Title : Run Away [Chapter 5]

Cast Pairing : ChanSoo, KaiSoo

Sub-cast : EXO other member

Author : Chang

Genre : AU, Romance, etc.

Length : Chaptered/Series Fic

Rating : NC+17

Disclaimer : FF ini asli buatan saya, hasil pemikiran saya dan tidak menjiplak hasil karya orang lain. Kejadian di cerita adalah AU. FF ini mengandung unsur Male Slash Fic/YAOI/Boy x Boy/Shounen-ai. Gak suka jangan dibaca XD

Sebelumnya...

Chanyeol sedang berdiri di balkon kamarnya memandangi langit malam saat ponselnya berbunyi. Ternyata pesan line itu dari Kris. Chanyeol membuka pesan beserta foto yang dikirim Kris padanya. Foto itu menunjukkan i-phone putih milik Kyungsoo dengan layarnya yang masih menyala saat di foto. Menampakkan wajah Kyungsoo dan dirinya saat sedang tertawa sebagai wallpaper i-phone-nya Kyungsoo.

~Ini milik namjachingumu, bukan? Aku menemukannya disebuah club. Kata bartender disini, kekasihmu mabuk dan dibawa pulang seseorang~

"Kyunggie-ku mabuk?" ucap Chanyeol lirih dengan nada tidak percaya.

TAP TAP

Chapter 5...

Ia menyambar jacketnya dan kunci mobilnya. Ia harus segera ke apartemen kekasihnya itu dan memastikan keadaannya. Sebelum keluar, ia sejenak memperhatikan wajah namja lain yang sekarang sedang tidur di tempat tidurnya. Sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan apartemennya sendiri. Tentunya tanpa menyadari seseorang yang dikiranya tengah tertidur itu kini menatap bingung kepergiannya.

.

.

.

Namja berkulit gelap itu baru saja membereskan kekacauan yang terjadi di kamar Kyungsoo–Kekacauan akibat penyatuan tubuh mereka. Saat telinganya menangkap suara bel apartemennya yang berbunyi. Ia pun beranjak untuk melihat siapa yang berada di balik pintu sana, ia memastikan Kyungsoo telah nyaman dengan tidurnya. Namja manis itu sudah terlelap dari tadi. Ada senyum yang terukir di bibir namja berkulit gelap itu melihat wajah polos hyung-nya yang sedang tertidur.

Memperhatikan monitor CCTV dan berusaha mencari tahu siapa yang menganggu kediaman apartemennya malam-malam begini. Kai tersenyum seram saat tahu siapa yang bertamu dan langsung saja membuka pintunya untuk tamunya tersebut. Gerakan Kai terlalu cepat untuk diimbangi tamunya tersebut agar bisa masuk ke dalam.

"Apa kau tidak pernah di ajarkan cara bertamu yang sopan?" kata penyambutan Kai pada tamunya.

"Apa Kyungsoo baik-ba–"

"Pertama, kau bertamu tengah malam dan itu sangat mengganggu. Kedua, dengan tidak sopannya kau ingin langsung menerobos ke dalam sebelum di persilahkan" ucap Kai mengabaikan tamunya itu. Tubuhnya sengaja menghalangi jalur masuk ke apartemennya.

"Kai, aku tidak ada waktu meladenimu. Apa memar ini masih kurang?" tunjuk tamu itu pada wajah Kai yang memang masih nampak lebam.

"Ayolah Park Chanyeol, apa kau masih mau membuat dirimu terlihat jahat saat Kyungsoo hyung memergokimu lagi dengan memukuliku?" ledek Kai.

"Sayang aku tidak akan termakan ucapanmu lagi Kim Jongin" desis Chanyeol, sang tamu sambil berjalan masuk ke dalam dengan menggeser paksa tubuh Kai.

"Benarkah?" Kai sekali lagi mengeluarkan smirk-nya. Chanyeol tidak menggubris. Ia lebih memilih masuk ke kamar Kyungsoo dan memeriksa keadaan kekasihnya itu.

Chanyeol bisa sedikit bernafas lega saat mendapati Kyungsoo sedang tertidur di kamarnya. Membelai surai almond namja manis itu. Dahinya sedikit berkerut menyadari rambut itu basah padahal ia tahu mesin penyejuk di ruangan itu dalam keadaan aktif. Kasihan melihat keringat yang bercucuran di dahi yang tertutupi rambut almond itu, Chanyeol menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Kyungsoo. Sekedar membuat tubuh tertidur itu memperoleh kenyamanannya dan terhindar dari keringat yang mungkin akan terus keluar. Saat itulah mata Chanyeol memanas. Tubuh kecil Kyungsoo yang memakai piyama itu benar-benar lembab akibat keringat. Namun bukan itu yang membuat Chanyeol pusing tiba-tiba. Leher Kyungsoo dipenuhi bercak kemerahan. Chanyeol bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang membuat bercak itu berbekas di sana.

Sesuai tebakan, Chanyeol menarik kerah Kim Jongin yang sepertinya sudah menyiapkan diri atas apa yang akan terjadi. Berulang-ulang pukulan yang cukup kuat itu mengenai rahang keras Kai. Tangan panjang Chanyeol secara membabi buta memukuli apa saja yang bisa dipukulinya, asalkan itu tubuh Kai. Bahkan ia tidak membiarkan Kai memiliki kesempatan membalas. Darah segar keluar dari hidung dan ujung mulut Kai. Namja Tan itu memang tidak bisa membalas meskipun ia ingin. Tenaganya benar-benar terkuras apalagi mengingat kejadian Chanyeol baru memukulinya selang beberapa jam yang lalu makin memperburuk keadaanya – wajahnya yang semakin memar parah.

"Kenapa harus Kyungsoo?" geram Chanyeol yang kini menindih tubuh Kai di ruang tengah.

Namja yang sudah babak belur itu hanya menunjukkan wajah mencelanya pada Chanyeol. Sungguh ia tidak sanggup hanya sekedar berbisik.

"JAWAB! KENAPA HARUS KYUNGSOO?! WAE?!"

Diam. Kai tetap bergeming. Tetapi Chanyeol berani bersumpah tatapan Kai padanya sukses membuatnya geram. Kembali ia pukuli wajah Kai.

"ITU SAMA SAJA KAU MEMPERKOSANYA!"

"DEMI TUHAN KAI DIA HYUNGMU"

"DIA ITU KEKASIHKU! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN ITU PADANYA?!"

"ASTAGA, KAU MANUSIA TIDAK BERMORAL YANG PERNAH KUTEMUI!"

"APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN PERASAANNYA SAAT IA SADAR NANTI DAN MENGETAHUI SEMUANYA?!"

"KAU SUDAH TIDAK WARAS EOH?!"

Chanyeol mungkin tidak menyadari bahwa air matanya sudah bercucuran saat ia meneriaki Kai sambil memukuli namja Tan itu. Perasaannya benar-benar hancur. Ia tidak bisa berhenti memukul kalau saja Kai tidak kehilangan kesadarannya. Dengan terhuyung-huyung, Chanyeol menegakkan dirinya dan menatap jijik sosok di bawahnya. Sudut matanya menangkap sosok di depan pintu kamar yang tadi baru ia masuki. Kesadaran dari emosinya, membuatnya cepat-cepat mendekati sosok itu - yang sekarang terlihat kurang meyakinkan. Begitulah menurut Chanyeol.

"Tidak apa-apa, chagi. Kau akan aman bersamaku. Jangan takut"

Chanyeol seketika mendekap tubuh kecil Kyungsoo yang sudah bergetar hebat. Namja kecil itu baru menyelami alam mimpinya ketika tiba-tiba tersentak bangun saat mendengar bunyi gaduh di luar kamarnya. Hatinya hancur melihat kejadian di depan matanya apalagi mendengar semua yg terjadi . Meski rasa pusing yang di akibatkan alkohol belum hilang sepenuhnya, ia masih bisa menyadari apa yang telah terjadi. Kini ia berada di antara sadar dan tidak.

Chanyeol secepatnya membawa Kyungsoo keluar dari apartemen tersebut. Kemanapun asal tidak membiarkan orang yang dicintainya itu berada di tempat yang akan menghancurkannya. Sedangkan Kyungsoo hanya pasrah mengikuti tarikan Chanyeol pada tangannya. Ia ingin menolak karena sebenarnya ia masih marah atas kejadian kemarin, namun ia juga takut. Ia tidak menyangka adiknya sendiri berani 'menidurinya' secara paksa. Ya begitulah anggapan Kyungsoo.

Sibuk dengan pikirannya membuat Kyungsoo tidak sadar bahwa kini dirinya sudah berada di dalam mobil Chanyeol yang melaju. Ia tahu ini bukan jalan ke rumah Chanyeol. Kemana namja tinggi itu akan membawanya? Kyungsoo tidak mau peduli. Semua terasa seperti mimpi.

.

.

.

"Mandilah. Kau terlihat berantakan" saran Chanyeol saat keduanya memasuki salah satu kamar hotel yang sengaja di sewa Chanyeol. Entah apa rencana namja tinggi itu. Biasanya ia akan membawa Kyungsoo ke apartemennya apabila namja manis itu sedang dalam masalah ataupun sekedar bermain dan menghabiskan waktu bersama-sama. Kyungsoo ingin bertanya namun pikirannya terlalu kacau hanya untuk sekedar mengeluarkan suara. Ia lebih memilih masuk ke kamar mandi dan mengabaikan tatapan penuh arti milik seorang Chanyeol.

Sementara itu di apartemen milik Chanyeol, namja yang juga bertubuh mungil tengah duduk termenung di spring bed ukuran king size di kamar itu. Figura-figura yang berisi foto Chanyeol dan seorang namja manis yang tidak dikenalnya sedang memeluk mesra tubuh Chanyeol di dalamnya, kini terletak di atas tempat tidur itu. Perlahan tangannya membuka tutup spidol yang sedari tadi digenggamnya. Mengulurkan tangannya menggapai satu figura itu dan mencoret wajah seseorang. Foto seorang namja yang memeluk tubuh Chanyeol dengan eratnya.

"Yeolli hanya milikku" desisannya terdengar menyeramkan.

.

.

.

Chanyeol membantu Kyungsoo memakaikan piyama yang baru saja dipesannya dari pihak hotel. Piyama yang dipakai Kyungsoo dari apartemennya sudah terasa lembab dan yang paling penting sudah berbau cairan – menurut Chanyeol sendiri. Ia tidak suka dengan itu semua. Namun, perasaannya tak karuan saat melihat semua tanda yang di tinggalkan oleh Kai di tubuh mulus Kyungsoo. Bagian leher itu seluruhnya memerah, tubuh bagian atasnya juga di beberapa bagian terlihat memerah. Chanyeol menaikkan pandangannya pada bibir Kyungsoo dan ia bisa melihat dengan jelas bagaimana membengkaknya bibir itu akibat lumatan-lumatan kasar dari Kai. Membayangkannya saja sudah membuat emosi namja tinggi itu menguar. Tidak tahan, ia pun menyambar bibir bengkak itu. Setidaknya berniat menghapus semua bekas sentuhan Kai pada tubuh kekasihnya itu.

Tubuh Kyungsoo sepenuhnya menolak sentuhan bibir Chanyeol padanya. Ia berupaya melepas pagutan itu namun tenaganya sudah terkuras dari tadi.

"AKU BILANG BIAR AKU YANG MENYELESAIKAN SEMUA! DIAM DAN NIKMATI!"

.

.

.

"Mhh…hyung, janji terlebih dulu padaku jangan menyebutkan nama itu lagi"

.

.

.

"SEBUT NAMA JONGIN SAJA!"

.

.

.

"AHK! JONGIIIIINNNN!"

.

.

.

"KYUNGSOO HYUNG!"

.

.

.

BUGH!

Chanyeol tersentak dari aktifitasnya merajai tubuh Kyungsoo saat dirinya kini sukses terpental ke marmer kamar hotel tersebut. Kyungsoo mendorong tubuh kekar itu secara tiba-tiba. Entah dari mana kekuatan itu datang, yang pasti sepenggal ingatannya kembali saat tubuh Tan itu menyentuhnya mampu membuatnya takut. Kadar alkohol yang mulai hilang dari tubuhnya bisa membuatnya mengingat kejadian tadi – meskipun tidak seluruhnya.

"Hiks...hikss...andwe...hiks...jangan...hiks...jangan lakukan itu..."

Sesegera mungkin Chanyeol mendekati Kyungsoo yang kini sudah meringkuk di atas tempat tidur. Tubuhnya bergetar hebat. Bukan lebih tepatnya ketakutan – sangat ketakutan. Chanyeol yakin kalau namja yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kyungsoo mengalami trauma.

"Maaf Kyungie, aku tidak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku"

Malam itu hanya diisi dengan isakan Kyungsoo dan suara Chanyeol yang berusaha menenangkannya. Chanyeol harus menahan hasratnya untuk menyentuh Kyungsoo secara lebih kalau tidak mau keadaan kekasihnya semakin memburuk.

.

.

.

Tepat seminggu sejak kejadian di apartemennya, Kai juga belum pernah bertemu dengan Kyungsoo. Segala cara ia lakukan untuk mengetahui jejak hyungnya itu sedang berada di mana. Namun semuanya nihil. Bahkan ia berusaha mencari tahu melalui Chanyeol namun namja tiang listrik itu sangat sulit untuk ditemui. Kalau pun bertemu, Chanyol bersikap keras padanya. Sekarang disinilah Kai. Di ruangan tempat ia biasa berlatih menari bersama sahabat-sahabatnya.

"Aku sarankan kau untuk berhenti menemui Chanyeol. Kau mau wajahnya babak belur seperti seminggu lalu?" ucap Sehun saat yang lainnya masih sibuk dengan aktifitas menari mereka.

"Tidak, sebelum si brengsek itu memberitahu dimana Kyungsoo hyung berada" Kai menatap tajam ke arah Sehun.

"Kyungsoo hyung tidak mau menemuimu, Kai"

"Dari mana kau tahu, Oh Sehun? Kau tidak tahu apa-apa"

"Kalau begitu, kenapa dia menghilang? Itu tan – "

"Si brengsek itu yang menahan Kyungsoo hyung di suatu tempat agar aku tidak bisa menemuinya" Kai mulai menyalakan rokok yang baru di keluarkannya dari tas.

"Ayolah Kai...Siapa yang tidak marah saat adiknya sendiri memaksanya untuk tidur bersama?"

Sehun lebih memilih menyudahi ucapannya saat tatapan Kai berubah seperti ingin menerkamnya. Kai memang menceritakan semua pada Sehun. Termasuk perasaannya yang semakin aneh belakangan ini saat bersama Kyungsoo. Namun, bukan berarti Sehun berani memojokkannya seperti itu. Apalagi di depan umum seperti ini. Siapa saja bisa mendengar pembicaraan mereka maka habislah dia.

SRET

Belum sempat Kai mengumpat karena rokok yang berada di antara ibu jari dan telunjuknya sudah berpindah tangan. Luhan. Sosok yang merebut rokok miliknya dan dengan santainya menghisap rokok itu sambil mengeluarkan asapnya di depan wajah Tan-nya.

"Lu-Luhan-ssi? Apa yang kau lakukan?"

"Aku masih akan tetap menagih janjimu untuk mengajariku menari"

"Maaf, aku ada urusan hari i – "

SRET

"Kunci mobilmu tidak akan ku kembalikan sampai kau mau mengajariku. Annyeong..."

Tidak lupa sekali lagi Luhan meniupkan asap rokok itu tepat di wajah Kai sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Di balik pintu itu, Luhan mengeluarkan senyum penuh artinya saat melihat raut wajah Kai dan Sehun saat melihat tindakan beraninya.

"Apa-apaan dia? Yak! Sehun-ah! Kenapa dengan wajahmu?"

Sehun yang merasa dipanggil segera mengalihkan pandangannya pada pintu tempat Luhan baru saja keluar.

"A-Aku tidak apa-apa"

"Sejak kapan kau berani menyentuh rokok, Lu?"

.

.

.

Chanyeol kembali ke apartemen miliknya untuk mengambil beberapa pakaian ganti saat di hotel nanti. Ia mengacak isi lemarinya dan mengabaikan tatapan mematikan di belakang punggungnya.

"Yeolli~~~"

"Panggil namaku dengan benar, Baekhyun-ah"

"Yeolli, tidak bisakah kau menemaniku disini? Selama aku di sini, tidak pernah sehari pun kau menemaniku" rengek namja bernama Baekhyun.

"Aku tidak bisa, aku ada urusan penting di luar. Lagi pula sebelumnya aku tidak menyetujui kau datang" ucap Chanyeol datar dan masih dengan aktifitas menyusun pakaiannya ke dalam koper.

"Apa karena namja buruk rupa itu?"

"HENTIKAN BAEKHYUN"

"Wae? Kenapa kau begitu membelanya? Karena dia kekasihmu, eoh?" mata Baekhyun sudah terlihat memerah menahan emosi dan perasaannya.

"Cukup. Aku ti – "

"Kalau begitu tinggallah disini. Temani aku, Yeolli~~" isakan mulai terdengar dari mulut namja lainnya.

Chanyeol mengangkat kopernya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Sebelumnya ia membelai rambut namja di depannya.

"Maaf, Kyungsoo sedang dalam masa-masa sulit. Aku harus berada di sampingnya. Kau boleh kembali kalau kau merasa kesepian disini"

"Yeolli~~"

"Aku minta kau perbaiki semua kerusakan ini sebelum pergi" ucap Chanyeol menatap sendu pada pigura-pigura dirinya dan Kyungsoo yang di hancurkan oleh Baekhyun.

Namja bermata sipit itu seketika merosot ke lantai saat Chanyeol pergi dari hadapannya. Menangis sejadi-jadinya. Ia tidak habis pikir bahwa namja tinggi itu berubah 180. Ia masih mengingat teman masa kecilnya itu akan selalu mengalah hanya untuk dirinya. Rela melakukan apapun asal melihat dirinya tersenyum lebar. Namun, sekarang sedikit pun perhatian tidak ia dapatkan dari seorang Park Chanyeol. Ia bahkan sanggup meninggalkan sosok Byun Baekhyun menangis sesenggukan.

"Do Kyungsoo" lagi-lagi bibir tipis itu mendesiskan sebuah nama. Nama yang membuat seseorang yang sangat di cintainya telah berubah.

.

.

.

Suara hentakan musik di ruangan itu berhenti di ikuti tubuh Kai yang limbung. Namja cantik di sampingnya segera membantunya dengan meletakkan kepala Kai pada pangkuannya.

"Gwenchanayo?" seru Luhan sang namja cantik.

Kai tidak menjawab. Sulitnya memasok oksigen ke paru-parunya, membuat namja Tan itu tak sanggup untuk sekedar menjawab pertanyaan Luhan. Tangannya berupaya bergerak dan menunjuk ke suatu arah. Luhan tahu dan segera mengambil tas milik Kai.

"Kau butuh sesuatu, biar aku ambilkan" Luhan masih terlihat panik.

Kai menarik kasar tas miliknya dari tangan Luhan dan segera mengeluarkan semua isinya. Ia menemukan benda satu-satunya yang bisa menyelamatkannya. Tanpa berpikir dua kali, benda itu segera ia masukan ke dalam mulutnya dan menekan tombol pada sisi benda tersebut. Luhan hanya menatap dalam diam sampai akhirnya keadaan Kai sudah benar-benar pulih.

"Kau punya masalah di pernafasan?" tanya Luhan penasaran.

"Aku sudah tidak apa-apa. Maaf karena penyakit sialan ini kambuh, jadwalku untuk mengajarimu jadi terganggu" ucap Kai sambil membereskan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Gerakannya terlihat lemah.

"Ahh...tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Karena mengajariku menari kau jadi begini. Maaf, kau jadi kelelahan seperti ini" ucap Luhan terdengar sedih.

"Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula, kau menyita kunci mobilku. Aku tidak ada pilihan lain selain mengajarimu. Sekarang bisa kau kembalikan?" tangan Kai sudah terulur di hadapan Luhan.

Luhan hanya terkekeh sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia mengeluarkan kunci mobil milik Kai dari kantung celananya. Namun, gerakannya terhenti dan jelas itu membuat Kai mengernyitkan dahinya.

"Apa aku boleh mengantarmu pulang? M-maksudku, lihatlah wajahmu sangat pucat. Aku takut karena kondisimu ini malah akan membuatmu menabrakkan mobil dan dirimu ke tiang listrik di jalan sana" ucap Luhan.

Kai menatap pantulan dirinya di kaca ruangan tersebut dan benar saja ia memang terlihat sangat pucat. Hal yang biasa saat penyakit sialannya itu kambuh.

"Baiklah, lagi pula tubuhku sangat lemah. Terima kasih atas tawaranmu, itu sangat membantu" ucap Kai dengan senyum lemahnya.

"Kajja" seru Luhan dengan semangat. Tangan mereka terkait erat seraya berjalan menuju parkiran.

.

.

.

Suasana kafetaria kampus ramai seperti biasanya. Pemandangan mahasiswa yang melahap makanannya dengan lahap sudah menjadi hal yang biasa. Namun, selain tempat mengisi perut mereka yang keroncongan, kafetaria ini juga biasa dibuat menjadi tempat mengobrol santai bersama teman. Ada pula yang membuat tempat ramai ini untuk tempat menyendiri. Ironis memang. Namun, inilah yang dilakukan seorang namja blasteran dengan postur tubuhnya yang tinggi – Kris. Ia memang tidak ditemani oleh siapa pun tetapi ia terlihat tengah mengobrol melalui ponselnya.

"Aku sudah beberapa kali ke apartemenmu, tetapi kau tidak pernah ada, bodoh!"

"..."

"Mwo? Ja-jadi selama ini kau menginap di hotel? Apa bersama kekasihmu itu?" ucap Kris dengan senyuman penuh artinya, meskipun orang di seberang sana tidak bisa melihatnya.

"..."

"Beritahu aku di hotel mana kau menginap, Chanyeol"

"..."

"Aku tidak berniat sama sekali mengganggumu, bodoh! Kalau kiriman barang dari bibi tidak sampai ke apartemenku, aku tidak pernah mau menemuimu selain ada yang penting. Cepat beritahu aku!" Kris sepertinya mulai kesal.

"..."

"Oh ayolah monster sialan! Bibi selalu meneleponku hanya untuk bertanya apa kirimannya sudah ku sampaikan padamu atau belum. Haaa...kenapa eomma-mu malah mengirimnya ke apartemenku, bukannya padamu"

"..."

"Baiklah. Sehabis jam kuliahku, aku akan mengantarnya kesana"

"..."

"Aku tidak peduli kau ada di sana atau tidak. Barang itu akan ku letakkan di depan kamarmu kalau perlu!" Kris akan berniat memutus sambungan teleponnya saat ia masih mendengar suara di seberang.

"..."

"Kyungsoo ada disana? Kau meninggalkannya sendiri?"

"..."

"Oh, baiklah. Mungkin akan aku titipkan padanya"

"..."

"Tenanglah tuan Park bodoh! Aku tidak akan melahap kekasihmu itu hahaha"

Tuuutttt...

Kris segera beranjak dari tempatnya dan berjalan santai menuju pintu keluar kafetaria. Tanpa menyadari seseorang tengah mengikuti jejaknya dari belakang sambil menatap tajam punggung tegapnya.

.

.

.

"Hati-hati di jalan, Baekki" ucap Chanyeol sembari mengusak surai kemerahan milik Baekhyun.

"Aku menunggu kau mengunjungiku kesana, Yeolli. Halmonie sering bercerita padaku kalau dia merindukanmu. Kau tahu menemani seorang nenek-nenek berbicara itu kadang membosankan" sungut Baekhyun.

"Hahaha...ne, aku janji kalau ada waktu aku akan mengunjungi Halmonie, tentu kau juga. Terima kasih sudah ikut menjaganya di sana. Terima kasih Baek"

"Tentu saja aku menyayanginya. Dia sudah ku anggap nenekku sendiri!"

"Ne, aku tahu. Kau harus masuk. Sebentar lagi keretanya akan berangkat" Chanyeol sedikit mendorong bahu namja sipit itu agar memasuki kereta.

"Aku tahu. Kau sudah boleh pergi. Terima kasih sudah menyempatkan waktumu dan mengantarku ke stasiun ini. Sampai jumpa, Yeolli. Aku menyayangimu" ucap Baekhyun sambil mengecup cepat pipi Chanyeol.

Namja tinggi itu melongo mendapat perlakuan tiba-tiba dari Baekhyun. Ia berniat memberitahukan bahwa perlakuannya barusan seharusnya tidak boleh terjadi. Tetapi namja itu sudah menghilang dari hadapannya. Ia hanya mendesah malas dan meninggalkan tempat tersebut. Sepasang mata sipit itu memperhatikan punggung Chanyeol yang sudah semakin menjauh dari balik kaca kereta. Saat peringatan kereta sebentar lagi akan berangkat, Baekhyun segera turun dari dan berjalan terburu-buru. Berlawanan arah dengan Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol melebarkan kedua kaki Kyungsoo hingga tubuhnya kini berada pada selangkangan namja mungil itu. Tangan kanannya ia gunakan untuk menopang berat badannya sementara tangannya yang satu lagi perlahan-lahan masuk ke dalam kaos tipis yang digunakan Kyungsoo. Seraya tangan itu terus mengelus perut rata milik kekasihnya itu. Di atas sana, Chanyeol terus-menerus melumat bibir Kyungsoo dengan gerakan lambat namun terkesan menuntut. Ya, ia harus menahan dirinya untuk tidak bermain terlalu keras atau kasar mengingat Kyungsoo masih memiliki trauma akibat perlakuan tidak bermoral Kai pada kekasihnya tersebut seminggu yang lalu. Sekarang saja Chanyeol masih merasakan tubuh Kyungsoo yang bergetar ketakutan, meskipun tidak separah hari-hari kemarin. Itulah sebabnya ia berusaha membiasakan diri Kyungsoo untuk menerima sentuhannya kembali meskipun harus perlahan-lahan.

Mata Kyungsoo terpejam sangat rapat, padahal namja mungil itu tidak tertidur. Chanyeol sangat tahu, kekasihnya itu hanya takut sehingga menutup kedua matanya. Selama mencium Kyungsoo, tak sekalipun ia menutup matanya. Ia terus memandang tajam pada Kyungsoo. Ia ingin menikmati reaksi apa saja yang ditunjukkan raut wajah manis itu.

"Hmp...hiks..."

Suara itu tentu langsung ditanggapi Chanyeol dengan cara menghentikan aktifitasnya pada tubuh Kyungsoo. Ia menarik tubuh Kyungsoo yang telentang. Kini kedua sudah terduduk di sofa yang tidak terlalu lebar tersebut. Keringat sudah membasahi tubuh Kyungsoo padahal tubuh Chanyeol masih kering.

"Kemarilah..." ucap Chanyeol lembut.

Kyungsoo menurut dan mendekatkan dirinya pada Chanyeol dengan tubuhnya yang masih gemetaran. Melihat itu, namja tinggi itu segera menarik tubuh Kyungsoo dan mendekapnya. Ia dapat merasakan betapa kuatnya getaran yang dihasilkan tubuh Kyungsoo. Ia tahu Kyungsoo masih belum bisa menghilangkan rasa traumanya.

"Maaf, tidak seharusnya aku melakukannya. Maafkan aku chagi" bisik Chanyeol tepat di telinga Kyungsoo.

Chanyeol tetap memeluk tubuh Kyungsoo sampai ia sadar tubuh gemetaran itu sudah mulai tenang. Ia menarik wajah Kyungsoo dan mendapati namja itu sudah tertidur pulas dengan bekas jejak air mata menghiasi wajah cantiknya. Chanyeol mendesah. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia mengangkat tubuh Kyungsoo ke tempat tidur. Matanya melirik ke arah meja tempat sebuah kotak yang masih terbungkus rapi. Itu berarti Kris sudah ke sini.

.

.

.

Sehun memasuki ruang latihan saat matanya hanya mendapati seseorang di ruangan tersebut. Tidak ada alasan untuk dia pergi karena memang jadwalnya berlatih hari ini. Ia merutuki dirinya yang terlalu cepat sampai sebelum yang lainnya tiba.

"Apa kau melihat Kai?" suara namja yang pertama kali menempati ruangan tersebut terdengar oleh indera pendengarannya.

"Tidak tahu" jawab Sehun malas. Ia lebih memilih duduk di sudut ruangan sambil mengeluarkan ipod-nya. Mendengarkan musik sambil menunggu yang lain datang adalah pilihan yang bagus.

"Sehun-ssi~~"

"..."

"Sehun-ah"

Sehun masih sibuk dengan menguraikan kabel-kabel headsetnya yang terbelit saat terakhir kali ia pakai. Menghiraukan panggilan yang jelas-jelas ditujukan padanya.

"Sehun-ah, kau mengabaikanku"

"..."

"Sehunie"

Gerakan tangan Sehun berhenti saat panggilan terakhir di tangkap oleh telinganya. Apa ia tak salah dengar? 'Sehunie' sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu keluar dari mulut namja tersebut.

"Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu lagi" ucap Sehun datar tanpa menatap manik lawan bicaranya.

Namja yang berada lumayan jauh dari Sehun berdiri dan sekarang berdiri tepat di hadapan Sehun. Ia menatap marah pada namja albino tersebut.

"Kau tahu aku tidak suka di abaikan. Kau tahu aku tidak suka kalau aku bicara dan kau tidak menatapku, Hun" ucap suara itu tersendat-sendat. Dadanya entah kenapa terasa sesak.

Sehun berdiri. Kini mereka berhadapan dalam jarak yang bisa dibilang sangat dekat. Mata sehun menatap tajam.

"Kau harus sadar kalau semuanya sudah berubah. Kau yang memaksaku jadi begini. Kau seharusnya bertanggung jawab hingga membuat semuanya berubah! Sekarang kau suruh aku untuk tidak mengabaikanmu dan menatapmu saat berbicara? Aku. Tidak. Bisa!"

Sehun mengambil paksa tasnya dan berjalan meninggalkan ruangan. Mood-nya untuk latihan sudah menguap entah kemana. Namun, pergerakannya terhalang saat tangannya terasa di tarik.

"Aku pergi bukan karena keinginanku, Hun. Aku di – "

"AKU TIDAK PEDULI LUHAN-SSI"

Sehun menghempaskan tangan namja cantik itu kasar dan segera melesat pergi. Mengabaikan isakan Luhan yang masih terdengar olehnya. Mengabaikan tatapan temannya yang sedari tadi menyaksikan adegan pertengakaran mereka di depan pintu. Sehun butuh pelampiasan untuk emosinya sekarang. Tempat itu bukan disini.

.

.

.

Kyungsoo hanya menatap layar televisi dengan bosan. Tidak ada channel yang bisa membuatnya betah berlama-lama di kamar tersebut. Ia ingin sekali keluar dan menghirup udara segar tetapi ia masih takut. Takut kalau-kalau ia akan bertemu Jongin. Ia masih ngeri atas kejadian minggu lalu yang membuatnya harus mengalami trauma sepanjang hidupnya. Oleh sebab itulah, Kyungsoo setuju-setuju saja saat Chanyeol menyuruhnya tetap diam dan absen kuliah. Ia tahu Chanyeol pasti akan bertanggung jawab atas catatan mata kuliahnya selama ia tidak bisa menghadiri kelas-kelasnya.

Ia merasa kesepian saat mengingat namja tinggi itu. Ia mendesah saat mendapati jarum jam masih menunjukkan pukul satu siang. Itu artinya ia masih harus menunggu lima jam lagi agar kekasihnya itu kembali dari luar. Ia mencari aktifitas agar membunuh rasa bosannya. Matanya menangkap kumpulan majalah di samping televisi. Ia tersenyum sembari beranjak untuk mengambil kumpulan majalah tersebut. Ia tersenyum karena sadar bahwa Chanyeol-lah yang membeli majalah tersebut khusus untuknya. Agar Kyungsoo tidak merasa bosan selama di kamar. Kekasihnya itu memang selalu mengerti dirinya.

Tangan mungil Kyungsoo baru saja membuka beberapa lembar majalah, saat suara pintu kamarnya di ketuk. Ia mengernyit. 'Apa Chanyeol bolos kuliah lagi?' batinnya sambil berjalan ke arah pintu. Namun, apa yang di dapatinya saat membuka pintu tidak sesuai dengan harapannya.

"Jo-jong...in" tubuh Kyungsoo membeku di tempat. Matanya seketika berair saat menatap mata tajam yang juga menatapnya.

Kyungsoo ingin menutup pintu sesegera mungkin. Ia bisa melakukannya kalau mau. Ya, Kyungsoo ingin sekali kalau saja tubuhnya bisa digerakkan. Tubuh kakunya tidak bisa bekerja sesuai pikirannya. Karena itulah, Kyungsoo hanya bisa melangkah mundur perlahan saat orang di hadapannya semakin mendekat.

"Hyung~~"

Kyungsoo bergeming. Ia hanya terus mundur saat tubuh Kai semakin memojokkannya ke dinding. Pintu kamar sudah di tutup oleh namja Tan itu.

"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" ucap Kai lembut saat menyadari hyung-nya itu gemetaran di seluruh tubuhnya. Hatinya sakit dan lebih sakit lagi saat tahu dirinya yang membuat semuanya seperti ini.

Hening. Kyungsoo hanya menunduk sambil meremas kedua sisi celananya. Tatapannya mulai kabur akibat air mata yang terbendung di kelopak matanya.

"Hyung~~aku mohon bicaralah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji, hyung" Kai mulai mengulurkan tangannya ke lengan namja mungil itu.

Tangan kekar Kai merasakan getaran yang dihasilkan tubuh Kyungsoo saat ia berhasil menggenggam tangan kecil itu. Ia tahu, Kyungsoo ketakutan. Ia bisa melihat keringat yang mulai membasahi surai lembut itu.

"Maafkan aku..." ucap Kai lirih sambil meremas lengan kecil itu. Seolah ingin menyalurkan perasaan menyesalnya pada namja mungil itu.

Kai merasakan penolakan pada tangan yang sedari tadi digenggamnya. Tangan itu minta dilepaskan. Kai meringis pilu.

"Tatap aku hyung. Tatap aku. Kumohon~~"

Naas, Kyungsoo malah semakin merundukkan kepalanya. Kai yang tidak sabaran, segera menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua tangannya. Kini tatapan mereka bertemu. Kai bisa melihat jelas mata itu memang menyiratkan rasa takut yang terlalu. Ia hampir menangis kalau saja tidak menahan perasaannya.

"Apa aku membuatmu ketakutan? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud jahat waktu itu, hyung. Maafkan aku. Maafkan aku" ucap Kai yang akhirnya tidak bisa menahan kristal bening itu keluar dari matanya.

Ia memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat. Tidak mempedulikan reaksi Kyungsoo yang semakin takut dan bergetar di tubuhnya. Kai tahu ia egois. Tetapi rasa rindu yang selama ini ditahannya kepada hyung-nya itu membutakan segalanya.

"Maaf. Maaf. Maaf. Maaf" kata-kata itu terus Kai bisikan ke telinga Kyungsoo.

Air mata namja Tan itu terus mengalir mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Kedua namja itu menangis. Kyungsoo menangis dalam diam akibat ketakutannya yang berlebihan. Lama pelukan itu berlangsung saat Kyungsoo mulai merasakan hal yang berbeda pada Kai. Kyungsoo bisa mendengar dengan jelas suara nafas Kai yang tersengal-sengal karena memang kepala namja Tan itu bersandar di lehernya. Kyungsoo mulai merasa panik saat menyadari asma dongsaengnya itu kembali kambuh.

"Jo-jongin..." tanpa sadar Kyungsoo mengusap punggung Kai berniat menenangkannya.

Inilah sifat alami Kyungsoo. Bahkan di saat dirinya dalam keadaan terpuruk pun, ia masih memikirkan orang lain. Bukan. Kai bukan orang lain baginya. Baginya Kai adalah seluruh hidupnya. Kesayangannya.

"Jongin-ah, gwenchana?" ucap Kyungsoo berusaha melepas pelukan erat Kai pada tubuhnya.

Berhasil. Pelukan di antaranya terlepas. Mata Kyungsoo semakin membesar saat melihat warna pucat pada kulit Tan itu. Segera ia tarik tangan kekar itu dan membantunya duduk di tepi spring bed kamar tersebut. Lalu ia sibuk mencari keberadaan tas namja itu tapi tidak menemukannya sama sekali. Ia pun kembali mendekati Kai dan ikut duduk di sebelah namja yang terus berupaya meraup oksigen.

"Kau sengaja melakukan ini, eoh?" kata Kyungsoo sembari menangkup wajah Kai. Sedangkan namja Tan itu terus menangis.

"Mian...hae...h-hyu...ng"

Kyungsoo tahu Kai sedang tersiksa dan ucapannya tadi yang mengatakan kalau kau sengaja melakukannya hanyalah ucapan sepintas lalu. Perlahan Kyungsoo mendekatkan wajahnya hingga bibir itu bertemu. Untuk kesekian kalinya, ia memberikan nafas buatan sampai namja Tan itu merasa baikan. Kai bisa merasakan Kyungsoo yang masih gemetaran saat menciumnya. Perasaan bersalah pada dirinya semakin dalam. Sesak di dadanya tadi bukannya tanpa alasan. Ia sesak karena tahu Kyungsoo menderita karenanya.

Kyungsoo pun melepas tautan pada bibir mereka saat menyadari pernafasan Kai mulai kembali normal. Ia menuntun Kai agar berbaring karena tidak tega melihat wajah pucat dan tubuh Kai yang lemah. Kyungsoo selalu tahu jika Kai akan mengalami penurunan energi yang drastis saat asmanya kambuh. Ia butuh istirahat untuk memulihkan energinya kembali.

"Dimana tasmu? Aku ingin mencari Nebulizer tadi" tanya Kyungsoo dengan suara datarnya. Ia berusaha tidak melakukan kontak mata dan lebih memilih menyelimuti Kai.

"Tertinggal di mobil. Aku buru-buru kesini" jawab Kai dengan suara lemah.

"Pabo hiks. Kenapa kau jadi ceroboh begini? Apa jadinya tadi kalau aku tidak bersamamu?! Kau pasti-"

"Karena aku tahu aku akan berada di dekatmu, maka dari itu aku merasa tidak perlu membawanya" Kai menatap dalam pada mata Kyungsoo yang kini juga menatapnya.

"Istirahatlah"

"Hyung"

"..."

"Aku akan terus menemuimu sampai kau mau memaafkanku"

Kyungsoo tidak berniat untuk menjawab. Ia lebih memilih duduk ke sofa dan menonton televisi. Membelakangi seorang Kim Jongin. Kai hanya mampu mendesah. Setidaknya Kyungsoo masih memperhatikan dirinya. Ia sudah sangat bahagia.

.

.

.

Chanyeol tidak bisa menyembunyikan wajah marahnya saat mendapati seorang Kim Jongin di dalam kamar hotel yang disewanya. Sedangkan Kyungsoo hanya mampu menunduk tak berani menatap wajah kekasihnya itu.

"Terima kasih atas semuanya, hyung. Sepertinya aku harus pergi" ucap Kai setenang mungkin dan melangkah keluar.

Kyungsoo mengikuti Kai dari belakang. Tidak ia pedulikan tatapan membunuh milik Chanyeol. Sesampainya di luar kamar, ia menarik tangan Kai yang jelas-jelas kaget mendapati hyungnya itu rupanya berada di belakang.

"H-hyung..."

Kyungsoo hanya menunduk. "Kurangi jadwal latihan menarimu. Itu akan membuat asmamu sering kambuh. Selalu bawa alat bantu pernapasanmu kemana pun kau pergi. Jangan pernah ceroboh, bodoh. Makan teratur. Kau sudah terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Jangan merokok dan minum-minuman beralkohol lagi" ucap Kai dengan lancar.

Kai hanya terperangah. Menyadari tidak ada reaksi dari Kai, Kyungsoo perlahan mengangkat kepalanya hingga tatapan mereka bertemu.

"Berjanjilah, Jongin"

Dapat namja Tan itu lihat genangan air mata di pelupuk mata Kyungsoo. Kai akhirnya mengangguk pasti. Kyungsoo tersenyum lemah dan berbalik masuk.

"Kembalilah hyung"

Langkah Kyungsoo berhenti.

"Kembali ke apartemen milik kita. Aku merindukanmu"

"KYUNGSOO TIDAK AKAN KEMBALI PADA ORANG BRENGSEK SEPERTIMU, KAI"

BAM

Pintu sudah tertutup dengan bunyi dentuman yang sangat keras. Kai melebarkan matanya karena kaget. Tidak lama kemudian, mata itu kembali menatap sendu pada pintu kamar tersebut. Ternyata bukan hanya Kai yang menatap sendu pintu itu, ada seseorang lagi yang berada di ujung koridor. Seseorang yang sedari tadi yang mengikuti Chanyeol sampai kesini.

"Ini semua karena kau Do Kyungsoo" desisnya tajam.

.

.

.

.

.

TBC