A/N: Sebelumnya, maafkan Nami yang akan sedikiiit mengantagoniskan kisedai. Ini semua demi kepentingan cerita. Jangan jadi benci saya dan Kagami yaaa... *pelukan sama Kagami* ( /TдT)/\(Ṑ_Ṓ\ ) Oke, udahan, karna Kuroko udah muncul dan siap ngegigit barengan Nigou... *kabur*

Warning: Watch out for typo(s), language, POV, and OOC (percayalah... ini karena faktor umur mereka! *ngeles terus* trust me it works! *ngawur*)

Enjoy but don't forget to REVIEW!

.

Their Love

(Chapter 2)

By Retatsu Namikaze

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Cover from Google

.


Cinta tentang mereka adalah sebuah kecupan selamat pagi, rasa asin air mata, tragedi, penyesalan, dan satu awal baru.


Normal POV

Ruangan petak dengan pintu kayu di pojok kiri. Di tengah pintu terpasang kaca buram, dia bisa melihat bayangan orang di balik pintu dari sana. Di tengah ruangan terdapat meja kayu bercat gelap−pintu ada di arah kanan meja−di atasnya ada lampu baca juga tumpukan map dengan lembaran kertas tidak tersusun rapi. Beberapa kertas menonjol keluar dan lima lembar lainnya berserakan di tengah meja. Di sudut kanan, dekat lampu, ada bak tinta dengan pena tertancap di atasnya, terhubung oleh tali plastik mirip kabel telepon di sisi kiri meja. Di depan telepon putih ada satu pigura foto, berdiri menghadap pada kursi pemilik meja. Di sana terpotret sekitar 18 atau 20 anak laki-laki dengan jersey ungu. Lima di antaranya tidak asing bagi Kagami, terlebih dua orang yang berdiri di pinggir kanan, menjulang dengan rambut senada warna jersey, Murasakibara, rivalnya−teman lama Kuroko. Dan pemuda di sebelahnya dengan potongan rambut emo, tersenyum manis pada kamera, Himuro Tatsuya, sahabat pertama sekaligus kakak terbaik yang pernah Kagami miliki. Tulisan YOSEN tercetak di pojok kiri foto, setelahnya ada tulisan tangan yang menambahi; 'still the best', begitu bunyinya.

Dari tempat duduk di belakang meja, Kagami bisa melihat pajangan piagam-piagam di tembok di hadapannya. Satu jam dinding kusam menyempil di antara mereka. Sementara di sebelah kiri berdiri dengan kokoh dua lemari besi dengan segala berkas-berkas penting. Di sampingnya tergeletak lima tabung pemadam api portabel. Hanya itulah perabot dalam ruangan tersebut ditambah satu dispenser di dekat jendela bersekat yang menghadap pada ruangan di luar, televisi yang disangga di atas pintu, dan komputer model lama yang berdiri di meja di belakang kursi tempat Kagami berselonjor kaki dan berpangku tangan.

Mendesah untuk yang kelima kali, Kagami beralih dari mengabsen benda-benda yang bahkan sudah dia hafal betul posisinya pada pigura. Pikirannya sempat melayang pada masa-masa SMA dahulu sebelum dia menyadari ada seseorang berdiri di balik pintu, berbicara dengan pria berpostur lebih pendek yang mencegatnya masuk ruangan. Meskipun tidak bisa mendengar obrolan mereka karena tertutupi suara deru pompa-pompa air yang meraung ditambah mesin-mesin diesel, juga derap langkah dan seruan orang-orang yang Kagami tebak jumlahnya lebih dari 60, dari siluetnya dia kenal betul orang itu. Maka Kagami kembali acuh dan mengamati para YOSEN lagi.

Pintu berderit terbuka. Sosok setinggi 183 cm itu mendelik heran mendapati Kagami duduk di kursinya. Tapi sebelum bertanya lebih lanjut, dia tutup kembali pintu, mengembalikan keremangan ruangan, dan berjalan menuju dispenser hendak menuang air panas untuk kopi yang dibawanya.

"Jadi... kukira Kau pulang, Taiga?" Himuro menghampiri, mengambil tempat duduk di depan meja dan mulai mengaduk kopinya berisik, merasa kurang senang dengan kehadiran Kagami.

Pemuda berambut merah gelap itu tidak bergeming. Hanya menatap tanpa maksud pada sendok teh yang berputar semakin lambat.

Himuro melihat arah mata Kagami, "Hm!" disodorkannya cangkir itu padanya−tentu setelah dia menyingkirkan lima lembar pekerjaannya ke tumpukan paling atas map. "Minumlah!" Himuro bersandar pada kursi, posisi yang sama seperti Kagami.

Melihat itu Kagami mendongak, "Aku tidak bermaksud−"

"Tidak apa-apa, minum saja. Tapi... ada apa? Hari ini bukan shiftmu, jadi Kau boleh−aku tekankan−Kau untuk istirahat."

"Ya−well... aku... malam ini. Boleh aku menginap di sini malam ini?"

Himuro mengerutkan dahi, "Taiga, kalau Deputy Chief sampai tahu aku membolehkanmu tidur di kantorku−"

"Aku janji hanya malam ini saja, atau mungkin, eh, dua malam?" Kagami angkat bahu. "Dua malam paling lama."

"Tidak adikku, ini sebenarnya sudah menyalahi aturan!"

"Dua malam paling lama! Aku janji!" Kagami meyakinkan kakaknya. "Tolonglah!"

"Kalau malam ini juga, berarti total sudah delapan malam. Kenapa Kau ini? Ada masalah dengan Kuroko?" Pertanyaan to the point itu sukses membuat Kagami terdiam, bingung mencari alasan untuk mengelak. "Nah! Kau memang punya masalah dengannya. Mungkin aku bisa bantu." Dia memajukan badan dan menautkan jemarinya, bersiap mendengarkan.

Kagami menghela napas, "Aku hargai semua kebaikanmu Tatsuya, tapi untuk yang satu ini... tidak. Rasanya aku tidak perlu menceritakannya."

Himuro kembali menarik badannya dan membantingkannya pada sandaran kursi putar. "Yah, aku tidak bisa memaksa." Sebetulnya dia sudah tahu perkaranya. Murasakibara, dia mengaku mendengarnya langsung dari mulut Kuroko.

"Jadi Kau mengizinkanku?"

"Hanya kalau aku mendengarnya langsung darimu."

"Hah?"

"Aku mendengarnya dari Atsushi−"

Tahu kemana arah pembicaraan Himuro, Kagami mendecih geram dan menepas gagang telepon hingga terjatuh dan bergelantungan di sisi meja. Dia membenamkan kepala ke dalam dua tangannya yang berdiri menyangga.

"Aku hanya ingin membantu, kalau Kau cerita padaku mungkin aku bisa paham bagaimana posisimu," bujuk Himuro. "Kau saudaraku, apa Kau akan membiarkan aku yang menawarkan bantuan untuk ikut menyalahkan sikapmu?"

"Tatsuya, percayalah, ini bukan masalah besar sebenarnya. Lagipula yang bisa menyelesaikan masalah kami hanya kami! Aku dan Tetsuya."

Himuro mendengung, "Aku mengerti... egois."

Kagami menggebrak meja, "JANGAN IKUT MENUDUHKU!"

"Well... tahu apa aku tentang masalahmu?" tantang Himuro.

Kagami mendengus keras. Dia menatap pemuda itu lurus-lurus, "Oke! Sudah kukatakan ini hanya masalah sepele. Kecil! Kalau saja dia tidak membesar-besarkannya!" Kagami kembali bersandar, menarik napas dalam sebelum memulai, "Hanya... kenapa dia tidak mau sedikit memahamiku? Percaya padaku?"

Himuro mengamati sosok di depannya. Mengenakan kaos lengan pendek abu-abu−atasan biru dongkernya dia gantungkan di sandaran kursi, kalau saja suasana mendukung Himuro sudah pasti menegur Kagami karena melepas seragam di kantor−cincin pemberiannya juga masih terkalung di leher jenjangnya, tidak ada yang berubah, masih Kagami yang santai seperti dahulu. Hanya sekarang dia terlihat kacau; ada kantung menggelayuti matanya, mukanya letih, tatapannya sayu, dan jari-jarinya bergetar hebat. Himuro bukannya tidak merasa prihatin, memaksa dia untuk bercerita, tapi justru dengan beginilah mungkin dia bisa membantu Kagami.

"Seperti yang Kau lihat," Kagami memulai, "Aku bekerja siang-malam, bertaruh nyawa. Tapi tidak bisa kah dia sedikit bersabar dengan kondisiku? Kita hanya tidak bertemu empat atau lima malam−"

"Dalam seminggu," ralat Himuro.

"Dalam seminggu. Aku melakukan semua ini demi Tetsuya, Kau juga tahu! Tapi setiap aku pulang−dalam keadaan yang sudah benar-benar lelah−dia sama sekali tidak menyambutku, tersenyum saja tidak. Dia acuh! Aku sering bertanya 'ada apa' tapi dia hanya menggeleng dan berkata semuanya baik-baik saja. Tentu aku tahu itu bohong! Karena besoknya ketika aku bertemu dengan teman-teman lama Tetsuya−Kau tahu siapa dan itu termasuk Murasakibara-mu−aku mendapat tatapan cemooh sepanjang hari itu. Mereka tidak senang aku di samping Tetsuya!"

Kagami meraih kopi yang disuguhkan Himuro, meneguknya, kemudian melanjutkan, "Terutama model itu," ujarnya lebih tenang. "Kau bisa bayangkan; dia menyambut Tetsuya dengan heboh, memeluknya, tapi setelah itu dia menatapku tidak senang. Aku datang bersamanya, tapi perlakuan yang kami dapatkan sungguh berbeda. Maksudku, hei! Aku juga kan sudah jadi bagian dari kehidupan Tetsuya, apa mereka masih tidak mau mengakui?" Kagami menelan ludahnya keras, "Aku duduk dengan keenam orang itu. Bayangkan betapa menderitanya ada di posisiku!" Cengiran mengejek muncul di wajahnya. "Sungguh, aku tidak melarang Tetsuya memiliki teman sementara aku tidak bisa bersamanya. Tapi yang aku tidak suka adalah cara mereka yang... bagaimana mengatakannya−seakan-akan... menghiburnya? Dari sikap mereka, dan juga dari tuduhanmu barusan yang memperkuat dugaanku, tahu lah aku kalau aku penyebab masalah ini. Aku yang membuat Tetsuya bersedih! Mereka menghibur Tetsuya sekaligus menyalahkan aku secara bersamaan! Bayangkan! Bahkan aku tidak tahu apa-apa, dia kan yang lebih memilih cerita pada teman-temannya dibandingkan lansung padaku, si tersangka! Dia lebih percaya pada mereka, itu intinya. Cih!" Kagami kembali meraih cangkir putih itu dan meneguk isinya sampai habis. Dia menghela napas berat. "Aku sebenarnya tidak mau mengakui sih, tapi aku bersyukur Aomine masih mengerti perasaanku, selalu begitu. Dia menepuk bahuku dan mengajakku mencari minuman. Heh, benar-benar terima kasih!"

Suara sibuk di luar ruangan menggantikan Kagami yang kini terdiam. Tangannya meraih gagang telepon dan mengembalikannya ke tempat. Dia menatap Himuro, mempersilahkan dirinya untuk ganti bicara.

"Aku mengerti," ujarnya. "Kau mencintai pekerjaanmu?"

"Tentu!"

"Kau juga mencintai Kuroko?"

"Jelas." Jeda sesaat. "Tapi entah, kalau seperti ini terus rasanya aku malah terbebani. Mencintai Tetsuya justru menjadi beban! Lucu."


Kuroko's POV

Pusing. Itu hal pertama yang kurasakan. Perlahan aku bangun dengan bantuan topangan tangan pada meja. Kutekan-tekan pelipisku. Ya ampun, berapa lama aku tidur dengan terduduk begini. Masih terpejam, aku sentuh kaca jendela di hadapanku. Rasanya... panas? Dan betapa terkejutnya ketika aku membuka mata, mendapati halamanku sudah dilalap kobaran api. Aku melangkah mundur, merasa ngeri dengan apa yang kulihat. Apa aku masih bermimpi? Ini mimpi kan?

Aku langsung menghambur menuju pintu. Menggedornya. Kutarik-tarik pula gagang pintu yang juga terasa panas, tidak peduli kalaupun kulit tanganku bisa melepuh. Aku harus keluar dari sini! Sial. Terkunci.

Ah, tentu, kenapa aku lupa kalau aku sendiri yang membuang kunci itu? Dasar bodoh! Sekali lagi kugedor pintu itu. Berharap orang yang mungkin datang menolongku mendengar.

"Ada orang di luar? Tolong! Aku terkunci di dalam sini! Uhuk−" Tenggorokanku terasa serak. Aku menoleh pada jendela. Tidak ada pemandangan apa-apa yang tampak selain api yang menelan pohon-pohon dan langit sore yang menambah kesan menyeramkan. Kugedor pintu semakin keras. "Hei! Ada orang−uhuk... uhuk..." Aku mengibaskan tangan mengusir asap yang menghampiri hidungku. Baru kusadari kalau kamarku ini sudah dikepuli asap. Kukira memang mataku yang memburam. Menengok ke bawah, ternyata asap-asap itu masuk lewat celah di bawah pintu. Segera aku berlari meraih bantal-bantal di kasur dan menutupinya. Menghambat sedikit. Sekarang tinggal memikirkan cara bagaimana aku keluar dari sini. Percuma menunggu bantuan yang belum datang. Itu pun kalau mereka berkenan datang. Setidaknya aku akan berusaha dahulu, karena aku tidak mau terpanggang hidup-hidup!

Mataku dengan cepat mengitari ruangan. Jendela? Tidak, bukan jendela! Pohon itu semuanya sudah terbakar, kalau membukanya sama saja aku mempersilahkan api itu masuk. Pintu juga tidak bisa dibuka. Lagipula mungkin api berasal dari sana−

Tunggu. Apinya dari mana? Ingatanku mengingat balik apa saja yang telah kulakukan. Aku tertidur karena memikirkan Kaga−abaikan. Sebelumnya aku ribut dengannya, aku meninggalkan dapur karena kepalaku yang terasa berat, "Uhuk... uhuk..." Batuk ini sungguh mengganggu. Aku menyingkir dari pintu dan berdiri dekat kasur, jarak yang paling jauh dengan sumber asap, baru kembali pada ingatanku. Aku sedang membuat makan siang ketika dia datang−kompornya! Apa aku melupakan kompornya? Aku menelan ludah.

"Dari kompor..." gumamku. Bodoh! Kenapa aku bisa−aku menghela napas pasrah. Percuma. Lagipula aku tidak bisa menyetel ulang waktu. Aku hampiri meja, mengobrak-abrik lacinya, berharap menemukan telepon genggam. Gunting, note book, paperclip, sapu tangan, dan benda-benda lainnya berterbangan kulempar tapi aku tetap tidak menemukan ponsel. Beralih ke laci di bawahnya, sama. Di laci ketiga juga tidak kutemukan. Aku mengerang frustasi.

Tenang! Aku pernah baca kondisi seperti ini dalam cerita-cerita novel, berpikirlah Kuroko! Berpikirlah...


Normal POV

Kagami kini sudah lebih tenang, bahkan terlalu tenang. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, masih bersandar, sementara tangannya menjangkau cangkir putih di atas meja, memutar-mutarnya perlahan.

Himuro juga terdiam. Membiarkan Kagami dengan pandangan kosong sementara dia sendiri memikirkan kata-kata yang tepat untuk menghiburnya.

'KRIIIIIINNGG...!' Sampai deringan keras alarm membuyarkan kecanggungan itu. Satu ketukan−gedoran−pintu menyusul kemudian. Himuro segera bangkit, membuka pintu, dan mendapati bawahannya berdiri dengan napas memburu, "Komandan!"

"Operator sudah pastikan panggilan ini darurat?"

"Sebuah permohonan bantuan pemadaman api!"

"Kalau begitu tunggu apalagi? Segera siapkan armada!"

"Laksanakan!" hormatnya. Dia lalu berbalik, bergabung dengan rekan-rekannya; mengenakan seragam coklat dengan garis reflektif kuning terang, topi, masker; mengalungkan selang-selang karet; dan berlari seirama menuju garasi.

Himuro menoleh pada Kagami yang tetap diam melamun. Tidak pernah dia melihat orang itu acuh, apalagi ketika alarm berbunyi. Yang biasa dia lakukan ketika operator mendapat panggilan adalah langsung menerobos masuk ke kantornya, menyeretnya menuju mobil tanpa memastikan apakah panggilan itu alarm palsu atau mungkin situasinya sudah tidak lagi darurat. Kagami juga pasti sudah siap sedia dengan rentetan perlengkapan, bahkan lebih lengkap dibanding fasilitas mobil pemadam yang ditumpakinya.

"Taiga?"

"Maaf Tatsuya," Kagami mengintip apa mungkin masih ada tetes terakhir dalam cangkir itu yang bisa dia minum. Nihil, seluruh bagian dalam cangkir sudah mengering. "Kan sekarang bukan shiftku, jadi aku tidak punya kewajiban," tolaknya enteng.

Kagami tidak salah. Lagipula dia memang butuh waktu untuk sendiri. "Baik. Hanya malam ini!" Himuro menyerah.

"Terima kasih," senyum hambar terlukis di wajahnya.

"Aku pergi sekarang," pamitnya. Dia keluar ruangan dan meninggalkan Kagami bersama kesunyian. Membiarkan Kagami kembali pada lamunannya.


Kuroko's POV

Mataku benar-benar perih. Ini lebih menyakitkan dibanding harus memotong satu mangkuk besar bawang merah. Hidungku sudah menurun fungsinya, kugunakan mulut untuk bantu bernapas pun tidak jauh berbeda, paru-paruku rasanya terus menyempit. Kepala yang terasa semakin berat, keringat yang bercucuran deras, dan suhu yang sangat panas menambah penderitaanku. Aku bisa pingsan kapan saja!

Masih memikirkan cara untuk keluar sambil berusaha menekan rasa panikku, aku berdiri di tengah kamar. Sebenarnya ada satu cara yang terbesit, mungkin bisa berhasil, tapi kemungkinan-kemungkinan justru harus disingkirkan, yang terpenting sekarang adalah mencoba.

Baik. Aku meraih bola basket dari kolong meja, berjalan mendekati lemari baju, dan menengadah menatap langit-langit di atasnya. Harus berhasil! Menarik napas, aku mengambil ancang-ancang, lalu segera melakukan gerakan phantom shoot. Satu lubang besar menganga pada plafon. Cukup untuk kulewati.

Tidak membuang waktu, kubuka pintu lemari, menaiki papan-papan rak sambil terus menjaga keseimbangan. Sampai pada pijakan terakhir, ketika kaki kananku hendak naik ke puncak peti setinggi dua meter lebih itu, aku refleks menyelipkan jemariku pada sudut lemari yang mengapit dinding karena tidak ada lagi pegangan. Hasilnya? Tanganku yang basah karena keringat membuatku terpeleset!

"AARGH...!" Aku jatuh terjerembap dengan bahu kiriku terlebih dahulu menghantam ujung pintu lemari. Tapi aku masih beruntung karena lemari itu tidak ikut roboh. Hanya pintunya saja terlepas dari engsel.

Kubalikkan badan. Terlentang di atas ubin panas, memperhatikan asap yang semakin mengepul, masuk lewat lubang yang tadi kubuat, bahkan nyala api terlihat jelas dari sana. Ini sih namanya bunuh diri. Tubuhku sekarang lebih susah digerakkan, terutama bahuku yang terasa perih dan ngilu. Putus asa, aku menitikkan air mata. Sebentar lagi aku akan mati. Tidak ada kah yang datang menolongku? Seorang pun? Siapa pun itu? Bahkan Taiga-kun...?

Aku menyipitkan mata melirik lagi pada lemari, lalu merangkak dengan susah payah masuk ke dalamnya. Yah... setidaknya aku sudah mempersiapkan peti matiku sendiri.


Normal POV

Branwir-branwir merah nan gagah itu melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Tokyo dengan raungan sirenenya. Para pejalan menengok takjub sekaligus prihatin, menerka siapa gerangan yang sedang terjebak dan membutuhkan pertolongannya.

Berbelok dari jalan utama, Himuro bersama seluruh awaknya masuk ke daerah perumahan. Raksasa hitam membumbung mengerikan menyambut mereka.

Orang-orang sudah mengerubungi lokasi. Beberapa dari mereka masih berusaha mematikan api dengan guyuran air ala kadarnya sampai para pemadam kebakaran tiba.

Untung rumah dua tingkat itu tidak bertetangga dalam radius 10 meter−sama seperti rumah lain−sehingga menghalangi api untuk merambat lebih jauh. Tapi angin sore begitu kencangnya bertiup, ditambah lokasi sungai yang jauh dan tidak adanya hidran air di dekat sana, cukup membuat para awak kewalahan.

"Masih ada orang di dalam?" Tanya seorang awak lantang, mencoba kalahkan suara bising.

"Entahlah! Rumah itu memang belakangan ini sepi!" Teriak seorang warga tak kalah kerasnya, "Tapi tadi siang aku lihat pemiliknya pergi! Bukan kah dia pemadam kebakaran juga?!"

Awak itu menutup telinga kiri, menajamkan pendengaran, "Kenapa?"

"Penghuninya sedang keluar!" Teriaknya lebih keras.

Satu lagi mobil pemadam tiba. Mobil yang ditumpaki Himuro. Begitu dia turun, awak barusan menghampirinya.

"Komandan! Api semakin besar karena angin sangat kencang! Kemungkinan api sudah melalap seluruh bangunan! Sumber air juga jauh dari sini!"

Himuro menggertak, "Kalau begitu kenapa masih diam? Cepat menuju sungai!"

"Warga melaporkan pemilik rumah sedang keluar, Koman−"

"Cepat saja lakukan!"

"Baik!" Di sini Himuro yang punya wewenang, maka semua harus patuh padanya. Dia yang lebih mengetahui situasi. Ditambah lagi−

"Tim Atap segera buka jalan dari atas, sepertinya susah untuk masuk lewat depan! Cepat bergerak!" Titah Himuro tegas dan segera dipatuhi bawahannya. Sementara dia menatap tak percaya pada rumah itu. Api bahkan sudah menyelimuti seluruh halaman, rasanya mustahil kalau saja masih ada orang yang terangkap di dalam sana untuk bisa selamat. Dan itulah yang membuat dirinya cemas. "Bodoh..." desisnya.

"BODOH!" Maki Himuro keras pada diri sendiri. Cepat-cepat dirogoh saku celananya, meraih telepon genggam, kemudian dia hubungi sebuah nomor. "Harusnya aku tidak membiarkannya diam saja!" Himuro mondar-mandir menunggu panggilannya terhubung. "Ayo angkat... angkat... cepat angkat... angkat! CEPAT ANGKAT BAKAGAMI!"


Normal POV

Suasana kantor menjadi sangat lengang sepeninggal Himuro dan batalionnya. Kagami masih saja berdiam di kursi sang komandan, membenamkan muka ke dalam lipatan tangan.

Tapi ketenangan yang Kagami dambakan itu terusik ketika telepon putih di sampingnya berdering.

'Mengganggu,' rutuknya dalam hati, 'Panggilan untuk kantor harus lewat operator, jadi ini pasti untuk Tatsuya... dia kan sedang bertugas... ah, anggap saja kantornya kosong.'

Lama, telepon itu akhirnya berhenti tapi segera berdering kembali.

Kagami mendesah kesal, "Berisik! Aku bukan Tatsuya!" Kagami semakin membenamkan muka. Mengabaikan panggilan itu.

.

.

.

Tidak mau tahu kah Kau Kagami apa yang sedang terjadi di seberang sana?


TBC


Next issue:

Cinta tentang mereka adalah sebuah kecupan selamat pagi, rasa asin air mata, tragedi, penyesalan, dan satu awal baru.

Cinta tentang mereka adalah sebuah kecupan selamat pagi, rasa asin air mata, tragedi, penyesalan, dan satu awal baru.


A/N:

#Haaahh... Nami ngos-ngosan nih... capek buanget ngetik sampe tangan keriting! Yah, pada akhirnya ini tidak bisa jadi dua chapter... maaf ya!

##Fict ini saya spesialkan untuk Xavierre-san (konfliknya udah saya perjelas nih... XD) juga teman2 baruku, dee-mocchan-san dan Princess Heartfillia-san dan tak lupa untuk semua reviewers/fav-ers(?)/followers...

Untuk semua semangatnya, hontou ni arigatou gozaimasu~

Sekarang, berkenankah kalian memberiku sedikit review? Please! Please! Please~!