Hibari menatap Dino dalam-dalam, tatapannya pun juga penuh tanya. Tapi Hibari sangat malas untuk bertanya saat ini. Karna keadaannya yang sudah lemas akibat perbuatan Dino. Dino langsung beranjak dari posisinya yang sedaritadi berada di atas Hibari. Ia merapikan pakaiannya. Setelah merapikan pakaiannya, ia duduk di sofa seberang Hibari. Hibari tak beranjak dari posisinya yang terbaring.
"Hm.. pasti kau ingin bertanya apa maksud 'hukuman' tadi.", ucap Dino dengan nada yang tidak seperti biasanya.
Hibari sama sekali tidak menengokkan wajahnya pada Dino. Ia merasakan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Tunggu dulu, apa Hibari sedang ketakutan? Tapi karna apa?
"Ya.. aku rasa tidak perlu membahasnya sekarang. Beristirahatlah, aku harus kembali bekerja.", Dino beranjak dari posisi duduknya, berjalan menuju pintu, keluar dari ruangan, dan menghilang dari balik pintu.
Hibari terduduk lemas. Entah apa yang ia pikirkan, ia terlihat panik. Apakah Dino mengetahui kejadian kemarin…? Aku dengan Tsunayoshi…
.
.
.
Di rumah sakit, terlihat Tsuna masih asyik mengobrol dengan Yamamoto. Dia sangat senang sekali seharian ini bisa ditemani Yamamoto, ditambah lagi Yamamoto membawakan sushi buatan ayahnya. Tsuna sempat melupakan semua masalah yang ada di kepalanya selama berada di samping Yamamoto. Ya, senyuman sahabatnya yang satu ini lumayan menenangkan hati Tsuna dan selalu memberinya semangat. Tak terasa hari sudah hampir malam, Yamamoto harus segera pulang tentunya karna besok ia harus sekolah.
"Aku harus pulang,Tsuna. Besok pulang sekolah aku pasti akan kemari lagi.", ucap Yamamoto dihiasi dengan senyum yang seperti biasanya.
"Un.. terima kasih, Yamamoto. Ku tunggu besok ya.", Tsuna juga ingin memperlihatkan senyum penuh terima kasihnya.
"Jaa..~", Yamamoto berlalu dari balik pintu.
Tsuna membalasnya dengan lambaian tangan sambil tersenyum.
Sendiri. Ya, ia sendiri lagi sekarang tanpa seseorang yang menemaninya. Yang menemaninya sekarang adalah masalah yang tadi sempat pergi dan kembali lagi ke tubuh Tsuna. Entah kenapa jika ia sendirian ia tidak bisa melupakan Hibari, terutama setelah Hibari tiba-tiba berhubungan intim dengannya dan tiba-tiba juga menghajarnya hingga ia terbaring di rumah sakit. Jika ia bertemu Hibari, ingin sekali Tsuna melontarkan semua isi hatinya dengan pukulan yang pernah Hibari lancarkan padanya.
Ketika Tsuna sedang merenung, seseorang datang menjenguknya. Membuka pintu perlahan, membuat suara pintu terbuka yang terdengar agak horror. Sukses membuat Tsuna sempat bergidik takut. Ternyata yang muncul dari balik pintu adalah,
"Tsuna, kau belum tidur?", Dino datang dengan bingkisan yang lumayan banyak.
"U-untuk apa kau kemari lagi?", Tsuna langsung melindungi dirinya dengan selimut, seperti habis melihat hantu.
"He-hei, tingkahmu kenapa jadi aneh begitu?", Dino berjalan perlahan mendekati Tsuna.
"Ja-jangan dekat-dekat! Pergi sana!"
"Tsuna, ini aku! Aku bukan hantu.", Dino mendekati Tsuna dan memegang kedua bahunya.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!", keadaan Tsuna masih seperti sebelumnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bisa cerita kan?"
"Tidak! Kau tidak bisa dipercaya!", Tsuna memejamkan matanya.
"Kita ini teman kan?", ucap Dino dengan nada tinggi dan meremas bahu Tsuna pelan.
Tsuna sedikit tergerak dengan kata 'teman' tapi ia sangat tidak ingin melihat orang yang ada di depannya ini, mungkin Tsuna membencinya.
"Aku kembali karna aku membawa bingkisan untukmu, mungkin kau bisa menerimaku dengan baik tidak seperti tadi pagi. Aku ingin melihat keadaanmu, Tsuna…", Dino mengelus pipi Tsuna. Lalu menarik dagunya agar Tsuna mendongakkan kepalanya.
"Di-Dino-san… hiks…", Tsuna menangis. Ayolah apalagi yang membuatmu menangis Tsunayoshi?
"Ke-kenapa kau menangis?", Dino jadi agak panik.
"Ma-maaf…"
"Maaf untuk apa?"
"Maaf aku melemparkanmu batu tadi pagi, padahal kau ingin menjengukku… hiks…"
"O-oh... tidak apa-apa Tsuna…", Dino mengelus kepalanya.
Dino sangat menyayangi Tsuna. Sebagai adiknya. Ia menganggap Tsuna bagian dari keluarganya juga. Bahkan rasa sayangnya kepada Tsuna dengan rasa sayangnya kepada Hibari nyaris seimbang. Tak ada bedanya. Hal ini juga yang kadang suka membuat cemburu Hibari.
Cukup lama mereka berbincang sampai malam hampir larut, Dino pamit pulang tapi sebelumnya,
"Sebaiknya kau cepat tidur, Tsuna.", Dino menyelimuti Tsuna yang sudah terbaring.
"Ya.. aku akan segera tidur."
"Oyasumi, Tsuna…", Dino mengecup kening Tsuna, membuat semburat merah samar-samar di pipi Tsuna.
"O-oyasumi…mou…"
Dino membalasnya dengan senyum dan berlalu dari balik pintu.
Pantas saja Hibari-san senang dimanja Dino-san…
.
.
.
Esok pagi, Tsuna dikejutkan dengan kehadiran ibunya saat ia bangun tidur. Nana sudah duduk manis di kursi dekat ranjang Tsuna. Ia tersenyum lebar seakan ada sesuatu yang akan disampaikannya.
"Ohayou…Kaasan…"
"Ohayou, Tsu-kun. Ada kabar baik pagi ini."
"Apa?", Tsuna mendudukkan tubuhnya.
"Kau sudah boleh pulang ke rumah hari ini!", Nana tersenyum.
"Sungguh? Aku boleh pulang?"
Nana mengangguk dan sukses membuat Tsuna sangat senang. Jujur Tsuna sangat merindukan suasana rumahnya dan ia ingin beristirahat di rumahnya.
Tsuna langsung beranjak dari ranjangnya dan pergi mandi. Nana membereskan barang-barang Tsuna, bersiap-siap untuk pulang. Tak berapa lama setelah Tsuna selesai mandi, mereka langsung berjalan pulang.
.
.
.
Sampai di rumah Tsuna langsung disambut oleh ketiga anak kecil, siapa lagi kalau bukan Lambo, I-pin, dan Fuuta.
"Selamat datang, Tsuna-nii!", ucap Fuuta dengan senyum girang.
"Okaeri, Tsuna.", ucap I-pin.
"Tsuna sudah sembuh? Apa kita bisa bermain sekarang Tsuna?", Lambo sudah siap bermain dengan granat pinknya.
"Fuuta, Lambo, I-pin… aku pulang…", Tsuna tersenyum senang.
"Aku yakin kalian lapar. Tsu-kun, mereka dari tadi menunggumu pulang untuk sarapan."
"Ya, kami ingin makan bersama Tsuna-nii!"
"Ayo!", Tiga bocah itu langsung menarik Tsuna ke ruang makan.
Sampai di ruang makan, ia melihat semua orang yang 'menumpang' di rumahnya sudah berkumpul di meja makan seakan menunggu kedatangan Tsuna. Hidangan yang lezat pun sudah tertata rapi di meja makan. Namun terlihat belum ada yang menyentuh hidangan itu. Apa artinya mereka semua sedang menunggu Tsuna?
"Okaeri, Tsuna.", ucap Reborn dengan senyum yang seperti biasanya.
"Reborn…", panggil Tsuna dengan wajah yang berseri-seri.
"Duduklah, Tsuna. Kita makan bersama.", ucap Bianchi dengan senyuman khasnya di akhir kata.
Tsuna mengambil posisinya, begitu juga dengan tiga anak kecil itu dan Nana. "Selamat makan…!", seru mereka sebelum menyantap makanan.
Betapa rindunya Tsuna dengan suasana rumah yang seperti ini. Meskipun keberadaan orang-orang ini sempat menganggu ketenangannya, namun karna ibunya senang suasana rumah menjadi ramai, ia jadi ikut senang. Dan Tsuna juga sangat merindukan masakan ibunya. Hampir semenjak Tsuna kena hukuman, ia jarang mencicipi masakan ibunya dan terpaksa harus membeli makanan di luar. Semoga hari ini menjadi hari bahagia untukku dan untuk semua orang yang ada di sini…, gumamnnya di sela-sela kegiatan makan. Senyumannya tak pernah luput dari bibir mungilnya saat melihat kelakuan dua balita, Lambo dan I-pin yang sedang berebut lauk karna lauk milik Lambo sudah ia habiskan lebih dulu.
Setelah sarapan, Tsuna menyempatkan diri untuk membantu ibunya membereskan meja makan. Ya, betapa tidak bertanggung jawabnya orang-orang yang 'menumpang' di rumahnya setelah makan.
Tsuna hendak beristirahat di kamar, sampai di kamar sepertinya sang home tutor tidak mengizinkannya untuk beristirahat. Betapa terkejutnya Tsuna saat membuka pintu kamarnya, buku-buku bertumpuk begitu banyaknya.
"A-apa-apaan ini?!", ucap Tsuna dengan mata terbelalak dan mulut yang menganga.
"Jangan membantah. Selama kau sakit, kau meninggalkan banyak tugas. Kerjakan!", perintah Reborn.
"Huh.. baiklah akan aku kerjakan..", ucap Tsuna dengan nada malas.
"Jangan malas!", Reborn menjitak kepala Tsuna.
"Aduh! BERHENTI MEMUKULKU!", Tsuna kesal.
Dengan sangat sabar yang dipaksakan Tsuna membolak-balik buku pelajarannya berkali-kali tanpa hasil. Yang artinya Tsuna tidak mengerti soal yang ditugaskan itu. Dengan sabar juga Reborn melihat muridnya yang sepertinya kebingungan mengerjakan tugasnya.
Hari semakin siang, Tsuna semakin geram dengan tugasnya yang tak kunjung selesai. Total tugasnya ada lima mata pelajaran dan yang baru ia selesaikan hanya satu, itu juga baru setengah jalan.
"Tsu-kun…! Ada Yamamoto dan Gokudera-kun..!", teriak Nana dari lantai bawah.
"Ya..! Aku segera ke bawah.", balas Tsuna yang juga berteriak.
Ia langsung bergegas menuruni anak tangga dan pergi ke ruang tengah. Terlihat ada Yamamoto dan Gokudera yang sedang bermain (re: diganggu) oleh dua balita yang sangat Tsuna kenal.
"Ah, Gokudera-kun, Yamamoto… Apa kalian tidak ke sekolah?", tanya Tsuna.
"Jyuudaime, anda lupa?", Gokudera balik bertanya.
"E-eh? Lupa apa?"
"Sekarang itu hari sabtu."
"Oh, ya..? Haha.. sepertinya aku jadi lupa tanggal dan hari..", Tapi kemarin Yamamoto bilang mau sekolah hari ini… Tsuna menggaruk kepalanya yang tak gatal dan sweatdrop.
"Ahahah… maaf ya Tsuna, aku lupa kalau hari ini hari sabtu..", ucap Yamamoto.
"Ya tidak apa-apa kok, heheh…"
"Bagaimana keadaanmu, Jyuudaime?", tanya Gokudera.
"Aku sudah baikan kok. Tapi aku masih harus check up ke rumah sakit."
"Check up? Memangnya kau sakit apa?", tanya Yamamoto.
"Iya, untuk memeriksa tulang rahangku yang retak."
"Retak?!", ucap Yamamoto dan Gokudera secara bersamaan dan mengejutkan Tsuna.
"I-iya… memangnya… kalian belum tau ya…?"
"Siapa yang berani meretakkan tulang anda?! Akan saya balas!", Gokudera langsung emosi.
"Kau belum menceritakan apa-apa, Tsuna. Aku kira kau dirawat karna kau kelelahan.", ucap Yamamoto.
"Sebenarnya bukan karna itu saja, maaf… aku tidak bisa menceritakannya di sini…"
"Aku mengerti… kau bisa menceritakannya di sekolah.", ucap Yamamoto.
"Kenapa harus di sekolah? Bagaimana kalau sekarang kita keluar rumah saja." Usul Gokudera.
"E-eh tapi…"
Tanpa menunggu persetujuan Tsuna, Gokudera langsung menarik tangan Tsuna. "Kaasan! Kami keluar dulu ya…! Permisi!". Akhirnya mereka secara tidak langsung telah membawa kabur Tsuna.
"La-lalu… kau mau membawaku ke mana, Gokudera-kun..?", tanya Tsuna.
"Sebenarnya saya juga tidak tau ingin ke mana…", ucap Gokudera dengan entengnya.
Tsuna dan Yamamoto hanya bersweatdrop ria.
"Bagaimana kalau ke tempat ku saja?", usul Yamamoto.
"Ya-Yamamoto jangan… kau lupa apa yang akan aku ceritakan? Kalau ayahmu dengar bagaimana..?"
Yamamoto berpikir sejenak. "Oh iya…"
"Kalau begitu kita ke café saja.", ucap Gokudera.
Ya menurut Tsuna itu bukan ide yang buruk. Langsung saja mereka menuju tempat yang di maksud.
.
.
.
Di café, mereka memilih tempat yang terpencil. Setelah memesan minuman agar tidak dicurigai, Gokudera langsung to the point. Mungkin ia iri dengan Yamamoto yang sudah mengetahuinya.
Akhirnya Tsuna memulai ceritanya. Untuk yang kesekian kalinya ia menceritakan pengalaman terburuknya kepada sahabatnya. Sebenarnya Tsuna sudah bosan menceritakan pengalamannya yang itu-itu terus. Tapi karna Gokudera sangat ingin mengetahuinya, ya Tsuna tak bisa menolak.
"KURANG AJAR!", alhasil setelah mengetahui semuanya, Gokudera langsung naik pitam.
"Te-tenanglah Gokudera-kun…"
"Beraninya-beraninya si Brengsek itu menghajar anda tanpa sebab!"
Tanpa sebab? Ya Tsuna tidak menceritakan kejadian awal kenapa ia dihajar oleh Hibari. Ia tidak bilang pada Gokudera kalau ia dihajar Hibari karna ia bertanya soal 'mengapa Hibari melakukan hubungan intim dengan Tsuna'. Jujur Tsuna sudah sangat muak jika terbayang akan kejadian itu. Rasanya ia ingin sekali muntah.
.
.
.
Tak terasa sudah hari senin lagi. Waktunya masuk sekolah kembali. Entah kenapa semenjak Tsuna dapat hukuman dari Hibari, Tsuna selalu berusaha keras agar ia tidak terlambat lagi dan bangun tepat waktu. Dan ia juga tidak perlu terburu-buru memakan sarapan dan berlari-lari ke sekolah.
Selesai menyantap sarapan, Tsuna langsung pamit kepada ibu tercinta dan berlalu dari balik pintu. Di depan rumahnya, Gokudera dan Yamamoto sudah menunggunya, hendak ke sekolah bersama. Langsung saja mereka ke tempat tujuan.
Selain Tsuna menjadi tidak terlambat lagi, ia juga rajin mengerjakan tugas. Meskipun ia tidak mengerti tugas yang harus ia kerjakan itu, tapi yang terpenting baginya adalah dia sudah mengerjakan tugas tersebut. Salah atau benar itu urusan nanti.
Di sekolah, Tsuna menjalani hari-harinya seperti biasa. Mengikuti pelajaran yang terkadang tak bisa ia terima dengan nalarnya. Melewati waktu istirahat di atap sekolah sambil menyantap bekal bersama Gokudera dan Yamamoto. Dan dilanjutkan sampai jam pelajaran berakhir sekitar pukul empat sore.
Sebelum pulang, Tsuna baru ingat ia habis meminjam buku dari perpustakaan. Akhirnya ia pergi ke perpustakaan dahulu sebelum pulang. Tsuna berpikir betapa sialnya ia hari ini, kenapa ia harus melewati ruang resepsi. Ruangan di mana Hibari berada. Tapi hari ini, Tsuna tidak melihat Hibari. Batang hidungnya saja tidak kelihatan. Sempat menumbuhkan rasa penasaran di hati Tsuna. Namun Tsuna tidak mau mengambil resiko. Ia hanya melewati ruang resepsi itu dengan rasa tidak peduli.
Ternyata sial itu masih berpihak pada Tsuna. Setelah dari perpustakaan, ia melihat dua orang yang sepertinya sangat ia kenal. Dua laki-laki. Yang satu berambut hitam halus dan satu lagu berambut blonde. Ya Tsuna sangat mengenal kedua orang itu. Orang yang sama-sama pernah menciumnya, entah secara sadar atau tidak. Sekarang kedua orang itu sedang berciuman di depan ruang resepsi. Berciuman seakan tak ada lagi hari selain hari ini. Begitu mesra dan tak ingin melepaskannya satu sama lain. Tapi apakah mereka sudah tidak memiliki rasa malu? Berciuman di lorong sekolah menengah pertama.
Betapa mesranya mereka…, gumam Tsuna. Perasaannya jadi tak karuan. Perasaannya saat ini adalah pertama ia cemburu, kedua ia sedih, ketiga ia bingung. Mengapa bingung? Ia bingung apakah ia harus melompat dari jendela untuk keluar dari sekolah ini atau melewati dua orang lelaki yang sedang bermesraan di koridor dan salah satu dari dua orang itu adalah orang yang saat ini ia sukai.
Karna ia tidak mau mengambil resiko ia mendapat patah tulang di kakinya akibat kabur lewat jendela lantai dua, dengan tekad di hati 'tidak usah memedulikan mereka' Tsuna memilih untuk melewati mereka saja dengan tenang, kalau bisa tanpa menimbulkan suara yang dapat mengalihkan perhatian mereka.
Kesempatan bagus, lagi-lagi kedua orang itu berciuman dengan panasnya. Tsuna langsung berjalan dengan gerak cepat dan tanpa menimbulkan suara. Tapi sayangnya lelaki bersurai hitam halus itu seperti karnivor yang pendengarannya sangat tajam. Di saat jarak Tsuna dengan kedua lelaki itu hanya tinggal beberapa puluh senti lagi, Tsuna terkejut karna lelaki bersurai hitam itu mendorong pasangan yang sedang menciumnya jauh-jauh. Tsuna langsung memojokkan diri ke tembok karna kaget dan juga takut. Ekspresi Tsuna saat ini adalah antara ingin menangis, takut, dan ingin bersujud di depan lelaki bersurai hitam yang sekarang sedang menatapnya tajam, karna telah menganggu adegan yang memabukkan tadi.
"Sedang apa kau di situ, herbivore?", lelaki bersurai hitam mengeluarkan senjata andalannya.
"Tsuna…kau belum pulang?", tanya lelaki bersurai blonde.
"Hi-Hibari-san… Di-Dino-san… maaf aku sepertinya… mengganggu kalian…", ucap Tsuna dengan nada takut.
"Kau sangat menngganggu, herbivore. Bukannya kau harus segera meninggalkan sekolah?", ucap Hibari yang sepertinya sedang mendeathglare Tsuna.
"A-a-ampuni aku…!", oke Tsuna benar-benar takut sekarang.
Saat Hibari mendekati Tsuna dengan sepasang tonfanya, Dino cepat-cepat menahan Hibari. "He-hei Kyoya, jangan begitu dong pada bossmu. Dia kan baru saja keluar dari rumah sakit…"
Tsuna jadi terdiam dan memasang wajah tembok yang tidak beda jauh dengan tembok di sebelahnya.
"Aku tidak sudi mempunyai boss lemah seperti herbivore ini. Memangnya aku peduli dia baru keluar dari rumah sakit?"
Glek, Tsuna menelan ludahnya yang rasanya beda dari biasanya.
"K-Kyoya…!"
"Sudahlah… tidak apa… aku akan segera pulang. Maaf telah mengganggu kalian… selamat bersenang-senang." Oh tidak, air matanya jatuh dari sudut matanya. Tsuna menangis lagi?
"Tsuna, kau kenapa….?"
Tsuna pura-pura tidak mendengarnya. Bukan, dia memang tidak ingin mendengarnya. Tsuna berlari dengan tenaga yang hampir tak ada sebisanya. Agar ia bisa menjauh dari kedua orang itu yang juga mengganggu keadaan hatinya. Dino hanya menatap punggung Tsuna yang semakin lama semakin menjauh dengan tatapan kecewa. Hibari hanya mendengus melihat ekspresi Dino seperti itu. Pertanda sepertinya Hibari kesal, atau cemburu?
.
.
.
Di sepanjang perjalanan, Tsuna masih saja beraut sedih. Ia merasa baru saja ia ditikam oleh taring karnivor yang sangat tajam. Dan ia baru ingat seharusnya pulang sekolah ia check up ke rumah sakit, tapi karna hari sudah sangat sore, dan Tsuna juga sudah lelah ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Tinggal beberapa meter lagi sebelum sampai rumah, tiba-tiba seseorang membekap mulut Tsuna dari belakang. Dan Tsuna tau bahwa orang yang sedang membekapnya memiliki tubuh dua kali lebih besar darinya. Bau apa ini… Aku mengantuk…, gumam Tsuna yang di detik berikutnya ia pingsan.
.
.
.
Hari sudah gelap, seseorang itu menggendong Tsuna dan membawanya ke sebuah rumah. Rumah khas Jepang yang memiliki halaman yang luas. Rumah orang kaya? Rumahnya kah? Atau Tsuna akan dijual kepada orang kaya dan orang yang meculiknya mendapat bayaran? Tentu tidak.
Setelah memasuki rumah, seseorang itu membawa Tsuna ke sebuah kamar. Lalu ia membaringkan Tsuna di atas futon dan tak lupa menyelimutinya. Merasa pekerjaannya sudah selesai, seseorang itu meninggalkan Tsuna yang masih tak sadarkan diri di kamar kosong itu.
Saat keluar dari kamar itu, ada lelaki yang menunggu seseorang yang membawa Tsuna itu di depan kamar.
"Bagaimana, Kusakabe?", tanya lelaki itu.
"Ia masih tak sadarkan diri, Kyo-san."
.
.
.
Satu jam kemudian, Tsuna membuka matanya perlahan. Pengelihatannya yang mula-mula buram menjadi normal kembali. Ia sangat mengerti awal kisah kenapa ia bisa ada di kamar yang tak dikenal ini. Ia ingin sekali membangunkan tubuhnya secara refleks, namun tenaganya seakan hilang setelah mencium bau aneh yang diberikan orang tak di kenal dan membuatnya pingsan.
Tsuna berusaha beranjak dari posisi terbaringnya. Perlahan-lahan ia duduk, lalu berdiri sambil memegangi kepalanya. Sakit kepala menyerang kepalanya dengan ganas. Membuat Tsuna berjalan sempoyongan. Dengan susah payah Tsuna berjalan ke arah pintu dan menggeser pintu tersebut. Di balik pintu itu, begitu gelap. Tsuna bingung apakah ia masih menutup mata atau memang di luar kamarnya itu tidak ada penerangan cahaya sama sekali.
Tsuna keluar dan menyusuri lorong gelap itu. Sampai akhirnya ia menemukan satu pintu terbuka dan menampakkan cahaya lampu dari dalam ruangan itu. Perlahan tapi pasti Tsuna melangkah menuju ruangan yang dimaksud.
Betapa terkejutnya Tsuna. Di dalam ruangan itu ada seseorang yang sedang duduk sambil menikmati secangkir the hijau yang hangat. Lalu, apa yang membuat Tsuna terkejut? Tsuna terkejut karna orang yang sedang 'bersantai' di ruangan itu adalah orang yang sangat ia kenali, dari ujung rambut sampai ujung kaki, sekaligus orang yang sedang ia sukai.
"Hi-Hibari-san….?", Tsuna membiarkan suaranya keluar dan mengalihkan perhatian Hibari.
"Sudah bangun kau rupanya.", ucap Hibari dengan nada lembut dan senyuman tipis di akhir kata.
Apalagi yang akan ia lakukan kepadaku….
.
.
.
To be continued
Fuuuuhhh~ akhirnya jadi juga chapter tiga. Maaf ya kelamaan update karna minggu kemarin author terserang penyakit *ehem curhat*
Baiklah saya tidak ingin terlalu basa-basi karna tujuan saya di sini adalah mempublikasikan karya saya, melalui pemikiran saya sendiri, dan diciptakan oleh tangan saya sendiri /?
Selamat menikmati chapter tiga yang hangat ini~ semoga kalian semakin penasaran dan terus menunggu updatean author
Arigatou untuk yang sudah follow dan membaca. Arigatou Gozaimasu~
Sampai bertemu di chapter beriktnya
Jaa~
