku biasa meneriakkan namamu, Chanhhmmppp"
"SEBUT NAMA JONGIN SAJA!"
"AHK! JONGIIIIINNNN!"
"KYUNGSOO HYUNG!"
Baru saja Kyungsoo akan berontak namun akhirnya harus kalah telak dan akhirnya menyebutkan nama Kai. Setelah berteriak di depan wajah Kyungsoo tadi, Namja Tan itu langsung membuka jalur keluar cairan Kyungsoo dan secara membabi-buta menggenjotkan juniornya tepat mengenai sweetpot Kyungsoo. Tanpa ampun hingga Kyungsoo menjeritkan nama yang di inginkannya saat klimaks.
Kai tersenyum senang dengan nafanya terengah-engah. "Good hyunghh…."
Kyungsoo tak kalah terengah-engahnya saat selesai mengalami gelombang klimaksnya untuk kedua kalinya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya sekaligus merasakan kelelahan yang sangat. Ia berniat meraih tangan Kai yang berada disampingnya, namun tiba-tiba pandangannya gelap.
.
.
.
Chanyeol sedang berdiri di balkon kamarnya memandangi langit malam saat ponselnya berbunyi. Ternyata pesan line itu dari Kris. Chanyeol membuka pesan beserta foto yang dikirim Kris padanya. Foto itu menunjukkan i-phone putih milik Kyungsoo dengan layarnya yang masih menyala saat di foto. Menampakkan wajah Kyungsoo dan dirinya saat sedang tertawa sebagai wallpaper i-phone-nya Kyungsoo.
~Ini milik namjachingumu, bukan? Aku menemukannya disebuah club. Kata bartender disini, kekasihmu mabuk dan dibawa pulang seseorang~
"Kyunggie-ku mabuk?" ucap Chanyeol lirih dengan nada tidak percaya.
TAP TAP
.
.
.
.
.
TBC
