Sunflower
© Caruniaalf97
A HunHanKai's story
.
.
.
.
.
Bunga ku
Maafkan aku
Aku terlalu egois dengan kuasa ku
Jangan membuat matahari ini bersedih
Jangan buat awan hitam menutupi matahari
Biarlah sinar ini hanya tertuju pada mu
Aku seharusnya yang menjaga mu
Mianhae, sunflower ku
.
.
.
.
.
*Luhan POV*
.
Ceklek
Blam
"Annyeonghaseyo. Luhan pulang" Teriakku sesudah sampai di rumah.
"Sehunnie." Mata ku terbelakak melihat Sehun ada disini. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan pada nya?
Dia menatapku.
Tatapan itu.
Tatapan teduh yang membuat sinarnya semakin kuat.
Hanya Sehun yang mempunyai tatapan indah seperti itu.
Tapi
Mengapa aku bimbang dari tatapannya?
Sehun.
Kau.
Memang hanya kau.
Yang selalu menghiasi fikiran ini.
Maafkan aku.
Maafkanlah aku.
"Sehunnie"
*Luhan POV END*
.
.
.
*Author POV*
.
"Luhan. Kau sudah pulang?" sapa sang ibu yang memecah keheningan didalam rumah. Bagaimana tidak Luhan yang sedari tadi membeku di depan pintu rumah nya. Dan sehun yang terus menatapnya seperti mempunyai telepati dari setiap pancaran dimata nya
"ah. Ne. mama" ucap Luhan tersadar dari lamunannya
"Nak sehun sudah menunggu mu Luhan." Sang ibu membawa Luhan mendekati ruang tamu dan memposisikannya duduk disebelah Sehun. Suasana yang sedikit canggung diantara mereka berdua.
"Diminum dulu green tea-nya sehun. Ibu mau keluar sebentar."
"Ah. Iya bu. Terimakasih"
"Taka pa. Luhan, mama pergi dulu ya"
"Ne."
BLAM
Sang ibu sudah meninggalkan tempat ini. Sekarang, hanya ada sehun dan luhan di sana. Suasana yang sedikit canggung. Bukankah status Sehun masih seorang kekasih? Mengapa Luhan seketika membeku seperti ini.
"Hannie. "
"Hunnie. "
Bersamaan. Mereka mengucapkannya serentak. Membuat mereka semakin canggung
"Sehunnie dulu saja"
"Oke. Baiklah."
Sehun menggeser diri nya untuk mendekat pada Luhan. Luhan semakin canggung dibuatnya. Mengapa debaran jantung nya semakin memburu. TIdak biasa nya debaran ini sangat kencang.
"Luhan. Maaf kan aku. Maafkan aku karena tadi pagi sudah membentakmu." Ucap Sehun tulus
"Sehun~a. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku kurang mengerti dirimu."
Luhan menunduk malu. Sehun mulai mendekatkan dirinya pada Luhan. Namun,
"Maaf sehun. Aku… Aku sudah tidak bisa lagi."
Luhan mencegah pelukan itu. Sehun semakin dibuat bingung oleh keadaan.
"Ne? "
"Sehun~a. Kita hentikan saja sampai disini."
"Luhannie~ Apa maksudmu?"
"Aku ingin kita sampai disini. Aku sudah tidak bisa bersama mu lagi. Aku selalu mengganggu mu. Maafkan aku sehun."
Sehun tercengang.
"Maksudmu. Kita putus saja Lu? Tapi kenapa? Aku terlalu kasar padamu…."
"Ada orang lain." Potong Luhan segera dengan mantab
"Maafkan aku sehun. Aku sudah memilih."
Lagi, Sehun tercengang dibuat nya. Siapa yang Luhan pilih? Ada apa ini?
"Hannie. Jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi"
"Kau akan mengetahuinya sehun. Sekarang kau bisa pergi. Aku.. Aku hanya tidak bisa membohongi perasaanku." Luhan meninggalkan Sehun di ruang tamu nya dengan tatapan bingung sekaligus sedih. Apa yang harus dia lakukan? Apakah benar gossip itu? Luhan dan siswa baru itu?
*Author POV END *
.
.
.
*Luhan POV*
.
BLAM
Sakit .
Perih .
Hati ini begitu sakit saat aku sudah bisa mengatakannya.
Jonginnie. Aku melakukannya dengan benar bukan?
Bukankah kita tidak boleh terpisah.
Tapi.
Mengapa hati ini begitu remuk disaat aku sudah bisa memutuskannya.
Pilihan ini.
Hatiku.
Ada apa dengannya?
BRUM BRUM
Tedengar di telingaku suara motor Sehun.
"Sehunnie. Hiks. . mianhaeyo~ "
Tangisan ini, tangisan yang sekuat tenaga aku cegah agar tidak pecah di depan sehun.
Tapi kali ini aku sudah tidak bisa membendungnya lagi. Aku sangat sedih. Ada apa denganku? Aku yang memutuskannya. Tetapi…
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini.
Maafkan aku sehun.
Kau pantas mendapatkan yang terbaik.
Bunga yang lebih baik dari ku.
*Luhan POV end*
.
.
.
Suasana pagi ini sangat tidak bagus. Entah ada apa dengan sang mentari yang pagi ini tidak menampakkan sinarnya bagi bumi. Namun, terlihat sesosok manusia yang sedang memikirkan sesuatu didalam kelas nya.
"Dimana Kyungsoo? Dia belum datang juga. 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi." Ucap seorang lelaki berperawakan tampan di depan kelas sambil memegangi smartphone nya.
"Chagiya~ Kau dimana? Apa di daerah rumah mu hujan? Kau tidak sekolah kali ini eoh?" ujarnya pada smartphone yang menempel di telinga nya. Rupa nya dia mengirim pesan suara ke handphone kekasih nya itu. Terlihat dia sangat khawatir kali ini.
"Sehun. Apa kau melihat Kyungsoo saat berjalan menuju kesini?" Tanya nya pada Sehun yang baru saja ingin memasuki pintu kelasnya. Tapi tatapan itu. Mengapa Sehun tidak menatap Suho yang sedang berbicara pada nya? Siapa yang ia tatap?
"Molla. Tanya kan saja padanya. Dia satu komplek dengan Kyungsoo" ia tidak melepas tatapan itu dari seseorang yang sedang bercengkrama dengan yang bisa dikenal dengan nama kai.
"Luhan~a."
Yang dipanggil pun menengok
"Ne. Suho?"
"Kau melihat Kyungsoo? Dia belum datang pagi ini."
"Kyungsoo? Loh. Itu dia baru datang" Ujarnya sambil menunjuk seorang yang baru masuk kekelas dengan keadaan basah kuyup seperti itu.
"Kyungie!" ucap suho dengan nada yang terlihat mengkhawatirkan.
Tatapan Sehun begitu tajam memandangi Luhan. Saat tatapan Luhan dan Sehun bertemu ekspresi wajah Luhan berubah. Ia memasang tatapan sedih dan semakin bersalah. Peristiwa itu di lihat oleh Kai yang memang berada di dekat Luhan sekarang. Dia memperhatikan gerak-gerik Luhan yang berubah murung saat melihat sehun.
"Kyungie. Gwenchana?"
"Ne, gwenchana. Diluar aku hampir telat. Untung saja belum hujan" ucapnya begitu manis
"Yasudah cepat duduk sana. Kau tau? Aku sangat mengkhawatirkan mu."
"Gwenchana. Junmyunnie. Hehe, oiya aku masakkan bekal untuk kita. Bagaimana nanti siang kita memakannya bersama"
"Kau memang yang terbaik kyungie~ "
Kring Kring ~
Bel Masuk pun berdering.
.
.
.
At Incheon Airport
Seorang namja tinggi dengan rambut blonde nya baru saja melewati pemeriksaan passport yang ada dibandara. Pria itu memakai tuxedo hitam serta jeans panjang disertai kaca mata hitam nya. Dia membawa banyak sekali barang-barangnya terlihat sangat proporsional sampai-sampai dia menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang melewati nya.
"Ya! WUFAN! TIDAK BISA KAH KAU MENGGANDENG TANGANKU!" teriak sesosok pria dengan lesung pipi nya di belakang namja yang bernama wufan tadi.
"Hehe, Due bu qi (Maaf). Yixing~a sini kubantu." Ucap lelaki tinggi itu pada seorang yang bernama Yixing. Sedangkan yixing sendiri mempoutkan bibirnya tanda dia marah pada namja tinggi ini.
"Sudahlah. Kau memang selalu begitu kris."
"Ya. Yixing~a. Maaf" ucapnya sambil mengejar pria yang bernama yixing itu.
Grrr~ Lucu sekali namja tinggi itu. Terlihat sangat mempesona tapi, bila berhadapan dengan namja yang bernama Yixing itu selalu 'kicep' dibuat nya.
*Author POV END*
.
.
.
*Jongin POV*
.
"Jadi tugas IPS kali ini akan ibu buat kelompok" ucap Jung seonsaengnim pada akhirnya
"Karena disini ada murid pindahan. Pasti dia belum mengetahui tentang kurikulum disini. Maka nya ibu menginginkan dia satu kelompok dengan Sehun." Lanjut Jung seonsaengnim
Mata ku terbelakak seketika.
Sehun?
Bagaimana bisa?
"Sehun~a. Kau bisa membantu kai kan? Ajarkan dia tentang materi ini. Ibu percaya pada mu."
"Ne. Ssaem" jawabnya
Dia terlihat menatapku. Aku pun menatapnya balik sambil tersenyum polos dan dia membalas nya. Ku alihkan pandangan ku pada Luhan. Dia mengacungkan jempol nya pada ku. Aku hanya tersenyum membalasnya
"Saem. Kalau satu kelompok 2 orang tidak adil anggotanya. Murid disini kan 33." Kyungsoo terlihat menambahkan
"Hmm. Baiklah di ratakan saja. Jadi satu kelompok 3 orang. Ibu akan mengocok nya terlebih dahulu."
'Bagaimana guru ini. Tidak tahu jumlah muridnya.' batinku meremehkan
"Kelompok pertama. Sehun, Kai dan Luhan."
"MWO?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
