Sunflower
A HunHanKai's story.
© Caruniaalf97
p.s author : Cuma info aja, Fanfic ini sengaja di share di FFN. Kalo nemu di Facebook dengan jalan cerita dan judul yang sama. Itu juga punya ku.
.
.
.
Matahari ku…
Kupu-kupu biru itu kembali..
Masihkah kau mengingatku?
Aku..
Sang Bunga matahari
Dan akan selalu menjadi bunga mataharimu
Namun, aku tetap membutuhkan matahariku
Bolehkah aku egois?
.
.
.
.
.
Kim Jongin POV
.
'Luhan'
Mengapa ? Mengapa kita harus di pertemukan dengan cara yang seperti ini?
Dan lagi..
Kau memliki sang pujaan hatimu sekarang.
Hati ku sangat sesak ketika melihat Luhan sedang berpelukkan manja dengan namja yang ia panggil Sehunnie itu. Dia kah pujaan hatimu, Lu?
Aku tak sanggup melihat pemandangan itu, kuputuskan untuk pergi meninggalkan toilet pria dan pergi sejauh mungkin dari pandangan nya. Aku berjalan cepat melewati lorong sekolah ini menuju tempat parkiran. Ku tutupi perasaan kecewaku dan mulai memasuki mobilku yang terparkir tepat di depan gerbang sekolah. Kumasuki mobil hitamku dan mendudukkan pantatku di jok belakang.
"Tuan Kim, kita kemana?"
Pertanyaan yang tidak penting terlontar dari supirku yang menatapku melalui kaca depan mobil ini. Namun sejenak aku berfikir, benar juga aku harus kemana? Tidak mungkin aku pulang kerumah dengan perasaan yang seperti ini. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk menetralkan pikiranku terlebih dahulu.
"Taman Seoul. "
"Baiklah, Tuan"
Disaat mobil ini menuntunku keluar dari sini ku rogoh kantung celanaku dan ku ambil dompet putih yang elegan ini dari kantung ku. Mulai ku buka dompet ini, terpampanglah di sisi dompetku foto dimana seseorang namja cantik yang tersenyum manis dengan bunga matahari di sisi kanan telinganya. Aku pun tertawa dibalik hatiku yang perih disaat melihat foto tersebut. Kembali ku cari secarik kertas putih dari bagian dompet itu dan terdapat surat yang terlipat menjadi kecil di tanganku. Mulai ku buka surat itu dan perlahan kubaca. Walaupun aku tidak mengerti isi surat tersebut, karena surat itu tertulis dengan menggunakan huruf pinyin (aksara china).
"Lu, seandainya aku mengetahui apa isi surat ini. Apakah kau memilih aku untuk menunggumu atau kau memutuskan hubungan kita. Aku sangat ingin mengetahui nya."
Jong In POV END
.
.
.
-Skip time-
.
.
.
Luhan POV
.
"Sehun-ah, bagaimana kau bisa menemukanku tadi pagi? "
Aku dan kekasihku saat ini sedang berada di taman belakang sekolah sedang menikmati bekal siang ku dengan indah nya. Sehun, aku percaya kau akan selalu menepati janjimu untuk melindungiku.
"Hem? Aku mencarimu kemana-mana Hannie. Seluruh sekolah ini, tapi ternyata tempat mu untuk mengumpat di toilet pria? Pabo! Kau tidak punya tempat rahasia disini. " Kata Sehun sambil mencubit hidungku dengan manjanya. Aku mengerutkan keningku saat itu juga lalu mengelus-eluskannya dan saat aku melihat Sehun ia sedang terkekeh.
"Seenaknya saja kau bilang aku Pabo!" Aku mulai menatap sinis dan dia kembali terkekeh sambil mendekatkan diri padaku. Lalu merangkulkan tangan kiri nya kepundakku membuat hatiku sangat berdebar saat ini. Dia sangat lembut, disaat itu juga ku senderkan kepalaku di pundaknya yang kekar sambil menikmati pemandangan taman sekolah dimana orang lain pun ikut merajut tali kasihnya disini. Namun, entah mengapa mungkin diriku lah yang sangat bahagia sekarang.
"Haha. Hannie, aku mau tanya siapa tadi pria yang kau peluk di saat di toilet tadi?" Hal yang kutakuti. Ia menanyakan tentang Jonginnie. Huft! Hati ku bimbang, pikiranku tidak tenang saat ia menanyakannya. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus jujur kalau dia adalah Jongin? Mantanku saat di prancis dulu?
"Hannie? Mengapa kau tidak menjawabku?"
PEJAM!
Ku pejamkan mataku untuk menghindar menjawab pertanyaan Sehun. Saat ia menoleh padaku ku eratkan pegangan ku pada pinggulnya. Mungkin berpura-pura tertidur adalah hal yang harus kulakukan daripada aku harus menjawab pertanyaan itu
"Hannie? Kau tertidurkah? Dasar pabo! Apakah pundakku sangat nyaman?" ucapnya yang tentu saja masih kudengar. Sehunnie~ tetaplah seperti ini, dimana seorang Luhan hanya dimiliki oleh dirimu sekarang. Waktu, bisakah kau berhenti saat ini? Biarkanlah aku bisa merasakan rasa nyaman hanya bersama sang pujaan hatiku yang tampan ini. Agar hatiku tidak bimbang lagi, karena ada seekor kupu-kupu yang bisa merebut hatiku lagi.
Luhan POV END
.
.
.
AUTHOR POV
Kring~ Kring~
Bel sekolah berbunyi dengan bangga nya. Anak-anak pun mulai bergegas untuk pulang. Tetapi tidak bagi sehun. Ia terlihat sangat sibuk hari ini. Bisa dilihat disaat semua manusia mengerubungi halte depan sekolah ia bergegas untuk ke ruang osis. Dan dia mulai menyibukkan diri nya dengan apple silver yang berada di depan meja nya.
Tok
Tok
Tok
"Sehun-ah. Kau sudah mengobservasi venue yang akan kita pakai untuk acara bazar kali ini?"
Tenyata ada sesosok wanita cantik yang memasuki ruangan itu.
"Belum nuna. " Jawab Sehun hanya seperlunya saja. Dan pandangannya hanya terfokus pada Apple nya.
"Bagaimana sih? Dimana yang lainnya? Apakah hanya kau saja?"
"Jessica nuna. Yang lainnya juga sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Humas yang seharusnya meng-observasi tapi dia sedang mencari sponsor untuk tambahan dana." Sehun yang terlihat sangat sibuk dengan tugasnya ini mulai membeberkan alasannya pada nuna yang sebenarnya sudah mengoyakkan hatinya yang paling dalam. Namun dia harus tetap profesional .
"Kalau begitu kau dan aku yang kesana. Sekarang" Jessica nuna memutuskannya. Dan dia pergi berasama siapa? Sehun? Apakah Sehun harus meng-iya kan atau bersikap profesional?
"Kau kan sudah kelas tiga. Walaupun kau mantan ketua osis tapi kelas tiga tidak boleh …." Omongan sehun terputus saat Jessica menggengam tangannya dan langsung menyeretnya keluar ruangan itu.
Disaat Jessica yang menggenggam tangan Sehun. Luhan masuk kedalam ruangan tersebut . Merekapun tercengang. Dan disaat yang tepat ini Jessica mulai melancarkan aksinya. Ia berbalik menuju dada bidang Sehun dan memeluk Sehun. Luhan yang berada di ambang pintu pun terasa kaget apa yang ia lihat.
"Se—Sehunnie…" Ucap luhan terbata
Sehun juga terkejut dengan apa yang dilakukan Jessica dihadapannya. Tapi ternyata Luhan tidak bodoh, dia tidak akan mudah terpengaruh oleh tindakan licik Jessica saat itu.
"Nuna! Lepaskan kekasihku! Aku tidak bodoh dengan perlakuan mu yang hanya untuk memanasi hubungan ku saja!"
"Sehunnie. Kajja!"
Luhan langsung menarik tubuh Sehun dari pelukan Jessica dan pergi menarik tangan Sehun-nya.
"Luhannie" Sehun mencoba melepaskan genggamannya dan berjalan mendahului Luhan dan dengan segera memeluknya.
"ne, Sehunnie?"
Sehun melepaskan pelukannya dan memandang wajah kekasihnya itu. Yang dipandang hanya bisa menunduk menyadari kalau perbuatannya tadi sangat berani karena ia baru saja menghentak pada nuna yang amat ia hormati.
"Terimakasih kau sudah mau percaya padaku." Ucap Sehun sambil menaikkan dagu luhan untuk menatapnya
"A—aku tahu kalau Sehunnie tidak akan berbuat itu. Aku percaya padamu Sehunnie"
"Aku sangat mencintaimu Hannie. "
CHU~
Disaat Luhan ingin menjawab Sehun sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Luhan yang terbuka. Luhan membalas ciumannya dengan hati yang berdebar-debar.
Saat Sehun melepaskan ciuman itu Luhan langsung menampakkan semburat pipi yang merona itu. Ekspresi yang sangat sehun sukai. Ekspresi yang membuat Sehun menjadi jatuh cinta pada luhan.
"Hannie. Itu adalah hadiah mu. Ciuman pertamaku adalah hadiahmu karena sudah mempercayai kekasihmu yang keren ini" Sehun tersenyum namun kata-kata narsis terlontar dari mulutnya.
"huh! Hanya itu? Ku kira kau akan mentraktirku tobboki saat ini juga." Kata Luhan sambil mempoutkan bibirnya manja.
"Oh iya. Maafkan aku Hannie. Maafkan aku karena hari ini aku tidak bisa menemanimu pulang. Banyak hal yang harus ku kerjakan di ruang osis. "
"kau sangat sibuk yah Hunnie?" tanya Luhan yang sebenarnya tidak bisa memaklumi kesibukkan kekasihnya itu, namun mau bagaimana lagi. Itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi Luhan. Dan eharusnya Luhan menyemangati nya.
"iya. Kau percaya 'kan padaku? Kau lebih baik langsung pulang ne? Jangan sampai kecapekan dan makan yang teratur. Kalau aku sudah selesai, aku akan menelponmu. Jangan matikan ponselmu malam ini" ucap Sehun yang terlihat sangat protektif .
Sehun adalah tipe seme yang perhatian dan terlebih protektif terhadap uke nya.
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Kau juga harus menjaga kesehatanmu Hunnie. Arraseo. Aku tidak akan tidur sebelum kau menelponku. "
"Baiklah. Hati-hati Hannie-ku. "
"Ne"
Author POV end
.
.
.
Jongin POV
Taman ini begitu indah. Mungkin hari ini aku sedang tidak mood tapi aku sangat bahagia bila melihat pemandangan seindah ini di Seoul. Mungkin ini lah sebabnya aku sangat merindukan Seoul. Hatiku mulai baikkan dan kuputuskan untuk pulang kerumah. Aku berjalan menuju mobil ku dan kubilang pada supirku untuk langsung pulang ke rumah.
BMW hitam ini membawaku ke dalam komplek perumahan di daerah seoul.
.
Sesampainya dirumah
.
"Kai!" panggil Eomma ku dengan nama panggilan kecilku saat di Korea.
Ummaku yang sudah berada di depan ruang tamu langsung memelukku dengan mesra. Merasakan hangatnya pelukan sang ibu yang sudah 2 tahun terakhir tidak aku rasakan lagi. Karena Appa ku mengurus perusahaan yang ada di Perancis dan Eomma ku membuka cabang di Korea.
"Eomma. Kau ini bagaimana sih? Disaat aku sangat merindukanmu, kau menyuruhku untuk tidak boleh pulang dulu. Malah kau menyuruhku untuk ke sekolah dahulu. Kau memangnya tidak ingin menemui putra mu ini?" Kataku dengan nada manja.
"Maaf kan eomma nak. Aku hanya ingin menjadi orang pertama yang menyambutmu di korea karena aku tadi siang sibuk makanya kau berkunjung saja dahulu ke SMA Yonsei. Disana lah kau akan bersekolah nantinya"
Aku mulai mencerna ucapan eomma ku tadi. Namun bagian akhirnya sangat sulit dicerna maupun dipercaya. TEMPAT AKU BERSEKOLAH? Apakah aku akan satu sekolah dengan
LUHAN?
Ya tuhan Apakah memang dia ditakdirkan untuk bersamaku? Tapi mengingat dia sudah mempunyai kekasih mungkin tempat yang menjadi surgaku untuk bersama Luhan akan menjadi neraka bagi hatiku yang akan teriris, karena mungkin setiap harinya aku akan melihat ia bermesraan dengan kekasih barunya itu.
"Kai-ya. Ya! Kim Jongin!" ucapan eomma ku membangunkanku dari lamunanku kali ini.
"Ne, eomma. Waeyo?"
"Kau melamunkan apa eoh? Sana kamu mandi dulu. Badan mu bau sekali" ucapan umma ku membuat aku mem-pout kan bibir ku sejenak.
"Biarkan saja bau badan ku tertular ke badan eomma. Karena eomma tega sekali padaku!"
"Dasar kau! Sana ke atas. Cepatlah mandi lalu kita makan malam di luar. "
Jong in POV end
.
.
.
-Skip Time-
.
.
.
Luhan POV
"aku pulang"
Baru saja aku membuka pintu rumahku. Aku sudah dikagetkan dengan pemandangan ruma ku yang sedang sibuk. Ada apa ini? Ruang tamu ku disulap menjadi ruang makan yang elegan. Apa ada acara yang begitu heboh?
"Luhan. Kau sudah datang?" kata ibuku yang datang menyambutku
"Ne, mama. Ada apa ini?" Tanyaku yang terlihat sangat bingung.
"Akan ada teman mama dan papa mau menandatangani kontrak kerja sama dengan kita di Seoul. Dan mama berencana untuk mengundang mereka sekeluarga untuk makan malam disini. Karena katanya mereka baru baru datang dari Perancis" Panjang lebar mama ku menjelaskannya.
"Lalu? Papa mana? Bukannya papa masih di China?"
"ini adalah bisnis para istri, kau tau? hehehe. Cepat naik sana, ganti baju yang rapi. Jangan mengecewakan mama yah"
Luhan sweatdrop, "ne"
Oh, dari teman mama yah? Oke aku berpakaian rapih hari ini. Kulangkahkan kaki ku menaikki tangga ini dan mencapai rumah ku tingkat dua. ku masuki kamar ku dan terlihat di meja belajar ku foto dimana aku sedang berada di Provence dan berfoto dengan gembira nya saat aku mengunjungi pameran bunga musim semi. Di foto itu ada aku dan mantan kekasihku Jongin. Ku tatap foto itu dengan indah.
"Jonginnie. Kau kembali?" raut wajahku sangat senang kali ini.
"Sangat senang jika kau masih mengenalku. Namun, maaf aku bukan lah bunga mataharimu lagi. Maafkan aku—hiks" aku terisak disaat aku mengingat kenangan-kenangan ku bersamanya.
.
.
.
Flashback
Sehabis aku pulang dari taman Provence, aku berjalan menuju halte yang jaraknya cukup jauh dari sini. Kulangkahkan kaki ku dengan gembira sambil memeluk kekasihku ini.
"Jonginnie~"
"Ne, Lu?"
"Jonginnie"
"Waeyo?"
"aniyo. Hanya ingin memanggil namamu." Ucapku. Saat itu juga aku tidak bisa melupakan senyum termanis dari seorang Kim Jongin.
"Lu, kita sudah sampai di halte ini" kata nya dan membuat ku menekukkan alis mataku.
"mengapa begitu cepat?"
"Cepat apanya Lu?"
"Kenapa kita berpisah disini? Luhan tidak mau berpisah dengan Jonginnie" ucapku manja dan Jongin memelukku lagi sambil mengeluskan rambutku.
"Bukankah kita bisa bertemu besok Lu? Besok, besoknya lagi dan selamanya kau akan terus bersamaku Lu."
"Heem ne. Luhan mengerti" ucapku manja. Jongin pergi meninggalkan ku di halte ini. Karena arah jalan rumah kita berbeda. Ia melambaikan tangannya padaku. Disaat bus ini datang, aku menaikinya dan bus ini akan membawaku pulang ke rumahku.
-Sesampaiku di rumah yang di prancis-
"Luhan. Cepat kau bereskan barang-barang kita. Ayo kita kembali ke China." Mamaku menyambut kedatangan ku dengan perkataan seperti membuatku bingung. Sebenarnya ada apa ini? Ku tengok papa dan Kris-gege juga sudah bersiap-siap.
"Ada apa mama? Papa? "
"Bisnis kita di Provence hancur. Kita harus meninggalkan Perancis secepatnya"
"Cepat ganti baju mu Luhan. Malam ini kita akan kembali ke China"
Aku kembali ke kamarku dengan perasaan sedih. Bagaimana aku bisa meninggalkan Jongin hanya seperti ini?
Tes
Tes
Tes
Maafkan aku Jonginnie. Maafkan aku karena aku harus meninggalkanmu.
"Luhan. Kau sudah siap?" Kris gege memasuki kamarku.
Grep.
Ku peluk kris gege dan aku menangis sekaencang-kencangnya.
"Ada apa Lu? Mengapa kau menangis, heum?"
"Jonginnie. Hiks . Bagaimana ini ge? Aku meninggalkannya. Aku mengingkari janjiku. Hiks" ucapku disela-sela isakanku
"Kim Jongin maksudmu?"
"Iya hiks. Aku—Aku tidak tau harus berkata padanya. Hiks"
"Tenang saja Lu. Tulislah secarik kertas yang ingin kau katakana padanya. Besok akan ku sampaikan padanya"
"APA? gege tidak ikut?" ucapku terkejut, namun Kris ge menggeleng
"Huweee… Aku tidak mau pulang ke China. Aku ingin tinggal bersama gege saja disini."
"Tidak bisa,Lu. Gege harus menyelesaikan pendidikan terakhir gege dulu disini." Kris gege menenangkan diriku yang masih beruraikan air mata.
Kuputuskan untuk menulis surat untuknya.
Flashback END
.
.
.
Luhan POV END
.
.
.
Jongin POV
"Eomma. Kita mau kemana sih? " kataku yang baru masuk ke dalam mobil dengan menggunakan setelan jas hitam dan rambut hitamku diklimis. Terlihat sangat tampan.
"Kai, bantulah Eomma mu ini. Bisnis kita di Korea hampir bangkrut. Saat ini Eomma ingin mencari rekan baru yang bisa membantu kita agar bisnis kita tidak jatuh. Kau harus membantu Eomma kali ini."
"Memangnya Kai bisa apa Eomma?"
"Lihat saja nanti. Pokoknya kau harus mau membantu Eomma, ara?"
Aku pun hanya bisa mengangguk.
.
Mobil ini tiba di sebuah rumah yang berbentuk minimalis dan elegan. Saat ku ketuk pintu nya terbukalah pintu depan rumah tersebut dan menampilkan sesosok ahjumma yang sangat rapi dan menyuruh kami masuk dan duduk di meja makan itu. Disaat Eomma ku berbincang-bincang dengan ibu yang tadi bernama Xi Yuan itu ku pandangi seluk-beluk pemandangan yang dirumah ini. Sesekali Eomma ku mengajakku mengobrol aku hanya mengangguk dan memperkenalkan diriku.
Kesimpulan yang ku dapat adalah nyonya ini sebenarnya berasal dari China, pernah membuka bisnis di prancis namun gagal katanya dan sekarang mencoba bisnis di Korea. Dan dia punya dua anak yang satu berada di China tinggal bersama suaminya dan satu lagi di Korea tinggal bersamanya. Apakah mereka bisa disebut keluarga jarak jauh? Mungkin berbeda denganku yang merupakan anak tunggal yang kerjaannya bolak-balik Perancis –Korea untuk membantu kedua orang tua ku dalam hal bisnis. Yah, mungkin aku adalah anak yang selalu patuh pada orang tuaku.
"Baiklah, ini adalah putra keduaku yang akan ku kenalkan pada kalian." Ku pusatkan perhatianku pada ahjumma ini.
"Luhan. Kemarilah sayang" panggil ahjumma ini. Sesosok manusia baru saja turun dari tangga rumah ini.
"Annyeonghaseyo. Xi Luhan imnida"
"APA?" teriakku terkejut saat mengetahui namanya. Tatapan kami bertemu.
Tuhan! Apa-apaan ini? Luhan lagi?!
.
.
.
TBC
.
.
.
Review please? ^^
