P.S from B-vocalight : sedikit informasi, bahwa fanfics ini sepenuhnya milik Caruniaalf97, dia minta bantuan aku untuk publish fanfic ini ke account ffn ku. Supaya gak salah paham mengira B-vocalight itu adalah Caruniaalf97 atau sebaliknya, Caruniaalf97 itu writer asli fics ini sedangkan B-vocalight itu adalah aku, teman sekaligus menyandang sebagai beta reader dadakan fics nya Caruniaalf97 kkk~ jadi mohon kerjasamanya ne? give her your precious reviews juseyo.. ^^

.

.

.

Sunflower

A HunHanKai's story

© Caruniaalf97

Writer's note : Disinilah part dimana Banyak moment-moment perjuangannya kupu-kupu dan matahari mengambil perhatian sang bunga matahari.

WARNING, YAOI Fics, BoysxBoys, Typo.

.

.

.

Dimana sinarnya? Dia memang ada, tetapi aku tidak merasakan sinarnya

Sinarmu mengapa meredup? Mengapa kau mengabaikanku, Matahari?

Kau yang seharusnya aku pilih bukan?

Kau yang seharusnya selalu bersamaku bukan?

Tapi, apakah benar itu akan terjadi?

Tolong beritahu aku, Matahariku …

.

.

.

.

Luhan POV

.

"Annyeonghaseyo, Xi Luhan imnida" aku membungkuk dengan sopan dihadapan tamu mama ku.

"APA?" Teriakkan dari siapa itu? Ku dongkakkan wajahku perlahan, kutatap mata bulat itu.

"Jong—Jonginnie?" aku bergumam pelan sambil terkejut.

"Kai. Ada apa? Mengapa kau berteriak? " Ahjumma itu memanggilnya Kai? Ya Tuhan. Apakah ini takdirku?

.

.

.

Flashback

.

Dear Jonginnie,

Jongin, Ya! Kim Jongin! Maafkan aku. Aku harus pergi ke China malam ini. Apakah kau marah? Apakah kau akan marah karena aku tidak memberitahumu? Jonginnie pabo. Mungkin kau akan membaca nya esok pagi, jadi kau jangan terkejut. Aku pasti akan merindukanmu Jonginnie~ Kupu-kupu biru yang selalu kunanti. Kau Jangan nakal di Perancis, ne? Jangan pernah menggoda bunga manapun! Kau harus ingat! Kau lah kupu-kupu yang selalu menemani bunga matahari ini. Aku.. Aku sangat mencintaimu Jonginnie. Aku harap disaat kita bertemu, perasaan kita saat ini akan tidak akan berubah. Wo ai ni .

Your sunflower, Xi Luhan

Aku menulis semua yang ada difikiranku saat ini. Ku harap kau bisa membaca nya Jongin. Ku harap semua harapan yang kutulis akan terwujud. Aku sangat menyayangimu Jonginnie.

"Luhan. Kau sudah berkemas?" disaat Kris gege membuka pintu kamarku aku langsung memeluknya dengan erat lagi. Sambil kupegang secarik kertas ini.

Aku membalasnya dengan isakan sambil mengangguk manja.

"Gege. Sampaikan surat ini pada Jonginnie. INGAT! Jangan di sentuh oleh siapapun lagi. Langsung sampaikan padanya!" Aku memberikan kertas ini. Kris gege mengangguk sambil mengeluskan imut puncak kepalaku agar tenang.

"Pasti, Luhan. Akan kusampaikan ini. Sana kebawah, mama sudah menunggu"

"Baiklah gege. Gege, aku juga sangat menyayangi gege. "

"Gege juga sayang pada adik gege yang sedang dimabuk cinta ini. Hehe "

.

Flashback END

.

.

.

Aku duduk disebelah mama ku dan jongin berada di hadapanku sambil berfokus pada sepiring mandu yang sudah disiapkan. Sepi. Athmosphere di sini begitu canggung, aku sangat tidak menyukai ini semua. Masih bisakah aku memilih mu, Jonginnie?

.

Luhan POV END

.

Jongin POV

"Xi Yuen-sshi. Anakmu sangat mirip dengan umma nya." Ucap umma ku untuk memecahkan keheningan. Kurasa diakhir kalimatnya nanti dia akan mencantumkan keinginannya.

"oh. Gumawo. Kau juga memiliki putra tampan, Kai-sshi" Disaat ummanya Luhan membalas aku mengadahkan tatapanku pada Luhan dan tatapan kami bertemu. Aku tersenyum, dia juga tersenyum lalu sedetik kemudian aku memalingkan wajahku pada mandu ku dan menggaruk punggung kepala ku yang tidak gatal. Entah mengapa aku masih sangat malu bila menatap mata dengannya.

"Kai ini adalah pewaris tunggal bisnis ayahnya di Perancis. Dari kecil dia tinggal di Perancis." Umma ku mulai membeberkan semua tentangku.

"Benarkah? Luhan dulu juga pernah tinggal di Provence." Provence, kota yang menurutku paling indah daripada Paris. Tempat yang menjadi saksi bisu kalau dahulu aku adalah kekasih Luhan.

"Oh ya? Kai 12 tahun tinggal disana. Luhan bersekolah dimana?"

"Di Provence Junior School. Kai sendiri?" HADUH! kacau semuanya. Disini hanya akan mengorek-ngorek kisah tentang masa laluku. Disaat umma ku ingin menjawab aku menjawabnya terlebih dahulu.

"Luhan adalah teman sekelasku dahulu. Dia temanku. Makanya tadi aku terkejut saat melihatnya kembali"

"MWO?!" ummaku dan mama nya Luhan terkejut saat aku mengatakan yang memang benar tetapi hubungan kami sengaja di rahasiakan dari mereka.

Lu, apakah kau senang? Apakah kau senang kalau aku mengalah? Aku mengalah demi kebahagiaanmu Lu. Kau, aku rela kau bersama pujaan hatimu yang sekarang ini. Mungkin kalau aku mengatakan yang sejujurnya mereka akan semakin egois.

"Wah. Jinja? Benar itu Luhan?" umma nya Luhan bertanya pada Luhan. Dia sempat menatapku dan aku hanya mengangguk.

"Iya mama. Hanya teman biasa" Pernyataan yang sebenarnya membuat hatiku perih namun aku yakin itu yang kau inginkan Lu.

"Hahaha. Kalian mungkin memang ditakdirkan bersama ya? Mungkin kalian ini jodoh." Umma ku yang sekarang sembarang bicara. Aku menatapnya evil dan umma ku hanya bergumam tak jelas.

"Kai-sshi. Berarti kau tahu siapa cinta pertamanya Luhan?" apa yang dia katakan? Cinta pertama nya Luhan? PASTI aku mengetahuinya. Karena memang aku orangnya.

Aku menjawabnya dengan anggukan. Kutatap Luhan yang semakin gelisah akibat ucapan ibunya.

"Pada saat kami pindah ke China dari Perancis. Luhan selalu menangisi cinta pertamanya itu. Dia selalu marah-marah pada ku karena dia kangen sekali dengan…"

"MAMA! HENTIKAN! Jangan membuatku malu! " Luhan mulai berteriak.

Luhan. Benarkah itu? Benarkah kau masih mengingatku? Setidaknya sampai kau berada di China? Aku tersenyum melihat tingkah. Lu, Kau masih belum berubah. Kau masih tetap manja. Tapi mengapa hati mu berubah?

.

.

.

"Kai. Benarkah dia mempunyai kekasih?" Umma ku lagi-lagi masih penasaran dengan cerita aku dan Luhan.

"Ne, umma. Ada apa?" aku bertanya tanpa menoleh sedikitpun, pemandangan jalanan dari dalam mobil begitu menyita perhatianku. Saat ini aku dan umma sedang dalam perjalanan pulang seteah makan malam di rumah Luhan.

"Huft. Baru saja mau umma jodohkan kau dengan Luhan. Namun, dia sudah mempunyai kekasih. Atau jangan-jangan kekasihnya dulu itu kau?"

Aku tercengang mendengar perkataan umma ku barusan. Bagaimana dia bisa tau?

Sontak aku menoleh menatap umma yang duduk disampingku.

"Bu—bukan. Aku hanya teman biasanya saja umma." Aku terlalu gugup untuk berbohong pada umma ku sendiri.

"Seharusnya kau mendapatkannya Kai! Luhan itu sangat manis. Andai saja dia masih sendiri. Aku akan berusaha mati-matian untuk menjodohkan kau dengannya. Apakah dulu dia menjadi primadona di sekolahmu Kai?" umma ku tetap saja menanyakan semua tentang Luhan. Tak tau apa membicarakannya membuat hati ku berdegup kencang sambil mengingat semua tentangnya.

"Ne, dia primadona di satu sekolah" jawabku

'dan primadona di hatiku' batinku menambahkan.

"SEHARUSNYA KAU LEBIH CEPAT DARI PACARNYA KAI! Dasar lamban! Tidak bisa membuat namja manis itu jatuh cinta padamu." Umma ku menjadi marah-marah sendiri dan memukul lenganku kesal.

"AISSH~ Appoyo~ umma mengapa tidak mengerti perasaanku? Dulu itu aku hanya disibukkan oleh pekerjaan Appa disana." Jawabku

"Iya juga ya. Tapi bagaimanapun kalau kau bisa membuatnya jatuh cinta pada mu umma sangat bahagia sekali. Kai-ya~ rebut lah dia dari pacarnya. Arasseo?"

"UMMA! Sudahlah, aku lelah, ingin tidur!" Aku memutuskan untuk membalikkan tubuh ku kesamping jendela sambil menutup mataku. Perkataan umma sebelumnya sangat menyakitkan ku mengingat-ingat kejadian saat Luhan bersama dengan kekasih barunya.

"huufft. Padahal Kai, umma sangat berharap dia akan menjadi menantu umma. Yasudahlah Kai. Kau tidur saja. Umma tidak akan memaksamu untuk bersamanya. Kau mengenalnya saja sudah beruntung. Mimpi indah sayang" ucap umma ku sambil mencium keningku.

Umma, andaikan umma tahu yang sebenarnya. Dan Luhan tidak meninggalkanku. Mungkin, kau akan mengenalnya sebagai menantumu sekarang. Umma, kau bilang mengenalnya saja sudah beruntung? Seberapa beruntungnyakah aku sampai dahulu pernah merasakan tenggelam di lautan cintanya?

Jongin POV END

.

AUTHOR POV

Matahari yang mulai menampakkan sinarnya ke bumi sudah mulai kelihatan. Mari kita memasuki kamar sesosok namja manis yang sedang berpakaian.

"Syubidu-bidu spi pariram" gumamnya saat dia melihat dirinya di cermin dan memakai kemeja dan jas sekolahnya.

Terlihat seisi kamarnya penuh dengan atribut bunga matahari. Dan di meja belajarnya terpampang sebuah bingkai foto yang sekarang letaknya dibalik. Yah, foto itu terpampang dimana dirinya dan mantan pacarnya sedang tersenyum namun sekarang letaknya sudah tidak menghadap kedepan lagi. Luhan membalikkan foto itu semalam. Ia tak sampai hati untuk membuangnya.

Disaat ia sudah selesai berpakaian ia menyambar tasnya dan tidak lupa menghirup aroma bunga matahari yang berada di dekat jendelanya.

BLAM

Selesai ia menciumi bunga itu. Ia turun menuruni anak tangga dirumahnya dan memposisikan diri nya di meja makan.

"Luhan, kau sudah bangun? Tumben sekali kau bisa dibangunkan oleh alarmmu. Biasanya—"

"mama. Jangan mengubah mood ku deh" mama menggoda anak kesayangannya yang bernama Luhan itu namun namja itu membalasnya dengan perkataan manja yang bisa membuat sang ibu kalah.

"Baiklah Lu. Mood mu memangnya baik ya sekarang? Atau karena semalam kau habis bertemu dengan Kai? Temanmu dulu di Perancis?" ucapan mamanya yang membuat Luhan terlihat gugup.

"mama! Sudahlah, jangan berkata lagi! Aku mau berangkat dengan mood yang bagus pagi ini!" Terlihat Luhan merajuk ibunya manja .Yang dirajuk hanya terkekeh melihat perlakuan imut anak nya. Biar bagaimana pun juga Luhan terlihat senang bisa bertemu dengan Jonginnie-nya lagi.

Apa? Jonginnie? Bukankah yang dia punya sekarang Sehunnie?

.

.

.

Luhan POV

Ku langkahkan kakiku menuju satu ruangan yang setiap paginya selalu aku kunjungi. Yah terpampang sebuah papan bertuliskan 'Ruang Osis' di depannya. Ku masuki ruangan itu dan terlihatlah namja yang ku cari. Dia sedang menghadap Apple Silver nya. Aku ingin menggoda nya pagi ini.

"Sehunnie~ Apakah kau masih sibuk?" Tanya ku di memecah kesunyian dan dia sedari tadi yang mengacuhkanku.

"Ne, Hannie. Kau bisa kekelasmu terlebih dahulu" ucapnya padaku namun ia tidak memperhatikanku sama sekali. Ia hanya sibuk dengan Apple silver nya itu.

"Benarkah Hunnie? Mengapa semalam kau tidak menelponku? Padahal aku menunggu telponmu." Aku mendekatkan diri ku pada Sehun dan melingkarkan diriku di pundaknya. Namun, ia melepas pelukanku dengan kasar.

"LUHAN! BISAKAH KAU TIDAK MENGGANGGUKU? AKU SEDANG SIBUK SEKARANG! AISH~ TADI PEKERJAAN KU SAMPAI MANA?" Sehun? Inikah dirimu? Mengapa kau sangat marah? Mengapa kau malah membentakku?

"AKU HANYA INGIN DI PERHATIKAN OLEH MU SEHUN! MENGAPA KAU JADI BEGINI?" aku memarahi nya dan berlari meninggalkannya. Ku kepalkan tanganku karena aku sangat kesal sekarang!

KRING KRING KRING

Bel masuk sekolah berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Hatiku kesal Karena pagi ini aku sudah di bentak Oh Sehun! Saat dia memasukki kelas ku dia tidak menyapaku sama sekali. Ada apa dengan nya?

Tok

Tok

Tok

"Annyeonghaseyo murid-murid ku sekalian" Jung seongsangnim memasuki kelas ku

"Hari ini kita kedatangan murid baru dari Perancis. Masuk nak." Murid baru? Perancis? Apakah?

"Annyeonghaseyo. Kim Jongin imnida. Bangapseumnida. " ucap namja berkulit tan itu di depan kelas.

SUDAH KU TEBAK DARI CIRI-CIRI NYA. Aku membelakakkan mataku tidak percaya. Disaat aku menoleh aku melihat Sehun sedang memandangiku dengan tatapan aneh. Disaat tatapan kami bertemu dia cepat-cepat menolehkan tatapannya ke arah lain. Ada apa dengan Sehun? Mengapa dia sangat aneh hari ini?

"Oiya, aku murid pindahan dari Perancis. Kalian bisa memanggilku Kai." Ucapnya sambil tersenyum. Senyuman yang takkan pernah kulupakan. Aku ikut tersenyum saat itu juga. Dan tatapan kami bertemu. Aku cepat-cepat menoleh ke jendela disaat dia melihatku

"Kai-sshi kau bisa duduk di belakang Sehun. Dia adalah ketua osis disini."

"Ne, Jung saem."

Tap

Tap

Tap

Dia melewati bangku ku dan posisinya dia sekarang berada di sebelah mejaku. Posisi nya adalah Sehun di meja nomor dua sesudah pintu masuk kelas Jongin di belakangnya dan aku di samping nya. Tuhan, hentikanlah detak jantung ku ini. Dia hanya masa laluku.

.

.

.

KRING KRING~~

Bel istirahat pun berdering.

'Akhirnya. Pelajaran Jung seosangnim ini selesai juga'

"Luhannie~ Aku ingin bicara dengan mu sebentar" tiba-tiba Sehun menghampiri mejaku

"Aku tidak mau mengganggumu." Ku putuskan untuk berbicara sejutek mungkin. Huft. Biar saja biarlah dia menyadari kalau aku ini sudah berstatus Pacarnya.

Kuputuskan untuk meninggalkan meja ku. Dan aku merasa tanganku ada yang menarik.

"Aku mohon Luhan. Aku ingin meminta maaf pada mu" ternyata tangannya sehun yang menarik tangan ku.

"Kau tidak perlu minta maaf Sehun. Aku yang salah." Disaat aku berkata seperti itu aku langsung pergi dari hadapan Sehun. Lari sekencang mungkin. Namun,

BRAKK!

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi *eh salah*

Aku merasa ada yang menubrukku. Ku dongkakkan kepalaku ke atas

"AISSHH~~"

Ku lihat ternyata aku menabrak Jessica nuna dan terlihat geng quartet nuna berada di depan ku. Ternyata aku tidak sengaja menumpahkan Jus mangga nya. Dan isi nya pun membasahi seragam nya. Bagaimana ini? Dia pasti akan memarahi ku.

"YA! KAU KALAU JALAN PAKAI MATA DONG!" Dia mulai memarahi ku. Aku hanya menunduk

"Maa….maafkan aku nuna. Aku tidak sengaja. " Kata ku terbata-bata

"DASAR KAU ..!" Ku lihat dia sudah melangkan tangan kiri nya bersiap untuk menamparku lagi. Namun, ada yang aneh. Mengapa tamparannya tidak sakit?

"Kau terlalu berlebihan" Kudengar ada seorang yang berbicara. Ku buka sebelah mata ku dan setelah itu Ku lihat tangan kiri Jessica nuna sedang di cegat oleh seorang pria dan mata ku membulat saat mengetahui pria itu adalah

"Jonginnie.."

.

Luhan POV END

.

Sehun POV

Luhan. Mengapa kau sangat suasah ditebak? Ada apa dengan tatapanmu yang begitu gembira melihat murid pindahan itu? Aku sangat ingat. Bahwa kita bertiga dipertemukan saat di toilet pria. Aku ingin menanyakan itu Hannie. Tapi kenapa kau tidak membalasnya? Dan lagi kejadian tadi pagi. Aku sangat tidak menyangka aku bisa membentakmu. Aku sangat ingin meminta maaf pada mu.

KRING KRING~~

Bel istirahat pun berdering.

Sudah istirahat saja. Berarti daritadi fikiranku hanya tertuju pada Luhan dan murid baru itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencari tahu ini semua.

"Luhannie~ Aku ingin bicara dengan mu sebentar" ku beranikan diri ku untuk menemui Luhan

"Aku tidak mau mengganggu mu." Apa ini? Jawaban yang terlontar dari mulutnya. Apa dia benar-benar marah? Dia berbalik. Aku menarik tangannya

"Aku mohon Luhan. Aku ingin meminta maaf pada mu" Paksaku.

"Kau tidak perlu minta maaf Sehun. Aku yang salah." Luhan. Begitu sensitifkah hati mu?

Di berbalik dan berlari. Disaat aku ingin mengejarnya

"Sehun! Ada sesuatu yang berdering di tas mu." Ujar Chanyeol memberitahu ku.

Aissh~ Kuputuskan untuk menjawab telepon itu terlebih dahulu.

"Yeoboseyo."

"….."

"Ne, venue nya sudah ku observasi. "

"…."

"Tanyakan saja itu sama Kyungsoo. Dia kan Humas."

"…."

"Ne"

Ku tekan kasar tombol akhir di iPhone ku. Lalu aku berjalan keluar kelas untuk mencari Luhan. Namun,

"Kau terlalu berlebihan" kata orang itu. Kupincingkan mataku ternyata Kai yang berbicara seperti itu. Lalu, APA? Jessica nuna lagi? Luhan? Ada apa ini?

"Luhan."

.

.

.

.

.

TBC

Review please? Kritikan dan saran yang mendukung sangat diterima. Sorry for typos kkk~