Chapter 2

Matahari mulai menampakkan wujudnya. Cahayanya pun menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela. Tsuna sangat ingin membuka matanya, namun kenapa matanya sangat berat untuk dibuka. Ia merasa ia butuh waktu tidur lagi. Setelah pengelihatannya kembali sempurna, Tsuna mendapati dirinya berada di sebuah sofa, di ruangan Hibari. Tsuna langsung terduduk. Ia ingat apa yang Hibari lakukan pada dirinya semalam. Seharusnya ia sedang tidak memakai baju, tapi sekarang ia sudah memakai kemeja dan celananya. Apa Hibari-san yang memakaikan aku baju…?,gumam Tsuna. Tak lama kemudian orang yang ia panggil dalam hati itu muncul dari balik pintu.

"Ternyata kau sudah bangun?", Hibari berjalan mendekati Tsuna.

"Se-selamat pagi, Hibari-san. Maaf aku tertidur di ruanganmu lagi.", Tsuna menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Secepat itukah kau melupakan kejadian semalam? Entahlah kau pura-pura tidak tau atau memang kau lupa."

Tsuna meneguk ludahnya. Ternyata Hibari mengingat betul apa yang dia lakukan kepada Tsuna.

"Kalau kau tidak ingat, itu lebih baik. Cepat mandi sana!", Hibari langsung meninggalkan Tsuna lagi.

Tsuna pun menuruti Hibari. Ia langsung pergi ke kamar mandi yang ada di ruang ganti kolam renang sekolahnya. Ia masih merasakan sakit di tubuh bagian belakangnya. Apa maksud Hibari-san melakukan itu semua…? Aku ingin tau…

Untuk yang kedua kalinya Tsuna tidak pulang ke rumah. Ia tau ibunya pasti sangat mencemaskannya saat ini. Karna waktu masuk sekolah sudah tidak lama lagi, Tsuna terpaksa harus menyelesaikan kegiatan pembelajaran terlebih dulu.

Sampai di kelas, ia disapa oleh kedua sahabatnya,

"Yo, Tsuna! Kemarin kau pulang malam…?", Yamamoto bertanya dengan nada agak cemas.

"Kami menunggumu tapi kau tidak keluar-keluar aku kira kau sudah pulang.", sambung Gokudera.

"Maaf ya aku mencemaskan kalian, sebenarnya semalam aku tidak pulang ke rumah.", jawab Tsuna.

"Seberat itukah hukumanmu yang diberikan Hibari?", Tanya Hibari.

"Ti-tidak kok. Hukumannya tidak seberat yang kalian pikirkan.", Tsuna tersenyum maksa.

"Jika kau punya masalah kau bisa cerita pada kami, Jyuudaime.", ucap Gokudera.

"Iya aku tau kok, Gokudera-kun. Tapi kalian kan sudah tau masalahku, aku kena hukuman permanen dari Hibari-san hanya itu masalahku saat ini."

"Apa kau ingin kami membantumu dalam menjalani hukuman?", Tanya Yamamoto.

"Ti-tidak usah. Sebaiknya kalian jangan ikut campur. Ini kan hukuman untukku bukan untuk kalian."

Bel tanda masukpun berbunyi, mereka segera kembali ke tempat duduk masing-masing begitu juga dengan murid-murid yang lain. Tsuna mengikuti jam pelajaran sampai akhir, namun ia merasa tidak fokus belajar hari ini. Ia merasa tubuhnya merasakan kejanggalan.

Bel pulang berbunyi, Tsuna membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba Yamamoto menghampirinya dengan wajah cemas.

"Tsuna, apa kau tidak ingin pulang saja?", Tanya Yamamoto.

"Maaf Yamamoto, aku harus menjalani hukumanku dulu kalau ingin pulang.", jawab Tsuna.

"Kau yakin..? Kau terlihat lelah."

"Tenang saja. Aku tidak apa-apa."

"Baiklah aku akan menunggumu sampai kau selesai.", Yamamoto melambaikan tangannya dan keluar dari kelas.

Setelah membereskan barang-barangnya, Tsuna langsung menuju ruangan Hibari bersiap-siap untuk menjalani hukumannya. Sampai di depan pintu Tsuna menghela nafas dan memberanikan diri untuk masuk. Setelah membuka pintu, betapa terkejutnya Tsuna melihat Hibari sedang berciuman mesra dengan kekasihnya, Dino.

"Hibari…-san..?", Tsuna membiarkan suaranya keluar.

Sepertinya Hibari mendengar suara itu dan ia mendorong Dino jauh-jauh. "Tsunayoshi…"

"Ha-hai, Tsuna!", sapa Dino agak kaku.

Dari matanya, sudah terlihat Tsuna sangat cemburu dan merasa ingin menangis. "Hibari-san… bolehkah aku izin untuk hari ini saja. Aku ingin pulang…", Tsuna langsung berlari pergi.

"Apa yang kau lakukan dengan Tsuna?", Tanya Dino pada Hibari yang mengalihkan pandangannya dari Dino.

"Aku tidak melakukan apa-apa.", jawab Hibari sesingkat-singkatnya.

Saat melewati gerbang sekolah, Tsuna tidak menyadari keberadaan Yamamoto yang sedang menunggunya. Tsuna hanya berlari untuk sampai ke rumahnya.

"Hei, Tsuna! Tunggu!", Yamamoto mengejarnya.

Tsuna masih tidak menyadari bahwa Yamamoto mengejarnya. Karna kecepatan berlari Tsuna masih kalah dengan Yamamoto, dengan mudah Yamamoto mengejar Tsuna dan menggapai tangannya.

"Jangan sentuh aku…!", Tsuna langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yamamoto.

"Hei Tsuna, ini aku…"

"Ya-Yamamoto… kenapa kau bisa ada di sini?"

"Sudah aku bilang aku akan menunggumu sampai selesai. Tiba-tiba kau berlari keluar sekolah dan mengabaikan aku."

"Ma-maaf…"

"Baiklah Tsuna… apa yang sebenarnya terjadi padamu belakangan ini..?"

"Sebenarnya…"

"Bagaimana kalau kita ke rumahmu dulu dan aku akan mendengarkan ceritamu?"

"Sepertinya itu bukan ide buruk."

Akhirnya mereka dua berjalan menuju rumah Tsuna. Sampai di rumah, Tsuna dan Yamamoto langsung menuju kamarnya. Dan di saat itu juga Tsuna menceritakan kejadian kemarin dan apa yang ia rasakan selama ini. Ia menyukai Hibari, tapi Hibari sudah punya Dino. Tsuna merasa senang saat Hibari melakukan hubungan intim dengannya. Tapi Tsuna tidak tau maksud dan tujuan Hibari melakukan itu semua. Awalnya Tsuna mengira Hibari sudah putus dari Dino tapi ternyata tidak ada masalah di antara mereka. Tsuna merasa sangat dipermainkan. Dan saat itu juga Tsuna merasakan putus asa yang sangat dalam. Ia menceritakan itu semua diiringi dengan isakan tangis.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Tsuna… tapi harusnya kau tidak jadi seputus asa ini kan?"

"Aku tau…", Tsuna masih terus menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah sedihnya.

"Sepertinya kau sudah kelelahan. Istirahatlah aku akan pulang.", ucap Yamamoto.

"Um… terima kasih, Yamamoto…"

Yamamoto hanya tersenyum dan keluar dari kamar Tsuna untuk pulang.

Tsuna hanya membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sekilas Tsuna berpikir ingin mati saja, tapi ia tidak mungkin semudah itu mati. Ia tidak pernah menceritakan ini semua kepada Reborn. Cepat atau lambat Reborn juga tau apa masalah yang sedang dialami Tsuna dan kenapa Tsuna tidak ingin cerita. Akhirnya Tsuna terlelap hingga pagi.

.

.

.

Esok pagi, Tsuna bangun tepat waktu. Ia langsung bersiap-siap untuk ke sekolah, menyantap sarapan, dan berangkat ke sekolah. Lagi-lagi ia berpikir kenapa ibunya tidak marah saat ia tidak pulang ke rumah untuk yang kedua kalinya. Dalam perjalanan menuju sekolah, Tsuna selalu berharap ia tidak bertemu dengan Hibari. Karna saat ini Tsuna tidak ingin melihat orang itu dulu. Tapi ketika sampai di depan gerbang sekolah, ia berubah pikiran. Ia merasa harus bertanggung jawab untuk membereskan ruangan Hibari karna kemarin ia langsung pulang. Akhirnya Tsuna memilih untuk menengok ruangan Hibari.

Sampai di ruangan,

"Permisi…", Tsuna membuka pintu perlahan dan mendapati Hibari yang sedang duduk manis di sofa.

"Tsunayoshi… ap-"

"Ma-maaf kemarin aku langsung pulang. Aku akan membersihkan ruanganmu sekarang."

Hibari mendekati Tsuna dengan death glare andalannya sukses membuat Tsuna agak takut.

"Siapa yang menyuruhmu memotong pembicaraanku?"

"Ma-maaf… Hibari-san…"

Hibari hanya menatap Tsuna yang menundukkan kepala.

"Hi-Hibari-san… boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa?"

"Apa maksud dan tujuanmu… melakukan hubungan intim… denganku…?"

Hibara melebarkan pupilnya, tak percaya apa yang ditanyakan Tsuna.

"To-tolong jawab aku… Hibari-san…"

Hibari masih terdiam, bahkan ia bingung bagaimana ia menjawabnya.

"Ka-kalau Hibari-san tidak mau bilang, aku bisa bilang kepada Dino-san…"

Hibari tersenyum nista, "Aku kira kau tidak ingat apa yang aku lakukan kepadamu kemarin."

"Ja-jadi apa tujuanmu…?"

"Kalau aku tidak mau jawab?"

"Jawab!", entah keberanian dari mana, Tsuna meneriaki Hibari dan menarik kerah kemejanya.

"Herbivor mana yang berani menyentuhku dengan jari-jari kotornya…?", Hibari mendeath glare.

"A-aku.. tidak bermaksud…", satu hantaman tonfa di perut Tsuna.

Tsuna terbaring di lantai. Lalu Hibari menindihnya dan terus melancarkan serangannya ke tubuh mungil itu. Sebenarnya bisa saja Tsuna beralih ke hyper mode untuk mengalahkan Hibari, tapi Tsuna sangat tidak mau melawan orang yang sedang menghajarnya saat ini.

"Hi-Hibari…-san.."

Hibari tidak menghiraukan suara rapuh Tsuna dan terus menghajarnya.

"A-aku… menyukaimu…", satu hantaman kencang terakhir.

Tsuna pingsan di tempat. Baru pertama kali Hibari merasa gelisah setelah menghajar orang hingga tidak berdaya. Ia tergerak dengan pernyataan 'suka' Tsuna. Tapi Hibari tidak ingin menerima kenyataan itu. Tak lama kemudian Kusakabe datang. Asisten penguasa Namimori itu terkejut melihat Tsuna yang tergeletak tak berdaya. Hibari menyuruhnya untuk membawa Tsuna jauh-jauh darinya. Akhirnya Kusakabe membawa Tsuna ke rumah sakit setelah melihat luka yang lumayan parah di tubuh Tsuna.

Alhasil Tsuna mendapat perawatan yang cukup serius. Ia harus dirawat beberapa hari. Saat di ronsen, dokter mendapati tulang rahang Tsuna retak. Siapa lagi kalau bukan Hibari yang membuatnya retak. Tsuna masih terbaring, sepertinya ia belum sadar dari pingsannya. Beberapa menit kemudian, Tsuna mulai membuka matanya. Dan tentu saja ia bingung kenapa dia ada di ruangan ini. Ditambah lagi siapa yang membawanya kemari. Tak lama kemudian, ada seseorang yang membuka pintu ruangan itu. Muncullah sosok ibu Tsuna.

"Tsu-kun… apa kau baik-baik saja? Masih merasa sakit?", jelas ibunya cemas.

"Ya… masih sedikit nyeri…", Tsuna berusaha tersenyum.

"Apa yang sebenarnya terjadi…? Kau bersikap aneh belakangan ini…"

"Tadi… hanya ada kecelakaan kecil. Aku hanya menabrak pintu kok."

Cukup lama ibunya menemani Tsuna. Sampai waktu sudah hampir malam, Nana harus pulang karna sekarang banyak anak kecil di rumahnya, tentu saja kalo bukan Lambo, I-pin, dan Fuuta, termasuk Reborn.

Tak lama kemudian setelah Nana pulang, Reborn datang menjenguk Tsuna. Sesuai tujuannya, Reborn datang menjenguk Tsuna untuk mengetahui apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

"Kau ingin aku bohong berapa kali pada ibumu?", tanya Reborn.

"Maaf Reborn, aku tidak bisa bilang kan kalau aku kena hukuman permanen. Kalau aku bilang seperti itu, aku hanya akan membuat ibu cemas. Aku tidak ingin membuat ibu cemas."

"Seharusnya kalau kau tidak ingin membuatnya cemas, kau katakan yang sebenarnya terjadi."

"Jadi… bagaimana dengan Hibari?"

"E-eh?!", Tsuna terkejut. Barulah ia ingat, cepat atau lambat Reborn pasti tau bagaimana perasaannya.

"Tidak usah pura-pura tidak tau, pasti masalahmu yang sekarang berhubungan dengan Hibari dan Dino."

Akhirnya Tsuna menceritakan semuanya. Mulai dari ia terlambat datang ke sekolah dan mendapat hukuman dari Hibari untuk membersihkan ruangannya setiap pulang sekolah. Sampai-sampai ia bermalam di sekolah dua kali. Tak lupa Tsuna juga menceritakan hubungan intim pertamanya dengan Hibari yang satu jenis dengannya. Sampai ceritanya berakhir di saat ia dihajar oleh Hibari saat ingin bertanya apa alasannya melakukan hubungan intim dengannya.

"Hm.. aku hanya ingin memberitahu saja, orang melakukan hubungan intim dengan tiba-tiba kemungkinan besar hanya ingin memuaskan nafsu saja.", ucap Reborn.

"Begitu ya… jadi tidak mungkin kalau Hibari-san melakukannya karna ia suka padaku.."

"Sudah ku duga, kau pasti menyukainya. Sudah terlihat dari kau menerima hukuman darinya begitu saja."

"Ya… aku yakin kau pasti akan mengetahuinya…"

"Baiklah, waktunya kau istirahat Tsuna. Kau harus menjaga kesehatanmu."

Tsuna hanya membalasnya dengan senyum, lalu Reborn keluar dari kamar Tsuna. Tsuna langsung berbaring dan menarik selimutnya, bersiap-siap untuk menuju ke alam mimpi.

.

.

.

Esok pagi, suster yang hendak mengecek keadaan Tsuna terkejut. Tsuna tak ada di kamarnya. Tsuna sedang berada di atap rumah sakit. Entah apa yang dilakukannya, ia hanya duduk termenung. Ia berpikir ia tidak ingin menemui siapapun. Tak lama kemudian, pintu tangga terbuka. Tsuna cukup terkejut dengan bunyi pintu terbuka itu. Ia takut seorang suster menemukannya, tapi dugaannya salah. Justru yang muncul adalah sosok Dino. Orang yang tidak ingin ia akui sebagai rivalnya.

"Di sini rupanya…", ucapnya.

"Di-Dino…-san…", Tsuna sama sekali tidak ada hasrat untuk mendekatinya.

"Aku dengar kau sakit, jadi aku datang untuk menjenguk. Ya.. sekalian aku pergi menjenguk Kyoya di sekolah."

Menjenguk Kyoya katanya…?, "Pergi sana!", tanpa segan Tsuna mengusirnya.

"Tsu-Tsuna, apa maksudmu…? Aku datang kemari untuk menjengukmu kan?"

"Aku tidak ingin menemui siapapun, pergi sana!"

"Tapi-", sebuah batu menghantam kepala Dino. Ya, Tsuna yang melemparnya.

Akhirnya Dino menyerah dan meninggalkan Tsuna. Jujur, saat ini Tsuna sangat tidak ingin mendengar nama Kyoya Hibari. Nama itu pula yang membuatnya menjadi marah-marah kepada Dino.

Ketika hari sudah hampir siang, Tsuna memutuskan untuk kembali ke kamar rawatnya. Ia berharap makan siang sudah ada di kamarnya, karna saat ini ia sedang sangat lapar. Saat ia sudah tidak jauh dari kamar rawatnya ia melihat salah satu sahabatnya akan memasuki kamarnya. Tsuna langsung berlari ke kamarnya dan menghampiri sahabatnya itu.

"Ya-Yamamoto!", Tsuna masih mengatur nafasnya.

"Lho, kau habis dari mana? Bukannya kau harus banyak istirahat?"

"Ah, iya. Aku habis mencari udara segar. Oh iya, sekarang kan belum jam pulang sekolah, kenapa kau ada di sini, Yamamoto?"

"Jujur aku sangat khawatir saat mendapat kabar kau dirawat, aku ingin cepat-cepat menemuimu. Makanya hari ini aku pulang cepat."

"Yamamoto…", mata Tsuna berkaca-kaca hingga air matanya jatuh dari pelupuk matanya.

"Tsuna, kenapa?"

Yamamoto membawa Tsuna ke tempat tidur. Yamamoto berusaha menenangkan Tsuna yang sedang menangis itu. Sampai Tsuna puas menangis, Tsuna menceritakan kejadian tadi pagi saat Tsuna bertemu dengan Dino. Sebenarnya saat Dino datang, Tsuna sangat ingin menyalahkan Hibari di depan Dino karena telah menghajarnya. Karena Tsuna sangat menyayangi Hibari, ia mengurungkan niat buruknya itu.

Di ruang resepsi Namimori-chuu, Hibari tampak sedang terbaring di sofanya, dengan Dino menindihnya dan tepat berada di atasnya. Tatapan Dino agak berbeda, ia seperti tidak suka dengan Hibari.

"Apa maksud dari tatapanmu itu…", tanya Hibari.

"Aku sedang badmood hari ini, apa kau bisa mengembalikan moodku, Kyoya?"

"Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu badmood, Haneuma?"

"Tidak… bukan kau.. tapi Tsuna."

Hibari terkejut dalam hati mendengar nama Tsuna.

"Tadi pagi aku berniat ingin menjenguknya, tapi dia malah mengusirku. Aku tidak percaya adik kecilku mengusirku begitu saja."

"Menjenguk?"

"Kau tidak tau, Kyoya? Bosmu itu sedang dirawat di rumah sakit."

Dan Hibari sukses memperlihatkan wajah agak terkejutnya namun dengan ekspresi datar. Bahkan Kusakabe yang bertanggung jawab membawa pergi Tsuna, tidak melaporkan bahwa Tsuna dirawat di rumah sakit.

"Ada apa, Kyoya? Sebegitu cemasnya kah kau?"

"Tidak.. aku tidak peduli."

"Karna aku sedang badmood, biarkan aku melakukan sesuatu sesukaku ya…"

Dino langsung mencium bibir Hibari, menggigit bibir bawahnya. Sampai bibir Hibari terbuka, lidah Dino langsung menjulur masuk ke dalam. Mengajak lidah Hibari bermain bersamanya. Cukup lama mereka berciuman, karna kebutuhan udara Dino melepaskan ciuman itu.

"Aku bukan lelaki penghibur…", ucap Hibari dengan nafas yang terengah-engah.

"Tentu saja bukan. Kau kekasihku, Kyoya."

Dino mencium leher Hibari dan sesekali menggigitnya, membuat tanda kepemilikan. Bibirnya terus turun hingga ke dada dan memainkan dua buah nipple Hibari. Satu dimainkan dengan mulutnya dan satu lagi ia mainkan dengan tangan. Membuat Hibari mengerang hebat. Tanpa melepaskan mulutnya dari nipple Hibari, tangan Dino mulai membuka celana Hibari dan memperlihatkan milik Hibari yang sudah menegang. Sambil menjilati nipple, Dino juga melakukan hand job kepada milik Hibari. Hibari merasakan rasa nikmat yang benar-benar nikmat. Setelah puas memainkan nipple dan melakukan hand job, Dino langsung saja membuka celana Hibari dan ia juga membuka celananya sendiri dan memperlihatkan barang miliknya.

"Kau siap?", Dino sudah mengarahkan miliknya ke lubang Hibari.

Tanpa menunggu jawaban Hibari, Dino langsung memasukkannya perlahan hingga miliknya masuk seluruhnya. Dino menggerakkannya maju mundur perlahan hingga makin lama makin cepat.

"Ah.. ah…", Hibari mendesah terlalu nikmat.

Dino terus melakukan kegiatan sampai mereka berdua klimaks secara bersamaan. Hibari terkulai lemas. Tiba-tiba Dino berbisik,

"Sebenarnya ini hukuman untukmu, Kyoya."

Hibari langsung membuka matanya lebar-lebar dan menatap Dino tajam.

Apa maksudmu, Haneuma?

.

.

.

To be continued


Akhirnya ke update juga! Aku kira ga bakal ke update secepetnya. Jujur aku juga nungguin chapter berikutnya hehe.

Review Reply Ch. 1

Shiroi Karen: Penasaran? Kalo sekarang masih penasaran ga? kan udah di update chapter kedua XD

Aoi the Cielo: huwaaa makasih udah suka. ini ada lanjutannya kok.

Aoi Azura: aku udah coba sebisanya supaya alurnya ga terburu-buru di chapter 2 ini. untuk bagian hurt/comfort nya masih akan ada lagi yang lebih ngenes.

Kn Fujoshi: aduuuuhh aku ga ngerti istilah begituan XD makasih sudah di fav dan maaf kalo adegan rated M nya kurang berasa.

Wookie: Hibari diputusin Dino..? hmm itu kejutan lah nanti ada pasti saya ceritain

Arigatou yang udah baca! terima kasih banget udah mau ngikutin cerita ini. Semoga chapter berikutnya bisa update seminggu kemudian dan bisa membuat kalian lebih penasaran lagi haha. Sampai bertemu di chapter berikutnya!